Love of Enemy 1



Aku memiliki hubungan rumit dengan kekasihku, namaku Gery, 27 tahun dan bekerja sebagai Konsultan di Bank swasta di kota Cikarang. Seluruh keluargaku tinggal di kota Purwakarta dan aku ngekos di kota ini.  Nama kekasihku Anna, dia bekerja sebagai SPG rokok, tingginya 170cm dan hanya berbeda 5cm denganku, tubuhnya indah, matanya indah, ah, dia adalah sosok yang sempurna bagiku. Namun, karena kesempurnaanya itu, sehingga banyak sekali pria-pria yang menyukainya, awalnya aku tidak memedulikan masalah ini, tapi belakangan ini banyak terdengar kabar kalau Anna kini menjalin hubungan dengan atasannya. Uh, mungkin ini akan menjadi akhir dari hubungan yang sudah berlangsung lima tahun ini.

Hari minggu pagi, aku akan pergi fitness di pusat kebugaran yang sudah sering aku datangi tak jauh dari tempat kos-kosanku. Memang tidak terlalu dekat, sih, ya, kalau berjalan kaki cukup memakan waktu dua puluh menit. Bag kecil yang berisi handuk, sepatu dan baju ganti sudah aku masukan, dan kini sudah siap untuk berangkat.
Sebenarnya hubunganku dan Anna memang sudah tidak begitu harmonis, tahun ini ia memintaku untuk menikahinya, sementara aku masih ingin sendiri dan masih harus membantu perekonomian keluargaku. Sedikit cerita, di keluarga kami, hanya aku yang dikuliahkan, itu pun dengan susah payah ibu banting tulang untuk kehidupan kami yang nantinya akan lebih baik, memang kini setelah aku bekerja, ibuku tak begitu kesulitan mengenai materi, setiap bulannya aku mengirimi setengah dari gajiku untuk ibu, well, aku hanya memiliki ibu saja dan dua adik yang masih kecil-kecil. Untuk itulah alasanku tidak menikahi Anna cepat-cepat.
Awalnya Anna tak keberatan dengan semua ini, ia maklumi, tetapi karea aku dan Anna seusia dan bagi wanita, umur 27 tahun itu sudah lebih dari cukup untuk menikah, jadi kini ia menuntutku untuk segera menikahinya.
Sudah begitu, aku dipusingkan dengan SMS ibu tadi pagi, adik bungsuku, Dery sedang sakit dan masuk rumah sakit, kata ibu, ia butuh uang tiga juta untuk menebus biaya Rumah Sakit. Ah, ini pertengahan bulan, uang bulananku sudah hampir habis, aku bingung mencari uang kemana lagi, pinjam kepada teman? Aku tidak berani, aku memiliki komitmen untuk tidak meminjam uang kepada siapapun walau dalam keadaan sesulit apapun.
Pernah terbesit dalam pikiranku untuk menjual tubuhku kepada tante-tente girang, tapi ku urungkan niat karena menurutku jelas itu hal yang tak benar. Walau sering kali teman kantorku bilang, wajahku yang tampan ini kalau dijual kepada tante-tente akan laku keras.
Banyak juga orang-orang yang bilang kepadaku kalau wajahku mirip sekali dengan Cristian Sugiono, suaminya dari artis Titi Kamal. Aku sendiri sadar kalau aku tampan, tapi kalau dibandingkan dengannya, menurutku aku jauh lebih jelek, bukan merendah, hanya saja aku sadar diri, tubuhku tak begitu putih dan mataku jauh lebih sipit dari artis itu.
Sambil berjalan aku terus saja merenungkan masalah ini, aku bahkan tak sadar ada yang menguntitku dari arah jalan dengan mobil van tua.
Aku sadar ketika tiba-tiba seorang pria dari dalam mobil memanggilku, aku celingukan karena takutnya bukan aku yang mereka panggil.
“Hei, hei, ya, lo, bisa ke sini sebentar?” kata pria itu sambil melambaikan tangannya.
Akhirnya karena tidak ada orang selain aku di sini, aku mendekatinya dengan ragu. “Ada perlu apa, ya?”
“Lo mau ikut gak sama kita?” katanya lagi dengan tersenyum. Kemudian seseorang mengenakan pakaian merah dan berkulit putih mulus membuka jendela dan tersenyum kepadaku.
Aku tersenyum sambil mundur beberapa langkah. “Apa lo mau culik gue? Gue gak kenal kalian, tiba-tiba aja kalian ajak gue masuk ke dalam mobil kalian.”
