Sudah
beberapa hari setelah kejadian di rumah Lukman kami menjadi jarang menyapa,
bukan hanya menyapa, bahkan aku sengaja untuk menghindari kontak mata
dengannya. Ketika aku kumpul bersama teman-teman yang lain, ia tidak ikut
kumpul, begitupun ketika ia ikut kumpul, aku tidak ikut. Akhirnya masalah ini
tercium juga oleh Alatas, karena ia yang sedikit tahu tentang cerita kami.
“Bro,
pokoknya gue gak mau tahu, malam minggu ini gue pengen kita kumpul semua,
ngertikan maksud gue?”
Aku
hanya mengangguk sambil terus sibuk dengan PC di depanku.
“Sebenernya
lo ada masalah apa lagi sih ama si Luke? Perasaan kemaren-kemaren lo
akrab-akrab aja sama dia, kenapa tiba-tiba jadi jaga jarak gini?”
“Gak
ada apa-apa, kok. Ya, kebetulan aja pas gue kumpul dia gak ada dan sebaliknya.”
“Heh!
Gue ini bukan anak kecil yang bisa lo boongin ya, kenapa gue nanya kaya gini
karena gue tahu pas lo tatap muka sama dia, lo langsung berpaling pandang, ya,
sama aja kaya si Luke, padahal kalian itu kan satu divisi.”
“Masa
sih?” tanyaku asal.
“Ah!
Yaudahlah kalau lo gak mau cerita ke gue. Tapi gue cuman mau ngingetin lo aja,
ya, malam minggu ini kita semuanya kumpul, tanpa terkecuali, ini juga berlaku
buat Luke, gue udah ngomong ama dia.” Alatas pun pergi meninggalkanku yang
sengaja masih mengacuhkannya.
&&&
Sabtu
sore aku sengaja mengulur waktu, aku bilang kepada Alatas kalau aku akan datang
terlambat, alasannya aku harus membeli sesuatu yang penting untuk ibuku. Motor
Mio yang sudah menjadi teman akrabku semasa sekolah tak pernah kutinggalkan,
aku melajukan motor itu pergi entah ke mana, bingung, tapi aku juga tak ingin
berlama-lama kumpul bersama mereka, apalagi ada Lukman.
Tanpa
aku sadar rupanya aku sudah ada di daerah Setiabudi dan malangnya nasibku
karena rupanya di sana ada rajia kendaraan bermotor. Otomatis motorku yang
memang tak memenuhi standar keamanan diberhentikan oleh salah seorang polisi
dengan kumis dan wajah yang menyeramkan.
“Selamat
sore, pak, bapak tahu kesalahan bapak?” tanya polisi tersebut.
“Iya,
saya tahu, motorku ini tak ada kaca spion dan lampunya di matikan,” jawabku
sedikit malas.
“Bapak
tahu kalau.... bla bla bla bla bla bla bla....”
Panjang
lebar si polisi menyeramkan ini menceramahiku tentang keamanan dan konsekwensi
yang terjadi dan segala macam aturan jalan raya. Aku yang malas menanggapi
hanya mengangguk-angguk malas saja.
“Bapak
mendengarkan saya tidak, sih?” katanya kesal karena melihatku yang seperti acuh
tak acuh kepadanya.
“Iya,
saya mendengarkan, jadi bagaimana, damai? Mau berapa?” tanyaku lagi dengan sedikit
kesal.
“Maksud
bapak apa? Bapak mau nyuap saya?”
“Loh,
memang biasanya begitu, kan? Saya tidak mau ribet jadi lebih baik damai saja!”
“Heh!
Saya tidak terima, ya, bapak menyamakan saya dengan polisi lain...bla bla bla
bla....”
Akhirnya
aku yang kesal hanya mengambil dompet dan mengeluarkan uang tiga ratus ribu.
“Bagaimana,
segini cukup?” kataku sambil menyerahkan uang ke tangannya?”
Akhirnya
polisi itu naik pitam dan melemparkan uang yang sudah ada di tangannya ke
wajahku. Aku yang tak menerima atas perlakuan polisi itu mendorongnya, ia balas
mendorongku, dan beberapa detik kemudian kami sudah saling baku hantam. Polisi
yang melihat kami adu jotos langsung memisahkan kami berdua. Akhirnya karena
aku tak memiliki kawan yang bisa membelaku, aku di bawa ke kantor polisi.
Di
sana aku ditanyai apa permasalahan sampai aku bisa ribut dengan polisi
tersebut. Secara bertubi-tubi mereka menanyakan dan sekaligus menyalahkanku,
aku hanya diam saja tak bergeming. Sampai setengah jam kemudian dari belakangku
muncul seseorang yang aku kenal.
“Ada
apa ini?”
“Ini
pak, orang ini tadi melawan saat ada razia kendaraan bermotor dan berkelahi
dengan pak Usup...bla bla bla bla...”
“Eh,
Gery, aku kenal orang ini, biar dia saya yang tangani saja, dan buat pak Usup
kalau ada kerugian apa-apa tinggal bilang saja kepadaku,” katanya sambil
membawaku masuk ke ruangannya.
Aku
masih terdiam tak ingin bicara apapun.
