Namanya Sebastian 4



Ini sudah setengah jalan, apa kalian menikmati ceritaku? Kurasa iya, karena sudah sejauh ini, mana mungkin kalian tidak menikmatinya. Kalau kalian memungkiri tak menikmati ceritaku, untuk apa bagian ini kalian baca? Tentunya karena kalian penasaran, kan?
Ok, di cerita selanjutnya ini aku akan membawa kalian kepada saat-saat tak terduka, hampir sama dengan film-film biasa, hanya saja yang membedakannya ini cerita tentang GAY, dan kalian yang gay pasti tertarik, oh, iya, mungkin sedikit berlebihan, aku tak tahu, karena ini adalah kisahku, kisah si Castro yang bodoh.

&&&
Setelah kami melakukannya sekali kini Sebastian menjadi ketagihan, ia selalu meminta jatah padaku hampir setiap hari, aku sendiri tak masalah karena aku adalah maniak seks. Kami biasa melakukan hubungan ini bukan hanya di kamar dengan kasur saja, bahkan kami pernah melakukannya di mobil, dapur, kampus, kolam renang, bahkan yang paling ekstrim adalah ketika kami melakukannya luar jalan, caranya? Iya, kami sebisa mungkin mencari pinggiran jalan kosong yang jarang dilalui oleh orang bahkan kendaraan-kendaraan lainnya.
Karena akhirnya kami menjadi sama-sama penggila seks, ia tak keberatan dengan hal itu, bahkan beberapa tempat yang kami sebutkan tadi itu merupakan usulan darinya.
Kini usia pacaran kami sudah menginjak tahun ke dua, kini aku sudah sibuk dengan kuliah akhirku, harusnya aku sudah wisuda, tapi karena dulu aku sering bolos dan nilaiku kecil, aku jadi harus mengulang beberapa mata kuliah untuk bisa ikut sidang tahun depan, Sebastian kini sudah di semester lima, nilai akademiknya memang di atas rata-rata, ia bahkan disebut sebagai si jenius dan rumor yang terdengar kalau dia nanti akan di jadikan asisten dosen oleh dosen yang menjadi wali dosenku ini. Dan, berkat dia, beberapa nilaiku yang kacau sudah membaik, hanya tinggal dua mata kuliah yang belum tuntas.
Kau tahu, kadang hubungan yang terjalin selama beberapa tahun bisa membuat kita bosan, dan aku menghadapinya kini, sebelumnya aku tidak pernah berpacaran dengan pria sampai selama ini, paling lama aku menjalin hubungan adalah selama tiga bulan, itu pun aku seringkali selingkuh dibelakangnya, tapi dengan Sebastian, aku tidak selingkuh, bahkan bang Dadang yang dulu mendekatiku, kini tak lagi menganggapku ada karena aku bilang kalau aku sudah memiliki kekasih.
Sebastian masih sama seperti yang dulu, meski ia tampan dan sering didekati oleh teman-teman wanitanya, tapi ia tak sekalipun memberikan harapan kepada mereka, ia selalu fokus kepadaku. Aku beruntung tapi aku juga bosan, karena nyaris dari kami tak ada waktu untuk bertengkar, ia selalu menuruti semua perintahku, mauku, dan apapun yang aku inginkan. Dan, Sebastian masih tak berubah dalam hal cara berpakaian, masih cupu dengan kacamata tebalnya dan rambut rapih ala-ala pria jaman dulu. Pernah sekali waktu aku bilang kepadanya agar merubah penampilan, tapi dia bilang kalau ia merubah penampilan takutnya akan semakin banyak orang yang menyukainya dan aku akan semakin ekstra hati-hati menjaganya, padahal aku sendiri tak mempermasalahkan itu.
“Cast, malam ini kita nonton, yuk? Kak Erin ngajakin kita double date,” ujar Sebastian ketika aku selesai mandi.
“Gak ah, gue males, lagi banyak tugas.”
“Terus mau apa?”
“Gak tau, lagi males maen aja.”
“Oh, yaudah.”
“Lo ikut aja sama Erin, gue gak apa-apa, kok, sendirian di sini juga.”
“Nggak ah, nanti yang ada gue jadi kambing conge.”
“Daripada kambing panggang?”
“Ah, lo bisa aja.”
