Aku
tiba di kantor tepat ketika Lukman datang, ia tersenyum ramah kepadaku.
Kemudian aku menghampirinya dan kubawa ia ke rungan Meeting yang jarang
digunakan. Ia sedikit aneh melihat tingkahku yang seperti ini.
“Kenapa
lo bawa gue ke tempat kaya gini?” tanya Luke heran.
Tanpa
basa-basi aku langsung bicara. “Gue mohon jangan berhubungan lagi sama
Yudha...”
Luke
terkejut dan menaikan alisnya sebelah. “Why?”
“Dia
psiko, Luke, lo harus percaya sama gue, lo tahu siapa orang yang nyulik gue
waktu itu? Dia! Dia yang merkosa gue, nyodomi gue!”
Luke
nampak terkejut, ia diam seribu bahasa.
“Dan
hari ini, dia nyodomi gue lagi, ternyata dia sodaraan sama si Adi, lo inget
Adi, kan? Temen gue yang ketemu di BIP waktu itu? Semalem gue nginep di
rumahnya, dan tadi, pas gue lagi mandi dia dobrak pintu kamar mandi dan di sana
dia merkosa gue, Luke.”
“Nggak
mungkin Ger, gue kenal siapa Yudha, dia kan polisi! Apa jangan-jangan lo suka
sama dia? Ngaku!” katanya dengan nada yang sedikit meninggi.
“Gue
gak bohong! Kalau lo gak percaya sama gue, kita buktiin.” Aku terdiam sesaat,
“gue diancam sama dia buat gak cerita kejadian ini kesiapapun. Dia ngancam gue
kalau sampai gue cerita hidup keluarga gue gak akan aman, gue takut Luke, gue
takut...” tanpa terasa air mataku mengalir. “Di sini gue cuman punya lo dan
temen-temen yang lain, jadi buat apa gue bohong...”
Tiba-tiba
Alatas masuk. Luke nampak terkejut.
“Kalian
kenapa? Ger, kok lo nangis?”
Luke
terdiam, aku mencoba menghapus air mata yang mengalir di pipiku.
“Apa masalah
ini berkaitan dengan Yudha?” kata Alatas dengan pasti.
“Ini bukan
urusan lo, Al!” bentak Luke tiba-tiba sambil wajahnya tertunduk.
“Kalau
memang benar ini tentang Yudha, ini jadi urusan gue, Luke, lo, Gery, semuanya,
adalah sahabat gue, dan gue berhak tau masalah yang menimpa kalian.”
“Gak semua
urusan gue, lo harus tau Al, udahlah....”
“Iya, ini
tentang Yudha!” potongku.
“Udah gue
kira, dari awal gue kenal ama dia, gue udah curiga, oh, ya, diam-diam, tanpa
sepengetahuan kalian gue masih nyelidikin masalah penculikan Gery tempo itu,
dan ternyata memang Yudha terlibat masalah penculikan lo, Ger.”
“Kok lo
tau?” tanyaku heran.
“Apa
buktinya kalau memang Yudha pelakunya?” tanya Luke dengan suara kesal.
“Gue punya
satu temen, ya, gay juga, selain lo, lo kenal si Bani, kan? Temen kuliah yang
pernah ikut nongkrong sama kita, tempo dulu?” tanya Alatas kepada Lukman, ia
hanya diam saja menyimak. “Gue pernah cerita ke dia tentang lo sama si Yudha,
ternyata dia kenal juga sama Yudha, dan dia bilang dulu dia pernah jadian juga
sama di Yudha, dan ternyata kejadiannya sama persis kaya lo ama Gery, dia suka
sama temennya si Bani yang normal, yang deket sama Bani, nah, suatu hari
temennya itu ikut pulang karena abis main dari tempat dugem gitu, pas si Yudha
nganterin si temennya Bani, ternyata temennya itu malah di sekap di kamar, Bani
dari awal udah curiga, makanya pas udah nganterin Bani ke rumah, si Bani pergi
lagi ngikutin si Yudha ama temennya si Bani pake motor, ternyata dia kaget pas
tau kalau si Yudha gak ngenterin si temennya, dia malah bawa temennya si Bani
ke hotel, sontak dia kaget, pas si Yudha udah ada di dalam kamar, si Bani
ketok-ketok pintu, akhirnya si Yudha keluar, wajahnya kaget gitu...”
