Hari
sudah mulai pagi, rupanya Lukman sudah terbangun, ia duduk di sampingku sambil
tersenyum. “Gue bawain mangga, ni, buat sarapan lo, abis sarapan kita harus
langsung bergegas, ya? Gue udah gak betah lama-lama di sini.”
“Thanks,
hm, siapa juga yang betah lama-lama di sini,” ujarku sambil membuka buah yang
diberikan Luke.
“Menurut
gue, kita harus memutar jalan biar bisa sampe ke jalan utama deh, ya, walaupun
belum pasti, tapi dibandingkan kita harus memanjat tebing ini, resiko gagal dan
cederanya pasti lebih besar.”
“Gue
pikir juga gitu, sudah kebukti kan dengan jatuhnya gue dari tebing ini?”
Lukman
tersenyum sambil mengacak-acak rambutku, “Ya, sudah, ayo kita siap-siap. Coba
deh, gerakin kaki lo, semalam pas lo udah tidur gue urut kaki lo, semoga aja sih
lebih baik.”
Aku
mengerutkan alis, “kok gue gak ngerasa sakit, ya, semalam?” kemudian aku
mencoba berdiri, meski masih sakit sedikit tapi setidaknya lebih baik daripada
kemarin. “Wah, hebat banget lo, ini beneran, kaki gue gak terlalu sakit
sekarang, thanks ya Luke?”
Ia
tersenyum sambil mengangguk. “Yuk, ah, cabut!”
Aku
mengangguk. Kami pun meninggalkan tempat itu dan berharap bisa pulang kembali
ke tempatku tercinta.
&&&
Hampir
tiga jam kami berjalan, tapi kurasa kita tidak menemukan jalan yang tepat, dari
tadi hanya memutar-mutar tempat yang sama saja, kakiku sudah tak mampu lagi
berjalan, kemudian kami beristirahat di bawah pohon yang cukup rindang.
“Mengapa
dari tadi kita cuma puter-puter tempat ini aja, ya? Perasaan kita udah jalan
jauh, deh? What wrong with this place?”
“Gak
tahu, gue juga ngerasa kaya gitu, duh, mana gue haus banget lagi.”
“Sama,
haus bercampur lapar. Kalau aja ini gak terjadi sama kita...”
“Tapi,
menurut gue semua ini ada hikmahnya,” katanya dengan tatapan sendu.
“Apa?”
“Gue
bisa kenal lo lebih deket dan lo udah gak benci lagi sama gue, sejujurnya gue
mulai tumbuh perasaan sayang ke lo, Ger,” ujarnya seraya memegang tanganku
erat.
Sesaat
terdiam dan langsung kutepis pegangan tangannya. “Luke, lo jangan salah
mengartikan kejadian semalem, ya? Kejadian semalam itu hanya karena keadaan
kita yang kedinginan, kita butuh kehangatan, bukan didasari atas suka sama
suka, gue masih suka cewek Luke, sorry kalau lo kecewa, tapi gue gak mau lo
berharap lebih sama gue, ngerti, kan?” Luke terdiam, menunduk. “Tapi, gue masih
mau jadi temen lo, kok, mau banget malah jadi temen lo, gue sayang sama lo tapi
sayang gue hanya sebatas teman, gak apa-apa, kan?”
Lukman
masih tertunduk, kemudian ia menatapku dan tersenyum, “tentu, gue mau banget
jadi temen lo, thanks udah mau nerima gue apa adanya, Ger,” Lukman bangkit,
kemudian ia menatap sekeliling. “Kita cabut lagi, yuk, gue gak mau malam ini
dilalui di sini lagi.”
Aku
tersenyum, kemudian berdiri. “Ayo!”
&&&
Matahari
sudah menunjukan kegagahannya di atas kami, bunyi kumbang dan beraneka satwa
terdengar dimana-mana, sedikit merinding, namun kami masih harus meneruskan
perjalanan ini. Kulihat ada jalan setapak, harapanku mulai kembali.
“Luke,
lihat, ada jalan setapak, sepertinya sebentar lagi kita akan sampai di
pedesaan, sebaiknya kita harus bergegas,” ucapku kepada Luke sambil menunjuk ke
arah jalan setapak, kami berdua tertawa senang.
Tak
lama dari sana, ada seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun yang sedang
membawa kayu bakar manatap kami heran.
“Pak!”
teriakku.