Tiba-tiba saja Bastian memelukku dari belakang. “Gak minta jatah?”
“Duh, Bas, gue sibuk sekarang, kalau gue telat kuliah nilai gue kecil lagi, terus kapan gue lulusnya?”
“Mata kuliah bu Tuti?”
“Iya.”
“Gampang, bilang aja lo abis belajar ama gue, pasti dia ngerti, kok.”
“Ngomong, sih, enak, dia kan gak suka banget ama gue, beda kalo ke lo.”
“Ya nanti gue usahain biar lo ga dipersulit sama dia.”
“Bas, udah, nanti malem juga, kan, bisa!”
Bastian langsung melepaskan pelukannya, “oh, yaudah.”
Aku langsung pergi meninggalkan rumah dan pergi ke kampus. Sebenarnya bukan karena sibuknya aku, hanya saja kini aku benar-benar dalam tahap jenuh, jenuh akan hubungan yang flat ini, tak ada sesuatu yang bisa membangkitkan gairahku lagi.
&&&
Pelajaran bu Tuti menang sangat membosankan, hampir seluruh waktu digunakan hanya untuk mendengarkan curhatan dia saja. Dia tak sadar sudah berpuluh-puluh kali ia menceritakan tentang kisah hidpunya yang so heroik itu kepada para mahasiswa. Untungnya jam pelajaran telah usah dan aku langsung pergi dari tempat itu. Aku menuju kantin karena perutku serasa keroncongan dan membeli roti untuk pengganjal perutku sebelum balik lagi ke rumah.
“Hai, Castro.”
Ada seseorang yang menepuk pundakku dari belakang ketika aku sedang duduk manis sambil menghabiskan roti yang tinggal setengah.
“Iya, ada apa, ya?” kulihat ternyata ada seorang pria berkulitkan sawo matang dengan wajah yang lumayan menarik.
“Kemaren lo gak kuliah, ya?” tanyanya kepadaku.
“Kok lo tau, lo siapa?”
“Ya tau lah, gue kan temen sekelas lo di matkul bu Desi, oh, ya, kemarin kita ada tugas kelompok dan lo sekelompok sama gue. Nih, tugasnya udah di bagi-bagi, cari bahannya terus lusa kita kumpul di taman kampus, ya?”
“Kok gue gak pernah liat lo sebelumnya, sih?”
“Hm, ya lo nya sendiri kupu-kupu banget. Udah ya gue cabut dulu.”
“Eh tunggu nama lo siapa?”
“Gue Roby.”
“Gue minta pin BB lo, dong biar nanti kalau kumpul lo bisa gampang ngehubungin gue.”
“Oh, ok. 2621A95C, gue cabut dulu, ya? See you!”
Wah, aku tidak tahu rupanya ada makhluk tampan lain di kampus ini selain aku dan Sebastian, anak itu cukup menarik juga.
Tak lama kulihat ia langsung mengkonfirmasi pinku dan segera aku lihat DPnya. Rupanya nama lengkapnya adalah Roby Purba, dan fotonya sangat seksi. Apakah dia model? Tanyaku dalam hati.
&&&
Ping
Ping
Ping
Aku mencoba mengePing nya.
“Ada apa bro?”
“Nyari buku ini di mana, ya?”
“Oh, itu nyarinya di Salemba.”
“Lo udah punya bukunya.”
“Belom.”
“Mau nyari bareng, gak?”
“Boleh, kapan?”
“Sore ini, bisa?”
“Ok. Gue tunggu di depan Salembanya, ya?”
“Ok, jam empat, ya?”
“Sip.”
Akhirnya aku bisa juga mengobrol dengan si Roby ini, aku ingin tahu apa dia sama sepertiku atau tidak.
“Serius amat,” tanya Sebastian. “BBMan sama siapa?”
“Temen,” jawabku singkat.
“Cowok?”
“Iya.”
“Ganteng?”
Aku langsung menatapnya. “Kenapa nanya gitu?”
“Ya enggak, cuman aneh aja liat tingkah lo BBMan.”
“Aneh gimana, enggak ah!”
“Kan gue yang merhatiin.”
“Ya aneh dari mananya?”
“Senyum-senyum sendiri, pas gue ajak ngobrol gak ngedengerin.”
“Ah, lo sensitif banget, sih, jadi cowok.”
“Sensitif apanya?”
