Love of Enemy 9



Aku tiba di kantor tepat ketika Lukman datang, ia tersenyum ramah kepadaku. Kemudian aku menghampirinya dan kubawa ia ke rungan Meeting yang jarang digunakan. Ia sedikit aneh melihat tingkahku yang seperti ini.
“Kenapa lo bawa gue ke tempat kaya gini?” tanya Luke heran.
Tanpa basa-basi aku langsung bicara. “Gue mohon jangan berhubungan lagi sama Yudha...”

Luke terkejut dan menaikan alisnya sebelah. “Why?”
“Dia psiko, Luke, lo harus percaya sama gue, lo tahu siapa orang yang nyulik gue waktu itu? Dia! Dia yang merkosa gue, nyodomi gue!”
Luke nampak terkejut, ia diam seribu bahasa.
“Dan hari ini, dia nyodomi gue lagi, ternyata dia sodaraan sama si Adi, lo inget Adi, kan? Temen gue yang ketemu di BIP waktu itu? Semalem gue nginep di rumahnya, dan tadi, pas gue lagi mandi dia dobrak pintu kamar mandi dan di sana dia merkosa gue, Luke.”
“Nggak mungkin Ger, gue kenal siapa Yudha, dia kan polisi! Apa jangan-jangan lo suka sama dia? Ngaku!” katanya dengan nada yang sedikit meninggi.
“Gue gak bohong! Kalau lo gak percaya sama gue, kita buktiin.” Aku terdiam sesaat, “gue diancam sama dia buat gak cerita kejadian ini kesiapapun. Dia ngancam gue kalau sampai gue cerita hidup keluarga gue gak akan aman, gue takut Luke, gue takut...” tanpa terasa air mataku mengalir. “Di sini gue cuman punya lo dan temen-temen yang lain, jadi buat apa gue bohong...”
Tiba-tiba Alatas masuk. Luke nampak terkejut.
“Kalian kenapa? Ger, kok lo nangis?”
Luke terdiam, aku mencoba menghapus air mata yang mengalir di pipiku.
“Apa masalah ini berkaitan dengan Yudha?” kata Alatas dengan pasti.
“Ini bukan urusan lo, Al!” bentak Luke tiba-tiba sambil wajahnya tertunduk.
“Kalau memang benar ini tentang Yudha, ini jadi urusan gue, Luke, lo, Gery, semuanya, adalah sahabat gue, dan gue berhak tau masalah yang menimpa kalian.”
“Gak semua urusan gue, lo harus tau Al, udahlah....”
“Iya, ini tentang Yudha!” potongku.
“Udah gue kira, dari awal gue kenal ama dia, gue udah curiga, oh, ya, diam-diam, tanpa sepengetahuan kalian gue masih nyelidikin masalah penculikan Gery tempo itu, dan ternyata memang Yudha terlibat masalah penculikan lo, Ger.”
“Kok lo tau?” tanyaku heran.
“Apa buktinya kalau memang Yudha pelakunya?” tanya Luke dengan suara kesal.
“Gue punya satu temen, ya, gay juga, selain lo, lo kenal si Bani, kan? Temen kuliah yang pernah ikut nongkrong sama kita, tempo dulu?” tanya Alatas kepada Lukman, ia hanya diam saja menyimak. “Gue pernah cerita ke dia tentang lo sama si Yudha, ternyata dia kenal juga sama Yudha, dan dia bilang dulu dia pernah jadian juga sama di Yudha, dan ternyata kejadiannya sama persis kaya lo ama Gery, dia suka sama temennya si Bani yang normal, yang deket sama Bani, nah, suatu hari temennya itu ikut pulang karena abis main dari tempat dugem gitu, pas si Yudha nganterin si temennya Bani, ternyata temennya itu malah di sekap di kamar, Bani dari awal udah curiga, makanya pas udah nganterin Bani ke rumah, si Bani pergi lagi ngikutin si Yudha ama temennya si Bani pake motor, ternyata dia kaget pas tau kalau si Yudha gak ngenterin si temennya, dia malah bawa temennya si Bani ke hotel, sontak dia kaget, pas si Yudha udah ada di dalam kamar, si Bani ketok-ketok pintu, akhirnya si Yudha keluar, wajahnya kaget gitu...”
