“Bro,
si Oki besok ulang tahun, nih, gimana kalau kita bikin acara kejutan buat dia?”
ujar Alatas ketika sedang makan siang dan Oki tak ada ditempatnya.
“Boleh
aja kalau gue, cuman apaan? Gue gak punya ide apa-apa nih,” kata Hurip sambil
asyik makan ayam penyet favorit kami.
“Gue
ada, sih ide, cuman takutnya garing gitu.”
“Apa?”
tanya Rudi ke Alatas.
“Begini,
dia kan penakut bangetkan buat urusan ghaib-ghaib gitu, gimana kalau kita ajak
dia ke gua belanda aja? Kita bikin dia nangis atau ngompol, terus kita rekam,
nah udah deh.”
“Terus
kejutannya dimana? Gak akan ngasih kue ulang tahun gitu?”
“Ya,
ada-lah dodol!” Alatas memukul pelan lengan Rudi. “Abis dia kaya mewek gitu
baru deh kita kasih kejutan, nanti ceweknya yang bawa kue ulang tahunnya.
Gimana, bagus gak?”
“Boleh
juga, tapi apa nggak terlalu keterlaluan gitu?” tanya Tedi.
“Nggak
deh kayaknya, ya ini moment setahun sekali, kan? Gue pengen banget liat dia
nangis, hahaha...”
“Bagus
juga tuh, jadi gimana susunan acaranya?”
Kami
pun semakin sibuk menyusun acara untuk ulang tahun Oki. “Nanti buat yang beli
kuenya lo, Luke, sama Gery aja, ya?”
“Kenapa
gue?” tanyaku dan Lukman serentak.
Semua
teman-teman menatap kami heran.
“Emangnya
kenapa? Lo takut ya Ger bareng sama Luke?” tanya Tedi.
“Iya,
ngeri sama dia gue,” kata gue sambil tersenyum mencoba membuat semuanya
terlihat normal.
“Yaudah
sama gue aja, kebetulan gue mau ketemuan dulu sama temen gue,” kata Tedi lagi.
“Nggak
bisa, kan gue udah kasih lo job Ted, gak bisa, udah biarin si Luke ama si Gery
aja!” ujar Alatas dengan suara yang lebih meninggi.
“U
u, sabar bro, iya deh, lagian gak terlalu penting juga sih, gak usah
marah-marah gitu lah bro.”
Aku
menatap Alatas heran, apa maksud dia melakukan ini semua, membuatku harus
bersama orang yang paling aku benci ini.
&&&
Keesokan
harinya sepulang kerja, teman-teman segera mengajak Oki ke daerah Dago atas, ke
gua belanda, sementara aku dan Luke pergi ke BIP (sebuah mall di kota Bandung)
dan mencari kue ulang tahun menggunakan mobil milik Rudi. Di dalam mall banyak
sekali wanita dan pria yang jadi-jadian seperti Luke yang terus memandangi
kami. Aku hanya diam saja selama pencarian kue ini, begitupun Luke.
“Bagaimana
kalau yang ini?” tanya Luke ketika kita sudah sampai di tempat kue dan sedang
di depan kue yang Luke maksud. Aku hanya diam tak bicara. Ia berjalan lagi ke
kue yang lain. “Kalau ini?”
“Heh!
Udahlah yang mana aja, gak usah nanya-nanya gue!”
Lukman
menatapku sekilas dan berjalan lagi kearah lain. “Heh, gue nunggu di luar, mau
ngerokok!” Tak menunggu persetujuan darinya aku langsung keluar mall dan
mengambil sebungkus rokok.
Selang
beberapa menit, dari belakang ada yang menepuk pundakku. Aku berbalik dan
terkejut ketika melihat Adi ada di sana berdiri tersenyum kepadaku.
“Halo,
Ger, lagi apa di sini?”
“A,
Adi? Kok ada di sini?” tanyaku balik.
Adi
tersenyum, “gue nanya kok malah lo balik nanya sih?”
“Haha,
anu, ya, gue lagi beli kue ulang tahun,” kataku dengan terbata-bata.
“Wah?
Siapa yang ulang tahun? kamu?”
Aku
menggeleng. “Bukan, ada temanku yang sedang ulang tahun, jadi kami berencana
untuk mengadakan kejutan buat dia.”
“Teman
kantor?”
Aku
mengangguk.
“Oy,
Ger, yuk ah, kita pergi?” tanya Lukman yang berjalan kearahku.
Oh,
Luke, tunggu sebentar.”