“Lalu?” tanyaku
lagi.
“Si Bani di
seret ke dalem kamar, di hajarnya habis-habisan sampe babak belur, terus dia di
iket di kursi. Temennya si Bani yang gak sadarin diri udah terlentang aja
telanjang di kasur. Pas sadar dia kaget karena dia ternyata lagi disodomi sama
si Yudha dalam keadaan keiket, si Bani sendiri gak bisa ngebantuin karena dia
sendiri di iket di kursi. Akhirnya pas udah beres, dua-duanya di ancam kalau
sampe cerita maka mereka bakalan di bunuh, ya, lo tau sendiri siapa sih yang
gak takut kalau diancam sama orang psiko kaya gitu? Kalau dia ancam sama orang
biasa sih pasti kita bakal berani buat ngadu ke polisi, lah, ini, di Yudha
sendiri kan polisi, otomatis gak akan mudah, ditambah lagi si Yudha terkenal
dengan ke baikkannya di sana, jadi gak akan mudah buat orang lain percaya kalau
si Yudha itu psiko.”
Luke
terduduk lemas, di samping meja, wajahnya pucat pasi, ia tak percaya dengan apa
yang barusan Alatas katakan. Karena menurut Lukman, Yudha adalah pria sempurna
yang sangat baik.
“Kalo lo gak
percaya, gimana kalau kita buktiin semua ini?” ajak Alatas.
“Gimana
caranya?” tanyaku bingung.
“Ger, coba
nanti lo dateng ke tempat si Yudha bertugas, lo pura-pura gak tahu kalau si
Yudha lagi bertugas di sana, nah nanti kan otomatis dia bakalan ngajakin lo
pergi dari situ, nah gue sama Luke ngikutin lo dari belakang, biar lo tetep
aman.”
“Nah, abis
itu, kalau emang beneran si Yudha bawa lagi lo ke hotel, kita langsung
buru-buru ngejar lo biar lo gak diapa-apain, gimana?”
“Anjir, jadi
lo ngorbanin gue lagi? Gue takut Al, tadi pagi gue baru disodomi lagi sama
dia!”
“Hah? Kok
bisa?”
“Panjang
ceritanya, Al...”
“Jadi
gimana, mau kita jalanin rencana ini? biar si Luke juga percaya kalau si Yudha
bukan cowo baik-baik.”
Aku mendesah
lemas, “yaudah, gue ikut aja, asal nanti lo beneran ada pas gue butuh, ya?”
“Ok, eh,
Luke, lo ikut, kan?”
Luke masih
diam. “Pokoknya lo harus ikut!” kataku dengan lantang.
&&&
Akhirnya
setelah pulang kerja, rencana itu akan kami laksanakan. Luke mengirim SMS
kepada Yudha bertanya tentang sedang apa dia sekarang. Dan, Yudha segera membalas
kalau ia sedang bertugas.
Aku pergi
ketempat dimana Yudha sedang bertugas menggunakan motor milik Alatas, sedangkan
Alatas dan Lukman pergi menggunakan mobil milik Oki yang belum dikenal oleh
Yudha.
Aku melajukan
motorku pelan di daerah buah batu. Dan, memang benar, Yudha ternyata sedang
bertugas di sana. jantungku seakan mau copot dengan aksi kami yang nekat,
apalagi ini tentang keselamatanku yang terancam.
Yudha
melihatku mengendarai motor dan memberhentikan motorku. Aku gelagapan
dibuatnya.
“Bisa lihat
SIM dan STNKnya?” ujarnya pura-pura tidak mengenaliku.
“Aduh,
STNKku gak ada...”
Ia tersenyum
penuh kepuasan. “Yasudah kalau begitu, anda harap ikut denganku!”
“Terus
motorku?”
“Simpan dulu
aja di sini.”
Setelah
beberapa lama berbincang dengan temannya akhirnya Yudha membawaku masuk ke
dalam mobilnya. “Ayo masuk!” paksanya sedikit kasar.
Kemudan
iapun melajukan mobil polisi itu pergi dari tempat itu, aku sangat gelisah.
Takut sesuatu yang buruk terjadi kepadaku. Lalu aku mengambil Hpku dan aku
mengetik sebuah pesan singkat kepada Adi, om nya Yudha.