“Lalu?” tanyaku lagi.
“Si Bani di seret ke dalem kamar, di hajarnya habis-habisan sampe babak belur, terus dia di iket di kursi. Temennya si Bani yang gak sadarin diri udah terlentang aja telanjang di kasur. Pas sadar dia kaget karena dia ternyata lagi disodomi sama si Yudha dalam keadaan keiket, si Bani sendiri gak bisa ngebantuin karena dia sendiri di iket di kursi. Akhirnya pas udah beres, dua-duanya di ancam kalau sampe cerita maka mereka bakalan di bunuh, ya, lo tau sendiri siapa sih yang gak takut kalau diancam sama orang psiko kaya gitu? Kalau dia ancam sama orang biasa sih pasti kita bakal berani buat ngadu ke polisi, lah, ini, di Yudha sendiri kan polisi, otomatis gak akan mudah, ditambah lagi si Yudha terkenal dengan ke baikkannya di sana, jadi gak akan mudah buat orang lain percaya kalau si Yudha itu psiko.”
Luke terduduk lemas, di samping meja, wajahnya pucat pasi, ia tak percaya dengan apa yang barusan Alatas katakan. Karena menurut Lukman, Yudha adalah pria sempurna yang sangat baik.
“Kalo lo gak percaya, gimana kalau kita buktiin semua ini?” ajak Alatas.
“Gimana caranya?” tanyaku bingung.
“Ger, coba nanti lo dateng ke tempat si Yudha bertugas, lo pura-pura gak tahu kalau si Yudha lagi bertugas di sana, nah nanti kan otomatis dia bakalan ngajakin lo pergi dari situ, nah gue sama Luke ngikutin lo dari belakang, biar lo tetep aman.”
“Nah, abis itu, kalau emang beneran si Yudha bawa lagi lo ke hotel, kita langsung buru-buru ngejar lo biar lo gak diapa-apain, gimana?”
“Anjir, jadi lo ngorbanin gue lagi? Gue takut Al, tadi pagi gue baru disodomi lagi sama dia!”
“Hah? Kok bisa?”
“Panjang ceritanya, Al...”
“Jadi gimana, mau kita jalanin rencana ini? biar si Luke juga percaya kalau si Yudha bukan cowo baik-baik.”
Aku mendesah lemas, “yaudah, gue ikut aja, asal nanti lo beneran ada pas gue butuh, ya?”
“Ok, eh, Luke, lo ikut, kan?”
Luke masih diam. “Pokoknya lo harus ikut!” kataku dengan lantang.
&&&
Akhirnya setelah pulang kerja, rencana itu akan kami laksanakan. Luke mengirim SMS kepada Yudha bertanya tentang sedang apa dia sekarang. Dan, Yudha segera membalas kalau ia sedang bertugas.
Aku pergi ketempat dimana Yudha sedang bertugas menggunakan motor milik Alatas, sedangkan Alatas dan Lukman pergi menggunakan mobil milik Oki yang belum dikenal oleh Yudha.
Aku melajukan motorku pelan di daerah buah batu. Dan, memang benar, Yudha ternyata sedang bertugas di sana. jantungku seakan mau copot dengan aksi kami yang nekat, apalagi ini tentang keselamatanku yang terancam.
Yudha melihatku mengendarai motor dan memberhentikan motorku. Aku gelagapan dibuatnya.
“Bisa lihat SIM dan STNKnya?” ujarnya pura-pura tidak mengenaliku.
“Aduh, STNKku gak ada...”
Ia tersenyum penuh kepuasan. “Yasudah kalau begitu, anda harap ikut denganku!”
“Terus motorku?”
“Simpan dulu aja di sini.”
Setelah beberapa lama berbincang dengan temannya akhirnya Yudha membawaku masuk ke dalam mobilnya. “Ayo masuk!” paksanya sedikit kasar.
Kemudan iapun melajukan mobil polisi itu pergi dari tempat itu, aku sangat gelisah. Takut sesuatu yang buruk terjadi kepadaku. Lalu aku mengambil Hpku dan aku mengetik sebuah pesan singkat kepada Adi, om nya Yudha.