“Itu
teman lo?” tanya Adi.
“Iya,
ini Lukman, temen kantor gue, Lukman ini Adi temen gue juga,” kataku
memperkenalkan. Mereka berkenalan dan saling melempar senyum, terlihat dari
raut wajah Lukman kalau dia kurang begitu menyukai Adi.
“Cabut
yuk, anak-anak udah nungguin kita loh,” paksa Gery.
“Bentar
sih, orang rencananya nanti jam enam...” aku melirik jam di tanganku.
“Jam
enam, kan?”
“Oh,
yaudah kalau mau pergi, kebetulan gue juga mau balik dulu, kapan-kapan kita ketemu lagi, ya?” Adi pun
tersenyum dan menyalamiku, kemudian pergi meninggalkan kami berdua.
“Lo
apa-apaan sih? Eh, gue gak suka, ya, sama sikap lo yang pecicilan kaya gitu,” bentakku kepada Lukman.
“Pecicilan
apaan sih? Orang emang gue pengen cepetan ke anak-anak aja, kok.”
“Lo
cemburu ama gue ya? Heh homo, dengerin ya, gue itu normal, N.O.R.M.A.L! jadi
jangan pernah berpikir gue bisa suka sama lo, ya!”
Setelah
aku membentaknya di mall tadi, kamipun tak saling bicara, memang dari awalpun
kami kurang dekat, ditambah dengan kejadian tadi. Aku memberhentikan mobil
sebelum sampai di tempat tujuan, Luke menatapku heran.
“Kenapa
berhenti?” tanya Luke kebingungan.
Mataku
kini menatap tajam kepada Luke. “Heh, jawab yang jujur pertanyaan gue, lo
ingetkan kejadian dulu, gue mau tau dimana sekarang orang-orang itu? waktu itu
ada yang merekam kita, kan?”
Lukman
terdiam.
“Heh!
Jawab pertanyaan gue, kalau lo gak jawab gue bunuh lo sekarang juga!”
“Sebenernya
gue juga sama kaya lo, gue ditipu sama mereka, gue dijanjiin buat ngeseks sama
orang asing dan nanti gue bakalan di bayar, lo dijanjiin lima juta sama mereka,
sedangkan gue dijanjiin sepuluh juta sama mereka, awalnya gue gak percaya, tapi
seketika percaya ketika liat duit di dalem tas banyak banget, ya, sebenernya
sih bukan kerena uang juga gue mau ngelakuin hal gila itu, tapi kerena gue juga
pengen ngerasain gituan sama cowo, apalagi cowonya orang yang gue suka,”
ujarnya penjang lebar.
“Jadi
lo suka ama gue?”
“Bukan
gitu maksud gue, ya, ketika pertama kali liat lo, gue langsung suka, gue suka
karena lo tampan, badan lo bagus, ya, itu aja, sensasinya itu loh.”
“Sakit
jiwa lo ya! Terus, awal mula ketemu ama mereka di mana?”
“Di
tempat dugem, gue dikenalin sama ‘genk’ gue, bukan genk kita, tapi geng gay
gitu, dan ya akhirnya obrolan gue nyambung kearah kaya gitu, dia rencananya mau
bikin film porno gitu, tapi dengan format sex in the car gitu, lo pernah nonton
video gay yang dimana ada cowo yang diajak naik ke dalam mobil terus di kasih
duit kalau dia mau ngesek sama orang yang ada di dalam mobil gitu.”
“Ya
mana gue tahu, gue gak pernah nonton video homo kaya gituan!”
“Iya....”
Ketika
Luke hendak melanjutkan ucapannya, dari luar ada beberapa orang pria yang
mengetuk jendela mobil kami. Luke menatapku heran, begitupun denganku. Akhirnya
aku menurunkan jendela mobil dan tersenyum ke arah orang-orang yang ada di luar
sana.
“Ada
apa ya, bang?”
“Turun!”
“Ada
apa bang?”
“Ceuk
aing turun, TURUN!”
Aku
menatap ke arah Luke, ia menggeleng. “Jangan,” bisiknya pelan.
Aku
kembali menatap orang yang meneriakiku sambil tersenyum, aku pegang kunci mobil
dan kembali menghidupkannya, tanpa melihat kearah lain aku langsung
menghidupkan mesin dan kutancap gas. Mobil pun melaju dengan kencang, jantungku
berdegup tak kalah kencangnya, kulihat sekilas Luke nampak pucat pasi, kemudian
aku melihat ke arah spion mobil dan rupanya mereka mengejar kami.
