Aku
akui kini aku terpikat oleh ketampan Roby, di balik kulitnya yang eksotis, ia
juga paling bisa membuatku tertawa, aku nyaman berada bersamanya. Setiap kuliah
kami habiskan mengobrol di dalam kelas berdua saja, rupanya pengalamannya dalam
seks jauh dariku, maksudnya ia lebih berpengalaman dibandingkan aku. Ah, aku
pikir akulah orang yang paling berpengalaman di dunia gay ini, ternyata
dugaanku salah.
Kenapa
aku bisa dengan mudah terpikat oleh Roby? Karena menurutku ia memiliki banyak
kesamaan denganku, dari cara berpikirnya, hingga segala sesuatu yang aku sukai
iapun sama. Di tambah lagi, kelihaiannya bermain cinta, ia benar-benar bisa
membuat orang ketagihan setelah sekali saja mencicipi permainannya. Dan, aku
sudah benar-benar mabuk oleh keindahan permainannya.
“Mau
ke mana, Cast?” tanya Bastian ketika melihatku hendak pergi dari rumah.
“Gue
ada tugas dari bu Tuti, mau ngerjain di kampus aja.”
“Gak
mau gue bantu?”
“Gak
usah, lo di rumah aja, ya?”
Ia
hanya mengangguk sambil menatap nanar diriku. Ah, entah mengapa aku benar-benar
tak ingin bersamanya lagi, aku sudah muak dengan kebersamaan ini. Ditambah
dengan sikapnya yang menurutku over protektif membuatku semakin tak ingin
bersamanya, tapi aku masih terikat dengannya, ikatan yang sebenarnya pernah aku
buat sendiri, selain itu juga aku tak enak hati kepada Erin bila sampai aku
melukai perasaan Bastian.
&&&
Malam
ini, Roby menginap di rumahku, aku mengirim SMS kepada Bastian agar ia tak usah
menungguku pulang karena aku bilang kalau aku akan pulang pagi, dan dengan segera
ponsel kumatikan, karena kalau tidak, ia akan menggangguku dengan terus-terusan
meneleponku.
“Kenapa
HPnya dimatiin?” tanya Roby.
“Gak
apa-apa, takut ada yang ganggu aja.”
“Sebastian?”
Aku
diam.
“Ya
udah gak usah di bahas,” ujarnya lagi kemudian menghampiriku, “mau aku
pijitin?”
Aku
mengangguk, kemudian aku membuka bajuku, celana hingga semua yang menutupi
tubuhku dilepaskan, kemudian berbaring sambil memejamkan mata. Roby membalikan
badanku, dipijatnya punggungku dengan lembut, pijatannya benar-benar membuatku
rileks. Kini sambil memijat ia menciumi punggungku, beralih ke leherku hingga
akhirnya kami ciuman. Aku membalikan badanku kembali hingga kini kami
berpelukan dalam ciuman, ciuamnnya sungguh ganas, sampai-sampai aku kualahan
dibuatnya.
Ia
kembali menjilati putingku, dimainkannya putingku sehingga aku mengerang
keenakan, selanjutnya ia mencium perutku yang bidang, menjilatinya dan
menelusuri kebawah hingga sekarang ia sedang asik mencium penisku yang setengah
tegang, langsung saja ia kulum penisku, aku terlonjak, nikmat tak terkira, ia
mencoba mengambil alih permainan ini, untuk saat ini aku mencoba melihat
seberapa buasnya dia bermain.
Kemudian
ia menjalar ke padaku, dijilatinya pahaku dengan erotis, lalu ke kakiku, ia
melumat setiap senti jari kakiku. Baru kali ini ada yang melakukan ini padaku,
sebelumnya selama aku menjalin hubungan dengan setiap pria, tak ada yang
melakukan ini. setelah puas dengan jari-jemari kakiku, kini ia mengangkat
kakiku, ia kemjilati anusku, oh, nikmat rimmingannya benar-benar handal, aku
seperti akan melayang diperlakukan seperti itu.
