Aku
merindukan saat-saat bersamanya, merindukan setiap tarikan nafasnya, senyumnya,
candanya, bahkan dalam diamnya, sifatnya yang ramah dan sedikit pemalu adalah
daya tarik tersendiri bagiku. Ah, entahlah, mengapa aku sampai tega hati untuk meninggalkannya.
Aku bukan pria yang baik, terlalu berengsek untuknya, namun aku tak memungkiri,
kalau aku masih mencintainya, kejenuhanku akan dirinya memang tak beralaskan,
hanya didasari hubungan yang statis, membuat diriku rela membuatnya sakit dan terluka.
Kalian
pasti bingung, apa yang sedang aku bicarakan, aku menceritakan tentang seorang
pria, tapi aku bukan wanita, aku adalah pria, pria yang menyukai pria. Kalau di
zaman sekarang orang memanggil hubunganku ini adalah GAY atau HOMOSEKSUAL, tapi
apa dikata, dari dulu, aku tak pernah tertarik dengan yang namanya lawan jenis.
Apa salah? Entahlah, pandangan agama tentu menganggap ini salah, tapi mengapa
Tuhan memberikan cinta kepada yang salah, Tuhan sendiri yang memberikan cinta,
bukan untuk satu orang dan tak pernah berkata tentang apa jenis yang harus
disukai, jadi, aku tak mempermasalahkan tentang statusku ini, meski banyak yang
mencemoohku, aku tak akan pernah peduli, bagiku, cinta adalah cinta, untuk
siapa saja tanpa mengenal jenis kelamin.
Kembali
kepada pria pujaan hati ini, dia adalah orang teristimewa bagiku, meski entah
kapan lagi aku bisa memilikinya. Apa kalian ingin mendengar kisahku? Kuharap
begitu, karena aku menceritakan kisah ini memang untuk kalian, kalian yang
memang sama sepertiku, yang sepandangan denganku, meski aku tahu ada banyak
diantara kalian yang masih takut dan terikat oleh satu nama agama. Aku tak
ingin membuat kalian tersesat, kalau menurut kalian salah, jangan diteruskan
membacanya, aku yakin ketika kalian melanjutkan paragraf demi paragraf kisah
ini, kalian akan semakin terjerumus. Jadi, bagi yang sepemikiran, merapat, dan
lekaslah mengambil kopi hangat sembari menahan diri untuk bermain tangan yang
hanya bertahan beberapa detik dan lemas, hahahaha... kalian pasti mengerti apa
maksud dari ucapanku itu, kan? Karena kalian lebih pintar dariku.
&&&
Bumi tak
lagi menampakan cahaya aslinya, kegelapan sudah menyelimuti kota ini, udara
dingin dan lembab diiringi gemercik hujan yang rintik membuatku sebenarnya
malas untuk pergi kemana-mana. Tapi, apa mau dikata, sahabatku, Erin, sedang
berulang tahun, memang rumahnya tak terlalu jauh, hanya melewati beberapa desa,
aku sudah sampai di rumahnya. Ia adalah satu-satunya gadis cantik sekaligus
sahabat terbaik yang menerima kekuranganku apa adanya, aku tahu dulu Erin
pernah menyukaiku, tapi semenjak aku bilang tentang orientasi seksualku yang
berbeda, membuatnya memilih untuk menjadi sahabatku.
Motor
kesayanganku sudah kuparkir di depan rumah Erin, ramai sekali di dalam, rupanya
pesta sudah mulai.
“Hai, Rin,
sorry gue telat, tadi ujan gede, jadi kepending, deh, kesininya.”
“Gak apa-apa
Cast, yang penting lo dateng, kalo nggak gue pasti marah besar, dan lo gak akan
gue anggep sahabat lagi!”
“Iya nyonya
cantik, eh, happy birthday ya?” ucapku seraya memberikan sebuah kado kecil
untuknya.
“Wah,
thanks, ya, ininya apa ini?”
“Nanti aja
bukanya, biar surprise.”
“Ah, lo gitu
deh, pokoknya thank banget ya, my best!”
