Satu
bulan telah berlalu, kini aku menetapkan untuk meninggalkan kota Cikarang dan
bekerja di kota Bandung. Mengubur semua kenangan buruk tentang Anna dan semua
peristiwa yang terjadi sebulan lalu. Memang sungguh menyakitkan ketika akhirnya
aku harus memergoki Anna sedang berkencan dengan si Joko bodoh itu, dan
hubunganku kini memang benar-benar sudah berakhir.
Aku
adalah karyawan baru di perusahaan IT yang lebih besar, gajinyapun lebih
memungkinkan untuk hidupku. Ini adalah hari pertamaku bekerja, aku harus
membiasakan diri dengan lingkungan dan keadaan yang berbeda.
Ini
meja kerjaku, dengan sekat-sekat yang menempel menghubungkan karyawan satu
dengan yang lainnya. Rupanya mereka sangat walcome kepadaku, banyak sekali
gadis-gadis yang mencoba mendekatiku, tapi lukaku masih belum sembuh, sakitku
masih terasa dan hatiku masih belum bisa terbuka untuk siapapun saat ini.
“Ger,
kita makan siang, yuk?” tanya salah seorang pria bertubuh sedikit tambun dengan
jenggot yang agak lebat, usianya masih sama denganku, tetapi dia lebih terlihat
tua dibandingkan aku. Inilah karuniaku dari Tuhan kepadaku, berkat wajah
tampan, aku menjadi lebih mudah diterima di lingkungan baru.
“Wait,
... ok, ayo,” kataku sambil berdiri.
Kami
pun pergi ke sebuah restoran kecil dekat dengan perusahaanku. Aku berkenalan
dengan teman dari pria tambun yang bernama Oki ini, ada Hurip, Alatas, Rudi,
dan Tedi. Mereka sangat baik dan humoris, aku tak henti-hentinya tertawa dengan
mereka. Ah, aku pikir beberapa minggu kedepan nanti aku akan bisa melupakan
kenangan buruk itu.
“Lo
harus bertemu si Lukman, dia anak paling ngocol diantara kami, kamu pasti
senang kepadanya,” kata Rudi. “Eh, tapi hati-hati, biarpun dia lucu dan
ganteng, dia itu gay. Jadi jangan sampai deh lo terlalu dekat dengannya, bisa-bisa
nanti lo ketularan gay-nya, mhm, atau mungkin lo juga gay?”
Aku
mengkerutkan alisku. “Idih, gay? Najis! Gue normal keles cin,” kataku bercanda.
Sebenarnya mendengar kata-kata gay membuatku risih, walau dulu aku menikmati
bercinta dengan laki-laki, tapi aku yakin hatiku masih suka dengan perempuan.
“Yah,
siapa tahu aja, setelah lo ketemu si Lukman ini orientasi lo ikutan berubah,
tapi tenang aja, kita nerimain, kok. Mau lo gay atau normal sekalipun, kita
bakalan tetep mau jadi temen lo.” Rudi menepuk-nepuk punggungku.
“Emangnya
si Lukman ke mana?” tanyaku.
“Udah
seminggu ini dia cuti, katanya, sih, hari ini mau masuk, tapi sampe sekarang
batang idungnya masih belom nongol juga, tuh anak.” Tedi menjelaskan. Aku
mengangguk-angguk.
&&&
Keesokan
harinya aku benar-benar disibukan dengan pekerjaan baru dan masalah baru, nah,
inilah pekerjaan, kalau pekerjaan berjalan lancar-lancar saja, namanya bukan
hidup, batinku.
“Ger,
cabut, yuk?” ajak Rudi.
“Duluan
aja deh, nanggung nih,” kataku.
“Yaudah
gue bantuin, Ki, lo ama temen yang lain duluan aja, nanti kita nyusul,” pinta
Rudi kepada Oki. Oki menuruti dan segera pergi dari sana.
Setengah
jam kemudian aku telah selesai dengan dibantu oleh Rudi kemudian kami pergi
istirahat di tempat teman-teman yang lain berkumpul. Aku dan Rudi berjalan ke
tempat mereka duduk, dan ketika sampai mataku terbelalak, emosiku semakin naik.
“Hei
Ger, nah, ini si Lukman yang kita maksud, bagaimana, gantengkan? Tapi awas, dia
gay, hahaha...”
Aku
menatap Lukman yang mereka maksud, ia tersenyum hambar, kemudian tak berani
menatapku karena malu, aku duduk di samping Oki dan terus menatapnya. Melihat
keanehan pada Lukman yang tak seceria biasanya, Oki pun bertanya.
“Oy,
Luke, kenapa lo diem aja? Biasanya, kan paling rame, apa jangan-jangan lo suka,
ya, sama si Gery?”
“Ah,
lo, bikin gosip aja, nggak lah, bukan tipe gue dia!”
Cuih!
Bukan tipe? Terus kemarin mengapa kamu sangat menikmati, huh! Benakku kesal
dalam hati.
“Hahaha...
bukan tipe, terus tipe lo itu yang kayak gimana? Kalau lo kebanyakan milih yang
ada nanti lo gak akan laku-laku, masa udah gak laku sama cewe eh sekarang sama
cowok juga gak laku, kasian amat, sih, lo Lukman,” olok Oki.
“Heh,
gentong! Enak aja, ya, lo ngomong, gue udah punya cowok, kok!”
“Beneran?
Coba mana fotonya?”
