Love of Enemy 5



“Bro, si Oki besok ulang tahun, nih, gimana kalau kita bikin acara kejutan buat dia?” ujar Alatas ketika sedang makan siang dan Oki tak ada ditempatnya.
“Boleh aja kalau gue, cuman apaan? Gue gak punya ide apa-apa nih,” kata Hurip sambil asyik makan ayam penyet favorit kami.

“Gue ada, sih ide, cuman takutnya garing gitu.”
“Apa?” tanya Rudi ke Alatas.
“Begini, dia kan penakut bangetkan buat urusan ghaib-ghaib gitu, gimana kalau kita ajak dia ke gua belanda aja? Kita bikin dia nangis atau ngompol, terus kita rekam, nah udah deh.”
“Terus kejutannya dimana? Gak akan ngasih kue ulang tahun gitu?”
“Ya, ada-lah dodol!” Alatas memukul pelan lengan Rudi. “Abis dia kaya mewek gitu baru deh kita kasih kejutan, nanti ceweknya yang bawa kue ulang tahunnya. Gimana, bagus gak?”
“Boleh juga, tapi apa nggak terlalu keterlaluan gitu?” tanya Tedi.
“Nggak deh kayaknya, ya ini moment setahun sekali, kan? Gue pengen banget liat dia nangis, hahaha...”
“Bagus juga tuh, jadi gimana susunan acaranya?”
Kami pun semakin sibuk menyusun acara untuk ulang tahun Oki. “Nanti buat yang beli kuenya lo, Luke, sama Gery aja, ya?”
“Kenapa gue?” tanyaku dan Lukman serentak.
Semua teman-teman menatap kami heran.
“Emangnya kenapa? Lo takut ya Ger bareng sama Luke?” tanya Tedi.
“Iya, ngeri sama dia gue,” kata gue sambil tersenyum mencoba membuat semuanya terlihat normal.
“Yaudah sama gue aja, kebetulan gue mau ketemuan dulu sama temen gue,” kata Tedi lagi.
“Nggak bisa, kan gue udah kasih lo job Ted, gak bisa, udah biarin si Luke ama si Gery aja!” ujar Alatas dengan suara yang lebih meninggi.
“U u, sabar bro, iya deh, lagian gak terlalu penting juga sih, gak usah marah-marah gitu lah bro.”
Aku menatap Alatas heran, apa maksud dia melakukan ini semua, membuatku harus bersama orang yang paling aku benci ini.
&&&
Keesokan harinya sepulang kerja, teman-teman segera mengajak Oki ke daerah Dago atas, ke gua belanda, sementara aku dan Luke pergi ke BIP (sebuah mall di kota Bandung) dan mencari kue ulang tahun menggunakan mobil milik Rudi. Di dalam mall banyak sekali wanita dan pria yang jadi-jadian seperti Luke yang terus memandangi kami. Aku hanya diam saja selama pencarian kue ini, begitupun Luke.
“Bagaimana kalau yang ini?” tanya Luke ketika kita sudah sampai di tempat kue dan sedang di depan kue yang Luke maksud. Aku hanya diam tak bicara. Ia berjalan lagi ke kue yang lain. “Kalau ini?”
“Heh! Udahlah yang mana aja, gak usah nanya-nanya gue!”
Lukman menatapku sekilas dan berjalan lagi kearah lain. “Heh, gue nunggu di luar, mau ngerokok!” Tak menunggu persetujuan darinya aku langsung keluar mall dan mengambil sebungkus rokok.
Selang beberapa menit, dari belakang ada yang menepuk pundakku. Aku berbalik dan terkejut ketika melihat Adi ada di sana berdiri tersenyum kepadaku.
“Halo, Ger, lagi apa di sini?”
“A, Adi? Kok ada di sini?” tanyaku balik.
Adi tersenyum, “gue nanya kok malah lo balik nanya sih?”
“Haha, anu, ya, gue lagi beli kue ulang tahun,” kataku dengan terbata-bata.
“Wah? Siapa yang ulang tahun? kamu?”
Aku menggeleng. “Bukan, ada temanku yang sedang ulang tahun, jadi kami berencana untuk mengadakan kejutan buat dia.”
“Teman kantor?”
Aku mengangguk.
“Oy, Ger, yuk ah, kita pergi?” tanya Lukman yang berjalan kearahku.
Oh, Luke, tunggu sebentar.”
