Aku
berjalan sendiri disebuat tempat yang gelap, gelap dan lembab, aku tak tahu di
mana aku sekarang. Di sini benar-benar gelap tak ada setitik cahayapun
menyinari tempat ini. Kini aku berlari, berlari menuju tempat yang terang,
tapi, di mana? Di sini masih tak ada setitik cahayapun untuk kutuju. Kakiku
sudah mulai lelah, rasanya sudah berkilo-kilo meter aku berlari tapi tak
menemukan jalan lain, hingga ketika aku terduduk kerena lelah, aku melihat ada
setitik sinar dihadapanku, bukan, itu bukan sinar, itu lebih tepatnya seperti
cahaya, cahaya yang akan menujuku ke jalan yang lebih terang.
Kembali
kuberlari mendekati cahaya itu, kini cahayanya semakin membesar, besar, dan
besar hingga kini aku sadar, cahaya itu berasal dari pintu yang terbuka
sedikit. Ketika aku akan sampai ke pintu itu, ku dengar suara erangan,
kesakitan? Bukan ini lebih seperti erangan kenikmatan, kenikmatan dari
seseorang yang sedang bersenggama.
Setelah
aku mulai dekat dengan asal suara itu, aku buka pintunya perlahan, sedikit,
sedikit, dan aku melihat dua orang sedang bersenggama, ya, mereka melakukan
tarian cinta, seorang yang selalu aku cintai bersenggama dengan orang lain,
jelas aku tahu orang yang bersenggama dengan Sebastian itu bukan aku, karena
aku ada di sini, menatap mereka yang sedang beradu peluh, kulit pria itu lebih
putih, bahkan kulitnya berbeda dengan kulit Sebastian, lebih seperti
kulit-kulit orang Caucasian, dan ketika kuselidiki, ternyata itu Mr. McGregor,
pria itu bercinta dengan orang yang amat aku cintai, hatiku sangat hancur
berkeping-keping, aku tak ingin melihat adegan ini, tapi mata dan tubuhku
seolah berkata lain, aku tak mampu bergerak sedikitpun, hingga akhirnya dengan
terpaksa aku menyaksikan adegan itu walau perih hatiku.
Kulihat
Bastian naik-turun memainkan pantatnya, ia nampak menikmati permainan dengan
Mr. McGregor, kini ia mendekati si bule itu, dan saling berciuman, bibir
Sebastian yang tipis dilumat oleh bule keparat itu, aku benar-benar tak sanggup
melihatnya, bahkan untuk berteriakpun aku tak bisa. Kini mereka merubah posisi,
doggy style, gaya andalanku, pantat Bastian dihajar habis-habisan oleh pria
bule itu dengan ganas, sehingga Sebastian mengerang kenikmatan, matanya
merem-melek diperlakukan seperti ini. oh, aku tidak bisa membiarkan ini terjadi,
bagaimanapun juga harus aku yang memuaskan Bastian, bukan si bule sialan itu,
dan bukan oleh orang lain, hanya aku, ya, hanya aku saja yang berhak menjamah
tubuhnya.
Ternyata
kini aku sudah bisa melawan, aku mencoba menggerakan kakiku dan kubuka pintu
itu dengan kencang, kulihat mereka seperti terkejut dengan dobrakan yang aku
lakukan, kemudian aku berlari, berlari ke arah mereka, namun anehnya terjadi,
latar berubah dan kini aku ada di tengah jalan, ketika aku melihat ke samping,
rupanya ada mobil besar menghantam tubuhku dan.....
“Bas!”
teriakku, peluhku mengalir dengan sangat deras. Rupanya semua ini hanya mimpi.
Rupanya aku tertidur. Barusan kita sudah sampai di resort tepat kami akan
berlibur. Akhirnya atas paksaan dari Erick aku ikut pergi berlibur bersama
mereka ke Bali, dan, di sinilah aku sekarang, di Bali.
