Malam
ini teman-temanku menginap di sini, katanya mereka khawatir bila meninggalkanku
sendiri di kontrakan. Tadi sore Luke datang, dan aku mencoba untuk bersikap
biasa kepadanya, dia pun bersikap sama, seolah kami tak sedang memiliki
masalah. Mengingat ucapan Alatas, aku menjadi sedikit senang mendengar kalau
Luke ternyata sangat peduli kepadaku.
“Belum
tidur?” tanya Luke ketika dilihatnya aku masih terjaga.
Aku
menggeleng dan bangkit untuk duduk.
“Gue
seneng lo gak apa-apa. Kita semua panik pas tau lo ilang, malah gue sempet
berpikir kalau lo di....”
“Bunuh?”
Luke
mengangguk. “Maaf, ya, kalau selama ini gue salah. Gue janji gak akan bikin lo
jengkel atau apapun yang membuat lo kesal sama gue.”
“Gue
juga minta maaf, Luke, gue terlalu egois, gue terlalu mementingkan kenikmatan
gue tanpa memedulikan lo. Mungkin gue... mungkin gue juga suka sama lo, tapi
gue gak bisa nerimain tentang ini dan gak ingin ngejalanin hubungan kayak gini,
lo ngerti, kan maksud gue?”
Luke
tersenyum, matanya berkaca-kaca.
“Gue
ngerti kok, tanpa lo bilang gitu gue udah sayang banget sama lo, walaupun
sekarang gue udah punya yang lain, tapi gak bisa dipungkiri kalau gue masih
suka sama lo dan itu gak akan pernah berubah.” Akhirnya air matanya tak dapat
dibendung lagi, ia pun menangis, aku mendekatinya dan mengusap air matanya.
Akupun memberanikan diri untuk mencium bibirnya.
“Akhirnya...”
ujar Alatas mengagetkanku.
Sontak
aku menghentikan ciuman ini dan aku menjadi salah tingkah, begitupun dengan
Luke.
“Sstt...
jangan berisik, nanti yang lain bangun!” hardikku kepada Alatas.
Ia
mengacungkan jempolnya dan tersenyum kepada kami.
&&&
Walaupun
aku dengan Luke semakin dekat, tapi sampai saat ini kami masih berstatus teman,
aku tak bisa bilang apa-apa tentang masalahku dengan Yudha, dan aku tak berniat
untuk membicarakan dengan siapapun, mungkin rahasia ini harus aku simpan
sendiri.
Sudah
dua hari ini aku bekerja, tugas menumpuk sangat banyak karena aku tinggalkan
lama. Meskipun bosku tahu kalau aku sempat di culik, namun ia tak mentolelir masalah
pekerjaan, untungnya teman-temanku pengertian, sedikit-sedikit mereka
membantuku.
Tiba-tiba
ponselku berbunyi, sebuah pesan masuk, Adi. Wah, sudah lama sekali aku tak
berbuhungan dengannya, apa kabarnya dia sekarang, ya? Batinku senang.
Hallo
Ger, apa kabar? Sombong amat sih, sampe gak ada kabar?
Aku
tersenyum membaca pesan darinya.
Gue
baik, sorry, kemaren2 gue sibuk banget, oh, ya, lo sendiri gimana? Baik?
Tak
lama ada balasan lagi darinya
Gue
kira lo udah lupa sama gue, bagus deh kalau lo sehat, eh, kita ketemuan, yuk?
Ayook,
di mana?
Posisi
lo sekarang di mana? Biar gue jemput lo.
Gue
masih di kantor, yaudah gue tunggu, ya?
Setelah
bertegur sapa dengan Adi lewat SMS akhirnya kami niat bertemu, ia menjemputku
tepat di depan kantor.
“Hi,
apa kabar?” tanya Adi kepadaku.
“Baik...”
Kemudian
aku masuk ke dalam mobilnya. “Mau kemana kita?”
“Sebenernya
gue lagi males kemana-mana, sih, kita ke rumah gue aja yuk?”
