Love of Enemy 2



 
Aku terus berjalan di sepanjang pinggiran jalan kota Karawang. Pengalaman tadi membuatku gila, orang-orang asing itu memanfaatkanku, memanfaatkan tubuhku. Argh! Aku seperti orang hina yang lebih hida dari sebuah kotoran.
Walau aku tahu Karawang dan Cikarang tak begitu jauh, tapi aku sendiri tak tahu ada di mana, kota lumbung padi ini sangat asing bagiku. Sebenarnya bisa saja aku bertanya kepada orang lain jalan pulang, tapi aku tak mau untuk berbicara dengan siapapun saat ini.
Dari jauh ada sebuah mobil sedan merah berhenti tak jauh dari tempatku berjalan. Seorang pria berjas hitam rapih dengan kacamati hitam dan celana hitam turun sambil menelepon dengan ponsel yang berwarna hitam pula. Kemudian ia menunduk masuk ke dalam mobilnya dan mengambil tas kecil berwarna hitam lagi.

Tak lama dari arah belakang mobil ada sebuah motor bodong melaju kencang dan dengan seketika menyambar tas itu. Pria yang masih sibuk dengan ponselnya itu terkejut dan berteriak.
“Maliiiiiiiing!”
Motor penjahat itu kini semakin dekat denganku, tanpa pikir panjang lagi aku memukul penjahat itu dengan bag ku sehingga jatuhlah kedua penjahat itu. Aku berlari ke arah pria yang mengambil tas kecil milik pria hitam tadi, memukulnya, menendangnya, merebut tas yang tadi ia pegang. Namun aku lengah, rupanya orang yang mengendarai motor memukulku dari belakang sehingga aku terjatuh, pandanganku mulai kabur, semakin gelap, dan kini aku tak sadarkan diri.
Kubuka mataku, ada seorang suster yang sedang mengecek tekanan darah di tubuhku, ia menatapku tersenyum.
“Sudah sadar, pak, pria ini sudah sadar!” ucapnya kepada pria yang duduk di kursi dekat meja.
Aku duduk dan melihat keadaan sekeliling. Ini adalah ruang rumah sakit yang sangat bagus, baru kali ini aku dirawat di rumah sakit yang berAC dan ada televisi sendiri.
“Lo udah sadar? Oh, ya, terima kasih udah bantu gue ngerebut tas ini. Gue berhutang budi sama lo,” katanya yang kini sudah berdiri disampingku. Aku menatapnya dan tersenyum.
“Nggak apa-apa, seharusnya gue yang berterima kasih karena udah di bawa ke rumah sakit.”
Ia tertawa kecil dan menggeleng. “Lo berterima kasih disaat kepala lo cedera seperti itu akibat gue? Lo gak gegar otak, kan? Harusnya lo marah ke gue.”
Aku tersenyum dan memegang kepala, rupanya kepalaku diperban.
“Sebaiknya lo istirahat,” katanya menyuruhku untuk rebahan lagi.
“Ah, nggak usah, gue cuma luka gini aja, sebentar lagi juga sembuh. Gue harus kerja,” kataku.
“Ini hari minggu,” katanya.
“Dan, besok hari senin,” kataku bersikukuh.
Ia tersenyum dan menggeleng. “Jadi dimana rumah lo, gue antar lo pulang.”
Seketika aku mencari ponselku, tak ada di saku celana, aku celingukan.
“Mencari ini?” katanya. Rupanya pria itu memegang ponselku. Aku mengangguk. “Maaf, tadi gue gak sengaja ngangkat telepon dari nyokap lo, dan em, dia bilang membutuhkan... em, membutuhkan uang, gue bilang gue temen lo, dan lo sedang sibuk, jadi tadi gue udah transfer uang sama nyokap lo buat perawatan adik lo yang sakit.”
Aku membelalak tak percaya. Ia membayar biaya pengobatan adikku yang sedang sakit. “Kenapa lo lakuin itu? Itu bukan urusan lo!” kataku sedikit kesal.
Ia nampak gugup. “Ini sebagai ucapan terima kasih dari gue karena udah lo tolong tadi, oh, ya, perkenalkan, nama gue Adi,” katanya mengulurkan tangan.
Aku masih kesal kepadanya dan tak ingin melihat wajahnya. Sebenarnya ada sedikit lega dalam dadaku karena kini biaya pengobatan untuk adikku sudah selesai, tapi, ah entahlah, aku sangat kesal kepada laki-laki yang sudah aku tolong ini.
“Gue mau pulang!” kataku kesal.
“Ok, biar gue anter, dimana rumah lo?”
“Gue bisa pulang sendiri!”
“Ini udah malam, sebaiknya gue antarin.”
“Ini di mana?”
“Karawang.”
“Gue di Cikarang.”
Ia mengangguk. “Oklah kalau gitu.”
Aku bangkit dari tempatku dan mengambil tas. Kita berjalan ke luar rumah sakit tanpa saling berbicara.
