4 Sexy Teacher 5



Keesokan harinya di SD Angel 2.
Keanu nampak duduk seorang diri, Adam datang dengan penuh kebimbangan. Kemudian ia duduk di hadapan Keanu sambil menyalakan laptopnya.
Lima menit kemudian.
“Dam, sorry semalem gue lepas kontrol,” ujar Keanu, Adam masih pura-pura sibuk mengerjakan tugas. “Kalau lo marah dan gak maafin gue, gue terima, kok, emang semuanya salah gue.”
Kemudian Adam menutup laptopnya.

“Nggak, gue gak marah.”
“Lo mau, kan, maafin gue?”
Adam tersenyum, “iyalah, gue udah maafin lo. Lo udah tau semua tentang gue, jadi apa lagi yang mesti gue sembunyikan?”
“Thanks.”
Adam mengangguk, “tapi lain kali, gue yang harus liat lo telanjang, ya? Hahaha...”
Keanu tersenyum.
Akhirnya suasana kembali menjadi normal, bahkan ketika Shane dan Orlando datang mereka nampak sedang tertawa bersama.
“Wah, wah, wah, udah ada yang akur nih...” ujar Orlando.
“Emang kita akur, tapi sekarang rencananya kita mau musuhin lo,” ejek Keanu.
“Loh, kok gue?”
“Becanda, ah, say....” Keanu nampak memotong perkataannya sambil melirik ke arah Shane dan Adam dan akhirnya mereka berempat tertawa serentak.
Tugas dari penataran kian hari kian banyak dan berat, bahkan kini Orlando dan Keanu diharuskan untuk menginap di rumah Adam sampai hari terakhir mereka penataran.
Sore ini angin berhembus pelan, Keanu dan Orlando bergegas untuk pergi ke rumah Adam. Sesampainya di rumah Adam mereka langsung mengerjakan tugas yang harus mereka selesaikan esok harinya.
“Ah, sial, binder dan plasdisk gue ketinggalan di kosan, Do, anterin gue balik lagi dong.”
“Biar gue aja yang ambil,” ujar Shane, “kalian pasti capek, siniin aja kunci kosan lonya.”
“Bener nih?” tanya Keanu. Shane mengangguk, lalu Keanu mengambil kunci kosannya di celana levi’snya. “Nih, kuncinya yang ini,” ujar Keanu sambil melemparkan kunci ke arah Shane.
“Eh, emang lo tau kosan kita?” tanya Keanu lagi.
Shane nampak bingung, ia menatap Orlando sesaat kemudian menggeleng. “Belum.”
“Ya udah sama gue aja,” kata Orlando meyakinkan, “tapi pake motor lo, ya? Biar cepet!”
“Ok.”
Akhirnya Orlando dan Shane pergi ke bagasi motor dan pergi dari rumah Adam. Adam yang baru selesai mandi nampak bingung mengapa hanya tinggal Keanu yang ada di rumahnya.
“Loh? Shane dan Lando kemana?”
“Oh, mereka lagi ngambil binder dan plasdisk gue yang ketinggalan di kosan,” ujar Keanu sambil membuka barang-barangnya, kemudian ia menepuk jidat. “Aduh!”
Adam nampak bingung dengan tingkah Keanu yang rusuh sendiri seperti sedang mencari-cari sesuatu. “Kenapa lagi, lo?” tanya Adam sambil memakai bajunya.
“Map kertas tugas yang dikasih sama instruktur juga ketinggalan di kosan gue.”
“Ya udah telepon aja si Lando.”
“Dia gak akan tau, gue simpen di celana cucian.”
“Mau gue anter ke sana?”
“Tapi lo baru mandi, ntar keringetan lagi,” ujar Keanu.
“Ya elah, gue bukan cewek, nyantai aja.”
“Beneran?”
“Seriusan.”
“Ya udah, deh, ayo!”
Adam dan Keanu kini turun ke bawah ke bagasi rumahnya, selanjutnya menyalakan motor dan pergi dari rumah itu.
“Sebelumnya kita ngisi bensin dulu, ya? Udah mau sekarat nih, bensin gue.”
“Ok.”
&&&
Setelah itu. Orlando dan Shane sampai di kosan Keanu, ia menyimpan helmnya di motor dan bergegas membuka pintu. Namun, ketika Shane berhasil membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Keanu, Orlando mendorongnya ke kasur.
“Apa-apaan, sih, lo?” bentak Shane kesal.
“Emangnya lo gak mau kita seneng-seneng dulu? Mumpung lagi berduaan, nih.”
“Tapi, kan, kita mesti cepet-cepet ke rumah Ad...”
