Aku
terus berjalan di sepanjang pinggiran jalan kota Karawang. Pengalaman tadi
membuatku gila, orang-orang asing itu memanfaatkanku, memanfaatkan tubuhku.
Argh! Aku seperti orang hina yang lebih hida dari sebuah kotoran.
Walau
aku tahu Karawang dan Cikarang tak begitu jauh, tapi aku sendiri tak tahu ada
di mana, kota lumbung padi ini sangat asing bagiku. Sebenarnya bisa saja aku
bertanya kepada orang lain jalan pulang, tapi aku tak mau untuk berbicara
dengan siapapun saat ini.
Dari
jauh ada sebuah mobil sedan merah berhenti tak jauh dari tempatku berjalan.
Seorang pria berjas hitam rapih dengan kacamati hitam dan celana hitam turun
sambil menelepon dengan ponsel yang berwarna hitam pula. Kemudian ia menunduk
masuk ke dalam mobilnya dan mengambil tas kecil berwarna hitam lagi.
Tak
lama dari arah belakang mobil ada sebuah motor bodong melaju kencang dan dengan
seketika menyambar tas itu. Pria yang masih sibuk dengan ponselnya itu terkejut
dan berteriak.
“Maliiiiiiiing!”
Motor
penjahat itu kini semakin dekat denganku, tanpa pikir panjang lagi aku memukul
penjahat itu dengan bag ku sehingga jatuhlah kedua penjahat itu. Aku berlari ke
arah pria yang mengambil tas kecil milik pria hitam tadi, memukulnya,
menendangnya, merebut tas yang tadi ia pegang. Namun aku lengah, rupanya orang
yang mengendarai motor memukulku dari belakang sehingga aku terjatuh,
pandanganku mulai kabur, semakin gelap, dan kini aku tak sadarkan diri.
Kubuka
mataku, ada seorang suster yang sedang mengecek tekanan darah di tubuhku, ia
menatapku tersenyum.
“Sudah
sadar, pak, pria ini sudah sadar!” ucapnya kepada pria yang duduk di kursi
dekat meja.
Aku
duduk dan melihat keadaan sekeliling. Ini adalah ruang rumah sakit yang sangat
bagus, baru kali ini aku dirawat di rumah sakit yang berAC dan ada televisi
sendiri.
“Lo
udah sadar? Oh, ya, terima kasih udah bantu gue ngerebut tas ini. Gue berhutang
budi sama lo,” katanya yang kini sudah berdiri disampingku. Aku menatapnya dan
tersenyum.
“Nggak
apa-apa, seharusnya gue yang berterima kasih karena udah di bawa ke rumah
sakit.”
Ia
tertawa kecil dan menggeleng. “Lo berterima kasih disaat kepala lo cedera
seperti itu akibat gue? Lo gak gegar otak, kan? Harusnya lo marah ke gue.”
Aku
tersenyum dan memegang kepala, rupanya kepalaku diperban.
“Sebaiknya
lo istirahat,” katanya menyuruhku untuk rebahan lagi.
“Ah,
nggak usah, gue cuma luka gini aja, sebentar lagi juga sembuh. Gue harus
kerja,” kataku.
“Ini
hari minggu,” katanya.
“Dan,
besok hari senin,” kataku bersikukuh.
Ia
tersenyum dan menggeleng. “Jadi dimana rumah lo, gue antar lo pulang.”
Seketika
aku mencari ponselku, tak ada di saku celana, aku celingukan.
“Mencari
ini?” katanya. Rupanya pria itu memegang ponselku. Aku mengangguk. “Maaf, tadi
gue gak sengaja ngangkat telepon dari nyokap lo, dan em, dia bilang membutuhkan...
em, membutuhkan uang, gue bilang gue temen lo, dan lo sedang sibuk, jadi tadi
gue udah transfer uang sama nyokap lo buat perawatan adik lo yang sakit.”
Aku
membelalak tak percaya. Ia membayar biaya pengobatan adikku yang sedang sakit. “Kenapa
lo lakuin itu? Itu bukan urusan lo!” kataku sedikit kesal.
Ia
nampak gugup. “Ini sebagai ucapan terima kasih dari gue karena udah lo tolong tadi,
oh, ya, perkenalkan, nama gue Adi,” katanya mengulurkan tangan.
Aku
masih kesal kepadanya dan tak ingin melihat wajahnya. Sebenarnya ada sedikit
lega dalam dadaku karena kini biaya pengobatan untuk adikku sudah selesai,
tapi, ah entahlah, aku sangat kesal kepada laki-laki yang sudah aku tolong ini.
“Gue
mau pulang!” kataku kesal.
“Ok,
biar gue anter, dimana rumah lo?”
“Gue
bisa pulang sendiri!”
“Ini
udah malam, sebaiknya gue antarin.”
“Ini
di mana?”
“Karawang.”
“Gue
di Cikarang.”
Ia
mengangguk. “Oklah kalau gitu.”
Aku
bangkit dari tempatku dan mengambil tas. Kita berjalan ke luar rumah sakit
tanpa saling berbicara.
