Love of Enemy 7



Sudah beberapa hari setelah kejadian di rumah Lukman kami menjadi jarang menyapa, bukan hanya menyapa, bahkan aku sengaja untuk menghindari kontak mata dengannya. Ketika aku kumpul bersama teman-teman yang lain, ia tidak ikut kumpul, begitupun ketika ia ikut kumpul, aku tidak ikut. Akhirnya masalah ini tercium juga oleh Alatas, karena ia yang sedikit tahu tentang cerita kami.

“Bro, pokoknya gue gak mau tahu, malam minggu ini gue pengen kita kumpul semua, ngertikan maksud gue?”
Aku hanya mengangguk sambil terus sibuk dengan PC di depanku.
“Sebenernya lo ada masalah apa lagi sih ama si Luke? Perasaan kemaren-kemaren lo akrab-akrab aja sama dia, kenapa tiba-tiba jadi jaga jarak gini?”
“Gak ada apa-apa, kok. Ya, kebetulan aja pas gue kumpul dia gak ada dan sebaliknya.”
“Heh! Gue ini bukan anak kecil yang bisa lo boongin ya, kenapa gue nanya kaya gini karena gue tahu pas lo tatap muka sama dia, lo langsung berpaling pandang, ya, sama aja kaya si Luke, padahal kalian itu kan satu divisi.”
“Masa sih?” tanyaku asal.
“Ah! Yaudahlah kalau lo gak mau cerita ke gue. Tapi gue cuman mau ngingetin lo aja, ya, malam minggu ini kita semuanya kumpul, tanpa terkecuali, ini juga berlaku buat Luke, gue udah ngomong ama dia.” Alatas pun pergi meninggalkanku yang sengaja masih mengacuhkannya.
&&&
Sabtu sore aku sengaja mengulur waktu, aku bilang kepada Alatas kalau aku akan datang terlambat, alasannya aku harus membeli sesuatu yang penting untuk ibuku. Motor Mio yang sudah menjadi teman akrabku semasa sekolah tak pernah kutinggalkan, aku melajukan motor itu pergi entah ke mana, bingung, tapi aku juga tak ingin berlama-lama kumpul bersama mereka, apalagi ada Lukman.
Tanpa aku sadar rupanya aku sudah ada di daerah Setiabudi dan malangnya nasibku karena rupanya di sana ada rajia kendaraan bermotor. Otomatis motorku yang memang tak memenuhi standar keamanan diberhentikan oleh salah seorang polisi dengan kumis dan wajah yang menyeramkan.
“Selamat sore, pak, bapak tahu kesalahan bapak?” tanya polisi tersebut.
“Iya, saya tahu, motorku ini tak ada kaca spion dan lampunya di matikan,” jawabku sedikit malas.
“Bapak tahu kalau.... bla bla bla bla bla bla bla....”
Panjang lebar si polisi menyeramkan ini menceramahiku tentang keamanan dan konsekwensi yang terjadi dan segala macam aturan jalan raya. Aku yang malas menanggapi hanya mengangguk-angguk malas saja.
“Bapak mendengarkan saya tidak, sih?” katanya kesal karena melihatku yang seperti acuh tak acuh kepadanya.
“Iya, saya mendengarkan, jadi bagaimana, damai? Mau berapa?” tanyaku lagi dengan sedikit kesal.
“Maksud bapak apa? Bapak mau nyuap saya?”
“Loh, memang biasanya begitu, kan? Saya tidak mau ribet jadi lebih baik damai saja!”
“Heh! Saya tidak terima, ya, bapak menyamakan saya dengan polisi lain...bla bla bla bla....”
Akhirnya aku yang kesal hanya mengambil dompet dan mengeluarkan uang tiga ratus ribu.
“Bagaimana, segini cukup?” kataku sambil menyerahkan uang ke tangannya?”