Nanti gue
telepon, tolong, lo dengerin semua suara yang ada di telepon pas gue telepon.
Jangan di matiin, please ini bukan becanda!
Kataku
ketika kemudian aku kirimkan SMS itu. dan beberapa menit kemudian, aku
menelepon Adi dan sengaja aku simpan di saku bajuku.
“Lo mau bawa
gue ke mana?” tanyaku.
“Tenang aja
sayang, tadi pagi gue belum puas ngewe lo, jadi sekarang gue pengen puas-puasin
ngewein pantat lo yang seksi lagi.”
“Anjing,
lo....!”
“Hotel HYAT?
Tanyaku dengan suara yang cukup kencang.
“Yap. Gue
mau boking kamar di sini,” kemudian ia mengambil borgol yang ada di samping
pinggangnya dan memborgolku. “Awas kalau sampe lo kabur!” kemudian Yudha keluar
dari dalam mobil.
Kedua
tanganku mencoba meraih ponsel yang sengaja aku simpan di saku bajuku. Dan,
melihat kalau ponsel itu masih hidup.
“Di, Di, lo
masih di sana?” kataku berbicara kepada telepon yang menghubungkanku dengan
Adi.
“Iya, Ger,
lo kenapa? Siapa yang nyulik lo?”
“Gue diculik
sama keponakan lo, Yudha, please, dateng ke hotel HYAT, sekarang!”
“Ok, Ok, gue
kesana sekarang!”
TIT.
Ponselpun mati, fyuh! Akhirnya aku setidaknya bisa bernafas lega.
“Hallo
sayang? Lama menunggu?” kata seseorang yang suaranya tak asing lagi bagiku.
Adi.
“Di, kok, lo
udah ada di sini, sih?”
“Iya, dong,
siapa dulu, Adi...”
“Ayo, Di,
bantuin gue lepasin borgol ini, sebelum si Yudha dateng,” kataku bersemangat.
“Kalau gue
dateng emang kenapa?” jawab suara yang lainnya. Rupanya suara Yudha.
Aku
terbelalak. Rupanya mereka berdua bersekongkol. “Ka...ka...kalian?”
“Udah! Lo
gak usah banyak bacot!” tiba-tiba saja Yudha sudah membekamku dengan tisu...
dan, hilanglah kesadaranku....
&&&
Aku
terbangun mendengar teriakan dari seseorang. Ketika kubuka mata, rupanya aku
berada di ruangan yang sedikit gelap, tanganku terikat, kakikupun terikat, aku
terikat disebuah kursi dengan mulut di bekam pula. Kulihat Adi sedang melakukan
tarian cinta dengan seseorang yang tangan dan kakinya terikat pula. Aku pikir
itu adalah Yudha, rupanya bukan, itu, itu adalah... temanku... Alatas.
“Anjing!
Sakit!” katanya berteriak.
Aku
terbelalak melihat kejadian itu, sesaat aku pikir ini adalah mimpi, mimpi buruk
yang akan segera berakhir, namun ketika aku kembali membuka mata untuk
meyakinkan kalau ini mimpi ternyata salah, ini nyata, temanku saat ini sedang
di gauli, di sodomi.
Kulihat di
kasur yang lain, Yudha sedang asik menggauli Lukman, ia nampak diam saja, namun
matanya menangis, ia tak bisa teriak karena keadaannya sama persis denganku,
mulutnya di bekam. Aku meronta-ronta, ingin sekali membantu sahabat-sahabatku,
dan membunuh dua bajingan itu.
Kucoba untuk
bergerak, membuat diriku terjatuh dari kursi, ternyata perbuatanku diketahui
oleh Yudha, ia menghentikan aktifitasnya dan menghampiriku.
“Oh, rupanya
pemeran utama kita sudah sadar, om, bagaimana dengan yang ini? apa kita lakukan
sekarang aja?”
Adi yang
masih asik dengan genjotannya tersenyum. “Yang itu nanti aja, om lagi nikmatin
pantat perawan ini, enak banget, biar si Gery kita pake bareng-bareng aja, ok?”
“Ok om!”
katanya dan membetulkan lagi posisiku kembali duduk.
