Acara
penataran di mulai, semua guru di bagi menjadi beberapa urang kelas, dan,
kebetulan sekali Adam dan Shane di tempatkan dalam satu kelas, mereka memegang
kelas tiga, begitu juga dengan Orlando dan Keanu, mereka berempat ditempatkan
di kelas yang sama.
Seketika
juga guru instruktur menyuruh mereka mejadi beberapa kelompok, dan, disetiap
kelompoknya terdiri dari empat orang, karena Orlando dan Keanu duduk bersama
dan duduk tepat di belakang Shane dan Adam, mereka pun jadi satu kelompok.
“Kita,
gak usah reopt-repot bagi kelompok, ya, ibu-ibu, bapak-bapak, cukup berkelompok
dengan meja belakang atau depannya aja,” ujar guru isntruktur itu.
“Tugas
kalian di sini membuat RPP kurikulum 2013 dengan format yang sudah ada di
selebaran yang saya bagikan tadi, dan setiap orangnya membuat dua RPP, jadi
masing-masing kebagian dua RPP dan jumlah RPP dari setiap kelompok berarti
delapan RPP.”
Setelah
instruktur membagi kelompok Adam dan Shane langsung membetulkan posisi duduk,
sehingga kini mereka saling berhadap-hadapan. Keanu menatap gelagat dari
Orlando yang terlihat sedikit over acting, sehingga ia sikut lengannya
perlahan.
“Nah,
kita sudah satu kelompok, jadi siapa di sini yang akan jadi ketua kelompok?”
tanya Shane kepada anggota yang lain.
“Mendingan
kamu aja, sepertinya kamu yang paling bisa mengkodinir peserta yang lain,” ujar
Orlando dengan berani sambil wajahnya tak lepas dari kedua makhluk di
hadapannya itu.
Seketika
Adam tertawa pelan.
“Kenapa?”
tanya Orlando.
“You
dont know him, really.”
“Why?
I think he is a perfect leader.”
“Iya,
bener kata Adam, jangan aku, kamu aja yang jadi leadernya.”
“Dan,
kamu bener-bener gak tau dia, sebaiknya kamu aja,” ujar Keanu kepada Adam.
“Aku?
Jangan aku, aku tidak bisa,” ujar Adam gugup.
“Ya
sudah, aku aja, ah, jadi pada gak mau gini, kaya orang yang lagi Pe De Ka Te
aja,” ujar Shane sambil tertawa dan Orlando ikut tertawa. Sedangkan Keanu dan
Adam nampak terlihat canggung.
“Ok,
sebelum kita membagi tugas, kita belum kenal satu sama lainnya, lihat kelompok
lain, guru-guru senior itu, kayaknya mereka sudah saling kenal, deh.”
“Iya,
kayanya mereka emang udah saling kenal satu sama lainnya.”
“So,
siapa yang mau memperkenalkan diri terlebih dahulu?”
“Udah
leader aja dulu,” ujar Orlando kepada Shane.
“Ok,
namaku Shane Tucker, kalian bisa panggil aku Shane dan aku berasal dari sekolah
Beta,” ujar Shane dengan tegas.
“Ok,
giliran aku, namaku Orlando Concerto, biasa dipanggil Orlando atau Lando, dan
aku mengajar di sekolah Carli, Nu, giliranmu.”
Keanu
nampak gugup, kemudian dengan suara yang tak terlalu kencang ia bicara, “namaku
Keanu Liu, biasa dipanggil Keanu, dan aku mengajar sama seperti Lando, di SD
Carli.”
Adam
mengangguk menudian menarik nafas dalam, “namaku Adam, lengkapnya Adam Muller,
biasa dipanggil Adam, dan aku mengajar di SD Alfa.”
“Ok,
cukup perkenalannya, sekarang kita membagi tugas....”