Akhirnya polisi itu naik pitam dan melemparkan uang yang sudah ada di tangannya ke wajahku. Aku yang tak menerima atas perlakuan polisi itu mendorongnya, ia balas mendorongku, dan beberapa detik kemudian kami sudah saling baku hantam. Polisi yang melihat kami adu jotos langsung memisahkan kami berdua. Akhirnya karena aku tak memiliki kawan yang bisa membelaku, aku di bawa ke kantor polisi.
Di sana aku ditanyai apa permasalahan sampai aku bisa ribut dengan polisi tersebut. Secara bertubi-tubi mereka menanyakan dan sekaligus menyalahkanku, aku hanya diam saja tak bergeming. Sampai setengah jam kemudian dari belakangku muncul seseorang yang aku kenal.
“Ada apa ini?”
“Ini pak, orang ini tadi melawan saat ada razia kendaraan bermotor dan berkelahi dengan pak Usup...bla bla bla bla...”
“Eh, Gery, aku kenal orang ini, biar dia saya yang tangani saja, dan buat pak Usup kalau ada kerugian apa-apa tinggal bilang saja kepadaku,” katanya sambil membawaku masuk ke ruangannya.
Aku masih terdiam tak ingin bicara apapun.
“Sebenarnya ada masalah apa, sih, Ger sampai kamu bisa ribut kaya gitu?” tanya Yudha sambil menyimpan gelas yang berisi air putih ke hadapanku. Aku masih diam tak menghiraukan. “Kalau kau terus diam begini aku tidak bisa membantumu,”
Aku menatapnya sinis. “Gue gak perlu bantuan lo!”
Yudha terdiam kemudian tersenyum lepas. “Sebenarnya lo kenapa sih, kayaknya gak suka banget sama gue? Apa lo suka juga sama si Luke?”
“Najis!”
“Terus kalau najis kenapa lo benci ama gue?”
“Gue udah duga, kemampuan bahasa lo emang kurang, perasaan gue punya masalah sama si kumis itu deh, kenapa lo yang ikut campur?”
“Hem, kalau kasus sudah gue yang pegang tandanya kasus itu bahaya, ya, kapan saja gue kalau mau bisa bikin lo masuk ke dalam penjara, Ger. Untungnya gue kenal lo karena lo temennya pacar gue, kalau lo bukan siapa-siapa sih gue gak jamin.”
Tiba-tiba ponsel yang ada di mejanya berbunyi, aku menatap sekilas ke arah layar ponsel tersebut dan mendapati yang memanggilnya adalah ‘mamah’ ah, mungkin itu istrinya kemudian ia segera ambil dan pergi dari hadapanku.
Lima menit kemudian ia kembali dan menatapku lekat.
“Sebenernya pertama kali gue liat kalian berdua, gue lebih tertarik sama lo, walaupun bisa dibilang tubuhnya si Luke lebih bagus dari lo, tapi entah kenapa gue lebih horny kalau liat lo, ah, sayangnya lo munafik sih.”
“Apa maksud lo?”
“Iya, lo tuh homo yang munafik, si Luke udah cerita banyak ke gue, termasuk kejadian pas kalian hilang itu, hem, si Luke itu cinta mati sama gue, Ger!”
“Jadi lo cuman manfaatin dia doang?”
“Dibilang manfaatin sih nggak, cuman kalau lo mau ama gue, gue rela, kok, putus sama si Luke demi lo.”
“Gila ya, lo? Heh, bukannya lo udah punya istri, mau bilang apa kalau sampai istri lo tahu kalau suami tercinta yang gagah perkasanya ini homo?”
“Itu bukan urusan lo!”
Tiba-tiba ia beranjak berdiri, aku kira ia akan keluar dan segera menjebloskanku ke dalam penjara, tapi tanpa di duga rupanya ia berdiri di belakangku dan membekam mulutku dengan saputangan yang di masukan obat bius, tanpa perlawanan akupun langsung tak sadarkan diri.