“Ger,
bagaimana ini, gue takut sumpah, kayanya mereka genk motor.”
“Jam
segini? Gila!”
Kamipun
memasuki daerah yang penuh dengan pohon dan semakin menanjak, aku tak begitu
tahu di mana kami berada sekarang, yang terpenting bagiku saat ini bisa menghindar
dari kejaran orang jahat itu. Namun ternyata keberuntunganku sirna seketika,
ketika kita melaju di jalan tikungan, karena kaget ada mobil lain aku
membanting stir dan mobil terperasok ke bawah, untungnya bukan jatuh ke jurang
hanya parit yang cukup besar saja.
“Ayo
turun, Luke,” perintahku.
Kamipun
turun dari mobil, kemudian berlari ke arah semak yang cukup rindang. “Kita
sembunyi di sini, gue takut orang-orang itu masih ngejar kita.”
Rupanya
benar saja, orang-orang itu masih mengejar kami dan ia mencari kami, entah apa
yang mereka incar. “Ayo, kita harus pergi dari sini, Luke,” ujarku mengajaknya
segera pergi dari persembunyian.
Rupanya
ketika kami hendak lari, ada seseorang yang melihat kami berlari dan mengejar.
“Oy, eta si anjing lumpat kaditu, hayu urang udag!” teriak salah seorang dari
mereka.
Kamipun
lari tunggang-langgang menerobos hutan yang gelap, tanpa aku sadar tanganku
memegang tangan Luke agar kami tidak saling berpencar, karena akan lebih bahaya
kalau sampai akhirnya kami berpencar dan perpisah. Kami menerobos beragam
pohon, ranting-ranting dan semua yang menghalangi jalan kami.
Aku
terjatuh karena ada akar pohon yang menghalangi jalanku, karena aku masih
memegang Luke, jadi iapun ikut jatuh menimpa tubuhku.
“Aduh,
maaf Ger, lo, lo gak apa-apa, kan?”
Aku
menggeleng dan mencoba bangkit lagi, tapi ketika aku hendak kembali berlari
rupanya aku terjatuh lagi, kakiku keseleo.
“Aaaaaarrggghh!!!”
jeritku kesakitan.
Luke
mengecek kakiku, “Ger, kaki lo keseleo, berdarah pula, ayo sini gue bantu,”
katanya sambil merangkulku, kamipun melanjutkan lari meski masih
terpincang-pincang. Entah aku masih dikejar atau tidak, tapi kami masih terus
berlari menghindari kejaran mereka.
“Stop,
stop, dulu Luke, gue capek, kaki gue sakit banget sumpah,” kataku mencoba
istirahat sebentar.
“Gue
takut Ger, tadi gue liat mereka ada yang bawa kapak, gue gak mau mati begitu
aja Ger, gak mau!”
“Tenang,
tenang Luke, kita gak akan mati di sini, mereka gak akan mudah nemuin kita, di
sini gelap gak akan semudah itu dilihat sama mereka.”
“Oy,
mereka di sini!”
“Anjrit!”
umpatku terkejut seraya kembali lari terbirit-birit meski kakiku benar-benar
sakit.
Selang
beberapa menit gue baru sadar kalau Luke tidak lagi bersamaku, aku kebingungan
setengah mati mencarinya dan berteriak agak sedikit ditahan.
“Luke,
di mana lo?”
Gue
kembali lagi berlari kearah lain, “Luke, lo di mana?”
Aku
menghentikan langkahku, keringat mengucur deras di seluruhku, bajuku basah dan
kotor, aku takut terjadi apa-apa terhadap Luke.
“Luke,
lo di manaaa....?”
“Ger,
itu lo? Ger, gue di sini,” ujar sebuah suara di sebelah kiriku.
Gue
kembali berlari ke arah suara itu berasal meski kakiku terpincang-pincang,
akhirnya aku menemukan Luke, kamipun berpelukan karena khawatir terjadi
apa-apa.
“Ger,
maafin gue, ya.”
“Maaf
buat apa?”
“Gue
mau minta maaf atas semua kelakuan gue sama lo.”
“Ini
bukan waktu yang tepat buat minta maaf, bego! Pokoknya gue mau ngambil
perhitungan sama lo kalau kita sudah bisa selamat dari ini semua, ok, lo denger
gue kan?”