Nanti gue telepon, tolong, lo dengerin semua suara yang ada di telepon pas gue telepon. Jangan di matiin, please ini bukan becanda!
Kataku ketika kemudian aku kirimkan SMS itu. dan beberapa menit kemudian, aku menelepon Adi dan sengaja aku simpan di saku bajuku.
“Lo mau bawa gue ke mana?” tanyaku.
“Tenang aja sayang, tadi pagi gue belum puas ngewe lo, jadi sekarang gue pengen puas-puasin ngewein pantat lo yang seksi lagi.”
“Anjing, lo....!”
“Hotel HYAT? Tanyaku dengan suara yang cukup kencang.
“Yap. Gue mau boking kamar di sini,” kemudian ia mengambil borgol yang ada di samping pinggangnya dan memborgolku. “Awas kalau sampe lo kabur!” kemudian Yudha keluar dari dalam mobil.
Kedua tanganku mencoba meraih ponsel yang sengaja aku simpan di saku bajuku. Dan, melihat kalau ponsel itu masih hidup.
“Di, Di, lo masih di sana?” kataku berbicara kepada telepon yang menghubungkanku dengan Adi.
“Iya, Ger, lo kenapa? Siapa yang nyulik lo?”
“Gue diculik sama keponakan lo, Yudha, please, dateng ke hotel HYAT, sekarang!”
“Ok, Ok, gue kesana sekarang!”
TIT. Ponselpun mati, fyuh! Akhirnya aku setidaknya bisa bernafas lega.
“Hallo sayang? Lama menunggu?” kata seseorang yang suaranya tak asing lagi bagiku. Adi.
“Di, kok, lo udah ada di sini, sih?”
“Iya, dong, siapa dulu, Adi...”
“Ayo, Di, bantuin gue lepasin borgol ini, sebelum si Yudha dateng,” kataku bersemangat.
“Kalau gue dateng emang kenapa?” jawab suara yang lainnya. Rupanya suara Yudha.
Aku terbelalak. Rupanya mereka berdua bersekongkol. “Ka...ka...kalian?”
“Udah! Lo gak usah banyak bacot!” tiba-tiba saja Yudha sudah membekamku dengan tisu... dan, hilanglah kesadaranku....
&&&
Aku terbangun mendengar teriakan dari seseorang. Ketika kubuka mata, rupanya aku berada di ruangan yang sedikit gelap, tanganku terikat, kakikupun terikat, aku terikat disebuah kursi dengan mulut di bekam pula. Kulihat Adi sedang melakukan tarian cinta dengan seseorang yang tangan dan kakinya terikat pula. Aku pikir itu adalah Yudha, rupanya bukan, itu, itu adalah... temanku... Alatas.
“Anjing! Sakit!” katanya berteriak.
Aku terbelalak melihat kejadian itu, sesaat aku pikir ini adalah mimpi, mimpi buruk yang akan segera berakhir, namun ketika aku kembali membuka mata untuk meyakinkan kalau ini mimpi ternyata salah, ini nyata, temanku saat ini sedang di gauli, di sodomi.
Kulihat di kasur yang lain, Yudha sedang asik menggauli Lukman, ia nampak diam saja, namun matanya menangis, ia tak bisa teriak karena keadaannya sama persis denganku, mulutnya di bekam. Aku meronta-ronta, ingin sekali membantu sahabat-sahabatku, dan membunuh dua bajingan itu.
Kucoba untuk bergerak, membuat diriku terjatuh dari kursi, ternyata perbuatanku diketahui oleh Yudha, ia menghentikan aktifitasnya dan menghampiriku.
“Oh, rupanya pemeran utama kita sudah sadar, om, bagaimana dengan yang ini? apa kita lakukan sekarang aja?”
Adi yang masih asik dengan genjotannya tersenyum. “Yang itu nanti aja, om lagi nikmatin pantat perawan ini, enak banget, biar si Gery kita pake bareng-bareng aja, ok?”
“Ok om!” katanya dan membetulkan lagi posisiku kembali duduk.
Bagaimana ini bisa terjadi? Mengapa Alatas dan Lukman bisa berada di sini? Oh my God, ini semua salahku, harusnya aku tak membiarkan mereka ikut campur dalam masalahku, batinku bergemuruh. Kulihat Alatas kini menangis memohon.
