Keesokan
harinya di SD Angel 2.
Keanu
nampak duduk seorang diri, Adam datang dengan penuh kebimbangan. Kemudian ia
duduk di hadapan Keanu sambil menyalakan laptopnya.
Lima
menit kemudian.
“Dam,
sorry semalem gue lepas kontrol,” ujar Keanu, Adam masih pura-pura sibuk
mengerjakan tugas. “Kalau lo marah dan gak maafin gue, gue terima, kok, emang
semuanya salah gue.”
Kemudian
Adam menutup laptopnya.
“Nggak,
gue gak marah.”
“Lo
mau, kan, maafin gue?”
Adam
tersenyum, “iyalah, gue udah maafin lo. Lo udah tau semua tentang gue, jadi apa
lagi yang mesti gue sembunyikan?”
“Thanks.”
Adam
mengangguk, “tapi lain kali, gue yang harus liat lo telanjang, ya? Hahaha...”
Keanu
tersenyum.
Akhirnya
suasana kembali menjadi normal, bahkan ketika Shane dan Orlando datang mereka
nampak sedang tertawa bersama.
“Wah,
wah, wah, udah ada yang akur nih...” ujar Orlando.
“Emang
kita akur, tapi sekarang rencananya kita mau musuhin lo,” ejek Keanu.
“Loh,
kok gue?”
“Becanda,
ah, say....” Keanu nampak memotong perkataannya sambil melirik ke arah Shane
dan Adam dan akhirnya mereka berempat tertawa serentak.
Tugas
dari penataran kian hari kian banyak dan berat, bahkan kini Orlando dan Keanu
diharuskan untuk menginap di rumah Adam sampai hari terakhir mereka penataran.
Sore
ini angin berhembus pelan, Keanu dan Orlando bergegas untuk pergi ke rumah
Adam. Sesampainya di rumah Adam mereka langsung mengerjakan tugas yang harus
mereka selesaikan esok harinya.
“Ah,
sial, binder dan plasdisk gue ketinggalan di kosan, Do, anterin gue balik lagi
dong.”
“Biar
gue aja yang ambil,” ujar Shane, “kalian pasti capek, siniin aja kunci kosan
lonya.”
“Bener
nih?” tanya Keanu. Shane mengangguk, lalu Keanu mengambil kunci kosannya di
celana levi’snya. “Nih, kuncinya yang ini,” ujar Keanu sambil melemparkan kunci
ke arah Shane.
“Eh,
emang lo tau kosan kita?” tanya Keanu lagi.
Shane
nampak bingung, ia menatap Orlando sesaat kemudian menggeleng. “Belum.”
“Ya
udah sama gue aja,” kata Orlando meyakinkan, “tapi pake motor lo, ya? Biar
cepet!”
“Ok.”
Akhirnya
Orlando dan Shane pergi ke bagasi motor dan pergi dari rumah Adam. Adam yang
baru selesai mandi nampak bingung mengapa hanya tinggal Keanu yang ada di
rumahnya.
“Loh?
Shane dan Lando kemana?”
“Oh,
mereka lagi ngambil binder dan plasdisk gue yang ketinggalan di kosan,” ujar
Keanu sambil membuka barang-barangnya, kemudian ia menepuk jidat. “Aduh!”
Adam
nampak bingung dengan tingkah Keanu yang rusuh sendiri seperti sedang
mencari-cari sesuatu. “Kenapa lagi, lo?” tanya Adam sambil memakai bajunya.
“Map
kertas tugas yang dikasih sama instruktur juga ketinggalan di kosan gue.”
“Ya
udah telepon aja si Lando.”
“Dia
gak akan tau, gue simpen di celana cucian.”
“Mau
gue anter ke sana?”
“Tapi
lo baru mandi, ntar keringetan lagi,” ujar Keanu.
“Ya
elah, gue bukan cewek, nyantai aja.”
“Beneran?”
“Seriusan.”
“Ya
udah, deh, ayo!”
Adam
dan Keanu kini turun ke bawah ke bagasi rumahnya, selanjutnya menyalakan motor
dan pergi dari rumah itu.
“Sebelumnya
kita ngisi bensin dulu, ya? Udah mau sekarat nih, bensin gue.”
“Ok.”
&&&
Setelah
itu. Orlando dan Shane sampai di kosan Keanu, ia menyimpan helmnya di motor dan
bergegas membuka pintu. Namun, ketika Shane berhasil membuka pintu dan masuk ke
dalam kamar Keanu, Orlando mendorongnya ke kasur.
“Apa-apaan,
sih, lo?” bentak Shane kesal.
“Emangnya
lo gak mau kita seneng-seneng dulu? Mumpung lagi berduaan, nih.”
“Tapi,
kan, kita mesti cepet-cepet ke rumah Ad...”
