Namanya Sebastian 3



Hubunganku dengan Sebastian kini sudah semakin dekat, meski belum ada kata cinta darinya, tapi aku tahu kalau dia mencintaiku juga. Setiap hari aku selalu bersamanya, jalan-jalan, makan bareng, bahkan tak jarang aku menginap di rumah Erin hanya ingin bersamanya. Aku sangat menikmati kebersamaan ini dan tentunya tanpa membuat orang lain curiga, kami masih bermain aman kalau di publik.

Malam ini aku sedang main di rumah Erin, kami hanya bertiga, aku membawa gitar kesayanganku untuk kita begadang di malam minggu ini. Erin sendiri malam ini tak kemana-mana, ia baru putus dengan pacarnya, hal ini membuat kami sengaja untuk menghiburnya dengan berkumpul bersama.
“Cast, lo nyanyi, dong, gue kangen suara lo yang merdu.”
“Ah, lo bisa aja, ini pujian apa hinaan?”
“Pujianlah, pokoknya malam ini gue pengen kalian hibur gue, dengan cara apapun.”
“Ah, ka Erin di ajak main keluar gak mau, padahal, kan diluar kita bisa seneng-seneng,” ujar Bastian.
“Gak mau, gue pengen di rumah aja, males kemana-mana.”
“Ya udah aku ke dapur dulu, ya? Ka Erin mau dimasakin apa?”
“Gak usah, pesen pizza aja, deh. Gue lagi pengen pizza.”
“Oh, ok deh, aku telpon ya?”
Erin mengangguk lemas.
“Mau gue nyanyiin lagu apa? Eh, gue gak mau, ya kalau lo minta lagu-lagu galau.”
“Ah, lo kok tau sih, gue lagi kepengen ngedengerin lagu galau?”
“Ya iya, lah, gue kan kenal lo udah lama, kalo lo baru putus pasti mintanya dinyanyiin lagu galau.”
“Plis lah, Cast, gue pengen dengerin lagu galau.”
“Ya udah someone like you, gimana?”
“Iya, tapi....hiks..hiks....”
“Ah, gak jadi deh. Lagu lain aja.”
Jreng.......
“Kuharus menemui cintaku, mencari tahu hubungan kita apa masih atau tlah berakhir... kau mengantungkan hubungan ini, kau diamkan aku tanpa sebab, maunya apa kuharus bagaimana.... kasih..... sampai kapan kau gantung cerita cintaku memberi harapan hingga  mungkin kutak sanggup lagi dan meninggalkan dirimu... hu.. woo... detik-detik waktupun terbuang teganya kau menggantung cintaku, bicaralah biar semua pasti....”
“Ah, udah, ah, gue mau tidur aja,” katak Erin sambil berlalu.
“Eh, kak, terus pizzanya?”
“Gak apa-apa buat kalian aja.”
Sebastian menatapku bingung. “Udah, gak usah dipikirin, dia emang gitu, besok juga dia langsung sembuh kok. percaya, deh. Gue udah temenan ama dia lama banget, jadi tau karakter dia kaya gimana.”
Malam semakin sunyi, udara kini merasuk ke tulang, Bastian membawa selimut dengan kopi hangat.
“Bas...”
Ia menatapku.
“Gue suka sama lo, lo mau gak jadi pacar gue?”
Ia tertunduk dan terdiam.
“Kenapa gak jawab? Apa lo udah punya pacar?”
Ia menggeleng. “Gue gak punya pacar, tapi gue gak tau harus gimana, gue tau lo suka sama gue, tapi ini salah, gue takut, Cast, gue takut kalau gue terima lo, dan kita jadian, pacaran, lama, dan hingga suatu hari gue jenuh sama lo atau sebaliknya, lo bakalan ninggalin gue, dan memang cinta ini dari awal salah.”
“Tak ada yang salah atas cinta, meski orang lain beranggapan kalau cinta kita ini salah, untuk apa dipikirkan, yang menjalani hubungannya, kan, kita. Gue gak peduli dengan anggapan orang-orang, untuk apa kita pusing-pusing memikirkan gunjingan dari orang lain. Karena pada akhirnya mereka akan lelah sendiri dan tak dapat berbuat apa-apa.”
“Ini pertama kalinya buat gue masuk ke dunia kaya gini, gue sadar gue juga beda, tapi sampai detik ini gue masih nyoba tahan, hingga lo datang di hidup gue....”
“Jadi, kenapa harus takut?”
“Hm... gue gak akan takut kalau lo sama gue, Cast,” ujarnya kemudian sambil tersenyum.
