Love of Enemy 4



Aku tak menyesali apa yang kulakukan kepada Lukman malam itu, memang dia pantas mendapatkan semua itu, bahkan mungkin seharusnya lebih kalau ingat apa yang ia lakukan kepadaku, tapi, kini dia menjadi bagian hidupku, maksudku kini ia menjadi temanku mau tidak mau.
“Oy Ger, kemaren kenapa lo pulang duluan?” tanya Alatas ketika aku sibuk dengan pikiranku.
“Gue ada keperluan mendadak, sorry, ya?” kataku sambil masih menatap layar PC dihadapanku.

“Gue tau, kok, kenapa lo pulang,” ucap Alatas tiba-tiba.
Dengan seketika aku langsung menatapnya tak percaya, sedikit sinis sekilas dan kembali menatap PCku.
“Emangnya gue ngapain semalem?”
Kini Alatas duduk di sampingku, “Lo gay?”
“Nggak!” bentakku.
“Terus kenapa lo ‘gituan’ sama si Lukman?”
“Lukman yang bilang sama lo? Gak usah percaya dia, dia emang suka sama gue.”
“Nggak, gue beneran liat lo gituan sama dia, ngaku aja, Ger, kita, kan, udah bilang kalau kita nerimain mau lo gay atau bukan.”
Kembali aku menatapnya dengan pandangan sinis. “Gini, biar gue jelasin ama lo, ya.” Aku diam sejenak. “Gue NORMAL, dan gue suka sama cewek, kejadian semalem yang lo liat itu adalah satu masalah yang lo gak tahu, sebelumnya gue ada masalah ama dia, dan gue gak mau ceritain masalah gue ke lo. Ini adalah masalah pribadi.”
“Masalah? Terus lo balas dendam dengan cara merkosa dia? Yang gue tau dia belum pernah gituan sama cowok lain.”
“Kalau lo mau tau masalahnya, kenapa gak tanya aja sama si homo itu!”
“Begini, ya, Ger, bukannya gue sok tau atau terlalu ikut campur masalah lo sama si Luke, tapi menurut gue lo udah keterlaluan ama dia, sekarang ini lo sudah jadi bagian dari kita, gue udah nganggep lo temen, kita semua satu genk, dan gue gak mau ada masalah intern yang bikin temenan kita ancur cuma gara-gara masalah pribadi lo ama si Luke.”
“Gue emang udah nganggep kalian temen gue, tapi dia, gue gak pernah nganggep dia temen gue.”
“Hm, whatever, yang penting jangan sampai yang lain tau tentang masalah lo ama dia, dan coba biasakan diri sama dia, sebenernya dia orangnya baik kalo lo kenal.”
Aku menaik turunkan pundakku. “We’ll see,” ucapku tak peduli.
Alatas menepuk punggungku dan pergi. Kini aku kembali berkutrat dengan pikiranku kembali.
&&&
Malam ini aku hanya diam di kontrakanku sendiri, membuka beberapa file dokumen dan bermain game farm kesukaanku. Ketika malam sudah semakin larut, ada telepon masuk, dari Anna. Aku menatap ponselku lama, untuk apa dia kembali menghubungiku setelah sekian semua ini. Aku mengacuhkan ponselku dan kubiarkan saja tergeletak di kasur. Aku keluar rumah karena mendengar suara kentungan tukang bandrek, uh sepertinya minum bandrek ditengah udara dingin kota Bandung sangat tepat.
Aku membeli bandrek dan ubi, mengeluarkan dompetku. Ketika hendak membayar, ada secarik kertas yang terjatuh, bukan, bukan kertas melainkan kartu nama. Adi Perwira Dinata. Ah, ya, orang ini, dia yang membantuku tempo itu. Mungkin ini saatnya untukku menghubunginya sebagai ucapan terima kasih atas jasanya kepadaku. Kutekan nomor yang tertera di kartu nama itu. Tersambung.
“Hallo?” ujar seseorang dari seberang sana.
“Hallo bisa bicara dengan pak Adi?” tanyaku.
“Ya, saya sendiri, ada kepentingan apa, ya?”
“Ah, Adi, ini aku, Gery orang yang tempo dulu kau tolong. Apa kabarmu?”
“Oh, hai Gery, aku baik-baik saja, aku kira kau tidak akan pernah meneleponku lagi, ada apa?”
“Tidak ada apa-apa, aku hanya tidak ingin melupakan orang yang pernah menolongku, maaf aku baru menghubungimu.”