Merekapun
sibuk membagi tugas masing-masing ada yang harus dikerjakan secara individu dan
ada pula yang dikerjakan berkelompok, untuk tuga individu bisa dikerjakan
nanti, karena tugas itu akan di bahas di hari ke empat dan kelima, sedangkan
tugas kelompok harus selesai hari ini karena di setiap harinya ada tugas
kelompok yang berbeda-beda.
“Lando,
gue gak ngerti yang ini, coba sini apa, sih, maksud dari pertanyaan ini?” tanya
Keanu.
“Eh,
jangan panggil gue-gue gitu, dong, gak enak sama yang lain.”
“Kalian
biasa ngomong pake lo-gue?” tanya Adam.
“Orlando
mengangguk.
“Kalau
gitu, ya, udah, gak apa-apa, kita juga biasanya kalau ngobrol pake kata lo-gue,
ya, bagus deh kalau gitu biar ngobrolnya lebih santai aja, ya?”
Mereka
sepakat dengan ucapan Adam.
“Ih,
Lando, sini dulu, gue gak ngerti,” ujar Keanu lagi karena Orlando sibuk
mengobrol dengan Shane.
“Apa?”
tanya Lando, kemudian ia mengambil selebaran yang berisi beberapa pertanyaan
dan membacanya secara seksama, “aduh, gue gak ngerti nih, coba Shane, ngerti
gak lo sama pertanyaan ini?”
Shane
mengambil selebaran itu, membacanya kemudian mengerutkan alisnya.
“Kalau
ini kayaknya yang ngerti cuman Adam, deh, coba Dam, maksud pertanyaan ini apa,
sih?”
“Eh,
gue kan lagi ngerjain yang ini?” bantah Adam.
“Udah,
gampang yang itu biar gue sama Orlando aja yang ngerjain, lo bantuin Keanu dulu
sana,” Adam nampak tak begitu suka tapi ia tak mampu berkata apa-apa, dan
terlihat begitu juga dengan Keanu, ia memicingkan alisnya dan kemudian
berpura-pura fokus kepada pertanyaan yang tadi. Adam berpindah tempat duduk dan
duduk dengan Keanu, kini mereka mengerjakan tugas itu bersama-sama.
“Oh,
ini, begini, loh, maksudnya,” ujar Adam setelah membaca pertanyaan yang
dianggap sulit oleh rekan-rekannya.
Sedangkan
Orlando dan Shane malah asik mengobrol, Adam dan Keanu nampak asik sendiri
dengan tugasnya sehingga tek terasa waktu menunjukan jam istirahat.
“Baiklah,
sekarang waktunya istirahat dulu, ya bapak-ibu guru, kita lanjut lagi tugas ini
setelah makan siang,” ujar guru instruktur.
Orlando
dan Shane nampak keluar terlebih dahulu, sedangkan Adam dan Keanu menuyul
mereka dari belakang.
“Eh,
gue tau tempat makan yang enak di sini, tempatnya juga bagus, deket sungai,”
ujar Shane.
“Oh
ya? Ya udah kita makan di sana aja, yuk?”
“Eh,
tapi gimana sama bu Yuni?” tanya Adam.
“Udah
ah, bilang aja kalau lo pergi sama cowok-cowok, dia pasti ngerti, kok.”
Akhirnya
Adam menghampiri bu Yuni dan setelah mengobrol cukup lama ia kembali, “yaudah,
yuk?” ajak Adam.
Setibanya
di parkiran, “Dam, lo gue bonceng aja, biar praktis.”
“Oh,
yaudah,” ujar Adam dan langsung menaiki motor Shane.
Merekapun
pergi meninggalkan pelataran sekolah.
Beberapa
menit kemudian mereka tiba di tempat makan dekat sungai, airnya jernih dan
tempatnya cukup bagus, mereka memesan bermacam makanan. selama menunggu makanan
hingga ketika makan Shane dan Orlando tak henti-hentinya mengobrol, mereka
seperti kawan lama yang curhat tentang masa lalu mereka, Adam ikut menimbrung
sesekali, sedangkan Keanu benar-benar diam, tak bicara sepatah katapun.