Bagaimana
ini bisa terjadi? Mengapa Alatas dan Lukman bisa berada di sini? Oh my God, ini
semua salahku, harusnya aku tak membiarkan mereka ikut campur dalam masalahku,
batinku bergemuruh. Kulihat Alatas kini menangis memohon.
“Please,
berhenti, sakit, sakit....” katanya sambil terisak, namun Adi malah semakin
kencang, ia terus menerobos paksa penisnya masuk ke dalam anus Alatas. Hingga beberapa
menit kemudian Adi teriak, melenguh.
“Ah... sial,
gue mau keluar!” katanya, kemudian mencabut genjotannya dan kini penisnya
berada di hadapan wajah Alatas. “Nih, telan semua pejuh gue!” katanya dan
dengan paksa membuka mulut Alatas. Alatas nampak menolak, namun ternyata Yudha
ikut membantunya sehingga kini ia tak mampu berkutik lagi.
Crot crot
crot
Alatas
nampak tersedak, namun ia tak bisa juga memuntahkan air mani yang berada di
mulutnya, hingga mau tak mau ia harus menelan air mani itu. Akhirnya Adi ambruk
di atas tubuhnya Alatas sambil tertawa penuh kemenangan.
Yudha kini
yang semakin ganas, ia mengenjot pantat Lukman tanpa ampun, kencang dan semakin
kencang, hingga akhirnya ia keluar di dalam.
“Ah...
anjing, gue gak bisa nahan....”
Crot crot
crot
Sekarang
Yudha yang nampak lemas, ia terkapar di samping tubuh Lukman. Dan ternyata
mereka berdua terkapar lemas dan tertidur.
Aku yang
memiliki kesempatan untuk melepaskan diri, kini mencoba perlahan bergerak ke
arah samping untuk mengambil sesuatu yang ada di atas meja kecil, aku coba
menggeser kursi perlahan.
Kreeekkk...
Suara kursi
bergeser, rupanya belum membangunkan mereka, untung saja. Aku coba lagi sekali
lagi, Alatas yang masih sadar memperhatikanku dan mencoba menyemangatiku dengan
ekspresi diwajahnya, begitupun dengan Lukman.
Satu jam
telah berlalu, aku baru mencapai sekitar satu meter, sungguh sulit menggeser
kursi ini menuju meja kecil yang di atasnya terdapat sebuah kacamata. Kacamata
itu aku gunakan untuk memotong tali yang mengikat di tangan dan kakiku.
Kreeeeekkkkk.....
Suara itu
kini semakin kencang aku sangat takut mereka berdua terbangun, keringatku
mengucur deras, masih sekitar satu meteran lagi untuk bisa mencapai kacamata
itu. Tetapi sayang, ketika aku akan segera sampai, pertahananku goyah dan aku
jatuh lagi ke lantai, Adi yang menyadari itu langsung bangun.
“Wah, wah,
rupanya ada yang mencoba untuk kabur, hey, Yud, liat ulah si Gery ini, katanya
sambil jongkok di hadapanku dengan penis yang kembali tegang, duh, sayang
sepertinya aku ingin pipis,” tiba-tiba saja urin keluar dari saluran kencingnya
dan mengenai wajahku, aku terkejut dan langsung menutup mataku, ia mengencingi
wajahku. Tak lama Yudha ikut-ikutan, ia mengencingi tubuhku. Setelah puas
mereka membangunkanku dan membawaku ke kamar mandi sambil menyeret kursi dan
diriku.
Di dalam
kamar mandi aku disiram, disabuni, diberi sabun, ah, aku seperti bayi kecil
yang sedang dimandikan.
Setelah
dirasa sudah bersih mereka kembali membawaku ke kamar. “Yud, om udah horny lagi
nih mandiin si Gery tadi, kita mulai lagi, aja, yuk?” katanya kepada Yudha.
“Sama, om,
gue juga udah horny parah liat si Gery, pokoknya kita entot dia sampe puas,
ok.”
“Ayo!”
katanya sambil membuka ikat di tanganku. Aku harus mencari kelemahan mereka,
aku akan menghajar Yudha ketika ia selesai membuka tali di tanganku. Dan, benar
saja, rupanya Yudha lengah, tanpa basa-basi aku langsung menghantampak bogem
mentah ke wajahnya hingga ia terpental.