“”So, lo mau jadi pacar gue?”
Ia mengangguk. “Gue mau.”
Aku tersenyum gembira, ini benar-benar membuatku gembira. “I love you so much.”
“I love you more more more!” ujarnya. Dan, kami pun berciuman.
Setelah kami resmi pacaran, kini aku tinggal satu rumah dengannya, di rumah Erin, setiap harinya kami selalu melakukan apapun bersama, bersama Sebastian, aku menjadi pribadi yang berbeda, sedikit demi sedikit aku merasa kalau dia telah merubahku menjadi pribadi yang lebih baik, aku tak lagi sering main malam, aku tak lagi ganti-ganti pasangan, dan tak lagi bolos kuliah.
Tapi, kini masalahnya, hingga sampai saat ini aku belum pernah lagi berhubungan intim, uh, setiap kali aku horny hanya melampiaskannya dengan tangan. Sebastian masih takut setiap kali aku ajak untuk melakukan lebih selain ciuman. Katanya hubungan itu tidak selalu tentang seks, aku menyetujui karena aku mencintainya, tapi lama kelamaan aku tak tahan juga.
Aku mencium bibirnya yang lembut, ia membalas ciumanku dengan ganas, kini ia sudah mulai bisa menyeimbangi ciumanku. Aku buka kemejanya, kulumat putingnya, putingnya sekarang ini menjadi bagian favoritku, setiap kami ciuman aku tak pernah lupa untuk melumat putingnya yang merah muda itu.
Kubuka celana jeansnya dan kulihat tonjolan di celana dalamnya serta ada cairan bening yang tembus dari celana dalamnya itu.
“Boleh?”
Ia menggeleng.
“Please...”
Ia masih menggeleng.
Aku langsung menghentikan kegiatan ini dan duduk di sampingnya, kemudian aku menyalakan korek api dan merokok. Segera ia membuka jendela kamar agar asap tak mengepul di dalam kamar.
“Lo marah sama gue?” tanya Sebastian.
“Nggak.”
“Terus kenapa berhenti?”
“Kalau hanya ciuman tanggung, gue cape tiap kali ciuman harus berakhir onani di kamar mandi.”
“Maaf.”
Aku menatapnya, kemudian aku simpan puntung rokok yang masih panjang dan kupeluk dia.
“Gue sayang banget sama lo, makanya gue rela ngelakuin apa yang lo mau, bahkan untuk gak ml sekalipun.”
Ia nampak diam sesaat. “Gue cuman takut setelah lo dapet gue, dapetin kenikmatan dari gue, lo bakalan ninggalin gue, Cast, gue takut.”
“Jadi lo gak percaya sama gue?”
“Gue percaya, tapi kan lebih baik kalau seperti ini aja, gue janji kalau gue siap gue bakalan kasih?”
“Tapi kapan? Tiga tahun lagi? Sampai kita tua nanti?”
Sebastian terdiam.
“Gue rela ngelakuin apapun yang lo mau Bas, gue selalu ada buat lo, bahkan sampe lo nyuruh gue bunuh orang aja gue rela, kenapa gue gitu, karena gue suka sama lo, dan itu gak akan pernah berubah, apa lo masih gak percaya?” aku beranjak dari pelkannya dan kembali mengenakan pakaianku. “Gue cabut dulu, ada kuliah jam sebelas.” Bastian mengangguk dan aku pergi meninggalkannya.
&&&
Aku sengaja bersikap dingin belakangan ini, entah mengapa aku hanya kesal kepadanya, tapi aku masih mencintainya, bahkan kami jadi jarang ciuman, ah, hanya ciuman yang tak begitu berarti.
Sore ini teman-temanku mengajak untuk main futsal, aku tak memberitahu Bastian kalau aku pulang telat, beberapa kali ia mencoba menghubungiku. Setelah main futsal aku langsung meneleponnya.
“Halo, Bas, sorry tadi gak sempet SMS, gue sekarang lagi maen futsal sama temen-temen, paling sejaman lagi gue nyampe rumah.”
“Oh, gak apa-apa. Eh, Cast...”
“Apa?”
“Gue siap.”
“Siap apa?”
“Gue mau ML sama lo, gue tunggu di rumah, ya, jangan maen dulu, takut gue keburu tidur. Bye.”
Aku seperti mendapatkan angin segar, dan tak berlama-lama lagi aku minta pamit untuk pulang duluan, aku tak ingin menya-nyiakan kesempatan ini.
Kurang dari setengah jam aku langsung tiba di rumah, rupanya Sebastian sedang masak bersama Erin.
