Love of Enemy 6



Hari sudah mulai pagi, rupanya Lukman sudah terbangun, ia duduk di sampingku sambil tersenyum. “Gue bawain mangga, ni, buat sarapan lo, abis sarapan kita harus langsung bergegas, ya? Gue udah gak betah lama-lama di sini.”
“Thanks, hm, siapa juga yang betah lama-lama di sini,” ujarku sambil membuka buah yang diberikan Luke.

“Menurut gue, kita harus memutar jalan biar bisa sampe ke jalan utama deh, ya, walaupun belum pasti, tapi dibandingkan kita harus memanjat tebing ini, resiko gagal dan cederanya pasti lebih besar.”
“Gue pikir juga gitu, sudah kebukti kan dengan jatuhnya gue dari tebing ini?”
Lukman tersenyum sambil mengacak-acak rambutku, “Ya, sudah, ayo kita siap-siap. Coba deh, gerakin kaki lo, semalam pas lo udah tidur gue urut kaki lo, semoga aja sih lebih baik.”
Aku mengerutkan alis, “kok gue gak ngerasa sakit, ya, semalam?” kemudian aku mencoba berdiri, meski masih sakit sedikit tapi setidaknya lebih baik daripada kemarin. “Wah, hebat banget lo, ini beneran, kaki gue gak terlalu sakit sekarang, thanks ya Luke?”
Ia tersenyum sambil mengangguk. “Yuk, ah, cabut!”
Aku mengangguk. Kami pun meninggalkan tempat itu dan berharap bisa pulang kembali ke tempatku tercinta.
&&&
Hampir tiga jam kami berjalan, tapi kurasa kita tidak menemukan jalan yang tepat, dari tadi hanya memutar-mutar tempat yang sama saja, kakiku sudah tak mampu lagi berjalan, kemudian kami beristirahat di bawah pohon yang cukup rindang.
“Mengapa dari tadi kita cuma puter-puter tempat ini aja, ya? Perasaan kita udah jalan jauh, deh? What wrong with this place?”
“Gak tahu, gue juga ngerasa kaya gitu, duh, mana gue haus banget lagi.”
“Sama, haus bercampur lapar. Kalau aja ini gak terjadi sama kita...”
“Tapi, menurut gue semua ini ada hikmahnya,” katanya dengan tatapan sendu.
“Apa?”
“Gue bisa kenal lo lebih deket dan lo udah gak benci lagi sama gue, sejujurnya gue mulai tumbuh perasaan sayang ke lo, Ger,” ujarnya seraya memegang tanganku erat.
Sesaat terdiam dan langsung kutepis pegangan tangannya. “Luke, lo jangan salah mengartikan kejadian semalem, ya? Kejadian semalam itu hanya karena keadaan kita yang kedinginan, kita butuh kehangatan, bukan didasari atas suka sama suka, gue masih suka cewek Luke, sorry kalau lo kecewa, tapi gue gak mau lo berharap lebih sama gue, ngerti, kan?” Luke terdiam, menunduk. “Tapi, gue masih mau jadi temen lo, kok, mau banget malah jadi temen lo, gue sayang sama lo tapi sayang gue hanya sebatas teman, gak apa-apa, kan?”
Lukman masih tertunduk, kemudian ia menatapku dan tersenyum, “tentu, gue mau banget jadi temen lo, thanks udah mau nerima gue apa adanya, Ger,” Lukman bangkit, kemudian ia menatap sekeliling. “Kita cabut lagi, yuk, gue gak mau malam ini dilalui di sini lagi.”
Aku tersenyum, kemudian berdiri. “Ayo!”
&&&
Matahari sudah menunjukan kegagahannya di atas kami, bunyi kumbang dan beraneka satwa terdengar dimana-mana, sedikit merinding, namun kami masih harus meneruskan perjalanan ini. Kulihat ada jalan setapak, harapanku mulai kembali.
“Luke, lihat, ada jalan setapak, sepertinya sebentar lagi kita akan sampai di pedesaan, sebaiknya kita harus bergegas,” ucapku kepada Luke sambil menunjuk ke arah jalan setapak, kami berdua tertawa senang.
Tak lama dari sana, ada seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun yang sedang membawa kayu bakar manatap kami heran.
“Pak!” teriakku.
