Setelah
Erin datang ke rumahku bulan lalu, aku merasakan ada yang hilang dalam diriku,
duniaku mendadak hampa seketika. Aku kehilangan gairah, Roby merasakan
perubahan dalam diriku, ia menyalahkanku tentang aku yang sepertinya masih
mencintai Bastian, aku sendiri tak tahu perasaanku kepada Bastian saat ini
seperti apa, hanya saja setiap kali Roby membahas Sebastian, aku merasa sesak
seketika.
Hubunganku
dengan Roby rupanya tak semulus dahulu ketika aku masih dengan Bastian, setiap
hari ada saja pertengkaran kecil mengenai hal-hal sepele, dari mulai masalah
masakan, pakaian, sampai caraku tidur selalu ia permasalahkan, aku jadi
teringat ketika masih bersama Sebastian, ia tak pernah membentakku seklaipun
tentang kesalahan yang pernah aku perbuat kepadanya, ia hanya tersenyum sambil
mencubit manja pipiku. Ah, apakah ini karma darinya?
“Beb,
coba, deh, baju kamu yang udah dipake jangan di gantungin di situ, taro di
keranjang cucian, sana!”
Aku
menarik nafas panjang. Bastian tak pernah mempermasalahkan itu, malahan ia yang
sering merapihkan bajuku yang selalu aku simpan di mana saja, sekalipun ia tak
pernah mengeluh, sangat berbeda dengan Roby. Aku lempar baju kotorku ke dalam
keranjang cucian dan karena terlalu kencang sehingga keranjang itu jatuh,
tumpahlah pakaian-pakaian lain di dalamnya.
“Yang
bener, dong kalau nyimpan cucian, tuh, kan jadi malah makin amburadul!”
“Ya
udah beresin aja sana!” bentakku.
“Dih,
kamu yang ngejatuhin itu, kenapa mesti aku yang beresin?”
Lagi-lagi
ini mengingatkanku kepada Bastian, sekali waktu ketika aku sedang sakit, aku
memecahkan piring yang berisi bubur, ia yang membereskannya tanpa mengeluh,
senyumnya selalu tersungging setiap kali melihat tingkahku yang
kekanak-kanakan.
Kuambil
baju yang bercecaran itu dan ku simpan kembali ketempatnya. “Aku mau ke kampus
dulu, ada buku yang mau aku pinjam.”
“Buku
apa?”
“Sastra.”
“Bukannya
udah punya?”
“Iya,
tapi belum lengkap, sekalian nyari lain buat referensi tugasku.”
“Bohong,
kan? Bilang aja mau ketemuan.”
“Ketemuan
ama siapa lagi?” bentakku kesal.
“Bastian
mungkin.”
“Untuk
apa ketemu sama dia?”
“Ya
gak apa-apa, sih, siapa tau kamu masih cinta ama dia.”
Aku
mendekati Roby. “Sekarang itu aku sama kamu, jadi mana mungkin aku ngedeketin
dia.”
“Ah,
kamu kan terkenal dengan ke-playboy-annya, jadi siapa tau mau nyari cowok
lain.”
“Jangan
berpikiran negatif, deh.”
“Aku
nggak negative thinking, cuman memastikan aja kalau cowokku yang sekarang gak
maen-maen denganku, aku nggak mau, ya, nasibku sama kaya Bastian.”
“Maksud
lo apa?” kataku dengan penuh penekanan.
“Ya,
kamu, kan ninggalin Bastian karena ada orang baru di hidup kamu, yaitu aku,
siapa tau nanti ketemu orang baru lagi dan kepikat lagi, nanti aku yang
ditinggalin.”
“Heh,
gue gak seburuk itu, ya!”
“Kok
ngomongnya pake gue-gue, sih? Kamu gak terima aku bilang gitu, kalau emang nggak,
coba buktiin kesetiaanmu.”
“Kalau
lo gak bertingkah macem-macem, gue pasti gak akan ninggalin lo, tapi kalau gue
denger lo macem-macem, ya, tanggung aja resikonya.”
“Oh,
jadi dulu Bastian macem-macem, ya, sama kamu? Macem-macem apa dia sampe kamu
tega ninggalin dia?”
Deg!
Emosiku
semakin terpancing, aku mencoba untuk tenang dengan tak membalas perkataannya
dan segera pergi dari rumah.
&&&
Setelah
resmi putus dengan Bastian, aku jadi jarang sekali main di kampus, biasanya
selepas jam pelajaran langsung pulang karena selalu bareng dengan Roby. Kini
setidaknya aku bisa kembali bernafas, sedikit meluangkan waktu setelah penat
mencari buku diperpustakaan.
