4 Sexy Teacher 4



Pagi sudah kembali memberikan kesejukannya, matahari seakan tak enggan untuk menampakan wajahnya, Adam tiba di sekolah masih dengan bu Yuni, di hari ke dua penataran ini yang setiap tugasnya semakin berat, Adam siap mengawali hari.
Adam masuk ke dalam ruangan yang kemarin sendiri, rupanya di sana sudah ada Keanu dan Orlando.

“Wah, udah pada dateng, nih.”
“Iya, eh, mana si Shane?” tanya Orlando.
“Belum bangu...eh, belum berangkat, kayanya lagi di jalan, deh.”
Orlando memicingkan alisnya sebelah. Kemudian kembali bersikap normal.
“Gimana tugas RPPnya, udah mulai dibikin belum?”
Keanu nampak asik dengan gadgetnya, ia tak begitu memedulikan ucapan Adam. Orlando menatap Keanu sesaat kemudian menyikutnya.
“Kalau gue belom, gak tau, nih, kemaren rasanya badan pada pegel semua, untung ada si Keanu ini, jadi dia bisa bantuin gue mijitin.”
“Wah, lo bisa pijet, juga Ken?” tanya Adam.
Keanu tersenyum sesaat kemudian kembali fokus kepada gadgetnya.
“Pinter banget malah, sampe-sampe gue ketiduran saking enaknya,” ujar Orlando mencairkan suasana. Adam memaklumi sikap Keanu yang memang sedikit pendiam, ia paham beberapa karakter orang, maka dari itu ia tak begitu mempermasalahkan sikap Keanu yang dingin kepadanya.
Tak lama Shane datang dengan tasnya yang besar.
“Heh, Dam, data-data lo ketinggalan, tuh, gimana, sih, bukannya semalem diberesin,” ujar Shane sambil menepuk tubuh Adam.
Sontak Orlando dan Keanu menatap mereka penuh tanya.
“Oh, iya, semalem gue lupa beresin, udah ngantuk, ya, untung lo ngeh ada data gue yang ketinggalan.”
“Iya, lah, orang lo tidur ngorok gitu, eh,” Shane lupa bahwa mereka tidak sedang berdua, begitupun dengan Adam dan mereka menjadi salah tingkah.
Dan, tiba-tiba saja Keanu angkat bicara, “kalian berdua tinggal bareng?”
Shane mencoba tenang agar rahasianya tidak terbongkar, “ah, iya, gue belum bilang, ya, ke kalian kalau gue ama Adam tinggal bareng? Gue udah temenan ama dia lama, jadi karena rumah kita jauh dari tempat ngajar, akhirnya karena orang tua si Adam itu cukup berada, akhirnya di belilah rumah yang lumayan deket dengan sekolahan kami, gue ikut-ikut aja sih tinggal di sana.”
“Ya, iya, lah, gue kan kasian kalo ngeliat temen gue pergi jauh-jauh ke sekolahnya sementara gue udah enak.”
“Iya, dong, lagian si Adam ini penakut, untung ada gue, jadi itu juga satu alesan gue bisa tinggal bareng dia.”
“Satu kamar? tanya Orlando tenang.
“Adam nampak terlihat salah tingkah, kemudian ia langsung menatap Shane. “Nggak, tapi kita suka nginep bareng kalau ada tugas atau acara bola.”
“Wah, asik, dong, gue bisa ikut nginep kalo gitu,” ujar Orlando menawarkan diri.
Adam tersenyum dengan ramah, “boleh banget, kapan-kapan kalian nginep aja di rumah kita, bisa rame kalau kalian ikut nginep juga.”
“Beneran, nih, boleh?”
“Iya, dong, masa nggak, bolehlah, pasti boleh,” ujar Adam antusias.
Keanu menatap Orlando dengan penuh kecurigaan.
Waktu sudah berlalu dengan cepat, setengah pekerjaan mereka sudah terlaksana dengan baik, kini waktunya istirahat, Orlando mengajak mereka untuk kembali mkaan di tempat makan yang sama.
Dalam perjalanan, Keanu di bonceng oleh Orlando tapi masih tak berkata apa-apa.