Aku
berjalan ke menuju pintu yang terbuat dari kaca, kubuka tirai yang menutupi
pintu dan melihat Sebastian sedang asyik berenang dengan Erick dan Mr.
McGregor. Mereka tertawa-tawa, saling menyiram air dan mendorong-dorong satu
sama lainnya, ah, entah mengapa aku tidak senang dengan liburan kali ini,
mungkin karena aku tahu aku tak lagi bersama dengan orang yang aku cintai meski
orang itu ada. Orang itu tak mampu lagi aku jamah sepenuhnya, semua itu karena
kesalahanku, aku memang bodoh, orang terbodoh yang melepaskan orang terbaik
dalam hidupnya demi orang berengsek yang hanya memikat sesaat.
Kubuka
pintu kaca, tercium semilir angin pantai yang sejuk, resort ini benar-benar
mewah dengan fasilitas lengkap.
“Oy,
Cast, ayo ikut gabung,” ajak Erick.
Aku
tersenyum dan berjalan pelan menuju kolam renang.
“Sok
cool banget, sih, lo, udah ah gak usah jaim-jaiman segala!”
Erick
memang tahu gayaku, tahu ketika aku bergaya sok cool atau jaimnya aku.
“Nggak
ah, nanti kulit gue item.”
“Sok
bule banget lo? Orang di sini ada bule beneran juga.”
“Gak!
Soalnya ada yang bilang ke gue kalau sekarang kulit gue iteman, gue gak mau
ngecewain orang yang udah ngomong gitu ke gue, makanya gue mau mutihin kulit
lagi.”
“Apaan
sih, lebay banget lo? Udah sini turun kalo nggak gue siram lo!”
Aku
mundur ketika kulihat Mr. McGregor naik dengan Erick.
“Mau
apa kalian, jangan coba-coba, ya!” tapi rupanya mereka tak menggubris
ancamanku, aku lari dikejar mereka namun sayang mereka lebih gesit sehingga
kini aku tertangkap. “Please lepasin gue, jangan ceburin gue, gue gak bawa baju
banyak, aduh, please!”
“Itu
bukan alasan, baby,” ujar Mr. McGregor.
Dan,
dengan seketika mereka melemparkanku ke kolam renang, basahlah semua bajuku.
Byuuuurrrrrrrrrrr
“Ahhhhh
sial sial sial.... basah kan baju gue!”
“Lebay
sih lo, coba kalau dari awal lo gak nolak, gak akan kaya gini jadinya.”
Aku
hanya merengut mendengar perkataan dari Erick.
“Udah,
kalau baju bisa pinjem punya gue atau Erick,” ujar Bastian. Ah, mendengarnya
berbicara membuatku senang, hilanglah semua kejengkelanku.
“Eh
kita lomba, yuk?” tantang Erick.
“Lomba
apa? Balap renang?”
“Bukan.”
“Terus?”
tanya Bastian.
“Kita
lomba siapa yang lebih lama gak muncul di air dia menang, hadiahnya....”
Erick
berpikir sejenak, kemudian ia tersenyum melihat kami.
“Hadiahnya
bagi yang menang bisa memilih mau tidur sama siapa malam ini, eh, bukan berarti
making love, ya, Cuma tidur bareng aja, gimana, setuju?”
“Setuju.”
“Nggak.”
“Setuju.”
Mr.
McGregor, Bastian dan aku tidak kompak, dan Bastianlah yang bilang tidak
setuju.
“Kenapa
nggak setuju, Bas?” tanya Erick. “Tidur sama siapa aja gak masalahkan, siapa
tau lo mau tidur ama gue, atau ama Mr. McGregor, kan?”
“Iya,
akyu ikut,” kata Mr.McGregor.
Akhirnya
Sebastian pasrah saja dengan permainan ini.
“Kita
mulai, ya?” tanya Erick.