Pria tua ini nanar melihat kami dan langsung menghampiri. “Aduh, ia ujang kunaraon bisa kieu? Hayu urang ka bumi abdi, urang ubaran.”
“Iya, pak, kami, kami...” tiba-tiba pandanganku semakin buram kemudian ambruk, Lukman yang tak mempersiapkan tubuhnya untuk menahanku hanya terkejut ketika tiba-tiba aku jatuh. “Tolong kami, pak...” kesadarankupun hilang seketika.
&&&
Mataku terbuka dan kulihat sebuah ruangan putih dan bau khas rumah sakit. Pandanganku masih belum jelas tapi aku sadar di mana diriku sekarang, kulihat sekeliling ruangan. Ada orang-orang yang kukenal, ibu, dan adikku, mereka menghampiriku dan mengelus wajahku.
“Sayang, kamu sudah sadar, aduh ibu sangat khawatir sekali sama kamu, sudah beberapa hari kamu hilang, ibu kira... ibu kira tidak akan bisa lihat kamu lagi,” ucap ibuku sekaligus meneteskan air mata membasahi pipinya yang kini mulai berkeriput.
“Bu, Lukman di mana?” tanyaku.
“Oh, teman yang bersamamu itu? itu, di sebelah kamu,” kemudian ibu berjalan ke sebelah kananku dan membuka tirai yang memisahkan pasien satu dengan pasien lainnya. Kulihat Lukman sedang disuapi oleh seorang gadis, entah siapa, mungkin itu saudaranya. Ia menatapku seraya tersenyum.
“Syukurlah lo udah sadar Ger, gue khawatir banget pas tiba-tiba lo pingsan.”
“Gue juga gak tahu kenapa bisa pingsan, mungkin dehidrasi. Lo gak apa-apa?” tanyaku kepada Lukman seraya bangkit dari tidurku.
“Gue lebih hebat dari lo kali, mana boleh gue pingsan pas lo pingsan, hahahaa...”
Aku tertawa kecil, ah, sungguh sangat senang akhirnya aku bisa kembali pulang dan tidak melewatkan malam di hutan yang menyeramkan dan dingin itu. Kemudian dengan sigap ibu menyuapiku, dengan lahapnya aku makan perutku, sangat kosong karena hanya diisi oleh buah yang di bawa oleh Lukman saja.
Tiba-tiba ada beberapa orang masuk ke dalam ruangan kami dengan menggunakan pakaian polisi.
“Halo, pak Gery, sudah sadar? Saya Yudha, ingin meminta anda beserta pak Lukman untuk dimintai keterangan, saya harap setelah sembuh anda bisa mendatangi kami di kantor polisi, bagaimana?”
Aku mengangguk kemudian menatap Lukman, ia pun langsung mengangguk.
“Baiklah kalau begitu, maaf sudah mengganggu waktunya, banyak-banyak istirahat dan lekas sembuh, saya permisi.”
Kemudian polisi itu pergi beserta rombongannya.
“Ibu gak habis pikir sama orang yang mau membuatmu celaka sampai segitunya, memangnya kamu punya musuh, ya?” tanya ibuku sambil kembali menyuapiku.
“Musuh dari mana, bu, ibu tahu sendiri kakak, kan? Kakak juga gak tahu siapa orang yang mau bikin kira celaka sampai seperti ini.”
“Ya, sudah, ibu cuma berpesan aja sama kakak, jaga diri baik-baik, jangan bikin ibu khawatir, ya nak?”
“Pasti, bu.”
Dua jam kemudian, teman-temanku datang, ada Oki, Rudi, Alatas, Tedi, dan Hurip. Mereka sangat senang karena ternyata kami tidak apa-apa.
“Luk, pas gue sadar kalau kalian hilang gue langsung nelpon polisi, anjir gue kaget pas tahu mobil gue jatuh ke parit gede gitu, untungnya mobil gue gak apa-apa,” ujar Rudi menceritakan.
“Ah, bukannya lo sewot ya pas tau mobil lo rusak, hah!” Alatas memukul pelan lengan Rudi.
“Ya, gue kira kan mobil gue ada yang nyuri, lah, siapa juga yang gak kaget liat mobil sendiri jatoh ke parit kaya gitu, mana gak ada orangnya pula. Emang gimana sih kejadian sebenernya, Ger?”