Orlando
langsung mencium bibir Shane, Shane nampak tak bisa berontak apalagi melawan,
akhirnya ia menikmati ciuman ganas itu, mereka saling lumat, saling hisap, dan
saling memainkan lidah, Orlando benar-benar lihai membuat orang cepat
terangsang. Selanjutnya mereka membuka baju, Shane menciumi leher Orlando
dengan mesra kemudian menyelusuri ke bawah, dihisapnya puting Orlando yang
berwarna merah muda itu, ia hisap dengan lembut.
“Emh,
ah, enak...” ujar Orlando.
Mendengar
itu Shane semakin terangsang, ia kemudian membuka celana Orlando yang masih
menempel di tubuhnya, di jilatnya penis
Orlando dengan hebat, dan kuat, Orlando nampak terengah-engah menahan geli dan
nikmat, kemudian seolah tak mau kalah dengan servisan Shane, Orlando kini
membalikan badannya, kini ia yang menjilati tubuh Shane, menghisap putingnya,
menjilat seluruh perut Shane yang nampak memiliki enak kotak, kemudian ia turun
ke bawah dan membuka celana Shane, di hisapnya menis dan buah jakar Shane
dengan buas, Shane melenguh menahan nikmat, Orlando memberikan servis kepuasan
kepada Shane.
Setelah
usai main dengan lolipopnya, kini
Orlando menungging, Shane nampak mencari-cari pelumas dan ia berhasil
mendapatkannya di lemari Keanu, ia balurkan semua pelumas itu ke penisnya yang
sudah menegang, kemudian ia masukan penis besarnya itu ke dalam anus Orlando
dan...
Jleb...
“Ah...
uh...” desah Orlando menerima serangan rudah besar ke dalam anusnya.
Shane
memompa penisnya dengan kencang, ia benar-benar sangat horny dengan permainan
ini, pasalnya setelah terakhir kali berhubungan dengan Orlando, ia belum
melakukan hubungan intim lagi dengan siapapun, termasuk dengan kekasihnya Adam.
Plok
Plok Plok Plok
Bunyi
itu terdengar sangat syahdu ditelinga mereka, dan karena permainan mereka
berjalan cukup cepat, sehingga tak lama kemudian Shane nampak tak kuat menahan
air maninya untuk keluar, dan..
Crot
Crot Crot
Keluarlah
semua isi buah jakar dari Shane, ia nampak kelelahan, tapi ia tak mau membuat
Orlando rugi, ia pegang penis Orlando di kocoknya penis itu dengan lihainya,
tak lama di kocok, air mani Orlando tumpah ruah di lantai kosan Keanu.
Dan..
Brak!
&&&
“Ah,
sial panjang banget antiran premiumnya?” gerutu Adam.
“Ya
udah, sabar aja.”
Setelah
menunggu setengah jam mereka pun keluar dari pom bensin dan kembali melajukan
motornya dengan cepat ke arah kosan Keanu.
“Tuh,
itu, yang itu kosan gue,” ujar Keanu.
Adam
memberhentikan motornya tepat di samping motor Shane yang terparkir di depan
kosan Keanu. “Duh, kayaknya mau ujan, nih,” keluh Adam. Keanu berlari ke
kosannya dan tak sadar kakinya tersandung undakkan keramik pembatas lantainya
dan ia jatuh ke arah pintu yang di tutup.
Brak!
Keanu
jatuh mengenai pintu dan pintupun berhasil terbuka.
Bukan
sakit yang ia rasakan atas jatuhnya ia menghantam pintu, melainkan terkejutnya
ia melihat seorang yang dicintainya sedang bugil bersama pria lain.
Keanu
terpaku sesaat.
Adam
berlari karena takut Keanu kenapa-napa, tapi ketika ia hendak membantu Keanu,
nampak seseorang menutupi tubuh mereka dengan selimut. Adam seketika naik
pitam, ia langsung menghampiri dua pria yang ternyata adalah Orlando dan Shane
yang baru selesai bercinta. Di pukulnya wajah Shane dengan kencang.
Buuuuk....
Tinju
Adam tepat mengenai pipi kiri Shane sehingga ia jatuh tersungkur di lantai.
Orlando mencoba untuk menghentikan aksi Adam.
“Lepasin
gue, anjing!” bentak Adam kepada Orlando, tapi Orlando masih saja menahan Adam
yang sedang naik pitam.
“Sabar
Dam, gue bisa jelasin ini semua,” pinta Orlando.
“Anjing
kalian, mau apa lagi yang mesti dijelasin, gue udah liat kelakuan kotor
kalian.”
Shane
terpaku ditempatnya jatuh.
