Love of Enemy 8



Malam ini teman-temanku menginap di sini, katanya mereka khawatir bila meninggalkanku sendiri di kontrakan. Tadi sore Luke datang, dan aku mencoba untuk bersikap biasa kepadanya, dia pun bersikap sama, seolah kami tak sedang memiliki masalah. Mengingat ucapan Alatas, aku menjadi sedikit senang mendengar kalau Luke ternyata sangat peduli kepadaku.

“Belum tidur?” tanya Luke ketika dilihatnya aku masih terjaga.
Aku menggeleng dan bangkit untuk duduk.
“Gue seneng lo gak apa-apa. Kita semua panik pas tau lo ilang, malah gue sempet berpikir kalau lo di....”
“Bunuh?”
Luke mengangguk. “Maaf, ya, kalau selama ini gue salah. Gue janji gak akan bikin lo jengkel atau apapun yang membuat lo kesal sama gue.”
“Gue juga minta maaf, Luke, gue terlalu egois, gue terlalu mementingkan kenikmatan gue tanpa memedulikan lo. Mungkin gue... mungkin gue juga suka sama lo, tapi gue gak bisa nerimain tentang ini dan gak ingin ngejalanin hubungan kayak gini, lo ngerti, kan maksud gue?”
Luke tersenyum, matanya berkaca-kaca.
“Gue ngerti kok, tanpa lo bilang gitu gue udah sayang banget sama lo, walaupun sekarang gue udah punya yang lain, tapi gak bisa dipungkiri kalau gue masih suka sama lo dan itu gak akan pernah berubah.” Akhirnya air matanya tak dapat dibendung lagi, ia pun menangis, aku mendekatinya dan mengusap air matanya. Akupun memberanikan diri untuk mencium bibirnya.
“Akhirnya...” ujar Alatas mengagetkanku.
Sontak aku menghentikan ciuman ini dan aku menjadi salah tingkah, begitupun dengan Luke.
“Sstt... jangan berisik, nanti yang lain bangun!” hardikku kepada Alatas.
Ia mengacungkan jempolnya dan tersenyum kepada kami.
&&&
Walaupun aku dengan Luke semakin dekat, tapi sampai saat ini kami masih berstatus teman, aku tak bisa bilang apa-apa tentang masalahku dengan Yudha, dan aku tak berniat untuk membicarakan dengan siapapun, mungkin rahasia ini harus aku simpan sendiri.
Sudah dua hari ini aku bekerja, tugas menumpuk sangat banyak karena aku tinggalkan lama. Meskipun bosku tahu kalau aku sempat di culik, namun ia tak mentolelir masalah pekerjaan, untungnya teman-temanku pengertian, sedikit-sedikit mereka membantuku.
Tiba-tiba ponselku berbunyi, sebuah pesan masuk, Adi. Wah, sudah lama sekali aku tak berbuhungan dengannya, apa kabarnya dia sekarang, ya? Batinku senang.
Hallo Ger, apa kabar? Sombong amat sih, sampe gak ada kabar?
Aku tersenyum membaca pesan darinya.
Gue baik, sorry, kemaren2 gue sibuk banget, oh, ya, lo sendiri gimana? Baik?
Tak lama ada balasan lagi darinya
Gue kira lo udah lupa sama gue, bagus deh kalau lo sehat, eh, kita ketemuan, yuk?
Ayook, di mana?
Posisi lo sekarang di mana? Biar gue jemput lo.
Gue masih di kantor, yaudah gue tunggu, ya?
Setelah bertegur sapa dengan Adi lewat SMS akhirnya kami niat bertemu, ia menjemputku tepat di depan kantor.
“Hi, apa kabar?” tanya Adi kepadaku.
“Baik...”
Kemudian aku masuk ke dalam mobilnya. “Mau kemana kita?”
“Sebenernya gue lagi males kemana-mana, sih, kita ke rumah gue aja yuk?”
Aku terperanjat mendengarnya, “ke rumah lo? Gila, malu ah gue, pasti ada nyokap bokap lo ya?”
“Nyantai aja sih, lah gue cuman tinggal sama keponakan gue doang, kok.”
Aku mengangguk. “Keponakan lo cewek?”
“Kalau cewek emangnya kenapa? Mau dipacarin?”
Aku tertawa seketika. “Ya, siapa tau aja dia suka sama gue, nanti kan kita jadi sodaraan.”
“Hahaha.. ada-ada aja lo.”
Akhirnya mobil Adi melaju meninggalkan tempat kerjaku.
“Beberapa hari ini kok lo jarang bisa gue hubugin sih, kemana aja lo?” tanya Adi ketika dalam perjalanan.