Ia tersenyum kembali, terlihatlah gigi-giginya yang tak terlalu putih dan ompong di tengahnya. “Ayolah, lo terlalu tua buat kita culik, bukan itu tujuan kita ngajakin lo.”
“Lalu apa? Apa lo suruhannya si Joko?” nadaku sedikit aku tinggikan. Joko adalah nama atasan yang katanya kini sedang menjalin hubungan dengan Anna.
“Joko? Nama macam apa itu? Ayolah, kami nggak kenal orang itu, kami cuma mau melakukan penawaran sama lo. Lo pasti lagi butuh uang? Ayo, sebutkan berapa juta yang lo mau?”
Aku sedikit terkejut dengan tebakannya itu, awalnya aku mulai terpancing dengan perkataannya, tapi aku kembali melangkah mundur dan tersenyum kecut kepada orang itu seraya meninggalkan mereka pergi.
Rupanya mereka tidak menyerah, mereka terus mengikutiku sambil terus memintaku. Akhirnya aku kehabisan kesabaran dan menghampiri mereka kembali.
“Sebenarnya apa mau lo? Kita gak punya urusan dan kita gak saling kenal, jadi jangan ganggu gue, ngerti!” bentakku sambil memukul pintu mobil.
“Kita emang nggak saling kenal, tapi kita milih lo, ayolah ikut aja.”
“Apa keuntungan gue ikut sama kalian? Bukti apa yang bisa gue dapatkan kalau keselamatan gue terjamin bersama kalian?”
“Hahaha... keuntungannya lo akan mendapatkan kenikmatan sekaligus uang. Masih nggak mau?” Kemudian pria yang tadi mengenakan baju merah membuka pintu sambil tersenyum kepadaku.
Akhirnya dengan setengah hati aku menuruti dan masuk ke dalam mobil tersebut. Di dalamnya ada pria tadi yang memakai baju merah, seorang gadis yang memiliki tubuh yang sangat, ah, semok sekali, dan seorang pria mengenakan topi dan sedari tadi menyoroti kami menggunakan kamera. Aku duduk di tengah berdampingan dengan wanita cantik nan aduhai itu serta pria yang mengenakan baju merah tadi. Mobil pun kini meninggalkan tempat semula, aku tak tahu kemana sebenarnya tujuan kami.
“Well sebaiknya kita mulai. Ok, kita akhirnya mendapatkan target yang kita inginkan, bisa perkenalkan dirimu kepada kami?” kata pria bertopi sambil sibuk meng-shoot kegiatanku.
“Dudi,” jawabku asal.
“Ok, Dudi kita langsung saja ke topik, di sini gue menawarkan sebuah penawaran, kita akan beri lo uang satu juta, asalkan lo mau bercinta dengan Luke, pria yang ada di samping lo itu.”
Seketika aku terbelalak dengan apa yang diucapkan oleh pria itu. “Jangan bercanda, ya, gila aja, gue bukan homo!”
“Jadi, lo nolak? Ok, kalau gitu, bagaimana kalau kita tambah jadi dua juta?”
Aku menggeleng. Wanita yang ada di sampingku tersenyum dan tangannya dengan nakal memegang selangkanganku.
“Hm, kalau dengan wanita ini?”
Aku melirik ke wanita semok ini, ah, sungguh menggiurkan. “Kalau dia, tentu,” kataku yakin.
“Haha... tapi dia bukan buat lo, gue tetap kasih penawaran buat lo, hm, bagaimana kalau lima juta, tidak kurang tidak lebih!”
Sekali lagi aku menggeleng, kemudian melirik pria berbaju merah bernama Luke tersebut, memang kalau dilihat-lihat wajahnya cukup tampan, badannya juga bagus, tapi uh, memikirkannya untuk telanjang saja sudah membuatku mual.
“Apa lo yakin? Lima juta bukan uang yang kecil, loh, gue tahu lo lagi butuh uang, bagaimana?”
Sejenak aku berpikir, memang benar, aku sedang butuh uang, tapi untuk melakukan ini dengan laki-laki, ini jauh dari pemikiranku. Ah! Kalau saja dengan gadis semok di sebelahku, tentu aku mau. Argh! Mengapa pilihannya harus kepada laki-laki banci ini, batinku kesal.
Tiba-tiba ponsel di dalam celana pendekku berbunyi. Sebuah pesan dari ibu.
Nak, bagaimana? Uangnya sudah ada?
Seketika aku menghela nafas, menunduk.
“SMS dari siapa?” tanya wanita di sebelahku, aku menggeleng.
“Bagaimana? Kalau nggak mau lo boleh turun dari mobil ini sekarang.”