Orlando langsung mencium bibir Shane, Shane nampak tak bisa berontak apalagi melawan, akhirnya ia menikmati ciuman ganas itu, mereka saling lumat, saling hisap, dan saling memainkan lidah, Orlando benar-benar lihai membuat orang cepat terangsang. Selanjutnya mereka membuka baju, Shane menciumi leher Orlando dengan mesra kemudian menyelusuri ke bawah, dihisapnya puting Orlando yang berwarna merah muda itu, ia hisap dengan lembut.
“Emh, ah, enak...” ujar Orlando.
Mendengar itu Shane semakin terangsang, ia kemudian membuka celana Orlando yang masih menempel di tubuhnya,  di jilatnya penis Orlando dengan hebat, dan kuat, Orlando nampak terengah-engah menahan geli dan nikmat, kemudian seolah tak mau kalah dengan servisan Shane, Orlando kini membalikan badannya, kini ia yang menjilati tubuh Shane, menghisap putingnya, menjilat seluruh perut Shane yang nampak memiliki enak kotak, kemudian ia turun ke bawah dan membuka celana Shane, di hisapnya menis dan buah jakar Shane dengan buas, Shane melenguh menahan nikmat, Orlando memberikan servis kepuasan kepada Shane.
Setelah usai main dengan  lolipopnya, kini Orlando menungging, Shane nampak mencari-cari pelumas dan ia berhasil mendapatkannya di lemari Keanu, ia balurkan semua pelumas itu ke penisnya yang sudah menegang, kemudian ia masukan penis besarnya itu ke dalam anus Orlando dan...
Jleb...
“Ah... uh...” desah Orlando menerima serangan rudah besar ke dalam anusnya.
Shane memompa penisnya dengan kencang, ia benar-benar sangat horny dengan permainan ini, pasalnya setelah terakhir kali berhubungan dengan Orlando, ia belum melakukan hubungan intim lagi dengan siapapun, termasuk dengan kekasihnya Adam.
Plok Plok Plok Plok
Bunyi itu terdengar sangat syahdu ditelinga mereka, dan karena permainan mereka berjalan cukup cepat, sehingga tak lama kemudian Shane nampak tak kuat menahan air maninya untuk keluar, dan..
Crot Crot Crot
Keluarlah semua isi buah jakar dari Shane, ia nampak kelelahan, tapi ia tak mau membuat Orlando rugi, ia pegang penis Orlando di kocoknya penis itu dengan lihainya, tak lama di kocok, air mani Orlando tumpah ruah di lantai kosan Keanu.
Dan..
Brak!
&&&
“Ah, sial panjang banget antiran premiumnya?” gerutu Adam.
“Ya udah, sabar aja.”
Setelah menunggu setengah jam mereka pun keluar dari pom bensin dan kembali melajukan motornya dengan cepat ke arah kosan Keanu.
“Tuh, itu, yang itu kosan gue,” ujar Keanu.
Adam memberhentikan motornya tepat di samping motor Shane yang terparkir di depan kosan Keanu. “Duh, kayaknya mau ujan, nih,” keluh Adam. Keanu berlari ke kosannya dan tak sadar kakinya tersandung undakkan keramik pembatas lantainya dan ia jatuh ke arah pintu yang di tutup.
Brak!
Keanu jatuh mengenai pintu dan pintupun berhasil terbuka.
Bukan sakit yang ia rasakan atas jatuhnya ia menghantam pintu, melainkan terkejutnya ia melihat seorang yang dicintainya sedang bugil bersama pria lain.
Keanu terpaku sesaat.
Adam berlari karena takut Keanu kenapa-napa, tapi ketika ia hendak membantu Keanu, nampak seseorang menutupi tubuh mereka dengan selimut. Adam seketika naik pitam, ia langsung menghampiri dua pria yang ternyata adalah Orlando dan Shane yang baru selesai bercinta. Di pukulnya wajah Shane dengan kencang.
Buuuuk....
Tinju Adam tepat mengenai pipi kiri Shane sehingga ia jatuh tersungkur di lantai. Orlando mencoba untuk menghentikan aksi Adam.
“Lepasin gue, anjing!” bentak Adam kepada Orlando, tapi Orlando masih saja menahan Adam yang sedang naik pitam.
“Sabar Dam, gue bisa jelasin ini semua,” pinta Orlando.
“Anjing kalian, mau apa lagi yang mesti dijelasin, gue udah liat kelakuan kotor kalian.”
Shane terpaku ditempatnya jatuh.
“Jadi selama ini gue salah ngenilai lo, Shane, salah! Sama aja lo kaya homo-homo yang lain, butuhnya cuman kepuasan aja! Tai lo semua.” Adam benar-benar kesal, ia mendorong Orlando dan menyuruhnya untuk diam.
