Hubunganku
dengan Sebastian kini sudah semakin dekat, meski belum ada kata cinta darinya,
tapi aku tahu kalau dia mencintaiku juga. Setiap hari aku selalu bersamanya,
jalan-jalan, makan bareng, bahkan tak jarang aku menginap di rumah Erin hanya
ingin bersamanya. Aku sangat menikmati kebersamaan ini dan tentunya tanpa
membuat orang lain curiga, kami masih bermain aman kalau di publik.
Malam
ini aku sedang main di rumah Erin, kami hanya bertiga, aku membawa gitar
kesayanganku untuk kita begadang di malam minggu ini. Erin sendiri malam ini
tak kemana-mana, ia baru putus dengan pacarnya, hal ini membuat kami sengaja
untuk menghiburnya dengan berkumpul bersama.
“Cast,
lo nyanyi, dong, gue kangen suara lo yang merdu.”
“Ah,
lo bisa aja, ini pujian apa hinaan?”
“Pujianlah,
pokoknya malam ini gue pengen kalian hibur gue, dengan cara apapun.”
“Ah,
ka Erin di ajak main keluar gak mau, padahal, kan diluar kita bisa
seneng-seneng,” ujar Bastian.
“Gak
mau, gue pengen di rumah aja, males kemana-mana.”
“Ya
udah aku ke dapur dulu, ya? Ka Erin mau dimasakin apa?”
“Gak
usah, pesen pizza aja, deh. Gue lagi pengen pizza.”
“Oh,
ok deh, aku telpon ya?”
Erin
mengangguk lemas.
“Mau
gue nyanyiin lagu apa? Eh, gue gak mau, ya kalau lo minta lagu-lagu galau.”
“Ah,
lo kok tau sih, gue lagi kepengen ngedengerin lagu galau?”
“Ya
iya, lah, gue kan kenal lo udah lama, kalo lo baru putus pasti mintanya
dinyanyiin lagu galau.”
“Plis
lah, Cast, gue pengen dengerin lagu galau.”
“Ya
udah someone like you, gimana?”
“Iya,
tapi....hiks..hiks....”
“Ah,
gak jadi deh. Lagu lain aja.”
Jreng.......
“Kuharus
menemui cintaku, mencari tahu hubungan kita apa masih atau tlah berakhir... kau
mengantungkan hubungan ini, kau diamkan aku tanpa sebab, maunya apa kuharus
bagaimana.... kasih..... sampai kapan kau gantung cerita cintaku memberi
harapan hingga mungkin kutak sanggup
lagi dan meninggalkan dirimu... hu.. woo... detik-detik waktupun terbuang
teganya kau menggantung cintaku, bicaralah biar semua pasti....”
“Ah,
udah, ah, gue mau tidur aja,” katak Erin sambil berlalu.
“Eh,
kak, terus pizzanya?”
“Gak
apa-apa buat kalian aja.”
Sebastian
menatapku bingung. “Udah, gak usah dipikirin, dia emang gitu, besok juga dia
langsung sembuh kok. percaya, deh. Gue udah temenan ama dia lama banget, jadi
tau karakter dia kaya gimana.”
Malam
semakin sunyi, udara kini merasuk ke tulang, Bastian membawa selimut dengan
kopi hangat.
“Bas...”
Ia
menatapku.
“Gue
suka sama lo, lo mau gak jadi pacar gue?”
Ia
tertunduk dan terdiam.
“Kenapa
gak jawab? Apa lo udah punya pacar?”
Ia
menggeleng. “Gue gak punya pacar, tapi gue gak tau harus gimana, gue tau lo
suka sama gue, tapi ini salah, gue takut, Cast, gue takut kalau gue terima lo,
dan kita jadian, pacaran, lama, dan hingga suatu hari gue jenuh sama lo atau
sebaliknya, lo bakalan ninggalin gue, dan memang cinta ini dari awal salah.”
“Tak
ada yang salah atas cinta, meski orang lain beranggapan kalau cinta kita ini
salah, untuk apa dipikirkan, yang menjalani hubungannya, kan, kita. Gue gak
peduli dengan anggapan orang-orang, untuk apa kita pusing-pusing memikirkan
gunjingan dari orang lain. Karena pada akhirnya mereka akan lelah sendiri dan
tak dapat berbuat apa-apa.”
“Ini
pertama kalinya buat gue masuk ke dunia kaya gini, gue sadar gue juga beda,
tapi sampai detik ini gue masih nyoba tahan, hingga lo datang di hidup gue....”
“Jadi,
kenapa harus takut?”
“Hm...
gue gak akan takut kalau lo sama gue, Cast,” ujarnya kemudian sambil tersenyum.