“Awalnya gue sama Lukman berhenti dulu buat ngobrol tentang... em, rencana kita ngerjain si Oki,” aku menatap Lukman, “lalu pas kita asyik ngobrol tiba-tiba ada yang ngetuk kaca mobil.........” aku menceritakan panjang lebar dengan di bantu oleh Lukman, tentunya bagian sensitif kami tidak diceritakan. Teman-temanku terkejut dan bingung, pasalnya yang mereka tahu, aku maupun Lukman tidak memiliki musuh sama sekali.
“Kira-kira siapa, ya, yang tega ngelakuin itu sama kalian, kalau mereka cuman genk motor biasa sih, pasti tujuan utama mereka itu mobil atau barang-barang berharga yang ada di dalam mobil gue, tapi HP lo masih ada tuh, gak ilang. Ini sih pasti rencana pembunuhan, Ger.”
Aku termenung, ini benar-benar membingungkan, aku tidak memiliki musuh sama sekali, dan Lukman pun sama, selama ini kita hidup normal-normal saja tanpa memiliki musuh satu pun, tapi siapa orang yang dendam kepadaku atau Lukman sehingga tega menyuruh orang untuk membunuh kami? Bantinku berkecambuk.
&&&
Dua hari kemudian, setelah kondisi kami benar-benar pulih, aku dan Gery pergi ke kantor polisi. Di sana, kasus kami ditangani oleh orang yang datang ketika kami di rumah sakit, namanya Yudha, wajahnya cukup tampan, masih mudah dan jelas tubuhnya sangat bagus, aku yakin pasti Luke suka dengan pria ini, kalau di perhatikan seperti penyanyi dangdut, Thomas Djorgi.
“Terima kasih sudah menyempatkan waktu kalian, saya harap kasus ini akan segera terpecahkan dan kalian bisa hidup normal kembali,” ujarnya setelah melakukan interogasi kepadaku dan Luke, seraya berjabat tangan. “Oh, ya, ini kartu nama saya, di sana ada nomor teleponku, kalau kalian ada apa-apa bisa hubungi saya di nomor itu,” katanya menambahkan.
“Ok, biar saya yang simpan,” dengan sekilas Luke menyambar kartu nama itu. Aku memicingkan mata dan ia tersenyum penuh kemenangan.
“Dasar maho! Gak bisa ya liat cowok bening dikit,” tukasku ketika dalam perjalanan ke kantor.
“Kenapa, lo cemburu?”
“Cuih! Dasar saraf!”
Lukman terkekeh-kekeh dan mulai mengetik nomor yang ada dikartu nama tersebut.
&&&
Setelah kejadian itu hubunganku dengan Lukman dan yang lain menjadi jauh lebih akrab, tak ada satu waktupun aku lakukan tanpa mereka. Mungkin faktor jauh dari orang tua juga sangat berpengaruh sehingga bisa kemana-mana bebas tak ada yang melarang. Hanya saja saat ini aku merasa sangat kesepian, tak memiliki kekasih membuatku bingung untuk mencurahkan kasih sayang sekaligus nafsuku ini. Beberapa kali aku meminta kepada Alatas untuk mencarikanku wanita, namun beberapa kali pula gagal, entahlah aku susah mencari wanita yang membuatku nyaman. Kadang aku merindukan Anna, tapi kalau ingat perselingkuhan itu, aku menjadi kesal sendiri.
“Ini yang terakhir, gue udah gak mau lagi bantuin lo kalau sikap lo masih gitu ke cewek yang udah gue jodohin ama lo!” tukas Alatas sambil menyodorkan sebuah foto di layar HPnya.
“Ini? Kayaknya gue kenal, deh.”
“Ngomongin apaan sih?” tanya Rudi sambil melihat foto yang Alatas perlihatkan padaku.
“Oh, si Mega? Lo mau jodohin si Mega ke si Gery? Dia kan sukanya sama si Lukman, gimana sih lo?”
“Ya gue kasihan aja sama si Mega, mencintai orang yang salah,” kata Alatas sambil tersenyum menyindir.
“Salah apa maksud lo?” Lukman sewot seketika.
“Ya dia suka cowok yang suka sama cowok juga, hahaha...”