“Wah, wangi amat, masak apa, nih?” tanyaku.
“Ini, gue sama kak Erin mau lagi masak ayam rica-rica, tunggu bentar, ya, bentar lagi beres, kok.”
“Eh, lo dari mana, tumben pake baju bola gitu,” tanya Erin.
“Abis main futsal dong, gue kan cowok keren.”
“Apaan, sih,” ejek Erin, aku langsung pergi untuk mandi.
Setelah selesai mandi, kami langsung makan bersama, rupanya Erin sudah memiliki kekasih baru, terlihat lebih matang dan berwibawa, aku taksir sepertinya dia pegawai Bank.
“Jefri ini kerja di Bank,” kata Erin memberitahu.
Ternyata memang tepat dugaanku. “Oh, dari kapan kalian jadian?” tanyaku.
“Ah, lo, sih, sekarang sok sibuk, gue udah mau tiga bulan ini jadian sama dia, iya, kan say?”
Jefri mengangguk.
“Kalau kalian sudah punya pacar belum?” tanya Jefri.
Aku tersentak kaget, begitupun dengan Sebastian, kami berdua saling berpandangan.
“Udah, dong,” ucapku memecah keganjilan. “Pacar gue jago masak, pinter, terus nurut banget sama gue.”
“Oh, ya? Kenapa gak di ajak ke sini?”
“Tadinya sih, mau tapi dianya lagi sibuk belajar sekarang.”
“Oh, gitu, kalau Bastian, mana pacarnya?”
“Eh, em, ada, tadi di telepon katanya lagi latihan balet sama teman-temannya.”
“Oh, dia penari balet?”
“Bukan, dia cuman ikut-ikutan temennya aja, biasa cewek labil,” ujarnya sambil kakinya mendorong kakiku.
“Ah, namanya juga cewek,” ujar Jefri, “kadang Erin juga suka lagil, kok.”
“Ih, apaan, nggak juga kok.”
Aku dan Bastian langsung tertawa bersama.
Setelah acara makan selesai, Erin berencana untuk nonton film di bioskop dan meninggalkan kami berdua. Aku langsung menuju kamar.
Kulihat Bastian masuk dengan ragu-ragu, aku menghampirinya dan membimbingnya menuju kasur.
“Gak usah takut, gue janji lo gak akan nyesel, kok.”
Ia mengangguk. Tidak berlama-lama lagi kini aku mencium bibirnya, ia membalas ciumanku dengan kaku, aku menatapnya dan meyakinkan kalau ini akan menyenangkan, dan sekarang ia mencoba untuk rileks dan berciuman seperti biasanya kami berciuman. Aku buka bajunya perlahan, kemudian gantian aku yang membuka bajuku, aku lumat puting favoritku dan ia mendesah kenikmatan, aku menjilat perutnya, dan bermain dipusarnya, ia kegelian campur nikmat, selanjutnya aku coba membuka celana levisnya, sulit, tapi akhirnya bisa terbuka dengan sepenuhnya. Kulihat celana dalamnya sudah mulai basah oleh air bening kental, aku jilat celana dalamnya, ia nampak bergidik kenikmatan, lama aku bermain di celana dalamnya hingga basah, dan sekarang aku membuka celana dalamnya, timbullah batang yang sudah menegang dan berdenyut itu, tanpa melihatnya lagi dengan yakin aku masukan batang ikut ke dalam mulutku, ia menggerang keenakan, matanya terpejam dan kedua tangannya mengacak-acak rambutku.
“Ah.... ah... uh....” ceracaunya.
Aku sedot batang itu kuat-kuat sehingga ia menggeliat nikmat, melihat buah jakarnya yang masih ranum, aku langsung menjilatnya, dan kusedot dengan nikmat, ia benar-benar terhanyut oleh permainanku. Aku kembali ke batang yang berbalutkan daging itu, kumasuk-keluarkan bantang itu cepat di dalam mulutnya, ia semakin mengerang, dan ku cabut bantangnya dari mulutku.
Kemudian aku menintanya untuk berbalik badan, pantatnya yang putih mulus serta gempal sangat menggiurkanku, ini adalah pantat terindah yang pernah aku lihat, aku ciumi pantanya dan kadang aku gigit-gigit gemas, selanjutnya, aku coba membuka belahan pantatnya, dan kulihat anusnya masih sempit memerah, aku mencoba untuk menjilatnya, ia menggelinjang, aku yakin bersumpah kalau ia sangat menikmati jilatan ini, siapapun yang dilakukan seperti ini pasti akan ketagihan.