“Gak apa-apa.” Jawabku singkat.
“Oh, jadi gak mau cerita lagi nih sekarang?”
“Emang gak ada apa-apa, sih.”
“Yaudah kalau gak mau cerita, tapi inget ya, gue selalu siap buat dengerin curhatan lo.”
Aku tersenyum sambil memandangnya, ia tersenyum kepadaku dan kembali fokus ke jalanan.
Selang beberapa menit akhirnya ia memberhentikan mobilnya tepat disebuah rumah besar dengan pagar cukup tinggi. Aku sudah bisa menduga kalau rumahnya akan sebesar ini.
“Gede banget rumah lo. Di sini kalian tinggal berdua aja?”
“Yup, dia lagi tugas sekarang, paling baliknya nanti malem.”
“Tugas, emang dia kerja apaan?”
“Polisi.”
Deg! Mendengar kata polisi membuatku terkejut. Semoga saja keponakannya itu bukan Yudha.
“Polwan maksud lo?”
“Emang kapan gue bilang kalau dia cewek?” ujar Adi sambil masuk ke dalam rumah setelah membuka kunci.
“Kebetulan kemarin gue baru belanja, kita makan malam di sini aja, ya? Gue bisa masak loh.”
Aku hanya tersenyum melihatnya, perasaanku saat ini mendadak tidak tenang, aku takut apa yang aku takutkan itu benar-benar terjadi.
“Lo mau makan apa?” tanya Adi ketika aku sedang melamun.
“Ger, halo, ada orang di sana?”
“Oh, ya, kenapa Di?”
“Gue tanya lo mau makan sama apa?” tanya dia sambil mendekatiku. “Lo kenapa sih? Kok mendadak jadi murung gitu?”
“Hah, Eh, nggak, nggak apa-apa.. gue cuman takjub aja ngeliat rumah segede ini. baru kali ini gue masuk ke rumah yang segede ini.”
“Ya ampun, gue kira kenapa... anggap aja ini rumah lo sendiri, lagian gue juga kesepian sih di sini kalau cuman tinggal berdua, lo boleh banget tinggal di sini kalau lo mau.”
Aku tidak boleh mengecewakan Adi, aku jangan terlarut dengan ketakutan yang tak pasti ini. Dia sudah terlalu baik denganku, tak seharusnya aku mengecewakannya.
“Ah, nggak usah, Di, gue cuman takjub aja, bukan berarti gue pengen tinggal di sini.”
“Yeh, gak apa-apa lagi kalau lo tinggal di sini juga, gue seneng malah.”
Kini Adi sibuk membuka lemari es. Kemudian mengambil beberapa sayuran dan daging sapi segar. Ia kini sudah melipat kemeja lengan panjangnya yang berwarna biru itu.
“Mau gue bantuin, Di?”
“Lo bisa masak?”
“Sedikit...”
“Gak usah deh, lo duduk manis aja, kalau ngga lo boleh jalan-jalan keliling-keliling rumah ini.”
“Ga usah deh, gue di ruang tamu aja, ya. Nonton tv.”
“Ya udah, sana, kalau udah mateng gue panggil lo.”
“Siap Chef!”
&&&
Aku sedang menonton acara talk show di tv ketika Adi memanggilku. Ketika aku sudah sampai di meja makan, aku terkejut melihat beraneka masakan yang ia buat. Ia benar-benar pandai memasak.
“Gila, masakan sebanyak ini lo masak sendiri?”
“Keliatannya?”
“Kenapa gak jadi chef aja lo, Di?”
“Gue emang suka masak, tapi kalau untuk menekuni dunia kuliner gue kurang tertarik, gue cuman suka masak apa yang gue suka.”
“Gila, ini hebat banget, yang ini apa namanya?” tanyaku sambil menunjuk ke arah daging cincang berlumur saus.
“Itu namanya meat roast with the oysters, cobain deh.”
“Emmh, mendadak gue laper banget nih.
”Yaudah, ayo kita makan!”
Aku mengambil nasi yang sudah disajikan di atas meja dan mengambil beberapa potong daging panggang dengan saus tiram yang terlihat sangat enak. Ketika aku mencicipinya, ternyata memang benar, masakan Adi benar-benar enak.
“Ini enak, sumpah gue gak boong, kenapa gak dari dulu sih lo masakin gue makanan, kan gak usah jajan-jajan di luar kalau gitu.”
“Ah lo bisa aja, kan gue udah bilang, meski gue suka masak, kadang gue bosen juga sama masakan sendiri.”
“Bosen sama masakan kaya gini? Kalau gue sih gak akan bosen-bosen, hahaha...”