“”So,
lo mau jadi pacar gue?”
Ia
mengangguk. “Gue mau.”
Aku
tersenyum gembira, ini benar-benar membuatku gembira. “I love you so much.”
“I
love you more more more!” ujarnya. Dan, kami pun berciuman.
Setelah
kami resmi pacaran, kini aku tinggal satu rumah dengannya, di rumah Erin,
setiap harinya kami selalu melakukan apapun bersama, bersama Sebastian, aku
menjadi pribadi yang berbeda, sedikit demi sedikit aku merasa kalau dia telah
merubahku menjadi pribadi yang lebih baik, aku tak lagi sering main malam, aku
tak lagi ganti-ganti pasangan, dan tak lagi bolos kuliah.
Tapi,
kini masalahnya, hingga sampai saat ini aku belum pernah lagi berhubungan
intim, uh, setiap kali aku horny hanya melampiaskannya dengan tangan. Sebastian
masih takut setiap kali aku ajak untuk melakukan lebih selain ciuman. Katanya
hubungan itu tidak selalu tentang seks, aku menyetujui karena aku mencintainya,
tapi lama kelamaan aku tak tahan juga.
Aku
mencium bibirnya yang lembut, ia membalas ciumanku dengan ganas, kini ia sudah
mulai bisa menyeimbangi ciumanku. Aku buka kemejanya, kulumat putingnya,
putingnya sekarang ini menjadi bagian favoritku, setiap kami ciuman aku tak
pernah lupa untuk melumat putingnya yang merah muda itu.
Kubuka
celana jeansnya dan kulihat tonjolan di celana dalamnya serta ada cairan bening
yang tembus dari celana dalamnya itu.
“Boleh?”
Ia
menggeleng.
“Please...”
Ia
masih menggeleng.
Aku
langsung menghentikan kegiatan ini dan duduk di sampingnya, kemudian aku
menyalakan korek api dan merokok. Segera ia membuka jendela kamar agar asap tak
mengepul di dalam kamar.
“Lo
marah sama gue?” tanya Sebastian.
“Nggak.”
“Terus
kenapa berhenti?”
“Kalau
hanya ciuman tanggung, gue cape tiap kali ciuman harus berakhir onani di kamar
mandi.”
“Maaf.”
Aku
menatapnya, kemudian aku simpan puntung rokok yang masih panjang dan kupeluk
dia.
“Gue
sayang banget sama lo, makanya gue rela ngelakuin apa yang lo mau, bahkan untuk
gak ml sekalipun.”
Ia
nampak diam sesaat. “Gue cuman takut setelah lo dapet gue, dapetin kenikmatan
dari gue, lo bakalan ninggalin gue, Cast, gue takut.”
“Jadi
lo gak percaya sama gue?”
“Gue
percaya, tapi kan lebih baik kalau seperti ini aja, gue janji kalau gue siap
gue bakalan kasih?”
“Tapi
kapan? Tiga tahun lagi? Sampai kita tua nanti?”
Sebastian
terdiam.
“Gue
rela ngelakuin apapun yang lo mau Bas, gue selalu ada buat lo, bahkan sampe lo
nyuruh gue bunuh orang aja gue rela, kenapa gue gitu, karena gue suka sama lo,
dan itu gak akan pernah berubah, apa lo masih gak percaya?” aku beranjak dari
pelkannya dan kembali mengenakan pakaianku. “Gue cabut dulu, ada kuliah jam
sebelas.” Bastian mengangguk dan aku pergi meninggalkannya.
&&&
Aku
sengaja bersikap dingin belakangan ini, entah mengapa aku hanya kesal
kepadanya, tapi aku masih mencintainya, bahkan kami jadi jarang ciuman, ah,
hanya ciuman yang tak begitu berarti.
Sore
ini teman-temanku mengajak untuk main futsal, aku tak memberitahu Bastian kalau
aku pulang telat, beberapa kali ia mencoba menghubungiku. Setelah main futsal
aku langsung meneleponnya.
“Halo,
Bas, sorry tadi gak sempet SMS, gue sekarang lagi maen futsal sama temen-temen,
paling sejaman lagi gue nyampe rumah.”
“Oh,
gak apa-apa. Eh, Cast...”
“Apa?”
“Gue
siap.”
“Siap
apa?”
“Gue
mau ML sama lo, gue tunggu di rumah, ya, jangan maen dulu, takut gue keburu
tidur. Bye.”
Aku
seperti mendapatkan angin segar, dan tak berlama-lama lagi aku minta pamit
untuk pulang duluan, aku tak ingin menya-nyiakan kesempatan ini.
