Namanya Sebastian 9



Aku berjalan sendiri disebuat tempat yang gelap, gelap dan lembab, aku tak tahu di mana aku sekarang. Di sini benar-benar gelap tak ada setitik cahayapun menyinari tempat ini. Kini aku berlari, berlari menuju tempat yang terang, tapi, di mana? Di sini masih tak ada setitik cahayapun untuk kutuju. Kakiku sudah mulai lelah, rasanya sudah berkilo-kilo meter aku berlari tapi tak menemukan jalan lain, hingga ketika aku terduduk kerena lelah, aku melihat ada setitik sinar dihadapanku, bukan, itu bukan sinar, itu lebih tepatnya seperti cahaya, cahaya yang akan menujuku ke jalan yang lebih terang.

Kembali kuberlari mendekati cahaya itu, kini cahayanya semakin membesar, besar, dan besar hingga kini aku sadar, cahaya itu berasal dari pintu yang terbuka sedikit. Ketika aku akan sampai ke pintu itu, ku dengar suara erangan, kesakitan? Bukan ini lebih seperti erangan kenikmatan, kenikmatan dari seseorang yang sedang bersenggama.
Setelah aku mulai dekat dengan asal suara itu, aku buka pintunya perlahan, sedikit, sedikit, dan aku melihat dua orang sedang bersenggama, ya, mereka melakukan tarian cinta, seorang yang selalu aku cintai bersenggama dengan orang lain, jelas aku tahu orang yang bersenggama dengan Sebastian itu bukan aku, karena aku ada di sini, menatap mereka yang sedang beradu peluh, kulit pria itu lebih putih, bahkan kulitnya berbeda dengan kulit Sebastian, lebih seperti kulit-kulit orang Caucasian, dan ketika kuselidiki, ternyata itu Mr. McGregor, pria itu bercinta dengan orang yang amat aku cintai, hatiku sangat hancur berkeping-keping, aku tak ingin melihat adegan ini, tapi mata dan tubuhku seolah berkata lain, aku tak mampu bergerak sedikitpun, hingga akhirnya dengan terpaksa aku menyaksikan adegan itu walau perih hatiku.
Kulihat Bastian naik-turun memainkan pantatnya, ia nampak menikmati permainan dengan Mr. McGregor, kini ia mendekati si bule itu, dan saling berciuman, bibir Sebastian yang tipis dilumat oleh bule keparat itu, aku benar-benar tak sanggup melihatnya, bahkan untuk berteriakpun aku tak bisa. Kini mereka merubah posisi, doggy style, gaya andalanku, pantat Bastian dihajar habis-habisan oleh pria bule itu dengan ganas, sehingga Sebastian mengerang kenikmatan, matanya merem-melek diperlakukan seperti ini. oh, aku tidak bisa membiarkan ini terjadi, bagaimanapun juga harus aku yang memuaskan Bastian, bukan si bule sialan itu, dan bukan oleh orang lain, hanya aku, ya, hanya aku saja yang berhak menjamah tubuhnya.
Ternyata kini aku sudah bisa melawan, aku mencoba menggerakan kakiku dan kubuka pintu itu dengan kencang, kulihat mereka seperti terkejut dengan dobrakan yang aku lakukan, kemudian aku berlari, berlari ke arah mereka, namun anehnya terjadi, latar berubah dan kini aku ada di tengah jalan, ketika aku melihat ke samping, rupanya ada mobil besar menghantam tubuhku dan.....
“Bas!” teriakku, peluhku mengalir dengan sangat deras. Rupanya semua ini hanya mimpi. Rupanya aku tertidur. Barusan kita sudah sampai di resort tepat kami akan berlibur. Akhirnya atas paksaan dari Erick aku ikut pergi berlibur bersama mereka ke Bali, dan, di sinilah aku sekarang, di Bali.
Aku berjalan ke menuju pintu yang terbuat dari kaca, kubuka tirai yang menutupi pintu dan melihat Sebastian sedang asyik berenang dengan Erick dan Mr. McGregor. Mereka tertawa-tawa, saling menyiram air dan mendorong-dorong satu sama lainnya, ah, entah mengapa aku tidak senang dengan liburan kali ini, mungkin karena aku tahu aku tak lagi bersama dengan orang yang aku cintai meski orang itu ada. Orang itu tak mampu lagi aku jamah sepenuhnya, semua itu karena kesalahanku, aku memang bodoh, orang terbodoh yang melepaskan orang terbaik dalam hidupnya demi orang berengsek yang hanya memikat sesaat.
