Aku
tak menyesali apa yang kulakukan kepada Lukman malam itu, memang dia pantas
mendapatkan semua itu, bahkan mungkin seharusnya lebih kalau ingat apa yang ia
lakukan kepadaku, tapi, kini dia menjadi bagian hidupku, maksudku kini ia
menjadi temanku mau tidak mau.
“Oy
Ger, kemaren kenapa lo pulang duluan?” tanya Alatas ketika aku sibuk dengan
pikiranku.
“Gue
ada keperluan mendadak, sorry, ya?” kataku sambil masih menatap layar PC
dihadapanku.
“Gue
tau, kok, kenapa lo pulang,” ucap Alatas tiba-tiba.
Dengan
seketika aku langsung menatapnya tak percaya, sedikit sinis sekilas dan kembali
menatap PCku.
“Emangnya
gue ngapain semalem?”
Kini
Alatas duduk di sampingku, “Lo gay?”
“Nggak!”
bentakku.
“Terus
kenapa lo ‘gituan’ sama si Lukman?”
“Lukman
yang bilang sama lo? Gak usah percaya dia, dia emang suka sama gue.”
“Nggak,
gue beneran liat lo gituan sama dia, ngaku aja, Ger, kita, kan, udah bilang
kalau kita nerimain mau lo gay atau bukan.”
Kembali
aku menatapnya dengan pandangan sinis. “Gini, biar gue jelasin ama lo, ya.” Aku
diam sejenak. “Gue NORMAL, dan gue suka sama cewek, kejadian semalem yang lo
liat itu adalah satu masalah yang lo gak tahu, sebelumnya gue ada masalah ama
dia, dan gue gak mau ceritain masalah gue ke lo. Ini adalah masalah pribadi.”
“Masalah?
Terus lo balas dendam dengan cara merkosa dia? Yang gue tau dia belum pernah
gituan sama cowok lain.”
“Kalau
lo mau tau masalahnya, kenapa gak tanya aja sama si homo itu!”
“Begini,
ya, Ger, bukannya gue sok tau atau terlalu ikut campur masalah lo sama si Luke,
tapi menurut gue lo udah keterlaluan ama dia, sekarang ini lo sudah jadi bagian
dari kita, gue udah nganggep lo temen, kita semua satu genk, dan gue gak mau
ada masalah intern yang bikin temenan kita ancur cuma gara-gara masalah pribadi
lo ama si Luke.”
“Gue
emang udah nganggep kalian temen gue, tapi dia, gue gak pernah nganggep dia
temen gue.”
“Hm,
whatever, yang penting jangan sampai yang lain tau tentang masalah lo ama dia, dan
coba biasakan diri sama dia, sebenernya dia orangnya baik kalo lo kenal.”
Aku
menaik turunkan pundakku. “We’ll see,” ucapku tak peduli.
Alatas
menepuk punggungku dan pergi. Kini aku kembali berkutrat dengan pikiranku
kembali.
&&&
Malam
ini aku hanya diam di kontrakanku sendiri, membuka beberapa file dokumen dan
bermain game farm kesukaanku. Ketika malam sudah semakin larut, ada telepon
masuk, dari Anna. Aku menatap ponselku lama, untuk apa dia kembali menghubungiku
setelah sekian semua ini. Aku mengacuhkan ponselku dan kubiarkan saja
tergeletak di kasur. Aku keluar rumah karena mendengar suara kentungan tukang
bandrek, uh sepertinya minum bandrek ditengah udara dingin kota Bandung sangat
tepat.
Aku
membeli bandrek dan ubi, mengeluarkan dompetku. Ketika hendak membayar, ada
secarik kertas yang terjatuh, bukan, bukan kertas melainkan kartu nama. Adi
Perwira Dinata. Ah, ya, orang ini, dia yang membantuku tempo itu. Mungkin ini
saatnya untukku menghubunginya sebagai ucapan terima kasih atas jasanya
kepadaku. Kutekan nomor yang tertera di kartu nama itu. Tersambung.
“Hallo?”
ujar seseorang dari seberang sana.
“Hallo
bisa bicara dengan pak Adi?” tanyaku.
“Ya,
saya sendiri, ada kepentingan apa, ya?”
“Ah,
Adi, ini aku, Gery orang yang tempo dulu kau tolong. Apa kabarmu?”
“Oh,
hai Gery, aku baik-baik saja, aku kira kau tidak akan pernah meneleponku lagi,
ada apa?”
“Tidak
ada apa-apa, aku hanya tidak ingin melupakan orang yang pernah menolongku, maaf
aku baru menghubungimu.”