Ia menuntunku masuk ke dalam mobilnya. Kemudian mobilpun keluar dari parkiran. Selama perjalanan, masih tak ada kata-kata keluar dari mulut kami, kepalaku masih terasa sakit, dan aku masih syok dengan masalah tadi pagi. Bahkan aku sekarang merasa jijik melihat laki-laki.
Sesampainya di depan kosanku, aku turun mendahuluinya, rupanya di sana ada seorang pria tua yang sudah aku kenali, bapak kosanku, ah, aku lupa kalau hari ini sudah lewat masa tenggang untuk membayar kontrakan ini.
“Kamu kenapa Ger?” tanya bapak kosku.
“Anu, pak, tadi ada kecelakaan sedikit, tapi sudah tidak apa-apa, kok.”
“Begini Ger, bapak mau menagih uang kosan ini, kan kamu janjinya akan bayar kosan hari ini.”
Uh! Kepalaku semakin berat saja, aku benar-benar tidak ingat kalau kontrakanku sudah habis tenggang waktunya.
“Berapa, pak?” kata Adi.
“Loh? Mas nya siapa ya?”
“Aku Adi, saudaranya Gery.”
“Oh, lima ratus ribu, nak.”
Aku melihat Adi mengeluarkan dompetnya di celana belakang dan langsung memberikan uang berwarna merah itu kepada bapak kosanku. Bapak itu senyum-senyum sendiri melihat uang sebanyak itu, uh, dasar mata duitan! Batinku kesal.
Kemudian sedikit berbasa-basi akhirnya bapak kosanku pergi dari tempatku. Aku membuka pintu kamarku dan mengajak Adi untuk masuk.
“Wah kosannya bagus juga, ya?”
Aku tersenyum. “Mau minum apa?”
“Gak usah, santai aja, kepala lo, kan, masih sakit.”
Akhirnya aku duduk di kasurku begitupun dia, walau bagus, tapi kosanku kecil, jadi kalau mau duduk biasanya temanku atau Anna, pasti duduk di kasurku.
Kami masih membisu tak bicara, akhirnya aku coba memberanikan diri untuk berbicara kepadanya. “Kenapa lo lakuin semua ini ke gue, membiayai pengobatan gue, adik gue, lalu membiayai kontrakan gue ini,” aku diam sejenak. “Ah, tenang aja nanti gue bayar semuanya, berapa semuanya?” tanyaku.
Ia tersenyum, senyumnya sangat menyejukkan, matanya bulat sayu, dan di atas bibir sebelah kanan ada tahi lalat yang tak begitu besar. “Nggak usah, gue, kan, udah bilang kalau gue berhutang budi sama lo, jadi udah sepantasnya gue ngebantu lo.”
“Ini terlalu banyak buat gue, lo udah terlalu baik, gue nggak bisa terima semua ini.”
“Lo harus menerimanya karena gue udah bayar semuanya, pokoknya gue nggak mau lo mengurusin semua ini, lo udah nyelamatin dokumen penting, dokumen itu adalah separuh hidup gue, kalau sampe hilang, gue gak tahu lagi harus bagaimana, maka dari itu, gue bener-bener berhutang budi sama lo.”
 “Hanya itu?”
Ia nampak berpikir. “Ya, hanya itu,” katanya yakin.
“Kalau emang ngerasa berhutang budi, gak sebanyak ini juga yang harus gue terima, mungkin dengan membiayai uang pengobatan gue dan memberi gue imbalan, ya, mungkin lima ratus ribu juga sudah cukup. Apa lo ada maksud lain?”
“Astaga, benar, gue nggak ada maksud apapun, gue ikhlas ngebantuin lo,” katanya dengan terkejut.
Aku mengangguk. Akhirnya sedikit demi sedikit mulai timbul kecairan diantara perbincangan kami, aku sudah tak sesinis tadi, rupanya bicara dengannya cukup mengasikkan. Adi adalah direktur di perusahaan yang cukup besar di kota Karawang, dia adalah anak tunggal. Usianya kini menginjak tiga puluh tiga tahun dan masih belum menikah. Kita berbicara banyak sehingga tidak sadar kalau waktu sudah menunjukan pukul satu malam.
“Lo nginep di sini aja, ini udah  malam banget, pagi-pagi baru lo pulang,” kataku meminta.
Tanpa penolakan, akhirnya ia menerima tawaranku. Aku membuka bajuku perlahan karena harus hati-hati dengan perban yang menempel di kepalaku. Aku tersadar mata Adi terus menatapku ketika aku sedang membuka baju, tapi tak kupedulikan.
Kemudian aku berbaring di dekat dinding dan dia di sampingku. Ia masih duduk, lalu tangannya menggapai sebuah figura kecil.
“Ini cewek lo?” katanya sambil menatapku. Aku mengangguk. “Cantik,” katanya lagi.