“Please, berhenti, sakit, sakit....” katanya sambil terisak, namun Adi malah semakin kencang, ia terus menerobos paksa penisnya masuk ke dalam anus Alatas. Hingga beberapa menit kemudian Adi teriak, melenguh.
“Ah... sial, gue mau keluar!” katanya, kemudian mencabut genjotannya dan kini penisnya berada di hadapan wajah Alatas. “Nih, telan semua pejuh gue!” katanya dan dengan paksa membuka mulut Alatas. Alatas nampak menolak, namun ternyata Yudha ikut membantunya sehingga kini ia tak mampu berkutik lagi.
Crot crot crot
Alatas nampak tersedak, namun ia tak bisa juga memuntahkan air mani yang berada di mulutnya, hingga mau tak mau ia harus menelan air mani itu. Akhirnya Adi ambruk di atas tubuhnya Alatas sambil tertawa penuh kemenangan.
Yudha kini yang semakin ganas, ia mengenjot pantat Lukman tanpa ampun, kencang dan semakin kencang, hingga akhirnya ia keluar di dalam.
“Ah... anjing, gue gak bisa nahan....”
Crot crot crot
Sekarang Yudha yang nampak lemas, ia terkapar di samping tubuh Lukman. Dan ternyata mereka berdua terkapar lemas dan tertidur.
Aku yang memiliki kesempatan untuk melepaskan diri, kini mencoba perlahan bergerak ke arah samping untuk mengambil sesuatu yang ada di atas meja kecil, aku coba menggeser kursi perlahan.
Kreeekkk...
Suara kursi bergeser, rupanya belum membangunkan mereka, untung saja. Aku coba lagi sekali lagi, Alatas yang masih sadar memperhatikanku dan mencoba menyemangatiku dengan ekspresi diwajahnya, begitupun dengan Lukman.
Satu jam telah berlalu, aku baru mencapai sekitar satu meter, sungguh sulit menggeser kursi ini menuju meja kecil yang di atasnya terdapat sebuah kacamata. Kacamata itu aku gunakan untuk memotong tali yang mengikat di tangan dan kakiku.
Kreeeeekkkkk.....
Suara itu kini semakin kencang aku sangat takut mereka berdua terbangun, keringatku mengucur deras, masih sekitar satu meteran lagi untuk bisa mencapai kacamata itu. Tetapi sayang, ketika aku akan segera sampai, pertahananku goyah dan aku jatuh lagi ke lantai, Adi yang menyadari itu langsung bangun.
“Wah, wah, rupanya ada yang mencoba untuk kabur, hey, Yud, liat ulah si Gery ini, katanya sambil jongkok di hadapanku dengan penis yang kembali tegang, duh, sayang sepertinya aku ingin pipis,” tiba-tiba saja urin keluar dari saluran kencingnya dan mengenai wajahku, aku terkejut dan langsung menutup mataku, ia mengencingi wajahku. Tak lama Yudha ikut-ikutan, ia mengencingi tubuhku. Setelah puas mereka membangunkanku dan membawaku ke kamar mandi sambil menyeret kursi dan diriku.
Di dalam kamar mandi aku disiram, disabuni, diberi sabun, ah, aku seperti bayi kecil yang sedang dimandikan.
Setelah dirasa sudah bersih mereka kembali membawaku ke kamar. “Yud, om udah horny lagi nih mandiin si Gery tadi, kita mulai lagi, aja, yuk?” katanya kepada Yudha.
“Sama, om, gue juga udah horny parah liat si Gery, pokoknya kita entot dia sampe puas, ok.”
“Ayo!” katanya sambil membuka ikat di tanganku. Aku harus mencari kelemahan mereka, aku akan menghajar Yudha ketika ia selesai membuka tali di tanganku. Dan, benar saja, rupanya Yudha lengah, tanpa basa-basi aku langsung menghantampak bogem mentah ke wajahnya hingga ia terpental.
Bruuukkkk
Yudha terpental dan jatuh, aku segera, beralih untuk menghajar Adi, namun sayang, ia lebih sigap dariku sehingga kini tanganku dipegangnya dan aku dipukul olehnya.