“Eh, kenapa lo diem aja dari tadi?” tanya Orlando bingung.
“Hey, halooo, ada orang, kan, di belakang gue?” ujar Lando lagi sedikit kesal karena diabaikan oleh Keanu.
“Lo apa-apaan, sih, lebay, tau!”
“Biarin, lo sendiri kenapa, sih? Dari tadi diem aja, marah ama gue?”
“Nggak!” kata Keanu singkat.
“Boong banget, jelas ada apa-apa kalo lo diem gitu.”
“Lo tau ada apa-apa, masih nanya juga!”
“Iya apa, gue, kan, gak tau lo kenapa?”
“Gue gak suka sama tingkah lo hari ini, terlalu over acting, tau gak sih lo?”
“Over acting gimana?”
“Iya, sok-sok an akrab banget ama mereka, kita kan gak kenal sama mereka.”
“Kok lo ngomong gitu, sih? Sekarang kan, mereka emang temen kita, empat hari lagi dengan hari ini kita bakalan terus sama mereka, jadi, ya, menurut gue mereka sekarang temen kita, lagian, ya, jarang banget di tempat penataran guru-guru ini ada guru muda selain kita, biasanya, paling bapak-bapak, ibu-ibu, aja yang ada di acara ini, harusnya lo seneng dong.”
“Gue gak suka aja sikap lo ama mereka, apalagi ama si Shane itu, apa jangan-jangan lo suka ama dia?”
Mendadak Orlando memberhentikan motornya. “Kok lo ngomong gitu? Ya, wajar dong gue deket ama mereka, kita ini seusia, dan gue juga deket ama si Adam, gak cuman si Shane aja, lo cemburu gue deket ama si Shane?”
“Ya iyalah, keliatan banget kalau lo cari muka di depan cowo itu, gue nyadar, kok, apalagi emang dia ganteng, badannya bagus gak kaya gue.”
“Hey, sayang, gue gak pernah mempermasalahkan bentuk tubuh orang, mau badannya bagus, atau nggak, gue gak peduli, asalkan dia sayang sama gue dan gue juga sayang ama dia, udah, cukup,” terangnya kemudian kembali menyalakan mesin  motornya, “gue nanya ama lo, lo sayang gak ama gue?” tanya Orlando.
“Ya jelas gue sayang ama lo, kalo nggak ngapain gue jadian sama lo.”
“Ya udah, beres masalahnya, gue juga sayang sama lo, dan cuman lo!”
Diam-diam Keanu tersenyum kemudian di dekapnya tubuh Orlando sesaat.
Setelah selesai makan siang bersama mereka kembali ke sekolah.
“Bapak-ibu guru, tugasnya udah beres belum?”
“Belum,” ujar guru-guru serentak.
“Takut kesorean, mendingan dilanjut di rumah aja, ya. Tapi, besok pagi harus udah di kompulin di saya.”
Semua guru sepakat.
“Kayaknya kita nginep di rumah kalian sekarang aja, deh, soalnya tugas ini masih banyak, kalau ngerjain sendiri-sendiri pasti gak akan bener, gimana? Tanya Orlando.
“Ok aja kalau gue, Keanu gimana?” tanya Adam.
Ia menatap Adam, kemudian menatap Orlando memberi isyarat. Akhirnya ia kembali menatap Keanu. “Ok.”
“Ok, clear, ya? Lo mau bareng baliknya atau gimana? Tanya Adam lagi.
“Kayanya kita balik dulu, deh, mau mandi, ganti baju juga.”
“Sekalian aja malam ini sambil barbeque, kan, asyik, tuh, jadinya gak akan boring, oh, ya, rumah kita di alamat ini,” ujar Shane memberi tahu.
“Bener banget, kebetulan kita udah belanja juga.”
“Patungan?”
Adam tertawa, “gak usah, nyantai aja, gue udah siapin semuanya, kok.”
“Wah asik, dong, jadi kita gak usah ngeluarin duit, hehehe...”
Keanu menyikut lengan Orlando, “keliatan banget sih, pelitnya?”
Seketika semuanya tertawa.
Malamnya.
Ting Tong
Suara bel berbunyi.
Kemudian tak lama Adam membukanya.
