Namanya Sebastian 5



Aku akui kini aku terpikat oleh ketampan Roby, di balik kulitnya yang eksotis, ia juga paling bisa membuatku tertawa, aku nyaman berada bersamanya. Setiap kuliah kami habiskan mengobrol di dalam kelas berdua saja, rupanya pengalamannya dalam seks jauh dariku, maksudnya ia lebih berpengalaman dibandingkan aku. Ah, aku pikir akulah orang yang paling berpengalaman di dunia gay ini, ternyata dugaanku salah.
Kenapa aku bisa dengan mudah terpikat oleh Roby? Karena menurutku ia memiliki banyak kesamaan denganku, dari cara berpikirnya, hingga segala sesuatu yang aku sukai iapun sama. Di tambah lagi, kelihaiannya bermain cinta, ia benar-benar bisa membuat orang ketagihan setelah sekali saja mencicipi permainannya. Dan, aku sudah benar-benar mabuk oleh keindahan permainannya.

“Mau ke mana, Cast?” tanya Bastian ketika melihatku hendak pergi dari rumah.
“Gue ada tugas dari bu Tuti, mau ngerjain di kampus aja.”
“Gak mau gue bantu?”
“Gak usah, lo di rumah aja, ya?”
Ia hanya mengangguk sambil menatap nanar diriku. Ah, entah mengapa aku benar-benar tak ingin bersamanya lagi, aku sudah muak dengan kebersamaan ini. Ditambah dengan sikapnya yang menurutku over protektif membuatku semakin tak ingin bersamanya, tapi aku masih terikat dengannya, ikatan yang sebenarnya pernah aku buat sendiri, selain itu juga aku tak enak hati kepada Erin bila sampai aku melukai perasaan Bastian.
&&&
Malam ini, Roby menginap di rumahku, aku mengirim SMS kepada Bastian agar ia tak usah menungguku pulang karena aku bilang kalau aku akan pulang pagi, dan dengan segera ponsel kumatikan, karena kalau tidak, ia akan menggangguku dengan terus-terusan meneleponku.
“Kenapa HPnya dimatiin?” tanya Roby.
“Gak apa-apa, takut ada yang ganggu aja.”
“Sebastian?”
Aku diam.
“Ya udah gak usah di bahas,” ujarnya lagi kemudian menghampiriku, “mau aku pijitin?”
Aku mengangguk, kemudian aku membuka bajuku, celana hingga semua yang menutupi tubuhku dilepaskan, kemudian berbaring sambil memejamkan mata. Roby membalikan badanku, dipijatnya punggungku dengan lembut, pijatannya benar-benar membuatku rileks. Kini sambil memijat ia menciumi punggungku, beralih ke leherku hingga akhirnya kami ciuman. Aku membalikan badanku kembali hingga kini kami berpelukan dalam ciuman, ciuamnnya sungguh ganas, sampai-sampai aku kualahan dibuatnya.
Ia kembali menjilati putingku, dimainkannya putingku sehingga aku mengerang keenakan, selanjutnya ia mencium perutku yang bidang, menjilatinya dan menelusuri kebawah hingga sekarang ia sedang asik mencium penisku yang setengah tegang, langsung saja ia kulum penisku, aku terlonjak, nikmat tak terkira, ia mencoba mengambil alih permainan ini, untuk saat ini aku mencoba melihat seberapa buasnya dia bermain.
Kemudian ia menjalar ke padaku, dijilatinya pahaku dengan erotis, lalu ke kakiku, ia melumat setiap senti jari kakiku. Baru kali ini ada yang melakukan ini padaku, sebelumnya selama aku menjalin hubungan dengan setiap pria, tak ada yang melakukan ini. setelah puas dengan jari-jemari kakiku, kini ia mengangkat kakiku, ia kemjilati anusku, oh, nikmat rimmingannya benar-benar handal, aku seperti akan melayang diperlakukan seperti itu.