“Anjing!” kata Adi kemudian mengambil tisu dan membekamkan pada wajahku. Akupun pingsan seketika.
&&&
Mataku kembali terbuka dan kini aku sudah terikat dikasur tempat Alatas tadi di ikat, kulihat kini Alatas yang duduk tak sadarkan diri, Luke menatapku dengan nanar, aku tak bisa berbuat apa-apa. Mereka sudah menguasai kami bertiga.
Yudha kini duduk di sampingku sambil menampar-nampar kecil pipiku. “Kalau aja lo gak ganteng, udah gue bunuh lo!” katanya dengan sadis.
“Udah, ah, gak usah kejam-kejam sama si ganteng ini, kita kan susah payah dapetin dia, heh Ger, lo inget gak waktu pertama kali kita ketemu? Gue di rampok sama orang, padahal itu bohong, gue sengaja bikin lo buat bantuin gue, ini semua udah dirancang, pertemuan lo sama si Luke, pertama lo ML ama dia, pokoknya semua udah gue rancang, pinter, kan gue? Sampe kejadian lo dikejar-kejar genk motor, itu semua udah dirancang. Gue dan Yudha udah ngincer lo dari dulu. Lo inget si Joko? Cowo yang ngerebut cewek lo? Itu juga anak buah gue, pokoknya hidup lo udah gue rancang, dan kepindahan lo ke Bandung juga, gue udah rancang, ah, pokoknya untuk sampai kedetik-detik ini semuanya udah gue rancang.”
Aku terkejut dengan pernyataannya, rupanya dari awal gerak-gerikku sudah diawasi olehnya.
“Lo pasti lupa kejadian pertama kali kita ketemu, bukan ketika gue di jambret, tapi sebelumnya, disitu gue langsung suka sama lo, dan pas gue cerita ke Yudha tentang lo, dia langsung inisiatif ngebantuin gue dan cari semua data tentang lo, kita ketemu waktu gue dateng ke kantor lo, di sana gue liat lo keren banget pake baju batik, dan nyapa gue ramah, dan ternyata memang lo orang baik, dari semenjak itulah gue berobsesi buat dapetin lo meski apapun caranya. Sayangnya lo normal, coba kalau gay, makanya gue nyusun rencana ini bareng Yudha, iya, kan sayang?” katanya sambil mencium bibir Yudha, aku terperanjat menyaksikan adegan itu.
“Oh, ya, dan pas lo kaya mimpi kalau gue ngiket lo, itu semua bukan mimpi emang dari pertama ketemu gue udah muasin lo, dan gue sangat menikmati itu, tapi gue gak mau cuman gitu doang, gue mau lebih, bisa dipuasin lo terus-terusan.”
Adi kini menggerayangiku, dia mencium pipiku, kemudian beralih le telingaku, Yudha bergerak dibagian bawah, ia menjilati penisku, kemudian mengulumnya dengan lihai, aku kalap, penisku tiba-tiba berdiri, mereka berdua benar-benar mencoba menjamah seluruh tubuhku, aku hanya menangis tak dapat melawannya. Kemudian, Adi mengganti posisi, kini tubuhnya menindihku dan kulihat penisnya ada di atasku.
“Isap!” katanya kemudian membuka ikatanku. Aku yang tak berdaya akhirnya mau saja, penisnya sangat besar sehingga aku ingin muntah dibuatnya. Ia terus menggenjot mulutku tanpa ampun. “Ini yang gue mau selama ini, ah, enak, sial!”
Aku menyadari kalau Yudha kini sedang memasukan jarinya keanusku, bekas sodokannya kemarin masih sakit, sekarang ditambah dia akan melakukannya lagi, aku tak dapat membanyakan akan seperti apa jadinya nanti anusku.
Satu menit kemudian Yudha sudah memasukan penisnya ke anusku, perih, panas, sakit menyatu jadi satu, meskipun aku sudah pernah disodomi, tapi sakitnya masih tak hilang dan aku tak mampu menikmati semuanya ini, apalagi kini keadaanku sedang tidak ingin melakukan ini, tubuhkupun menolak.