Kurang
dari setengah jam aku langsung tiba di rumah, rupanya Sebastian sedang masak
bersama Erin.
“Wah,
wangi amat, masak apa, nih?” tanyaku.
“Ini,
gue sama kak Erin mau lagi masak ayam rica-rica, tunggu bentar, ya, bentar lagi
beres, kok.”
“Eh,
lo dari mana, tumben pake baju bola gitu,” tanya Erin.
“Abis
main futsal dong, gue kan cowok keren.”
“Apaan,
sih,” ejek Erin, aku langsung pergi untuk mandi.
Setelah
selesai mandi, kami langsung makan bersama, rupanya Erin sudah memiliki kekasih
baru, terlihat lebih matang dan berwibawa, aku taksir sepertinya dia pegawai
Bank.
“Jefri
ini kerja di Bank,” kata Erin memberitahu.
Ternyata
memang tepat dugaanku. “Oh, dari kapan kalian jadian?” tanyaku.
“Ah,
lo, sih, sekarang sok sibuk, gue udah mau tiga bulan ini jadian sama dia, iya,
kan say?”
Jefri
mengangguk.
“Kalau
kalian sudah punya pacar belum?” tanya Jefri.
Aku
tersentak kaget, begitupun dengan Sebastian, kami berdua saling berpandangan.
“Udah,
dong,” ucapku memecah keganjilan. “Pacar gue jago masak, pinter, terus nurut
banget sama gue.”
“Oh,
ya? Kenapa gak di ajak ke sini?”
“Tadinya
sih, mau tapi dianya lagi sibuk belajar sekarang.”
“Oh,
gitu, kalau Bastian, mana pacarnya?”
“Eh,
em, ada, tadi di telepon katanya lagi latihan balet sama teman-temannya.”
“Oh,
dia penari balet?”
“Bukan,
dia cuman ikut-ikutan temennya aja, biasa cewek labil,” ujarnya sambil kakinya
mendorong kakiku.
“Ah,
namanya juga cewek,” ujar Jefri, “kadang Erin juga suka lagil, kok.”
“Ih,
apaan, nggak juga kok.”
Aku
dan Bastian langsung tertawa bersama.
Setelah
acara makan selesai, Erin berencana untuk nonton film di bioskop dan
meninggalkan kami berdua. Aku langsung menuju kamar.
Kulihat
Bastian masuk dengan ragu-ragu, aku menghampirinya dan membimbingnya menuju
kasur.
“Gak
usah takut, gue janji lo gak akan nyesel, kok.”
Ia
mengangguk. Tidak berlama-lama lagi kini aku mencium bibirnya, ia membalas
ciumanku dengan kaku, aku menatapnya dan meyakinkan kalau ini akan
menyenangkan, dan sekarang ia mencoba untuk rileks dan berciuman seperti
biasanya kami berciuman. Aku buka bajunya perlahan, kemudian gantian aku yang
membuka bajuku, aku lumat puting favoritku dan ia mendesah kenikmatan, aku
menjilat perutnya, dan bermain dipusarnya, ia kegelian campur nikmat,
selanjutnya aku coba membuka celana levisnya, sulit, tapi akhirnya bisa terbuka
dengan sepenuhnya. Kulihat celana dalamnya sudah mulai basah oleh air bening
kental, aku jilat celana dalamnya, ia nampak bergidik kenikmatan, lama aku
bermain di celana dalamnya hingga basah, dan sekarang aku membuka celana
dalamnya, timbullah batang yang sudah menegang dan berdenyut itu, tanpa
melihatnya lagi dengan yakin aku masukan batang ikut ke dalam mulutku, ia
menggerang keenakan, matanya terpejam dan kedua tangannya mengacak-acak
rambutku.
“Ah....
ah... uh....” ceracaunya.
Aku
sedot batang itu kuat-kuat sehingga ia menggeliat nikmat, melihat buah jakarnya
yang masih ranum, aku langsung menjilatnya, dan kusedot dengan nikmat, ia
benar-benar terhanyut oleh permainanku. Aku kembali ke batang yang berbalutkan
daging itu, kumasuk-keluarkan bantang itu cepat di dalam mulutnya, ia semakin
mengerang, dan ku cabut bantangnya dari mulutku.
Kemudian
aku menintanya untuk berbalik badan, pantatnya yang putih mulus serta gempal
sangat menggiurkanku, ini adalah pantat terindah yang pernah aku lihat, aku
ciumi pantanya dan kadang aku gigit-gigit gemas, selanjutnya, aku coba membuka
belahan pantatnya, dan kulihat anusnya masih sempit memerah, aku mencoba untuk
menjilatnya, ia menggelinjang, aku yakin bersumpah kalau ia sangat menikmati
jilatan ini, siapapun yang dilakukan seperti ini pasti akan ketagihan.