Kamipun makan dengan lahap diiringi obrolan renyah.
Setelah makan malam, kami melanjutkan untuk mengobrol di halaman belakang. Di sana terdapat kolam renang dan kursi gantung yang keren.
“Uh, kapan, ya, gue punya rumah segede ini, kayanya cuman mimpi aja deh.”
“Ah, lo gak usah ngomong gitu, kalau ada usaha dan kerja keras yang kuat dari lo, gue yakin lo pasti bakalan punya rumah juga segede gini, mungkin bisa lebih. Eh bentar gue mau ngambil sesuatu dulu.”
“Apaan?”
“Tunggu aja di sini.”
Akhirnya Adi kembali masuk ke dalam rumah. Selang beberapa menit ia membawa sebuah gitar dan nampan kecil berisi minuman dan makanan ringan.
“Lo bisa ngegitar?”
Seketika gue langsung mengangguk dan mengambil gitarnya.
“Lo mau lagu apa?” tanyaku.
“Gue suka lagu romantis, apa aja.”
“Ok.”
Aku memetik beberapa nada dan membetulkan nada yang fals.
“Ini lagu sering gue nyanyiin barengan mantan gue.”
Ninety miles outside Chicago. Can’t stop driving I don’t know why. So many questions, I need an answer Two years later you're still on my mind”
“Gue apa lagu ini,” ujar Adi.
“Whatever happened to Amelia Earhart? Who holds the stars up in the sky? Is true love just once in a lifetime?”
Kami nyanyi bersama. “Did the captain of the Titanic cry? Oh, Someday we’ll know
Aku, “If love can move a mountain”
Kami. “Someday we’ll know,”
Adi. “Why the sky is blue.”
“Someday we’ll know. Why I wasn’t meant for you...”
Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti.
“Tuh keponakan gue dateng, tunggu di sini, ya, gue kenalin lo sama dia.”
Aku mengangguk sambil memetik gitar.
&&&
Dan, apa yang aku takutkan benar-benar terjadi. Keponakan Adi rupanya adalah Yudha. Aku terkejut ketika Adi membawanya kepadaku, begitupun dengan Yudha.
“Ini keponakan yang gue ceritain ke lo, Ger. Namanya Yudha. Ini Gery, sahabat, gue.”
Dia tak dapat berkata apa-apa, begitupun denganku. kami hanya berjabat tangan sebentar.
“Yud, sana makan dulu, om tadi masak.”
Ia mengangguk kemudian pergi dari hadapanku. Jantungku serasa gendang yang berdetak kencang, aliran darahku mengalir tak kalah kencangnya. Rasa khawatirku ternyata beralasan. Ini yang aku takutkan. Namun, aku harus terus bersikap biasa saja, kalau tidak nanti Adi akan curiga.
“Lo kenapa ngeliatin si Yudha gitu banget, suka sama dia?”
“Hah? Gila aja, nggak lah.”
“Ya siapa tahu setelah lo pernah gituan sama cowok, lo jadi beralih orientasi.”
“In your dream...”
Setelah pukul sepuluh malam aku berniat untuk pamit pulang, rupanya Adi tak mengijinkanku untuk pulang. dia bersikeras menyuruhku untuk menginap di rumahnya. “Lo gak boleh pulang, lo bisa tinggal di sini, ada banyak kamar kosong di sini. Tenang aja kok, gue gak akan minta bayaran apa-apa sama lo, hahaha...”
Aku tersenyum hambar, bagiku bukan karena tidak sukanya aku tinggal di sini, tapi lebih kepada nyawaku, ada orang psiko di dalam rumah ini, dan itu adalah keponakannya juga. Aku takut terjadi apa-apa lagi denganku setelah kejadian tempo hari.
“Kamar lo yang mana Di?” tanyaku kepadanya.
“Tuh paling ujung,” tunjuk Adi ketika kita naik tangga.
“Kalau keponakan lo?”
“Ujung sebelah sana,” tunjuknya lagi berlawanan.
“Tinggal pilih aja, lo mau tidur di mana?”
“Gue yang deket kamar lo aja deh.”
“Oh, oke deh.”
Aku masuk ke dalam kamarnya. Sangat luas, dan walaupun tak ada penghuninya, di setiap kamar di lengkapi dengan TV dan AC.
“Gue tidur duluan, ya? Ngantuk banget nih,” kataku kemudian. Adi mengangguk dan meninggalkan kamar yang akan aku tempati.
Kamar yang luas dan nyaman ini tak memberiku kesan serupa, justru aku menjadi was-was.