“Lo
enak, tim jagoan lo masih bertahan, lah tim gue, udah masuk ke zona degradasi,”
ujar Orlando.
“Chelsea
di lawan,” ujar Shane.
Setelah
makan.
“Eh,
gue mau ngerokok dulu, ya, di sana deket sungai,” ujar Shane pamit kepada
mereka.
“Eh,
gue ikut, asem, nih, kalau abis makan gak ngerokok,” jelasnya. Keanu sedikit
cemberut mendengar perkataan Orlando, sedangkan Orlando tahu, tapi ia mencoba
untuk tak memedulikannya.
Keanu
bukanlah perokok, malah ia sangat membenci rokok, bertolak belakang dengan
kekasihnya Orlando, dan Adam, ia hanya perokok sosial, ia hanya merokok bisa
menurut ia harus.
“Keanu,
lo gak ikut ngerokok?” tanya Adam.
“Nggak,
gue anti rokok, lo sendiri kenapa gak ngerokok?”
“Gue
lagi gak mau aja.”
“Oh,”
ujarnya singkat. Keanu kini berkutat dengan gadgetnya sedangkan Adam masih diam
sambil mengaduk-aduk jus yang baru ia pesan.
Sementara
itu di pinggir sungai.
“Sebenernya
yang harusnya ikut penataran bukan gue,” ujar Orlando.
“Terus?”
“Harusnya
guru lain yang lebih senior dari gue, tapi dia beralasan kalau ada acara apalah
itu, ya alhasil gue yang disuruh ke sini.”
“Oh,
jadi sebenernya lo gak mau?”
“Awalnya,
sih, nggak mau, tapi pas ternyata di sini ada lo....” Orlando menatap Shane,
Shane nampak canggung di tatap seperti itu, “juga Keanu sama Adam, gue jadi
seneng, gak akan boring kaya yang gue pikirin sebelumnya.”
Shane
sedikit bergeser ke arah lain, mencoba menjaga jarak dengan Orlando, “sebenernya
gue juga sama, bukan gue yang harusnya ada di sini, tapi pas gue tau kalau
ternyata di SD Alfa si Adam yang di utus, gue ngerasa tenang, jadi gue ada
temennya.”
Orlando
mengangguk sambil sesekali menghisap rokoknya.
“Boleh
gue nanya sesuatu?” tanya Lando.
“Ya
udah, tinggal ngomong aja, kaya ke siapa aja, lo.”
“Ehm...
tapi lo jangan marah, ya?” ucap Orlando ragu.
“Apaan?”
“Beneran
nih, janji dulu kalau lo gak akan marah?”
“Apaan,
sih, kaya anak kecil tau nggak?”
“Biarin,”
ujarnya bersikeras.
“Iya,
iya, gue gak akan marah, apaan sih, emangnya penting banget, ya?”
“Kalau
dibilang penting, sih, nggak, cuman gue pengen tau aja.”
“Pengen
tau apa?”
Orlando
membuang puntungnya ke sungai dan menghembuskan sisa asapnya yang tinggal
sedikit. “About you and him.”
“Him?
Maksud lo siapa?”
“Adam.”
“Emangnya
ada apa antara gue sama Adam?”
“People
can see,” ujarnya perlahan.
“Sorry,
nih, gue gak ngerti maksud lo.”
“Begini,
maksud gue, lo ada apa-apanya, ya, sama Adam?”
“Ada
apa-apanya bagaimana?”
“Lo
pacaran sama dia, ya?”
Shane
nampak sedikit panik, rahasia yang sudah ia dan Adam tutup-tutupi selama ini
terbongkar oleh orang yang baru melihatnya sekali.
“Kenapa
lo bisa beranggapan gue kaya gitu?”
Gue,
kan, udah bilang, people can see, gue liat sikap dan cara bicara lo ke dia,
berbeda banget ketika lo ngobrol sama gue atau Keanu, seperti ada sesuatu
diantara kalian yang kalian coba tutup-tutupi.” Orlando semakin mendekati
Shane. “Lo pacaran sama Adam, kan?”
