Namanya Sebastian 1



Aku merindukan saat-saat bersamanya, merindukan setiap tarikan nafasnya, senyumnya, candanya, bahkan dalam diamnya, sifatnya yang ramah dan sedikit pemalu adalah daya tarik tersendiri bagiku. Ah, entahlah, mengapa aku sampai tega hati untuk meninggalkannya. Aku bukan pria yang baik, terlalu berengsek untuknya, namun aku tak memungkiri, kalau aku masih mencintainya, kejenuhanku akan dirinya memang tak beralaskan, hanya didasari hubungan yang statis, membuat diriku rela membuatnya sakit dan terluka.

Kalian pasti bingung, apa yang sedang aku bicarakan, aku menceritakan tentang seorang pria, tapi aku bukan wanita, aku adalah pria, pria yang menyukai pria. Kalau di zaman sekarang orang memanggil hubunganku ini adalah GAY atau HOMOSEKSUAL, tapi apa dikata, dari dulu, aku tak pernah tertarik dengan yang namanya lawan jenis. Apa salah? Entahlah, pandangan agama tentu menganggap ini salah, tapi mengapa Tuhan memberikan cinta kepada yang salah, Tuhan sendiri yang memberikan cinta, bukan untuk satu orang dan tak pernah berkata tentang apa jenis yang harus disukai, jadi, aku tak mempermasalahkan tentang statusku ini, meski banyak yang mencemoohku, aku tak akan pernah peduli, bagiku, cinta adalah cinta, untuk siapa saja tanpa mengenal jenis kelamin.
Kembali kepada pria pujaan hati ini, dia adalah orang teristimewa bagiku, meski entah kapan lagi aku bisa memilikinya. Apa kalian ingin mendengar kisahku? Kuharap begitu, karena aku menceritakan kisah ini memang untuk kalian, kalian yang memang sama sepertiku, yang sepandangan denganku, meski aku tahu ada banyak diantara kalian yang masih takut dan terikat oleh satu nama agama. Aku tak ingin membuat kalian tersesat, kalau menurut kalian salah, jangan diteruskan membacanya, aku yakin ketika kalian melanjutkan paragraf demi paragraf kisah ini, kalian akan semakin terjerumus. Jadi, bagi yang sepemikiran, merapat, dan lekaslah mengambil kopi hangat sembari menahan diri untuk bermain tangan yang hanya bertahan beberapa detik dan lemas, hahahaha... kalian pasti mengerti apa maksud dari ucapanku itu, kan? Karena kalian lebih pintar dariku.
&&&
Bumi tak lagi menampakan cahaya aslinya, kegelapan sudah menyelimuti kota ini, udara dingin dan lembab diiringi gemercik hujan yang rintik membuatku sebenarnya malas untuk pergi kemana-mana. Tapi, apa mau dikata, sahabatku, Erin, sedang berulang tahun, memang rumahnya tak terlalu jauh, hanya melewati beberapa desa, aku sudah sampai di rumahnya. Ia adalah satu-satunya gadis cantik sekaligus sahabat terbaik yang menerima kekuranganku apa adanya, aku tahu dulu Erin pernah menyukaiku, tapi semenjak aku bilang tentang orientasi seksualku yang berbeda, membuatnya memilih untuk menjadi sahabatku.
Motor kesayanganku sudah kuparkir di depan rumah Erin, ramai sekali di dalam, rupanya pesta sudah mulai.
“Hai, Rin, sorry gue telat, tadi ujan gede, jadi kepending, deh, kesininya.”
“Gak apa-apa Cast, yang penting lo dateng, kalo nggak gue pasti marah besar, dan lo gak akan gue anggep sahabat lagi!”
“Iya nyonya cantik, eh, happy birthday ya?” ucapku seraya memberikan sebuah kado kecil untuknya.
“Wah, thanks, ya, ininya apa ini?”
“Nanti aja bukanya, biar surprise.”
