4 Sexy Teacher 3



Acara penataran di mulai, semua guru di bagi menjadi beberapa urang kelas, dan, kebetulan sekali Adam dan Shane di tempatkan dalam satu kelas, mereka memegang kelas tiga, begitu juga dengan Orlando dan Keanu, mereka berempat ditempatkan di kelas yang sama.
Seketika juga guru instruktur menyuruh mereka mejadi beberapa kelompok, dan, disetiap kelompoknya terdiri dari empat orang, karena Orlando dan Keanu duduk bersama dan duduk tepat di belakang Shane dan Adam, mereka pun jadi satu kelompok.
“Kita, gak usah reopt-repot bagi kelompok, ya, ibu-ibu, bapak-bapak, cukup berkelompok dengan meja belakang atau depannya aja,” ujar guru isntruktur itu.
“Tugas kalian di sini membuat RPP kurikulum 2013 dengan format yang sudah ada di selebaran yang saya bagikan tadi, dan setiap orangnya membuat dua RPP, jadi masing-masing kebagian dua RPP dan jumlah RPP dari setiap kelompok berarti delapan RPP.”
Setelah instruktur membagi kelompok Adam dan Shane langsung membetulkan posisi duduk, sehingga kini mereka saling berhadap-hadapan. Keanu menatap gelagat dari Orlando yang terlihat sedikit over acting, sehingga ia sikut lengannya perlahan.
“Nah, kita sudah satu kelompok, jadi siapa di sini yang akan jadi ketua kelompok?” tanya Shane kepada anggota yang lain.
“Mendingan kamu aja, sepertinya kamu yang paling bisa mengkodinir peserta yang lain,” ujar Orlando dengan berani sambil wajahnya tak lepas dari kedua makhluk di hadapannya itu.
Seketika Adam tertawa pelan.
“Kenapa?” tanya Orlando.
“You dont know him, really.”
“Why? I think he is a perfect leader.”
“Iya, bener kata Adam, jangan aku, kamu aja yang jadi leadernya.”
“Dan, kamu bener-bener gak tau dia, sebaiknya kamu aja,” ujar Keanu kepada Adam.
“Aku? Jangan aku, aku tidak bisa,” ujar Adam gugup.
“Ya sudah, aku aja, ah, jadi pada gak mau gini, kaya orang yang lagi Pe De Ka Te aja,” ujar Shane sambil tertawa dan Orlando ikut tertawa. Sedangkan Keanu dan Adam nampak terlihat canggung.
“Ok, sebelum kita membagi tugas, kita belum kenal satu sama lainnya, lihat kelompok lain, guru-guru senior itu, kayaknya mereka sudah saling kenal, deh.”
“Iya, kayanya mereka emang udah saling kenal satu sama lainnya.”
“So, siapa yang mau memperkenalkan diri terlebih dahulu?”
“Udah leader aja dulu,” ujar Orlando kepada Shane.
“Ok, namaku Shane Tucker, kalian bisa panggil aku Shane dan aku berasal dari sekolah Beta,” ujar Shane dengan tegas.
“Ok, giliran aku, namaku Orlando Concerto, biasa dipanggil Orlando atau Lando, dan aku mengajar di sekolah Carli, Nu, giliranmu.”
Keanu nampak gugup, kemudian dengan suara yang tak terlalu kencang ia bicara, “namaku Keanu Liu, biasa dipanggil Keanu, dan aku mengajar sama seperti Lando, di SD Carli.”
Adam mengangguk menudian menarik nafas dalam, “namaku Adam, lengkapnya Adam Muller, biasa dipanggil Adam, dan aku mengajar di SD Alfa.”
“Ok, cukup perkenalannya, sekarang kita membagi tugas....”
Merekapun sibuk membagi tugas masing-masing ada yang harus dikerjakan secara individu dan ada pula yang dikerjakan berkelompok, untuk tuga individu bisa dikerjakan nanti, karena tugas itu akan di bahas di hari ke empat dan kelima, sedangkan tugas kelompok harus selesai hari ini karena di setiap harinya ada tugas kelompok yang berbeda-beda.
“Lando, gue gak ngerti yang ini, coba sini apa, sih, maksud dari pertanyaan ini?” tanya Keanu.
“Eh, jangan panggil gue-gue gitu, dong, gak enak sama yang lain.”
“Kalian biasa ngomong pake lo-gue?” tanya Adam.
“Orlando mengangguk.
“Kalau gitu, ya, udah, gak apa-apa, kita juga biasanya kalau ngobrol pake kata lo-gue, ya, bagus deh kalau gitu biar ngobrolnya lebih santai aja, ya?”