&&&
Mataku terbuka dengan pelan, udara menusuk ke dalam tulangku, sesaat aku berpikir kalau aku masih berada di hutan, namun ketika kesadaranku sudah semakin pulih rupanya aku ada di sebuah ruangan, kedua tangan dan kakiku terikat di sebuah kasur besar, tempat ini seperti hotel, ada TV di depan tempat tidur dan beberapa lemari kecil dan lemari baju berada di sana. Dan, hawa dingin yang semula aku kira udara dari hutan rupanya adalah udara dari AC.
Tiba-tiba pintu terbuka, meski ada cahaya lampu, tapi cahaya itu tidak dapat menjangkau tubuh dari orang yang datang mendekat ke arahku. Hingga ternyata kini aku tahu, rupanya orang itu adalah Yudha, ia tersenyum sambil membawa beberapa kantung plastik.
“Hai seksi, rupanya lo udah bangun, gue bawain beberapa suplement penambah gairah untuk permainan kita nanti, lo seneng, kan?”
“Heh, anjing! Apa-apaan lo? Lepasin gue, gak!” bentakku.
“Uuuu. Takut... tapi tenang aja, mau lo teriak sekencang-kencangnya juga, gak akan ada yang bisa mengedenger suara lo, jadi mendingan hemat aja suara lo buat nanti kita bercinta, gimana?”
“Tai, lo!”
Kemudian dia duduk di sampingku, membuka kedua sepatunya dan rebahan di sampingku.
“Gue udah lama banget bisa menantikan semua ini, coba aja kalau lo mau ama gue, jadi gak akan begini akhirnya.”
“Lepasin gue, Yud, please, ok, ok, gue minta maaf ke lo karena gue udah jahat sama lo, kita bisa bicarain ini baik-baik, kok, mau ya?”
“Aduh ini kok ganteng-genteng bego, ya? Mana bisa gue percaya gitu aja sama lo? Pokoknya malam ini kita bakalan seneng-seneng, sayang.”
Kemudian dengan sekejap ia memelukku, mencium pipiku dan beralih ke leherku, aku yang tak bisa apa-apa hanya pasrah saja diperlakukan seperti ini olehnya. Kemudian ia bangkit dan membuka baju dinasnya, melepas semua baju, dan kini giliran celananya yang sedang ia buka. dalam beberapa detik celana itu sudah terbuka, badannya yang sixpack semakin terlihat di cahaya lampu kamar temaram. Kini ia hanya mengenakan celana dalam saja.
Yudha sudah benar-benar tidak memiliki pikiran yang waras lagi, kini ia sedang asyik mempermainkan putingku, kontan saja aku yang belum siap diperlakukan seperti itu hanya bisa menggeliat geli campur enak, meski aku mencoba untuk tidak menikmatinya, tapi rupanya tubuhku berkata lain, perlakuannya terhadap putingku penisku naik seketika dan mengenai perutnya yang berada tepat di atasnya. Ia menatap penisku dan kini menatapku sambil tersenyum. “Lo horny juga akhirnya, hahaha... jadi sekarang gue tau dimana titik rangsang tubuh lo, gimana, mau gue makan habis sekarang kontol lo?”
“Anjing lo!”
Ia tak mempedulikan cacianku, ia benar-benar sibuk menjilati senti demi senti bagian tubuhku, dari ujung rambut sampai ujung kaki dijilatnya habis. Setelah dirasa sudah cukup, kini ia mulai kedaerah vital, penisku. “Uh, aku selama ini hanya menghayal bisa melakukan ini, tapi kini benda yang membuatku beberapa hari ini tak bisa tidur ada di hadapanku, tegak, mengkilat, besar dab berotot, sesuai dengan imajinasiku selama ini. beruntung sekali si Luke bisa mencicipi kontol ini?”
Dan, tanpa persetujuan dariku, ia mulai melumat penisku dengan ganas, liar dan berpengalaman, aku hanya bisa terengah-engah dan mendesah. Sebenarnya batiku benar-benar tersiksa, aku tak ingin menikmati permainan ini tapi apa daya, tubuhku justru sangat menikmatinya. “Uh...Ah...Yud... Yudha, please... please... jangan....”