“Itu teman lo?” tanya Adi.
“Iya, ini Lukman, temen kantor gue, Lukman ini Adi temen gue juga,” kataku memperkenalkan. Mereka berkenalan dan saling melempar senyum, terlihat dari raut wajah Lukman kalau dia kurang begitu menyukai Adi.
“Cabut yuk, anak-anak udah nungguin kita loh,” paksa Gery.
“Bentar sih, orang rencananya nanti jam enam...” aku melirik jam di tanganku.
“Jam enam, kan?”
“Oh, yaudah kalau mau pergi, kebetulan gue juga mau balik dulu,  kapan-kapan kita ketemu lagi, ya?” Adi pun tersenyum dan menyalamiku, kemudian pergi meninggalkan kami berdua.
“Lo apa-apaan sih? Eh, gue gak suka, ya, sama sikap lo yang pecicilan kaya  gitu,” bentakku kepada Lukman.
“Pecicilan apaan sih? Orang emang gue pengen cepetan ke anak-anak aja, kok.”
“Lo cemburu ama gue ya? Heh homo, dengerin ya, gue itu normal, N.O.R.M.A.L! jadi jangan pernah berpikir gue bisa suka sama lo, ya!”
Setelah aku membentaknya di mall tadi, kamipun tak saling bicara, memang dari awalpun kami kurang dekat, ditambah dengan kejadian tadi. Aku memberhentikan mobil sebelum sampai di tempat tujuan, Luke menatapku heran.
“Kenapa berhenti?” tanya Luke kebingungan.
Mataku kini menatap tajam kepada Luke. “Heh, jawab yang jujur pertanyaan gue, lo ingetkan kejadian dulu, gue mau tau dimana sekarang orang-orang itu? waktu itu ada yang merekam kita, kan?”
Lukman terdiam.
“Heh! Jawab pertanyaan gue, kalau lo gak jawab gue bunuh lo sekarang juga!”
“Sebenernya gue juga sama kaya lo, gue ditipu sama mereka, gue dijanjiin buat ngeseks sama orang asing dan nanti gue bakalan di bayar, lo dijanjiin lima juta sama mereka, sedangkan gue dijanjiin sepuluh juta sama mereka, awalnya gue gak percaya, tapi seketika percaya ketika liat duit di dalem tas banyak banget, ya, sebenernya sih bukan kerena uang juga gue mau ngelakuin hal gila itu, tapi kerena gue juga pengen ngerasain gituan sama cowo, apalagi cowonya orang yang gue suka,” ujarnya penjang lebar.
“Jadi lo suka ama gue?”
“Bukan gitu maksud gue, ya, ketika pertama kali liat lo, gue langsung suka, gue suka karena lo tampan, badan lo bagus, ya, itu aja, sensasinya itu loh.”
“Sakit jiwa lo ya! Terus, awal mula ketemu ama mereka di mana?”
“Di tempat dugem, gue dikenalin sama ‘genk’ gue, bukan genk kita, tapi geng gay gitu, dan ya akhirnya obrolan gue nyambung kearah kaya gitu, dia rencananya mau bikin film porno gitu, tapi dengan format sex in the car gitu, lo pernah nonton video gay yang dimana ada cowo yang diajak naik ke dalam mobil terus di kasih duit kalau dia mau ngesek sama orang yang ada di dalam mobil gitu.”
“Ya mana gue tahu, gue gak pernah nonton video homo kaya gituan!”
“Iya....”
Ketika Luke hendak melanjutkan ucapannya, dari luar ada beberapa orang pria yang mengetuk jendela mobil kami. Luke menatapku heran, begitupun denganku. Akhirnya aku menurunkan jendela mobil dan tersenyum ke arah orang-orang yang ada di luar sana.
“Ada apa ya, bang?”
“Turun!”
“Ada apa bang?”
“Ceuk aing turun, TURUN!”
Aku menatap ke arah Luke, ia menggeleng. “Jangan,” bisiknya pelan.
Aku kembali menatap orang yang meneriakiku sambil tersenyum, aku pegang kunci mobil dan kembali menghidupkannya, tanpa melihat kearah lain aku langsung menghidupkan mesin dan kutancap gas. Mobil pun melaju dengan kencang, jantungku berdegup tak kalah kencangnya, kulihat sekilas Luke nampak pucat pasi, kemudian aku melihat ke arah spion mobil dan rupanya mereka mengejar kami.