“Enam juta. Gue mau kalau enam juta.”
“Hahaha, pria ini udah di kasih hati minta jantung, kalau begitu, silahkan lo turun.”
Kini giliranku yang bimbang. Uang memang pengendali kehidupan. “Baiklah, lima juta, gue terima.”
“Nah, begitu, dong, kan jadi lebih gampang, lagi pula lo dapat keuntungan lain, si Luke ini masih virgin, dan jelas lo akan semakin menikmatinya.”
“Gue gak peduli mau dia masih virgin atau nggak, bagi gue sekarang adalah uang, jadi mana uangnya?” kataku cepat.
“Eits, nanti dulu, lo akan dapetin uangnya nanti setelah air mani lo keluar.”
Aku menggeleng tak percaya.
“Ayo kita mulai.”
Tak lama setelah pria bertopi ini bicara, Luke, pria berbaju merah itu semakin mendekatiku, wajahnyapun kian mendekatiku, jantungku seperti mau copot tak keruan, dalam hitungan beberapa detik bibir kami sudah saling bersentuhan, ia melumat terus bibirku dengan penuh nafsu, sementara bibirku masih kaku tak berserak. Tangannya menggerayangi seluruh tubuhku, aku pasrah saja dengan keadaan ini meski kalau dilihat aku muak melakukan semua ini. Kini ia sudah berhasil memegang penisku yang masih tidur dalam balutan celana pendek yang kukenakan. Ia sibuk mencari-cari sleting celanaku untuk mengeluarkan senjata pamungkasku, ketika ia berhasil menemukan sletingku, aku sempat menolak, tapi ciumannya yang ganas membuatku sesaat terhanyut dalam ciuman menjijikan itu.
Setelah berhasil mengeluarkan penisku, ia kini sibuk mengocok penisku yang belum juga bangun, ah, bagaimana mau bangun, terangsang saja aku tidak. Aku terus mencoba memikirkan segala sesuatu yang membuatku semakin terangsang. Mungkin memikirkan waktu aku bercinta dengan Anna bisa membuat penisku bangun dan dengan cepat air maniku keluar. Setelah ia sudah puas menciumku, kini ia mencoba melepaskan pakaianku, kemudian menjilat putingku, ini adalah pertama kalinya bagiku putingku dijilat dan lebih mengejutkan lagi dijilatnya oleh laki-laki. Beberapa menit ia sibuk menjilat putingku, kemudian ia beralih kebagian bawah, rupanya tanpa aku sadar burungku sudah tegang, aku sendiri terkejut mengapa aku bisa terangsang hanya dengan jilatan di puting saja. Kemudian tanpa meminta persetujuanku, Luke sudah memasukan penisku kedalam mulutnya, hangat, enak dan sangat aktif, aku bahkan sampai kewalahan dengan aksinya yang katanya baru pertama kali ini.
“Ah, hm,” aku mengerang.
Ia benar-benar menikmati setiap jilatannya, begitupun aku, entah setan apa yang kini merasukiku, walau kutahu dia laki-laki, tapi tetap bisa membuatku terangsang juga akhirnya. Sekitar sepuluh menit ia memainkan penisku dengan mulutnya. Ia selanjutnya membuka baju, timbulah otot-otot besar dibalik baju merahnya itu, oh, kalau dibandingkan, tubuhnya lebih bagus daripada tubuhku sendiri, sesaat aku kagum, tapi kutepis jauh-jauh kekagumanku itu dan kembali menikmati dan memikirkan tubuh Anna. Ia memintaku berdiri sementara dia menungging memegang jok belakang kursi mobil. Awalnya aku ragu, tapi kembali aku yakinkan diriku. Penisku yang sudah basah dan mengkilat kucoba masukan kedalam anusnya pelan-pelan, sempit.
“Aaa... pelan-pelan,” katanya pelan.
Kuderang Luke mengerang kesakitan, dan aku sekarang percaya kalau dia memang masih virgin. Setelah setengah batang penisku berhasil masuk, tanpa mendengarkan rintihannya yang kesakitan, aku masukan lebih dalam dan lebih kencang penisku ke dalam anusnya sehingga ia sempat meronta, dan anusnya yang sempit semakin sempit karena menolak benda tumpul yang cukup besar ini masuk kedalam anusnya tanpa perhitungan.
“Please, pelan-pelan, lo nyakitin gue,” katanya sambil memegang tanganku. Aku tepis tangan itu.
Aku tak memedulikan kesakitan Luke, aku kini sudah menggenjot penisku keluar-masuk lubang anusnya, ah, benar-benar nikmat, sempit dan lebih mencengkram, pantas saja banyak yang suka bercinta dengan pantat.