Aku
terperanjat mendengarnya, “ke rumah lo? Gila, malu ah gue, pasti ada nyokap
bokap lo ya?”
“Nyantai
aja sih, lah gue cuman tinggal sama keponakan gue doang, kok.”
Aku
mengangguk. “Keponakan lo cewek?”
“Kalau
cewek emangnya kenapa? Mau dipacarin?”
Aku
tertawa seketika. “Ya, siapa tau aja dia suka sama gue, nanti kan kita jadi
sodaraan.”
“Hahaha..
ada-ada aja lo.”
Akhirnya
mobil Adi melaju meninggalkan tempat kerjaku.
“Beberapa
hari ini kok lo jarang bisa gue hubugin sih, kemana aja lo?” tanya Adi ketika
dalam perjalanan.
“Gak
apa-apa.” Jawabku singkat.
“Oh,
jadi gak mau cerita lagi nih sekarang?”
“Emang
gak ada apa-apa, sih.”
“Yaudah
kalau gak mau cerita, tapi inget ya, gue selalu siap buat dengerin curhatan
lo.”
Aku
tersenyum sambil memandangnya, ia tersenyum kepadaku dan kembali fokus ke
jalanan.
Selang
beberapa menit akhirnya ia memberhentikan mobilnya tepat disebuah rumah besar
dengan pagar cukup tinggi. Aku sudah bisa menduga kalau rumahnya akan sebesar
ini.
“Gede
banget rumah lo. Di sini kalian tinggal berdua aja?”
“Yup,
dia lagi tugas sekarang, paling baliknya nanti malem.”
“Tugas,
emang dia kerja apaan?”
“Polisi.”
Deg!
Mendengar kata polisi membuatku terkejut. Semoga saja keponakannya itu bukan
Yudha.
“Polwan
maksud lo?”
“Emang
kapan gue bilang kalau dia cewek?” ujar Adi sambil masuk ke dalam rumah setelah
membuka kunci.
“Kebetulan
kemarin gue baru belanja, kita makan malam di sini aja, ya? Gue bisa masak
loh.”
Aku
hanya tersenyum melihatnya, perasaanku saat ini mendadak tidak tenang, aku
takut apa yang aku takutkan itu benar-benar terjadi.
“Lo
mau makan apa?” tanya Adi ketika aku sedang melamun.
“Ger,
halo, ada orang di sana?”
“Oh,
ya, kenapa Di?”
“Gue
tanya lo mau makan sama apa?” tanya dia sambil mendekatiku. “Lo kenapa sih? Kok
mendadak jadi murung gitu?”
“Hah,
Eh, nggak, nggak apa-apa.. gue cuman takjub aja ngeliat rumah segede ini. baru
kali ini gue masuk ke rumah yang segede ini.”
“Ya
ampun, gue kira kenapa... anggap aja ini rumah lo sendiri, lagian gue juga
kesepian sih di sini kalau cuman tinggal berdua, lo boleh banget tinggal di
sini kalau lo mau.”
Aku
tidak boleh mengecewakan Adi, aku jangan terlarut dengan ketakutan yang tak
pasti ini. Dia sudah terlalu baik denganku, tak seharusnya aku mengecewakannya.
“Ah,
nggak usah, Di, gue cuman takjub aja, bukan berarti gue pengen tinggal di
sini.”
“Yeh,
gak apa-apa lagi kalau lo tinggal di sini juga, gue seneng malah.”
Kini
Adi sibuk membuka lemari es. Kemudian mengambil beberapa sayuran dan daging
sapi segar. Ia kini sudah melipat kemeja lengan panjangnya yang berwarna biru
itu.
“Mau
gue bantuin, Di?”
“Lo
bisa masak?”
“Sedikit...”
“Gak
usah deh, lo duduk manis aja, kalau ngga lo boleh jalan-jalan keliling-keliling
rumah ini.”
“Ga
usah deh, gue di ruang tamu aja, ya. Nonton tv.”