“Ger, bagaimana ini, gue takut sumpah, kayanya mereka genk motor.”
“Jam segini? Gila!”
Kamipun memasuki daerah yang penuh dengan pohon dan semakin menanjak, aku tak begitu tahu di mana kami berada sekarang, yang terpenting bagiku saat ini bisa menghindar dari kejaran orang jahat itu. Namun ternyata keberuntunganku sirna seketika, ketika kita melaju di jalan tikungan, karena kaget ada mobil lain aku membanting stir dan mobil terperasok ke bawah, untungnya bukan jatuh ke jurang hanya parit yang cukup besar saja.
“Ayo turun, Luke,” perintahku.
Kamipun turun dari mobil, kemudian berlari ke arah semak yang cukup rindang. “Kita sembunyi di sini, gue takut orang-orang itu masih ngejar kita.”
Rupanya benar saja, orang-orang itu masih mengejar kami dan ia mencari kami, entah apa yang mereka incar. “Ayo, kita harus pergi dari sini, Luke,” ujarku mengajaknya segera pergi dari persembunyian.
Rupanya ketika kami hendak lari, ada seseorang yang melihat kami berlari dan mengejar. “Oy, eta si anjing lumpat kaditu, hayu urang udag!” teriak salah seorang dari mereka.
Kamipun lari tunggang-langgang menerobos hutan yang gelap, tanpa aku sadar tanganku memegang tangan Luke agar kami tidak saling berpencar, karena akan lebih bahaya kalau sampai akhirnya kami berpencar dan perpisah. Kami menerobos beragam pohon, ranting-ranting dan semua yang menghalangi jalan kami.
Aku terjatuh karena ada akar pohon yang menghalangi jalanku, karena aku masih memegang Luke, jadi iapun ikut jatuh menimpa tubuhku.
“Aduh, maaf Ger, lo, lo gak apa-apa, kan?”
Aku menggeleng dan mencoba bangkit lagi, tapi ketika aku hendak kembali berlari rupanya aku terjatuh lagi, kakiku keseleo.
“Aaaaaarrggghh!!!” jeritku kesakitan.
Luke mengecek kakiku, “Ger, kaki lo keseleo, berdarah pula, ayo sini gue bantu,” katanya sambil merangkulku, kamipun melanjutkan lari meski masih terpincang-pincang. Entah aku masih dikejar atau tidak, tapi kami masih terus berlari menghindari kejaran mereka.
“Stop, stop, dulu Luke, gue capek, kaki gue sakit banget sumpah,” kataku mencoba istirahat sebentar.
“Gue takut Ger, tadi gue liat mereka ada yang bawa kapak, gue gak mau mati begitu aja Ger, gak mau!”
“Tenang, tenang Luke, kita gak akan mati di sini, mereka gak akan mudah nemuin kita, di sini gelap gak akan semudah itu dilihat sama mereka.”
“Oy, mereka di sini!”
“Anjrit!” umpatku terkejut seraya kembali lari terbirit-birit meski kakiku benar-benar sakit.
Selang beberapa menit gue baru sadar kalau Luke tidak lagi bersamaku, aku kebingungan setengah mati mencarinya dan berteriak agak sedikit ditahan.
“Luke, di mana lo?”
Gue kembali lagi berlari kearah lain, “Luke, lo di mana?”
Aku menghentikan langkahku, keringat mengucur deras di seluruhku, bajuku basah dan kotor, aku takut terjadi apa-apa terhadap Luke.
“Luke, lo di manaaa....?”
“Ger, itu lo? Ger, gue di sini,” ujar sebuah suara di sebelah kiriku.
Gue kembali berlari ke arah suara itu berasal meski kakiku terpincang-pincang, akhirnya aku menemukan Luke, kamipun berpelukan karena khawatir terjadi apa-apa.
“Ger, maafin gue, ya.”
“Maaf buat apa?”
“Gue mau minta maaf atas semua kelakuan gue sama lo.”
“Ini bukan waktu yang tepat buat minta maaf, bego! Pokoknya gue mau ngambil perhitungan sama lo kalau kita sudah bisa selamat dari ini semua, ok, lo denger gue kan?”
Luke mengangguk, kamipun kembali berlari menjauhi sinar-sinar dari senter dari orang-orang jahat yang mencari kami. Namun, ketika kita semakin kencang berlari, kami terperosok kesebuah jurang dan jatuh berguling-guling di tanah curam.