“Halo, ayo, masuk.”
Orlando menatap rumah Adam dengan seksama, “bagus bener rumah lo, Dam.”
“Hahaha.. biasa aja kali, oh, ya, kita ngerjainnya di atap rumah gue, ya, tuh si Shane lagi nyiapin barbeque nya.” Akhirnya mereka menuju atap rumah.
“Wih, keren banget nih, atap, luas!” terang Lando, “gue bakalan betah tinggal di sini, nih.”
Setelah itu mereka langsung mengerjakan tugas, Adam dan Keanu mengerjakan tugas, sedangkan Orlando dan Shane sibuk memanggang.
“Hei! Bantuin kita juga kali, jangan karna kebagian masak jadi nggak ngebantuin, ini kan kerjaan bareng-bareng!” ketus Keanu kesal melihat Shane dan Orlando tertawa terbahak-bahak.
“Iya kanjeng ratu,” ujar Lando menghampiri mereka.
Setelah selesai barbeque dan tugas sudah selesai mereka berbincang-bincang mengenai diri mereka, tentang kuliah, tentang keluarga  dan tentang hubungan. Meskipun mereka berempat kompak, tapi di antara empat orang itu hanya Keanu yang paling diam, ia hanya sedikit bercerita dan setelahnya asik dengan dunianya bersama laptop milik Adam, ia membuka-buka file Adam, masuk ke lokal disk E, tak ada yang aneh, kemudian ke lokal disk D, tak ada yang aneh, hingga kemudian ia membuka file di lokal di C, ada file yang di hidden, kebetulan Keanu cukup tahu cara membuka file tersebut, dan, akhirnya terbukalah semua file milik Adam, ada beberapa foto dia bersama keluarga, teman kuliah, dan ada satu file yang menarik perhatiannya, di sana tertulis file ‘Me and my Love” ketika ia membuka file tersebut, deh! Kini ia tahu meskipun sebelumnya ia sudah menyangka, bahwa Adam ada sesuatu dengan Shane, dan dugaannya itu terbukti, banyak sekali foto-foto mesra mereka, entah itu di kamar, di ataupun di tempat lain. Keanu memicingkan mata, menatap Adam sesaat dan menyimpan laptop itu agar Adam dan Shane tidak curiga.
“Hei, Ken, kita mau maen game, lo ikut gak?” tanya Lando.
“Game apaan,” tanya Keanu menghampiri mereka.
“Truth or dare, gimana?”
Seketika ia tersenyum, “boleh.”
Mereka berkumpul mengelilingi meja bulat panjang, ditengah-tengah di simpan botol air minum bekas, “peraturannya simpel banget,” kata Lando menyampaikan, “kita putar botol ini, kemudian ketika botol ini berhenti dan menunjuk ke arah kalian atau gue, kalian bertiga berhak mengajukan pertanyaan, atau tantangan, tergantung apa yang kalian ambil, setuju?”
Semuanya nampak setuju tapi terlihat gugup.
“Ok, kita mulai, ya?” tanya Orlando.
Seketika juga botol itu di putar, mereka semua berharap agar mereka tidak terpilih dalam permainan ini. Namun rupanya keberuntungan belum memhampiri Shane, sehingga ia harus memilih.
“Truth or dare?” tanya Orlando.
Shane nampak bimbang, “kalau gue pilih dare, pasti kalian bakalan ngerjain gue abis-abisan, hm, kalau truth....ok, gue truth aja,” ujarnya yakin.
“Ok, Shane udah pilih truth, siapa yang mau nanya duluan?” semuanya masih nampak berpikir, “ya udah gue aja dulu, ya?” Orlando nampak berpikir. “Lo udah punya pacar belum?”
Shane tersenyum, “langsung aja gue jawab, ya, udah!”
“Siapa?” tanya Orlando lagi.
“Eh, kan lo tadi nanyanya cuman satu aja, gak bisa nambah dong!”
“Ken, lo nanya yang sama aja kaya gue tadi, Ken?” paksa Orlando.
Keanu menggeleng, “nggak ah, gue punya pertanyaan sendiri,” ia diam sejenak, “apa pacar lo ikut penataran juga? Jawab yes or no aja,” pancing Keanu.
