Ini
sudah setengah jalan, apa kalian menikmati ceritaku? Kurasa iya, karena sudah
sejauh ini, mana mungkin kalian tidak menikmatinya. Kalau kalian memungkiri tak
menikmati ceritaku, untuk apa bagian ini kalian baca? Tentunya karena kalian
penasaran, kan?
Ok,
di cerita selanjutnya ini aku akan membawa kalian kepada saat-saat tak terduka,
hampir sama dengan film-film biasa, hanya saja yang membedakannya ini cerita
tentang GAY, dan kalian yang gay pasti tertarik, oh, iya, mungkin sedikit
berlebihan, aku tak tahu, karena ini adalah kisahku, kisah si Castro yang
bodoh.
&&&
Setelah
kami melakukannya sekali kini Sebastian menjadi ketagihan, ia selalu meminta
jatah padaku hampir setiap hari, aku sendiri tak masalah karena aku adalah
maniak seks. Kami biasa melakukan hubungan ini bukan hanya di kamar dengan
kasur saja, bahkan kami pernah melakukannya di mobil, dapur, kampus, kolam
renang, bahkan yang paling ekstrim adalah ketika kami melakukannya luar jalan,
caranya? Iya, kami sebisa mungkin mencari pinggiran jalan kosong yang jarang
dilalui oleh orang bahkan kendaraan-kendaraan lainnya.
Karena
akhirnya kami menjadi sama-sama penggila seks, ia tak keberatan dengan hal itu,
bahkan beberapa tempat yang kami sebutkan tadi itu merupakan usulan darinya.
Kini
usia pacaran kami sudah menginjak tahun ke dua, kini aku sudah sibuk dengan
kuliah akhirku, harusnya aku sudah wisuda, tapi karena dulu aku sering bolos
dan nilaiku kecil, aku jadi harus mengulang beberapa mata kuliah untuk bisa
ikut sidang tahun depan, Sebastian kini sudah di semester lima, nilai
akademiknya memang di atas rata-rata, ia bahkan disebut sebagai si jenius dan
rumor yang terdengar kalau dia nanti akan di jadikan asisten dosen oleh dosen
yang menjadi wali dosenku ini. Dan, berkat dia, beberapa nilaiku yang kacau
sudah membaik, hanya tinggal dua mata kuliah yang belum tuntas.
Kau
tahu, kadang hubungan yang terjalin selama beberapa tahun bisa membuat kita
bosan, dan aku menghadapinya kini, sebelumnya aku tidak pernah berpacaran
dengan pria sampai selama ini, paling lama aku menjalin hubungan adalah selama
tiga bulan, itu pun aku seringkali selingkuh dibelakangnya, tapi dengan
Sebastian, aku tidak selingkuh, bahkan bang Dadang yang dulu mendekatiku, kini
tak lagi menganggapku ada karena aku bilang kalau aku sudah memiliki kekasih.
Sebastian
masih sama seperti yang dulu, meski ia tampan dan sering didekati oleh
teman-teman wanitanya, tapi ia tak sekalipun memberikan harapan kepada mereka,
ia selalu fokus kepadaku. Aku beruntung tapi aku juga bosan, karena nyaris dari
kami tak ada waktu untuk bertengkar, ia selalu menuruti semua perintahku,
mauku, dan apapun yang aku inginkan. Dan, Sebastian masih tak berubah dalam hal
cara berpakaian, masih cupu dengan kacamata tebalnya dan rambut rapih ala-ala
pria jaman dulu. Pernah sekali waktu aku bilang kepadanya agar merubah
penampilan, tapi dia bilang kalau ia merubah penampilan takutnya akan semakin
banyak orang yang menyukainya dan aku akan semakin ekstra hati-hati menjaganya,
padahal aku sendiri tak mempermasalahkan itu.
“Cast,
malam ini kita nonton, yuk? Kak Erin ngajakin kita double date,” ujar Sebastian
ketika aku selesai mandi.
“Gak
ah, gue males, lagi banyak tugas.”
“Terus
mau apa?”
“Gak
tau, lagi males maen aja.”
“Oh,
yaudah.”
“Lo
ikut aja sama Erin, gue gak apa-apa, kok, sendirian di sini juga.”
“Nggak
ah, nanti yang ada gue jadi kambing conge.”
“Daripada
kambing panggang?”
“Ah,
lo bisa aja.”
Tiba-tiba
saja Bastian memelukku dari belakang. “Gak minta jatah?”