“Sensitif, curigaan.”
“Ya wajar, dong, gue curiga, gue, kan cowok lo!”
“Please deh, Bas, ini temen kampus gue, ngapain juga lo harus cemburu sama temen gue.”
“Hm, sorry, deh, kalau gitu.”
“Dasar aneh!”
Tak lama aku segera bergegas lagi untuk pergi bertemu dengan Roby.
“Mau kemana lagi?”
“Maen.”
“Gue ikut, dong?”
“Ngapain ikut? Biasanya juga lo gak pengen ikut kalau gue maen.”
“Pengen aja kali-kali ikut sama lo maen, kenal sama temen-temen lo.”
“Lo curiga sama gue?”
“Ya nggak, gue kan bilang kalau...”
Aku memotong ucapannya. “Bas! Udah, deh, gak usah gitu, gue mau maen dan lo gak mesti ikut, bukannya lo besok ada praktek ya? Mendingan belajar aja sana.”
“Prakteknya udah kemaren.”
“Oh.” Aku tak melanjutkan ucapanku dan langsung pergi meninggalkannya.
Jam sudah menunjukan pukul empat sore, Roby belum juga datang, kebiasaan orang Indonesia, tidak pernah tepat waktu kalau diajak janjian, bantinku kesal.
“Sorry lama nunggu,” ujar seseorang dari belakangku. Rupanya Roby yang datang, ia mengenakan pakaian kasual dengan rambut yang menurutku keren.
“Wes, rapih amat, kaya yang mau nge date aja.”
“Kan emang mau nge date.”
“Hahaha... dasar gila, ayo!”
Aku berjalan bersampingan dengannya, ia nampak keren sekali hari itu, berbeda saat bertemu tadi di kampus.
“Bukunya yang ini bukan?” tanyaku.
“Bukan, itu yang Prasa, coba di deretan yang itu, tentang majasnya.”
“Oh, ok.”
“Eh, tumben lo gak sama si Bastian.”
Deg! Aku terkejut dengan ucapannya barusan.
“Maksudnya?”
“Iya, biasanya kan kalian kemana-mana suka bareng, tumben aja sekarang lo jarang bareng sama dia.”
“Gak setiap hari bareng juga kali, ya kebetulan aja kita serumah, jadinya sering bareng.”
“Oh, gue kira lo pacaran sama dia.”
“Eh, maksud lo apa, ya?”
“Eit eit Eassy men, gue kan cuman becanda aja, lagian kalau itu bener juga buat gue gak masalah, gue juga sama kok kaya lo.”
“Sama apanya?”
“Sama-sama suka cowok!”
“Oh, terus kenapa kalau gue suka sama cowok.”
“Ya gak apa-apa, cuman gue heran aja, kok lo mau jalan ama kutubuku kaya dia gitu, ya, emang sih kalau diperhatiin dia ganteng juga, tapi banyak kok benurut gue cowok yang lebih ganteng dari dia.”
“Siapa contohnya?”
“Gue.”
Aku tersenyum masam dan kembali fokus kepada buku yang akan aku beli.
“Lo suka sama gue?”
“Emang cowok homo mana yang gak suka sama lo, lo ganteng, badan bagus, baik, ah, pokoknya lo idaman semua cowok homo deh.”
“Too much!”
“Nggak, seriusan, gue aja suka sama lo pas pertama kali liat lo, apalagi pas gue liat lo cuman pake singlet pas lagi nge gym.”
“Lo ngikutin gue?”
“Nggak lah, orang kita satu tempat fitness.”
“Oh, ya? Kok gue gak sadar ya?”
“Ya iyalah gimana lo bisa sadar, di mata lo cuman ada Bastian Bastian Bastian aja. Buka dong mata lo, banyak cowo homo yang lebih keren daripada si kutubuku itu.”
Aku termenung sesaat, memang ada benarnya juga perkataan dari Roby, belakangan ini aku terlalu memfokuskan hidupku hanya kepada Bastian, aku tak memiliki kehidupanku yang lain setelah aku bersamanya, berbeda dengan dulu ketika aku masih terbebas darinya.
“Cabut, yuk, bukunya udah nemu, kan?”
“Eh, iya, ayo.”
“Lo bawa motor?”
“Nggak.”
“Terus lo kesini pake apa?”
“Dianterin sama temen.”