“Lo!” Adam menunjuk wajah Orlando. Kemudian ia ludahi wajah Orlando dan berdiri tegak menatap Shane. “Kemasi barang-barang lo yang ada di rumah gue dan pergi dari sana, gue gak sudi liat muka lo lagi di hadapan gue.”
Ia melangkah keluar. Orlando menatap nanar kejadian ini, kemudian ia melihat Keanu yang terdiam di depan pintu, ia menggeleng dan pergi dari hadapan mereka.
Adam menaiki motornya, ia menatap Keanu dengan sedih, dengan bahasa isyarat ia menyuruh Keanu untuk ikut dengannya. Keanu duduk di jok belakang, motorpun ia lajukan dengan cepat diderasnya hujan yang tiba-tiba turun. Ah, alampun tahu suasana hati mereka.
Motor Adam melaju bahkan melewati rumah mereka, di derasnya hujan sebenarnya ia masih bisa melihat di mana rumahnya, tapi kali ini ia tak ingin berada di rumah, ia hanya melewati saja rumah itu tanpa kata dan tanpa jeda, ia terus melajukan motornya dengan cepat, cepat, dan sangat cepat, Keanu nampak takut terjadi apa-apa dengan Adam, akhirnya ia mencoba berbicara dengannya.
“Dam, berhenti, Dam, lo harus berhenti!” pinta Keanu.
Adam tak memedulikan ucapan Keanu, ia terus membawa Keanu entah kemana, satu jam perjalanan dengan hujan deras dan angin yang kencang mereka lalui, Keanu sedih, tentu! Tapi untuk saat ini ia tak ingin membahas kesedihannya, ia tak ingin terjadi apa-apa dengan Adam, meski Adam buka siapa-siapanya, tapi Keanu peduli, Adam sedang mengalami kejadian menyakitkan yang sama dengan dirinya.
Tiba-tiba motor berhenti, di sebuah jalan sepi, di samping jalan ada lahan-lahan kosong, bukit-bukit kecil yang ditumbuhi semak belukar yang cukup tinggi. Adam diam, masih diam di atas motornya. Keanu turun dari motor itu, helm yang tadi ia gunakan tak dipakainya, tertinggal di kosan Keanu. Keanu berjalan menghampiri Adam, berdiri di sampingnya, nampak mata Adam terpejam, Keanu memegang lengan Adam yang masih memegang stang motor. Adam membuka matanya, menatap Keanu kemudian menangis.
Diderasnya hujan Adam menangis, menangis untuk pertama kalinya di hadapan Keanu, seorang pria yang bukan siapa-siapa.
Adam turun dari motor kemudian berjalan ke sisi jalan. Keanu mengikutinya.
Keanu menatap sosok yang lemah itu, sosok yang selama ini bersikap riang dan cool, menatap sosok kekar yang rapuh dalam derasnya hujan, sosok yang baru ia kenal beberapa hari.
Adam duduk di atas bukit sambil menangis, Keanu tahu, untuk saat ini kesedihannya sedang tak begitu berarti, meski sama, ia tak ingin menjadi orang yang rapuh, rapuh dalam situasi yang sama, meski hatinya tak kalah tercabiknya dengan Adam, tapi ia mencoba untuk tegar.
Adam kembali berdiri, kemudian tanpa melihat Keanu ia berlari, menajuhi jalan, menelusuri bukit-bukit. Keanu ikut berlari, mengejarnya lebih tepat, ia tak ingin melihat pria itu melakukan tindakan yang bodoh. Di susulnya Adam yang kini berlari pelan, dan ketika semakin dekat, Keanu mendekap tubuh Adam, Adam mencoba untuk berontak, masih mencoba melepaskan dekapan Keanu dengan meronta, kemudian ia jatuh, Keanu ikut jatuh, kini Keanu memeluk tubuh Adam. Adam masih menangis, tangisnya kini semakin kencang.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”
Adam berteriak dalam dekapan Keanu, kepalanya tersungkur ke bawah tanah. Keanu kini duduk dan masih memeluk Adam.
Satu jam
Dua jam
Dua jam setengah tak ada percakapan atau tangis, hujan sudah tak turun lagi, angin segar kini berhembus mengenai tubuh mereka. Dingin. Kemudian Adam menatap nanar Keanu. Ia pegang wajahnya, diciumnya Keanu kemudian, Keanu mencoba berontak, menolak serangan ciuman dari Adam yang tak pernah ia duga, tapi, tenaga Adam lebih kuat, ia kalah. Adam menindih tubuh Keanu, tangannya masih berontak mencoba melawan, Keanu tak menikmati ciuman dari Adam, kini Keanu menangis, air matanya mengalir ke telinganya. Adam menatap Keanu, kemudian menghentikan ciuman itu. Ia berbalik arah dan duduk sambil memegang lututnya, Keanu masih tiduran di tanah sambil menangis.
