Love of Enemy 3



Satu bulan telah berlalu, kini aku menetapkan untuk meninggalkan kota Cikarang dan bekerja di kota Bandung. Mengubur semua kenangan buruk tentang Anna dan semua peristiwa yang terjadi sebulan lalu. Memang sungguh menyakitkan ketika akhirnya aku harus memergoki Anna sedang berkencan dengan si Joko bodoh itu, dan hubunganku kini memang benar-benar sudah berakhir.

Aku adalah karyawan baru di perusahaan IT yang lebih besar, gajinyapun lebih memungkinkan untuk hidupku. Ini adalah hari pertamaku bekerja, aku harus membiasakan diri dengan lingkungan dan keadaan yang berbeda.
Ini meja kerjaku, dengan sekat-sekat yang menempel menghubungkan karyawan satu dengan yang lainnya. Rupanya mereka sangat walcome kepadaku, banyak sekali gadis-gadis yang mencoba mendekatiku, tapi lukaku masih belum sembuh, sakitku masih terasa dan hatiku masih belum bisa terbuka untuk siapapun saat ini.
“Ger, kita makan siang, yuk?” tanya salah seorang pria bertubuh sedikit tambun dengan jenggot yang agak lebat, usianya masih sama denganku, tetapi dia lebih terlihat tua dibandingkan aku. Inilah karuniaku dari Tuhan kepadaku, berkat wajah tampan, aku menjadi lebih mudah diterima di lingkungan baru.
“Wait, ... ok, ayo,” kataku sambil berdiri.
Kami pun pergi ke sebuah restoran kecil dekat dengan perusahaanku. Aku berkenalan dengan teman dari pria tambun yang bernama Oki ini, ada Hurip, Alatas, Rudi, dan Tedi. Mereka sangat baik dan humoris, aku tak henti-hentinya tertawa dengan mereka. Ah, aku pikir beberapa minggu kedepan nanti aku akan bisa melupakan kenangan buruk itu.
“Lo harus bertemu si Lukman, dia anak paling ngocol diantara kami, kamu pasti senang kepadanya,” kata Rudi. “Eh, tapi hati-hati, biarpun dia lucu dan ganteng, dia itu gay. Jadi jangan sampai deh lo terlalu dekat dengannya, bisa-bisa nanti lo ketularan gay-nya, mhm, atau mungkin lo juga gay?”
Aku mengkerutkan alisku. “Idih, gay? Najis! Gue normal keles cin,” kataku bercanda. Sebenarnya mendengar kata-kata gay membuatku risih, walau dulu aku menikmati bercinta dengan laki-laki, tapi aku yakin hatiku masih suka dengan perempuan.
“Yah, siapa tahu aja, setelah lo ketemu si Lukman ini orientasi lo ikutan berubah, tapi tenang aja, kita nerimain, kok. Mau lo gay atau normal sekalipun, kita bakalan tetep mau jadi temen lo.” Rudi menepuk-nepuk punggungku.
“Emangnya si Lukman ke mana?” tanyaku.
“Udah seminggu ini dia cuti, katanya, sih, hari ini mau masuk, tapi sampe sekarang batang idungnya masih belom nongol juga, tuh anak.” Tedi menjelaskan. Aku mengangguk-angguk.
&&&
Keesokan harinya aku benar-benar disibukan dengan pekerjaan baru dan masalah baru, nah, inilah pekerjaan, kalau pekerjaan berjalan lancar-lancar saja, namanya bukan hidup, batinku.
“Ger, cabut, yuk?” ajak Rudi.
“Duluan aja deh, nanggung nih,” kataku.
“Yaudah gue bantuin, Ki, lo ama temen yang lain duluan aja, nanti kita nyusul,” pinta Rudi kepada Oki. Oki menuruti dan segera pergi dari sana.
Setengah jam kemudian aku telah selesai dengan dibantu oleh Rudi kemudian kami pergi istirahat di tempat teman-teman yang lain berkumpul. Aku dan Rudi berjalan ke tempat mereka duduk, dan ketika sampai mataku terbelalak, emosiku semakin naik.
“Hei Ger, nah, ini si Lukman yang kita maksud, bagaimana, gantengkan? Tapi awas, dia gay, hahaha...”
Aku menatap Lukman yang mereka maksud, ia tersenyum hambar, kemudian tak berani menatapku karena malu, aku duduk di samping Oki dan terus menatapnya. Melihat keanehan pada Lukman yang tak seceria biasanya, Oki pun bertanya.
“Oy, Luke, kenapa lo diem aja? Biasanya, kan paling rame, apa jangan-jangan lo suka, ya, sama si Gery?”
“Ah, lo, bikin gosip aja, nggak lah, bukan tipe gue dia!”
Cuih! Bukan tipe? Terus kemarin mengapa kamu sangat menikmati, huh! Benakku kesal dalam hati.
“Hahaha... bukan tipe, terus tipe lo itu yang kayak gimana? Kalau lo kebanyakan milih yang ada nanti lo gak akan laku-laku, masa udah gak laku sama cewe eh sekarang sama cowok juga gak laku, kasian amat, sih, lo Lukman,” olok Oki.
“Heh, gentong! Enak aja, ya, lo ngomong, gue udah punya cowok, kok!”
“Beneran? Coba mana fotonya?”
Lukman terdiam.