“Ah,
kau ini, jangan terlalu memuji. Kau juga sudah membantuku, hm, kenapa kita
bicaranya resmi sekali ya? Hahaha...”
“Hahaha..
ya, gue takut gak sopan aja kalau pakai bahasa gaul, takutnya lo kira gue sok
dekat.”
“Santai
aja, bagaimana kabar adikmu?”
“Baik,
sekarang dia sudah sehat, berkat lo.”
“Sukurlah
kalau begitu. Sekarang lo ada di mana? Boleh gue ketempat lo?”
“Uh,
em, sebenarnya sekarang gue nggak tinggal di Cikarang lagi, gue pindah.”
“Pindah
ke mana?”
“Bandung.”
“Wah,
kebetulan banget, gue juga sekarang udah pindah ke Bandung, lo tinggal di mana,
biar gue kesana sekarang.”
Sebuah
mobil sedan merah berhenti di depan kosanku. Aku mengawasi dari jendela.
Kemudian seorang pria yang sudah kukenal keluar dari dalam mobil. Adi.
“Hai,
Adi, long time no see.”
“Hai,
jadi sekarang lo di sini?”
Aku
mengangguk. “Silahkan masuk.”
“Wah
sekarang kamarnya lebih luas dari yang dulu, ya?”
“Ya,
jadi lebih leluasa bergerak,” ucapku sambil tersenyum.
“Gue
lapar, mau cari makan?” katanya.
“Jam
segini?”
“Gue
tahu tempat enak untuk makan yang buka 24 jam.”
“Ok.”
Kami
pun pergi meninggalkan tempat kontrakanku.
&&&
“Well
rupanya lo punya selera makan yang gede, padahal perut lo kecil,” kataku pada
Adi ketika melihat ia dengan sangat lahap makan.
“Oh,
ya, gue pecinta semua jenis makanan,” ujarnya dengan masih mengacuhkanku.
“Its
good, gak kaya gue, kalau terlalu banyak makan bisa buncit.”
“Itu gue anggap sebagai pujian.”
Kami
berbincang dengan sangat seru, rupanya ia sangat ramah, tak berbeda seperti
dulu ketika pertama kali kita bertemu.
“Sebenarnya
dari dulu gue pengen menanyakan pertanyaan ini sama lo, tapi entahlah, gue cari
moment yang tepat saja,” ujar Adi.
“Nanya
apa?”
“Pas
waktu lo nolong gue, lo lagi ngapain di sana? dari rumah temen?”
Aku
terdiam. Uh, pertanyaan dia membuat aku kembali teringat kejadian itu.
“Kenapa
diam?”
“Ah,
ehm, nggak, gue males aja inget-inget kejadian itu.”
“Jadi
lo gak seneng sama pertemuan kita dulu? Oh, ya, gara-gara gue, kan, ya, lo jadi
masuk rumah sakit.”
Bukan,
bukan itu, tapi kejadian sebelum gue nolong lo.”
“Mau
cerita?”
Aku
menggeleng. “Kita pulang aja, yuk?”
Adi
menatapku dengan tatapan heran, namun akhirnya ia menyetujui ajakanku. Dalam
perjalanan pulangpun aku tak banyak bicara, moodku benar-benar berubah ketika
Adi mencoba membuatku harus mengingat kejadian buruk itu.
“Gue
minta maaf, deh, kalau pertanyaan gue bikin lo jadi bad mood,” katanya ketika
kami sudah sampai di depan kontrakanku.
“Aduh,
jangan salah sangka, bukan gara-gara lo, kok, santai aja. Ayo masuk,” ajakku.
“Kayaknya
gue pulang aja, deh.”
“Hei,
ini udah malem banget, nginep aja di gue, nanti gue bangunin lo, kok, dan gue
janji gak akan bikin lo kesiangan lagi.”
Adi
tertawa dan akhirnya mau menerima tawaranku.
“Eh,
gimana kabar cewek lo?” tanya Adi ketika kami hendak tidur.
“Selesai.”
“Kenapa?”
“Gue
lagi gak mau cerita.”
“Hm,
ok.”
Aku
menatap Adi lekat, wajahnya cukup cute untuk ukuran orang yang sudah menginjak
kepala tiga. Matanya yang bundar mengingatkanku akan Yama Carlos, aktor
Indonesia yang bermain dalam film ‘I know you did on facebook.’ “Emang lo mau
dengerin cerita gue?” tanyaku.
“Why
not?”