&&&
Matahari langsung menyorot ke wajahku, ini matahari asli, jadi kejadian semalam bukanlah mimpi, sesaat kemudian aku merasakan kalau badanku terasa sakit semua, rupanya kepalaku berdarah dengan darah yang sudah mengering, kulihat sekeliling, rupanya aku terjatuh sangat jauh semalam, tebing yang sengat curam, untungnya nyawaku masih bisa selamat. Ah, aku teringat kalau aku tidak sendiri, di mana Lukman? Kini aku mencoba berdiri, mencari-cari sosok tubuh, semoga saja Lukman masih hidup, batinku khawatir.
Ternyata tak jauh dari tempatku, tergeletak sebuah badan, pasti itu Lukman, dan rupanya benar, Lukman masih pingsan, dengan kaki yang masih sakit aku meloncat-loncat kecil ke tempatnya, kubaringkan kepalanya di pahaku, aku elus pipinya sambil terus kupanggil namanya, untuk saat ini orang yang sangat aku benci ini menjadi orang yang sangat aku harapkan untuk terus bersama.
“Luke, please bangun Luke, jangan mati di sini, gue masih butuh lo, Luke, bangun...” ujarku dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Ku pegang leher bagian atasnya, rupanya masih ada denyut jantung di tubuh Lukman.
“Oh, thanks god!”
Sekitar dua jam kemudian, akhirnya Lukman siuman, aku tersenyum senang melihatnya masih hidup.
“Ger, di mana kita?”
“Gue juga gak tahu, oh, ya, HP, HP lo ada gak?”
Lukman mencari HPnya begitupun denganku. Ah, aku baru ingat kalau HP aku tinggalkan di mobil.
Lukman memperlihatkan HPnya padaku, layar di HPnya retak dan mati.
“Bagaimana cara kita keluar dari sini, gue takut Ger,”
“Gue juga gak tahu, sebaiknya kita panjat aja tebing ini,” kataku sambil menunjuk ke atas, “di sanakan kita jatuh semalam?”
“Wah, wah, gila lo Ger, kaki lo kan bengkak gitu, gini aja, lo sembuhin dulu kaki lo baru kita cari jalan lain.”
“Gimana nyembuhinnya dodol, mana ada tukang urut di sini?”
“Sini biar gue urut, gue bisa kok dikit-dikit.”
“Gak ah, ini kesempatan lo kan buat grepe-grepe gue?”
Lukman melempar batu kecil kepadaku, “gila, lo masih aja ya di saat kaya gini mikir kaya gitu? Ya udah kalau gak mau gue bantu terserah, toh nanti lo sendiri yang kesusahan.”
“Ya, gue tau lo itu orang macam apa, homo! Gak usah nyangkal deh, lagian ya, apa enaknya sih jadi homo? Lo sakit jiwa ya?”
Lukman nampak bersungut-sungut, tanpa basa basa-basi ia langsung menjatuhkan bogem mentah ke wajahku, dan tanpa melirik lari kepadaku ia pergi begitu saja.
“Anjing lo homo!” kutukku.
“Terserah! Gue gak akan lagi peduli sama lo, makan aja hinaan-hinaan lo itu.”
“Heh, homo lo mau kemana?” tanyaku bingung ketika sosoknya kian menjauh.
“Luke!”
Sesaat aku terdiam, apa aku sudah keterlaluan menghinanya? Ah, memang dia pantas untuk mendapatkan itu kalau mengingat kejadian waktu itu. lagi pula aku tidak memerlukan dia, aku bisa selamat sendiri di sini, semangatku dalam hati.
Aku menatap tebing tinggi yang ada di atasku, kutekadkan bulat untuk mencoba naik. Pelan-pelan meski kakiku terasa sangat sakit dan ngilu aku paksakan, terasa sudah sangat jauh, namun ketika kulihat ternyata masih sangat dekat.
“Damn!” teriakku kesal ketika aku tahu rupanya hanya mampu kujangkau sekitar dua meteran, sedangkan jarak ke atas sana masih sangat jauh. Keringatku mengguyur seluruh tubuh, napasku tersenggal-senggal, sial, aku tak kuat lagi, keluhku.