“Duh,
Bas, gue sibuk sekarang, kalau gue telat kuliah nilai gue kecil lagi, terus
kapan gue lulusnya?”
“Mata
kuliah bu Tuti?”
“Iya.”
“Gampang,
bilang aja lo abis belajar ama gue, pasti dia ngerti, kok.”
“Ngomong,
sih, enak, dia kan gak suka banget ama gue, beda kalo ke lo.”
“Ya
nanti gue usahain biar lo ga dipersulit sama dia.”
“Bas,
udah, nanti malem juga, kan, bisa!”
Bastian
langsung melepaskan pelukannya, “oh, yaudah.”
Aku
langsung pergi meninggalkan rumah dan pergi ke kampus. Sebenarnya bukan karena
sibuknya aku, hanya saja kini aku benar-benar dalam tahap jenuh, jenuh akan
hubungan yang flat ini, tak ada sesuatu yang bisa membangkitkan gairahku lagi.
&&&
Pelajaran
bu Tuti menang sangat membosankan, hampir seluruh waktu digunakan hanya untuk
mendengarkan curhatan dia saja. Dia tak sadar sudah berpuluh-puluh kali ia
menceritakan tentang kisah hidpunya yang so heroik itu kepada para mahasiswa.
Untungnya jam pelajaran telah usah dan aku langsung pergi dari tempat itu. Aku
menuju kantin karena perutku serasa keroncongan dan membeli roti untuk
pengganjal perutku sebelum balik lagi ke rumah.
“Hai,
Castro.”
Ada
seseorang yang menepuk pundakku dari belakang ketika aku sedang duduk manis
sambil menghabiskan roti yang tinggal setengah.
“Iya,
ada apa, ya?” kulihat ternyata ada seorang pria berkulitkan sawo matang dengan
wajah yang lumayan menarik.
“Kemaren
lo gak kuliah, ya?” tanyanya kepadaku.
“Kok
lo tau, lo siapa?”
“Ya
tau lah, gue kan temen sekelas lo di matkul bu Desi, oh, ya, kemarin kita ada
tugas kelompok dan lo sekelompok sama gue. Nih, tugasnya udah di bagi-bagi,
cari bahannya terus lusa kita kumpul di taman kampus, ya?”
“Kok
gue gak pernah liat lo sebelumnya, sih?”
“Hm,
ya lo nya sendiri kupu-kupu banget. Udah ya gue cabut dulu.”
“Eh
tunggu nama lo siapa?”
“Gue
Roby.”
“Gue
minta pin BB lo, dong biar nanti kalau kumpul lo bisa gampang ngehubungin gue.”
“Oh,
ok. 2621A95C, gue cabut dulu, ya? See you!”
Wah,
aku tidak tahu rupanya ada makhluk tampan lain di kampus ini selain aku dan
Sebastian, anak itu cukup menarik juga.
Tak
lama kulihat ia langsung mengkonfirmasi pinku dan segera aku lihat DPnya.
Rupanya nama lengkapnya adalah Roby Purba, dan fotonya sangat seksi. Apakah dia
model? Tanyaku dalam hati.
&&&
Ping
Ping
Ping
Aku
mencoba mengePing nya.
“Ada
apa bro?”
“Nyari
buku ini di mana, ya?”
“Oh,
itu nyarinya di Salemba.”
“Lo
udah punya bukunya.”
“Belom.”
“Mau
nyari bareng, gak?”
“Boleh,
kapan?”
“Sore
ini, bisa?”
“Ok.
Gue tunggu di depan Salembanya, ya?”
“Ok,
jam empat, ya?”
“Sip.”
Akhirnya
aku bisa juga mengobrol dengan si Roby ini, aku ingin tahu apa dia sama
sepertiku atau tidak.
“Serius
amat,” tanya Sebastian. “BBMan sama siapa?”
“Temen,”
jawabku singkat.
“Cowok?”
“Iya.”
“Ganteng?”
Aku
langsung menatapnya. “Kenapa nanya gitu?”
“Ya
enggak, cuman aneh aja liat tingkah lo BBMan.”
“Aneh
gimana, enggak ah!”
“Kan
gue yang merhatiin.”
“Ya
aneh dari mananya?”
“Senyum-senyum
sendiri, pas gue ajak ngobrol gak ngedengerin.”
“Ah,
lo sensitif banget, sih, jadi cowok.”
“Sensitif
apanya?”