“Anjrit! Heh, nanti juga gue kalau nikah sama cewek, kok, cuman belum mau aja.”
“Sampe kapan Luke? Padahal apa enaknya si gituan sama cowok? Gue sih ngebayanginnya aja jijik cowok sama cowok grepe-grepe gitu, hahahaa...” serentak yang lain tertawa setelah Hurip berkata seperti itu. Lukman yang merasa terpojokkan akhirnya pergi dari sana. “Eh, eh, Luke, mau kemana lo? Jangan ngambek dong, masa gitu aja lo marah sih? Jangan kaya cewek gitulah, sensitif amat!”
“Terserah!”
Sebenarnya perkataan Hurip itu membuatku sedikit tersinggung, sebab walaupun aku normal tapi sudah beberapa kali ini melakukan hubungan intim dengan pria, Lukman. Dan selain aku, temanku yang tak ikut tertawa adalah Alatas, malah ia merasa bersalah karena dialah yang memulai semuanya, kami saling berpandangan penuh tanya.
&&&
Setelah jam kerja telah usai, seperti biasa kami selalu ‘nongkrong’ di kafe baru yang menjadi favorit kami di daerah Tamansari ITB, mengobrol ngaler-ngidul dan tertawa penuh canda. Lukman yang tadinya merasa kesal sudah kembali seperti biasanya, bahkan kini ia yang paling bersemangat dan heboh sendiri. Ketika aku sadar, tenyata banyak sekali kaum hawa yang melirik ke arah kami, well, memang kalau diperhatikan kita-kita ini bisa dibilang good looking, tak ada yang produk gagal, bahkan meski ada Oki yang betubuh tambun, tapi ia tetap terlihat tampan.
Teeeeetttttttt
HP baru Lukman berbunyi, kemudian tiba-tiba ia pindah tempat untuk mengobrol dengan seseorang, senyum-senyum sendiri, pokoknya terlihat seperti orang yang kasmaran.
“Gue yakin pasti yang lagi teleponan sama dia, si polisi itu,” tukas Rudi tiba-tiba ketika ia selesai memperhatikan Lukman.
“Hah? Polisi? Lo tau dari mana Rud?” tanya Tedi penasaran.
“Yah, beberapa hari ini kan gue pulang bareng sama dia terus, ya selama perjalanan pulang itu dia sering curhat masalah kedekatan dia ama si polisi, katanya sih beberapa kali mereka udah kencan, tapi belum jadian.”
“Akhirnya!” teriak Alatas kemudian.
Entah mengapa aku kurang suka mendengar semua ini, bukannya cemburu, tapi menurutku Lukman tidak cocok dengan si Yudha itu, toh banyak pria gay yang lebih tampan dari si polisi itu!
“Eh, kita nginep di rumahnya Lukman yuk? Udah lama juga kita jarang nginep bareng, kita tanding pes kaya biasa aja, sambil nunggu MU lawan Barca, gimana?” usul Oki.
“Yeh, gue sih sering kali nginep di rumahnya si Lukman, itu sih lo-nya aja yang jarang nginep, sibuk terus sama cewek lo!” hardik Rudi.
“Ya maklum aja, cewek gue kan suka minta jatah, kan sayang kalau gak dikasih.”
“Anjir penis lo kecil juga, emangnya cewek lo puas?”
Oki melempar tisu ke wajah Rudi. “Sembarangan lo Rud, gini-gini juga walaupun gue sedikit gemuk, tapi penis gue gede, mau liat lo?” katanya sambil berdiri dan memegang celana di bagian kemaluannya.
“Ogah!” dengan seketika semuanya tertawa, tak lama Lukman kembali gabung bersama kami.
“Eh, ngomongin apaan sih?”
“Ah, lo sih sibuk sama si polisi, gini, kita berniat malam ini mau nginep di rumah lo, bolehkan? Ya, sekalian kita nonton bola.”
“Kenapa malam ini? gue gak bisa...”
“Emang mau kemana lo?”
“Cowok gue mau dateng.”
Jleb! Mendengar kata itu aku sedikit gusar.
“Anjrit, sejak kapan lo jadian ama si polisi? Perasaan baru kemaren-kemaren lo curhat ke gue tentang si polteng (polisi ganteng sebutan dari Lukman untuk Yudha) itu?”
