Namanya Sebastian 7



Setelah Erin datang ke rumahku bulan lalu, aku merasakan ada yang hilang dalam diriku, duniaku mendadak hampa seketika. Aku kehilangan gairah, Roby merasakan perubahan dalam diriku, ia menyalahkanku tentang aku yang sepertinya masih mencintai Bastian, aku sendiri tak tahu perasaanku kepada Bastian saat ini seperti apa, hanya saja setiap kali Roby membahas Sebastian, aku merasa sesak seketika.

Hubunganku dengan Roby rupanya tak semulus dahulu ketika aku masih dengan Bastian, setiap hari ada saja pertengkaran kecil mengenai hal-hal sepele, dari mulai masalah masakan, pakaian, sampai caraku tidur selalu ia permasalahkan, aku jadi teringat ketika masih bersama Sebastian, ia tak pernah membentakku seklaipun tentang kesalahan yang pernah aku perbuat kepadanya, ia hanya tersenyum sambil mencubit manja pipiku. Ah, apakah ini karma darinya?
“Beb, coba, deh, baju kamu yang udah dipake jangan di gantungin di situ, taro di keranjang cucian, sana!”
Aku menarik nafas panjang. Bastian tak pernah mempermasalahkan itu, malahan ia yang sering merapihkan bajuku yang selalu aku simpan di mana saja, sekalipun ia tak pernah mengeluh, sangat berbeda dengan Roby. Aku lempar baju kotorku ke dalam keranjang cucian dan karena terlalu kencang sehingga keranjang itu jatuh, tumpahlah pakaian-pakaian lain di dalamnya.
“Yang bener, dong kalau nyimpan cucian, tuh, kan jadi malah makin amburadul!”
“Ya udah beresin aja sana!” bentakku.
“Dih, kamu yang ngejatuhin itu, kenapa mesti aku yang beresin?”
Lagi-lagi ini mengingatkanku kepada Bastian, sekali waktu ketika aku sedang sakit, aku memecahkan piring yang berisi bubur, ia yang membereskannya tanpa mengeluh, senyumnya selalu tersungging setiap kali melihat tingkahku yang kekanak-kanakan.
Kuambil baju yang bercecaran itu dan ku simpan kembali ketempatnya. “Aku mau ke kampus dulu, ada buku yang mau aku pinjam.”
“Buku apa?”
“Sastra.”
“Bukannya udah punya?”
“Iya, tapi belum lengkap, sekalian nyari lain buat referensi tugasku.”
“Bohong, kan? Bilang aja mau ketemuan.”
“Ketemuan ama siapa lagi?” bentakku kesal.
“Bastian mungkin.”
“Untuk apa ketemu sama dia?”
“Ya gak apa-apa, sih, siapa tau kamu masih cinta ama dia.”
Aku mendekati Roby. “Sekarang itu aku sama kamu, jadi mana mungkin aku ngedeketin dia.”
“Ah, kamu kan terkenal dengan ke-playboy-annya, jadi siapa tau mau nyari cowok lain.”
“Jangan berpikiran negatif, deh.”
“Aku nggak negative thinking, cuman memastikan aja kalau cowokku yang sekarang gak maen-maen denganku, aku nggak mau, ya, nasibku sama kaya Bastian.”
“Maksud lo apa?” kataku dengan penuh penekanan.
“Ya, kamu, kan ninggalin Bastian karena ada orang baru di hidup kamu, yaitu aku, siapa tau nanti ketemu orang baru lagi dan kepikat lagi, nanti aku yang ditinggalin.”
“Heh, gue gak seburuk itu, ya!”
“Kok ngomongnya pake gue-gue, sih? Kamu gak terima aku bilang gitu, kalau emang nggak, coba buktiin kesetiaanmu.”
“Kalau lo gak bertingkah macem-macem, gue pasti gak akan ninggalin lo, tapi kalau gue denger lo macem-macem, ya, tanggung aja resikonya.”
“Oh, jadi dulu Bastian macem-macem, ya, sama kamu? Macem-macem apa dia sampe kamu tega ninggalin dia?”
Deg!
Emosiku semakin terpancing, aku mencoba untuk tenang dengan tak membalas perkataannya dan segera pergi dari rumah.
&&&
Setelah resmi putus dengan Bastian, aku jadi jarang sekali main di kampus, biasanya selepas jam pelajaran langsung pulang karena selalu bareng dengan Roby. Kini setidaknya aku bisa kembali bernafas, sedikit meluangkan waktu setelah penat mencari buku diperpustakaan.