“Peraturannya
di sini, kita masuk ke dalam air bersama dengan saling berpegangan agar kita
tahu siapa nanti yang melepaskan pegangan duluan dia yang kalah, ok?”
Aku
mengangguk, kulihat Sebastian nampak gugup.
“Dalam
hitungan ke tiga, kita mulai, ya?” Erick menatap kami bertiga.
“Satu...Dua...Tiga....”
Hup
Aku
menahan nafasku, kemudian membuka mataku di dalam air. Ku lihat, semuanya
membuka mata. Kami saling terdiam karena tak ada satu orang pun yang mau kalah
kalau kami banyak gerak. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Akhirnya aku yang
kalah dan aku melepaskan pegangan diantara mereka. Aku muncul dipermukaan air
lebih dulu, dan tak lama di susul oleh Sebastian, aku dan Sebastian duduk di
samping kolam, menyaksikan mereka yang masih saja berlomba-lomba untuk menjadi
pemenang.
Dan
ketika sudah mendekati lima menit, Mr. McGregor harus menerima kenyataan kalau
dia kalah oleh Erick, dan Ericklah yang menjadi pemenangnya.
“Ah,
gue tau kenapa lo ngajakin kita maen permaian ini, emang dasarnya lo jago, aja,
kan maen kaya ginian?”
“Eh,
siapa bilang, malah gue sempet mikir kalau gue tadi akan kalah, Mr. McGregor
lawan yang tangguh, juga, ya?” si Bule itu hanya tersenyum.
“Jadi
lo pengen tidur ama siapa?” tanyaku.
“Gue
udah sering tidur sama, lo, Cast, jadi gue bosen, ini pilihan yang sulit antara
Sebastian dan Mr. McGregor,” katanya berbohong.
“Tapi,
karena gue belum pernah nyoba tidur bareng bule, jadi gue pilih Mr. McGregor,
gimana Mr, mau kan tidur denganku?”
Ia
menaikan alisnya, “Tak masalah aku tidur dengan siapapun, asalkan dia tidak
mengorok saja,” ujarnya dengan polos, kami serentak tertawa.
Jadi,
setidaknya malam ini aku dan Sebastian tidur bersama, kesempatan langka ini tak
akan aku sia-siakan lagi.
&&&
Malamnya
kami dinner di sebuah restoran elit di kawasan Kuta, tempatnya sungguh indah,
dan yang lebih terpenting lagi, kami bertiga di traktir oleh Mr. McGregor,
orang ini benar-benar baik kepada kami, tentu aku pikir semuanya tak ada yang
gratis, ada maksud terselubung dengan semua ini.
“Bhagaimana,
makanannya enakh?” tanya Mr.
“Yes
Sir!” jawab Erick antusias, ah, Erick, dia memang sangat antusias dengan si
bule ini dari awal berangkat saja dia sudah antusias, bahkan untuk tidur dengan
siapanya ketika di Bali sebenarnya sudah ia rencanakan, dan hampir setengah
jalan rencananya berhasil untuk memikat bule tampan itu.
“Sekarang
kita mau kemana lagi, sir?” tanyaku.
“Terserah
kalian, akyu, pashti ikutd saja.”
“Kalau
mau main kayaknya gue gak ikut, deh, gue gak enak badan, nih,” ujar Sebastian.
“Kamyu
kenappa sayang? Sakit?” tanya Mr.
“Nggak,
cuman kecapean aja, kalau kalian masih mau main silahkan aja, tapi aku pulang
duluan, gak apa-apa, kan?”
“Kalau
begithu akyu juga pulang sadja.”
Seketika
Erick bertindak. “Jangan, sir, kan, jarang-jarang Mr. ada di Bali, biar si
Castro aja yang jagain Bastian.”
“Nggak
usah, gue bisa kok sendiri.”
“Tapi
kamyu harus adda yang jaga,” ujar Mr kebingungan.
“Gak
apa-apa, biar gue yang jaga,” ujarku meyakinkan.