“Baru kemaren sih,” kata Lukman sambil cengengesan malu.
“Acieeee.....” sorak sorai semuanya kecuali aku.
“Jadi gimana, boleh gak?” Rudi bertanya lagi.
“Yaudahlah gak apa-apa, tapi kalian jangan ngeledekin dia atau nyindir-nyindir dia ya kalau dia dateng?”
“Siap bos!” jawab mereka serentak.
&&&
Kita sampai di rumah Luke sekitar pukul sepuluh malam, anak-anak yang lain langsung berebut stik pes, sementara aku duduk-duduk santai sambil menghisap sebatang rokok.
“Gue sih yakin kalian gak akan bisa begadang, paling sejam atau dua jam-an lagi kalian udah tepar,” ujiku kepada mereka semua.
“Eits, gue kalau ada pertandingan bola sih pasti gak akan tidur Ger, percaya deh,” ujar Hurip meyakinkan.
“Talk to my hand, bro!” Sesaat kulihat Lukman sedang asyik memainkan ponselnya yang baru sambil senyum-senyum sendiri. Entah mengapa aku tidak suka melihat ia seperti itu, tapi aku tidak percaya kalau aku bisa jatuh cinta kepadanya, karena yang jelas dan benar itu hubungan yang dijalani oleh dua sejoli, pria dan wanita, ya, mungkin ini rasa sayang terhadap teman saja, tak lebih.
Lima belas menit kemudian Lukman keluar tergesa-gesa, kucoba melihatnya dari balik jendela, dan rupanya benar saja, si polisi itu datang dan masih mengenakan pakaian lengkapnya. Uh! Mengapa harus pakai, pakaian itu, tidak bisa apa dia ganti baju dulu? Batinku kesal.
“Hey, perkenalkan nih, ini Yudha temen gue,” ujar Luke kepada teman-teman dan mengajak Yudha masuk ke dalam rumah.
“Hoi, bro, salam kenal,” kata Rudi menghampiri, diikuti oleh teman-teman yang lain, tapi aku masih terdiam di kursiku berpura-pura memainkan HP.
“Eh, Ger, sini dulu dong, nih kenalan dulu sama Yudha,” pinta Luke.
“Oh, ini Gery yang waktu itu, kan? Yang hilang sama Lukman?” tanya Yudha sok dekat. Aku hanya tersenyum simpul.
“Yaudah kita ke kamar aja, yuk?” ajak Lukman kepada Yudha. Merekapun langsung pergi ke kamarnya Lukman, aku menatap mereka nanar.
Apa yang akan mereka lakukan di dalam kamar? apa jangan-jangan mereka akan berhubungan intim? Kok mau-maunya si Lukman ML sama cowok kaya gitu? Uh! Ini tidak bisa dibiarkan! Ah! Tapi apa peduliku, memangnya aku pacarnya? Aku tak peduli apapun yang akan mereka kerjakan, mengapa aku harus repot mengurusi mereka? Batinku bergemuruh.
Satu jam. Dua jam. Aku tidak habis pikir, mengapa sampai dua jam ini mereka tidak keluar kamar? sebenarnya apa yang dilakukan oleh mereka? Aku harus mencari cara untuk mengetahui apa yang mereka lakukan.
Akhirnya aku mengetuk pintu kamar Luke.
“Luke, lo belum tidur, kan?” teriakku.
Beberapa detik kemudian ia membuka pintu, rambutnya sedikit acak-acakan. “Belom, ada apa sih?”
“Em, eh, emh, anu, gue mau, mau pinjem carger HP, HP gue lowbat, nih.”
Luke mengerutkan alisnya, “bukannya si Rudi bawa, ya?”
“Lagi dipake, tuh,” kataku menunjuk ke arah sebuah HP yang sedang di cas. Dengan mencuri-curi pandang aku menatap ke dalam kamarnya Luke, kulihat Yudha sedang bersandar sambil merokok dengan kaus dalam putih menggantung di tubuhnya, ia sudah tidak memakai pakaian dinasnya lagi.
Luke mangambil cargernya lalu segera menyerahkannya padaku tanpa basa-basi ia langsung menutup pintu lagi. Aku seperti orang bodoh memandangi mereka seperti itu.