Ia
menuntunku masuk ke dalam mobilnya. Kemudian mobilpun keluar dari parkiran.
Selama perjalanan, masih tak ada kata-kata keluar dari mulut kami, kepalaku
masih terasa sakit, dan aku masih syok dengan masalah tadi pagi. Bahkan aku
sekarang merasa jijik melihat laki-laki.
Sesampainya
di depan kosanku, aku turun mendahuluinya, rupanya di sana ada seorang pria tua
yang sudah aku kenali, bapak kosanku, ah, aku lupa kalau hari ini sudah lewat
masa tenggang untuk membayar kontrakan ini.
“Kamu
kenapa Ger?” tanya bapak kosku.
“Anu,
pak, tadi ada kecelakaan sedikit, tapi sudah tidak apa-apa, kok.”
“Begini
Ger, bapak mau menagih uang kosan ini, kan kamu janjinya akan bayar kosan hari
ini.”
Uh!
Kepalaku semakin berat saja, aku benar-benar tidak ingat kalau kontrakanku
sudah habis tenggang waktunya.
“Berapa,
pak?” kata Adi.
“Loh?
Mas nya siapa ya?”
“Aku
Adi, saudaranya Gery.”
“Oh,
lima ratus ribu, nak.”
Aku
melihat Adi mengeluarkan dompetnya di celana belakang dan langsung memberikan
uang berwarna merah itu kepada bapak kosanku. Bapak itu senyum-senyum sendiri
melihat uang sebanyak itu, uh, dasar mata duitan! Batinku kesal.
Kemudian
sedikit berbasa-basi akhirnya bapak kosanku pergi dari tempatku. Aku membuka
pintu kamarku dan mengajak Adi untuk masuk.
“Wah
kosannya bagus juga, ya?”
Aku
tersenyum. “Mau minum apa?”
“Gak
usah, santai aja, kepala lo, kan, masih sakit.”
Akhirnya
aku duduk di kasurku begitupun dia, walau bagus, tapi kosanku kecil, jadi kalau
mau duduk biasanya temanku atau Anna, pasti duduk di kasurku.
Kami
masih membisu tak bicara, akhirnya aku coba memberanikan diri untuk berbicara
kepadanya. “Kenapa lo lakuin semua ini ke gue, membiayai pengobatan gue, adik
gue, lalu membiayai kontrakan gue ini,” aku diam sejenak. “Ah, tenang aja nanti
gue bayar semuanya, berapa semuanya?” tanyaku.
Ia
tersenyum, senyumnya sangat menyejukkan, matanya bulat sayu, dan di atas bibir
sebelah kanan ada tahi lalat yang tak begitu besar. “Nggak usah, gue, kan, udah
bilang kalau gue berhutang budi sama lo, jadi udah sepantasnya gue ngebantu lo.”
“Ini
terlalu banyak buat gue, lo udah terlalu baik, gue nggak bisa terima semua
ini.”
“Lo
harus menerimanya karena gue udah bayar semuanya, pokoknya gue nggak mau lo
mengurusin semua ini, lo udah nyelamatin dokumen penting, dokumen itu adalah
separuh hidup gue, kalau sampe hilang, gue gak tahu lagi harus bagaimana, maka
dari itu, gue bener-bener berhutang budi sama lo.”
“Hanya itu?”
Ia
nampak berpikir. “Ya, hanya itu,” katanya yakin.
“Kalau
emang ngerasa berhutang budi, gak sebanyak ini juga yang harus gue terima, mungkin
dengan membiayai uang pengobatan gue dan memberi gue imbalan, ya, mungkin lima
ratus ribu juga sudah cukup. Apa lo ada maksud lain?”
“Astaga,
benar, gue nggak ada maksud apapun, gue ikhlas ngebantuin lo,” katanya dengan
terkejut.
Aku
mengangguk. Akhirnya sedikit demi sedikit mulai timbul kecairan diantara
perbincangan kami, aku sudah tak sesinis tadi, rupanya bicara dengannya cukup
mengasikkan. Adi adalah direktur di perusahaan yang cukup besar di kota
Karawang, dia adalah anak tunggal. Usianya kini menginjak tiga puluh tiga tahun
dan masih belum menikah. Kita berbicara banyak sehingga tidak sadar kalau waktu
sudah menunjukan pukul satu malam.
“Lo
nginep di sini aja, ini udah malam
banget, pagi-pagi baru lo pulang,” kataku meminta.
Tanpa
penolakan, akhirnya ia menerima tawaranku. Aku membuka bajuku perlahan karena
harus hati-hati dengan perban yang menempel di kepalaku. Aku tersadar mata Adi
terus menatapku ketika aku sedang membuka baju, tapi tak kupedulikan.
Kemudian
aku berbaring di dekat dinding dan dia di sampingku. Ia masih duduk, lalu
tangannya menggapai sebuah figura kecil.
“Ini
cewek lo?” katanya sambil menatapku. Aku mengangguk. “Cantik,” katanya lagi.