“Yoi.”
“Eh,
ngomong-ngomong si Erick dateng, gak?”
“Kenapa? Lo
mau jadian lagi sama dia? Gak akan mau lah, orang dia benci banget sama lo.
Tapi, dia udah ngucapin ultah kok, tadi siang di bbm.”
“Ah lo gitu
banget, sih, ama sahabat sendiri. Lo tau sendiri, kan, gue paling gak bisa liat
cowok bening dikit, bawaannya pengen ngajak dia ke kasur mulu,” kataku becanda.
“Najis lo,
hahaha...” kemudian Erin nampak celingukan mencari-cari seseorang. “Eh, ikut
gue, yuk, gue mau kenalin lo ke sodara gue, dia juga gay loh, siapa tau kalau
lo jadian sama sodara gue lo bakanal insyaf.”
“Cakep gak?
“Very! Ayo
ikut gue!”
Akhirnya aku
dipaksa ikut oleh Erin ke lantai atas. “Bas, Bas, lo dimana, Bas?”
“Di sini,
Rin,” teriak seseorang di atas.
Sebelumnya,
aku akan menceritakan sedikit tentang Erin. Dia adalah anak tunggal, orang
tuanya bekerja di Jakarta dan dia tinggal sendiri di Bogor. Saat ini Erin dan
aku kuliah di kampus yang sama tapi beda Jurusan. Aku di Jurusan Sastra
Inggris, sedangkan Erin di Jurusan Ekonomi. Dulunya Erin tinggal bersama kedua
orang tuanya, tapi setelah lulus SMA ia pindah ke Bogor, alasannya, sih,
sedikit aneh, ia hanya ingin mencari suasana baru, padahal kalau menurutku,
Erin memang ingin selalu bersamaku, Aku dulu adalah tetangga sekaligus teman
SMA, kita sudah dekat sejak pertama kali masuk sekolah, seperti yang sudah aku
bilang, ia menyukaiku, makanya kemanapun aku berada dia ingin selalu bersama.
“Oh, di sini
rupanya, lo, Bas, nih, kenalin sahabat, gue, namanya Castro.”
Pria itu
sedang asyik membaca buku ketika aku dan Erin menghampirinya, di lantai tiga
yang dibuat khusus untuk bersantai, terdapat, sebuah rumput buatan, agar
suasananya seperti rumput, dan ayunan gantung, serta tempat duduk santai.
Memang rumah Erin ini rumah paling bagus diantara rumah-rumah yang lain.
Kemudian pria itu menutup bukunya, ia tersenyum menatapku. Wajahnya sangat
tampan, meski ketampanannya kurang begitu terlihat karena ia mengenakan
kacamata bulat dengan rambut ke samping rapih, tapi karena aku sudah sangat
berpengalaman dengan banyak pria, jadi aku tahu, kalau pria ini di make over,
akan terlihat ketampanannya.
“Sebastian,”
ujarnya ramah seraya menjulurkan tangan.
Aku terpaku,
pria ini sangat tampan, dan aku yakin inilah akhir pencarianku selama ini.
“Castro, gue Castro,” kataku membalas jabat tangannya.
“Em, maaf,
bisa dilepas tangannya?” kata Sebastian keheranan.
“Oh, ah, ya,
sorry, sorry,” kataku gugup.
“Tuh, kan
bener kata gue,” tukas Erin, “oh, ya, Bastian sekarang ini tinggal sama gue,
dia baru masuk kuliah, di kampus kita, Cast.”
“Jurusan
apa?” tanyaku kepada Sebastian.
Ia kembali
tersenyum, ah, senyumannya sangat melegakan jiwaku.
“Dia ngambil
sastra Inggris juga, sama kaya lo.”
“Oh, sastra
Inggris, sama dong, ya,” aku mencoba mendekatinya. “Nanti kalau ada apa-apa
seputar mata kuliah nanya aja sama gue, kalo bisa gue bantu, ok?”
Iya kembali tersenyum
sambil menunduk.