“Lo udah ngerencanain ini, ya?”
“Yup, gue emang lagi pengen berduaan sama lo.”
“To the point banget sih lo?”
“Gue bukan orang munafik.”
“Bagus deh kalau gitu. Mau ke mana kita?”
“Ke kosan gue aja, gimana?”
“Boleh, di mana?”
“Terus aja, nanti gue kasih tau belokannya.”
Akhirnya kami pergi berdua bersama, Roby rupanya diam-diam sudah menyukaiku dari dulu, dan aku baru sadar rupanya banyak pria lain yang lebih tampan dan lebih keren dari Bastian.
“Ini kosan gue, kecil ya?”
“Nggak ah, lumayan gede.”
“Iya, lumayan. Eh, lo mau minum apa?”
“Nggak usah, nyantai aja.”
“Ok deh, kalau harus ambil aja air minum di kulkas, ya?”
“Sip.”
“Gue mau mandi dulu.”
“Silahkan.”
“Mau ikut?” ucapnya kemudian perlahan-lahan ia membuka bajunya, terus membuka celana panjangnya, dan kemudian celana dalamnya. Sudah dua tahun ini aku tidak melihat orang lain telanjang selain Sebastian, oh, aku menjadi seperti orang yang baru memasuki dunia gay, yang baru melihat orang lain telanjang lagi. Kemudian ia menghampiriku, membuka bajuku, dan kini wajah kami sudah semakin dekat, ia melumat bibirku penuh nafsu, aku mengimbanginya dengan tak kalah bernafsunya, dan kini kami sudah saling telanjang bulat sambil berciuman.
Ia berjongkok, kemudian memasukan penisku ke dalam mulitnya, oh, nikmat sekali, aku benar-benar seperti melayang ke udara, ia mengoral penisku deng sangat lihai dan terlihat seperti berpengalaman, tanpa sadar aku ikut memaju-mundurkan pantatku.
Kemudian giliranku, aku jongkok dan kulumat habis penisnya dengan sangat bernafsu, penisnya besar dan coklat, sangat membuatku bergairah. Ia mendesah keenakan olehku. Lalu aku mendorongnya ke kasur, aku balikan tubuhnya dan kucium pantatnya yang coklat mulus, ke tampar pelan pantatnya yang menggemaskan itu. Ia meracau menggoda, kemudian aku membuka bongkahan pantatnya dan kujilati anusnya yang kulihat sudah tak begitu sempit itu, ia menggelinjang kenikmatian, aku semakin bernafsu melihatnya berekasi seperti itu. Selanjutnya kini ia mengambil kendali, ia mencium bibirku, pipiku, menjilati telingaku, kemudian keleherku, ia mempermainkan seluruh tubuhku, menjilatinya dengan penuh nafsu, lalu ia beranjak ke putingku, di sedotnya putingku dengan antusias.
“Ah, sial, enak banget!”
“Kemudian ia kembali memainkan lolipopnya, dan ke buah jakarku, dihisapnya dengan penuh nafsu sampai aku tak sadar merasakan getaran ketikmatan. Aku mencoba mengambil alir permainan, aku ingin segera ke yang intinya, ku balikan tubuhnya dan dengan seketika penisku masuk ke dalam anusnya, yang sangat nikmat itu, ia mendesah penuh nikmat, aku memompa penisku sangat kencang tapi ia masih bisa mengimbangi permainaku, aku berganti posisi dengannya, kini kami melakukan gaya doggy style dan terdengar suara peraduan atara kulitku dengan kulitnya, suaranya terdengar sangat merdu sehingga membuatku mejadi semakin bersemangat untuk menggenjotnya.
Tak sadar rupanya kami sudah bermain selama satu jam, cukup lama aku bermain, dengannya dan sekarang finalnya, aku akan menuntaskan semua permainan liar ini, aku sodokan penisku lebih kencang lagi dan lagi sehingga kini ia hampir kualahan oleh permainanku ini, dan dalam hitungan detik air maniku segera keluar, sengaja aku cabut penisku agar semuanya tumbah di mulutnya. Aku tersenyum puas, begitupun dengan dia, kami benar-benar menikmati permainan ini.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Namanya Sebastian 4 ini dipublish oleh Unknown pada hari 28 Desember 2014. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Namanya Sebastian 4
 

0 komentar:

Posting Komentar