“Ah, kau ini, jangan terlalu memuji. Kau juga sudah membantuku, hm, kenapa kita bicaranya resmi sekali ya? Hahaha...”
“Hahaha.. ya, gue takut gak sopan aja kalau pakai bahasa gaul, takutnya lo kira gue sok dekat.”
“Santai aja, bagaimana kabar adikmu?”
“Baik, sekarang dia sudah sehat, berkat lo.”
“Sukurlah kalau begitu. Sekarang lo ada di mana? Boleh gue ketempat lo?”
“Uh, em, sebenarnya sekarang gue nggak tinggal di Cikarang lagi, gue pindah.”
“Pindah ke mana?”
“Bandung.”
“Wah, kebetulan banget, gue juga sekarang udah pindah ke Bandung, lo tinggal di mana, biar gue kesana sekarang.”
Sebuah mobil sedan merah berhenti di depan kosanku. Aku mengawasi dari jendela. Kemudian seorang pria yang sudah kukenal keluar dari dalam mobil. Adi.
“Hai, Adi, long time no see.”
“Hai, jadi sekarang lo di sini?”
Aku mengangguk. “Silahkan masuk.”
“Wah sekarang kamarnya lebih luas dari yang dulu, ya?”
“Ya, jadi lebih leluasa bergerak,” ucapku sambil tersenyum.
“Gue lapar, mau cari makan?” katanya.
“Jam segini?”
“Gue tahu tempat enak untuk makan yang buka 24 jam.”
“Ok.”
Kami pun pergi meninggalkan tempat kontrakanku.
&&&
“Well rupanya lo punya selera makan yang gede, padahal perut lo kecil,” kataku pada Adi ketika melihat ia dengan sangat lahap makan.
“Oh, ya, gue pecinta semua jenis makanan,” ujarnya dengan masih mengacuhkanku.
“Its good, gak kaya gue, kalau terlalu banyak makan bisa buncit.”
“Itu  gue anggap sebagai pujian.”
Kami berbincang dengan sangat seru, rupanya ia sangat ramah, tak berbeda seperti dulu ketika pertama kali kita bertemu.
“Sebenarnya dari dulu gue pengen menanyakan pertanyaan ini sama lo, tapi entahlah, gue cari moment yang tepat saja,” ujar Adi.
“Nanya apa?”
“Pas waktu lo nolong gue, lo lagi ngapain di sana? dari rumah temen?”
Aku terdiam. Uh, pertanyaan dia membuat aku kembali teringat kejadian itu.
“Kenapa diam?”
“Ah, ehm, nggak, gue males aja inget-inget kejadian itu.”
“Jadi lo gak seneng sama pertemuan kita dulu? Oh, ya, gara-gara gue, kan, ya, lo jadi masuk rumah sakit.”
Bukan, bukan itu, tapi kejadian sebelum gue nolong lo.”
“Mau cerita?”
Aku menggeleng. “Kita pulang aja, yuk?”
Adi menatapku dengan tatapan heran, namun akhirnya ia menyetujui ajakanku. Dalam perjalanan pulangpun aku tak banyak bicara, moodku benar-benar berubah ketika Adi mencoba membuatku harus mengingat kejadian buruk itu.
“Gue minta maaf, deh, kalau pertanyaan gue bikin lo jadi bad mood,” katanya ketika kami sudah sampai di depan kontrakanku.
“Aduh, jangan salah sangka, bukan gara-gara lo, kok, santai aja. Ayo masuk,” ajakku.
“Kayaknya gue pulang aja, deh.”
“Hei, ini udah malem banget, nginep aja di gue, nanti gue bangunin lo, kok, dan gue janji gak akan bikin lo kesiangan lagi.”
Adi tertawa dan akhirnya mau menerima tawaranku.
“Eh, gimana kabar cewek lo?” tanya Adi ketika kami hendak tidur.
“Selesai.”
“Kenapa?”
“Gue lagi gak mau cerita.”
“Hm, ok.”
Aku menatap Adi lekat, wajahnya cukup cute untuk ukuran orang yang sudah menginjak kepala tiga. Matanya yang bundar mengingatkanku akan Yama Carlos, aktor Indonesia yang bermain dalam film ‘I know you did on facebook.’ “Emang lo mau dengerin cerita gue?” tanyaku.
“Why not?”
