Pagi
sudah kembali memberikan kesejukannya, matahari seakan tak enggan untuk
menampakan wajahnya, Adam tiba di sekolah masih dengan bu Yuni, di hari ke dua
penataran ini yang setiap tugasnya semakin berat, Adam siap mengawali hari.
Adam
masuk ke dalam ruangan yang kemarin sendiri, rupanya di sana sudah ada Keanu
dan Orlando.
“Wah,
udah pada dateng, nih.”
“Iya,
eh, mana si Shane?” tanya Orlando.
“Belum
bangu...eh, belum berangkat, kayanya lagi di jalan, deh.”
Orlando
memicingkan alisnya sebelah. Kemudian kembali bersikap normal.
“Gimana
tugas RPPnya, udah mulai dibikin belum?”
Keanu
nampak asik dengan gadgetnya, ia tak begitu memedulikan ucapan Adam. Orlando
menatap Keanu sesaat kemudian menyikutnya.
“Kalau
gue belom, gak tau, nih, kemaren rasanya badan pada pegel semua, untung ada si
Keanu ini, jadi dia bisa bantuin gue mijitin.”
“Wah,
lo bisa pijet, juga Ken?” tanya Adam.
Keanu
tersenyum sesaat kemudian kembali fokus kepada gadgetnya.
“Pinter
banget malah, sampe-sampe gue ketiduran saking enaknya,” ujar Orlando
mencairkan suasana. Adam memaklumi sikap Keanu yang memang sedikit pendiam, ia
paham beberapa karakter orang, maka dari itu ia tak begitu mempermasalahkan
sikap Keanu yang dingin kepadanya.
Tak
lama Shane datang dengan tasnya yang besar.
“Heh,
Dam, data-data lo ketinggalan, tuh, gimana, sih, bukannya semalem diberesin,”
ujar Shane sambil menepuk tubuh Adam.
Sontak
Orlando dan Keanu menatap mereka penuh tanya.
“Oh,
iya, semalem gue lupa beresin, udah ngantuk, ya, untung lo ngeh ada data gue
yang ketinggalan.”
“Iya,
lah, orang lo tidur ngorok gitu, eh,” Shane lupa bahwa mereka tidak sedang
berdua, begitupun dengan Adam dan mereka menjadi salah tingkah.
Dan,
tiba-tiba saja Keanu angkat bicara, “kalian berdua tinggal bareng?”
Shane
mencoba tenang agar rahasianya tidak terbongkar, “ah, iya, gue belum bilang,
ya, ke kalian kalau gue ama Adam tinggal bareng? Gue udah temenan ama dia lama,
jadi karena rumah kita jauh dari tempat ngajar, akhirnya karena orang tua si
Adam itu cukup berada, akhirnya di belilah rumah yang lumayan deket dengan
sekolahan kami, gue ikut-ikut aja sih tinggal di sana.”
“Ya,
iya, lah, gue kan kasian kalo ngeliat temen gue pergi jauh-jauh ke sekolahnya
sementara gue udah enak.”
“Iya,
dong, lagian si Adam ini penakut, untung ada gue, jadi itu juga satu alesan gue
bisa tinggal bareng dia.”
“Satu
kamar? tanya Orlando tenang.
“Adam
nampak terlihat salah tingkah, kemudian ia langsung menatap Shane. “Nggak, tapi
kita suka nginep bareng kalau ada tugas atau acara bola.”
“Wah,
asik, dong, gue bisa ikut nginep kalo gitu,” ujar Orlando menawarkan diri.
Adam
tersenyum dengan ramah, “boleh banget, kapan-kapan kalian nginep aja di rumah
kita, bisa rame kalau kalian ikut nginep juga.”
“Beneran,
nih, boleh?”
“Iya,
dong, masa nggak, bolehlah, pasti boleh,” ujar Adam antusias.
Keanu
menatap Orlando dengan penuh kecurigaan.
Waktu
sudah berlalu dengan cepat, setengah pekerjaan mereka sudah terlaksana dengan
baik, kini waktunya istirahat, Orlando mengajak mereka untuk kembali mkaan di
tempat makan yang sama.
Dalam
perjalanan, Keanu di bonceng oleh Orlando tapi masih tak berkata apa-apa.