Kubuka pintu kaca, tercium semilir angin pantai yang sejuk, resort ini benar-benar mewah dengan fasilitas lengkap.
“Oy, Cast, ayo ikut gabung,” ajak Erick.
Aku tersenyum dan berjalan pelan menuju kolam renang.
“Sok cool banget, sih, lo, udah ah gak usah jaim-jaiman segala!”
Erick memang tahu gayaku, tahu ketika aku bergaya sok cool atau jaimnya aku.
“Nggak ah, nanti kulit gue item.”
“Sok bule banget lo? Orang di sini ada bule beneran juga.”
“Gak! Soalnya ada yang bilang ke gue kalau sekarang kulit gue iteman, gue gak mau ngecewain orang yang udah ngomong gitu ke gue, makanya gue mau mutihin kulit lagi.”
“Apaan sih, lebay banget lo? Udah sini turun kalo nggak gue siram lo!”
Aku mundur ketika kulihat Mr. McGregor naik dengan Erick.
“Mau apa kalian, jangan coba-coba, ya!” tapi rupanya mereka tak menggubris ancamanku, aku lari dikejar mereka namun sayang mereka lebih gesit sehingga kini aku tertangkap. “Please lepasin gue, jangan ceburin gue, gue gak bawa baju banyak, aduh, please!”
“Itu bukan alasan, baby,” ujar Mr. McGregor.
Dan, dengan seketika mereka melemparkanku ke kolam renang, basahlah semua bajuku.
Byuuuurrrrrrrrrrr
“Ahhhhh sial sial sial.... basah kan baju gue!”
“Lebay sih lo, coba kalau dari awal lo gak nolak, gak akan kaya gini jadinya.”
Aku hanya merengut mendengar perkataan dari Erick.
“Udah, kalau baju bisa pinjem punya gue atau Erick,” ujar Bastian. Ah, mendengarnya berbicara membuatku senang, hilanglah semua kejengkelanku.
“Eh kita lomba, yuk?” tantang Erick.
“Lomba apa? Balap renang?”
“Bukan.”
“Terus?” tanya Bastian.
“Kita lomba siapa yang lebih lama gak muncul di air dia menang, hadiahnya....”
Erick berpikir sejenak, kemudian ia tersenyum melihat kami.
“Hadiahnya bagi yang menang bisa memilih mau tidur sama siapa malam ini, eh, bukan berarti making love, ya, Cuma tidur bareng aja, gimana, setuju?”
“Setuju.”
“Nggak.”
“Setuju.”
Mr. McGregor, Bastian dan aku tidak kompak, dan Bastianlah yang bilang tidak setuju.
“Kenapa nggak setuju, Bas?” tanya Erick. “Tidur sama siapa aja gak masalahkan, siapa tau lo mau tidur ama gue, atau ama Mr. McGregor, kan?”
“Iya, akyu ikut,” kata Mr.McGregor.
Akhirnya Sebastian pasrah saja dengan permainan ini.
“Kita mulai, ya?” tanya Erick.
“Peraturannya di sini, kita masuk ke dalam air bersama dengan saling berpegangan agar kita tahu siapa nanti yang melepaskan pegangan duluan dia yang kalah, ok?”
Aku mengangguk, kulihat Sebastian nampak gugup.
“Dalam hitungan ke tiga, kita mulai, ya?” Erick menatap kami bertiga. “Satu...Dua...Tiga....”
Hup
Aku menahan nafasku, kemudian membuka mataku di dalam air. Ku lihat, semuanya membuka mata. Kami saling terdiam karena tak ada satu orang pun yang mau kalah kalau kami banyak gerak. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Akhirnya aku yang kalah dan aku melepaskan pegangan diantara mereka. Aku muncul dipermukaan air lebih dulu, dan tak lama di susul oleh Sebastian, aku dan Sebastian duduk di samping kolam, menyaksikan mereka yang masih saja berlomba-lomba untuk menjadi pemenang.
Dan ketika sudah mendekati lima menit, Mr. McGregor harus menerima kenyataan kalau dia kalah oleh Erick, dan Ericklah yang menjadi pemenangnya.
“Ah, gue tau kenapa lo ngajakin kita maen permaian ini, emang dasarnya lo jago, aja, kan maen kaya ginian?”
“Eh, siapa bilang, malah gue sempet mikir kalau gue tadi akan kalah, Mr. McGregor lawan yang tangguh, juga, ya?” si Bule itu hanya tersenyum.
“Jadi lo pengen tidur ama siapa?” tanyaku.