Shane nampak gugup, kemudian ia mencoba rileks, “iya.”
Kemudian Shane menatap Adam, dari tadi Adam diam saja, kemudian ia menatap ke arah Shane, “apa warna celana dalem lo?” tanya Adam pura-pura.
“Yaelah, kok pertanyaan lo gitu banget sih?” bentak Orlando.
Shane tersenyum, “itu aja, kan? Merah, celana dalem gue merah!”
“Ah, gak asik, lo kan satu rumah sama si Shane jadi pasti taulah bentuk dan motifnya kaya gimana, jangan pertanyaan yang gitu, deh.”
“Iya, iya, maaf.”
Kemudian botol kembali di putar, dan rupanya kini botol menunjuk ke arah Orlando.
“Ok, truth or dare?” tanya Shane.
“Pastinya, dare dong!”
Shane tersenyum, “gue yang pertama kali nanya, ya?” pinta Shane kepada yang lain. “gue minta lo cium salah satu dari kita bertiga, tapi cium bibir, terserah siapa aja,” ujar Shane sambil memicingkan mata.
Orlando nampak bingung, matanya menatap ke arah tiga temannya itu, “ah, gila nih permintaan lo, jangan itulah,” pinta Orlando.
“Gak bisa nolak, inget, truth or dare, kan lo yang pengen maen ginian.”
“Oh, shit!” ia menatap Keanu, anak itu diam saja, ia menatap Adam, Adam langsung menggeleng kemudian menatap Shane, ia ikut menggeleng. “Ok, tapi jangan pada horny, ya.... ah, sial kok gue dek-dekan ya?” ia memegang kepalanya, gue pilih....Adam!” Keanu langsung menatap Orlando terkejut.
“Jangan gue!” bentak Adam.
“Gak bisa, Dam, ini udah peraturan,” ujar Shane. Adam memicingkan mata kepada Shane dibalas dengan senyum simpul oleh Shane.
Kemudian Orlando mendekat, Adam nampak bertingkah tak keruan, kini wajah mereka semakin dekat, dekat, dekat, dan... akhirnya Orlando mencium bibir Adam dengan lembut, awalnya Adam sempat menolak, tapi akhirnya menerima dengan terpaksa, satu detik, dua detik, tiga detik, Orlando melepaskan ciumannya.
“Beuh, hot banget tuh ciuman, hahaa...” ujar Shane nampak puas.
Adam menunduk kemudian mengelap bibirnya sendiri.
“Ayo, siapa lagi yang nantangin gue?” tantang Orlando.
Adam berbicara kemudian. “Gue, sekarang gue minta lo cium Shane, kalau tadi, kan permintaan Shane ke tiga orang, kalau gue minta lo cium Shane sekarang,” balas Adam. Shane nampak terkejut.
Orlando tanpa berpikir panjang dan tanpa memedulikan perasaan Keanu langsung mencium Shane, di sana jelas terlihat kalau Orlando nampak sedikit lebih bernafsu dengan ciuman itu, Adam dan Keanu hanya menatap terkejut. Setelah ciuman di lepaskan Orlando nampak bingung.
“Kenapa? Kok diem gitu?”
“Ah, em, nggak, Keanu, sekarang giliran lo,” alih Adam.
Keanu diam, “gue minta lo cium gue!” semuanya terkejut dengan ucapan Keanu, ia benar-benar berani mengambil keputusan itu. “Kenapa, kok, pada kaget, ya, gue kan pengen juga ngerasain ciuman sama cowo, lo semua kan udah di cium ama si Lando, tinggal gue!” ucapnya yakin.
Orlando mendekatkan kepalanya ke Keanu, pelan-pelan namun pasti, akhirnya mereka berciuman, tanpa sadar Keanu memegang kepala Orlando dan ketika Orlando sadar ia melepaskan ciuman.
Semuanya nampak terlihat canggung.
“Em, ya udah, lanjut aja, ya?” ucap Orlando gugup seraya memutarkan botol.
Botol berhenti di depan tubuh Keanu.
“Siapa yang mau nanya duluan? Tanya Lando.