Mata
Shane seketika terbelalak.
“Lo
udah janji ke gue kalau lo gak akan marah, kalau pendapat gue bener, gue gak
apa-apa, gak akan marah, karena gue juga sama kaya lo.”
“Maksud
lo?”
“Gue
juga sama Keanu pacaran.”
“Really?”
“Serius,
gue pacaran sama Keanu. Jujur aja Shane, gak usah di tutup-tutupi, lagian orang
kaya kita ini emang dalam hal keya gini paling sensitif, orang kayak kita lebih
tahu mana yang sama dan mana yang emang bener-bener suka cewek, dan gue
merhatiin gelagat dari Adam yang keliatan acuh ketika bersama bu Yuni itu,
lebih dingin, berbeda ketika dia sama lo, lebih hangat dan ah, matanya itu tak
dapat berbohong, Shane.”
Kini
Shane yang membuang puntung rokoknya. “Jadi, rahasia yang udah gue coba
sembunyiin selama ini ketahuan oleh orang yang baru seklai ketemu gue, well, lo
hebat juga buat masalah ini, so, lo top or bot?” tanya Shane.
“Gue?
Gue bot.”
“Serius?
Gue pikir si Keanu yang bot, soalnya ngeliat dia yang kayaknya over protektif
sama lo dan sikapnya yang agak keliatan... uh, you know what i mean... gue
pikir dia.”
“Kenapa,
lo gak nyangka, kan? Gue lebih suka di tusuk daripada nusuk, bro, hahaha...
dan, lo sendiri?”
“Gue?
Gue top, asli top.”
“Boleh,
dong kapan-kapan kita ML?”
Shane
nampak terkejut, pasalnya ia belum pernah ML selain dengan Adam, tapi melihat
paras Orlando yang terlihat tampan dan masukulin, sehingga ada rasa ingin
mencobanya.
Waktu
istirahat sudah berlalu, kini mereka kembali ke rutinitas awal mengerjakan
tugas dari pemerintah daerah. Keanu dan Adam kembali sibuk dengan kegiatannya
sementara Orlando kini mulai sibuk dengan tugasnya yang lain. Tapi, Shane,
pikirannya sedang bingung, ucapan Orlando benar-benar membekas di pikirannya,
ada kalanya ia ingin mencoba ajakan Orlando, tapi seketika juga hilang ketika
melihat Adam yang tengah sibuk dengan tugasnya, dan kembali lagi ingin mencoba
ketika menatap Orlando.
Jam
sudah menunjukan jam empat sore, acara penataran hari pertama sudah selesai
semua guru kini bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
Ketika
di parkiran.
“Lando,
anterin gue ke rumah temen gue, dong, tadi gue dapet BBM, dia lagi sakit,” ujar
Keanu.
“Siapa?”
“Si
Mitha.”
“Oh,
sahabat lo yang cerewet itu, tapi gue gak bisa nungguin lo ya? Gue ada perlu,”
ujar Orlando seraya menatap Shane sekilas.
“Iya,
tapi kalau gue udah beres lo jemput gue, ya?”
“Yoi.”
Orlando
mengenakan helmnya dan menyalakan mesin motor, Shane pun sama, ia menyalakn
mesin motornya, Adam dan bu Yuni nampak sudah pergi duluan karena ia harus
mengantar ke rumah bu Yuni yang cukup jauh dari rumahnya. Shane benar-benar dilanda
kebimbangan, seketika ponselnya berbunyi, ada BBM masuk. Rupanya itu dari
Olrando, mereka sudah nertukar pin BB sewaktu selesai memperkenalkan diri.
Lo
tunggu gue dia perempatan tugu, ya? Gue gak akan lama.
Itu
pesan yang dikirim Orlando kepada Shane. Dan dilihatnya Orlando pergi duluan
meninggalkannya.