Aku
memesan roti isi sosis dengan minuman botol dan duduk sendiri di pojok kantin,
tiba-tiba ketika aku sedang asik makan sambil melihat-lihat gerumulan mahasiswa
terlihat sosok yang sangat mengejutkanku. Aku melihat seseorang yang seperti
pertama kali aku melihatnya, wajahnya yang putih mulus, rambutnya yang dipotong
pendek rapih tapi modis dengan kacamata yang kini telah ditanggalkannya.
Sebastian. Ia terlihat sangat berbeda, lebih fress, lebih macho, dan jauh lebih
tampan, aku benar-benar terpana dibuatnya, melihatnya sedang asik bicara dengan
temannya membuatku senang. Ingin rasanya aku menyapa dia lagi, tapi aku tak
berani, aku takut kalau dia akan marah padaku, ah, bodohnya aku pasti ia marah
kepadaku karena aku telah mencapakannya.
Tapi,
sifatku yang dulu memang tidak berubah, aku selalu berani dengan apapun
resikonya, tanpa pikir panjang lagi aku langsung menghampirinya.
Kulangkahkan
kakiku menuju mejanya, “hai Bas, gimana kabar lo?” tanyaku ramah.
Ia
seperti tercekat seketika, wajahnya pucat pasi, ia seperti melihat hantu ketika
melihatku. “Boleh gue ikut gabung, gak? Tanyaku kepada teman-temannya, kebetulan
teman-temannya temanku juga.
“Eh
ada bang Castro, kemana aja bang baru kelihatan?” tanya Tama adik kelasku.
“Ada
aja Tam, lo apa kabar?”
“Baik
bang, tumben banget ada di kampus, biasanya gue liat abang tiap beres kuliah
langsung balik aja sama bang Roby, tumben sekarang sendiri.”
Aku
tersenyum, kemudian menatap Sebastian yang pura-pura sibuk makan baso. “Iya
nih, tadi gue lagi nyari buku referensi buat tugas terkahir, pusing nyarinya,
gak ketemu-ketemu.”
“Emang
buku apaan, bang?”
“Buku
Antologi puisi,” ucapku sambil terus menatap Bastian yang sepertinya semakin
salah tingkah.
“Eh,
Bas, bukannya buku itu lagi lo pinjem, ya?”
Bastian
nampak gelagapan, “Eh, apa, oh, iya, em, iya ada di gue bukunya.”
“Wah
kebetulan banget, ya? Boleh gue pinjem gak bukunya, Bas?”
Ia
nampak canggung sambil kemudian minum teh tarik yang ia pesan. “Bo boleh aja,
sih...”
“Bener,
oh, em, besok gue bawa, deh, ke kampus.”
“Waduh,
gue butuhnya sekarang, Bas.”
“Ah?
Em, ya udah nanti gue anterin aja ke rumah, lo, ya?” ia nampak semakin gugup,
aku suka melihat tingkahnya seperti itu.
“Nggak
usah, sekarang aja pas lo beres makan kita ke rumah lo ngambil bukunya.” Ia
tersenyum menatapnya, ah, pria ini memang tak bisa marah kepadaku. “Eh, abis
ini kalian gak ada jam lagi, kan?”
“Gak
ada bang, udah beres, abis ini aja kita langsung pada pulang, kok,” jawab Tama
datar.
“Ya
udah abis ini Bastian ikut sama gue aja, ya, pake motor gue ke rumah lo nya? Lo
gak bawa motor, kan?”
Ia
menggeleng.
“Eh,
Bas, kenapa sih, lo, kaya yang baru kenal ama bang Castro aja, bukannya dulu
kalian suka pulang pergi bareng, ya?”
Aku
dan Sebastian sontak terkejut dengan pernyataan dari Tama. Akhirnya karena
Bastian tak bisa menjawab, aku yang angkat bicara. “Biasa, Tam, dia itu suka
sama gue, hahahaa... tapi gue tolak...”
“Apaan,
nggak! Lo percaya sama omongan dia?”
Tama
mengangguk, “percaya dong, ih, nggak nyangka temen gue homo!”
“Apaan
sih lo, Tam!”
Tama
tertawa, setidaknya sekarang aku sudah bisa mencairkan suasana kembali. Setelah
selesai makan, kami segera bergegas, Sebastian ikut denganku duduk dibonceng
olehku.
Motor
kini sudah meninggalkan pelataran kampus, aku melajukan motor dengan santai,
ini adalah saat-saat kurindukan, berduaan dengan Bastian, memboncengnya. Tak
ada sedikitpun percakapan diantara kami, aku sendiri bingung untuk memulai
pembicaraan ini. Ketika tiba di belokan, aku berbelok ke arah yang berbeda,
sehingga membuat Sebastian angkat bicara.