Aku
mencoba mengambil alih permainan, kupeluk ia dan kini aku berada di atasnya, ku
cium bibirnya dengan buas hingga kami seperti sedang berperang dalam sebuah
sentuhan bibir, dan aku menjalar menjilati setiap bagian wajahnya, kujilat
pipinya, hidungnya, bahkan telinganya, ia mendesah, aku semakin terpancing
untuk semakin buas. Lalu aku mengikuti permainanya, aku jilat putingnya yang
coklat, kulumat habis putingnya, dan sekarang aku sedang menhisap penisnya yang
masih lemas, kumainkan lolipop baruku ini, ia semakin mendesar, kuangkat
kakinya dan sekarang giliranku merimming anusnya, ia sempat kelojotan olehku,
dan kini ia semakin menikmati aksiku, aku sudah tak tahan lagi, aku ambil
pelumas yang ada di samping meja, segera kuoleskan ke penisku yang sudah
tegang, ia tersenyum, sebelum kumasukan, kucium bibirnya, sambil berciuman,
diam-diam aku memasukan penisku perlahan, ia memejamkan matanya, ku sodok
semakin dalam, Roby mengerang, ku pompa cepat pantatku hingga terdengar suara
merdu kesuakaanku.
Plok
plok plok
Aku
memeluknya dengan erat, ia meringis menahan nikmat yang kubuat, kubalikan
badannya sehingga kini aku lebih leluasa menggenjotnya, ia nampak pasrah dengan
permainanku, delapan menit telah berlalu, sekarang aku mengganti posisiku,
doggy style, gaya yang menjadi andalanku, ia tahu aku menyukainya, Roby terus
berceracau dengan kata-kata sompralnya.
“Fuck
me, bitch!, come on, fuck me!”
Aku
semakin bersemangat, dan tanpa berlama-lama aku mengganti posisiku kembali,
kuangkat tubuhnya dan kini sambil berdiri aku memompanya, uh, permainan ini
semakin kasar, ku tampar pantatnya, kucium buas bibirnya, kini aku mengalahkan
kebuasannya. Peluh kami saling menyatu, nafas kami kini seirama, kujatuhkan
lagi ia ke kasur, dan ku buka kakinya, kutusuk lagi anusnya dengan buas, aku
memompanya semakin cepat dan cepat, rupanya ia sudah tak kuat lagi, dan...
“Ah...
gue keluar....”
Crot
crot crot
Ia
menumpahkan laharnya ke perutnya sendiri, aku tersenyum puas melihatnya sudah
orgasme terlebih dulu, kini giliranku, aku pompa dengan cepat dan kulepas
penisku dari anusnya.
Crot
crot crot
Tumpah
sudah penisku menyatu dengan penisnya.
Kini
aku ambruk menindihnya, ia tertawa melihat reaksiku, dan aku ikut tertawa dalam
pelukannya.
&&&
Keesokan
paginya aku langsung pulang ke rumah Erin, kulihat Erin sedang memasak bersama
Bastian, melihatku baru pulang ia langsung menghampiriku. Ia mengikutiku masuk
ke dalam kamar.
“Kemana
aja semalam?” tanyanya sambil membanting pintu.
“Main,”
jawabku singkat. Aku langsung tiduran di kasur.
“ML?”
“Nggak.”
“Terus
jalan sama siapa? Kenapa HP gak diaktifin?”
“Batrenya
abis,” jawabku asal.
Ia
menghampiriku dan mengambil ponselku, dinyalakan ponselnya dan ternyata
batrenya masih ada sisa enam puluh persen.
“Bohong!
ML ama cowok mana lagi, lo?”
“Udahlah,
gue capek, ngantuk, bisa kita bahas ini nanti?”
“Gak,
gue butuh penjelasan ini sekarang!” teriaknya. Ia tak memedulikan kalau nanti
Erin mendengar pertengkaran ini.
“Mau
lo apa sih? Mau cari ribut sama gue?”
“Lo
yang bikin gue kaya gini.”
“Emangnya
kenapa kalau gue jalan sama temen gue? Masalah buat lo?”
“Jelas
ini masalah gue, lo itu cowok gue dan gue berhak nanya masalah ini.”
“Lo
masih pacar gue belum jadi istri gue, kita belum terlalu terikat!”
“Oh
gitu, jadi lo maunya kaya gitu?”
“Lo
gak berhak mengekang kehidupan gue, kita ini masih pacaran belum menikah,
pacaran aja lo udah kaya gini gimana nanti kalau kita sampe nikah!”
“Gue
udah cukup sabar ngadepin tingkah lo yang semakin dingin ke gue, sebenernya apa
salah gue, Cas sampe lo tega giniin gue,” kini air mata Sebastian tak dapat di
bendung lagi.
“Jangan
cengeng, deh, kaya banci tau tingkah lo!”
“Terus
mau lo apa, mau gantungin gue kaya gini terus, iya?”
Aku
beranjak dan hendak akan keluar dari kamar, tapi tangannya memegang tangaku
erat. “Please, jangan tinggalin gue, gue sayang banget sama lo, Cast,” ujarnya
disela tangisannya.