Kurang dari tiga menit, ia masih sibuk bermain dengan lolipop barunya, aku sudah tak tahan lagi. “Yud, gue gak kuat Yud...”
Akhirnya ia menghentikan permainannya, perbuatannya ini membuat penisku menjadi serba salah, nikmat yang tanggung.
“Lo suka sama isepan gue Ger? Tapi gue gak mau permainan ini berakhir secepat itu. Gue juga pengen ngerasain kontol lo ada di anus gue, kayaknya enak tuh.”
“Please Yud sudahi semua ini, gue minta maaf kalau selama ini gue salah...”
Yudha kini membuka celana dalamnya, terlihat nyata penisnya yang besar dan mengkilat, bercampur dengan pecum yang sudah terlebih dahulu menempel di celana dalamnya. Kemudian ia mengambil sesuatu dari kantung plastik yang ia bawa. Rupanya sebuah pelumas, dibukanya pelumas itu dan ia balurkan keseluruh batang penisku, tak lupa anusnyapun ia masukan pelumas.
Kini ia berada di atasku, ia berjongkok dan memegang penisku agar masuk tepat kelubang kenikmatannya. Dan, dalam hitungan detik rudalku sudah masuk dengan sempurna ke anusnya. Kulihat wajahnya terpejam menahan sakit, tapi selanjutnya terbuka dan sekarang ia sudah menaik turunkan pantatnya perlahan.
“Gila, enak banget kontol lo Ger...”
Aku yang sudah mulai terhanyut kini hanya bisa menikmati permainan ini, sejuta kali aku memaksa penisku untuk tidak terbawa permainan tetap saja tidak bisa. Aku pasrah sekaligus menikmati permainan ini. Sekarang ia hanya menaik turunkan pantatnya saja, dan bibirnya kini sedang sibuk menjilati kupingku, aku mencoba untuk berontak namun tak bisa, setiap hembusan nafasnya aku terhanyut dan semakin terangsang, permainan ini kuambil temponya. Kini aku yang bergerak memompa penisku, ia hanya diam sambil melumat habis mulutku, awalnya aku tak menanggapi ciuman ini, tapi karena menggebu-gebunya sehingga kini aku menanggapi dengan ganas.
Plok Plok Plok Plok
Suara perpaduan kulit Yudha dan kulitku menyatu terasa sangat merdu bagai mendengar simfoni indah. Semakin lama permainanku semakin cepat, peluh kami menyatu, aku tak mempedulikan meski sebenarnya aku adalah tawanannya, bagiku saat ini memuaskan nafsu binatangku ini.
“Yud, gue udah gak kuat...”
“Keluarin di dalam aja, sayang...”
Akhirnya mendapat persetujuan darinya air maniku tumpah di dalam perut Yudha, nafasku memburu kencang, begitupun ia, ia ambruk di tubuhku. Oh, aku benar-benar menikmati ini disetiap detiknya.
&&&
Aku terbangun ketika kudengar suara air, rupanya aku masih terikat, aku mencoba membuka ikatanku namun hasilnya nihil, ikatannya sangat kencang. Tak lama ia keluar dengan hanya mengenakan handuk putih melilit di perutnya.
“Lo udah bangun, gimana, apa lo menikmati permainan gue?” tanya Yudha sambil memegang daguku.
“Kalau bukan begini caranya gue gak akan pernah sudi bercinta sama lo, anjing!”
“Hem, sudah dikasih enak masih aja lo marah-marah, ingat ini baru sekali, gue masih belum puas sebelum lo bertekuk lutut sama gue, sayang.”
“Najis! Lepasin gue gak! Gue laporin polisi baru tahu rasa lo!”