Pria
tua ini nanar melihat kami dan langsung menghampiri. “Aduh, ia ujang kunaraon
bisa kieu? Hayu urang ka bumi abdi, urang ubaran.”
“Iya,
pak, kami, kami...” tiba-tiba pandanganku semakin buram kemudian ambruk, Lukman
yang tak mempersiapkan tubuhnya untuk menahanku hanya terkejut ketika tiba-tiba
aku jatuh. “Tolong kami, pak...” kesadarankupun hilang seketika.
&&&
Mataku
terbuka dan kulihat sebuah ruangan putih dan bau khas rumah sakit. Pandanganku
masih belum jelas tapi aku sadar di mana diriku sekarang, kulihat sekeliling
ruangan. Ada orang-orang yang kukenal, ibu, dan adikku, mereka menghampiriku
dan mengelus wajahku.
“Sayang,
kamu sudah sadar, aduh ibu sangat khawatir sekali sama kamu, sudah beberapa
hari kamu hilang, ibu kira... ibu kira tidak akan bisa lihat kamu lagi,” ucap
ibuku sekaligus meneteskan air mata membasahi pipinya yang kini mulai
berkeriput.
“Bu,
Lukman di mana?” tanyaku.
“Oh,
teman yang bersamamu itu? itu, di sebelah kamu,” kemudian ibu berjalan ke
sebelah kananku dan membuka tirai yang memisahkan pasien satu dengan pasien
lainnya. Kulihat Lukman sedang disuapi oleh seorang gadis, entah siapa, mungkin
itu saudaranya. Ia menatapku seraya tersenyum.
“Syukurlah
lo udah sadar Ger, gue khawatir banget pas tiba-tiba lo pingsan.”
“Gue
juga gak tahu kenapa bisa pingsan, mungkin dehidrasi. Lo gak apa-apa?” tanyaku
kepada Lukman seraya bangkit dari tidurku.
“Gue
lebih hebat dari lo kali, mana boleh gue pingsan pas lo pingsan, hahahaa...”
Aku
tertawa kecil, ah, sungguh sangat senang akhirnya aku bisa kembali pulang dan
tidak melewatkan malam di hutan yang menyeramkan dan dingin itu. Kemudian
dengan sigap ibu menyuapiku, dengan lahapnya aku makan perutku, sangat kosong
karena hanya diisi oleh buah yang di bawa oleh Lukman saja.
Tiba-tiba
ada beberapa orang masuk ke dalam ruangan kami dengan menggunakan pakaian
polisi.
“Halo,
pak Gery, sudah sadar? Saya Yudha, ingin meminta anda beserta pak Lukman untuk
dimintai keterangan, saya harap setelah sembuh anda bisa mendatangi kami di
kantor polisi, bagaimana?”
Aku
mengangguk kemudian menatap Lukman, ia pun langsung mengangguk.
“Baiklah
kalau begitu, maaf sudah mengganggu waktunya, banyak-banyak istirahat dan lekas
sembuh, saya permisi.”
Kemudian
polisi itu pergi beserta rombongannya.
“Ibu
gak habis pikir sama orang yang mau membuatmu celaka sampai segitunya,
memangnya kamu punya musuh, ya?” tanya ibuku sambil kembali menyuapiku.
“Musuh
dari mana, bu, ibu tahu sendiri kakak, kan? Kakak juga gak tahu siapa orang
yang mau bikin kira celaka sampai seperti ini.”
“Ya,
sudah, ibu cuma berpesan aja sama kakak, jaga diri baik-baik, jangan bikin ibu
khawatir, ya nak?”
“Pasti,
bu.”
Dua
jam kemudian, teman-temanku datang, ada Oki, Rudi, Alatas, Tedi, dan Hurip.
Mereka sangat senang karena ternyata kami tidak apa-apa.
“Luk,
pas gue sadar kalau kalian hilang gue langsung nelpon polisi, anjir gue kaget
pas tahu mobil gue jatuh ke parit gede gitu, untungnya mobil gue gak apa-apa,”
ujar Rudi menceritakan.
“Ah,
bukannya lo sewot ya pas tau mobil lo rusak, hah!” Alatas memukul pelan lengan
Rudi.
“Ya,
gue kira kan mobil gue ada yang nyuri, lah, siapa juga yang gak kaget liat
mobil sendiri jatoh ke parit kaya gitu, mana gak ada orangnya pula. Emang
gimana sih kejadian sebenernya, Ger?”