“Gue udah sering tidur sama, lo, Cast, jadi gue bosen, ini pilihan yang sulit antara Sebastian dan Mr. McGregor,” katanya berbohong.
“Tapi, karena gue belum pernah nyoba tidur bareng bule, jadi gue pilih Mr. McGregor, gimana Mr, mau kan tidur denganku?”
Ia menaikan alisnya, “Tak masalah aku tidur dengan siapapun, asalkan dia tidak mengorok saja,” ujarnya dengan polos, kami serentak tertawa.
Jadi, setidaknya malam ini aku dan Sebastian tidur bersama, kesempatan langka ini tak akan aku sia-siakan lagi.
&&&
Malamnya kami dinner di sebuah restoran elit di kawasan Kuta, tempatnya sungguh indah, dan yang lebih terpenting lagi, kami bertiga di traktir oleh Mr. McGregor, orang ini benar-benar baik kepada kami, tentu aku pikir semuanya tak ada yang gratis, ada maksud terselubung dengan semua ini.
“Bhagaimana, makanannya enakh?” tanya Mr.
“Yes Sir!” jawab Erick antusias, ah, Erick, dia memang sangat antusias dengan si bule ini dari awal berangkat saja dia sudah antusias, bahkan untuk tidur dengan siapanya ketika di Bali sebenarnya sudah ia rencanakan, dan hampir setengah jalan rencananya berhasil untuk memikat bule tampan itu.
“Sekarang kita mau kemana lagi, sir?” tanyaku.
“Terserah kalian, akyu, pashti ikutd saja.”
“Kalau mau main kayaknya gue gak ikut, deh, gue gak enak badan, nih,” ujar Sebastian.
“Kamyu kenappa sayang? Sakit?” tanya Mr.
“Nggak, cuman kecapean aja, kalau kalian masih mau main silahkan aja, tapi aku pulang duluan, gak apa-apa, kan?”
“Kalau begithu akyu juga pulang sadja.”
Seketika Erick bertindak. “Jangan, sir, kan, jarang-jarang Mr. ada di Bali, biar si Castro aja yang jagain Bastian.”
“Nggak usah, gue bisa kok sendiri.”
“Tapi kamyu harus adda yang jaga,” ujar Mr kebingungan.
“Gak apa-apa, biar gue yang jaga,” ujarku meyakinkan.
“Ya udah, ayo kita pulang, Bas? Ajakku.
Kami pulang ke resort berdua, tak ada satu oatah katapun yang keluar dari mulut kami. Sesampainya di kamar, Bastian langsung menuju kamar mandi dan kudengar ia muntah.
Aku menghampirinya. “Lo kenapa?”
“Jangan ke sini, jijik,” katanya sambil menyalakan air.
“Lo pernah ngebersihin muntah gue di lantai, tapi lo gak jijik, kenapa gue mesti jijik?”
Ia diam dan langsung berkumur.
“Boleh gue?” tanyaku dan segera aku pegang jidatnya.
“Lo demam, Bas, ayo cepet istirahat. Lo tunggu di sini, ya, gue mau beli obat dulu.” Aku langsung keluar untuk membeli obat. Selang beberapa menit, aku sampai di kamar dan kilihat Sebastian sudah tertidur pulas. Aku perbaiki posisi tidurnya dan kuselimuti ia, tanpa ia sadari tangannya memegang tanganku. Tak kulepaskan pegangan tangannya ini, aku tiduran di sampingnya sambil terus memandang wajahnya, ah, aku rindu wajah ini, wajah yang pernah mengiasi hari-hariku penuh dengan keindahan dan kebahagiaan. Ku kecup keningnya yang sedikit berkeringat kemudian aku berbisik di telinganya. “I love you, Bas, forever!”
&&&
Aku terbangun ketika seseorang menepuk lenganku, ketika kubuka mataku, Bastian masih tidur di sampingku, ia tak bisa bergerak karena lenganku mendekap tubuhnya erat. “Bisa lepasin gue, gak? Katanya pelan.
“Em, ah, oh, Sorry, Bas, gue gak sadar.” Langsung saja aku membetulkan posisi tubuhku, dan beranjak duduk. “Lo masih sakit, gak?”
Ia menggeleng. “Nggak gue udah seger sekarang, kemaren kayaknya cuman kecapean aja.”
“Bagus, deh, kalau gitu.” Aku berjalan ke meja dan mengambil segelas air.
“Gue mau bangunin si Erick sama Mr, McGregor, kayaknya mereka belum bangun, deh.”