Aku mencoba mengambil alih permainan, kupeluk ia dan kini aku berada di atasnya, ku cium bibirnya dengan buas hingga kami seperti sedang berperang dalam sebuah sentuhan bibir, dan aku menjalar menjilati setiap bagian wajahnya, kujilat pipinya, hidungnya, bahkan telinganya, ia mendesah, aku semakin terpancing untuk semakin buas. Lalu aku mengikuti permainanya, aku jilat putingnya yang coklat, kulumat habis putingnya, dan sekarang aku sedang menhisap penisnya yang masih lemas, kumainkan lolipop baruku ini, ia semakin mendesar, kuangkat kakinya dan sekarang giliranku merimming anusnya, ia sempat kelojotan olehku, dan kini ia semakin menikmati aksiku, aku sudah tak tahan lagi, aku ambil pelumas yang ada di samping meja, segera kuoleskan ke penisku yang sudah tegang, ia tersenyum, sebelum kumasukan, kucium bibirnya, sambil berciuman, diam-diam aku memasukan penisku perlahan, ia memejamkan matanya, ku sodok semakin dalam, Roby mengerang, ku pompa cepat pantatku hingga terdengar suara merdu kesuakaanku.
Plok plok plok
Aku memeluknya dengan erat, ia meringis menahan nikmat yang kubuat, kubalikan badannya sehingga kini aku lebih leluasa menggenjotnya, ia nampak pasrah dengan permainanku, delapan menit telah berlalu, sekarang aku mengganti posisiku, doggy style, gaya yang menjadi andalanku, ia tahu aku menyukainya, Roby terus berceracau dengan kata-kata sompralnya.
“Fuck me, bitch!, come on, fuck me!”
Aku semakin bersemangat, dan tanpa berlama-lama aku mengganti posisiku kembali, kuangkat tubuhnya dan kini sambil berdiri aku memompanya, uh, permainan ini semakin kasar, ku tampar pantatnya, kucium buas bibirnya, kini aku mengalahkan kebuasannya. Peluh kami saling menyatu, nafas kami kini seirama, kujatuhkan lagi ia ke kasur, dan ku buka kakinya, kutusuk lagi anusnya dengan buas, aku memompanya semakin cepat dan cepat, rupanya ia sudah tak kuat lagi, dan...
“Ah... gue keluar....”
Crot crot crot
Ia menumpahkan laharnya ke perutnya sendiri, aku tersenyum puas melihatnya sudah orgasme terlebih dulu, kini giliranku, aku pompa dengan cepat dan kulepas penisku dari anusnya.
Crot crot crot
Tumpah sudah penisku menyatu dengan penisnya.
Kini aku ambruk menindihnya, ia tertawa melihat reaksiku, dan aku ikut tertawa dalam pelukannya.
&&&
Keesokan paginya aku langsung pulang ke rumah Erin, kulihat Erin sedang memasak bersama Bastian, melihatku baru pulang ia langsung menghampiriku. Ia mengikutiku masuk ke dalam kamar.
“Kemana aja semalam?” tanyanya sambil membanting pintu.
“Main,” jawabku singkat. Aku langsung tiduran di kasur.
“ML?”
“Nggak.”
“Terus jalan sama siapa? Kenapa HP gak diaktifin?”
“Batrenya abis,” jawabku asal.
Ia menghampiriku dan mengambil ponselku, dinyalakan ponselnya dan ternyata batrenya masih ada sisa enam puluh persen.
“Bohong! ML ama cowok mana lagi, lo?”
“Udahlah, gue capek, ngantuk, bisa kita bahas ini nanti?”
“Gak, gue butuh penjelasan ini sekarang!” teriaknya. Ia tak memedulikan kalau nanti Erin mendengar pertengkaran ini.
“Mau lo apa sih? Mau cari ribut sama gue?”
“Lo yang bikin gue kaya gini.”
“Emangnya kenapa kalau gue jalan sama temen gue? Masalah buat lo?”
“Jelas ini masalah gue, lo itu cowok gue dan gue berhak nanya masalah ini.”
“Lo masih pacar gue belum jadi istri gue, kita belum terlalu terikat!”
“Oh gitu, jadi lo maunya kaya gitu?”
“Lo gak berhak mengekang kehidupan gue, kita ini masih pacaran belum menikah, pacaran aja lo udah kaya gini gimana nanti kalau kita sampe nikah!”
“Gue udah cukup sabar ngadepin tingkah lo yang semakin dingin ke gue, sebenernya apa salah gue, Cas sampe lo tega giniin gue,” kini air mata Sebastian tak dapat di bendung lagi.
“Jangan cengeng, deh, kaya banci tau tingkah lo!”
“Terus mau lo apa, mau gantungin gue kaya gini terus, iya?”
Aku beranjak dan hendak akan keluar dari kamar, tapi tangannya memegang tangaku erat. “Please, jangan tinggalin gue, gue sayang banget sama lo, Cast,” ujarnya disela tangisannya.