“Sebenernya hubungan gue ama dia ketika terakhir kita ketemu itu udah rumit banget, gue diselingkuhin. Ternyata dia punya cowok lain, atasannya.” Aku kembali diam. “Sebenarnya hari terakhir kita ketemu itu, gue lagi ngalamin kejadian yang sangat menjijikan. Gue ditipu oleh orang, orang itu janji buat ngasih gue duit kalau gue mau ngeseks sama...” aku menatap Adi yang masih memperhatikanku sambil tiduran.
“Siapa?”
“Cowok.”
“Hah? Terus?”
“Lo gak jijik ngedenger itu? maksud gue, gue bukan gay, gue cuman di jebak sama orang-orang itu buat ML sama cowok.”
Adi menggeleng.
“Terus setelah beres ML, ternyata gue ditipu ama mereka, gue ditinggalin sama mereka di Karawang, nah itulah kenapa kita bisa ketemu.”
“Jadi lo udah ML sama cowok?”
Aku mengangguk ragu.
“Yaudah gue tidur dulu, ya, malam.” Adi memiringkan tubuhnya, dan aku hanya bisa termenung. Ah, aku jadi takut kalau Adi akan menjadi jijik kepadaku setelah mendengar cerita itu.
&&&
Ah... emp, uh, ah, emp, aw, emp...
Samar-samar kulihat seseorang sedang asik mempermainkan penisku, dalam cahaya lampu yang remang aku kurang bisa melihat dengan jelas wajah orang itu, setelah cukup lama aku mulai bisa menyesuaikan mataku dengan kondisi gelapnya kamarku. Rupanya aku melihat Adi sedang mengoral penisku, aku tersentak namun tak berdaya, rupanya tangan dan kakiku terikat tak bisa bergerak.
“Adi, Di, ah, lo lagi apa? Lo... lo... lo gay?”
Adi tak memedulikan ucapanku, ia sibuk mengoral penisku, hisapannya benar-benar sangat nikmat, ia membuat bulu kudukku berdiri karena saking enaknya.
“Di, stop Di, gue gak kuat...”
Masih tak ada respon dari Adi, malah ia semakin menjadi. Tiba-tiba saja dia berhenti, kini ia mencium seluruh tubuhku, menjilat paha, selangkangan, kaki, perut, dada, dan kini ia melumat habis bibirku, aku sampai kewalahan dibuatnya. Kemudian Adi membalikan tubuhku sehingga kini aku telungkup, ia mencium punggungku, leher, turun ke bawah, ke pantatku, kemudian pantatku ia buka, dan dijilatinya lubang anusku, geli campur nikmat merajaiku, aku benar-benar seperti melayang, sungguh sensasi yang sangat nikmat. Penisku kini semakin tegang meski tanpa di oral. Lama sekali ia menjilati anusku kemudian ia kembali membuatku terlentang. Mengoral penisku kembali, nikmat yang dia berikan benar-benar membuatku berkeringat, ah, kini aku sudah tak mampu lagi menahan bendungan air mani yang dalam hitungan detik akan segera keluar. Tanpa mampu berkata, kini ari maniku keluar.
Crot Crot Crot Crot
Air maniku tumpah ruah di dalam mulut Adi, aku menatapnya, ia tersenyum, namun dengan seketika juga kesadaranku kembali hilang.
“Ger, bangun Ger, udah siang nih,” ujar seseorang membangunkanku. Kubuka mataku, menatap keadaan kamar dan menatap Adi. Kulihat pakaianku masih menempel di tubuhku. Apa ini mimpi? Lalu mengapa mimpi ini terasa nyata? Tapi... ah! Batinku kesal.
“Gue pamit pulang, ya?”
“Oh, iya, Di.. eh, gue mau tanya.”
“Nanya apa?”
“Semalem kita ngapain?”
“Tidur bareng, kan?”
Bukan, maksudku, apa semalem lo...” Aku terdiam. “Ah, udahlah lupain aja.”
“Dasar aneh, yaudah gue balik ya, bye.”
Adi pun pergi meninggalkanku sendiri.
“Lagi-lagi ini terjadi, mengapa setiap kali Adi menginap aku selalu bermimpi seperti itu? Atau ini bukan mimpi? Lalu mengapa?”
Kulihat sekeliling tempat tidur. Tak ada benda atau tali yang bisa dipakai untuk mengikatku, lalu bajuku juga masih terpasang, ah, mungkin ini benar-benar mimpi buruk.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Love of Enemy 4 ini dipublish oleh Unknown pada hari 23 Desember 2014. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Love of Enemy 4
 

0 komentar:

Posting Komentar