Aku memesan roti isi sosis dengan minuman botol dan duduk sendiri di pojok kantin, tiba-tiba ketika aku sedang asik makan sambil melihat-lihat gerumulan mahasiswa terlihat sosok yang sangat mengejutkanku. Aku melihat seseorang yang seperti pertama kali aku melihatnya, wajahnya yang putih mulus, rambutnya yang dipotong pendek rapih tapi modis dengan kacamata yang kini telah ditanggalkannya. Sebastian. Ia terlihat sangat berbeda, lebih fress, lebih macho, dan jauh lebih tampan, aku benar-benar terpana dibuatnya, melihatnya sedang asik bicara dengan temannya membuatku senang. Ingin rasanya aku menyapa dia lagi, tapi aku tak berani, aku takut kalau dia akan marah padaku, ah, bodohnya aku pasti ia marah kepadaku karena aku telah mencapakannya.
Tapi, sifatku yang dulu memang tidak berubah, aku selalu berani dengan apapun resikonya, tanpa pikir panjang lagi aku langsung menghampirinya.
Kulangkahkan kakiku menuju mejanya, “hai Bas, gimana kabar lo?” tanyaku ramah.
Ia seperti tercekat seketika, wajahnya pucat pasi, ia seperti melihat hantu ketika melihatku. “Boleh gue ikut gabung, gak? Tanyaku kepada teman-temannya, kebetulan teman-temannya temanku juga.
“Eh ada bang Castro, kemana aja bang baru kelihatan?” tanya Tama adik kelasku.
“Ada aja Tam, lo apa kabar?”
“Baik bang, tumben banget ada di kampus, biasanya gue liat abang tiap beres kuliah langsung balik aja sama bang Roby, tumben sekarang sendiri.”
Aku tersenyum, kemudian menatap Sebastian yang pura-pura sibuk makan baso. “Iya nih, tadi gue lagi nyari buku referensi buat tugas terkahir, pusing nyarinya, gak ketemu-ketemu.”
“Emang buku apaan, bang?”
“Buku Antologi puisi,” ucapku sambil terus menatap Bastian yang sepertinya semakin salah tingkah.
“Eh, Bas, bukannya buku itu lagi lo pinjem, ya?”
Bastian nampak gelagapan, “Eh, apa, oh, iya, em, iya ada di gue bukunya.”
“Wah kebetulan banget, ya? Boleh gue pinjem gak bukunya, Bas?”
Ia nampak canggung sambil kemudian minum teh tarik yang ia pesan. “Bo boleh aja, sih...”
“Bener, oh, em, besok gue bawa, deh, ke kampus.”
“Waduh, gue butuhnya sekarang, Bas.”
“Ah? Em, ya udah nanti gue anterin aja ke rumah, lo, ya?” ia nampak semakin gugup, aku suka melihat tingkahnya seperti itu.
“Nggak usah, sekarang aja pas lo beres makan kita ke rumah lo ngambil bukunya.” Ia tersenyum menatapnya, ah, pria ini memang tak bisa marah kepadaku. “Eh, abis ini kalian gak ada jam lagi, kan?”
“Gak ada bang, udah beres, abis ini aja kita langsung pada pulang, kok,” jawab Tama datar.
“Ya udah abis ini Bastian ikut sama gue aja, ya, pake motor gue ke rumah lo nya? Lo gak bawa motor, kan?”
Ia menggeleng.
“Eh, Bas, kenapa sih, lo, kaya yang baru kenal ama bang Castro aja, bukannya dulu kalian suka pulang pergi bareng, ya?”
Aku dan Sebastian sontak terkejut dengan pernyataan dari Tama. Akhirnya karena Bastian tak bisa menjawab, aku yang angkat bicara. “Biasa, Tam, dia itu suka sama gue, hahahaa... tapi gue tolak...”
“Apaan, nggak! Lo percaya sama omongan dia?”
Tama mengangguk, “percaya dong, ih, nggak nyangka temen gue homo!”
“Apaan sih lo, Tam!”
Tama tertawa, setidaknya sekarang aku sudah bisa mencairkan suasana kembali. Setelah selesai makan, kami segera bergegas, Sebastian ikut denganku duduk dibonceng olehku.
Motor kini sudah meninggalkan pelataran kampus, aku melajukan motor dengan santai, ini adalah saat-saat kurindukan, berduaan dengan Bastian, memboncengnya. Tak ada sedikitpun percakapan diantara kami, aku sendiri bingung untuk memulai pembicaraan ini. Ketika tiba di belokan, aku berbelok ke arah yang berbeda, sehingga membuat Sebastian angkat bicara.