“Jadi
selama ini gue salah ngenilai lo, Shane, salah! Sama aja lo kaya homo-homo yang
lain, butuhnya cuman kepuasan aja! Tai lo semua.” Adam benar-benar kesal, ia
mendorong Orlando dan menyuruhnya untuk diam.
“Lo!”
Adam menunjuk wajah Orlando. Kemudian ia ludahi wajah Orlando dan berdiri tegak
menatap Shane. “Kemasi barang-barang lo yang ada di rumah gue dan pergi dari
sana, gue gak sudi liat muka lo lagi di hadapan gue.”
Ia
melangkah keluar. Orlando menatap nanar kejadian ini, kemudian ia melihat Keanu
yang terdiam di depan pintu, ia menggeleng dan pergi dari hadapan mereka.
Adam
menaiki motornya, ia menatap Keanu dengan sedih, dengan bahasa isyarat ia
menyuruh Keanu untuk ikut dengannya. Keanu duduk di jok belakang, motorpun ia
lajukan dengan cepat diderasnya hujan yang tiba-tiba turun. Ah, alampun tahu
suasana hati mereka.
Motor
Adam melaju bahkan melewati rumah mereka, di derasnya hujan sebenarnya ia masih
bisa melihat di mana rumahnya, tapi kali ini ia tak ingin berada di rumah, ia
hanya melewati saja rumah itu tanpa kata dan tanpa jeda, ia terus melajukan
motornya dengan cepat, cepat, dan sangat cepat, Keanu nampak takut terjadi
apa-apa dengan Adam, akhirnya ia mencoba berbicara dengannya.
“Dam,
berhenti, Dam, lo harus berhenti!” pinta Keanu.
Adam
tak memedulikan ucapan Keanu, ia terus membawa Keanu entah kemana, satu jam
perjalanan dengan hujan deras dan angin yang kencang mereka lalui, Keanu sedih,
tentu! Tapi untuk saat ini ia tak ingin membahas kesedihannya, ia tak ingin
terjadi apa-apa dengan Adam, meski Adam buka siapa-siapanya, tapi Keanu peduli,
Adam sedang mengalami kejadian menyakitkan yang sama dengan dirinya.
Tiba-tiba
motor berhenti, di sebuah jalan sepi, di samping jalan ada lahan-lahan kosong,
bukit-bukit kecil yang ditumbuhi semak belukar yang cukup tinggi. Adam diam,
masih diam di atas motornya. Keanu turun dari motor itu, helm yang tadi ia
gunakan tak dipakainya, tertinggal di kosan Keanu. Keanu berjalan menghampiri
Adam, berdiri di sampingnya, nampak mata Adam terpejam, Keanu memegang lengan
Adam yang masih memegang stang motor. Adam membuka matanya, menatap Keanu
kemudian menangis.
Diderasnya
hujan Adam menangis, menangis untuk pertama kalinya di hadapan Keanu, seorang
pria yang bukan siapa-siapa.
Adam
turun dari motor kemudian berjalan ke sisi jalan. Keanu mengikutinya.
Keanu
menatap sosok yang lemah itu, sosok yang selama ini bersikap riang dan cool,
menatap sosok kekar yang rapuh dalam derasnya hujan, sosok yang baru ia kenal
beberapa hari.
Adam
duduk di atas bukit sambil menangis, Keanu tahu, untuk saat ini kesedihannya
sedang tak begitu berarti, meski sama, ia tak ingin menjadi orang yang rapuh,
rapuh dalam situasi yang sama, meski hatinya tak kalah tercabiknya dengan Adam,
tapi ia mencoba untuk tegar.
Adam
kembali berdiri, kemudian tanpa melihat Keanu ia berlari, menajuhi jalan,
menelusuri bukit-bukit. Keanu ikut berlari, mengejarnya lebih tepat, ia tak
ingin melihat pria itu melakukan tindakan yang bodoh. Di susulnya Adam yang
kini berlari pelan, dan ketika semakin dekat, Keanu mendekap tubuh Adam, Adam
mencoba untuk berontak, masih mencoba melepaskan dekapan Keanu dengan meronta,
kemudian ia jatuh, Keanu ikut jatuh, kini Keanu memeluk tubuh Adam. Adam masih
menangis, tangisnya kini semakin kencang.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”
Adam
berteriak dalam dekapan Keanu, kepalanya tersungkur ke bawah tanah. Keanu kini
duduk dan masih memeluk Adam.
Satu
jam
Dua
jam
Dua
jam setengah tak ada percakapan atau tangis, hujan sudah tak turun lagi, angin
segar kini berhembus mengenai tubuh mereka. Dingin. Kemudian Adam menatap nanar
Keanu. Ia pegang wajahnya, diciumnya Keanu kemudian, Keanu mencoba berontak,
menolak serangan ciuman dari Adam yang tak pernah ia duga, tapi, tenaga Adam
lebih kuat, ia kalah. Adam menindih tubuh Keanu, tangannya masih berontak
mencoba melawan, Keanu tak menikmati ciuman dari Adam, kini Keanu menangis, air
matanya mengalir ke telinganya. Adam menatap Keanu, kemudian menghentikan
ciuman itu. Ia berbalik arah dan duduk sambil memegang lututnya, Keanu masih
tiduran di tanah sambil menangis.