Lukman
terdiam.
“Hei
Lukman, bener apa yang dikatakan sama si Oki, lo jadi gay jangan terlalu
milih-milihlah coba terima kekurangan pasangan lo, ya, sebenernya sama aja
kayak lo suka sama cewek, karena manusia itu gak ada yang sempurna,” Alatas
membenarkan.
Rasanya
gatal tangan ini setiap kali melihat Lukman, ingin rasanya aku membuatnya babak
belur. Kalau bisa sampai dia mati.
Sore
sehabis pulang kerja, teman-teman mengajakku untuk nongkrok di sebuah kafe di
daerah dago atas. Kami menghabiskan malam minggu dan sampai saat ini masih
terlihat canggung. Sekarang sudah menginjak pukul sebelas malam, kami berencana
pulang masing-masing, Oki dan Hurip izin pulang duluan untuk berpacaran dengan
pacarnya, kini tinggal kami berempat saja di sana dan berniat untuk pulang.
“Eh,
kita nginep aja, yuk, di rumahnya Lukman, gimana Luke, boleh gak?”
Ia
menatapku ragu.
“Kenapa
di tempatku?” katanya gugup.
“Kan,
biasanya memang suka kumpul di rumah lo, gimana, sih, ya, sekalian kita
merayakan bertambahnya member di genk kita ini, yak kan guys?” semuanya
mengangguk. Aku tersenyum sinis sambil meminum kopi hangat pesananku.
Akhirnya
dengan desakan sana-sini kamipun pergi ke rumah Lukman. Rumahnya cukup besar
dan dia tinggal seorang diri, orang tuanya tinggal di Makasar, aku tahu semua
ini dari Rudi ketika dalam diperjalanan.
“Yuk
kita tanding main pes, bagaimana?” tanya Alatas.
“Ehm,
kalian aja deh, gue mau mandi dulu,” ujar Lukman.
“Kalo
lo Ger, mau ikutan gak?”
Aku
menggeleng. “Gak, gue gak bisa maen pes bola.”
“Jiahaha,
hari gini gak bisa maen pes? Parah lo, Ger.”
“Biarin,
gue sukanya maenin cewek, sih.”
“Bisa
aja lo, tuh maenin si Luke, dia, kan, cewek satu-satunya di sini.”
“Sial,”
umpat Lukman sambil melemparkan bantal ke Alatas. Kemudian ia pun hilang ke
dalam kamar mandi.
Rencananya
kita akan begadang sampai pagi, namun ucapan tinggallah ucapan, semuanya
kecuali aku, sudah sibuk dengan mimpinya masing-masing.
Entah
mengapa aku masih saja tidak bisa memejamkan mata disaat yang lain sudah
terlelap tidur, aku masih kesal sebenarnya dengan perbuatan Luke. Aku
melihatnya keluar dari kamar ketika waktu sudah menunjukan pukul tiga pagi. Ia
mengenakan celana kolor dengan singlet tipis yang mencetak bagian tubuhnya.
Entah mengapa melihat tubuhnya tiba-tiba aku menjadi sedikit berkeringat dan
burungku mulai menegang. Apa jangan-jangan aku gay? Batinku bergemuruh.
Ia
tak menyadariku masih terjaga ketika ia masuk ke dalam kamar mandi. Kini aku
mengikutinya, kulihat pintu kamar mandi tak ia tutup rapat, dari luar aku bisa
melihat kakinya. Setan sudah merasukiku, kini akal sehatku kembali hilang.
Langsung saja aku dobrak pintu kamar mandi, ketika ia sudah selesai menyiram
urinnya.
“Gery,
mau apa lo?” tanya Lukman terkejut.
Tanpa
menjawab pertanyaan Lukman, aku langsung menghajarnya, ia ambruk dan jatuh,
kemudian aku membuka celanaku. “Isap! Ayo isap penis gue!” paksaku.
Lukman
menolat tapi ku tekan bibirnya sehingga terbuka. “Ah, uh, ini kan yang lo mau?
Lo suka penis gue, kan? Ayo terus isap!” paksaku.
Ia
dengan terpaksa mengulum penisku maju mundur, terus, hingga aku menekan semua
batang penisku ke dalam mulutnya sampai-sampai ia hampir saja muntah. Kemudian
aku menarik bajunya dan menyuruhnya berbalik aku tekan ia di dinding kamar
mandi, lalu ku buka celananya, tanpa basa-basi dan tanpa izin dari Lukman,
kumasukan penisku ke dalam anusnya.
“Argh!
Sakit Ger, pelan-pelan!”
Kemudian
aku membungkam mulutnya dan terus menggenjot batang penisku masuk ke dalam
anusnya.
“Ah,
oh, umh, ah, ini, ini... kan, yang lo inginkan, huh? Nikmat, kan?” ucapku
tersenggal-senggal sambil terus semangat menggenjot penisku.
Plop
plop plop plop
Dalam
hitungan detik dengan genjotan yang semakin kencang aku mengeluarkan lahar
hangat di dalam anusnya.
Crot
crot crot
Nafasku
tersenggal-senggal, Lukman ambuk terduduk di bawah sementara aku kembali
membetulkan celanaku dan menatapnya sinis.
“Itu,
kan yang lo mau, homo!” kataku sambil memegang pipinya dan kuludahi. Aku pun
pergi meninggalkannya yang masih diam di sana dan pergi dari rumah itu.


0 komentar:
Posting Komentar