“Eh,
kenapa lo diem aja dari tadi?” tanya Orlando bingung.
“Hey,
halooo, ada orang, kan, di belakang gue?” ujar Lando lagi sedikit kesal karena
diabaikan oleh Keanu.
“Lo
apa-apaan, sih, lebay, tau!”
“Biarin,
lo sendiri kenapa, sih? Dari tadi diem aja, marah ama gue?”
“Nggak!”
kata Keanu singkat.
“Boong
banget, jelas ada apa-apa kalo lo diem gitu.”
“Lo
tau ada apa-apa, masih nanya juga!”
“Iya
apa, gue, kan, gak tau lo kenapa?”
“Gue
gak suka sama tingkah lo hari ini, terlalu over acting, tau gak sih lo?”
“Over
acting gimana?”
“Iya,
sok-sok an akrab banget ama mereka, kita kan gak kenal sama mereka.”
“Kok
lo ngomong gitu, sih? Sekarang kan, mereka emang temen kita, empat hari lagi
dengan hari ini kita bakalan terus sama mereka, jadi, ya, menurut gue mereka
sekarang temen kita, lagian, ya, jarang banget di tempat penataran guru-guru
ini ada guru muda selain kita, biasanya, paling bapak-bapak, ibu-ibu, aja yang
ada di acara ini, harusnya lo seneng dong.”
“Gue
gak suka aja sikap lo ama mereka, apalagi ama si Shane itu, apa jangan-jangan
lo suka ama dia?”
Mendadak
Orlando memberhentikan motornya. “Kok lo ngomong gitu? Ya, wajar dong gue deket
ama mereka, kita ini seusia, dan gue juga deket ama si Adam, gak cuman si Shane
aja, lo cemburu gue deket ama si Shane?”
“Ya
iyalah, keliatan banget kalau lo cari muka di depan cowo itu, gue nyadar, kok,
apalagi emang dia ganteng, badannya bagus gak kaya gue.”
“Hey,
sayang, gue gak pernah mempermasalahkan bentuk tubuh orang, mau badannya bagus,
atau nggak, gue gak peduli, asalkan dia sayang sama gue dan gue juga sayang ama
dia, udah, cukup,” terangnya kemudian kembali menyalakan mesin motornya, “gue nanya ama lo, lo sayang gak
ama gue?” tanya Orlando.
“Ya
jelas gue sayang ama lo, kalo nggak ngapain gue jadian sama lo.”
“Ya
udah, beres masalahnya, gue juga sayang sama lo, dan cuman lo!”
Diam-diam
Keanu tersenyum kemudian di dekapnya tubuh Orlando sesaat.
Setelah
selesai makan siang bersama mereka kembali ke sekolah.
“Bapak-ibu
guru, tugasnya udah beres belum?”
“Belum,”
ujar guru-guru serentak.
“Takut
kesorean, mendingan dilanjut di rumah aja, ya. Tapi, besok pagi harus udah di
kompulin di saya.”
Semua
guru sepakat.
“Kayaknya
kita nginep di rumah kalian sekarang aja, deh, soalnya tugas ini masih banyak,
kalau ngerjain sendiri-sendiri pasti gak akan bener, gimana? Tanya Orlando.
“Ok
aja kalau gue, Keanu gimana?” tanya Adam.
Ia
menatap Adam, kemudian menatap Orlando memberi isyarat. Akhirnya ia kembali
menatap Keanu. “Ok.”
“Ok,
clear, ya? Lo mau bareng baliknya atau gimana? Tanya Adam lagi.
“Kayanya
kita balik dulu, deh, mau mandi, ganti baju juga.”
“Sekalian
aja malam ini sambil barbeque, kan, asyik, tuh, jadinya gak akan boring, oh,
ya, rumah kita di alamat ini,” ujar Shane memberi tahu.
“Bener
banget, kebetulan kita udah belanja juga.”
“Patungan?”
Adam
tertawa, “gak usah, nyantai aja, gue udah siapin semuanya, kok.”
“Wah
asik, dong, jadi kita gak usah ngeluarin duit, hehehe...”
Keanu
menyikut lengan Orlando, “keliatan banget sih, pelitnya?”
Seketika
semuanya tertawa.
Malamnya.
Ting
Tong
Suara
bel berbunyi.