“Lo mau tau kenapa gue kaya gini? Gue jenus Bas, jenus sama hubungan ini,” kataku dengan penuh penekanan, ia menangis tersedu-sedu, aku terdiam, menarik nafas dan menghebuskannya pelan. “Gue butuh waktu buat sendiri, lepasin gue!”
Akhirnya dengan berat hari Bastian melepaskan pegangan tangannya dan aku segera keluar dari kamar.
Aku keluar kamar dan kulihat Erin terdiam menatapku, kemudian ia berbalik arah dan pergi menuju dapur. Saat ini aku tak memedulikan kalau Erin adalah sahabatku lagi, ini bukan urusannya dan ia tak berhak ikut campur masalahku.
&&&
Sudah tiga hari aku tak kembali ke rumah Erin, sekarang aku kembali tinggal di rumahku. Aku bersiap-siap akan pergi ke kampus, dan kulihat sebuah motor mio menghadangku. Sebastian.
“Castro, kita mesti bicara.”
“Apa lagi yang harus dibicarakan?”
Sebentar aja,” ajaknya.
“Gue ada kuliah!”
“Gue mau lo balik lagi ke rumah, kita selesaikan ini di rumah, gue tunggu lo di rumah sore ini, ya? Please.”
Aku terdiam sesaat.
“Please.”
“Ok, tapi gue gak janji.” Aku segera menyalakan mesin motorku dan pergi meninggalkan dia sendiri.
Matahari sudah menunjukan kegagahannya, dan kini ia hendak beranjak menuju negara lain untuk menerangi. Sore ini aku dapat SMS dari Roby, ia mengajakku untuk menonton film di bioskop, langsung aku iyakan tanpa berpikir panjang lagi.
Malamnya ia kembali menginap di rumahku, kami kembali bercinta dengan buas dan mesra, aku sudah benar-benar tergila-gila dengan pria ini, bagiku ia sangat seksi dan setiap kali melihatnya, aku selalu terangsang.
Keesokan harinya ketika aku sudang makan di kantin kampus, seseorang menghampiriku.
“Cast, kenapa lo gak dateng?” tanya Bastian.
“Gue lupa,” jawabku asal.
“Terus mau kapan kita ngebahas tentang kita?”
“Ssssttt, jangan kenceng-kenceng, bego! Lo mau semua orang denger tentang kita?”
Sekarang ia duduk di hadapanku, memakai kemeja biru kotak-kotak yang dimasukan ke dalam, serta kacamata tebalnya yang tak pernah lepas.
“Ok gue pelanin suara gue, terus mau kapan kita ngebahas ini? Jangan gantungin gue kaya gini, gue butuh kepastian,” ujarnya dan langsung menunduk.
“Ini bukan waktu yang tepat untuk ngebahas ini, masih banyak waktu, bro!”
“Gue udah gak punya waktu lagi buat diperlakukan kaya gini, gue capek, Cast, capek. Mungkin lo emang biasa-biasa aja dengan semua ini, tapi ini gue, gue yang diperlakukan gak adil sama lo.”
“Ssstttt jangan kenceng-kenceng, lo tuh norak tau gak? Biasa aja ngomongnya gak usah kaya gitu, keliatan banget homonya kalau lo bersikap kaya gitu!”
“Gue gak peduli, lo sendiri yang udah ngancurin gue, yang udah buat gue kaya gini, lo harus tanggungjawab, Cast.”
“Tanggungjawab? Emangnya lo cewek yang udah gue pake terus hamil dan minta pertanggungjawaban? Sadar, Bas, lo itu cowok, cowok gak akan keliatan meski udah sering ML juga.”
Tiba-tiba seseorang datang. “Ada apa Cast, oh, hai Bas, tumben lo ada di kantin?” tanya Roby.
“Kita cabut aja, yuk, gue udah gak betah diem di sini,” ajak Castro kepada Roby.
Akupun pergi meninggalkan Sebastian yang termenung menatap kami berdua.
&&&
Pagi. Siang. Sore. Malam. Sebastian terus meneleponku, aku mulai jengah dengan tingkahnya seperti itu, tapi apa mau dikata, aku malas bila harus ketemu dengan dia.
Aku terbangun dalam pelukan Roby karena mendengar suara ketukan pintu, aku melangkah menuju pintu masuk hanya dengan mengenakan celana kolor, kubuka pintu dan kulihat Bastian sudah ada di depan pintu.
“Gue tau lo selingkuh dengan si Roby, gue cuman mau bilang, kita akhiri aja hubungan ini, kita putus!”