“Ah, lo gitu deh, pokoknya thank banget ya, my best!”
“Yoi.”
“Eh, ngomong-ngomong si Erick dateng, gak?”
“Kenapa? Lo mau jadian lagi sama dia? Gak akan mau lah, orang dia benci banget sama lo. Tapi, dia udah ngucapin ultah kok, tadi siang di bbm.”
“Ah lo gitu banget, sih, ama sahabat sendiri. Lo tau sendiri, kan, gue paling gak bisa liat cowok bening dikit, bawaannya pengen ngajak dia ke kasur mulu,” kataku becanda.
“Najis lo, hahaha...” kemudian Erin nampak celingukan mencari-cari seseorang. “Eh, ikut gue, yuk, gue mau kenalin lo ke sodara gue, dia juga gay loh, siapa tau kalau lo jadian sama sodara gue lo bakanal insyaf.”
“Cakep gak?
“Very! Ayo ikut gue!”
Akhirnya aku dipaksa ikut oleh Erin ke lantai atas. “Bas, Bas, lo dimana, Bas?”
“Di sini, Rin,” teriak seseorang di atas.
Sebelumnya, aku akan menceritakan sedikit tentang Erin. Dia adalah anak tunggal, orang tuanya bekerja di Jakarta dan dia tinggal sendiri di Bogor. Saat ini Erin dan aku kuliah di kampus yang sama tapi beda Jurusan. Aku di Jurusan Sastra Inggris, sedangkan Erin di Jurusan Ekonomi. Dulunya Erin tinggal bersama kedua orang tuanya, tapi setelah lulus SMA ia pindah ke Bogor, alasannya, sih, sedikit aneh, ia hanya ingin mencari suasana baru, padahal kalau menurutku, Erin memang ingin selalu bersamaku, Aku dulu adalah tetangga sekaligus teman SMA, kita sudah dekat sejak pertama kali masuk sekolah, seperti yang sudah aku bilang, ia menyukaiku, makanya kemanapun aku berada dia ingin selalu bersama.
“Oh, di sini rupanya, lo, Bas, nih, kenalin sahabat, gue, namanya Castro.”
Pria itu sedang asyik membaca buku ketika aku dan Erin menghampirinya, di lantai tiga yang dibuat khusus untuk bersantai, terdapat, sebuah rumput buatan, agar suasananya seperti rumput, dan ayunan gantung, serta tempat duduk santai. Memang rumah Erin ini rumah paling bagus diantara rumah-rumah yang lain. Kemudian pria itu menutup bukunya, ia tersenyum menatapku. Wajahnya sangat tampan, meski ketampanannya kurang begitu terlihat karena ia mengenakan kacamata bulat dengan rambut ke samping rapih, tapi karena aku sudah sangat berpengalaman dengan banyak pria, jadi aku tahu, kalau pria ini di make over, akan terlihat ketampanannya.
“Sebastian,” ujarnya ramah seraya menjulurkan tangan.
Aku terpaku, pria ini sangat tampan, dan aku yakin inilah akhir pencarianku selama ini. “Castro, gue Castro,” kataku membalas jabat tangannya.
“Em, maaf, bisa dilepas tangannya?” kata Sebastian keheranan.
“Oh, ah, ya, sorry, sorry,” kataku gugup.
“Tuh, kan bener kata gue,” tukas Erin, “oh, ya, Bastian sekarang ini tinggal sama gue, dia baru masuk kuliah, di kampus kita, Cast.”
“Jurusan apa?” tanyaku kepada Sebastian.
Ia kembali tersenyum, ah, senyumannya sangat melegakan jiwaku.
“Dia ngambil sastra Inggris juga, sama kaya lo.”
“Oh, sastra Inggris, sama dong, ya,” aku mencoba mendekatinya. “Nanti kalau ada apa-apa seputar mata kuliah nanya aja sama gue, kalo bisa gue bantu, ok?”
Iya kembali tersenyum sambil menunduk.