“Maaf,” ujar Adam.
Keanu menghapus air matanya dan bangkit. Ia berjalan tanpa menatap ke arah Adam.
Adam berlari mengejar Keanu kemudian gantian ia yang mendekap Keanu, Keanu berontak. “Lepasin gue!”
“Maaf.”
“Gue tau lo sedih, dan yang sedih bukan cuman lo, gue juga, gue ngeliat cowok gue ML sama cowok lain, dan itu bikin gue sakit, tapi gue masih waras, makanya gue kejar lo, gue gak mau lo bertingkah konyol.”
“Maafin gue,” ujar Adam lirih sambil kembali ari matanya menetes, “gue gak tau mesti gimana ngelampiasin ini semua...”
“Dan, lo lebih memilih ngelampiasin ini ke gue, gue punya harga diri, Dam, gue punya...” Keanu kini menangis, “lepasin gue, Dam...”
Tangis mereka semakin kencang, “maafin gue Kean, maaf, gue emang berengsek.”
Keanu kini menahan tangisnya kemudian memegang tangan Adam yang membalut tubuhnya.
“Jangan tinggalin gue sendiri, Kean, please,” lirih Adam.
Keanu berbalik arah kemudian memeluk Adam erat. Mereka berpelukan sambil menangis.
&&&
Seorang pria duduk termenung di bawah lampu temaram, serangan nyamuk tak ia pedulikan, suntikan-suntikan dari nyamuk seolah sebagai hukuman akan dirinya yang telah berbuat bodoh. Semilir angin dan aroma basah dari tanah yang tertimpa air hujan memberikan aroma suram bagi dirinya, hidupnya kini seakan tak berarti.
Pria lain menatapnya dari jendela kamar, kemudian bangkit dan memberikan selimut kecil untuk menutupi semeliwir angin dingin yang sudah masuk menembus tulangnya.
“Di sini dingin, lo mau gue buatin kopi?”
Pria itu masih diam.
“Lo laper, gue cariin makan, ya?”
Pria itu tetap saja diam.
“Shane, kalau lo kaya gini terus, lo bisa mati konyol!”
Kemudian pria itu menatap Orlando, “peduli apa lo sama gue? Lo cuman butuh kenikmatan dari gue aja, kan?”
Orlando menarik nafas dalam kemudian angkat bicara, “lo salah menilai gue,” katanya dengan pelan. Shane menatapnya kesal. “Sebenernya gue udah jatuh hati ketika pertama kali gue liat lo, gue suka sama lo, Shane, bukan cuman karena lo ganteng, tapi karena ternyata kita sehati, kita sama-sama pecinta bola, suka olah raga, dan kita suka becanda, itu yang bikin gue cinta sama lo,” Orlando diam, ia menyalakan rokoknya, “kalau lo pikir gue cuman mau ngeseks sama lo aja, itu salah, gue gak akan semudah itu ngasih tubuh gue ke orang yang baru gue kenal, gue bukan gigolo atau jablay. Gue kasih harga diri gue ke lo karena gue cinta sama lo, cinta Shane, tapi terserah, kalau lo berpikir gue orang yang gak punya hati, itu urusan lo sama pemikiran lo, dan inget satu hal, segimana lo sekarang marah sama gue, gue bakalan terus cinta sama lo, dan itu gak akan pernah berubah.”
“Terus Keanu?”
Orlando terdiam, “gue cinta sama dia, dan gue cinta juga sama lo, kalian berdua itu orang yang gue cintai, meski menurut gue kalian seperti dua sisi uang koin yang berbeda tapi gue sama-sama butuh kalian, gue sayang Keanu, dan gue juga sayang sama lo, dan satu lagi, cinta itu tumbuh bukan hanya kepada satu orang, tapi lebih.”
Orlando berdiri, kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Shane termenung, pikirannya terus kepada Adam, ia mencintai Adam, tapi kini ia pun tak memungkiri kalau ia mulai menyukai Orlando.
Ia berjalan ke arah kamar Orlando, dilihatnya pria itu dengan seksama, parasnya yang tampan memang sudah membuatnya tergoda, ia menutup pintu kosan, mendekati Orlando dan memeluknya.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel 4 Sexy Teacher 5 ini dipublish oleh Unknown pada hari 27 Januari 2015. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan 4 Sexy Teacher 5
 

0 komentar:

Posting Komentar