“Ya
udah, ayo kita pulang, Bas? Ajakku.
Kami
pulang ke resort berdua, tak ada satu oatah katapun yang keluar dari mulut
kami. Sesampainya di kamar, Bastian langsung menuju kamar mandi dan kudengar ia
muntah.
Aku
menghampirinya. “Lo kenapa?”
“Jangan
ke sini, jijik,” katanya sambil menyalakan air.
“Lo
pernah ngebersihin muntah gue di lantai, tapi lo gak jijik, kenapa gue mesti
jijik?”
Ia
diam dan langsung berkumur.
“Boleh
gue?” tanyaku dan segera aku pegang jidatnya.
“Lo
demam, Bas, ayo cepet istirahat. Lo tunggu di sini, ya, gue mau beli obat
dulu.” Aku langsung keluar untuk membeli obat. Selang beberapa menit, aku
sampai di kamar dan kilihat Sebastian sudah tertidur pulas. Aku perbaiki posisi
tidurnya dan kuselimuti ia, tanpa ia sadari tangannya memegang tanganku. Tak
kulepaskan pegangan tangannya ini, aku tiduran di sampingnya sambil terus
memandang wajahnya, ah, aku rindu wajah ini, wajah yang pernah mengiasi
hari-hariku penuh dengan keindahan dan kebahagiaan. Ku kecup keningnya yang
sedikit berkeringat kemudian aku berbisik di telinganya. “I love you, Bas,
forever!”
&&&
Aku
terbangun ketika seseorang menepuk lenganku, ketika kubuka mataku, Bastian
masih tidur di sampingku, ia tak bisa bergerak karena lenganku mendekap
tubuhnya erat. “Bisa lepasin gue, gak? Katanya pelan.
“Em,
ah, oh, Sorry, Bas, gue gak sadar.” Langsung saja aku membetulkan posisi
tubuhku, dan beranjak duduk. “Lo masih sakit, gak?”
Ia
menggeleng. “Nggak gue udah seger sekarang, kemaren kayaknya cuman kecapean
aja.”
“Bagus,
deh, kalau gitu.” Aku berjalan ke meja dan mengambil segelas air.
“Gue
mau bangunin si Erick sama Mr, McGregor, kayaknya mereka belum bangun, deh.”
“Gak
usah biar gue aja,” kataku sambil keluar. Aku berjalan menuju kamar yang
bersebelahan denganku, rupanya pintu tak di kunci, dan ketika aku masuk,
kulihat mereka masih asik tertidur berdua, dan OMG, mereka telanjang, ketika
aku hendak membangunkan Erick, aku menginjak sesuatu yang lengket, dan ternyata
itu adalah kondom. Jadi, semalam mereka ML. Ah, Erick, cepat sekali dia
menjerat hati bule ini, batinku berkata.
“Rick,
bangun, cepet pake baju lo, takut ketauan Bastian, Rick!”
Ia
nampak tak mendengar ucapanku.
“Rick,
Rick bangun, Rick!”
“Astaga!”
seseorang dari belakang mengagetkanku. Aku menengok ke belakang dan rupanya
Sebastian berdiri mematung di sana.
Erick
dan Mr. McGregor terkejut kemudian langsung mengenakan bajunya. Sebastian
nampak kikuk dan kemudian pergi, aku segera menyusulnya.
“Bas,
Bas, lo kenapa, Bas?” tanyaku khawatir.
“Gue
kira dia beda, gue kira dia cuman sayang ama gue, ternyata....”
“Bas...”
aku tak dapat berkata apa-apa lagi.
Mr.
McGregor masuk ke dalam kamar. “Bas...”
“Ada
apa sir?” tanyanya dingin.
“Kamyu
tiddak appa-appa?”
“Gak
apa-apa, sir. Oh, ya, maaf, ya tadi gak sengaja ngintip.”
“Ngapain
marah? Mr. berhak kok making love ama siapa aja, kita kan gak terikat apa-apa,
kenapa harus minta maaf?”