Perlahan
aku mencoba memasukan jari tengahku ke dalam anusnya, ia nampak sedikit
meringis, aku mencobanya perlahan karena tidak ingin membuatnya kesakitan,
kembali aku jilat anusnya dan ia mendesah kencang, aku balikan badannya, dan
kini aku menindihnya, celanaku sudah di buka dan aku ingin merasakan penisku
berada di dalam mulut Bastian, awalnya ia nampak ragu, tapi setelah aku tatap
matanya dan mencium bibirnya akhirnya ia mau, ia masukan perlahan penisku, ia
mencoba untuk menikmatinya dan benar saja, kini ia sudah tak ragu lagi
memasukan batangku keluar masuk mulutnya, ia mengikuti aksiku yang menyedot
buah jakarku. Pengalaman baru untukknya.
Setelah
dirasa cukup, kini aku kembali ke anusnya, aku olesi anusnya dengan pelumas
yang sudah aku beli sebelumnya, ia nampak takut dan sedikit gelisah, tapi aku
pastikan ini akan enak dengan ciumanku, kini saatnya, aku mencoba untuk
memasukan penisku perlahan, ia nampak memejamkan mata dan mengernyit menahan
sakit, sedikit-sedikit aku coba untuk maju semakin dalam, dan kini ia
terbelalak.
“Sakit....
Cast, sakit...”
“Tenang,
ini gak akan lama, coba rileks.”
Ia
kembali memejamkan matanya, aku sendiri sebenarnya kasihan melihat
kesakitannya, tapi apa mau dikata, nafsuku sudah lebih besar, dan kemudian
setelah setengah batangku masuk, aku langsung memasukan semuanya, ia teriak
kesakitan.
“Aaaaaa.....
sakit, Cast, please, gak kuat,” lirihnya dan kulihat air matanya mengalir.
“Sabar,
ini gak akan lama, nanti juga terbiasa.”
Aku
mendiamkan penisku di dalam anusnya cukup lama, ini bertujuan agar anusnya bisa
menyesuaikan diri dengan penisku di dalam dan otot-otot anusnya melonggar.
Setelah kurasa sudah mulai biasa, aku memaju mundurkan pantatku dan menggenjot
anusnya perlahan, ia masih meringis, tapi setidaknya sudah bisa menahannya, aku
kini memompanya semakin dalam dan dalam lagi, air matanya sudah tak keluar
lagi, ia memejamkan matanya mencoba untuk menikmati setiap genjotanku.
Setengsh
jam kemudian, aku berganti posisi, kini posisi kami berubah, aku di bawah dan
dia di atasku, ia menaik turunkan tubuhnya perlahan, dan kulihat kini pensinya
sudah tegak berdiri, itu tandanya ia sudah mulai horny lagi dengan goyanganku,
aku menjadi semakin bersemangat untuk memompa menisku lebih cepat.
“Enak?”
tanyaku.
Ia
hanya sersenyum, aku bangkit kemudian mencium bibirnya yang selalu membuatku
bergairah itu. permain kami sangat lama, mungkin ini efek karena aku
bersemangat, beberapa posisi sudah kami lakukan, bahkan ia kini mendasar, tak
lagi menjerit kesakitan.
Dan,
dalam beberapa menit lagi air maniku akan keluar.
“Bas,
gue masukan di dalam aja, ya?” Iya mengangguk.” Ah... Ah... gue udah gak kuat!”
Crot
crot crot
Air
maniku tumpah ruah di dalam anusnya, ia bergeridik merasakan air maniku tumpah,
kemudian giliran dia yang belum keluar, aku tak ingin membiarkannya
bersusah-susah, aku kini melumat penisnya dengan gesit dan kuat, ia nampak tak
berdaya lagi, kedua tangannya memegang pinggiran kasur dan, ah, rupanya ia tak
bisa mengontrol air maninya untuk keluar dan alhasil air mani itu keluar semua
di mulutku. Meski aku juga baru pertama kali merasakan air mani, tapi aku tidak
merasa jijik, sebab air mani yang keluar adalah air mani dari pacar tersayangku
sendiri. Akhirnya setelah permainan usai, kami berdua tertidur juga.
.jpg)

Best free spins no deposit casino sites 2021 - JtmHub
BalasHapusBest 동해 출장샵 Free Spins No Deposit 경주 출장안마 Casinos All free spins and 대전광역 출장안마 no deposit bonus casino websites offer no deposit 경주 출장안마 bonus codes to 의정부 출장샵 attract new and loyal new