Mereka sepakat dengan ucapan Adam.
“Ih, Lando, sini dulu, gue gak ngerti,” ujar Keanu lagi karena Orlando sibuk mengobrol dengan Shane.
“Apa?” tanya Lando, kemudian ia mengambil selebaran yang berisi beberapa pertanyaan dan membacanya secara seksama, “aduh, gue gak ngerti nih, coba Shane, ngerti gak lo sama pertanyaan ini?”
Shane mengambil selebaran itu, membacanya kemudian mengerutkan alisnya.
“Kalau ini kayaknya yang ngerti cuman Adam, deh, coba Dam, maksud pertanyaan ini apa, sih?”
“Eh, gue kan lagi ngerjain yang ini?” bantah Adam.
“Udah, gampang yang itu biar gue sama Orlando aja yang ngerjain, lo bantuin Keanu dulu sana,” Adam nampak tak begitu suka tapi ia tak mampu berkata apa-apa, dan terlihat begitu juga dengan Keanu, ia memicingkan alisnya dan kemudian berpura-pura fokus kepada pertanyaan yang tadi. Adam berpindah tempat duduk dan duduk dengan Keanu, kini mereka mengerjakan tugas itu bersama-sama.
“Oh, ini, begini, loh, maksudnya,” ujar Adam setelah membaca pertanyaan yang dianggap sulit oleh rekan-rekannya.
Sedangkan Orlando dan Shane malah asik mengobrol, Adam dan Keanu nampak asik sendiri dengan tugasnya sehingga tek terasa waktu menunjukan jam istirahat.
“Baiklah, sekarang waktunya istirahat dulu, ya bapak-ibu guru, kita lanjut lagi tugas ini setelah makan siang,” ujar guru instruktur.
Orlando dan Shane nampak keluar terlebih dahulu, sedangkan Adam dan Keanu menuyul mereka dari belakang.
“Eh, gue tau tempat makan yang enak di sini, tempatnya juga bagus, deket sungai,” ujar Shane.
“Oh ya? Ya udah kita makan di sana aja, yuk?”
“Eh, tapi gimana sama bu Yuni?” tanya Adam.
“Udah ah, bilang aja kalau lo pergi sama cowok-cowok, dia pasti ngerti, kok.”
Akhirnya Adam menghampiri bu Yuni dan setelah mengobrol cukup lama ia kembali, “yaudah, yuk?” ajak Adam.
Setibanya di parkiran, “Dam, lo gue bonceng aja, biar praktis.”
“Oh, yaudah,” ujar Adam dan langsung menaiki motor Shane.
Merekapun pergi meninggalkan pelataran sekolah.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di tempat makan dekat sungai, airnya jernih dan tempatnya cukup bagus, mereka memesan bermacam makanan. selama menunggu makanan hingga ketika makan Shane dan Orlando tak henti-hentinya mengobrol, mereka seperti kawan lama yang curhat tentang masa lalu mereka, Adam ikut menimbrung sesekali, sedangkan Keanu benar-benar diam, tak bicara sepatah katapun.
“Lo enak, tim jagoan lo masih bertahan, lah tim gue, udah masuk ke zona degradasi,” ujar Orlando.
“Chelsea di lawan,” ujar Shane.
Setelah makan.
“Eh, gue mau ngerokok dulu, ya, di sana deket sungai,” ujar Shane pamit kepada mereka.
“Eh, gue ikut, asem, nih, kalau abis makan gak ngerokok,” jelasnya. Keanu sedikit cemberut mendengar perkataan Orlando, sedangkan Orlando tahu, tapi ia mencoba untuk tak memedulikannya.
Keanu bukanlah perokok, malah ia sangat membenci rokok, bertolak belakang dengan kekasihnya Orlando, dan Adam, ia hanya perokok sosial, ia hanya merokok bisa menurut ia harus.
“Keanu, lo gak ikut ngerokok?” tanya Adam.
“Nggak, gue anti rokok, lo sendiri kenapa gak ngerokok?”
“Gue lagi gak mau aja.”
“Oh,” ujarnya singkat. Keanu kini berkutat dengan gadgetnya sedangkan Adam masih diam sambil mengaduk-aduk jus yang baru ia pesan.
Sementara itu di pinggir sungai.
“Sebenernya yang harusnya ikut penataran bukan gue,” ujar Orlando.
“Terus?”
“Harusnya guru lain yang lebih senior dari gue, tapi dia beralasan kalau ada acara apalah itu, ya alhasil gue yang disuruh ke sini.”
“Oh, jadi sebenernya lo gak mau?”