“Erick
mencerritakan semuanya kepada akyu.”
“Cerita
apa?”
“Hubungan
kalian.”
“Maksud
Mr?”
“Dulu
kalian pacaran, kan?”
Sebastian
langsung menatapku, “nggak!”
“Kenapa
begitu sulit untuk bilah iya? Akyu tak akan marah.”
“Udahlah
katakan aja yang sejujurnya, Bas, Mr. McGregor sudah tahu tentang masa lalu
kita...”
“Kenapa
sekarang gue yang di pojokkan? Perasaan tadi kita sedang membahas antara Mr
dengan Erick, kenapa jadi ke gue?” bentak Sebastian, aku terkejut dengan
bentakannya, ini pertama kalinya ia sebegitu marahnya.
“Oh,
maaf kalau disini gue cuman jadi benalu buat kalian!” Sebastian melangkah
keluar, berlari, aku mengejarnya, larinya memang sangat cepat, hampir-hampir
saja aku kehilangan sosoknya.
Sebastian
lari ke arah jalan raya, aku terus mengejarnya, aku tak memedulikan lagi
orang-orang melihat kami seperti apa, ketika sampai di depan penyebrangan
jalan, aku terus berlari meski kulihat lampu kuning sudah hampir menuju lampu
merah, dan ketika aku tepat di tengah jalan, sebuah mobil kontainer menabrakku,
aku terpental jauh, terbang, dan tak lama kepalaku mendarat mengenai tiang
lampu jalan, hilanglah kesadaranku.
&&&
Kubuka
mataku, nampak buram, semuanya seperti ada dua, aku melihat sosok yang sudah
lama aku tak melihatnya, ibu, ya, itu ibuku, menangis sambil menatapku haru.
“Bu,
aku di mana?”
“Sssttt...
jangan bergerak dulu, sayang, tidur aja dulu.”
“Bas,
Bas, Bastian mana, bu?”
Seketika
semuanya menjadi gelap.
&&&
Aku
mendengar seseorang menangis, aku mencoba membuka mataku, berat tapi aku ingin
berusaha, perlahan nampaklah cahaya, dengan samar kulihat seorang pria menangis
di sampingku, aku tahu aroma tubuh ini, suara tangis ini, aku yakin pasti dia.
“Bas...
itu lo?”
Pria
itu menghapus air matanya, kemudian mendekatiku.
“Hei,
hei, sayang, jangan bergerak dulu, iya, ini gue, istirahat dulu, ya?”
“Bas,
gue.. gue minta maaf, Bas.”
“Sssttt...
gak usah minta maaf, sayang, sekarang lo istirahat aja, ya?”
“Bas....Bas...”
Penglihatanku
kembali buram, semuanya menjadi gelap kembali, hilanglah kesadaranku.
&&&
Kubuka
mataku perlahan. Kali ini aku yakin aku lebih kuat untuk bangun, ruangan di
sini lebih terang dari kemarin. Kufokuskan mataku dan kulihat ibuku ada di sana
sedang mengobrol dengan seorang pria, pria yang aku cintai.
“Bas...Bas...”
kataku lirik. Ke dua sosok itu semakin mendekatiku.
“Iya,
sayang, aku ada di sini.”
“Bu,
ibu...”
“Iya
sayangku?”
“Ibu,
aku ingin bicara jujur sama ibu.”
“Bicara
apa, sayang?”
Aku
mencoba meraih tangan Sebastian. “Aku mencintai Bastian, bu, aku tahu ibu gak
suka dengan keadaanku yang seperti ini, tapi untuk terakhir kalinya, aku ingin
ibu mengerti,” aku terdiam sejenak. “Bas, I love you so much.”
Ia
menatapku dengan penuh kesedihan, kemudian mengangguk dan berkata; “I love you
too, honey, I love you.”
Aku
tersenyum kemudian aku menatap ibu.