“Sebenernya
hubungan gue ama dia ketika terakhir kita ketemu itu udah rumit banget, gue
diselingkuhin. Ternyata dia punya cowok lain, atasannya.” Aku kembali diam.
“Sebenarnya hari terakhir kita ketemu itu, gue lagi ngalamin kejadian yang
sangat menjijikan. Gue ditipu oleh orang, orang itu janji buat ngasih gue duit
kalau gue mau ngeseks sama...” aku menatap Adi yang masih memperhatikanku
sambil tiduran.
“Siapa?”
“Cowok.”
“Hah?
Terus?”
“Lo
gak jijik ngedenger itu? maksud gue, gue bukan gay, gue cuman di jebak sama
orang-orang itu buat ML sama cowok.”
Adi
menggeleng.
“Terus
setelah beres ML, ternyata gue ditipu ama mereka, gue ditinggalin sama mereka
di Karawang, nah itulah kenapa kita bisa ketemu.”
“Jadi
lo udah ML sama cowok?”
Aku
mengangguk ragu.
“Yaudah
gue tidur dulu, ya, malam.” Adi memiringkan tubuhnya, dan aku hanya bisa
termenung. Ah, aku jadi takut kalau Adi akan menjadi jijik kepadaku setelah
mendengar cerita itu.
&&&
Ah...
emp, uh, ah, emp, aw, emp...
Samar-samar
kulihat seseorang sedang asik mempermainkan penisku, dalam cahaya lampu yang
remang aku kurang bisa melihat dengan jelas wajah orang itu, setelah cukup lama
aku mulai bisa menyesuaikan mataku dengan kondisi gelapnya kamarku. Rupanya aku
melihat Adi sedang mengoral penisku, aku tersentak namun tak berdaya, rupanya
tangan dan kakiku terikat tak bisa bergerak.
“Adi,
Di, ah, lo lagi apa? Lo... lo... lo gay?”
Adi
tak memedulikan ucapanku, ia sibuk mengoral penisku, hisapannya benar-benar
sangat nikmat, ia membuat bulu kudukku berdiri karena saking enaknya.
“Di,
stop Di, gue gak kuat...”
Masih
tak ada respon dari Adi, malah ia semakin menjadi. Tiba-tiba saja dia berhenti,
kini ia mencium seluruh tubuhku, menjilat paha, selangkangan, kaki, perut,
dada, dan kini ia melumat habis bibirku, aku sampai kewalahan dibuatnya.
Kemudian Adi membalikan tubuhku sehingga kini aku telungkup, ia mencium
punggungku, leher, turun ke bawah, ke pantatku, kemudian pantatku ia buka, dan
dijilatinya lubang anusku, geli campur nikmat merajaiku, aku benar-benar
seperti melayang, sungguh sensasi yang sangat nikmat. Penisku kini semakin
tegang meski tanpa di oral. Lama sekali ia menjilati anusku kemudian ia kembali
membuatku terlentang. Mengoral penisku kembali, nikmat yang dia berikan
benar-benar membuatku berkeringat, ah, kini aku sudah tak mampu lagi menahan
bendungan air mani yang dalam hitungan detik akan segera keluar. Tanpa mampu
berkata, kini ari maniku keluar.
Crot
Crot Crot Crot
Air
maniku tumpah ruah di dalam mulut Adi, aku menatapnya, ia tersenyum, namun
dengan seketika juga kesadaranku kembali hilang.
“Ger,
bangun Ger, udah siang nih,” ujar seseorang membangunkanku. Kubuka mataku,
menatap keadaan kamar dan menatap Adi. Kulihat pakaianku masih menempel di
tubuhku. Apa ini mimpi? Lalu mengapa mimpi ini terasa nyata? Tapi... ah!
Batinku kesal.
“Gue
pamit pulang, ya?”
“Oh,
iya, Di.. eh, gue mau tanya.”
“Nanya
apa?”
“Semalem
kita ngapain?”
“Tidur
bareng, kan?”
Bukan,
maksudku, apa semalem lo...” Aku terdiam. “Ah, udahlah lupain aja.”
“Dasar
aneh, yaudah gue balik ya, bye.”
Adi
pun pergi meninggalkanku sendiri.
“Lagi-lagi
ini terjadi, mengapa setiap kali Adi menginap aku selalu bermimpi seperti itu?
Atau ini bukan mimpi? Lalu mengapa?”
Kulihat
sekeliling tempat tidur. Tak ada benda atau tali yang bisa dipakai untuk
mengikatku, lalu bajuku juga masih terpasang, ah, mungkin ini benar-benar mimpi
buruk.

0 komentar:
Posting Komentar