&&&
Kulihat jam sudah menunjukan pukul dua malam, benar saja dugaanku, ternyata anak-anak yang lain sudah pergi ke dunia mimpinya masing-masing bertumpuk di depan televisi. Dari tadi aku memperhatikan kamar Luke menyala, kukira ia masih terjaga bersama si Yudha itu. Karena aku terlalu kesal menunggu sesuatu yang aku sendiri tidak tahu, akhirnya aku keluar rumah dan duduk di depan sambil menyalakan rokok, menatap langit malam yang dingin dan memikirkan sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti.
Setengah jam kemudian kudengar suara pintu terbuka, kulihat Yudha sudah mengenakan pakaian rapih.
“Hey, Ger, belum tidur?” katanya basa-basi.
Aku menatapnya sekilas dan menghembuskan asap ke luar.
“Kata Lukman, lo tinggal di Purwakarta, ya?”
Aku hanya mengangguk lemah.
“Gue juga orang sana, lo tinggal di mana?”
Aku menatapnya sekilas dan memandangnya tajam. “Ini cara lo ngajak ngobrol orang? Kalau iya, kemampuan bahasa lo harus diperbaiki.” Tanpa melihatnya lagi aku langsung masuk ke dalam rumah.
Kulihat Luke keluar dari kamar mandi dan tersenyum kepadaku, kuacuhkan senyumannya dan aku tidur di samping Oki.
Beberapa menit kemudian, setelah Luke mengunci pintu, ia menghampiriku. “Lo ngomong apa sama Yudha?”
Aku yang pura-pura tidur, mengganti posisi tidurku menjadi miring.
“Heh! Jawab gue!”
“Apaan sih, ah!”
“Lo ngomong apa sama Yudha?”
Akupun beranjak dan berdiri menghadapnya. “Bukan urusan lo gue ngomong apa sama dia!”
“Kenapa, sih, lo gak suka banget liat gue seneng?” Luke mendorongku kebelakang. Dengan seketika aku langsung balik mendorongnya hingga dinding, kemudian tanganku mengepal, ia nampak memejamkan mata karena takut. Tapi, kuurungkan niatku untuk memukulnya dan kupegang pipinya, sebelum ia membuka mata, aku langsung melumat habis bibirnya yang tipis kemerahan itu. Ia terkejut dan mencoba melepaskan ciumanku, tapi tenagaku jauh lebih besar darinya sehingga ia kini hanya pasrah saja aku makan habis mulutnya.
Dua menit berlalu, aku masih bernafsu mencium bibirnya dengan ganas dan kini ia sudah bisa menyesuaikan keganasan ciumanku. Kulepaskan ciumanku dan kubawa di masuk ke kamarnya, ia hanya pasrah saja dengan apa yang aku lakukan tanpa ada satu perlawanan.
Kembali aku mencium bibirnya penuh nafsu, kemudian tiba-tiba ia melepas ciumanku dan memegang pipiku lembut. “Gue gak mau ngelakuin ini kalau lo gak bilang I Love You!” aku berpikir sejenak dan kembali melumat habis bibirnya.
“Please...” kataku dengan nafas yang menggebu-gebu.
Akhirnya ia menuruti apa mauku, kini aku menjelajahi lehernya, membuka bajunya, melumat putingnya, kulihat putingnya sudah ada tanda merah, aku menatapnya heran, kuperhatikan lehernya juga ada beberapa tanda merah.
“Jadi, lo udah ML sama si polisi sialan itu?”
“Namanya Yudha, dan sekarang dia pacar gue!”
Aku langsung berhenti memeluknya begitupun dia.
“Lo itu munafik, Ger, lo gay tapi lo gak mau ngaku!”
“Gue gak gay! Gue cuma ...”
“Apa?”
Aku menatapnya kesal, kemudian aku dorong ia ke kasur, cium buas bibirnya, tapi ia tak bergeming, tak membalas ciumanku. Kulumat putingnya, ia masih tak begeming, akhirnya aku pasrah dan berdiri meniggalkannya. Aku bingung dengan apa yang harus aku perbuat, aku bukan gay, tapi aku tidak bisa menghindari kalau kini aku terjangkit candu seks bersama Lukman.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Love of Enemy 6 ini dipublish oleh Unknown pada hari 23 Desember 2014. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Love of Enemy 6
 

0 komentar:

Posting Komentar