“Gak usah biar gue aja,” kataku sambil keluar. Aku berjalan menuju kamar yang bersebelahan denganku, rupanya pintu tak di kunci, dan ketika aku masuk, kulihat mereka masih asik tertidur berdua, dan OMG, mereka telanjang, ketika aku hendak membangunkan Erick, aku menginjak sesuatu yang lengket, dan ternyata itu adalah kondom. Jadi, semalam mereka ML. Ah, Erick, cepat sekali dia menjerat hati bule ini, batinku berkata.
“Rick, bangun, cepet pake baju lo, takut ketauan Bastian, Rick!”
Ia nampak tak mendengar ucapanku.
“Rick, Rick bangun, Rick!”
“Astaga!” seseorang dari belakang mengagetkanku. Aku menengok ke belakang dan rupanya Sebastian berdiri mematung di sana.
Erick dan Mr. McGregor terkejut kemudian langsung mengenakan bajunya. Sebastian nampak kikuk dan kemudian pergi, aku segera menyusulnya.
“Bas, Bas, lo kenapa, Bas?” tanyaku khawatir.
“Gue kira dia beda, gue kira dia cuman sayang ama gue, ternyata....”
“Bas...” aku tak dapat berkata apa-apa lagi.
Mr. McGregor masuk ke dalam kamar. “Bas...”
“Ada apa sir?” tanyanya dingin.
“Kamyu tiddak appa-appa?”
“Gak apa-apa, sir. Oh, ya, maaf, ya tadi gak sengaja ngintip.”
“Ngapain marah? Mr. berhak kok making love ama siapa aja, kita kan gak terikat apa-apa, kenapa harus minta maaf?”
“Erick mencerritakan semuanya kepada akyu.”
“Cerita apa?”
“Hubungan kalian.”
“Maksud Mr?”
“Dulu kalian pacaran, kan?”
Sebastian langsung menatapku, “nggak!”
“Kenapa begitu sulit untuk bilah iya? Akyu tak akan marah.”
“Udahlah katakan aja yang sejujurnya, Bas, Mr. McGregor sudah tahu tentang masa lalu kita...”
“Kenapa sekarang gue yang di pojokkan? Perasaan tadi kita sedang membahas antara Mr dengan Erick, kenapa jadi ke gue?” bentak Sebastian, aku terkejut dengan bentakannya, ini pertama kalinya ia sebegitu marahnya.
“Oh, maaf kalau disini gue cuman jadi benalu buat kalian!” Sebastian melangkah keluar, berlari, aku mengejarnya, larinya memang sangat cepat, hampir-hampir saja aku kehilangan sosoknya.
Sebastian lari ke arah jalan raya, aku terus mengejarnya, aku tak memedulikan lagi orang-orang melihat kami seperti apa, ketika sampai di depan penyebrangan jalan, aku terus berlari meski kulihat lampu kuning sudah hampir menuju lampu merah, dan ketika aku tepat di tengah jalan, sebuah mobil kontainer menabrakku, aku terpental jauh, terbang, dan tak lama kepalaku mendarat mengenai tiang lampu jalan, hilanglah kesadaranku.
&&&
Kubuka mataku, nampak buram, semuanya seperti ada dua, aku melihat sosok yang sudah lama aku tak melihatnya, ibu, ya, itu ibuku, menangis sambil menatapku haru.
“Bu, aku di mana?”
“Sssttt... jangan bergerak dulu, sayang, tidur aja dulu.”
“Bas, Bas, Bastian mana, bu?”
Seketika semuanya menjadi gelap.
&&&
Aku mendengar seseorang menangis, aku mencoba membuka mataku, berat tapi aku ingin berusaha, perlahan nampaklah cahaya, dengan samar kulihat seorang pria menangis di sampingku, aku tahu aroma tubuh ini, suara tangis ini, aku yakin pasti dia.
“Bas... itu lo?”
Pria itu menghapus air matanya, kemudian mendekatiku.
“Hei, hei, sayang, jangan bergerak dulu, iya, ini gue, istirahat dulu, ya?”
“Bas, gue.. gue minta maaf, Bas.”
“Sssttt... gak usah minta maaf, sayang, sekarang lo istirahat aja, ya?”
“Bas....Bas...”
Penglihatanku kembali buram, semuanya menjadi gelap kembali, hilanglah kesadaranku.
&&&
Kubuka mataku perlahan. Kali ini aku yakin aku lebih kuat untuk bangun, ruangan di sini lebih terang dari kemarin. Kufokuskan mataku dan kulihat ibuku ada di sana sedang mengobrol dengan seorang pria, pria yang aku cintai.
“Bas...Bas...” kataku lirik. Ke dua sosok itu semakin mendekatiku.