Ia
mengangguk.
Aku
memejamkan mataku untuk yang terakhir kalinya, menghembuskan nafasku untuk yang
terakhir kalinya, dan memegang erat lelaki idamanku untuk yang terakhir kalinya
pula. Selamat tinggal semua, selamat tinggal cintaku.
&&&
Seorang
pria berjalan ke ruang keluarga dengan mengenakan handuk, kemudian duduk di
pinggiran kursi tempat pria satunya lagi sedang duduk.
“Nulis
apa?” tanya pria tersebut.
“Novel.”
“Novel
apa?”
“Romance.”
“Boleh
liat?”
“Nanti
aja, deh kalau udah yakin gol.”
“Pelit
amat,” kemudian pria itu mengambil laptop yang sedang di ketik oleh pria
satunya lagi.
“Hei,
kembaliin, jangan dulu di baca, belum di edit, ah!”
Pria
itu tak memedulikan ucapan dari pria yang sedang duduk itu.
“Lo
bikin cerita tentang gue?” tanya pria yang mengenakan handuk saja. “Terus
kenapa endingnya kaya gini? Ah, bohong banget nih endingnya!”
“Ya
gak apa-apa dong sayang, biar ada nilai jualnya.”
“Tapi
emangnya lo mau mati?”
“Kan
emang kenyataannya gue hampir mati demi mendapatkan cintamu.”
“Gombal!”
Pria
yang duduk kini bangkit, di simpan laptopnya kembali di meja.
“Gombal
juga gak apa-apa, yang penting sekarang lo sama gue.” Pria itu memeluk pria
yang mengenakan handuk saja.
“Oh,
ya?”
Ia
mengangguk.
“Oh,
ya?”
Kembali
mengangguk.
“Ya?”
Keduanya
mengangguk.
“Lo
tau nggak, bekas kecelakaan dulu bikin lo makin keliatan seksi?”
“Masa
sih?”
“Iya,
gue makin suka sama lo dengan codet yang kaya gini, kaya Harry Potter.”
“Oh,
ya?”
Ia
mengangguk.
“Oh,
ya?”
Kembali
mengguk.
“Ya?”
Keduanya
mengangguk, dan akhirnya mereka berdua berciuman, pria yang memeluk melepas
ikatan handuk yang menempel di badan pria satunya, kemudian mengangkat tubuhnya
dan di bawanya ke kamar. Setelah itu ia cium mesra bibirnya yang keriting
tipis, berlaih ke lehernya, ke putingnya, hingga terakhir ke penisnya yang
masih layu. Setelah puas dengan penis, kini ia beralih ke anusnya, di jilat
anus itu dengan liarnya, sehingga membuat pria yang telanjang itu mengerang
keenakan.
Setelah
itu giliran pria yang telanjang itu yang mengambil alih permainan, membuka baju
dan celananya lalu melumat habis penis. Setelah beberapa menit, pria yang
memiliki tanda di jidatnya mengambil alih, ia melumasi penisnya dengan pelicin,
dan dengan seketika penis itu mendarat di anus pria yang sudah tak beranduk
itu.
“Ah...
ah... ah... Bas, i love you ass.”
“Really,
come on, fuck me hard!”
Pria
itu semakin bersemangat memonpa menisnya, mereka banyak melakukan variasi gaya,
hingga setelah setengah jam kemudian.
“Gue
mau keluar,”
“Di
dalam aja, kalau bisa bikin gue hamil.”
“Pasti!”
Dan....
Crot
crot crot
Tumpahlah
air mani itu di dalam anusnya.
Keduanya
lunglai dan tidur berpelukan.
“Bas,
jangan pernah lagi lo lepasin pelukan ini.”
“Please,
give me a hug for forever!”
Ia
menatap pria yang memiliki tanda di keningnya.
“I
love you.”
“I
love you too.”
TAMAT
.jpg)

0 komentar:
Posting Komentar