“Awalnya
gue sama Lukman berhenti dulu buat ngobrol tentang... em, rencana kita ngerjain
si Oki,” aku menatap Lukman, “lalu pas kita asyik ngobrol tiba-tiba ada yang
ngetuk kaca mobil.........” aku menceritakan panjang lebar dengan di bantu oleh
Lukman, tentunya bagian sensitif kami tidak diceritakan. Teman-temanku terkejut
dan bingung, pasalnya yang mereka tahu, aku maupun Lukman tidak memiliki musuh
sama sekali.
“Kira-kira
siapa, ya, yang tega ngelakuin itu sama kalian, kalau mereka cuman genk motor
biasa sih, pasti tujuan utama mereka itu mobil atau barang-barang berharga yang
ada di dalam mobil gue, tapi HP lo masih ada tuh, gak ilang. Ini sih pasti
rencana pembunuhan, Ger.”
Aku
termenung, ini benar-benar membingungkan, aku tidak memiliki musuh sama sekali,
dan Lukman pun sama, selama ini kita hidup normal-normal saja tanpa memiliki
musuh satu pun, tapi siapa orang yang dendam kepadaku atau Lukman sehingga tega
menyuruh orang untuk membunuh kami? Bantinku berkecambuk.
&&&
Dua
hari kemudian, setelah kondisi kami benar-benar pulih, aku dan Gery pergi ke
kantor polisi. Di sana, kasus kami ditangani oleh orang yang datang ketika kami
di rumah sakit, namanya Yudha, wajahnya cukup tampan, masih mudah dan jelas
tubuhnya sangat bagus, aku yakin pasti Luke suka dengan pria ini, kalau di
perhatikan seperti penyanyi dangdut, Thomas Djorgi.
“Terima
kasih sudah menyempatkan waktu kalian, saya harap kasus ini akan segera
terpecahkan dan kalian bisa hidup normal kembali,” ujarnya setelah melakukan
interogasi kepadaku dan Luke, seraya berjabat tangan. “Oh, ya, ini kartu nama
saya, di sana ada nomor teleponku, kalau kalian ada apa-apa bisa hubungi saya
di nomor itu,” katanya menambahkan.
“Ok,
biar saya yang simpan,” dengan sekilas Luke menyambar kartu nama itu. Aku
memicingkan mata dan ia tersenyum penuh kemenangan.
“Dasar
maho! Gak bisa ya liat cowok bening dikit,” tukasku ketika dalam perjalanan ke
kantor.
“Kenapa,
lo cemburu?”
“Cuih!
Dasar saraf!”
Lukman
terkekeh-kekeh dan mulai mengetik nomor yang ada dikartu nama tersebut.
&&&
Setelah
kejadian itu hubunganku dengan Lukman dan yang lain menjadi jauh lebih akrab,
tak ada satu waktupun aku lakukan tanpa mereka. Mungkin faktor jauh dari orang
tua juga sangat berpengaruh sehingga bisa kemana-mana bebas tak ada yang
melarang. Hanya saja saat ini aku merasa sangat kesepian, tak memiliki kekasih
membuatku bingung untuk mencurahkan kasih sayang sekaligus nafsuku ini.
Beberapa kali aku meminta kepada Alatas untuk mencarikanku wanita, namun
beberapa kali pula gagal, entahlah aku susah mencari wanita yang membuatku
nyaman. Kadang aku merindukan Anna, tapi kalau ingat perselingkuhan itu, aku
menjadi kesal sendiri.
“Ini
yang terakhir, gue udah gak mau lagi bantuin lo kalau sikap lo masih gitu ke
cewek yang udah gue jodohin ama lo!” tukas Alatas sambil menyodorkan sebuah
foto di layar HPnya.
“Ini?
Kayaknya gue kenal, deh.”
“Ngomongin
apaan sih?” tanya Rudi sambil melihat foto yang Alatas perlihatkan padaku.
“Oh,
si Mega? Lo mau jodohin si Mega ke si Gery? Dia kan sukanya sama si Lukman,
gimana sih lo?”
“Ya
gue kasihan aja sama si Mega, mencintai orang yang salah,” kata Alatas sambil
tersenyum menyindir.
“Salah
apa maksud lo?” Lukman sewot seketika.
“Ya
dia suka cowok yang suka sama cowok juga, hahaha...”
“Anjrit!