“Eh,
kok belok ke sini? Rumah gue, kan ke arah sana!” ujarnya.
“Gue
pengen jalan-jalan bentar sama lo, mau, kan?”
Ia
tak menjawab, hanya diam terpaku.
Lima
belas menit kemudian kami sudah sampai ditempat tujuanku. Sebuah taman kecil di
puncak. Aku simpan motorku di samping pohon, ia turun dan berjalan pelan sambil
kedua tangannya memegang saku celananya.
“Kita
duduk di sana, yuk? Ajakku kepada Bastian sambil menunjuk bangku panjang
kosong.
Ia
tak bicara, tapi dari maksudnya aku tahu kalau dia setuju.
“Di
sini segar, ya?”
Ucapku
setelah kami berdua duduk. Aku menatapnya yang masih diam.
“Gimana
kabar lo?”
Ia
masih diam.
“Wajar,
kok, kalau lo masih marah sama gue, gue maklumin.”
“Kalau
tujuan lo ngajak gue ke tempat ini cuman mau ngebahas kita, mendingan pulang
aja, karena udah gak ada lagi kata ‘kita’ sekarang!”
“Tenang,
Bas, tenang, apa nggak bisa lo tenang sedikit?”
“”Mau
lo sekarang apa? Bukannya udah jelas sekarang?”
“Iya,
iya, gue tau, tapi sekarang gue cuman mau...”
“Mau
apa?”
“Mau
bilang minta maaf sama lo...”
“Udah
gue maafin.”
“Bohong!”
“Terserah!”
ia beranjak, aku segera menahannya dengan memegang tangannya. Akhirnya ia diam
juga. “Gue udah maafin semua perlakuan lo ke gue, bahkan ketika kita masih
jadian, gue gak dendam sama sekali sama lo, Cast, nggak.”
“Iya,
lo emang gak dendam sama gue, tapi lo marah sama gue, gue sadar dengan
perlakuan gue ke lo, bener semua perkataan lo, gue emang pengecut, terlalu
pengecut untuk apa yang udah gue lakuin. Lo berhak marah sama gue, bahkan kalau
lo mau mukulin gue sekarang juga gue terima, gue ikhlas.”
“Buat
apa gue ngelakuin ini semua? Gak ada gunanya, gue gak mau repot-repot ngotorin
tangan gue buat lo, Cast, gak mau, udah cukup!”
“Tapi...”
“Tapi
apa? Gue mau balik sekarang, dengan atau tanpa lo!” kini ia benar-benar
beranjak pergi meninggalkanku, aku mengejarnya.
“Gue
anter lo balik, ya?”
“Gak
usah gue bisa balik sendiri.”
Aku
kembali menahan tangannya, sehingga ia menatapku tajam. “Ijinkan gue nganterin
lo balik, itung-itung sebagai tanda terima kasih gue karena lo udah nyempetin
waktu buat ngobrol sama lo.”
Ia
menarik nafas panjang dan menghembuskannya kencang.
“Ok,”
akhirnya kata itu keluar dari mulutnya. Aku langsung tersenyum seketika.
Aku
memakai helmku, “wah kayaknya bakalan ujan, nih. Sebaiknya kita cepet-cepet.”
Kutancap
gas dan langsung pergi meninggalkan taman. Namun sayang, rupanya keberuntungan
tidak menyertai kami, hujan turun ketika kami baru berjalan satu kilometer, aku
belokkan motorku dan aku berhenti tepat di gardu ronda yang sepi, daerah ini
bukan daerah penduduk, karena dari samping hanya ada kebun teh menghampar luar,
petir menggelegar membuat siapapun yang berada di dalam rumah enggan untuk
keluar.
“Maaf,
ya, gara-gara gue kita kejebak hujan gini.”
Ia
diam. Aku duduk di sampingnya, hari ini ia tek mengenakan jaket, ah, memang ia
jarang menggunakan jaket setiap kali kemanapun ia pergi, kebiasaannya rupanya
tak berubah.
“Pake
jaket gue aja kalau lo kedinginan.”
“Gak
usah.”
“Tapi
lo keliatan kedinginan gitu.”
“Gue
bukan cewek, gue kuat.”
Aku
mengangguk.
Lima
menit. Sepuluh menit. Hujan masih saja deras, dan dalam derasnya hujan kami tak
bicara satu patah katapun.
“Maafin
gue karena udah ngeduain cinta lo....” tiba-tiba saja perkataan itu keluar dari
mulutku.
“Udah
gue bilang, kan tadi, gue udah maafin lo!”
“Tapi
dari sikap lo, tingkah lo, lo sepertinya belum maafin gue sepenuhnya.”