“Gue
tidur duluan, ya,” kataku sambil memunggunginya. “Oh, ya, kalau lo nggak biasa
lampu dinyalain, matiin aja.”
&&&
Dalam
hitungan detik aku sudah terbuai kealam mimpi. Aku terbangun ketika aku sadar
ada yang menciumiku dan menindihku, ketika mataku terbuka, rupanya Adi. Aku
terkejut setengah mati, aku tidak menyangka kalau dia adalah gay.
“Lo
lagi ngapain?” bentakku.
Ia
tak menjawab dan sibuk menciumi wajah dan bibirku, ketika aku akan menggerakan
tanganku rupanya ada sesuatu yang menghambatnya. Kedua tanganku terikat,
begitupun dengan kakiku, aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa dan pasrah
saja. Ia menggerayangi setiap senti demi senti tubuhku, menjilatinya, aku
menggelinjang kegelian, kini ia mulai menjilat putingku, dan sekali lagi, hal
ini benar-benar membuat penisku tegang.
“Ah,
emph, apa, emhp, apa yang, ah, eemph, lo, lo lakukan?” kataku
tersenggal-senggal.
Ia
tak menjawab dan masih sibuk memainkan putingku dengan lidahnya, sesaat
kemudian ia mulai berani menjilat kebagian yang lebih bawah lagi, ia diam di
daerah jembutku yang cukup tebal, menjilatnya, menariknya dan mencium
menggunakan hidungnya yang mancung.
“Ah,
ya, ah, ehmp....”
Tanpa
aba-aba ia mulai melumat penisku kedalam mulutnya, ia benar-benar lihai
melakukannya, aku sampai terlonjak tapi diam di tempat karena tak bisa
bergerak. Ia menghisap habis penisku dengan buas, kencang dan seperti
profesional, ia melakukan itu lebih lihai dibandingkan Anna. Ah, aku sudah tak
tahan.
Kemudian
ia membiarkan penisku dan bermain dengan buah jakarku, di sedotnya buah
jakarku, enak, geli sekaligus nikmat, aku mengerang kenikmatan, benar-benar
kali ini aku tak bisa menahan akal sehatku lagi, perbuatan ini kini aku
nikmati.
“Ya,
ya, terus, ah, gue suka hisapan lo,” kataku.
Dan
ia kini sudah kembali mengisap penisku yang sudah sangat tegang, ia kembali
memompa dengan lihai, sesekali ia meremas pantatku, dan sesekali juga ia
menggerayangi tubuhku. Hingga aku sudah tak kuat menahan lagi air mani yang
akan segara keluar dari dalam penisku.
“Ah,
Adi, ah, ehm, gue, gue, gue mau ehm, gue
mau keluar,” desahku.
Rupanya
Adi tak menghiraukan ucapanku, malah ia semakin buas dan cepat memompa
mulutnya, aku benar-benar tidak tahan dan dalam hitungan dekit, air maniku
keluar tumpah ke dalam mulutnya semua.
Crot
crot crot
Nafasku
memburu dengan kencang, tak lama setelah air maniku keluar, kepalaku nampak
pusing, sangat-sangat pusing, pandanganku sudah tak begitu jelas, dan kini
semuanya menjadi sangat gelap.
&&&
Aku
membuka mata dan melirik jam dinding. Sudah jam delapan pagi, segera aku bangun,
tiba-tiba aku teringat kejadian semalam, rupanya celanaku masih aku pakai
lengkap dengan celana dalamnya, kemudian, aku melihat Adi yang membelakangiku
juga masih mengenakan bajunya dengan lengkap. Apa aku mimpi? Batinku
berkecambuk.
“Di,
Di, bangun, kita kesiangan,” kataku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Kemudian
ia berbaik dan menatapku, matanya ia kucek-kucek. “Jam berapa sekarang?”
tanyanya.
“Jam
delapan.”
Seketika
ia langsung duduk. “Apa?” Aduh gue telat!” katanya kemudian berdiri dan masuk
ke kamar mandi.
Lima
menit kemudian ia keluar. “Gue telat, gue telat,” katanya sambil mencari
sesuatu di dalam celana panjangnya.
“Di,
apa semalam ada yang terjadi?” tanyaku ragu.
Ia
menatapku dengan aneh. “Iya, lo demam dan gak tahu kenapa lo terus manggil nama
gue.”
“Oh,
ya? Pantes aja, semalam gue mimpi aneh.”
“Mimpi
apa?” tanya Adi.
“Ehm,
ah, nggak, bukan mimpi apa-apa.”
Adi
mengangguk. “Well, terima kasih sudah berbagi tempat tidur, gue harus segera
berangkat, oh, ya, ini kartu nama gue, kalau lo ada perlu hubungi gue aja,
siapa tahu gue bisa bantu. Sekali lagi terima kasih banyak,” ucapnya seraya
meninggalkanku yang masih diam di kasur.
“Rupanya
mimpi,” kataku.

0 komentar:
Posting Komentar