Heh, nanti juga gue kalau nikah sama cewek, kok, cuman belum mau aja.”
“Sampe
kapan Luke? Padahal apa enaknya si gituan sama cowok? Gue sih ngebayanginnya
aja jijik cowok sama cowok grepe-grepe gitu, hahahaa...” serentak yang lain
tertawa setelah Hurip berkata seperti itu. Lukman yang merasa terpojokkan
akhirnya pergi dari sana. “Eh, eh, Luke, mau kemana lo? Jangan ngambek dong,
masa gitu aja lo marah sih? Jangan kaya cewek gitulah, sensitif amat!”
“Terserah!”
Sebenarnya
perkataan Hurip itu membuatku sedikit tersinggung, sebab walaupun aku normal
tapi sudah beberapa kali ini melakukan hubungan intim dengan pria, Lukman. Dan
selain aku, temanku yang tak ikut tertawa adalah Alatas, malah ia merasa
bersalah karena dialah yang memulai semuanya, kami saling berpandangan penuh
tanya.
&&&
Setelah
jam kerja telah usai, seperti biasa kami selalu ‘nongkrong’ di kafe baru yang
menjadi favorit kami di daerah Tamansari ITB, mengobrol ngaler-ngidul dan
tertawa penuh canda. Lukman yang tadinya merasa kesal sudah kembali seperti
biasanya, bahkan kini ia yang paling bersemangat dan heboh sendiri. Ketika aku
sadar, tenyata banyak sekali kaum hawa yang melirik ke arah kami, well, memang
kalau diperhatikan kita-kita ini bisa dibilang good looking, tak ada yang
produk gagal, bahkan meski ada Oki yang betubuh tambun, tapi ia tetap terlihat
tampan.
Teeeeetttttttt
HP
baru Lukman berbunyi, kemudian tiba-tiba ia pindah tempat untuk mengobrol
dengan seseorang, senyum-senyum sendiri, pokoknya terlihat seperti orang yang
kasmaran.
“Gue
yakin pasti yang lagi teleponan sama dia, si polisi itu,” tukas Rudi tiba-tiba
ketika ia selesai memperhatikan Lukman.
“Hah?
Polisi? Lo tau dari mana Rud?” tanya Tedi penasaran.
“Yah,
beberapa hari ini kan gue pulang bareng sama dia terus, ya selama perjalanan
pulang itu dia sering curhat masalah kedekatan dia ama si polisi, katanya sih
beberapa kali mereka udah kencan, tapi belum jadian.”
“Akhirnya!”
teriak Alatas kemudian.
Entah
mengapa aku kurang suka mendengar semua ini, bukannya cemburu, tapi menurutku
Lukman tidak cocok dengan si Yudha itu, toh banyak pria gay yang lebih tampan
dari si polisi itu!
“Eh,
kita nginep di rumahnya Lukman yuk? Udah lama juga kita jarang nginep bareng,
kita tanding pes kaya biasa aja, sambil nunggu MU lawan Barca, gimana?” usul
Oki.
“Yeh,
gue sih sering kali nginep di rumahnya si Lukman, itu sih lo-nya aja yang
jarang nginep, sibuk terus sama cewek lo!” hardik Rudi.
“Ya
maklum aja, cewek gue kan suka minta jatah, kan sayang kalau gak dikasih.”
“Anjir
penis lo kecil juga, emangnya cewek lo puas?”
Oki
melempar tisu ke wajah Rudi. “Sembarangan lo Rud, gini-gini juga walaupun gue
sedikit gemuk, tapi penis gue gede, mau liat lo?” katanya sambil berdiri dan
memegang celana di bagian kemaluannya.
“Ogah!”
dengan seketika semuanya tertawa, tak lama Lukman kembali gabung bersama kami.
“Eh,
ngomongin apaan sih?”
“Ah,
lo sih sibuk sama si polisi, gini, kita berniat malam ini mau nginep di rumah
lo, bolehkan? Ya, sekalian kita nonton bola.”
“Kenapa
malam ini? gue gak bisa...”
“Emang
mau kemana lo?”
“Cowok
gue mau dateng.”
Jleb!
Mendengar kata itu aku sedikit gusar.
“Anjrit,
sejak kapan lo jadian ama si polisi? Perasaan baru kemaren-kemaren lo curhat ke
gue tentang si polteng (polisi ganteng sebutan dari Lukman untuk Yudha) itu?”