Shane
sudah berada di perempatan tugu, ia ingin tapi ia masih ragu, hampir saja ia
akan membatalkan rencana itu dan pergi dari tugu, tapi Orlando rupanya telah
datang, ia menatap Shane dari motornya dan menyuruhnya untuk mengikuti kepada
Orlando pergi.
Tibalah
kini Shane di pelataran kosan, sepi, belum ada siapa-siapa di kosan ini. Shane
membuka helmnya, kemudian ia mengambil handponenya dan mengirim BBM ke Adam.
Say,
gue pulangnya telat, ya, temen-temen futsal gue ngajak ngumpul dulu.
Begitulah
pesan yang dikirimkan oleh Shane kepada Adam, kemudian ia turun dari motornya
dan melangkah masuk ke kamar kosan Orlando.
“Ini
kamar, lo?” tanya Shane.
“Iya,
sorry, ya, berantakan, kalau kamar si Keanu lebih bersih dari gue. Tuh,
kamarnya di samping kamar gue.”
Shane
mengangguk, ia benar-benar canggung, tapi hati kotornya ingin mencoba sesuatu
yang baru, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Santai
aja, ya, eh, lo mau minum apa?”
“Ah,
nggak usah.”
“Oh,
yaudah, kalau lo mau apa-apa tinggal ambil aja di kulkas.”
Shane
menatap lekat kamar Orlando, kamar yang benr-benar kamar laki-laki, tak
sedikitpun terlihat kalau ini adalah kamar pria yang menyukai pria. Di setiap
dindingnya di tempel poster-poster pemain bola, tentunya pemain bola yang
tampan-tampan saja yang ada di sana.
Orlando
menutup dan mengunci pintu kosannya.
“Gue
mau mandi dulu, ya.” Ucapnya seraya masuk ke dalam kamar mandi.
Tak
lama kemudian, Orlando sudah keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan
handuk putih saja. Mata Shane terbelalak melihat tubuh indah milik Orlando,
sebelumnya ia belum pernah melihat tubuh orang lain selain Adam. Sesaat kemudian
Orlando membuka handuknya, di lepar handuk itu ke arah Shane tapi Shane
menangkapnya dengan sigap. Ia menatap lekuk demi lekuk tubuh Orlando yang kini
sudah tak ada benangpun yang menempel.
Orlando
mendekati Shane dan duduk di sampingnya, “kok lo gugup gitu, sih?”
“Ah,
nggak, gue biasa aja, kok.”
Orlando
tersenyum. “Belum pernah liat tubuh cowok lain, ya, selain Adam?”
Shane
semakin terlihat salah tingkah.
Orlando
kini mencoba memulai permainan, ia buka satu demi satu baju Shane, “relax
sayang,” ujarnya ditelinga Shane. Dengusan nafas Orlando membuatnya terangsang.
Lando kini mulai menciumi leher Shane dengan lihai, Shane nampak menikmatinya
meski ia masih diam kaku. Selanjutnya Orlando mencium bibir Shane, Shane
menerimanya walau masih ragu, saat ini mereka mulai saling berpagutan dalam
ciuman ganas itu. Direbahkannya tubuh Shane dan Orlando kini berada di atas
tubuh Shane, masih berciuman, tapi tangan Orlando tak diam saja, perlahan tapi
pasti ia sudah berhasil membuka kancing-kancing baju milik Shane dan hingga
kini yang menutupi badan Shane hanya tinggal baju dalam dan celana.
Orlando
meminta Shane membuka baju dan celananya, ia menuruti saja karena sudah terbawa
nafsu. Shane kini hanya mengenakan celana dalam, Orlando menyusuri ke bawah dan
menciumi celana dalam Shane, sesaat kemudian tersiuma aroma serta bekas basah
di celana dalamnya Shane, jelas kini ia sudah sangat terangsang. Orlando merasa
bangga karena kini ia sudah bisa membuat Shane terangsang. Di bukanya perlahan
celana dalam milik Shane dan langsung saja ia lumat habis penis yang setengah
tegang itu.