“Ya
udah, sana, kalau udah mateng gue panggil lo.”
“Siap
Chef!”
&&&
Aku
sedang menonton acara talk show di tv ketika Adi memanggilku. Ketika aku sudah
sampai di meja makan, aku terkejut melihat beraneka masakan yang ia buat. Ia
benar-benar pandai memasak.
“Gila,
masakan sebanyak ini lo masak sendiri?”
“Keliatannya?”
“Kenapa
gak jadi chef aja lo, Di?”
“Gue
emang suka masak, tapi kalau untuk menekuni dunia kuliner gue kurang tertarik,
gue cuman suka masak apa yang gue suka.”
“Gila,
ini hebat banget, yang ini apa namanya?” tanyaku sambil menunjuk ke arah daging
cincang berlumur saus.
“Itu
namanya meat roast with the oysters, cobain deh.”
“Emmh,
mendadak gue laper banget nih.
”Yaudah,
ayo kita makan!”
Aku
mengambil nasi yang sudah disajikan di atas meja dan mengambil beberapa potong
daging panggang dengan saus tiram yang terlihat sangat enak. Ketika aku
mencicipinya, ternyata memang benar, masakan Adi benar-benar enak.
“Ini
enak, sumpah gue gak boong, kenapa gak dari dulu sih lo masakin gue makanan,
kan gak usah jajan-jajan di luar kalau gitu.”
“Ah
lo bisa aja, kan gue udah bilang, meski gue suka masak, kadang gue bosen juga
sama masakan sendiri.”
“Bosen
sama masakan kaya gini? Kalau gue sih gak akan bosen-bosen, hahaha...”
Kamipun
makan dengan lahap diiringi obrolan renyah.
Setelah
makan malam, kami melanjutkan untuk mengobrol di halaman belakang. Di sana
terdapat kolam renang dan kursi gantung yang keren.
“Uh,
kapan, ya, gue punya rumah segede ini, kayanya cuman mimpi aja deh.”
“Ah,
lo gak usah ngomong gitu, kalau ada usaha dan kerja keras yang kuat dari lo,
gue yakin lo pasti bakalan punya rumah juga segede gini, mungkin bisa lebih. Eh
bentar gue mau ngambil sesuatu dulu.”
“Apaan?”
“Tunggu
aja di sini.”
Akhirnya
Adi kembali masuk ke dalam rumah. Selang beberapa menit ia membawa sebuah gitar
dan nampan kecil berisi minuman dan makanan ringan.
“Lo
bisa ngegitar?”
Seketika
gue langsung mengangguk dan mengambil gitarnya.
“Lo
mau lagu apa?” tanyaku.
“Gue
suka lagu romantis, apa aja.”
“Ok.”
Aku
memetik beberapa nada dan membetulkan nada yang fals.
“Ini
lagu sering gue nyanyiin barengan mantan gue.”
“Ninety miles
outside Chicago. Can’t stop driving I don’t know why. So many questions, I need
an answer Two years later you're still on my mind”
“Gue apa
lagu ini,” ujar Adi.
“Whatever
happened to Amelia Earhart? Who holds the stars up in the sky? Is true love
just once in a lifetime?”
Kami nyanyi
bersama. “Did the captain of the Titanic cry? Oh, Someday we’ll know
Aku, “If
love can move a mountain”
Kami. “Someday
we’ll know,”
Adi. “Why
the sky is blue.”
“Someday
we’ll know. Why I wasn’t meant for you...”
Tiba-tiba
terdengar suara mobil berhenti.
“Tuh
keponakan gue dateng, tunggu di sini, ya, gue kenalin lo sama dia.”
Aku
mengangguk sambil memetik gitar.
&&&
Dan, apa
yang aku takutkan benar-benar terjadi. Keponakan Adi rupanya adalah Yudha. Aku
terkejut ketika Adi membawanya kepadaku, begitupun dengan Yudha.
“Ini
keponakan yang gue ceritain ke lo, Ger. Namanya Yudha. Ini Gery, sahabat, gue.”