“Yaelah, gue dikacangin, yaudah, kalian ngobrol-ngobrol aja, dulu, ya, gue mau ke bawah, siapa tau si Edrick dateng.”
Aku mentapa Erin, memberi kode kepadanya agar dia segera pergi dari sana.
“Lo suka sastra juga, ya?”
Ia mengangguk.
“Ati-ati, loh, walaupun keliatannya kaya yang gampang, tapi sastra Inggris lebih susah, dosen-dosennya juga pada killer, lo harus hati-hati.” aku duduk di sampingnya.
“BTW lo dulunya tinggal di mana Bas?”
“Makasar,” ujarnya pelan. Ia kembali membuka bukunya.
“Romeo and Juliet, William Shakespeare, lo suka karya-karyanya dia?”
Ia kembali mengangguk. “Selain Romeo dan Juliet, lo tau karya-karya dia yang lain, gak?”
“Macbeth, King Lear, Hamlet, Othello, Titus Andronicus, Julius Caesar, Antony and Cleoparta, dan masih banyak lagi, kalau itu karyanya dari segi tragedi, kalau komedi, puisi dan sejarah masih banyak lagi.”
“Wow, lo pinter, juga, ya? Kalau biografinya?”
“Lo nguji gue?”
“Will see.”
“William Shakespeare lahir pada tanggal 26 April 1564, di Statford-upon-Avon, Warwickshire, Inggris, orang tuanya adalah pengusaha sarung tangan yang cukup sukses bernama John Shakespeare dan Mary Arden, beliau hidup di zaman Renaisans, yaitu abad ke 15 hingga 17 dimana minat terhadap seni, musik dan arsitektur sedang dibangkitkan kembali, ia menikah dengan Anne Hathaway pada 28 November 1582 dan dikaruniai tiga orang anak , yaitu Susanna, dan kembar Hamnet dan Judith.”
“Ok, ok, cukup, lo emang jago kalau ditanya tentang Shakespeare, em, ngomong-ngomong lo udah punya pacar?”
Ia menatapku tajam, kemudian menunduk. “Kenapa lo nanya itu?”
“Ah, em, nggak kenapa-napa, sih, yah, penasaran aja, cowok seganteng lo pasti pacarnya banyak, ya?”
Ia tersenyum sinis. “Gue gak punya pacar dan belum pernah pacaran. Lagian gue orang baru di sini, niatnya mau kuliah bukan mau pacaran.”
“Kalau... gue suka sama lo, boleh?”
Ia terkejut dengan ucapanku, “your gay?”
Aku tersenyum. “Yeah, and I know you same as mine.”
“Maksud lo?”
“Gue tau kalau lo juga gay, jadi... lo mau jadi pacar gue?”
Ia berdiri, “maaf kayaknya gue tidur duluan, udah ngantuk.” Tanpa persetujuan dariku, ia langsung pergi. Ah, pria seperti ini yang membuatku penasaran.
“Bas, Bas, tunggu, Bas!” aku memegang tangannya.
“Ada apa lagi?”
“Lo marah sama gue?”
“Nggak!”
“Bohong!”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Tanya sama diri lo sendiri!” ia melepaskan pegangan tanganku.
“Bas, tunggu!”
“Apa lagi, sih?”
“Gue minta maaf.”
“Udah gue maafin.”
“Really?”
“In your dream!”
“Oh, come on, Bas...”
Sebastian membuka sebuah kamar dan ketika ia hendak menutup pintunya, aku menahan dan mendorongnya, entah setan apa yang merasukiku saat itu, aku benar-benar ingin  memilikinya malam ini.
“Cast, keluar!” bentak Bas kepadaku.
“Bas, gue, kan cuman pengen ngobrol aja sama lo, kok lo dingin gitu, sih, sama gue?”
“Lo mabok, ya?”
“Nggak.”
“Iya, lo mabok, cepet keluar!” bentaknya lagi.