Kemudian
tak lama Adam membukanya.
“Halo,
ayo, masuk.”
Orlando
menatap rumah Adam dengan seksama, “bagus bener rumah lo, Dam.”
“Hahaha..
biasa aja kali, oh, ya, kita ngerjainnya di atap rumah gue, ya, tuh si Shane
lagi nyiapin barbeque nya.” Akhirnya mereka menuju atap rumah.
“Wih,
keren banget nih, atap, luas!” terang Lando, “gue bakalan betah tinggal di
sini, nih.”
Setelah
itu mereka langsung mengerjakan tugas, Adam dan Keanu mengerjakan tugas,
sedangkan Orlando dan Shane sibuk memanggang.
“Hei!
Bantuin kita juga kali, jangan karna kebagian masak jadi nggak ngebantuin, ini
kan kerjaan bareng-bareng!” ketus Keanu kesal melihat Shane dan Orlando tertawa
terbahak-bahak.
“Iya
kanjeng ratu,” ujar Lando menghampiri mereka.
Setelah
selesai barbeque dan tugas sudah selesai mereka berbincang-bincang mengenai
diri mereka, tentang kuliah, tentang keluarga
dan tentang hubungan. Meskipun mereka berempat kompak, tapi di antara
empat orang itu hanya Keanu yang paling diam, ia hanya sedikit bercerita dan
setelahnya asik dengan dunianya bersama laptop milik Adam, ia membuka-buka file
Adam, masuk ke lokal disk E, tak ada yang aneh, kemudian ke lokal disk D, tak
ada yang aneh, hingga kemudian ia membuka file di lokal di C, ada file yang di
hidden, kebetulan Keanu cukup tahu cara membuka file tersebut, dan, akhirnya
terbukalah semua file milik Adam, ada beberapa foto dia bersama keluarga, teman
kuliah, dan ada satu file yang menarik perhatiannya, di sana tertulis file ‘Me
and my Love” ketika ia membuka file tersebut, deh! Kini ia tahu meskipun
sebelumnya ia sudah menyangka, bahwa Adam ada sesuatu dengan Shane, dan
dugaannya itu terbukti, banyak sekali foto-foto mesra mereka, entah itu di
kamar, di ataupun di tempat lain. Keanu memicingkan mata, menatap Adam sesaat
dan menyimpan laptop itu agar Adam dan Shane tidak curiga.
“Hei,
Ken, kita mau maen game, lo ikut gak?” tanya Lando.
“Game
apaan,” tanya Keanu menghampiri mereka.
“Truth
or dare, gimana?”
Seketika
ia tersenyum, “boleh.”
Mereka
berkumpul mengelilingi meja bulat panjang, ditengah-tengah di simpan botol air
minum bekas, “peraturannya simpel banget,” kata Lando menyampaikan, “kita putar
botol ini, kemudian ketika botol ini berhenti dan menunjuk ke arah kalian atau
gue, kalian bertiga berhak mengajukan pertanyaan, atau tantangan, tergantung
apa yang kalian ambil, setuju?”
Semuanya
nampak setuju tapi terlihat gugup.
“Ok,
kita mulai, ya?” tanya Orlando.
Seketika
juga botol itu di putar, mereka semua berharap agar mereka tidak terpilih dalam
permainan ini. Namun rupanya keberuntungan belum memhampiri Shane, sehingga ia
harus memilih.
“Truth
or dare?” tanya Orlando.
Shane
nampak bimbang, “kalau gue pilih dare, pasti kalian bakalan ngerjain gue
abis-abisan, hm, kalau truth....ok, gue truth aja,” ujarnya yakin.
“Ok,
Shane udah pilih truth, siapa yang mau nanya duluan?” semuanya masih nampak
berpikir, “ya udah gue aja dulu, ya?” Orlando nampak berpikir. “Lo udah punya
pacar belum?”
Shane
tersenyum, “langsung aja gue jawab, ya, udah!”
“Siapa?”
tanya Orlando lagi.
“Eh,
kan lo tadi nanyanya cuman satu aja, gak bisa nambah dong!”
“Ken,
lo nanya yang sama aja kaya gue tadi, Ken?” paksa Orlando.