“Yaelah, gue
dikacangin, yaudah, kalian ngobrol-ngobrol aja, dulu, ya, gue mau ke bawah,
siapa tau si Edrick dateng.”
Aku mentapa
Erin, memberi kode kepadanya agar dia segera pergi dari sana.
“Lo suka
sastra juga, ya?”
Ia mengangguk.
“Ati-ati,
loh, walaupun keliatannya kaya yang gampang, tapi sastra Inggris lebih susah,
dosen-dosennya juga pada killer, lo harus hati-hati.” aku duduk di sampingnya.
“BTW lo
dulunya tinggal di mana Bas?”
“Makasar,”
ujarnya pelan. Ia kembali membuka bukunya.
“Romeo and
Juliet, William Shakespeare, lo suka karya-karyanya dia?”
Ia kembali
mengangguk. “Selain Romeo dan Juliet, lo tau karya-karya dia yang lain, gak?”
“Macbeth,
King Lear, Hamlet, Othello, Titus Andronicus, Julius Caesar, Antony and
Cleoparta, dan masih banyak lagi, kalau itu karyanya dari segi tragedi, kalau
komedi, puisi dan sejarah masih banyak lagi.”
“Wow, lo
pinter, juga, ya? Kalau biografinya?”
“Lo nguji
gue?”
“Will see.”
“William
Shakespeare lahir pada tanggal 26 April 1564, di Statford-upon-Avon,
Warwickshire, Inggris, orang tuanya adalah pengusaha sarung tangan yang cukup
sukses bernama John Shakespeare dan Mary Arden, beliau hidup di zaman
Renaisans, yaitu abad ke 15 hingga 17 dimana minat terhadap seni, musik dan
arsitektur sedang dibangkitkan kembali, ia menikah dengan Anne Hathaway pada 28
November 1582 dan dikaruniai tiga orang anak , yaitu Susanna, dan kembar Hamnet
dan Judith.”
“Ok, ok,
cukup, lo emang jago kalau ditanya tentang Shakespeare, em, ngomong-ngomong lo
udah punya pacar?”
Ia menatapku
tajam, kemudian menunduk. “Kenapa lo nanya itu?”
“Ah, em,
nggak kenapa-napa, sih, yah, penasaran aja, cowok seganteng lo pasti pacarnya
banyak, ya?”
Ia tersenyum
sinis. “Gue gak punya pacar dan belum pernah pacaran. Lagian gue orang baru di
sini, niatnya mau kuliah bukan mau pacaran.”
“Kalau...
gue suka sama lo, boleh?”
Ia terkejut
dengan ucapanku, “your gay?”
Aku
tersenyum. “Yeah, and I know you same as mine.”
“Maksud lo?”
“Gue tau
kalau lo juga gay, jadi... lo mau jadi pacar gue?”
Ia berdiri,
“maaf kayaknya gue tidur duluan, udah ngantuk.” Tanpa persetujuan dariku, ia
langsung pergi. Ah, pria seperti ini yang membuatku penasaran.
“Bas, Bas,
tunggu, Bas!” aku memegang tangannya.
“Ada apa
lagi?”
“Lo marah
sama gue?”
“Nggak!”
“Bohong!”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Tanya sama
diri lo sendiri!” ia melepaskan pegangan tanganku.
“Bas,
tunggu!”
“Apa lagi,
sih?”
“Gue minta
maaf.”
“Udah gue
maafin.”
“Really?”
“In your
dream!”
“Oh, come
on, Bas...”
Sebastian
membuka sebuah kamar dan ketika ia hendak menutup pintunya, aku menahan dan
mendorongnya, entah setan apa yang merasukiku saat itu, aku benar-benar
ingin memilikinya malam ini.
“Cast,
keluar!” bentak Bas kepadaku.
“Bas, gue,
kan cuman pengen ngobrol aja sama lo, kok lo dingin gitu, sih, sama gue?”
“Lo mabok,
ya?”
“Nggak.”
“Iya, lo
mabok, cepet keluar!” bentaknya lagi.