Dia tak
dapat berkata apa-apa, begitupun denganku. kami hanya berjabat tangan sebentar.
“Yud, sana
makan dulu, om tadi masak.”
Ia
mengangguk kemudian pergi dari hadapanku. Jantungku serasa gendang yang
berdetak kencang, aliran darahku mengalir tak kalah kencangnya. Rasa khawatirku
ternyata beralasan. Ini yang aku takutkan. Namun, aku harus terus bersikap
biasa saja, kalau tidak nanti Adi akan curiga.
“Lo kenapa
ngeliatin si Yudha gitu banget, suka sama dia?”
“Hah? Gila
aja, nggak lah.”
“Ya siapa
tahu setelah lo pernah gituan sama cowok, lo jadi beralih orientasi.”
“In your
dream...”
Setelah
pukul sepuluh malam aku berniat untuk pamit pulang, rupanya Adi tak
mengijinkanku untuk pulang. dia bersikeras menyuruhku untuk menginap di
rumahnya. “Lo gak boleh pulang, lo bisa tinggal di sini, ada banyak kamar
kosong di sini. Tenang aja kok, gue gak akan minta bayaran apa-apa sama lo,
hahaha...”
Aku
tersenyum hambar, bagiku bukan karena tidak sukanya aku tinggal di sini, tapi
lebih kepada nyawaku, ada orang psiko di dalam rumah ini, dan itu adalah
keponakannya juga. Aku takut terjadi apa-apa lagi denganku setelah kejadian
tempo hari.
“Kamar lo
yang mana Di?” tanyaku kepadanya.
“Tuh paling
ujung,” tunjuk Adi ketika kita naik tangga.
“Kalau
keponakan lo?”
“Ujung
sebelah sana,” tunjuknya lagi berlawanan.
“Tinggal
pilih aja, lo mau tidur di mana?”
“Gue yang
deket kamar lo aja deh.”
“Oh, oke
deh.”
Aku masuk ke
dalam kamarnya. Sangat luas, dan walaupun tak ada penghuninya, di setiap kamar
di lengkapi dengan TV dan AC.
“Gue tidur
duluan, ya? Ngantuk banget nih,” kataku kemudian. Adi mengangguk dan
meninggalkan kamar yang akan aku tempati.
Kamar yang
luas dan nyaman ini tak memberiku kesan serupa, justru aku menjadi was-was.
&&&
Aku terkejut
ketika tiba-tiba ada yang membekamku. Dan, kali ini tanganku lagi-lagi terikat.
Seingatku tadi pintu terkunci, tapi kali ini aku benar-benar sudah terikat
kembali, aku takut Yudha melakukannya lagi kepadaku. Ketika aku menengok ke
samping rupanya Adi berdiri di sampingku, dengan tubuh telanjang bulat dan
ketika kulihat diriku, aku sudah tak mengenakan pakaian juga. Ada sedikit
kelegaan dari diriku ternyata buka Yudha yang berdiri di sana. aku berpikir
kalau ini ternyata mimpi, mimpi yang sama ketika aku berada di kontrakanku.
Tapi, hey! Aku sadar, aku melihat ke arah lemari baju yang berhadapan dengan
kasur, di sana ada ponselku yang sengajak aku simpan dengan keadaan menyala dan
merekam video, kalau ini mimpi pasti tidak akan sedetail ini.
Aku
mendekatiku dan kini ia sudah ada di atasku, ia mencium seluruh bagian tubuhku,
aku menggeliat kegelian dibuatnya, permainan Adi selalu sama, ia pasti menciumi
seluruh tubuhku sebelum memuaskanku. Aku tak dapat berontak ataupun menolak,
untuk kali ini aku pasrah dan mencoba untuk menikmatinya, lagi pula ini Adi,
bukan Yudha.