Bruuukkkk
Yudha
terpental dan jatuh, aku segera, beralih untuk menghajar Adi, namun sayang, ia
lebih sigap dariku sehingga kini tanganku dipegangnya dan aku dipukul olehnya.
“Anjing!”
kata Adi kemudian mengambil tisu dan membekamkan pada wajahku. Akupun pingsan
seketika.
&&&
Mataku
kembali terbuka dan kini aku sudah terikat dikasur tempat Alatas tadi di ikat,
kulihat kini Alatas yang duduk tak sadarkan diri, Luke menatapku dengan nanar,
aku tak bisa berbuat apa-apa. Mereka sudah menguasai kami bertiga.
Yudha kini
duduk di sampingku sambil menampar-nampar kecil pipiku. “Kalau aja lo gak
ganteng, udah gue bunuh lo!” katanya dengan sadis.
“Udah, ah,
gak usah kejam-kejam sama si ganteng ini, kita kan susah payah dapetin dia, heh
Ger, lo inget gak waktu pertama kali kita ketemu? Gue di rampok sama orang,
padahal itu bohong, gue sengaja bikin lo buat bantuin gue, ini semua udah
dirancang, pertemuan lo sama si Luke, pertama lo ML ama dia, pokoknya semua
udah gue rancang, pinter, kan gue? Sampe kejadian lo dikejar-kejar genk motor,
itu semua udah dirancang. Gue dan Yudha udah ngincer lo dari dulu. Lo inget si
Joko? Cowo yang ngerebut cewek lo? Itu juga anak buah gue, pokoknya hidup lo
udah gue rancang, dan kepindahan lo ke Bandung juga, gue udah rancang, ah,
pokoknya untuk sampai kedetik-detik ini semuanya udah gue rancang.”
Aku terkejut
dengan pernyataannya, rupanya dari awal gerak-gerikku sudah diawasi olehnya.
“Lo pasti
lupa kejadian pertama kali kita ketemu, bukan ketika gue di jambret, tapi
sebelumnya, disitu gue langsung suka sama lo, dan pas gue cerita ke Yudha
tentang lo, dia langsung inisiatif ngebantuin gue dan cari semua data tentang
lo, kita ketemu waktu gue dateng ke kantor lo, di sana gue liat lo keren banget
pake baju batik, dan nyapa gue ramah, dan ternyata memang lo orang baik, dari
semenjak itulah gue berobsesi buat dapetin lo meski apapun caranya. Sayangnya
lo normal, coba kalau gay, makanya gue nyusun rencana ini bareng Yudha, iya,
kan sayang?” katanya sambil mencium bibir Yudha, aku terperanjat menyaksikan
adegan itu.
“Oh, ya, dan
pas lo kaya mimpi kalau gue ngiket lo, itu semua bukan mimpi emang dari pertama
ketemu gue udah muasin lo, dan gue sangat menikmati itu, tapi gue gak mau cuman
gitu doang, gue mau lebih, bisa dipuasin lo terus-terusan.”
Adi kini
menggerayangiku, dia mencium pipiku, kemudian beralih le telingaku, Yudha
bergerak dibagian bawah, ia menjilati penisku, kemudian mengulumnya dengan
lihai, aku kalap, penisku tiba-tiba berdiri, mereka berdua benar-benar mencoba
menjamah seluruh tubuhku, aku hanya menangis tak dapat melawannya. Kemudian,
Adi mengganti posisi, kini tubuhnya menindihku dan kulihat penisnya ada di
atasku.
“Isap!”
katanya kemudian membuka ikatanku. Aku yang tak berdaya akhirnya mau saja,
penisnya sangat besar sehingga aku ingin muntah dibuatnya. Ia terus menggenjot
mulutku tanpa ampun. “Ini yang gue mau selama ini, ah, enak, sial!”
Aku
menyadari kalau Yudha kini sedang memasukan jarinya keanusku, bekas sodokannya
kemarin masih sakit, sekarang ditambah dia akan melakukannya lagi, aku tak
dapat membanyakan akan seperti apa jadinya nanti anusku.
Satu menit
kemudian Yudha sudah memasukan penisnya ke anusku, perih, panas, sakit menyatu
jadi satu, meskipun aku sudah pernah disodomi, tapi sakitnya masih tak hilang
dan aku tak mampu menikmati semuanya ini, apalagi kini keadaanku sedang tidak
ingin melakukan ini, tubuhkupun menolak.