“Gue gak
mabok, kalau lo gak percaya, coba sini lo cium mulut gue!” aku mendekatinya, ia
mundur ke belakang. “Cium!” kataku ketika jarak sudah semakin dekat. Ia nampak
ketakutan, tangannya bergetar. Wajah kami saling berpandangan, kupegang
dadanya, terasa jantungnya berdetak kencang. Kemudian aku pegang lehernya, dan
sesaat kemudian aku langsung melumat habis bibirnya. Ia mencoba menolak
ciumanku yang mendadak itu dan mendorongku jauh. Ia mengusap bibirnya sambil
meneteskan air mata.
“Oh, oh,
Bas, maafin gue, gue tadi kalap, gue minta maaf, ya?”
“Keluar....”
katanya lirih.
“Ok, ok, gue
keluar sekarang, maafin, gue, ya?”
Tanpa
diminta lagi aku langsung keluar kamar dan meninggalkannya yang diam termenung
di sana.
Apa yang
telah aku lakukan? Aku membuatnya takut, harusnya aku bisa mengontrol emosiku,
uh, kalau begini bagaimana aku bisa memilikinya? Batinku kesal.
“Hei, Cast,
gimana?” tanya Erin.
“Rin, gue
minta maaf, ya, si Bas marah sama gue.”
“Eh? Kok
bisa?”
“Iya, tadi,
gue cium dia.”
“Wah, gila
lo, ya? Baru kenal udah berani sosor-sosor gitu, terus di mana dia sekarang?”
“Di
kamarnya, tadi dia nangis, aduh Rin, gue jadi serba salah, nih.”
“Ah, lo sih!
Makanya nafsu itu dikontrol, jadinya gini, kan, sodara gue yang jadi korban.”
“Iya, gue
minta maaf.”
“Ya, jangan
ke gue, lah. Tuh ngomong langsung ke dianya.”
“Udah, tapi
dia nyuruh gue keluar.”
“Yaudahlah,
ya, mau gimana lagi coba sekarang? Toh udah terlanjur, tapi awas, kalo lo masih
mau deketin dia, coba yang lembut, jangan pake cara lo yang kasar kaya ke yang
lain. Dia itu sensitif.”
Aku
mengangguk saja mendengar ceramah dari Erin, walau aku tahu yang Erin katakan
itu benar, tapi entah mengapa aku selalu tidak pernah bisa berubah, aku terlalu
menggebu-gebu bila melihat pria tampan.
&&&
Mataku
terbuka ketika kudengar suara ponsel berbunyi, walau setengah malas, tapi tetap
aku angkat telepon yang ternyata dari instruktur fitnessku.
“Iya, bang,
ada apa?” tanyaku malas.
“Kamu di
mana? Gak akan latihan hari ini? abang udah tunggu kamu dari tadi, loh.”
“Emangnya
sekarang jam berapa, bang?”
“Waduh,
rupanya kamu baru bangun, toh, sekarang sudah jam sepuluh, ayo cepat ke sini,
kita latihan bareng-bareng.”
“Iya, iya,
bawel om ganteng!” ucapku seraya mematikan ponsel.
Saat ini,
sebenarnya aku sedang dekat juga dengan seorang pria, instruktur baru di tempat
fitness baruku, walaupun sudah berkepala empat, Dadang nama instrukturku itu
masih saja terlihat awet muda, dia sampai saat ini masih belum menikah, katanya
menikah itu tak terlalu penting, asalkan bisa membuat orang lain bahagia,
baginya sudah cukup. Tapi, kalau menurutku semua ucapannya itu bullshit! Ah,
bilang saja kalau dia ‘Maho’.
Satu
jam kemudian aku sudah sampai di tempat
fitnessku, ia langsung menghampiriku ketika melihatku berjalan ke ruangan.
“Malam ini
kita jalan, yuk?” ajaknya sambil menyalamiku.
“Kemana?”
“Nonton film
baru?”
“Ogah!”
“Apa kita
dugem aja?”
“Gak!”
“Galak amat,
sih? Terus maunya apa?”