“Terus
gue mesti gimana? Setelah lo bilang maaf ke gue apa gue harus nangis di samping
lo dan lo peluk gue? Udah cukup gue nangis, Cast, dan gue gak mau lo bilang
banci lagi kalau gue nangis.”
Jleb.
Kata-kata itu, dulu ketika kami akan putus aku pernah melontarkan kata-kata
itu.
“Maafin
gue, Bas.”
“Maaf
maaf maaf, apa lo gak cape dari tadi bilang maaf?”
Aku
menggeleng. “Kalau ada kata selain maaf untuk bisa membuat lo benar-benar
membuang amarah lo, gue pasti ucapin.”
Ia
kembali terdiam.
“Lo
tau Cast, gimana rasanya ditinggalin orang yang bener-bener kita sayang itu
kaya gimana? Oh, iya lupa, lo itu belum pernah merasakan ditinggalkan, jadi lo
gak tau bagaimananya gue menderita
karena ditinggalin lo yang pergi tanpa penjelasan, berhari-hari gue gak bisa
nerima kenyataan kalau sekarang lo bukan milik gue lagi, gue hampir gila Cast,
tapi kak Erin akhirnya nyadarin gue, buat apa gue nyia-nyiain hidup gue cuman
buat orang yang udah gak sayang lagi sama gue, ngabisin waktu, tau gak!” ia
terdiam sejenak, “tapi gue gak bisa pungkiri kalau gue masih cinta sama lo,
bahkan sampai detik ini perasaan gue gak pernah berubah. Karena gue cinta sama
lo Cast, jadi gue rela sakit asal lo bahagia, lo tau dengan ngeliat lo
baik-baik aja dan ketawa terbahak-bahak itu udah bikin gue seneng, setidaknya
walaupun tanpa gue rupanya lo bahagia. Ketika malam yang biasanya setiap kita
tidur lo selalu remas pantat gue, itu menjadi kenangan buat gue, hal-hal kecil
yang sering lo lakuin ke gue selalu bikin gue kangen, dan seminggu ditinggal
sama lo gue sering mimpi buruk dan terbangun. Dan, ketika terbangun itulah gue
selalu menatap tempat biasa lo tidur tapi lo gak ada di situ, keluar juga air
mata gue di setiap malamnya.”
Air
mataku menetes tanpa diminta, pernyataannya itu benar-benar mengiris hatiku.
Oh, Tuhan, sebegitu jahatnya kah aku kepada pria malang ini?
“Jangan
cengeng, deh, kaya banci tau tingkah lo! Itu yang lo ucapin ke gue, dan gue
berjanji pada diri gue sendiri, gue gak akan pernah lagi menangisi masalah ini,
air mata gue terlalu berharga untuk menangisi hal sepele ini.”
Ini
benar-benar membuatku sedih air mataku kini mengalir dengan leluasanya.
“Nih
hapus air mata lo,” katanya sambil menjulurkan sapu tangan. “Lo inget benda
ini? sapu tangan ini punya lo, lo ngasih sapu tangan ini pas gue lagi nangis
karena bokap gue meninggal, dan sekarang gue kasiin lagi sapu tangan ini ke lo,
gue udah gak mau ada satu barangpun dari lo yang masih ada di gue.”
Aku
ambil saputangannya dan kuhapus air mata yang membasahi pipiku, entah mengapa
tangisku malah semakin menjadi, aku tak bisa mengontrol air mataku ini, bahkan
aku sampai terisak.
Kurasakan
ada pelukan hangat dari Bastian, ia memelukku, oh, ini benar-benar terjadi, aku
balas pelukannya dan kini kami saling berpelukan, ia mencium kepalaku. Wajahku
masuk ke dalam dadanya, menangis di dadanya yang hangat, kehangatan yang pernah
aku rasakan dahulu, ya, dahulu, ketika kami masih bersama.
Tak
lama hujanpun berhenti. “Gue balik duluan, ya?” aku terkejut dengan ucapannya.
“Jangan,
biar gue anter lo sampe rumah.”
“Gak
usah, gua gak apa-apa, kok. Kalau lo nganterin gue sampe rumah, gue takut kak
Erin ngeliat kita dan lo bakalan kena marah abis-abisan. Ya udah, gue balik,
ya?”
“Tapi,
kita masih bisa ketemu, kan?” tanyaku.
Ia
tersenyum. Kemudian menggelengkan kepalanya. “Kita udah berakhir, Cast,
sebaiknya lo lupain gue, tapi gue selalu doain lo, supaya lo dapet orang yang
lebih baik dari gue.”
Dari
jauh kulihat ia memasuki sebuah angkutan umum, duduk di depan dan menatapku
sendu.
.jpg)

0 komentar:
Posting Komentar