Aku terdiam, melihat dia seperti itu terbesit rasa kasihan kepadanya.
“Tadinya gue pikir hubungan kita masih bisa lanjut, gue masih sayang lo, Cast, you are my first love, dan gue juga tadinya berharap lo yang akan bilang putus meski sakit gue ngedengernya, tapi rupanya lo lebih pengecut dari gue, untuk bilang putus aja lo gak bisa. Maaf kalau selama ini gue ganggu hidup lo, maaf juga kalau selama dua tahun ini gue sering bikin lo repot,” ia berbalik badan dan melangkah pergi, tiba-tiba saja dia terhenti, dan kembali kepadaku. “Please give me a hug fot the last time.” Ketika ia semakin mendekatiku, dari belakang ada yang memelukku.
“Hai Bas, tumben lo main ke sini?”
Ia menatap kami dalam duka, aku sangat kasihan melihatnya seperti itu, Sebastian akhirnya pergi dari mataku.
Aku masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang serba salah, aku tahu ia pasti sangat sakit diperlakukan seperti ini. Rasa bersalah kini menjalar dalam benakku.
&&&
Kini aku menjalin hubungan dengan Roby, sudah tiga minggu lamanya, sekarang aku tak pernah bertegur sapa dengannya bahkan ketika kami berpas-pasan di jalan, buka hanya Sebastian dengan sahabatku juga sama, Erin, hubungan kami semakin dingin dan aku sedikit tersiksa dibuatnya, karena hanya dengan Erin lah aku biasanya mencurahkan isi hatiku, menumpahkan emosiku, menangis bersamanya, tertawa dan bercanda.
Kulihat Erin sedang asik mengobrol bersama dengan teman-temannya yang lain, aku menghampirinya.
“Hai Rin, bisa kita bicara sebentar?”
Ia menatapku dengan penuh kebencian. Kemudian ia beranjak dan pergi meninggalkanku, aku mengejarnya dan kutarik tangannya.
“Rin, please, kenapa lo dingin banget sama gue? Hubungan gue sama Bastian emang udah berakhir, tapi gue gak mau hubungan kita sebagai sahabat yang udah terjalin lama berakhir juga,” kataku.
“Gue udah bukan sahabat lo lagi!”
“Gue tau lo marah ke gue karena Sebatian keponakan lo, tapi lo gak berhak tau urusan gue dengannya apa.” Erin kembali berjalan. “Erin, beri kesempatan gue buat ngomong ini sama lo.”
Ia balik badan dan menatapku tajam. “Apa lo kasih kesempatan juga buat Bastian ngomong sama lo? Nggak, kan?” ia langsung pergi tanpa menatapku. Aku termenung dibuatnya.
&&&
Minggu pagi ini aku berencana untuk mencuci motorku, dan ketika aku sedang asik dengan motorku, kulihat sebuah mobil berhenti di pekarangan rumahku. Erin keluar dan membuka bagasi mobilnya, kemudian mengambil beberapa dus dan menaruhnya di hadapanku.
“Ini barang-barang lo, Bastian sendiri yang minta kegue buat balikin barang-barang lo yang ada di rumah gue. Ok, kayaknya udah semua, bye.”
Aku hanya terpana menatapnya masuk ke dalam mobil tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Lalu kuangkat barang-barang yang ada di dalam dus dan kumasukan ke dalam ruang tamu. Kubuka dus itu, kulihat tumpukan bajuku lengkap dengan celana dalam ada di sana, kurapikan baju-bajuku kembali ke dalam lemari baju, kemudian aku membuka dus yang ke dua, rupanya di dus yang kedua, adalah peralatan olah ragaku, jam tangan, topi, asbak, dan kulihat tersimpan dipaling dasar adalah album, aku yakin ini adalah album kami, foto-foto kami berdua.
Kubuka album merah itu, kulihat banyak sekali fotoku bersamanya, foto ketika aku sedang tidur, foto kita tertidur berdua, foto ketika kita liburan, dan foto ketika kami berciuman yang sengaja Bastian abadikan untuk mengenang betapa kami saling mencintai dulu. Tiba-tiba hatiku bergetar, sakit menyayat hatiku, tanpa sadar air mataku mengalir, menetes, membasahi foto itu.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Namanya Sebastian 5 ini dipublish oleh Unknown pada hari 28 Desember 2014. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Namanya Sebastian 5
 

0 komentar:

Posting Komentar