Dengan seketika Yudha tertawa dan menepuk-nepuk pipiku pelan. “Lo lupa ya kalau gue itu polisi? Lo mau lapor ke gue? Yang ada nanti lo gue perkosa lagi, hahahaha!”
Deg! Ah aku lupa kalau dia adalah seorang polisi.
“”Yaudah, tadi kan gue udah muasin kontol lo, sekarang gue pengen nyobain pantat lo, hem, kayaknya masih sempit banget tuh.”
“Heh, anjing! Awas kalau lo berani nyodomi gue, lepasin gue bangsat!”
Sebisa mungkin aku menghindari pegangan tangannya ketika ia mulai duduk tepat di depan selangkanganku. Yudha mengolesi penisnya dengan pelumas. Ini mengerikan, benar-benar mengerikan! Batinku bergemuruh.
Aku berontak semampuku, namun ikatan ini benar-benar kuat dan kencang, aku tak bisa melarikan diri dari sini. Ketika jari Yudha memegang lubang anusku, jantungku seakan mau berhenti, takut dan panik menyatu jadi satu. Perlahan ia memasukan jarinya ke lubangku, sedikit perih, tapi aku tahan dan masih mencoba berontak, hingga akhirnya semua jarinya berhasil masuk.
Pasar dan tak nyaman terasa di lubang anusku. Ia mengeluarmasukan jarinya perlahan. Aku benar-benar tak menikmati apa yang ia lakukan padaku. Setelah dirasanya sudah cukup, ia kembali mengolesi penisnya dengan pelumas, dan tanpa perlawanan dariku, ia langsung menghantamkan penisnya masuk ke dalam anusku. Perih, sakit, dan panas menyatu, aku teriak sekencang-kencangnya agar orang lain bisa mendengarnya, tapi ternyata tak ada satupun orang yang datang menolong. Kini ia sudah mulai memaju-mundurkan penisnya perlahan, masih terasa sakit, aku benar-benar tidak bisa menikmati semua ini.
“Kau suka, hah?” tanya Yudha yang tersenyum senang setelah berhasil merenggut keperjakaan anusku.
“Najis! Sakit anjing!”
“Hahaha... ini baru awal, nikmati saja, nanti juga akan enak.”
Ia memegang lututku sambil terus memompa penisnya. Keringat sudah mengalir di tubuhnya. Kali ini aku memejamkan mata, mencoba untuk menahan sakit ini.
Sekitar lima belas menit, aku sudah tidak merasakan sakit, hanya linu saja, ia kini menindihku, menciumi putingku, oh, ia benar-benar ingin membuatku terangsang dan menikmati permainannya. Semakin lama permainannya sudah tak terkontrol, ia semakin gencar memompa penisnya tanpa memedulikanku yang menahan sakit. Kupikir ia akan mencapai klimaks.
Rupanya dugaanku salah, sampai tujuh menit berlalu aku tak merasakan cairan lengket itu membasahi anusku. Kini ia berganti posisi, di angkatnya tubuhku yang sudah lunglai dan kini aku terlentang di atasnya. Aku benar-benar diperlakukan seperti boneka seks yang tak bisa bergerak. Ia sibuk dengan mainannya sambil menciumi punggungku, air mataku jatuh berlinang, harga diriku benar-benar sudah hancur lebur olehnya. Kali ini aku hanya bisa menuruti apa maunya.
Setelah cukup lama, akhirnya lahar panas itupun tumpah memenuhi anusku, aku hanya bisa bernafas lega. Kemudian aku diturunkannya dan berbaring disampingnya, ia terus menciumi pipiku, menjilatnya sampai basah dan mencium bibirku yang statis tak bergerak.
Yudha kemudian bangkit, ia pergi ke kamar mandi dan kembali lagi dengan pakaian lengkap sambil senyum masih tersungging di wajahnya.
“Gue udah puas maen sama lo, lo bisa bebas sekarang.” Katanya sambil menyalakan sebatang rokok. “Tapi, awas kalau sampai lo bilang ke siapapun atas kejadian ini, gue gak akan segan-segan bikin keluarga lo ancur, lo sayangkan sama ibu dan adek lo?”