&&&
Aku terkejut ketika tiba-tiba ada yang membekamku. Dan, kali ini tanganku lagi-lagi terikat. Seingatku tadi pintu terkunci, tapi kali ini aku benar-benar sudah terikat kembali, aku takut Yudha melakukannya lagi kepadaku. Ketika aku menengok ke samping rupanya Adi berdiri di sampingku, dengan tubuh telanjang bulat dan ketika kulihat diriku, aku sudah tak mengenakan pakaian juga. Ada sedikit kelegaan dari diriku ternyata buka Yudha yang berdiri di sana. aku berpikir kalau ini ternyata mimpi, mimpi yang sama ketika aku berada di kontrakanku. Tapi, hey! Aku sadar, aku melihat ke arah lemari baju yang berhadapan dengan kasur, di sana ada ponselku yang sengajak aku simpan dengan keadaan menyala dan merekam video, kalau ini mimpi pasti tidak akan sedetail ini.
Aku mendekatiku dan kini ia sudah ada di atasku, ia mencium seluruh bagian tubuhku, aku menggeliat kegelian dibuatnya, permainan Adi selalu sama, ia pasti menciumi seluruh tubuhku sebelum memuaskanku. Aku tak dapat berontak ataupun menolak, untuk kali ini aku pasrah dan mencoba untuk menikmatinya, lagi pula ini Adi, bukan Yudha.
Kini kami saling berpagutan, ia sudah melepaskan bekapaman kain yang membekam mulutku, aku menikmati setiap detik ciuman itu, kali ini aku benar-benar sudah menyadari kalau aku tak merasa jijik dengan hubungan sejenis ini. keseringanku diperlakukan seperti ini justru membuatku kini menikmatinya.
Tangannya kini meremas penisku yang sudah menegang, kemudian ia turun ke bawah dan menghisap dengan lembut penisku, awalnya terasa geli, namun kini berubah menjadi nikmat, nikmat yang tak tertandingi, tidak aku pungkiri kalau hisapan laki-laki yang pernah berhubungan intim denganku selalu lebih enak daripada ketika aku bercinta dengan Anna, terlihat di raut wajah Anna ketika bercinta denganku ekspresinya terlihat sedikit jijik, sedangkan mereka, laki-laki yang bercinta denganku justru terlihat sangat lihat dan menikmatinya, tak terlihat sedikitpun espresi jijik di wajah mereka. Kini Adi beranjak, sedikit kecewa aku ketika ia melepaskan hisapannya. Adi mengambil sebotol pelicin dan kemudian melumaskannya ke batang penisku serta ke anusnya. Sesaat kemudian ia memasukan pensiku ke dalam anusnya, uh, sempit, nikmat, dan sangat enak.
“Ahh.. Ehm... A... Adii.. ya, enak...”
Ia berhenti sesaat untuk menyesuaikan batang yang kini berada di dalam anusnya agar bisa menyesuaikan diri. Beberapa saat kemudian ia siap memompa maju-mundurkan pantatnya, iramanya selalu membuatku semakin horny.
Plok plok plok plok
Ah, ini sangat sempit dan membuatku serasa melayang ke langit ke tujuh. Kelihaiannya memabukanku, aku sudah terhanyut dan semakin terangsang, ia memberikan servis yang sangat membuaskan mski tubuhku tak bergerak karena ikatannya.
Setengah jam kemudian, ia melepaskan genjotannya, ia kini kembali mengulum penisku, sedotannya semakin kencang dan sempit, aku menatapnya dan ia menatapku sambil tersenyum.
“Terus Di, gue suka...”
Kemudian ia kembali memaskukan penisku ke dalam anusnya yang sempit, genjotannya semakin kencang, ia tak membiarkanku bernafas sama sekali, hingga dalam hitungan detik, air kenikmatanku tumpah ruah ke dalam anusnya. Aku memburu nafas, keringat kami sudah menyatu dan kini ia ambruk. Ia tersenyum puas kepadaku dan kembali mencium bibirku lembut tapi buas. Oh, ini hubungan yang paling aku nikmati selama ini.
&&&
Suara ketukan pintu membangunkanku. Aku membuka mata dan kulihat pakaianku lengkap.
“Ger, udah bangun belum?” Ujar suara dari balik pintu.
“Udah, Di...” kataku memastikan.
Kemudian aku teringat ponselku. Aku bangkit dan langsung mengambil ponsel yang sengaja aku sembunyikan untuk merekam semua kejadian semalam.