“Baru
kemaren sih,” kata Lukman sambil cengengesan malu.
“Acieeee.....”
sorak sorai semuanya kecuali aku.
“Jadi
gimana, boleh gak?” Rudi bertanya lagi.
“Yaudahlah
gak apa-apa, tapi kalian jangan ngeledekin dia atau nyindir-nyindir dia ya
kalau dia dateng?”
“Siap
bos!” jawab mereka serentak.
&&&
Kita
sampai di rumah Luke sekitar pukul sepuluh malam, anak-anak yang lain langsung
berebut stik pes, sementara aku duduk-duduk santai sambil menghisap sebatang
rokok.
“Gue
sih yakin kalian gak akan bisa begadang, paling sejam atau dua jam-an lagi
kalian udah tepar,” ujiku kepada mereka semua.
“Eits,
gue kalau ada pertandingan bola sih pasti gak akan tidur Ger, percaya deh,”
ujar Hurip meyakinkan.
“Talk
to my hand, bro!” Sesaat kulihat Lukman sedang asyik memainkan ponselnya yang
baru sambil senyum-senyum sendiri. Entah mengapa aku tidak suka melihat ia
seperti itu, tapi aku tidak percaya kalau aku bisa jatuh cinta kepadanya,
karena yang jelas dan benar itu hubungan yang dijalani oleh dua sejoli, pria
dan wanita, ya, mungkin ini rasa sayang terhadap teman saja, tak lebih.
Lima
belas menit kemudian Lukman keluar tergesa-gesa, kucoba melihatnya dari balik
jendela, dan rupanya benar saja, si polisi itu datang dan masih mengenakan
pakaian lengkapnya. Uh! Mengapa harus pakai, pakaian itu, tidak bisa apa dia
ganti baju dulu? Batinku kesal.
“Hey,
perkenalkan nih, ini Yudha temen gue,” ujar Luke kepada teman-teman dan
mengajak Yudha masuk ke dalam rumah.
“Hoi,
bro, salam kenal,” kata Rudi menghampiri, diikuti oleh teman-teman yang lain,
tapi aku masih terdiam di kursiku berpura-pura memainkan HP.
“Eh,
Ger, sini dulu dong, nih kenalan dulu sama Yudha,” pinta Luke.
“Oh,
ini Gery yang waktu itu, kan? Yang hilang sama Lukman?” tanya Yudha sok dekat.
Aku hanya tersenyum simpul.
“Yaudah
kita ke kamar aja, yuk?” ajak Lukman kepada Yudha. Merekapun langsung pergi ke
kamarnya Lukman, aku menatap mereka nanar.
Apa
yang akan mereka lakukan di dalam kamar? apa jangan-jangan mereka akan
berhubungan intim? Kok mau-maunya si Lukman ML sama cowok kaya gitu? Uh! Ini
tidak bisa dibiarkan! Ah! Tapi apa peduliku, memangnya aku pacarnya? Aku tak
peduli apapun yang akan mereka kerjakan, mengapa aku harus repot mengurusi
mereka? Batinku bergemuruh.
Satu
jam. Dua jam. Aku tidak habis pikir, mengapa sampai dua jam ini mereka tidak keluar
kamar? sebenarnya apa yang dilakukan oleh mereka? Aku harus mencari cara untuk
mengetahui apa yang mereka lakukan.
Akhirnya
aku mengetuk pintu kamar Luke.
“Luke,
lo belum tidur, kan?” teriakku.
Beberapa
detik kemudian ia membuka pintu, rambutnya sedikit acak-acakan. “Belom, ada apa
sih?”
“Em,
eh, emh, anu, gue mau, mau pinjem carger HP, HP gue lowbat, nih.”
Luke
mengerutkan alisnya, “bukannya si Rudi bawa, ya?”
“Lagi
dipake, tuh,” kataku menunjuk ke arah sebuah HP yang sedang di cas. Dengan
mencuri-curi pandang aku menatap ke dalam kamarnya Luke, kulihat Yudha sedang
bersandar sambil merokok dengan kaus dalam putih menggantung di tubuhnya, ia
sudah tidak memakai pakaian dinasnya lagi.
Luke
mangambil cargernya lalu segera menyerahkannya padaku tanpa basa-basi ia
langsung menutup pintu lagi. Aku seperti orang bodoh memandangi mereka seperti
itu.