Luke
mengangguk, kamipun kembali berlari menjauhi sinar-sinar dari senter dari
orang-orang jahat yang mencari kami. Namun, ketika kita semakin kencang
berlari, kami terperosok kesebuah jurang dan jatuh berguling-guling di tanah
curam.
&&&
Matahari
langsung menyorot ke wajahku, ini matahari asli, jadi kejadian semalam bukanlah
mimpi, sesaat kemudian aku merasakan kalau badanku terasa sakit semua, rupanya
kepalaku berdarah dengan darah yang sudah mengering, kulihat sekeliling,
rupanya aku terjatuh sangat jauh semalam, tebing yang sengat curam, untungnya
nyawaku masih bisa selamat. Ah, aku teringat kalau aku tidak sendiri, di mana
Lukman? Kini aku mencoba berdiri, mencari-cari sosok tubuh, semoga saja Lukman
masih hidup, batinku khawatir.
Ternyata
tak jauh dari tempatku, tergeletak sebuah badan, pasti itu Lukman, dan rupanya
benar, Lukman masih pingsan, dengan kaki yang masih sakit aku meloncat-loncat
kecil ke tempatnya, kubaringkan kepalanya di pahaku, aku elus pipinya sambil
terus kupanggil namanya, untuk saat ini orang yang sangat aku benci ini menjadi
orang yang sangat aku harapkan untuk terus bersama.
“Luke,
please bangun Luke, jangan mati di sini, gue masih butuh lo, Luke, bangun...”
ujarku dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Ku pegang leher bagian atasnya,
rupanya masih ada denyut jantung di tubuh Lukman.
“Oh,
thanks god!”
Sekitar
dua jam kemudian, akhirnya Lukman siuman, aku tersenyum senang melihatnya masih
hidup.
“Ger,
di mana kita?”
“Gue
juga gak tahu, oh, ya, HP, HP lo ada gak?”
Lukman
mencari HPnya begitupun denganku. Ah, aku baru ingat kalau HP aku tinggalkan di
mobil.
Lukman
memperlihatkan HPnya padaku, layar di HPnya retak dan mati.
“Bagaimana
cara kita keluar dari sini, gue takut Ger,”
“Gue
juga gak tahu, sebaiknya kita panjat aja tebing ini,” kataku sambil menunjuk ke
atas, “di sanakan kita jatuh semalam?”
“Wah,
wah, gila lo Ger, kaki lo kan bengkak gitu, gini aja, lo sembuhin dulu kaki lo
baru kita cari jalan lain.”
“Gimana
nyembuhinnya dodol, mana ada tukang urut di sini?”
“Sini
biar gue urut, gue bisa kok dikit-dikit.”
“Gak
ah, ini kesempatan lo kan buat grepe-grepe gue?”
Lukman
melempar batu kecil kepadaku, “gila, lo masih aja ya di saat kaya gini mikir
kaya gitu? Ya udah kalau gak mau gue bantu terserah, toh nanti lo sendiri yang
kesusahan.”
“Ya,
gue tau lo itu orang macam apa, homo! Gak usah nyangkal deh, lagian ya, apa
enaknya sih jadi homo? Lo sakit jiwa ya?”
Lukman
nampak bersungut-sungut, tanpa basa basa-basi ia langsung menjatuhkan bogem
mentah ke wajahku, dan tanpa melirik lari kepadaku ia pergi begitu saja.
“Anjing
lo homo!” kutukku.
“Terserah!
Gue gak akan lagi peduli sama lo, makan aja hinaan-hinaan lo itu.”
“Heh,
homo lo mau kemana?” tanyaku bingung ketika sosoknya kian menjauh.
“Luke!”
Sesaat
aku terdiam, apa aku sudah keterlaluan menghinanya? Ah, memang dia pantas untuk
mendapatkan itu kalau mengingat kejadian waktu itu. lagi pula aku tidak
memerlukan dia, aku bisa selamat sendiri di sini, semangatku dalam hati.
Aku
menatap tebing tinggi yang ada di atasku, kutekadkan bulat untuk mencoba naik.
Pelan-pelan meski kakiku terasa sangat sakit dan ngilu aku paksakan, terasa
sudah sangat jauh, namun ketika kulihat ternyata masih sangat dekat.
“Damn!”
teriakku kesal ketika aku tahu rupanya hanya mampu kujangkau sekitar dua meteran,
sedangkan jarak ke atas sana masih sangat jauh. Keringatku mengguyur seluruh
tubuh, napasku tersenggal-senggal, sial, aku tak kuat lagi, keluhku.