“Sensitif,
curigaan.”
“Ya
wajar, dong, gue curiga, gue, kan cowok lo!”
“Please
deh, Bas, ini temen kampus gue, ngapain juga lo harus cemburu sama temen gue.”
“Hm,
sorry, deh, kalau gitu.”
“Dasar
aneh!”
Tak
lama aku segera bergegas lagi untuk pergi bertemu dengan Roby.
“Mau
kemana lagi?”
“Maen.”
“Gue
ikut, dong?”
“Ngapain
ikut? Biasanya juga lo gak pengen ikut kalau gue maen.”
“Pengen
aja kali-kali ikut sama lo maen, kenal sama temen-temen lo.”
“Lo
curiga sama gue?”
“Ya
nggak, gue kan bilang kalau...”
Aku
memotong ucapannya. “Bas! Udah, deh, gak usah gitu, gue mau maen dan lo gak
mesti ikut, bukannya lo besok ada praktek ya? Mendingan belajar aja sana.”
“Prakteknya
udah kemaren.”
“Oh.”
Aku tak melanjutkan ucapanku dan langsung pergi meninggalkannya.
Jam
sudah menunjukan pukul empat sore, Roby belum juga datang, kebiasaan orang
Indonesia, tidak pernah tepat waktu kalau diajak janjian, bantinku kesal.
“Sorry
lama nunggu,” ujar seseorang dari belakangku. Rupanya Roby yang datang, ia
mengenakan pakaian kasual dengan rambut yang menurutku keren.
“Wes,
rapih amat, kaya yang mau nge date aja.”
“Kan
emang mau nge date.”
“Hahaha...
dasar gila, ayo!”
Aku
berjalan bersampingan dengannya, ia nampak keren sekali hari itu, berbeda saat
bertemu tadi di kampus.
“Bukunya
yang ini bukan?” tanyaku.
“Bukan,
itu yang Prasa, coba di deretan yang itu, tentang majasnya.”
“Oh,
ok.”
“Eh,
tumben lo gak sama si Bastian.”
Deg!
Aku terkejut dengan ucapannya barusan.
“Maksudnya?”
“Iya,
biasanya kan kalian kemana-mana suka bareng, tumben aja sekarang lo jarang
bareng sama dia.”
“Gak
setiap hari bareng juga kali, ya kebetulan aja kita serumah, jadinya sering
bareng.”
“Oh,
gue kira lo pacaran sama dia.”
“Eh,
maksud lo apa, ya?”
“Eit
eit Eassy men, gue kan cuman becanda aja, lagian kalau itu bener juga buat gue
gak masalah, gue juga sama kok kaya lo.”
“Sama
apanya?”
“Sama-sama
suka cowok!”
“Oh,
terus kenapa kalau gue suka sama cowok.”
“Ya
gak apa-apa, cuman gue heran aja, kok lo mau jalan ama kutubuku kaya dia gitu,
ya, emang sih kalau diperhatiin dia ganteng juga, tapi banyak kok benurut gue
cowok yang lebih ganteng dari dia.”
“Siapa
contohnya?”
“Gue.”
Aku
tersenyum masam dan kembali fokus kepada buku yang akan aku beli.
“Lo
suka sama gue?”
“Emang
cowok homo mana yang gak suka sama lo, lo ganteng, badan bagus, baik, ah,
pokoknya lo idaman semua cowok homo deh.”
“Too
much!”
“Nggak,
seriusan, gue aja suka sama lo pas pertama kali liat lo, apalagi pas gue liat
lo cuman pake singlet pas lagi nge gym.”
“Lo
ngikutin gue?”
“Nggak
lah, orang kita satu tempat fitness.”
“Oh,
ya? Kok gue gak sadar ya?”
“Ya
iyalah gimana lo bisa sadar, di mata lo cuman ada Bastian Bastian Bastian aja.
Buka dong mata lo, banyak cowo homo yang lebih keren daripada si kutubuku itu.”
Aku
termenung sesaat, memang ada benarnya juga perkataan dari Roby, belakangan ini
aku terlalu memfokuskan hidupku hanya kepada Bastian, aku tak memiliki
kehidupanku yang lain setelah aku bersamanya, berbeda dengan dulu ketika aku
masih terbebas darinya.
“Cabut,
yuk, bukunya udah nemu, kan?”
“Eh,
iya, ayo.”
“Lo
bawa motor?”
“Nggak.”