“Eh, kok belok ke sini? Rumah gue, kan ke arah sana!” ujarnya.
“Gue pengen jalan-jalan bentar sama lo, mau, kan?”
Ia tak menjawab, hanya diam terpaku.
Lima belas menit kemudian kami sudah sampai ditempat tujuanku. Sebuah taman kecil di puncak. Aku simpan motorku di samping pohon, ia turun dan berjalan pelan sambil kedua tangannya memegang saku celananya.
“Kita duduk di sana, yuk? Ajakku kepada Bastian sambil menunjuk bangku panjang kosong.
Ia tak bicara, tapi dari maksudnya aku tahu kalau dia setuju.
“Di sini segar, ya?”
Ucapku setelah kami berdua duduk. Aku menatapnya yang masih diam.
“Gimana kabar lo?”
Ia masih diam.
“Wajar, kok, kalau lo masih marah sama gue, gue maklumin.”
“Kalau tujuan lo ngajak gue ke tempat ini cuman mau ngebahas kita, mendingan pulang aja, karena udah gak ada lagi kata ‘kita’ sekarang!”
“Tenang, Bas, tenang, apa nggak bisa lo tenang sedikit?”
“”Mau lo sekarang apa? Bukannya udah jelas sekarang?”
“Iya, iya, gue tau, tapi sekarang gue cuman mau...”
“Mau apa?”
“Mau bilang minta maaf sama lo...”
“Udah gue maafin.”
“Bohong!”
“Terserah!” ia beranjak, aku segera menahannya dengan memegang tangannya. Akhirnya ia diam juga. “Gue udah maafin semua perlakuan lo ke gue, bahkan ketika kita masih jadian, gue gak dendam sama sekali sama lo, Cast, nggak.”
“Iya, lo emang gak dendam sama gue, tapi lo marah sama gue, gue sadar dengan perlakuan gue ke lo, bener semua perkataan lo, gue emang pengecut, terlalu pengecut untuk apa yang udah gue lakuin. Lo berhak marah sama gue, bahkan kalau lo mau mukulin gue sekarang juga gue terima, gue ikhlas.”
“Buat apa gue ngelakuin ini semua? Gak ada gunanya, gue gak mau repot-repot ngotorin tangan gue buat lo, Cast, gak mau, udah cukup!”
“Tapi...”
“Tapi apa? Gue mau balik sekarang, dengan atau tanpa lo!” kini ia benar-benar beranjak pergi meninggalkanku, aku mengejarnya.
“Gue anter lo balik, ya?”
“Gak usah gue bisa balik sendiri.”
Aku kembali menahan tangannya, sehingga ia menatapku tajam. “Ijinkan gue nganterin lo balik, itung-itung sebagai tanda terima kasih gue karena lo udah nyempetin waktu buat ngobrol sama lo.”
Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya kencang.
“Ok,” akhirnya kata itu keluar dari mulutnya. Aku langsung tersenyum seketika.
Aku memakai helmku, “wah kayaknya bakalan ujan, nih. Sebaiknya kita cepet-cepet.”
Kutancap gas dan langsung pergi meninggalkan taman. Namun sayang, rupanya keberuntungan tidak menyertai kami, hujan turun ketika kami baru berjalan satu kilometer, aku belokkan motorku dan aku berhenti tepat di gardu ronda yang sepi, daerah ini bukan daerah penduduk, karena dari samping hanya ada kebun teh menghampar luar, petir menggelegar membuat siapapun yang berada di dalam rumah enggan untuk keluar.
“Maaf, ya, gara-gara gue kita kejebak hujan gini.”
Ia diam. Aku duduk di sampingnya, hari ini ia tek mengenakan jaket, ah, memang ia jarang menggunakan jaket setiap kali kemanapun ia pergi, kebiasaannya rupanya tak berubah.
“Pake jaket gue aja kalau lo kedinginan.”
“Gak usah.”
“Tapi lo keliatan kedinginan gitu.”
“Gue bukan cewek, gue kuat.”
Aku mengangguk.
Lima menit. Sepuluh menit. Hujan masih saja deras, dan dalam derasnya hujan kami tak bicara satu patah katapun.
“Maafin gue karena udah ngeduain cinta lo....” tiba-tiba saja perkataan itu keluar dari mulutku.
“Udah gue bilang, kan tadi, gue udah maafin lo!”
“Tapi dari sikap lo, tingkah lo, lo sepertinya belum maafin gue sepenuhnya.”
“Terus gue mesti gimana? Setelah lo bilang maaf ke gue apa gue harus nangis di samping lo dan lo peluk gue? Udah cukup gue nangis, Cast, dan gue gak mau lo bilang banci lagi kalau gue nangis.”