Aku terbelalak mendengar kata-katanya. Bagaimana ia tahu tentang keluargaku?
“Lo gak perlu tau, gue tau semua informasi ini dari siapa, yang terpenting sekarang, kalau lo gak bisa jaga mulut, ibu sama adek lo bakalan jadi korban, paham?”
Aku diam seribu bahasa sambil berlinang air mata. Mengapa semua ini harus terjadi kepadaku?
&&&
Aku terbangun, kali ini aku sudah ada di kamarku, di sana ada Alatas duduk di samping. Aku benar-benar tak ingat mengapa sudah bisa berada di kontrakanku lagi. Yang terakhir aku ingat, ketika pembicaraan itu, Yudha mendekatiku, mengusap air mataku, dan segalanya menjadi gelap.
“Lo udah sadar? Gimana keadaan lo?”
Aku celingukan. Tak lama Oki and the gank masuk ke kamarku.
“Syukurlah lo udah sadar juga, gue khawatir banget sama, lo, udah tiga hari lo gak ada kabar,” ujar Oki sambil menepuk-nepuk kakiku.
“Kok gue bisa ada di sini?” tanyaku heran.
“Iya, kemaren si Luke dapet telefon dari Yudha, katanya dia nemuin lo tergeletak di samping jalan. Dia pikir itu mayat, pas dilihat ternyata itu lo dan masih hidup. Untung lo gak kenapa-napa.” Gila! Dia benar-benar menipu semua orang tentang kehilanganku.
“Cerita dong kenapa lo bisa jadi gini, Ger?”
Aku terdiam sesaat, ingin rasanya aku menceritakan kejadian ini, namun kalau aku menceritakannya, nyawa keluargaku terancam. Akhirnya aku hanya menggeleng saja.
Tiba-tiba ponsel milik Oki berdering. “Gue keluar sebentar, ya?”
Alatas mengangguk. Kemudian ia menatapku.
“Ger, lo tau gak, ketika lo ilang, orang yang paling panik itu, ya si Luke. Dia nyari lo kemana-mana, sampe nanyain ke orang yang katanya temen lo, siapa ya namanya, eh Edi kalau gak salah.” Alatas diam sejenak. “Dan, pas akhirnya lo ketemu, si Luke juga orang yang paling seneng, bahkan dari kemaren dia terus yang jagain lo, sampe tiap istirahat kerja, dia pasti ke sini buat ngecek keadaan lo.”
“Terus gue mesti gimana? Jadian sama dia? Lo kan tau gue bukan.... dan,.... ah sudahlah.”
“Lo gak mesti jadi pacarnya, gue cuman minta sikap lo ke si Luke sedikit di rubah. Itu aja.”
“hm, gue coba.”
“Oh, ya, bentar lagi si Luke sama si Yudha dateng, katanya dia mau nanya-nanya seputar kejadian yang lo alamin.”
Seketika mataku terbelalak. “Yudha? Bro, please gue gak mau ketemu dulu sama polisi itu.”
“Emangnya kenapa?”
“Ah, em, eng, enggak, gue cuman... ya, lo tau sendiri kan kalau gue kurang suka sama polisi itu, please bilangin ke si Luke jangan bawa polisi itu, ya?”
“Lo cemburu?”
“Whatever apa kata lo, yang pasti gue gak mau ketemu dulu, ya?”
“Hm, Ok deh, gue sms si Luke ya?”
Aku mengangguk. Aku tak mengerti dengan apa yang direncanakan oleh Yudha, dia membuatku seperti ini dan bertingkah kalau dia tak bersalah. Dan, aku tak bisa berbuat apa-apa untuk membuat hidupku aman kali ini.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Love of Enemy 7 ini dipublish oleh Unknown pada hari 23 Desember 2014. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Love of Enemy 7
 

0 komentar:

Posting Komentar