Ketika
aku hendak menjangkau ranting pohon yang cukup besar, batu yang menahan kakiku
rupanya merosot dan jatuh, seketika juga aku ikut terjatuh dan kepalaku
terbentur beberapa akar dan mendarat tepat di batus besar tempatku naik tadi,
hilanglah kesadaranku.
&&&
Perlahan
mataku terbuka, hawa dingin menusuk kulit dan menjalar kesetiap denyut nadi dan
tulangku. Sesosok tubuh sedang duduk di sampingku sambil memandangi api unggun
yang sepertinya ia buat sendiri.
“Luke,
itu lo?” tanyaku terbata-bata.
Pria
itu menatapku sekilas dan kembali melihat ke arah api unggun.
Ketika
kesadaranku sudah seratus persen kembali, aku bangkit dan rupanya benar
dugaanku, rupanya Lukman yang sedang duduk di sana. “Luke,” ucapku lirih.
Ia
melirikku lagi, kemudian memberikan buah mangga yang sudah ia kupas. Aku
mengambilnya dan langsung aku makan, memang hari ini aku belum makan apapun.
“Luke,”
ujarku lagi. Ia masih tak bergeming.
“Gue,
gue minta maaf atas apa yang udah gue omongin tadi, lo mau kan maafin gue?”
Ia
tetap diam, yang terdengar hanya suara percikan api dari api unggun yang dia
buat. Gue menglenguh kencang dan kini duduk semakin mendekatinya.
“Lo
gak tau seberapa kesiksanya gue kaya gini, siapa sih orang yang mau jadi maho?
Semua cowo juga maunya bisa normal dan suka sama lawan jenis, kalau boleh milih
gue mendingan jadi cewek sekalian kalau memang ternyata gue sukanya sama cowo,
tapi kan itu gak mungkin, gue sudah ditakdirkan buat jadi cowo, jadi mau gak
mau gue harus nerima kodrat gue sebagai cowo meski sebenarnya hal ini juga
merupakan dosa buat gue, mau jadi trangender? Amit-amit! Sudah gue dilaknat
sama Tuhan, ditambah gue rubah jenis kelamin gue, ah, kayaknya surgapun gak
akan mau melihat muka gue.”
Aku
terpaku mendenger penjelasannya rupanya perkiraanku salah, aku pikir selama ini
dia sangat menikmati menjadi seperti ini, jadi selama ini perkiraanku salah.
“Luke,
gue minta maaf, gue gak tahu kalau ternyata lo kaya gini juga tersiksa, gue
kira lo menikmati apa yang menjadi pilihan lo itu. maafin gue karena udah
ngehina lo,” pintaku sesal.
Lukman
menatapku kemudian tersenyum. “Gak apa-apa Ger, gue udah biasa di giniin.”
Jleb!
Perkataannya membuatku semakin bersalah.
“Dari
tadi sebenernya gue gak kemana-mana, gue merhatiin lo terus, gue salut lo bisa
mendaki sejauh itu. Dan, gue kaget pas lo jatuh, buru-buru gue langsung lari
kearah lo.”
“Terima
kasih banyak Luke, lo udah jadi penyelamat gue.”
Luke
hanya tersenyum kecil kepadaku dan bersandar ke batu yang ada di belakangnya.
“Pokoknya
besok kita harus sudah bisa pulang, gue bingung kenapa gak ada yang cari kita,
ya? Kan, harusnya si Rudi bingung karena mobilnya ilang.”
“Kayanya
mereka udah nyoba nyari kita deh, tapi gak tahu nyari kemana,” pikirku.
“Gue
tidur duluan, ya?” katanya seraya berdiri dan berbaring di dekat api unggun.
Aku
masih menatap api unggun dan sekilas melirik kearahnya. Pikiranku masih
berpikir tentangnya, kini aku benar-benar sadar, tak selayknya aku
memperlakukan Luke seperti itu. Kemudian aku mendekati dan tidur di sampingnya.
Udara
semakin lama semakin dingin, meski api unggun masih menyala tapi udara disini
benar-benar ekstrim, dinginnya benar-benar tak tertahankan aku terbangun dan
menggigil. Kulihat badannya menggigil pula, entah mengapa badanku semakin
mendekat ke arah tubuh Luke, aku mencari kehangatan, mungkin sedikit menempel
ke tubuhnya bisa menghangatkan tubuhku.
“Luke,”
kataku.
Ia
berbalik arah dan menatapku.