Ketika aku hendak menjangkau ranting pohon yang cukup besar, batu yang menahan kakiku rupanya merosot dan jatuh, seketika juga aku ikut terjatuh dan kepalaku terbentur beberapa akar dan mendarat tepat di batus besar tempatku naik tadi, hilanglah kesadaranku.
&&&
Perlahan mataku terbuka, hawa dingin menusuk kulit dan menjalar kesetiap denyut nadi dan tulangku. Sesosok tubuh sedang duduk di sampingku sambil memandangi api unggun yang sepertinya ia buat sendiri.
“Luke, itu lo?” tanyaku terbata-bata.
Pria itu menatapku sekilas dan kembali melihat ke arah api unggun.
Ketika kesadaranku sudah seratus persen kembali, aku bangkit dan rupanya benar dugaanku, rupanya Lukman yang sedang duduk di sana. “Luke,” ucapku lirih.
Ia melirikku lagi, kemudian memberikan buah mangga yang sudah ia kupas. Aku mengambilnya dan langsung aku makan, memang hari ini aku belum makan apapun.
“Luke,” ujarku lagi. Ia masih tak bergeming.
“Gue, gue minta maaf atas apa yang udah gue omongin tadi, lo mau kan maafin gue?”
Ia tetap diam, yang terdengar hanya suara percikan api dari api unggun yang dia buat. Gue menglenguh kencang dan kini duduk semakin mendekatinya.
“Lo gak tau seberapa kesiksanya gue kaya gini, siapa sih orang yang mau jadi maho? Semua cowo juga maunya bisa normal dan suka sama lawan jenis, kalau boleh milih gue mendingan jadi cewek sekalian kalau memang ternyata gue sukanya sama cowo, tapi kan itu gak mungkin, gue sudah ditakdirkan buat jadi cowo, jadi mau gak mau gue harus nerima kodrat gue sebagai cowo meski sebenarnya hal ini juga merupakan dosa buat gue, mau jadi trangender? Amit-amit! Sudah gue dilaknat sama Tuhan, ditambah gue rubah jenis kelamin gue, ah, kayaknya surgapun gak akan mau melihat muka gue.”
Aku terpaku mendenger penjelasannya rupanya perkiraanku salah, aku pikir selama ini dia sangat menikmati menjadi seperti ini, jadi selama ini perkiraanku salah.
“Luke, gue minta maaf, gue gak tahu kalau ternyata lo kaya gini juga tersiksa, gue kira lo menikmati apa yang menjadi pilihan lo itu. maafin gue karena udah ngehina lo,” pintaku sesal.
Lukman menatapku kemudian tersenyum. “Gak apa-apa Ger, gue udah biasa di giniin.”
Jleb! Perkataannya membuatku semakin bersalah.
“Dari tadi sebenernya gue gak kemana-mana, gue merhatiin lo terus, gue salut lo bisa mendaki sejauh itu. Dan, gue kaget pas lo jatuh, buru-buru gue langsung lari kearah lo.”
“Terima kasih banyak Luke, lo udah jadi penyelamat gue.”
Luke hanya tersenyum kecil kepadaku dan bersandar ke batu yang ada di belakangnya.
“Pokoknya besok kita harus sudah bisa pulang, gue bingung kenapa gak ada yang cari kita, ya? Kan, harusnya si Rudi bingung karena mobilnya ilang.”
“Kayanya mereka udah nyoba nyari kita deh, tapi gak tahu nyari kemana,” pikirku.
“Gue tidur duluan, ya?” katanya seraya berdiri dan berbaring di dekat api unggun.
Aku masih menatap api unggun dan sekilas melirik kearahnya. Pikiranku masih berpikir tentangnya, kini aku benar-benar sadar, tak selayknya aku memperlakukan Luke seperti itu. Kemudian aku mendekati dan tidur di sampingnya.
Udara semakin lama semakin dingin, meski api unggun masih menyala tapi udara disini benar-benar ekstrim, dinginnya benar-benar tak tertahankan aku terbangun dan menggigil. Kulihat badannya menggigil pula, entah mengapa badanku semakin mendekat ke arah tubuh Luke, aku mencari kehangatan, mungkin sedikit menempel ke tubuhnya bisa menghangatkan tubuhku.
“Luke,” kataku.
Ia berbalik arah dan menatapku.
“Dingin sekali di sini, bisa lo peluk gue?” pintaku dengan gigi bergetar dan menimbulkan suara dari aduan gigi-gigiku. “Please, gue gak kuat.”