“Awalnya, sih, nggak mau, tapi pas ternyata di sini ada lo....” Orlando menatap Shane, Shane nampak canggung di tatap seperti itu, “juga Keanu sama Adam, gue jadi seneng, gak akan boring kaya yang gue pikirin sebelumnya.”
Shane sedikit bergeser ke arah lain, mencoba menjaga jarak dengan Orlando, “sebenernya gue juga sama, bukan gue yang harusnya ada di sini, tapi pas gue tau kalau ternyata di SD Alfa si Adam yang di utus, gue ngerasa tenang, jadi gue ada temennya.”
Orlando mengangguk sambil sesekali menghisap rokoknya.
“Boleh gue nanya sesuatu?” tanya Lando.
“Ya udah, tinggal ngomong aja, kaya ke siapa aja, lo.”
“Ehm... tapi lo jangan marah, ya?” ucap Orlando ragu.
“Apaan?”
“Beneran nih, janji dulu kalau lo gak akan marah?”
“Apaan, sih, kaya anak kecil tau nggak?”
“Biarin,” ujarnya bersikeras.
“Iya, iya, gue gak akan marah, apaan sih, emangnya penting banget, ya?”
“Kalau dibilang penting, sih, nggak, cuman gue pengen tau aja.”
“Pengen tau apa?”
Orlando membuang puntungnya ke sungai dan menghembuskan sisa asapnya yang tinggal sedikit. “About you and him.”
“Him? Maksud lo siapa?”
“Adam.”
“Emangnya ada apa antara gue sama Adam?”
“People can see,” ujarnya perlahan.
“Sorry, nih, gue gak ngerti maksud lo.”
“Begini, maksud gue, lo ada apa-apanya, ya, sama Adam?”
“Ada apa-apanya bagaimana?”
“Lo pacaran sama dia, ya?”
Shane nampak sedikit panik, rahasia yang sudah ia dan Adam tutup-tutupi selama ini terbongkar oleh orang yang baru melihatnya sekali.
“Kenapa lo bisa beranggapan gue kaya gitu?”
Gue, kan, udah bilang, people can see, gue liat sikap dan cara bicara lo ke dia, berbeda banget ketika lo ngobrol sama gue atau Keanu, seperti ada sesuatu diantara kalian yang kalian coba tutup-tutupi.” Orlando semakin mendekati Shane. “Lo pacaran sama Adam, kan?”
Mata Shane seketika terbelalak.
“Lo udah janji ke gue kalau lo gak akan marah, kalau pendapat gue bener, gue gak apa-apa, gak akan marah, karena gue juga sama kaya lo.”
“Maksud lo?”
“Gue juga sama Keanu pacaran.”
“Really?”
“Serius, gue pacaran sama Keanu. Jujur aja Shane, gak usah di tutup-tutupi, lagian orang kaya kita ini emang dalam hal keya gini paling sensitif, orang kayak kita lebih tahu mana yang sama dan mana yang emang bener-bener suka cewek, dan gue merhatiin gelagat dari Adam yang keliatan acuh ketika bersama bu Yuni itu, lebih dingin, berbeda ketika dia sama lo, lebih hangat dan ah, matanya itu tak dapat berbohong, Shane.”
Kini Shane yang membuang puntung rokoknya. “Jadi, rahasia yang udah gue coba sembunyiin selama ini ketahuan oleh orang yang baru seklai ketemu gue, well, lo hebat juga buat masalah ini, so, lo top or bot?” tanya Shane.
“Gue? Gue bot.”
“Serius? Gue pikir si Keanu yang bot, soalnya ngeliat dia yang kayaknya over protektif sama lo dan sikapnya yang agak keliatan... uh, you know what i mean... gue pikir dia.”
“Kenapa, lo gak nyangka, kan? Gue lebih suka di tusuk daripada nusuk, bro, hahaha... dan, lo sendiri?”
“Gue? Gue top, asli top.”
“Boleh, dong kapan-kapan kita ML?”
Shane nampak terkejut, pasalnya ia belum pernah ML selain dengan Adam, tapi melihat paras Orlando yang terlihat tampan dan masukulin, sehingga ada rasa ingin mencobanya.
Waktu istirahat sudah berlalu, kini mereka kembali ke rutinitas awal mengerjakan tugas dari pemerintah daerah. Keanu dan Adam kembali sibuk dengan kegiatannya sementara Orlando kini mulai sibuk dengan tugasnya yang lain. Tapi, Shane, pikirannya sedang bingung, ucapan Orlando benar-benar membekas di pikirannya, ada kalanya ia ingin mencoba ajakan Orlando, tapi seketika juga hilang ketika melihat Adam yang tengah sibuk dengan tugasnya, dan kembali lagi ingin mencoba ketika menatap Orlando.