“Dingin
sekali di sini, bisa lo peluk gue?” pintaku dengan gigi bergetar dan
menimbulkan suara dari aduan gigi-gigiku. “Please, gue gak kuat.”
Akhirnya
dengan ragu ia memelukku, aku tanpa basa-basi langsung memeluknya dengan erat,
nafas kami seirama menahan dingin, kugosokan tanganku kepunggungnya agar bisa
menjadi hangat, begitu pula dia. Rupanya berpelukan hanya bisa membuat kami
sedikit hangat, dingin masih merasuki kami. Kemudian tanpa persetujuanku ia
mencium bibirku, awalnya aku menolak, namun entah setan dari mana, aku menerima
ciuman itu, kulumati habis mulutnya dengan lahap, begitupun dengan dia, nafsuku
bertambah seirama dengan memanasnya tubuhku. Kini aku menindihnya dan terus
menciumnya, jantungku berdegup kencang, aliran darahku mengalir deras, perlahan
tapi pasti rasa dingin tak kami hiraukan lagi, kubuka sedikit baju atasnya,
kuciumi puting susunya seperti yang biasa aku lakukan kepada Anna, pacarku
dulu, ia mengerang kegelian sekaligus enak, sekitar lima menit permainanku kepada
putingnya dihentikan kini aku kembali kemulutnya dan dengan buas melumat
bibirnya. Nafasnya kami semakin memburu kencang, ini permainanku yang pertama
dengan pria tanpa rasa sesal dan menjadi pertama kali juga bagiku melakukan hal
ini di luar ruangan. Ekstrim.
Kemudian,
ia mengambil alih permainan, setelah puas berciuman, ia kini yang membuka
bagian atas bajuku, melumati putingku, memberikan sensasi yang sangat gila, ini
pula yang bisa membuat aku bisa terangsang. Ia dengan terampil melumat puting
kananku dan beralih ke putingku yang lainnya, tak lama setelah itu ia
bergerilya kebagian bawah, ia membuka seleting celanaku yang masih berblut
celana, kemudian dengan sedikit kesulitan akibat mengerasnya batang yang ada di
dalamnya, akhirnya keluar juga senjata pamungkasku dengan tegap siap dilumat
oleh mulutnya yang kecil. Tanpa basa-basi langsung saja ia melahap penisku
masuk ke dalam mulutnya, menaik-turunkan mulutnya, menyedotnya dengan kencang,
aku mengerang keenakan diperlakukan seperti itu. aku menatapnya dengan senyum,
begitupun dia.
“Mau
dimasukan?” katanya dengan ragu.
Aku
langsung mengangguk, kemudian ia membuka celananya sampai ke paha, dan meludahi
tangannya dan dikocokannya bekas air liur itu ke penisku, perlahan tapi pasti
batang penisku sudah masuk, ia sedikit mengerang kesakitan, berhenti sesaat
untuk menyesuaikan anusnya karena sudah dimasuki benda tumpul yang keras.
Kemudian setelah dirasa sudah mulai terbiasa, ia menaikturunkan pantatnya,
perlan, pelan, sedikit kencang dan mulai kencang. Nafasnya dan nafasku kini
seirama sesuai irama goyangan kami yang mulai memanas.
“Ah...
Ah... Ger... Ah...” desahnya keenakan.
Aku
pompa terus penisku yang cukup besar itu ke dalam lubang kenikmatan Lukman.
Kini aku mulai mengambil alih, aku tidurkan dia dan aku menindihnya, kupompa
terus penisku hingga timbul suara khas orang yang sedang bersenggama.
Plok
Plok Plok Plok Plok
Ah,
setelah beberapa menit, rupanya aku sudah tak tahan lagi, kuciumi leher dan
mulutnya, “Luke gue mau keluar, keluarin di dalam aja, ya?” pintaku, ia
menganguk sambil kembali menciumku. Dengan hitungan detik air maniku tumpah di
dalam anus Lukman, ia merinding keenakan. Aku mulai ambruk, tapi aku tidak
ingin mengecewakannya, walaupun sedikit jijik tapi aku coba untuk mengocok
penisnya, hingga tumpah, sebagian penisnya tumpah ke tanganku. Ia
tersenggal-senggal sambil tersenyum.
“Thanks,
gue harap ini bukan yang terakhir kalinya,” katanya sambil mengelus wajahku
lembut.
Gue
tersenyum ragu, kemudian mencium bibirnya kembali dan aku tidur di dadanya.

0 komentar:
Posting Komentar