“Hei Lukman, bener apa yang dikatakan sama si Oki, lo jadi gay jangan terlalu milih-milihlah coba terima kekurangan pasangan lo, ya, sebenernya sama aja kayak lo suka sama cewek, karena manusia itu gak ada yang sempurna,” Alatas membenarkan.
Rasanya gatal tangan ini setiap kali melihat Lukman, ingin rasanya aku membuatnya babak belur. Kalau bisa sampai dia mati.
Sore sehabis pulang kerja, teman-teman mengajakku untuk nongkrok di sebuah kafe di daerah dago atas. Kami menghabiskan malam minggu dan sampai saat ini masih terlihat canggung. Sekarang sudah menginjak pukul sebelas malam, kami berencana pulang masing-masing, Oki dan Hurip izin pulang duluan untuk berpacaran dengan pacarnya, kini tinggal kami berempat saja di sana dan berniat untuk pulang.
“Eh, kita nginep aja, yuk, di rumahnya Lukman, gimana Luke, boleh gak?”
Ia menatapku ragu.
“Kenapa di tempatku?” katanya gugup.
“Kan, biasanya memang suka kumpul di rumah lo, gimana, sih, ya, sekalian kita merayakan bertambahnya member di genk kita ini, yak kan guys?” semuanya mengangguk. Aku tersenyum sinis sambil meminum kopi hangat pesananku.
Akhirnya dengan desakan sana-sini kamipun pergi ke rumah Lukman. Rumahnya cukup besar dan dia tinggal seorang diri, orang tuanya tinggal di Makasar, aku tahu semua ini dari Rudi ketika dalam diperjalanan.
“Yuk kita tanding main pes, bagaimana?” tanya Alatas.
“Ehm, kalian aja deh, gue mau mandi dulu,” ujar Lukman.
“Kalo lo Ger, mau ikutan gak?”
Aku menggeleng. “Gak, gue gak bisa maen pes bola.”
“Jiahaha, hari gini gak bisa maen pes? Parah lo, Ger.”
“Biarin, gue sukanya maenin cewek, sih.”
“Bisa aja lo, tuh maenin si Luke, dia, kan, cewek satu-satunya di sini.”
“Sial,” umpat Lukman sambil melemparkan bantal ke Alatas. Kemudian ia pun hilang ke dalam kamar mandi.
Rencananya kita akan begadang sampai pagi, namun ucapan tinggallah ucapan, semuanya kecuali aku, sudah sibuk dengan mimpinya masing-masing.
Entah mengapa aku masih saja tidak bisa memejamkan mata disaat yang lain sudah terlelap tidur, aku masih kesal sebenarnya dengan perbuatan Luke. Aku melihatnya keluar dari kamar ketika waktu sudah menunjukan pukul tiga pagi. Ia mengenakan celana kolor dengan singlet tipis yang mencetak bagian tubuhnya. Entah mengapa melihat tubuhnya tiba-tiba aku menjadi sedikit berkeringat dan burungku mulai menegang. Apa jangan-jangan aku gay? Batinku bergemuruh.
Ia tak menyadariku masih terjaga ketika ia masuk ke dalam kamar mandi. Kini aku mengikutinya, kulihat pintu kamar mandi tak ia tutup rapat, dari luar aku bisa melihat kakinya. Setan sudah merasukiku, kini akal sehatku kembali hilang. Langsung saja aku dobrak pintu kamar mandi, ketika ia sudah selesai menyiram urinnya.
“Gery, mau apa lo?” tanya Lukman terkejut.
Tanpa menjawab pertanyaan Lukman, aku langsung menghajarnya, ia ambruk dan jatuh, kemudian aku membuka celanaku. “Isap! Ayo isap penis gue!” paksaku.
Lukman menolat tapi ku tekan bibirnya sehingga terbuka. “Ah, uh, ini kan yang lo mau? Lo suka penis gue, kan? Ayo terus isap!” paksaku.
Ia dengan terpaksa mengulum penisku maju mundur, terus, hingga aku menekan semua batang penisku ke dalam mulutnya sampai-sampai ia hampir saja muntah. Kemudian aku menarik bajunya dan menyuruhnya berbalik aku tekan ia di dinding kamar mandi, lalu ku buka celananya, tanpa basa-basi dan tanpa izin dari Lukman, kumasukan penisku ke dalam anusnya.
“Argh! Sakit Ger, pelan-pelan!”
Kemudian aku membungkam mulutnya dan terus menggenjot batang penisku masuk ke dalam anusnya.
“Ah, oh, umh, ah, ini, ini... kan, yang lo inginkan, huh? Nikmat, kan?” ucapku tersenggal-senggal sambil terus semangat menggenjot penisku.
Plop plop plop plop
Dalam hitungan detik dengan genjotan yang semakin kencang aku mengeluarkan lahar hangat di dalam anusnya.
Crot crot crot
Nafasku tersenggal-senggal, Lukman ambuk terduduk di bawah sementara aku kembali membetulkan celanaku dan menatapnya sinis.
“Itu, kan yang lo mau, homo!” kataku sambil memegang pipinya dan kuludahi. Aku pun pergi meninggalkannya yang masih diam di sana dan pergi dari rumah itu.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Love of Enemy 3 ini dipublish oleh Unknown pada hari 23 Desember 2014. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Love of Enemy 3
 

0 komentar:

Posting Komentar