“Lo
mau tau kenapa gue kaya gini? Gue jenus Bas, jenus sama hubungan ini,” kataku
dengan penuh penekanan, ia menangis tersedu-sedu, aku terdiam, menarik nafas
dan menghebuskannya pelan. “Gue butuh waktu buat sendiri, lepasin gue!”
Akhirnya
dengan berat hari Bastian melepaskan pegangan tangannya dan aku segera keluar
dari kamar.
Aku
keluar kamar dan kulihat Erin terdiam menatapku, kemudian ia berbalik arah dan
pergi menuju dapur. Saat ini aku tak memedulikan kalau Erin adalah sahabatku
lagi, ini bukan urusannya dan ia tak berhak ikut campur masalahku.
&&&
Sudah
tiga hari aku tak kembali ke rumah Erin, sekarang aku kembali tinggal di
rumahku. Aku bersiap-siap akan pergi ke kampus, dan kulihat sebuah motor mio
menghadangku. Sebastian.
“Castro,
kita mesti bicara.”
“Apa
lagi yang harus dibicarakan?”
Sebentar
aja,” ajaknya.
“Gue
ada kuliah!”
“Gue
mau lo balik lagi ke rumah, kita selesaikan ini di rumah, gue tunggu lo di
rumah sore ini, ya? Please.”
Aku
terdiam sesaat.
“Please.”
“Ok,
tapi gue gak janji.” Aku segera menyalakan mesin motorku dan pergi meninggalkan
dia sendiri.
Matahari
sudah menunjukan kegagahannya, dan kini ia hendak beranjak menuju negara lain
untuk menerangi. Sore ini aku dapat SMS dari Roby, ia mengajakku untuk menonton
film di bioskop, langsung aku iyakan tanpa berpikir panjang lagi.
Malamnya
ia kembali menginap di rumahku, kami kembali bercinta dengan buas dan mesra,
aku sudah benar-benar tergila-gila dengan pria ini, bagiku ia sangat seksi dan
setiap kali melihatnya, aku selalu terangsang.
Keesokan
harinya ketika aku sudang makan di kantin kampus, seseorang menghampiriku.
“Cast,
kenapa lo gak dateng?” tanya Bastian.
“Gue
lupa,” jawabku asal.
“Terus
mau kapan kita ngebahas tentang kita?”
“Ssssttt,
jangan kenceng-kenceng, bego! Lo mau semua orang denger tentang kita?”
Sekarang
ia duduk di hadapanku, memakai kemeja biru kotak-kotak yang dimasukan ke dalam,
serta kacamata tebalnya yang tak pernah lepas.
“Ok
gue pelanin suara gue, terus mau kapan kita ngebahas ini? Jangan gantungin gue
kaya gini, gue butuh kepastian,” ujarnya dan langsung menunduk.
“Ini
bukan waktu yang tepat untuk ngebahas ini, masih banyak waktu, bro!”
“Gue
udah gak punya waktu lagi buat diperlakukan kaya gini, gue capek, Cast, capek.
Mungkin lo emang biasa-biasa aja dengan semua ini, tapi ini gue, gue yang
diperlakukan gak adil sama lo.”
“Ssstttt
jangan kenceng-kenceng, lo tuh norak tau gak? Biasa aja ngomongnya gak usah
kaya gitu, keliatan banget homonya kalau lo bersikap kaya gitu!”
“Gue
gak peduli, lo sendiri yang udah ngancurin gue, yang udah buat gue kaya gini,
lo harus tanggungjawab, Cast.”
“Tanggungjawab?
Emangnya lo cewek yang udah gue pake terus hamil dan minta pertanggungjawaban?
Sadar, Bas, lo itu cowok, cowok gak akan keliatan meski udah sering ML juga.”
Tiba-tiba
seseorang datang. “Ada apa Cast, oh, hai Bas, tumben lo ada di kantin?” tanya
Roby.
“Kita
cabut aja, yuk, gue udah gak betah diem di sini,” ajak Castro kepada Roby.
Akupun
pergi meninggalkan Sebastian yang termenung menatap kami berdua.
&&&
Pagi.
Siang. Sore. Malam. Sebastian terus meneleponku, aku mulai jengah dengan
tingkahnya seperti itu, tapi apa mau dikata, aku malas bila harus ketemu dengan
dia.
Aku
terbangun dalam pelukan Roby karena mendengar suara ketukan pintu, aku
melangkah menuju pintu masuk hanya dengan mengenakan celana kolor, kubuka pintu
dan kulihat Bastian sudah ada di depan pintu.