“Gue,” kata Adam. “Truth or dare?”
“Truth.”
“Ok, udah berapa kali lo ciuman sama Orlando?”
Orlando nampak terkejut. Keanu menunduk sejenak kemudian menatap Adam.
“Gue gak tau, sering, gak keitung!”
Adam mengangguk, “udah gue duga, ayo, siapa lagi yang mau nanya?”
Shane menatap keaneh diantara mereka semua, “loh, kok, jadi serius gini, ok, sekarang gue yang nanya, ya? Lo udah berapa kali pacaran?”
“Sekali dan masih sampe sekarang,” ucap Keanu tenang.
“De...dengan siapa?” tanya Orlando.
Keanu menatap Orlando sinis, “lo, gue pacaran sama lo!”
Niat hati membuat suasana menjadi tak canggung lagi, apa daya malah semakin canggung bahkan terlihat nada-nada emosi dari Keanu. Adam masih diam tak berkata apa-apa.
Dan, kesekian kalinya botol di putar, kini semua mendapatkan bagian. Adam.
Adam tanpa diminta langsung menjawab, “dare!” ia tahu, pasti pertanyaan-pertanyaan serupa akan terlontar dari mulut Keanu atau Orlando, untuk mengantisipasi ia langsung menjawab dare.
Orlando berpikir, “gue minta lo menari di hadapan kita selama lima menit, tarian striptis.”
“Anjir, gue gak bisa, ehm.. ok deh.”
Orlando menyalakan musik, kemudian ketika musik mulai ia langsung menari.
“Wait,” ujar Keanu. “Sekalian sama gue, ya? Gue minta lo buka semua baju lo ketika nari itu, tanpa terkecuali!”
Glek!
Adam nampak kesal, tapi permainan tetaplah permainan, ia menuruti semua perintah mereka.
Musik kembali berdentum, Adam menari dengan erotis, perlahan-lahan bajunya di buka, Shane nampak tak tega melihat Adam diperlakukan seperti itu, ia tak berani menatap Adam. Keanu nampak senang.
Baju kini sudah ditanggalkan, sekarang ia sedang mencoba membuka celananya, perlahan tapi pasti, celana itu terbuka dan kini ia hanya tinggal mengenakan celana dalam, Keanu menunjuk ke arah celana dalam Adam tanda agar ia membuka celana dalamnya juga. Adam kesal, tapi ia mencoba menahan.
Beberapa senti celana dalam itu dibukanya, Orlando tanpa sadar memperhatikan dan sedikit terangsang, Keanu senyum-senyum sendiri dan Shane, ia benar-benar tak melihat adegan itu.
Sekarang Adam sudah menanggalkan semua pakaiannya, ia telanjang bulat dihadapan ketiga temannya. Lima menit telah berlalu, kini ia kembali memakai bajunya.
“Masih lanjut?” tanya Orlando.
“Em, kayaknya gue udah ngantuk,” ujar Shane berdiri.
“Lo ngantuk apa lo takut kejadian yang sama menimpa lo?” tanya Keanu ketus.
“Gue gak suka maen kaya gini, norak tau gak!”
“Udahlah gak usah boong, gue tau kalian, kalian pacaran juga kan, sama kaya gue dan Orlando.”
“Kean, apa-apaan sih lo?” bentak Orlando.
“Kalau ia emang kenapa?” jawab Adam langsung.
“Coba kalau lo ngomong dari awal, pasti gak akan kaya gini akhirnya,” ujar Keanu lagi, kali ini ia benar-benar tak seperti Keanu biasanya, lebih berani. Ia menatap Orlando, “gue mau pulang, aja, thanks buat makan malamnya.”
Ia berdiri dan dilihatnya Orlando masih terdiam, “sayang, lo gak mau pulang?”
Orlando menatapnya kesal.
“Ya udah gue bisa pulang sendiri, kok.” Keanu bergegas mengambil barang-barangnya kemudian pergi meninggalkan mereka yang gugup penuh dengan kebingungan.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel 4 Sexy Teacher 4 ini dipublish oleh Unknown pada hari 27 Januari 2015. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan 4 Sexy Teacher 4
 

0 komentar:

Posting Komentar