“Gue gak mabok, kalau lo gak percaya, coba sini lo cium mulut gue!” aku mendekatinya, ia mundur ke belakang. “Cium!” kataku ketika jarak sudah semakin dekat. Ia nampak ketakutan, tangannya bergetar. Wajah kami saling berpandangan, kupegang dadanya, terasa jantungnya berdetak kencang. Kemudian aku pegang lehernya, dan sesaat kemudian aku langsung melumat habis bibirnya. Ia mencoba menolak ciumanku yang mendadak itu dan mendorongku jauh. Ia mengusap bibirnya sambil meneteskan air mata.
“Oh, oh, Bas, maafin gue, gue tadi kalap, gue minta maaf, ya?”
“Keluar....” katanya lirih.
“Ok, ok, gue keluar sekarang, maafin, gue, ya?”
Tanpa diminta lagi aku langsung keluar kamar dan meninggalkannya yang diam termenung di sana.
Apa yang telah aku lakukan? Aku membuatnya takut, harusnya aku bisa mengontrol emosiku, uh, kalau begini bagaimana aku bisa memilikinya? Batinku kesal.
“Hei, Cast, gimana?” tanya Erin.
“Rin, gue minta maaf, ya, si Bas marah sama gue.”
“Eh? Kok bisa?”
“Iya, tadi, gue cium dia.”
“Wah, gila lo, ya? Baru kenal udah berani sosor-sosor gitu, terus di mana dia sekarang?”
“Di kamarnya, tadi dia nangis, aduh Rin, gue jadi serba salah, nih.”
“Ah, lo sih! Makanya nafsu itu dikontrol, jadinya gini, kan, sodara gue yang jadi korban.”
“Iya, gue minta maaf.”
“Ya, jangan ke gue, lah. Tuh ngomong langsung ke dianya.”
“Udah, tapi dia nyuruh gue keluar.”
“Yaudahlah, ya, mau gimana lagi coba sekarang? Toh udah terlanjur, tapi awas, kalo lo masih mau deketin dia, coba yang lembut, jangan pake cara lo yang kasar kaya ke yang lain. Dia itu sensitif.”
Aku mengangguk saja mendengar ceramah dari Erin, walau aku tahu yang Erin katakan itu benar, tapi entah mengapa aku selalu tidak pernah bisa berubah, aku terlalu menggebu-gebu bila melihat pria tampan.
&&&
Mataku terbuka ketika kudengar suara ponsel berbunyi, walau setengah malas, tapi tetap aku angkat telepon yang ternyata dari instruktur fitnessku.
“Iya, bang, ada apa?” tanyaku malas.
“Kamu di mana? Gak akan latihan hari ini? abang udah tunggu kamu dari tadi, loh.”
“Emangnya sekarang jam berapa, bang?”
“Waduh, rupanya kamu baru bangun, toh, sekarang sudah jam sepuluh, ayo cepat ke sini, kita latihan bareng-bareng.”
“Iya, iya, bawel om ganteng!” ucapku seraya mematikan ponsel.
Saat ini, sebenarnya aku sedang dekat juga dengan seorang pria, instruktur baru di tempat fitness baruku, walaupun sudah berkepala empat, Dadang nama instrukturku itu masih saja terlihat awet muda, dia sampai saat ini masih belum menikah, katanya menikah itu tak terlalu penting, asalkan bisa membuat orang lain bahagia, baginya sudah cukup. Tapi, kalau menurutku semua ucapannya itu bullshit! Ah, bilang saja kalau dia ‘Maho’.
Satu jam  kemudian aku sudah sampai di tempat fitnessku, ia langsung menghampiriku ketika melihatku berjalan ke ruangan.
“Malam ini kita jalan, yuk?” ajaknya sambil menyalamiku.
“Kemana?”
“Nonton film baru?”
“Ogah!”
“Apa kita dugem aja?”
“Gak!”
“Galak amat, sih? Terus maunya apa?”
Aku menaruh bagku kedalam locker dan berbalik menatapnya.