“Iya, sayang, aku ada di sini.”
“Bu, ibu...”
“Iya sayangku?”
“Ibu, aku ingin bicara jujur sama ibu.”
“Bicara apa, sayang?”
Aku mencoba meraih tangan Sebastian. “Aku mencintai Bastian, bu, aku tahu ibu gak suka dengan keadaanku yang seperti ini, tapi untuk terakhir kalinya, aku ingin ibu mengerti,” aku terdiam sejenak. “Bas, I love you so much.”
Ia menatapku dengan penuh kesedihan, kemudian mengangguk dan berkata; “I love you too, honey, I love you.”
Aku tersenyum kemudian aku menatap ibu.
Ia mengangguk.
Aku memejamkan mataku untuk yang terakhir kalinya, menghembuskan nafasku untuk yang terakhir kalinya, dan memegang erat lelaki idamanku untuk yang terakhir kalinya pula. Selamat tinggal semua, selamat tinggal cintaku.
&&&
Seorang pria berjalan ke ruang keluarga dengan mengenakan handuk, kemudian duduk di pinggiran kursi tempat pria satunya lagi sedang duduk.
“Nulis apa?” tanya pria tersebut.
“Novel.”
“Novel apa?”
“Romance.”
“Boleh liat?”
“Nanti aja, deh kalau udah yakin gol.”
“Pelit amat,” kemudian pria itu mengambil laptop yang sedang di ketik oleh pria satunya lagi.
“Hei, kembaliin, jangan dulu di baca, belum di edit, ah!”
Pria itu tak memedulikan ucapan dari pria yang sedang duduk itu.
“Lo bikin cerita tentang gue?” tanya pria yang mengenakan handuk saja. “Terus kenapa endingnya kaya gini? Ah, bohong banget nih endingnya!”
“Ya gak apa-apa dong sayang, biar ada nilai jualnya.”
“Tapi emangnya lo mau mati?”
“Kan emang kenyataannya gue hampir mati demi mendapatkan cintamu.”
“Gombal!”
Pria yang duduk kini bangkit, di simpan laptopnya kembali di meja.
“Gombal juga gak apa-apa, yang penting sekarang lo sama gue.” Pria itu memeluk pria yang mengenakan handuk saja.
“Oh, ya?”
Ia mengangguk.
“Oh, ya?”
Kembali mengangguk.
“Ya?”
Keduanya mengangguk.
“Lo tau nggak, bekas kecelakaan dulu bikin lo makin keliatan seksi?”
“Masa sih?”
“Iya, gue makin suka sama lo dengan codet yang kaya gini, kaya Harry Potter.”
“Oh, ya?”
Ia mengangguk.
“Oh, ya?”
Kembali mengguk.
“Ya?”
Keduanya mengangguk, dan akhirnya mereka berdua berciuman, pria yang memeluk melepas ikatan handuk yang menempel di badan pria satunya, kemudian mengangkat tubuhnya dan di bawanya ke kamar. Setelah itu ia cium mesra bibirnya yang keriting tipis, berlaih ke lehernya, ke putingnya, hingga terakhir ke penisnya yang masih layu. Setelah puas dengan penis, kini ia beralih ke anusnya, di jilat anus itu dengan liarnya, sehingga membuat pria yang telanjang itu mengerang keenakan.
Setelah itu giliran pria yang telanjang itu yang mengambil alih permainan, membuka baju dan celananya lalu melumat habis penis. Setelah beberapa menit, pria yang memiliki tanda di jidatnya mengambil alih, ia melumasi penisnya dengan pelicin, dan dengan seketika penis itu mendarat di anus pria yang sudah tak beranduk itu.
“Ah... ah... ah... Bas, i love you ass.”
“Really, come on, fuck me hard!”
Pria itu semakin bersemangat memonpa menisnya, mereka banyak melakukan variasi gaya, hingga setelah setengah jam kemudian.
“Gue mau keluar,”
“Di dalam aja, kalau bisa bikin gue hamil.”
“Pasti!”
Dan....
Crot crot crot
Tumpahlah air mani itu di dalam anusnya.
Keduanya lunglai dan tidur berpelukan.
“Bas, jangan pernah lagi lo lepasin pelukan ini.”
“Please, give me a hug for forever!”
Ia menatap pria yang memiliki tanda di keningnya.
“I love you.”
“I love you too.”

TAMAT

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Namanya Sebastian 9 ini dipublish oleh Unknown pada hari 28 Desember 2014. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Namanya Sebastian 9
 

0 komentar:

Posting Komentar