Keanu
menggeleng, “nggak ah, gue punya pertanyaan sendiri,” ia diam sejenak, “apa
pacar lo ikut penataran juga? Jawab yes or no aja,” pancing Keanu.
Shane
nampak gugup, kemudian ia mencoba rileks, “iya.”
Kemudian
Shane menatap Adam, dari tadi Adam diam saja, kemudian ia menatap ke arah
Shane, “apa warna celana dalem lo?” tanya Adam pura-pura.
“Yaelah,
kok pertanyaan lo gitu banget sih?” bentak Orlando.
Shane
tersenyum, “itu aja, kan? Merah, celana dalem gue merah!”
“Ah,
gak asik, lo kan satu rumah sama si Shane jadi pasti taulah bentuk dan motifnya
kaya gimana, jangan pertanyaan yang gitu, deh.”
“Iya,
iya, maaf.”
Kemudian
botol kembali di putar, dan rupanya kini botol menunjuk ke arah Orlando.
“Ok,
truth or dare?” tanya Shane.
“Pastinya,
dare dong!”
Shane
tersenyum, “gue yang pertama kali nanya, ya?” pinta Shane kepada yang lain.
“gue minta lo cium salah satu dari kita bertiga, tapi cium bibir, terserah
siapa aja,” ujar Shane sambil memicingkan mata.
Orlando
nampak bingung, matanya menatap ke arah tiga temannya itu, “ah, gila nih
permintaan lo, jangan itulah,” pinta Orlando.
“Gak
bisa nolak, inget, truth or dare, kan lo yang pengen maen ginian.”
“Oh,
shit!” ia menatap Keanu, anak itu diam saja, ia menatap Adam, Adam langsung
menggeleng kemudian menatap Shane, ia ikut menggeleng. “Ok, tapi jangan pada
horny, ya.... ah, sial kok gue dek-dekan ya?” ia memegang kepalanya, gue
pilih....Adam!” Keanu langsung menatap Orlando terkejut.
“Jangan
gue!” bentak Adam.
“Gak
bisa, Dam, ini udah peraturan,” ujar Shane. Adam memicingkan mata kepada Shane
dibalas dengan senyum simpul oleh Shane.
Kemudian
Orlando mendekat, Adam nampak bertingkah tak keruan, kini wajah mereka semakin
dekat, dekat, dekat, dan... akhirnya Orlando mencium bibir Adam dengan lembut,
awalnya Adam sempat menolak, tapi akhirnya menerima dengan terpaksa, satu
detik, dua detik, tiga detik, Orlando melepaskan ciumannya.
“Beuh,
hot banget tuh ciuman, hahaa...” ujar Shane nampak puas.
Adam
menunduk kemudian mengelap bibirnya sendiri.
“Ayo,
siapa lagi yang nantangin gue?” tantang Orlando.
Adam
berbicara kemudian. “Gue, sekarang gue minta lo cium Shane, kalau tadi, kan
permintaan Shane ke tiga orang, kalau gue minta lo cium Shane sekarang,” balas
Adam. Shane nampak terkejut.
Orlando
tanpa berpikir panjang dan tanpa memedulikan perasaan Keanu langsung mencium
Shane, di sana jelas terlihat kalau Orlando nampak sedikit lebih bernafsu
dengan ciuman itu, Adam dan Keanu hanya menatap terkejut. Setelah ciuman di
lepaskan Orlando nampak bingung.
“Kenapa?
Kok diem gitu?”
“Ah,
em, nggak, Keanu, sekarang giliran lo,” alih Adam.
Keanu
diam, “gue minta lo cium gue!” semuanya terkejut dengan ucapan Keanu, ia
benar-benar berani mengambil keputusan itu. “Kenapa, kok, pada kaget, ya, gue
kan pengen juga ngerasain ciuman sama cowo, lo semua kan udah di cium ama si
Lando, tinggal gue!” ucapnya yakin.
Orlando
mendekatkan kepalanya ke Keanu, pelan-pelan namun pasti, akhirnya mereka
berciuman, tanpa sadar Keanu memegang kepala Orlando dan ketika Orlando sadar
ia melepaskan ciuman.
Semuanya
nampak terlihat canggung.
“Em,
ya udah, lanjut aja, ya?” ucap Orlando gugup seraya memutarkan botol.