Aku pompa penisku naik turun dengan kencang, tapi kini rintihan dari Luke yang sedari tadi terdengar mulai menghilang, berganti dengan desahan kenikmatan, mungkin kini ia sudah mulai terbiasa dan menikmatinya. Kemudian aku mengganti posisiku, aku duduk sementara dia menindihku, inilah posisi yang sering aku lakukan bersama Anna dulu, sekaligus menjadi posisi paling gampang karena aku tidak usah capek-capek menggenjot penisku.
Plop plop plop
Dia mulai aktif menaik-turunkan anusnya, tangannya memegang pipiku, lembut, kemudian dia diam dan kembali melumat bibirku dengan penuh nafsu.
“Enak, sayang?” katanya sambil merangkulkan tangannya keleherku. Aku mengangguk karena kini nafsu sudah lebih menguasai akal sehatku. Ia kembali menggenjot pantatnya naik turun, dan aku benar-benar menikmatinya. Anusnya yang sempit benar-benar membuatku terangsang, bahkan menurutku ini lebih dari memek. Ternyata pantat lebih nikmat dari memek. Kemudian aku bangkit, aku menindihnya dan mulai aktif menggenjot dan merobek anusnya yang masih sangat sempit. Sesekali aku mendengar rintihan dari mulutnya, kemudian hilang menjadi desahan nikmat. Aku semakin mempercepat gerakanku, keringat kami sudah menyatu, aku benar-benar tak memedulikan orang-orang yang ada disekitarku lagi. Bahkan tak menyadari bahwa pria bertopi yang memegang kamera masih sibuk meng-shoot kegitan bercinta kami. Dan, tak lama, dalam hitungan detik air maniku keluar di dalam anusnya, tubuhku roboh dan menindihnya, nafasku tersenggal-senggal tak keruan. Luke mencium rambutku dan mengusapnya.
“Thank udah jadi orang pertama yang berhasil nyobek pantat gue,” katanya berbisik. Aku tersenyum dan memejamkan mata.
Setelah dirasa tenagaku sudah kembali aku bangkit dan mengenakan semua baju dan celanaku, begitupun Luke.
“So, bagaimana pengalaman bercinta dengan pria? Apa masih berpikir menjijikan?” kata pria bertopi sedikit meledekku.
“Masih menjijikan,” kataku. “Sekaligus enak.”
Semua orang tertawa. Aku tak tahu lagi dimana aku berada sekarang. “Ok, mana uangnya?” tanyaku.
Pria tadi kembali tersenyum. “Sabar, apa lo nggak mau kami anterin pulang? gue kasih uangnya nanti ditempat lo pertama kali naik,” ujarnya sambil menghitung-hitung uang dalam amplop.
Tiba-tiba mobil yang aku naiki berhenti.
“Aduh, sepertinya mesinnya bermasalah, hm, Dudi, bisa lo cek?” tanya pria yang menyetir.
“Gu... gue gak begitu mengerti mengenai mesin, mobil atau semacamnya, gue nggak tahu.”
Pria itu mencoba menjalankan kembali mobilnya namun tak ada hasil. Satu menit. Dua menit. Akhirnya ia keluar dan mengecek mobil. Aku hanya diam tak tahu apa yang harus aku lakukan.
Dari luar, pria yang menyetir dan bergigi ompong itu mengetuk kaca mobil, Luke membukanya. “Dud, bisa lo bantu dorong mobil ini?” tanyanya.
Aku mengangguk kemudian keluar, pria ompong itu masuk ke dalam mobil, kepalanya muncul di jendela mobil. “Coba lo dorong mobil ini, ya? Siapa tahu bisa hidup lagi,” katanya. Aku mengangguk kemudian berjalan ke belakang mobil. Namun, ketika aku hendak mendorong, mesin mobil menyala dan mobil itu melaju dengan kencang, mereka meninggalkanku, dari jauh aku menatap tak percaya, si Luke membuka jendela mobil dan membuang bag ku ke jalan. Ah, entahlah, aku seperti dihipnotis, tapi aku masih sadar. Ketika aku benar-benar sadar, aku berlari mengambil bag ku, dalam hati aku terus mengutuk diriku sendiri. Aku benar-benar ditipu oleh mereka. Bodoh! Bodoh! Bodoh! bodohnya aku yang sudah percaya kepada meraka yang sudah memanfaatkanku.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Love of Enemy 1 ini dipublish oleh Unknown pada hari 07 Desember 2014. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Love of Enemy 1
 

0 komentar:

Posting Komentar