Perlahan aku mencoba memasukan jari tengahku ke dalam anusnya, ia nampak sedikit meringis, aku mencobanya perlahan karena tidak ingin membuatnya kesakitan, kembali aku jilat anusnya dan ia mendesah kencang, aku balikan badannya, dan kini aku menindihnya, celanaku sudah di buka dan aku ingin merasakan penisku berada di dalam mulut Bastian, awalnya ia nampak ragu, tapi setelah aku tatap matanya dan mencium bibirnya akhirnya ia mau, ia masukan perlahan penisku, ia mencoba untuk menikmatinya dan benar saja, kini ia sudah tak ragu lagi memasukan batangku keluar masuk mulutnya, ia mengikuti aksiku yang menyedot buah jakarku. Pengalaman baru untukknya.
Setelah dirasa cukup, kini aku kembali ke anusnya, aku olesi anusnya dengan pelumas yang sudah aku beli sebelumnya, ia nampak takut dan sedikit gelisah, tapi aku pastikan ini akan enak dengan ciumanku, kini saatnya, aku mencoba untuk memasukan penisku perlahan, ia nampak memejamkan mata dan mengernyit menahan sakit, sedikit-sedikit aku coba untuk maju semakin dalam, dan kini ia terbelalak.
“Sakit.... Cast, sakit...”
“Tenang, ini gak akan lama, coba rileks.”
Ia kembali memejamkan matanya, aku sendiri sebenarnya kasihan melihat kesakitannya, tapi apa mau dikata, nafsuku sudah lebih besar, dan kemudian setelah setengah batangku masuk, aku langsung memasukan semuanya, ia teriak kesakitan.
“Aaaaaa..... sakit, Cast, please, gak kuat,” lirihnya dan kulihat air matanya mengalir.
“Sabar, ini gak akan lama, nanti juga terbiasa.”
Aku mendiamkan penisku di dalam anusnya cukup lama, ini bertujuan agar anusnya bisa menyesuaikan diri dengan penisku di dalam dan otot-otot anusnya melonggar. Setelah kurasa sudah mulai biasa, aku memaju mundurkan pantatku dan menggenjot anusnya perlahan, ia masih meringis, tapi setidaknya sudah bisa menahannya, aku kini memompanya semakin dalam dan dalam lagi, air matanya sudah tak keluar lagi, ia memejamkan matanya mencoba untuk menikmati setiap genjotanku.
Setengsh jam kemudian, aku berganti posisi, kini posisi kami berubah, aku di bawah dan dia di atasku, ia menaik turunkan tubuhnya perlahan, dan kulihat kini pensinya sudah tegak berdiri, itu tandanya ia sudah mulai horny lagi dengan goyanganku, aku menjadi semakin bersemangat untuk memompa menisku lebih cepat.
“Enak?” tanyaku.
Ia hanya sersenyum, aku bangkit kemudian mencium bibirnya yang selalu membuatku bergairah itu. permain kami sangat lama, mungkin ini efek karena aku bersemangat, beberapa posisi sudah kami lakukan, bahkan ia kini mendasar, tak lagi menjerit kesakitan.
Dan, dalam beberapa menit lagi air maniku akan keluar.
“Bas, gue masukan di dalam aja, ya?” Iya mengangguk.” Ah... Ah... gue udah gak kuat!”
Crot crot crot
Air maniku tumpah ruah di dalam anusnya, ia bergeridik merasakan air maniku tumpah, kemudian giliran dia yang belum keluar, aku tak ingin membiarkannya bersusah-susah, aku kini melumat penisnya dengan gesit dan kuat, ia nampak tak berdaya lagi, kedua tangannya memegang pinggiran kasur dan, ah, rupanya ia tak bisa mengontrol air maninya untuk keluar dan alhasil air mani itu keluar semua di mulutku. Meski aku juga baru pertama kali merasakan air mani, tapi aku tidak merasa jijik, sebab air mani yang keluar adalah air mani dari pacar tersayangku sendiri. Akhirnya setelah permainan usai, kami berdua tertidur juga.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Namanya Sebastian 3 ini dipublish oleh Unknown pada hari 28 Desember 2014. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 1komentar: di postingan Namanya Sebastian 3
 

1 komentar:

  1. Best free spins no deposit casino sites 2021 - JtmHub
    Best 동해 출장샵 Free Spins No Deposit 경주 출장안마 Casinos All free spins and 대전광역 출장안마 no deposit bonus casino websites offer no deposit 경주 출장안마 bonus codes to 의정부 출장샵 attract new and loyal new

    BalasHapus