Rupanya batrainya habis, tapi untungnya, Hpku menyimpan datanya meski batrau telah habis. Setelah bangun, aku keluar kaamr dan meminjam charger. Kuisi kembali ponselku dan sengaja aku diamkan sejenak. Ketika dirasa sudah mulai bisa terisi aku membuka file yang ada di ponselku, galery, kemudian video, dan rupanya memang tersimpan video itu. Aku membuka video itu, di sana hanya ada aku yang sedang tidur, aku percepat durasinya, dan masih melihat diriku yang masih tertidur lelap. Namun, ketika durasinya menginjak dua jam empat puluh satu detik, rupanya ada seseorang yang melewati lemari tempat ponselku merekam diri. Dan rupanya benar-benar Adi, ia membawa sebuah tali dan kemudian, Damn! Waktunya sudah habis, jadi ketika aku melakukan hubungan intim tak terekam.
Namun, aku sedikit senang rupanya memang kejadian semalam bukanlah mimpi, ini bisa menjadi bukti untukku bila suatu hari nanti ia berniat buruk kepadaku.
Tiba-tiba pintu diketuk lagi. “Ger, lo udah siap belum?” tanya Adi.
“Gue belum juga mandi,” teriakku.
“Gue berangkat duluan, ya? Ada urusan penting yang harus gue kerjain. Lo berangkat sama Yudha ada, gak apa-apa, kan?”
Hah? Aku langsung berlari ke arah pintu dan segera membukanya. Adi terkejut karena aku membuka pintu sangat cepat.
“Gak mau, ah, gue ,malu, kita pergi sekarang aja, ya? Gak apa-apa gue gak mandi juga, kok.”
“Loh, kenapa emangnya? Yudha gak akan makan lo, kok, dia polisi jinak, tenang aja. Lagian kan kantor gue beda arah sama kantor lo, gak apa-apa, ya gue tinggal?”
Akhirnya karena melihatnya panik aku mengiyakan saja. “Yaudah gak apa-apa.”
Adi tersenyum kepadaku dan tiba-tiba saja di memelukku. “Gue berangkat dulu, ya?” aku hanya mengangguk karena masih syok. Berani sekali ia melakukan pelukan ini kepadaku? batinku heran.
Aku pergi ke kamar mandi yang terletak samping kamar Adi, rupanya kamar mandinya bagus juga, ada bathtube. Kulirik jam yang menggantung di kamar mandi, rupanya masih jam enak lewat limabelas menit, aku nyalakan kran air dan aku masuk ke dalam beth tube.
Setengah jam kemudian, aku mendengar suara ketukan, bukan, ini bukan ketukan, rupanya Yudha sengaja ingin mendobrak pintu, aku terperanjat duduk. Dan sesaat kemudian ia berhasil membuka pintu kamar mandi.
“Mau apa lo?” tanyaku terkejut.
“Owh, rupanya si tampan lagi asik mandi, biar gue temenin, ya?”
“Gak usah! Keluar sana!”
Ya mungkin ia tahu gertakanku tak berarti apa-apa, kini ia melepaskan kaos yang menempel ditubuhnya, kemudian ia melepas celana kolornya. Dengan seketika keluarlah burung yang tersembunyi di dalam kandangnya itu.
“Please Yud, lepasin gue, atau gue bilangin kelakuan lo sama Adi!”
Yudha langsung menyambarku, ia menenggelamkan wajahku kedalam air di bath tube. Air terperanjat tak bisa bernafas. “Kalau lo berani macem-macem sama gue, gue bakalan bikin lo mati, paham?”
Aku tersenggal-senggal dan mengangguk. Kemudian ia menyuruhku untuk berdiri. Didorongnya aku ke dinding samping bath tube dan tanpa basa-basi ia menyodokkan penisnya langsung ke dalam anusku. Seeketika juga aku langsung berteriak.
“Aaaaaaaa, Yud, please, pelan-pelan, Yud, sakit!”
“Diam!”
Ia memompa pantatnya naik turun, kencang dan semakin kencang. Air mataku tak dapat dibendung akibat sakit yang tak tertahankan.
“Siapa suruh ngedatangin gue, hah!”
“Ampun Yud, ampun...”
“Ah, gak ada ampun-ampunan, gue udah sange banget sama lo...”
Ia menciumi leherku, dan telingaku, nafasnya memburu kencang ditelinga. Kemudian tak lama kemudian ia melenguh.
“Uh, ah... emh... aaaahhhh....
Crot crot crot
Keluarlah semua air maninya. Setelah puas ia meninggalkanku.
Aku yang tak tahan lagi diperlakukan seperti ini akhirnya pergi setelah selesai mandi tanpa diantarkan olehnya.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Love of Enemy 8 ini dipublish oleh Unknown pada hari 23 Desember 2014. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Love of Enemy 8
 

0 komentar:

Posting Komentar