Botol
berhenti di depan tubuh Keanu.
“Siapa
yang mau nanya duluan? Tanya Lando.
“Gue,”
kata Adam. “Truth or dare?”
“Truth.”
“Ok,
udah berapa kali lo ciuman sama Orlando?”
Orlando
nampak terkejut. Keanu menunduk sejenak kemudian menatap Adam.
“Gue
gak tau, sering, gak keitung!”
Adam
mengangguk, “udah gue duga, ayo, siapa lagi yang mau nanya?”
Shane
menatap keaneh diantara mereka semua, “loh, kok, jadi serius gini, ok, sekarang
gue yang nanya, ya? Lo udah berapa kali pacaran?”
“Sekali
dan masih sampe sekarang,” ucap Keanu tenang.
“De...dengan
siapa?” tanya Orlando.
Keanu
menatap Orlando sinis, “lo, gue pacaran sama lo!”
Niat
hati membuat suasana menjadi tak canggung lagi, apa daya malah semakin canggung
bahkan terlihat nada-nada emosi dari Keanu. Adam masih diam tak berkata
apa-apa.
Dan,
kesekian kalinya botol di putar, kini semua mendapatkan bagian. Adam.
Adam
tanpa diminta langsung menjawab, “dare!” ia tahu, pasti pertanyaan-pertanyaan serupa
akan terlontar dari mulut Keanu atau Orlando, untuk mengantisipasi ia langsung
menjawab dare.
Orlando
berpikir, “gue minta lo menari di hadapan kita selama lima menit, tarian
striptis.”
“Anjir,
gue gak bisa, ehm.. ok deh.”
Orlando
menyalakan musik, kemudian ketika musik mulai ia langsung menari.
“Wait,”
ujar Keanu. “Sekalian sama gue, ya? Gue minta lo buka semua baju lo ketika nari
itu, tanpa terkecuali!”
Glek!
Adam
nampak kesal, tapi permainan tetaplah permainan, ia menuruti semua perintah
mereka.
Musik
kembali berdentum, Adam menari dengan erotis, perlahan-lahan bajunya di buka,
Shane nampak tak tega melihat Adam diperlakukan seperti itu, ia tak berani
menatap Adam. Keanu nampak senang.
Baju
kini sudah ditanggalkan, sekarang ia sedang mencoba membuka celananya, perlahan
tapi pasti, celana itu terbuka dan kini ia hanya tinggal mengenakan celana
dalam, Keanu menunjuk ke arah celana dalam Adam tanda agar ia membuka celana
dalamnya juga. Adam kesal, tapi ia mencoba menahan.
Beberapa
senti celana dalam itu dibukanya, Orlando tanpa sadar memperhatikan dan sedikit
terangsang, Keanu senyum-senyum sendiri dan Shane, ia benar-benar tak melihat
adegan itu.
Sekarang
Adam sudah menanggalkan semua pakaiannya, ia telanjang bulat dihadapan ketiga
temannya. Lima menit telah berlalu, kini ia kembali memakai bajunya.
“Masih
lanjut?” tanya Orlando.
“Em,
kayaknya gue udah ngantuk,” ujar Shane berdiri.
“Lo
ngantuk apa lo takut kejadian yang sama menimpa lo?” tanya Keanu ketus.
“Gue
gak suka maen kaya gini, norak tau gak!”
“Udahlah
gak usah boong, gue tau kalian, kalian pacaran juga kan, sama kaya gue dan
Orlando.”
“Kean,
apa-apaan sih lo?” bentak Orlando.
“Kalau
ia emang kenapa?” jawab Adam langsung.
“Coba
kalau lo ngomong dari awal, pasti gak akan kaya gini akhirnya,” ujar Keanu
lagi, kali ini ia benar-benar tak seperti Keanu biasanya, lebih berani. Ia
menatap Orlando, “gue mau pulang, aja, thanks buat makan malamnya.”
Ia
berdiri dan dilihatnya Orlando masih terdiam, “sayang, lo gak mau pulang?”
Orlando
menatapnya kesal.
“Ya
udah gue bisa pulang sendiri, kok.” Keanu bergegas mengambil barang-barangnya
kemudian pergi meninggalkan mereka yang gugup penuh dengan kebingungan.


0 komentar:
Posting Komentar