“Maaf,”
ujar Adam.
Keanu
menghapus air matanya dan bangkit. Ia berjalan tanpa menatap ke arah Adam.
Adam
berlari mengejar Keanu kemudian gantian ia yang mendekap Keanu, Keanu berontak.
“Lepasin gue!”
“Maaf.”
“Gue
tau lo sedih, dan yang sedih bukan cuman lo, gue juga, gue ngeliat cowok gue ML
sama cowok lain, dan itu bikin gue sakit, tapi gue masih waras, makanya gue
kejar lo, gue gak mau lo bertingkah konyol.”
“Maafin
gue,” ujar Adam lirih sambil kembali ari matanya menetes, “gue gak tau mesti
gimana ngelampiasin ini semua...”
“Dan,
lo lebih memilih ngelampiasin ini ke gue, gue punya harga diri, Dam, gue
punya...” Keanu kini menangis, “lepasin gue, Dam...”
Tangis
mereka semakin kencang, “maafin gue Kean, maaf, gue emang berengsek.”
Keanu
kini menahan tangisnya kemudian memegang tangan Adam yang membalut tubuhnya.
“Jangan
tinggalin gue sendiri, Kean, please,” lirih Adam.
Keanu
berbalik arah kemudian memeluk Adam erat. Mereka berpelukan sambil menangis.
&&&
Seorang
pria duduk termenung di bawah lampu temaram, serangan nyamuk tak ia pedulikan, suntikan-suntikan
dari nyamuk seolah sebagai hukuman akan dirinya yang telah berbuat bodoh.
Semilir angin dan aroma basah dari tanah yang tertimpa air hujan memberikan
aroma suram bagi dirinya, hidupnya kini seakan tak berarti.
Pria
lain menatapnya dari jendela kamar, kemudian bangkit dan memberikan selimut
kecil untuk menutupi semeliwir angin dingin yang sudah masuk menembus
tulangnya.
“Di
sini dingin, lo mau gue buatin kopi?”
Pria
itu masih diam.
“Lo
laper, gue cariin makan, ya?”
Pria
itu tetap saja diam.
“Shane,
kalau lo kaya gini terus, lo bisa mati konyol!”
Kemudian
pria itu menatap Orlando, “peduli apa lo sama gue? Lo cuman butuh kenikmatan
dari gue aja, kan?”
Orlando
menarik nafas dalam kemudian angkat bicara, “lo salah menilai gue,” katanya
dengan pelan. Shane menatapnya kesal. “Sebenernya gue udah jatuh hati ketika
pertama kali gue liat lo, gue suka sama lo, Shane, bukan cuman karena lo
ganteng, tapi karena ternyata kita sehati, kita sama-sama pecinta bola, suka
olah raga, dan kita suka becanda, itu yang bikin gue cinta sama lo,” Orlando
diam, ia menyalakan rokoknya, “kalau lo pikir gue cuman mau ngeseks sama lo
aja, itu salah, gue gak akan semudah itu ngasih tubuh gue ke orang yang baru
gue kenal, gue bukan gigolo atau jablay. Gue kasih harga diri gue ke lo karena
gue cinta sama lo, cinta Shane, tapi terserah, kalau lo berpikir gue orang yang
gak punya hati, itu urusan lo sama pemikiran lo, dan inget satu hal, segimana
lo sekarang marah sama gue, gue bakalan terus cinta sama lo, dan itu gak akan
pernah berubah.”
“Terus
Keanu?”
Orlando
terdiam, “gue cinta sama dia, dan gue cinta juga sama lo, kalian berdua itu
orang yang gue cintai, meski menurut gue kalian seperti dua sisi uang koin yang
berbeda tapi gue sama-sama butuh kalian, gue sayang Keanu, dan gue juga sayang
sama lo, dan satu lagi, cinta itu tumbuh bukan hanya kepada satu orang, tapi
lebih.”
Orlando
berdiri, kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Shane
termenung, pikirannya terus kepada Adam, ia mencintai Adam, tapi kini ia pun
tak memungkiri kalau ia mulai menyukai Orlando.
Ia
berjalan ke arah kamar Orlando, dilihatnya pria itu dengan seksama, parasnya
yang tampan memang sudah membuatnya tergoda, ia menutup pintu kosan, mendekati
Orlando dan memeluknya.


0 komentar:
Posting Komentar