Jam sudah menunjukan jam empat sore, acara penataran hari pertama sudah selesai semua guru kini bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
Ketika di parkiran.
“Lando, anterin gue ke rumah temen gue, dong, tadi gue dapet BBM, dia lagi sakit,” ujar Keanu.
“Siapa?”
“Si Mitha.”
“Oh, sahabat lo yang cerewet itu, tapi gue gak bisa nungguin lo ya? Gue ada perlu,” ujar Orlando seraya menatap Shane sekilas.
“Iya, tapi kalau gue udah beres lo jemput gue, ya?”
“Yoi.”
Orlando mengenakan helmnya dan menyalakan mesin motor, Shane pun sama, ia menyalakn mesin motornya, Adam dan bu Yuni nampak sudah pergi duluan karena ia harus mengantar ke rumah bu Yuni yang cukup jauh dari rumahnya. Shane benar-benar dilanda kebimbangan, seketika ponselnya berbunyi, ada BBM masuk. Rupanya itu dari Olrando, mereka sudah nertukar pin BB sewaktu selesai memperkenalkan diri.
Lo tunggu gue dia perempatan tugu, ya? Gue gak akan lama.
Itu pesan yang dikirim Orlando kepada Shane. Dan dilihatnya Orlando pergi duluan meninggalkannya.
Shane sudah berada di perempatan tugu, ia ingin tapi ia masih ragu, hampir saja ia akan membatalkan rencana itu dan pergi dari tugu, tapi Orlando rupanya telah datang, ia menatap Shane dari motornya dan menyuruhnya untuk mengikuti kepada Orlando pergi.
Tibalah kini Shane di pelataran kosan, sepi, belum ada siapa-siapa di kosan ini. Shane membuka helmnya, kemudian ia mengambil handponenya dan mengirim BBM ke Adam.
Say, gue pulangnya telat, ya, temen-temen futsal gue ngajak ngumpul dulu.
Begitulah pesan yang dikirimkan oleh Shane kepada Adam, kemudian ia turun dari motornya dan melangkah masuk ke kamar kosan Orlando.
“Ini kamar, lo?” tanya Shane.
“Iya, sorry, ya, berantakan, kalau kamar si Keanu lebih bersih dari gue. Tuh, kamarnya di samping kamar gue.”
Shane mengangguk, ia benar-benar canggung, tapi hati kotornya ingin mencoba sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Santai aja, ya, eh, lo mau minum apa?”
“Ah, nggak usah.”
“Oh, yaudah, kalau lo mau apa-apa tinggal ambil aja di kulkas.”
Shane menatap lekat kamar Orlando, kamar yang benr-benar kamar laki-laki, tak sedikitpun terlihat kalau ini adalah kamar pria yang menyukai pria. Di setiap dindingnya di tempel poster-poster pemain bola, tentunya pemain bola yang tampan-tampan saja yang ada di sana.
Orlando menutup dan mengunci pintu kosannya.
“Gue mau mandi dulu, ya.” Ucapnya seraya masuk ke dalam kamar mandi.
Tak lama kemudian, Orlando sudah keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk putih saja. Mata Shane terbelalak melihat tubuh indah milik Orlando, sebelumnya ia belum pernah melihat tubuh orang lain selain Adam. Sesaat kemudian Orlando membuka handuknya, di lepar handuk itu ke arah Shane tapi Shane menangkapnya dengan sigap. Ia menatap lekuk demi lekuk tubuh Orlando yang kini sudah tak ada benangpun yang menempel.
Orlando mendekati Shane dan duduk di sampingnya, “kok lo gugup gitu, sih?”
“Ah, nggak, gue biasa aja, kok.”
Orlando tersenyum. “Belum pernah liat tubuh cowok lain, ya, selain Adam?”
Shane semakin terlihat salah tingkah.
Orlando kini mencoba memulai permainan, ia buka satu demi satu baju Shane, “relax sayang,” ujarnya ditelinga Shane. Dengusan nafas Orlando membuatnya terangsang. Lando kini mulai menciumi leher Shane dengan lihai, Shane nampak menikmatinya meski ia masih diam kaku. Selanjutnya Orlando mencium bibir Shane, Shane menerimanya walau masih ragu, saat ini mereka mulai saling berpagutan dalam ciuman ganas itu. Direbahkannya tubuh Shane dan Orlando kini berada di atas tubuh Shane, masih berciuman, tapi tangan Orlando tak diam saja, perlahan tapi pasti ia sudah berhasil membuka kancing-kancing baju milik Shane dan hingga kini yang menutupi badan Shane hanya tinggal baju dalam dan celana.