Jleb. Kata-kata itu, dulu ketika kami akan putus aku pernah melontarkan kata-kata itu.
“Maafin gue, Bas.”
“Maaf maaf maaf, apa lo gak cape dari tadi bilang maaf?”
Aku menggeleng. “Kalau ada kata selain maaf untuk bisa membuat lo benar-benar membuang amarah lo, gue pasti ucapin.”
Ia kembali terdiam.
“Lo tau Cast, gimana rasanya ditinggalin orang yang bener-bener kita sayang itu kaya gimana? Oh, iya lupa, lo itu belum pernah merasakan ditinggalkan, jadi lo gak tau  bagaimananya gue menderita karena ditinggalin lo yang pergi tanpa penjelasan, berhari-hari gue gak bisa nerima kenyataan kalau sekarang lo bukan milik gue lagi, gue hampir gila Cast, tapi kak Erin akhirnya nyadarin gue, buat apa gue nyia-nyiain hidup gue cuman buat orang yang udah gak sayang lagi sama gue, ngabisin waktu, tau gak!” ia terdiam sejenak, “tapi gue gak bisa pungkiri kalau gue masih cinta sama lo, bahkan sampai detik ini perasaan gue gak pernah berubah. Karena gue cinta sama lo Cast, jadi gue rela sakit asal lo bahagia, lo tau dengan ngeliat lo baik-baik aja dan ketawa terbahak-bahak itu udah bikin gue seneng, setidaknya walaupun tanpa gue rupanya lo bahagia. Ketika malam yang biasanya setiap kita tidur lo selalu remas pantat gue, itu menjadi kenangan buat gue, hal-hal kecil yang sering lo lakuin ke gue selalu bikin gue kangen, dan seminggu ditinggal sama lo gue sering mimpi buruk dan terbangun. Dan, ketika terbangun itulah gue selalu menatap tempat biasa lo tidur tapi lo gak ada di situ, keluar juga air mata gue di setiap malamnya.”
Air mataku menetes tanpa diminta, pernyataannya itu benar-benar mengiris hatiku. Oh, Tuhan, sebegitu jahatnya kah aku kepada pria malang ini?
“Jangan cengeng, deh, kaya banci tau tingkah lo! Itu yang lo ucapin ke gue, dan gue berjanji pada diri gue sendiri, gue gak akan pernah lagi menangisi masalah ini, air mata gue terlalu berharga untuk menangisi hal sepele ini.”
Ini benar-benar membuatku sedih air mataku kini mengalir dengan leluasanya.
“Nih hapus air mata lo,” katanya sambil menjulurkan sapu tangan. “Lo inget benda ini? sapu tangan ini punya lo, lo ngasih sapu tangan ini pas gue lagi nangis karena bokap gue meninggal, dan sekarang gue kasiin lagi sapu tangan ini ke lo, gue udah gak mau ada satu barangpun dari lo yang masih ada di gue.”
Aku ambil saputangannya dan kuhapus air mata yang membasahi pipiku, entah mengapa tangisku malah semakin menjadi, aku tak bisa mengontrol air mataku ini, bahkan aku sampai terisak.
Kurasakan ada pelukan hangat dari Bastian, ia memelukku, oh, ini benar-benar terjadi, aku balas pelukannya dan kini kami saling berpelukan, ia mencium kepalaku. Wajahku masuk ke dalam dadanya, menangis di dadanya yang hangat, kehangatan yang pernah aku rasakan dahulu, ya, dahulu, ketika kami masih bersama.
Tak lama hujanpun berhenti. “Gue balik duluan, ya?” aku terkejut dengan ucapannya.
“Jangan, biar gue anter lo sampe rumah.”
“Gak usah, gua gak apa-apa, kok. Kalau lo nganterin gue sampe rumah, gue takut kak Erin ngeliat kita dan lo bakalan kena marah abis-abisan. Ya udah, gue balik, ya?”
“Tapi, kita masih bisa ketemu, kan?” tanyaku.
Ia tersenyum. Kemudian menggelengkan kepalanya. “Kita udah berakhir, Cast, sebaiknya lo lupain gue, tapi gue selalu doain lo, supaya lo dapet orang yang lebih baik dari gue.”
Dari jauh kulihat ia memasuki sebuah angkutan umum, duduk di depan dan menatapku sendu.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Namanya Sebastian 7 ini dipublish oleh Unknown pada hari 28 Desember 2014. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Namanya Sebastian 7
 

0 komentar:

Posting Komentar