Adi yang
penasaran sekali dengan anusku kini mencoba memasukan penisnya ke dalam anusku,
penis Adi jauh lebih besar daripada kepunyaan Yudha, sehingga aku kembali
menjerit menahan sakit, ia tak menggubrisnya, selama ia mendapatkan kepuasan
dia tak akan memedulikan kesakitanku.
Satu jam
berlalu, mereka masih saja menggejotku secara bergiliran, rasa sakit kini sudah
berangsur menghilang, kini aku sudah bisa membiasakan diri dengan anus yang
terisi penuh dengan penis, aku hanya pasrah saja diperlakukan seperti ini,
bagiku diriku yang dulu sudah mati bersama dengan harga diriku yang hancur
lebur.
Ketika
kurasa harapan tak lagi ada, aku melihat tiba-tiba seseorang berdiri agak
membungkuk, rupanya Alatas, ia berhasil berdiri dan ia menghampiri Yudha yang
sedang aktif menggenjotkan penisnya di anusku, dan tanpa perhitungan ia
langsung membantingkan dirinya beserta kursi yang masih menempel di dirinya ke
tubuh Yudha, dengan seketika Yudha tersungkur, kursi itupun patah, Alatas, mencoba
membuka bagian kursi yang patah dan membuka lengannya dengan kursi patah itu,
dan berhasil, Adi yang melihat kejadian itu tak tinggal diam, ia lengsung
menubruk tubuh Alatas sehingga mereka berdua terjatuh dan kursipun hancur,
Alatas benar-benar bebas. Namun, Alatas kurang beruntung, ia tertindih tubuh
Adi, yang kini sedang sibuk mencoba mencekiknya, hingga ia hampir tak bisa
bernafas, tapi keberuntungan masih menyertai Alatas, tangannya yang lain
mencoba untuk menggapai patahan kursi dan berhasil, dia langsung memukul kepala
Adi dan Adipun jatuh seketika.
Alatas
berlari kearahku dan segera membuka ikatan di tangan dan kakiku, namun ketika
kakiku akan dilepaskannya, Yudha memukul tubuh Alatas, ia tersungkur kesakitan,
aku yang sudah bebas, meski kaki masih terikat sebelah mencoba melawan dan
memukul wajahnya, berhasil, dan ia langsung jatuh di kasur tempat Lukman
berada, Lukman meskipun terikat, ia mencoba membantu, kepala Yudha yang jatuh
tepat di tenga kaki Lukman, menjepitnya, sehingga kini Yudha tak bisa bergerak
karena kepalanya dijepit.
Setelah itu
aku menyempurnakan tubuhku terlepas dari ikatan itu dan mencoba membatu Alatas
berdiri, kemudian aku berlari kearah Lukman untuk membantunya, aku mengambil
kayu yang daritadi dicoba oleh Yudha untuk memukul Lukman agar melepaskan
cekikannya, dan aku berhasil menggapainya, kemudian kepalanya aku pukul dengan
kayu itu sehingga kini ia sudah benar-benar tak sadar, entah mati atau tidak,
bagiku sekarang tak peduli dengan semua itu.
Alataspun
memukul-mukul Adi yang kembali mencoba melawan, dan Alatas lebih parah dariku,
ia memukul kepala Adi sampai wajahnya tak berupa lagi, Aku yakin Adi sudah
mati. Alatas terhenti setelah Luke yang sudah bebas memeluknya, ia menangis
sambil melemparkan kayu itu ke hadapannya.
Aku terdiam,
perbuatan kami sudah sangat keterlaluan, tapi perlakuan Yudha dan Adi jauh
lebih keterlaluan, mereka pantas mati seperti itu.
&&&
Aku tak
menyesali apa yang sudah kami perbuat kepada orang-orang gila itu, meski kini
aku, Lukman dan Alatas di penjara, tapi kami tak sedikitpun menyesali perbuatan
ini. Kami dipenjara atas dasar pembunuhan, kami dianggap bersalah dan kami
dijatuhi hukuman tiga puluh tahun penjara, tak ada bukti yang bisa membebaskan
kami bertiga. Setidaknya kini cerita baru telah terukir meski hanya dalam
jeruji besi yang lembab dan sunyi.
TAMAT


0 komentar:
Posting Komentar