“Gue
tau lo selingkuh dengan si Roby, gue cuman mau bilang, kita akhiri aja hubungan
ini, kita putus!”
Aku
terdiam, melihat dia seperti itu terbesit rasa kasihan kepadanya.
“Tadinya
gue pikir hubungan kita masih bisa lanjut, gue masih sayang lo, Cast, you are
my first love, dan gue juga tadinya berharap lo yang akan bilang putus meski
sakit gue ngedengernya, tapi rupanya lo lebih pengecut dari gue, untuk bilang
putus aja lo gak bisa. Maaf kalau selama ini gue ganggu hidup lo, maaf juga
kalau selama dua tahun ini gue sering bikin lo repot,” ia berbalik badan dan
melangkah pergi, tiba-tiba saja dia terhenti, dan kembali kepadaku. “Please
give me a hug fot the last time.” Ketika ia semakin mendekatiku, dari belakang
ada yang memelukku.
“Hai
Bas, tumben lo main ke sini?”
Ia
menatap kami dalam duka, aku sangat kasihan melihatnya seperti itu, Sebastian
akhirnya pergi dari mataku.
Aku
masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang serba salah, aku tahu ia pasti sangat
sakit diperlakukan seperti ini. Rasa bersalah kini menjalar dalam benakku.
&&&
Kini
aku menjalin hubungan dengan Roby, sudah tiga minggu lamanya, sekarang aku tak
pernah bertegur sapa dengannya bahkan ketika kami berpas-pasan di jalan, buka
hanya Sebastian dengan sahabatku juga sama, Erin, hubungan kami semakin dingin
dan aku sedikit tersiksa dibuatnya, karena hanya dengan Erin lah aku biasanya
mencurahkan isi hatiku, menumpahkan emosiku, menangis bersamanya, tertawa dan
bercanda.
Kulihat
Erin sedang asik mengobrol bersama dengan teman-temannya yang lain, aku menghampirinya.
“Hai
Rin, bisa kita bicara sebentar?”
Ia
menatapku dengan penuh kebencian. Kemudian ia beranjak dan pergi
meninggalkanku, aku mengejarnya dan kutarik tangannya.
“Rin,
please, kenapa lo dingin banget sama gue? Hubungan gue sama Bastian emang udah berakhir,
tapi gue gak mau hubungan kita sebagai sahabat yang udah terjalin lama berakhir
juga,” kataku.
“Gue
udah bukan sahabat lo lagi!”
“Gue
tau lo marah ke gue karena Sebatian keponakan lo, tapi lo gak berhak tau urusan
gue dengannya apa.” Erin kembali berjalan. “Erin, beri kesempatan gue buat
ngomong ini sama lo.”
Ia
balik badan dan menatapku tajam. “Apa lo kasih kesempatan juga buat Bastian
ngomong sama lo? Nggak, kan?” ia langsung pergi tanpa menatapku. Aku termenung
dibuatnya.
&&&
Minggu
pagi ini aku berencana untuk mencuci motorku, dan ketika aku sedang asik dengan
motorku, kulihat sebuah mobil berhenti di pekarangan rumahku. Erin keluar dan
membuka bagasi mobilnya, kemudian mengambil beberapa dus dan menaruhnya di
hadapanku.
“Ini
barang-barang lo, Bastian sendiri yang minta kegue buat balikin barang-barang
lo yang ada di rumah gue. Ok, kayaknya udah semua, bye.”
Aku
hanya terpana menatapnya masuk ke dalam mobil tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
Lalu kuangkat barang-barang yang ada di dalam dus dan kumasukan ke dalam ruang
tamu. Kubuka dus itu, kulihat tumpukan bajuku lengkap dengan celana dalam ada
di sana, kurapikan baju-bajuku kembali ke dalam lemari baju, kemudian aku
membuka dus yang ke dua, rupanya di dus yang kedua, adalah peralatan olah ragaku,
jam tangan, topi, asbak, dan kulihat tersimpan dipaling dasar adalah album, aku
yakin ini adalah album kami, foto-foto kami berdua.
Kubuka
album merah itu, kulihat banyak sekali fotoku bersamanya, foto ketika aku
sedang tidur, foto kita tertidur berdua, foto ketika kita liburan, dan foto
ketika kami berciuman yang sengaja Bastian abadikan untuk mengenang betapa kami
saling mencintai dulu. Tiba-tiba hatiku bergetar, sakit menyayat hatiku, tanpa
sadar air mataku mengalir, menetes, membasahi foto itu.
.jpg)

0 komentar:
Posting Komentar