&&&
Kulihat
jam sudah menunjukan pukul dua malam, benar saja dugaanku, ternyata anak-anak
yang lain sudah pergi ke dunia mimpinya masing-masing bertumpuk di depan
televisi. Dari tadi aku memperhatikan kamar Luke menyala, kukira ia masih
terjaga bersama si Yudha itu. Karena aku terlalu kesal menunggu sesuatu yang
aku sendiri tidak tahu, akhirnya aku keluar rumah dan duduk di depan sambil
menyalakan rokok, menatap langit malam yang dingin dan memikirkan sesuatu yang
aku sendiri tidak mengerti.
Setengah
jam kemudian kudengar suara pintu terbuka, kulihat Yudha sudah mengenakan
pakaian rapih.
“Hey,
Ger, belum tidur?” katanya basa-basi.
Aku
menatapnya sekilas dan menghembuskan asap ke luar.
“Kata
Lukman, lo tinggal di Purwakarta, ya?”
Aku
hanya mengangguk lemah.
“Gue
juga orang sana, lo tinggal di mana?”
Aku
menatapnya sekilas dan memandangnya tajam. “Ini cara lo ngajak ngobrol orang?
Kalau iya, kemampuan bahasa lo harus diperbaiki.” Tanpa melihatnya lagi aku
langsung masuk ke dalam rumah.
Kulihat
Luke keluar dari kamar mandi dan tersenyum kepadaku, kuacuhkan senyumannya dan
aku tidur di samping Oki.
Beberapa
menit kemudian, setelah Luke mengunci pintu, ia menghampiriku. “Lo ngomong apa
sama Yudha?”
Aku
yang pura-pura tidur, mengganti posisi tidurku menjadi miring.
“Heh!
Jawab gue!”
“Apaan
sih, ah!”
“Lo
ngomong apa sama Yudha?”
Akupun
beranjak dan berdiri menghadapnya. “Bukan urusan lo gue ngomong apa sama dia!”
“Kenapa,
sih, lo gak suka banget liat gue seneng?” Luke mendorongku kebelakang. Dengan
seketika aku langsung balik mendorongnya hingga dinding, kemudian tanganku
mengepal, ia nampak memejamkan mata karena takut. Tapi, kuurungkan niatku untuk
memukulnya dan kupegang pipinya, sebelum ia membuka mata, aku langsung melumat
habis bibirnya yang tipis kemerahan itu. Ia terkejut dan mencoba melepaskan
ciumanku, tapi tenagaku jauh lebih besar darinya sehingga ia kini hanya pasrah
saja aku makan habis mulutnya.
Dua
menit berlalu, aku masih bernafsu mencium bibirnya dengan ganas dan kini ia
sudah bisa menyesuaikan keganasan ciumanku. Kulepaskan ciumanku dan kubawa di
masuk ke kamarnya, ia hanya pasrah saja dengan apa yang aku lakukan tanpa ada
satu perlawanan.
Kembali
aku mencium bibirnya penuh nafsu, kemudian tiba-tiba ia melepas ciumanku dan
memegang pipiku lembut. “Gue gak mau ngelakuin ini kalau lo gak bilang I Love
You!” aku berpikir sejenak dan kembali melumat habis bibirnya.
“Please...”
kataku dengan nafas yang menggebu-gebu.
Akhirnya
ia menuruti apa mauku, kini aku menjelajahi lehernya, membuka bajunya, melumat
putingnya, kulihat putingnya sudah ada tanda merah, aku menatapnya heran,
kuperhatikan lehernya juga ada beberapa tanda merah.
“Jadi,
lo udah ML sama si polisi sialan itu?”
“Namanya
Yudha, dan sekarang dia pacar gue!”
Aku
langsung berhenti memeluknya begitupun dia.
“Lo
itu munafik, Ger, lo gay tapi lo gak mau ngaku!”
“Gue
gak gay! Gue cuma ...”
“Apa?”
Aku
menatapnya kesal, kemudian aku dorong ia ke kasur, cium buas bibirnya, tapi ia
tak bergeming, tak membalas ciumanku. Kulumat putingnya, ia masih tak begeming,
akhirnya aku pasrah dan berdiri meniggalkannya. Aku bingung dengan apa yang
harus aku perbuat, aku bukan gay, tapi aku tidak bisa menghindari kalau kini
aku terjangkit candu seks bersama Lukman.


0 komentar:
Posting Komentar