Kini kami
saling berpagutan, ia sudah melepaskan bekapaman kain yang membekam mulutku,
aku menikmati setiap detik ciuman itu, kali ini aku benar-benar sudah menyadari
kalau aku tak merasa jijik dengan hubungan sejenis ini. keseringanku
diperlakukan seperti ini justru membuatku kini menikmatinya.
Tangannya
kini meremas penisku yang sudah menegang, kemudian ia turun ke bawah dan
menghisap dengan lembut penisku, awalnya terasa geli, namun kini berubah
menjadi nikmat, nikmat yang tak tertandingi, tidak aku pungkiri kalau hisapan
laki-laki yang pernah berhubungan intim denganku selalu lebih enak daripada
ketika aku bercinta dengan Anna, terlihat di raut wajah Anna ketika bercinta
denganku ekspresinya terlihat sedikit jijik, sedangkan mereka, laki-laki yang
bercinta denganku justru terlihat sangat lihat dan menikmatinya, tak terlihat
sedikitpun espresi jijik di wajah mereka. Kini Adi beranjak, sedikit kecewa aku
ketika ia melepaskan hisapannya. Adi mengambil sebotol pelicin dan kemudian
melumaskannya ke batang penisku serta ke anusnya. Sesaat kemudian ia memasukan
pensiku ke dalam anusnya, uh, sempit, nikmat, dan sangat enak.
“Ahh.. Ehm...
A... Adii.. ya, enak...”
Ia berhenti
sesaat untuk menyesuaikan batang yang kini berada di dalam anusnya agar bisa
menyesuaikan diri. Beberapa saat kemudian ia siap memompa maju-mundurkan
pantatnya, iramanya selalu membuatku semakin horny.
Plok plok plok
plok
Ah, ini
sangat sempit dan membuatku serasa melayang ke langit ke tujuh. Kelihaiannya
memabukanku, aku sudah terhanyut dan semakin terangsang, ia memberikan servis
yang sangat membuaskan mski tubuhku tak bergerak karena ikatannya.
Setengah jam
kemudian, ia melepaskan genjotannya, ia kini kembali mengulum penisku,
sedotannya semakin kencang dan sempit, aku menatapnya dan ia menatapku sambil
tersenyum.
“Terus Di,
gue suka...”
Kemudian ia
kembali memaskukan penisku ke dalam anusnya yang sempit, genjotannya semakin
kencang, ia tak membiarkanku bernafas sama sekali, hingga dalam hitungan detik,
air kenikmatanku tumpah ruah ke dalam anusnya. Aku memburu nafas, keringat kami
sudah menyatu dan kini ia ambruk. Ia tersenyum puas kepadaku dan kembali
mencium bibirku lembut tapi buas. Oh, ini hubungan yang paling aku nikmati
selama ini.
&&&
Suara
ketukan pintu membangunkanku. Aku membuka mata dan kulihat pakaianku lengkap.
“Ger, udah
bangun belum?” Ujar suara dari balik pintu.
“Udah,
Di...” kataku memastikan.
Kemudian aku
teringat ponselku. Aku bangkit dan langsung mengambil ponsel yang sengaja aku
sembunyikan untuk merekam semua kejadian semalam.
Rupanya
batrainya habis, tapi untungnya, Hpku menyimpan datanya meski batrau telah
habis. Setelah bangun, aku keluar kaamr dan meminjam charger. Kuisi kembali
ponselku dan sengaja aku diamkan sejenak. Ketika dirasa sudah mulai bisa terisi
aku membuka file yang ada di ponselku, galery, kemudian video, dan rupanya
memang tersimpan video itu. Aku membuka video itu, di sana hanya ada aku yang
sedang tidur, aku percepat durasinya, dan masih melihat diriku yang masih
tertidur lelap. Namun, ketika durasinya menginjak dua jam empat puluh satu
detik, rupanya ada seseorang yang melewati lemari tempat ponselku merekam diri.
Dan rupanya benar-benar Adi, ia membawa sebuah tali dan kemudian, Damn!
Waktunya sudah habis, jadi ketika aku melakukan hubungan intim tak terekam.