“Terus
lo kesini pake apa?”
“Dianterin
sama temen.”
“Lo
udah ngerencanain ini, ya?”
“Yup,
gue emang lagi pengen berduaan sama lo.”
“To
the point banget sih lo?”
“Gue
bukan orang munafik.”
“Bagus
deh kalau gitu. Mau ke mana kita?”
“Ke
kosan gue aja, gimana?”
“Boleh,
di mana?”
“Terus
aja, nanti gue kasih tau belokannya.”
Akhirnya
kami pergi berdua bersama, Roby rupanya diam-diam sudah menyukaiku dari dulu,
dan aku baru sadar rupanya banyak pria lain yang lebih tampan dan lebih keren
dari Bastian.
“Ini
kosan gue, kecil ya?”
“Nggak
ah, lumayan gede.”
“Iya,
lumayan. Eh, lo mau minum apa?”
“Nggak
usah, nyantai aja.”
“Ok
deh, kalau harus ambil aja air minum di kulkas, ya?”
“Sip.”
“Gue
mau mandi dulu.”
“Silahkan.”
“Mau
ikut?” ucapnya kemudian perlahan-lahan ia membuka bajunya, terus membuka celana
panjangnya, dan kemudian celana dalamnya. Sudah dua tahun ini aku tidak melihat
orang lain telanjang selain Sebastian, oh, aku menjadi seperti orang yang baru
memasuki dunia gay, yang baru melihat orang lain telanjang lagi. Kemudian ia
menghampiriku, membuka bajuku, dan kini wajah kami sudah semakin dekat, ia
melumat bibirku penuh nafsu, aku mengimbanginya dengan tak kalah bernafsunya,
dan kini kami sudah saling telanjang bulat sambil berciuman.
Ia
berjongkok, kemudian memasukan penisku ke dalam mulitnya, oh, nikmat sekali,
aku benar-benar seperti melayang ke udara, ia mengoral penisku deng sangat
lihai dan terlihat seperti berpengalaman, tanpa sadar aku ikut memaju-mundurkan
pantatku.
Kemudian
giliranku, aku jongkok dan kulumat habis penisnya dengan sangat bernafsu,
penisnya besar dan coklat, sangat membuatku bergairah. Ia mendesah keenakan
olehku. Lalu aku mendorongnya ke kasur, aku balikan tubuhnya dan kucium
pantatnya yang coklat mulus, ke tampar pelan pantatnya yang menggemaskan itu.
Ia meracau menggoda, kemudian aku membuka bongkahan pantatnya dan kujilati
anusnya yang kulihat sudah tak begitu sempit itu, ia menggelinjang kenikmatian,
aku semakin bernafsu melihatnya berekasi seperti itu. Selanjutnya kini ia
mengambil kendali, ia mencium bibirku, pipiku, menjilati telingaku, kemudian keleherku,
ia mempermainkan seluruh tubuhku, menjilatinya dengan penuh nafsu, lalu ia
beranjak ke putingku, di sedotnya putingku dengan antusias.
“Ah,
sial, enak banget!”
“Kemudian
ia kembali memainkan lolipopnya, dan ke buah jakarku, dihisapnya dengan penuh
nafsu sampai aku tak sadar merasakan getaran ketikmatan. Aku mencoba mengambil
alir permainan, aku ingin segera ke yang intinya, ku balikan tubuhnya dan
dengan seketika penisku masuk ke dalam anusnya, yang sangat nikmat itu, ia
mendesah penuh nikmat, aku memompa penisku sangat kencang tapi ia masih bisa
mengimbangi permainaku, aku berganti posisi dengannya, kini kami melakukan gaya
doggy style dan terdengar suara peraduan atara kulitku dengan kulitnya,
suaranya terdengar sangat merdu sehingga membuatku mejadi semakin bersemangat
untuk menggenjotnya.
Tak
sadar rupanya kami sudah bermain selama satu jam, cukup lama aku bermain,
dengannya dan sekarang finalnya, aku akan menuntaskan semua permainan liar ini,
aku sodokan penisku lebih kencang lagi dan lagi sehingga kini ia hampir
kualahan oleh permainanku ini, dan dalam hitungan detik air maniku segera
keluar, sengaja aku cabut penisku agar semuanya tumbah di mulutnya. Aku
tersenyum puas, begitupun dengan dia, kami benar-benar menikmati permainan ini.
.jpg)

0 komentar:
Posting Komentar