Aku menaruh
bagku kedalam locker dan berbalik menatapnya.
“Gue mau
abang sepong kontol gue, sekarang!”
“Sekarang?”
“Iya,
sekarang, gimana?”
“Wah, di
mana, di sini rame banget!”
“Tuh, di
gudang.”
“Beneran?”
“Iya, kalau
gak mau, gue gak mau ketemu lagi sama abang, gue bakalan pindah tempat fitness
lagi.”
Bang Dadang
sedikit khawatir mendengar ucapanku barusan. “Abang, sih, mau aja, tapi
resikonya gede, Cast, nanti malem aja, ya, di rumah abang?”
“Oh, ok,
kalau gitu gue balik aja!” ancamku seraya kembali membuka locker dan mengambil
bagku.
“Eh, eh, mau
kemana?”
“Ya,
baliklah, ngapain juga gue di sini kalau abang gak mau muasin gue.”
“Iya, deh,
iya, tapi ke dalamnya sendiri-sendiri, ya? Kamu dulu.”
Aku
mengangguk. Kemudian aku pergi ke gudang yang berada di samping toilet.
Selang
beberapa menit, ia datang, ah, pria matang ini benar-benar masih polos, meski
sudah berumur, tapi dia masih bisa saja di ancam olehku yang usianya jauh di
atasku. Tanpa pikir panjang aku langsung membuka celana dan celana dalamku yang
masih layu, bang Dadang sedikit ngiler melihat burungku yang panjang meski
lemas.
“Ayo, siap!”
Setelah
mendapatkan persetujuan dariku, tidak berlama-lama lagi ia sudah berada di
depan burungku, kemudian, ia memegangnya, menjilatinya, dan memasukan batangku
ke dalam mulutnya yang kecil. Ia sangat menikmati setiap inci dari batangku
yang kini mulai mengeras. Setelah puas memainkan lolipopnya, kini ia beralih ke
buah jakarku yang menggelantung indah bersemu merah kecoklatan. Dihisapnya
dengan lihai sehingga aku menggelinjang keenakan.
“Ah, terus
bang, gue paling suka hisapan lo, lo emang is the best!”
“Oh, kontol
lo emang enak, ini kontol terenak yang pernah gue isep,” ujarnya berkicau.
Masih dengan
hisapannya, tangannya yang lain lihat mengusap-usap pantatku, dan masuk ke
dalam anusku, di tekannya anusku pelan-pelan, hal ini membuatku sedikit
berkeringat.
“Iya, bang,
terus, ah, gila, enak banget!”
Kemudian ia
bangkit, “sssstttttt.... jangan berisik nanti orang-orang pada curiga!” Ujarnya
seraya melumat bibirku yang semu kemerahan. Kembali ia turun ke bawah dan
menjilati senti demi senti bagian selangkanganku, diperlakukan seperti itu,
membuatku semakin bernafsu. Setelah itu, ia kembali konsentrasi kepada penisku
yang sudah berdenyut kencang, bibirnya yang kecil semakin di persempit oleh himpitan
bibirnya, sehingga aku samkin tak bisa menahan air kenikmatanku yang akan
segera keluar.
“Sial! Enak
banget, bang, uh... gue gak guat bang, ah, gue mau keluar! Di keluarin di dalem
aja, ya, bang?”
Ia
mengangguk tanda setuju, beberapa menit kemudian, lahar panas itu akhirnya
keluar.
“Ah....
Ah.... Uh.... ehm....”
Syuuup
syuuup
Bang Dadang
meminum semua air kenikmatanku tanpa ada yang tersisa, bahkan ia tak membiarkan
setetespun menempel di batang penisku.
“Hah...
hah... hah... thanks, bang,” kataku seraya pencium pipinya. Kemudian aku
memakai kembali celanaku dan pergi keluar.
“Eh, Cast,
gak latihan?” tanya bang Dadang.
“Udah, ah,
nanti lagi aja,” jawabku sambil tersenyum meninggalkannya.


0 komentar:
Posting Komentar