Orlando meminta Shane membuka baju dan celananya, ia menuruti saja karena sudah terbawa nafsu. Shane kini hanya mengenakan celana dalam, Orlando menyusuri ke bawah dan menciumi celana dalam Shane, sesaat kemudian tersiuma aroma serta bekas basah di celana dalamnya Shane, jelas kini ia sudah sangat terangsang. Orlando merasa bangga karena kini ia sudah bisa membuat Shane terangsang. Di bukanya perlahan celana dalam milik Shane dan langsung saja ia lumat habis penis yang setengah tegang itu.
“Oh, i like your dick, beib,” ujar Orlando sambil terus menaikturunkan mulutnya.
“ehm... uh... enak... terus Do, gue suka isepan lo.”
Mendengar lampu hijau darinya, Orlando semakin semangat melakukan oral, ia asik dengan lolipop barunya, dihisap dan dikulumnya dengan lihai sehingga kadang-kadang membuat Shane melonjak keenakan.
Shane kini mengambil alih, ia tak mau kalau hanya ia yang menikmati permainan ini, ia menindih tubuh Orlando, pria ini berbeda, lebih ganas, dan sedikit nakal, ia lumat bibirnya dengan nafsu, mereka saling berperang dalam jilatan lidah yang beradu. Kemudian Shane menjilati puting Orlando, lihai dan buas, kemudian menjilati pusar Orlando dan membuatnya nampak bergemetar, Shane semakin bawah saja dan sekarang hidungnya sudah berada di sekitaran semak yang biasa disebut dengan jembut. Ia jilati jembut halusnya, semkin kebawah, kebawah, dan, kini penis tegang itu sudah ada di hadapannya, ia masukan penis itu ke dalam mulutnya, Orlando mengerang, menahan nikmat, tangannya memegang kepala Shane yang saat ini sedang asik memaju-mundurkan mulutnya, ia hisap sekuat-kuatnya dan ketika Orlando akan mencapai klimaks, ia mencabut penis itu dan kembali ke atas.
Dibalikannya tubuh Orlando, dijilatnya punggung, pinggang bahkan pantatnya yang gempal dan berisi, ia pukul pantat itu dengan manja, Orlando mendesah nikmat, kemudian ia mencari sesuatu, diambilnya oil dan ia lumasi dengan tangannya anus Orlando yang nampak berkedut-kedut siap menerima tusukan itu.
Setelah selesai melumuri anus Orlando, kini giliran penisnya yang ia lumuri, dan setelah sudah rata, ia tak segan-segan memasukan penisnya ke dalam anus Orlando. Orlando mengerang menahan sakit dan nikmat, ia pompa penisnya perlahan, maju mundur, maju mundur, maju mundur, terus dan terus, semakin laam pompaannya semakin cepat dan keras, Orlando sangat menikmati pompaan dari penis baru yang bersarang di anusnya itu. Dan, Shane memintanya untuk berbalik, ia angkatkan kaki Orlando di simpan di pundaknya, lalu dimasukannya lagi penis kerasnya ke anus Lando.
Plok Plok Plok Plok
Saat ini keringat mereka sudah menyatu, sia-sialah usaha Shane menahan diri untuk tidak ML dengan Orlando, ia bahkan merasa lebih enak melakukan ini bersama Orlando ketimbang Adam, ia pompa terus, terus, cepat, cepat, ketika handak klimaks, ia hentikan pompaannya dan kembali mencium Orlando.
Mereka berpagutan cukup lama. Setelah cukup dengan berciuman, Shane meminta Orlando menungging, di tusuknya penis itu ke dalam anus Orlando yang sedang menungging, dipompanya dengan cepat, ia tak lagi bermain-main ia ingin menyelesaikan permainan ini.
Orlando mengocok-ngocok penisnya sendiri sambil pantatnya terus di dorong oleh Shane, secara bersamaan ketika Shane menyuruhnya untuk terlentang, lahar panas itu keluar dan berhamburan di tubuh Olrando, begitupun dengan Orlando mereka klimaks bersama, terengah-engah, dan Shane limbung dan jatuh dipelukan Olrando, Shane menatap Orlando dengan senyum.
“Thanks, ini ML paling dahsyat yang pernah gue lakuin selama ini.”
Orlando tersenyum kemudian mereka kembali berciuman.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel 4 Sexy Teacher 3 ini dipublish oleh Unknown pada hari 27 Januari 2015. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan 4 Sexy Teacher 3
 

0 komentar:

Posting Komentar