Akhirnya dengan ragu ia memelukku, aku tanpa basa-basi langsung memeluknya dengan erat, nafas kami seirama menahan dingin, kugosokan tanganku kepunggungnya agar bisa menjadi hangat, begitu pula dia. Rupanya berpelukan hanya bisa membuat kami sedikit hangat, dingin masih merasuki kami. Kemudian tanpa persetujuanku ia mencium bibirku, awalnya aku menolak, namun entah setan dari mana, aku menerima ciuman itu, kulumati habis mulutnya dengan lahap, begitupun dengan dia, nafsuku bertambah seirama dengan memanasnya tubuhku. Kini aku menindihnya dan terus menciumnya, jantungku berdegup kencang, aliran darahku mengalir deras, perlahan tapi pasti rasa dingin tak kami hiraukan lagi, kubuka sedikit baju atasnya, kuciumi puting susunya seperti yang biasa aku lakukan kepada Anna, pacarku dulu, ia mengerang kegelian sekaligus enak, sekitar lima menit permainanku kepada putingnya dihentikan kini aku kembali kemulutnya dan dengan buas melumat bibirnya. Nafasnya kami semakin memburu kencang, ini permainanku yang pertama dengan pria tanpa rasa sesal dan menjadi pertama kali juga bagiku melakukan hal ini di luar ruangan. Ekstrim.
Kemudian, ia mengambil alih permainan, setelah puas berciuman, ia kini yang membuka bagian atas bajuku, melumati putingku, memberikan sensasi yang sangat gila, ini pula yang bisa membuat aku bisa terangsang. Ia dengan terampil melumat puting kananku dan beralih ke putingku yang lainnya, tak lama setelah itu ia bergerilya kebagian bawah, ia membuka seleting celanaku yang masih berblut celana, kemudian dengan sedikit kesulitan akibat mengerasnya batang yang ada di dalamnya, akhirnya keluar juga senjata pamungkasku dengan tegap siap dilumat oleh mulutnya yang kecil. Tanpa basa-basi langsung saja ia melahap penisku masuk ke dalam mulutnya, menaik-turunkan mulutnya, menyedotnya dengan kencang, aku mengerang keenakan diperlakukan seperti itu. aku menatapnya dengan senyum, begitupun dia.
“Mau dimasukan?” katanya dengan ragu.
Aku langsung mengangguk, kemudian ia membuka celananya sampai ke paha, dan meludahi tangannya dan dikocokannya bekas air liur itu ke penisku, perlahan tapi pasti batang penisku sudah masuk, ia sedikit mengerang kesakitan, berhenti sesaat untuk menyesuaikan anusnya karena sudah dimasuki benda tumpul yang keras. Kemudian setelah dirasa sudah mulai terbiasa, ia menaikturunkan pantatnya, perlan, pelan, sedikit kencang dan mulai kencang. Nafasnya dan nafasku kini seirama sesuai irama goyangan kami yang mulai memanas.
“Ah... Ah... Ger... Ah...” desahnya keenakan.
Aku pompa terus penisku yang cukup besar itu ke dalam lubang kenikmatan Lukman. Kini aku mulai mengambil alih, aku tidurkan dia dan aku menindihnya, kupompa terus penisku hingga timbul suara khas orang yang sedang bersenggama.
Plok Plok Plok Plok Plok
Ah, setelah beberapa menit, rupanya aku sudah tak tahan lagi, kuciumi leher dan mulutnya, “Luke gue mau keluar, keluarin di dalam aja, ya?” pintaku, ia menganguk sambil kembali menciumku. Dengan hitungan detik air maniku tumpah di dalam anus Lukman, ia merinding keenakan. Aku mulai ambruk, tapi aku tidak ingin mengecewakannya, walaupun sedikit jijik tapi aku coba untuk mengocok penisnya, hingga tumpah, sebagian penisnya tumpah ke tanganku. Ia tersenggal-senggal sambil tersenyum.
“Thanks, gue harap ini bukan yang terakhir kalinya,” katanya sambil mengelus wajahku lembut.
Gue tersenyum ragu, kemudian mencium bibirnya kembali dan aku tidur di dadanya.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Love of Enemy 5 ini dipublish oleh Unknown pada hari 23 Desember 2014. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Love of Enemy 5
 

0 komentar:

Posting Komentar