Adi yang penasaran sekali dengan anusku kini mencoba memasukan penisnya ke dalam anusku, penis Adi jauh lebih besar daripada kepunyaan Yudha, sehingga aku kembali menjerit menahan sakit, ia tak menggubrisnya, selama ia mendapatkan kepuasan dia tak akan memedulikan kesakitanku.
Satu jam berlalu, mereka masih saja menggejotku secara bergiliran, rasa sakit kini sudah berangsur menghilang, kini aku sudah bisa membiasakan diri dengan anus yang terisi penuh dengan penis, aku hanya pasrah saja diperlakukan seperti ini, bagiku diriku yang dulu sudah mati bersama dengan harga diriku yang hancur lebur.
Ketika kurasa harapan tak lagi ada, aku melihat tiba-tiba seseorang berdiri agak membungkuk, rupanya Alatas, ia berhasil berdiri dan ia menghampiri Yudha yang sedang aktif menggenjotkan penisnya di anusku, dan tanpa perhitungan ia langsung membantingkan dirinya beserta kursi yang masih menempel di dirinya ke tubuh Yudha, dengan seketika Yudha tersungkur, kursi itupun patah, Alatas, mencoba membuka bagian kursi yang patah dan membuka lengannya dengan kursi patah itu, dan berhasil, Adi yang melihat kejadian itu tak tinggal diam, ia lengsung menubruk tubuh Alatas sehingga mereka berdua terjatuh dan kursipun hancur, Alatas benar-benar bebas. Namun, Alatas kurang beruntung, ia tertindih tubuh Adi, yang kini sedang sibuk mencoba mencekiknya, hingga ia hampir tak bisa bernafas, tapi keberuntungan masih menyertai Alatas, tangannya yang lain mencoba untuk menggapai patahan kursi dan berhasil, dia langsung memukul kepala Adi dan Adipun jatuh seketika.
Alatas berlari kearahku dan segera membuka ikatan di tangan dan kakiku, namun ketika kakiku akan dilepaskannya, Yudha memukul tubuh Alatas, ia tersungkur kesakitan, aku yang sudah bebas, meski kaki masih terikat sebelah mencoba melawan dan memukul wajahnya, berhasil, dan ia langsung jatuh di kasur tempat Lukman berada, Lukman meskipun terikat, ia mencoba membantu, kepala Yudha yang jatuh tepat di tenga kaki Lukman, menjepitnya, sehingga kini Yudha tak bisa bergerak karena kepalanya dijepit.
Setelah itu aku menyempurnakan tubuhku terlepas dari ikatan itu dan mencoba membatu Alatas berdiri, kemudian aku berlari kearah Lukman untuk membantunya, aku mengambil kayu yang daritadi dicoba oleh Yudha untuk memukul Lukman agar melepaskan cekikannya, dan aku berhasil menggapainya, kemudian kepalanya aku pukul dengan kayu itu sehingga kini ia sudah benar-benar tak sadar, entah mati atau tidak, bagiku sekarang tak peduli dengan semua itu.
Alataspun memukul-mukul Adi yang kembali mencoba melawan, dan Alatas lebih parah dariku, ia memukul kepala Adi sampai wajahnya tak berupa lagi, Aku yakin Adi sudah mati. Alatas terhenti setelah Luke yang sudah bebas memeluknya, ia menangis sambil melemparkan kayu itu ke hadapannya.
Aku terdiam, perbuatan kami sudah sangat keterlaluan, tapi perlakuan Yudha dan Adi jauh lebih keterlaluan, mereka pantas mati seperti itu.
&&&
Aku tak menyesali apa yang sudah kami perbuat kepada orang-orang gila itu, meski kini aku, Lukman dan Alatas di penjara, tapi kami tak sedikitpun menyesali perbuatan ini. Kami dipenjara atas dasar pembunuhan, kami dianggap bersalah dan kami dijatuhi hukuman tiga puluh tahun penjara, tak ada bukti yang bisa membebaskan kami bertiga. Setidaknya kini cerita baru telah terukir meski hanya dalam jeruji besi yang lembab dan sunyi.


TAMAT

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Love of Enemy 9 ini dipublish oleh Unknown pada hari 23 Desember 2014. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Love of Enemy 9
 

0 komentar:

Posting Komentar