“Gue tidur duluan, ya,” kataku sambil memunggunginya. “Oh, ya, kalau lo nggak biasa lampu dinyalain, matiin aja.”
&&&
Dalam hitungan detik aku sudah terbuai kealam mimpi. Aku terbangun ketika aku sadar ada yang menciumiku dan menindihku, ketika mataku terbuka, rupanya Adi. Aku terkejut setengah mati, aku tidak menyangka kalau dia adalah gay.
“Lo lagi ngapain?” bentakku.
Ia tak menjawab dan sibuk menciumi wajah dan bibirku, ketika aku akan menggerakan tanganku rupanya ada sesuatu yang menghambatnya. Kedua tanganku terikat, begitupun dengan kakiku, aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa dan pasrah saja. Ia menggerayangi setiap senti demi senti tubuhku, menjilatinya, aku menggelinjang kegelian, kini ia mulai menjilat putingku, dan sekali lagi, hal ini benar-benar membuat penisku tegang.
“Ah, emph, apa, emhp, apa yang, ah, eemph, lo, lo lakukan?” kataku tersenggal-senggal.
Ia tak menjawab dan masih sibuk memainkan putingku dengan lidahnya, sesaat kemudian ia mulai berani menjilat kebagian yang lebih bawah lagi, ia diam di daerah jembutku yang cukup tebal, menjilatnya, menariknya dan mencium menggunakan hidungnya yang mancung.
“Ah, ya, ah, ehmp....”
Tanpa aba-aba ia mulai melumat penisku kedalam mulutnya, ia benar-benar lihai melakukannya, aku sampai terlonjak tapi diam di tempat karena tak bisa bergerak. Ia menghisap habis penisku dengan buas, kencang dan seperti profesional, ia melakukan itu lebih lihai dibandingkan Anna. Ah, aku sudah tak tahan.
Kemudian ia membiarkan penisku dan bermain dengan buah jakarku, di sedotnya buah jakarku, enak, geli sekaligus nikmat, aku mengerang kenikmatan, benar-benar kali ini aku tak bisa menahan akal sehatku lagi, perbuatan ini kini aku nikmati.
“Ya, ya, terus, ah, gue suka hisapan lo,” kataku.
Dan ia kini sudah kembali mengisap penisku yang sudah sangat tegang, ia kembali memompa dengan lihai, sesekali ia meremas pantatku, dan sesekali juga ia menggerayangi tubuhku. Hingga aku sudah tak kuat menahan lagi air mani yang akan segara keluar dari dalam penisku.
“Ah, Adi, ah, ehm, gue, gue, gue  mau ehm, gue mau keluar,” desahku.
Rupanya Adi tak menghiraukan ucapanku, malah ia semakin buas dan cepat memompa mulutnya, aku benar-benar tidak tahan dan dalam hitungan dekit, air maniku keluar tumpah ke dalam mulutnya semua.
Crot crot crot
Nafasku memburu dengan kencang, tak lama setelah air maniku keluar, kepalaku nampak pusing, sangat-sangat pusing, pandanganku sudah tak begitu jelas, dan kini semuanya menjadi sangat gelap.
&&&
Aku membuka mata dan melirik jam dinding. Sudah jam delapan pagi, segera aku bangun, tiba-tiba aku teringat kejadian semalam, rupanya celanaku masih aku pakai lengkap dengan celana dalamnya, kemudian, aku melihat Adi yang membelakangiku juga masih mengenakan bajunya dengan lengkap. Apa aku mimpi? Batinku berkecambuk.
“Di, Di, bangun, kita kesiangan,” kataku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Kemudian ia berbaik dan menatapku, matanya ia kucek-kucek. “Jam berapa sekarang?” tanyanya.
“Jam delapan.”
Seketika ia langsung duduk. “Apa?” Aduh gue telat!” katanya kemudian berdiri dan masuk ke kamar mandi.
Lima menit kemudian ia keluar. “Gue telat, gue telat,” katanya sambil mencari sesuatu di dalam celana panjangnya.
“Di, apa semalam ada yang terjadi?” tanyaku ragu.
Ia menatapku dengan aneh. “Iya, lo demam dan gak tahu kenapa lo terus manggil nama gue.”
“Oh, ya? Pantes aja, semalam gue mimpi aneh.”
“Mimpi apa?” tanya Adi.
“Ehm, ah, nggak, bukan mimpi apa-apa.”
Adi mengangguk. “Well, terima kasih sudah berbagi tempat tidur, gue harus segera berangkat, oh, ya, ini kartu nama gue, kalau lo ada perlu hubungi gue aja, siapa tahu gue bisa bantu. Sekali lagi terima kasih banyak,” ucapnya seraya meninggalkanku yang masih diam di kasur.
“Rupanya mimpi,” kataku.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Love of Enemy 2 ini dipublish oleh Unknown pada hari 23 Desember 2014. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Love of Enemy 2
 

0 komentar:

Posting Komentar