Namun, aku
sedikit senang rupanya memang kejadian semalam bukanlah mimpi, ini bisa menjadi
bukti untukku bila suatu hari nanti ia berniat buruk kepadaku.
Tiba-tiba
pintu diketuk lagi. “Ger, lo udah siap belum?” tanya Adi.
“Gue belum
juga mandi,” teriakku.
“Gue
berangkat duluan, ya? Ada urusan penting yang harus gue kerjain. Lo berangkat
sama Yudha ada, gak apa-apa, kan?”
Hah? Aku
langsung berlari ke arah pintu dan segera membukanya. Adi terkejut karena aku
membuka pintu sangat cepat.
“Gak mau,
ah, gue ,malu, kita pergi sekarang aja, ya? Gak apa-apa gue gak mandi juga,
kok.”
“Loh, kenapa
emangnya? Yudha gak akan makan lo, kok, dia polisi jinak, tenang aja. Lagian
kan kantor gue beda arah sama kantor lo, gak apa-apa, ya gue tinggal?”
Akhirnya
karena melihatnya panik aku mengiyakan saja. “Yaudah gak apa-apa.”
Adi
tersenyum kepadaku dan tiba-tiba saja di memelukku. “Gue berangkat dulu, ya?”
aku hanya mengangguk karena masih syok. Berani sekali ia melakukan pelukan ini
kepadaku? batinku heran.
Aku pergi ke
kamar mandi yang terletak samping kamar Adi, rupanya kamar mandinya bagus juga,
ada bathtube. Kulirik jam yang menggantung di kamar mandi, rupanya masih jam
enak lewat limabelas menit, aku nyalakan kran air dan aku masuk ke dalam beth
tube.
Setengah jam
kemudian, aku mendengar suara ketukan, bukan, ini bukan ketukan, rupanya Yudha
sengaja ingin mendobrak pintu, aku terperanjat duduk. Dan sesaat kemudian ia
berhasil membuka pintu kamar mandi.
“Mau apa
lo?” tanyaku terkejut.
“Owh,
rupanya si tampan lagi asik mandi, biar gue temenin, ya?”
“Gak usah!
Keluar sana!”
Ya mungkin
ia tahu gertakanku tak berarti apa-apa, kini ia melepaskan kaos yang menempel
ditubuhnya, kemudian ia melepas celana kolornya. Dengan seketika keluarlah
burung yang tersembunyi di dalam kandangnya itu.
“Please Yud,
lepasin gue, atau gue bilangin kelakuan lo sama Adi!”
Yudha
langsung menyambarku, ia menenggelamkan wajahku kedalam air di bath tube. Air
terperanjat tak bisa bernafas. “Kalau lo berani macem-macem sama gue, gue
bakalan bikin lo mati, paham?”
Aku
tersenggal-senggal dan mengangguk. Kemudian ia menyuruhku untuk berdiri.
Didorongnya aku ke dinding samping bath tube dan tanpa basa-basi ia menyodokkan
penisnya langsung ke dalam anusku. Seeketika juga aku langsung berteriak.
“Aaaaaaaa,
Yud, please, pelan-pelan, Yud, sakit!”
“Diam!”
Ia memompa
pantatnya naik turun, kencang dan semakin kencang. Air mataku tak dapat
dibendung akibat sakit yang tak tertahankan.
“Siapa suruh
ngedatangin gue, hah!”
“Ampun Yud,
ampun...”
“Ah, gak ada
ampun-ampunan, gue udah sange banget sama lo...”
Ia menciumi
leherku, dan telingaku, nafasnya memburu kencang ditelinga. Kemudian tak lama
kemudian ia melenguh.
“Uh, ah...
emh... aaaahhhh....
Crot crot
crot
Keluarlah
semua air maninya. Setelah puas ia meninggalkanku.
Aku yang tak
tahan lagi diperlakukan seperti ini akhirnya pergi setelah selesai mandi tanpa
diantarkan olehnya.


0 komentar:
Posting Komentar