“Oh,
i like your dick, beib,” ujar Orlando sambil terus menaikturunkan mulutnya.
“ehm...
uh... enak... terus Do, gue suka isepan lo.”
Mendengar
lampu hijau darinya, Orlando semakin semangat melakukan oral, ia asik dengan
lolipop barunya, dihisap dan dikulumnya dengan lihai sehingga kadang-kadang
membuat Shane melonjak keenakan.
Shane
kini mengambil alih, ia tak mau kalau hanya ia yang menikmati permainan ini, ia
menindih tubuh Orlando, pria ini berbeda, lebih ganas, dan sedikit nakal, ia
lumat bibirnya dengan nafsu, mereka saling berperang dalam jilatan lidah yang
beradu. Kemudian Shane menjilati puting Orlando, lihai dan buas, kemudian
menjilati pusar Orlando dan membuatnya nampak bergemetar, Shane semakin bawah
saja dan sekarang hidungnya sudah berada di sekitaran semak yang biasa disebut
dengan jembut. Ia jilati jembut halusnya, semkin kebawah, kebawah, dan, kini
penis tegang itu sudah ada di hadapannya, ia masukan penis itu ke dalam
mulutnya, Orlando mengerang, menahan nikmat, tangannya memegang kepala Shane
yang saat ini sedang asik memaju-mundurkan mulutnya, ia hisap sekuat-kuatnya
dan ketika Orlando akan mencapai klimaks, ia mencabut penis itu dan kembali ke
atas.
Dibalikannya
tubuh Orlando, dijilatnya punggung, pinggang bahkan pantatnya yang gempal dan
berisi, ia pukul pantat itu dengan manja, Orlando mendesah nikmat, kemudian ia
mencari sesuatu, diambilnya oil dan ia lumasi dengan tangannya anus Orlando
yang nampak berkedut-kedut siap menerima tusukan itu.
Setelah
selesai melumuri anus Orlando, kini giliran penisnya yang ia lumuri, dan
setelah sudah rata, ia tak segan-segan memasukan penisnya ke dalam anus
Orlando. Orlando mengerang menahan sakit dan nikmat, ia pompa penisnya
perlahan, maju mundur, maju mundur, maju mundur, terus dan terus, semakin laam
pompaannya semakin cepat dan keras, Orlando sangat menikmati pompaan dari penis
baru yang bersarang di anusnya itu. Dan, Shane memintanya untuk berbalik, ia
angkatkan kaki Orlando di simpan di pundaknya, lalu dimasukannya lagi penis
kerasnya ke anus Lando.
Plok
Plok Plok Plok
Saat
ini keringat mereka sudah menyatu, sia-sialah usaha Shane menahan diri untuk
tidak ML dengan Orlando, ia bahkan merasa lebih enak melakukan ini bersama
Orlando ketimbang Adam, ia pompa terus, terus, cepat, cepat, ketika handak klimaks,
ia hentikan pompaannya dan kembali mencium Orlando.
Mereka
berpagutan cukup lama. Setelah cukup dengan berciuman, Shane meminta Orlando menungging,
di tusuknya penis itu ke dalam anus Orlando yang sedang menungging, dipompanya
dengan cepat, ia tak lagi bermain-main ia ingin menyelesaikan permainan ini.
Orlando
mengocok-ngocok penisnya sendiri sambil pantatnya terus di dorong oleh Shane,
secara bersamaan ketika Shane menyuruhnya untuk terlentang, lahar panas itu
keluar dan berhamburan di tubuh Olrando, begitupun dengan Orlando mereka
klimaks bersama, terengah-engah, dan Shane limbung dan jatuh dipelukan Olrando,
Shane menatap Orlando dengan senyum.
“Thanks,
ini ML paling dahsyat yang pernah gue lakuin selama ini.”
Orlando
tersenyum kemudian mereka kembali berciuman.


0 komentar:
Posting Komentar