“Gue mau abang sepong kontol gue, sekarang!”
“Sekarang?”
“Iya, sekarang, gimana?”
“Wah, di mana, di sini rame banget!”
“Tuh, di gudang.”
“Beneran?”
“Iya, kalau gak mau, gue gak mau ketemu lagi sama abang, gue bakalan pindah tempat fitness lagi.”
Bang Dadang sedikit khawatir mendengar ucapanku barusan. “Abang, sih, mau aja, tapi resikonya gede, Cast, nanti malem aja, ya, di rumah abang?”
“Oh, ok, kalau gitu gue balik aja!” ancamku seraya kembali membuka locker dan mengambil bagku.
“Eh, eh, mau kemana?”
“Ya, baliklah, ngapain juga gue di sini kalau abang gak mau muasin gue.”
“Iya, deh, iya, tapi ke dalamnya sendiri-sendiri, ya? Kamu dulu.”
Aku mengangguk. Kemudian aku pergi ke gudang yang berada di samping toilet.
Selang beberapa menit, ia datang, ah, pria matang ini benar-benar masih polos, meski sudah berumur, tapi dia masih bisa saja di ancam olehku yang usianya jauh di atasku. Tanpa pikir panjang aku langsung membuka celana dan celana dalamku yang masih layu, bang Dadang sedikit ngiler melihat burungku yang panjang meski lemas.
“Ayo, siap!”
Setelah mendapatkan persetujuan dariku, tidak berlama-lama lagi ia sudah berada di depan burungku, kemudian, ia memegangnya, menjilatinya, dan memasukan batangku ke dalam mulutnya yang kecil. Ia sangat menikmati setiap inci dari batangku yang kini mulai mengeras. Setelah puas memainkan lolipopnya, kini ia beralih ke buah jakarku yang menggelantung indah bersemu merah kecoklatan. Dihisapnya dengan lihai sehingga aku menggelinjang keenakan.
“Ah, terus bang, gue paling suka hisapan lo, lo emang is the best!”
“Oh, kontol lo emang enak, ini kontol terenak yang pernah gue isep,” ujarnya berkicau.
Masih dengan hisapannya, tangannya yang lain lihat mengusap-usap pantatku, dan masuk ke dalam anusku, di tekannya anusku pelan-pelan, hal ini membuatku sedikit berkeringat.
“Iya, bang, terus, ah, gila, enak banget!”
Kemudian ia bangkit, “sssstttttt.... jangan berisik nanti orang-orang pada curiga!” Ujarnya seraya melumat bibirku yang semu kemerahan. Kembali ia turun ke bawah dan menjilati senti demi senti bagian selangkanganku, diperlakukan seperti itu, membuatku semakin bernafsu. Setelah itu, ia kembali konsentrasi kepada penisku yang sudah berdenyut kencang, bibirnya yang kecil semakin di persempit oleh himpitan bibirnya, sehingga aku samkin tak bisa menahan air kenikmatanku yang akan segera keluar.
“Sial! Enak banget, bang, uh... gue gak guat bang, ah, gue mau keluar! Di keluarin di dalem aja, ya, bang?”
Ia mengangguk tanda setuju, beberapa menit kemudian, lahar panas itu akhirnya keluar.
“Ah.... Ah.... Uh.... ehm....”
Syuuup syuuup
Bang Dadang meminum semua air kenikmatanku tanpa ada yang tersisa, bahkan ia tak membiarkan setetespun menempel di batang penisku.
“Hah... hah... hah... thanks, bang,” kataku seraya pencium pipinya. Kemudian aku memakai kembali celanaku dan pergi keluar.
“Eh, Cast, gak latihan?” tanya bang Dadang.
“Udah, ah, nanti lagi aja,” jawabku sambil tersenyum meninggalkannya.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Namanya Sebastian 1 ini dipublish oleh Unknown pada hari 28 Desember 2014. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Namanya Sebastian 1
 

0 komentar:

Posting Komentar