“Sebenarnya
ada masalah apa, sih, Ger sampai kamu bisa ribut kaya gitu?” tanya Yudha sambil
menyimpan gelas yang berisi air putih ke hadapanku. Aku masih diam tak
menghiraukan. “Kalau kau terus diam begini aku tidak bisa membantumu,”
Aku
menatapnya sinis. “Gue gak perlu bantuan lo!”
Yudha
terdiam kemudian tersenyum lepas. “Sebenarnya lo kenapa sih, kayaknya gak suka
banget sama gue? Apa lo suka juga sama si Luke?”
“Najis!”
“Terus
kalau najis kenapa lo benci ama gue?”
“Gue
udah duga, kemampuan bahasa lo emang kurang, perasaan gue punya masalah sama si
kumis itu deh, kenapa lo yang ikut campur?”
“Hem,
kalau kasus sudah gue yang pegang tandanya kasus itu bahaya, ya, kapan saja gue
kalau mau bisa bikin lo masuk ke dalam penjara, Ger. Untungnya gue kenal lo
karena lo temennya pacar gue, kalau lo bukan siapa-siapa sih gue gak jamin.”
Tiba-tiba
ponsel yang ada di mejanya berbunyi, aku menatap sekilas ke arah layar ponsel
tersebut dan mendapati yang memanggilnya adalah ‘mamah’ ah, mungkin itu
istrinya kemudian ia segera ambil dan pergi dari hadapanku.
Lima
menit kemudian ia kembali dan menatapku lekat.
“Sebenernya
pertama kali gue liat kalian berdua, gue lebih tertarik sama lo, walaupun bisa
dibilang tubuhnya si Luke lebih bagus dari lo, tapi entah kenapa gue lebih
horny kalau liat lo, ah, sayangnya lo munafik sih.”
“Apa
maksud lo?”
“Iya,
lo tuh homo yang munafik, si Luke udah cerita banyak ke gue, termasuk kejadian
pas kalian hilang itu, hem, si Luke itu cinta mati sama gue, Ger!”
“Jadi
lo cuman manfaatin dia doang?”
“Dibilang
manfaatin sih nggak, cuman kalau lo mau ama gue, gue rela, kok, putus sama si
Luke demi lo.”
“Gila
ya, lo? Heh, bukannya lo udah punya istri, mau bilang apa kalau sampai istri lo
tahu kalau suami tercinta yang gagah perkasanya ini homo?”
“Itu
bukan urusan lo!”
Tiba-tiba
ia beranjak berdiri, aku kira ia akan keluar dan segera menjebloskanku ke dalam
penjara, tapi tanpa di duga rupanya ia berdiri di belakangku dan membekam
mulutku dengan saputangan yang di masukan obat bius, tanpa perlawanan akupun
langsung tak sadarkan diri.
&&&
Mataku
terbuka dengan pelan, udara menusuk ke dalam tulangku, sesaat aku berpikir
kalau aku masih berada di hutan, namun ketika kesadaranku sudah semakin pulih
rupanya aku ada di sebuah ruangan, kedua tangan dan kakiku terikat di sebuah
kasur besar, tempat ini seperti hotel, ada TV di depan tempat tidur dan
beberapa lemari kecil dan lemari baju berada di sana. Dan, hawa dingin yang
semula aku kira udara dari hutan rupanya adalah udara dari AC.
Tiba-tiba
pintu terbuka, meski ada cahaya lampu, tapi cahaya itu tidak dapat menjangkau
tubuh dari orang yang datang mendekat ke arahku. Hingga ternyata kini aku tahu,
rupanya orang itu adalah Yudha, ia tersenyum sambil membawa beberapa kantung
plastik.
“Hai
seksi, rupanya lo udah bangun, gue bawain beberapa suplement penambah gairah
untuk permainan kita nanti, lo seneng, kan?”
“Heh,
anjing! Apa-apaan lo? Lepasin gue, gak!” bentakku.
“Uuuu.
Takut... tapi tenang aja, mau lo teriak sekencang-kencangnya juga, gak akan ada
yang bisa mengedenger suara lo, jadi mendingan hemat aja suara lo buat nanti
kita bercinta, gimana?”
“Tai,
lo!”
Kemudian
dia duduk di sampingku, membuka kedua sepatunya dan rebahan di sampingku.
“Gue
udah lama banget bisa menantikan semua ini, coba aja kalau lo mau ama gue, jadi
gak akan begini akhirnya.”
“Lepasin
gue, Yud, please, ok, ok, gue minta maaf ke lo karena gue udah jahat sama lo,
kita bisa bicarain ini baik-baik, kok, mau ya?”
“Aduh
ini kok ganteng-genteng bego, ya? Mana bisa gue percaya gitu aja sama lo?
Pokoknya malam ini kita bakalan seneng-seneng, sayang.”
Kemudian
dengan sekejap ia memelukku, mencium pipiku dan beralih ke leherku, aku yang
tak bisa apa-apa hanya pasrah saja diperlakukan seperti ini olehnya. Kemudian
ia bangkit dan membuka baju dinasnya, melepas semua baju, dan kini giliran
celananya yang sedang ia buka. dalam beberapa detik celana itu sudah terbuka,
badannya yang sixpack semakin terlihat di cahaya lampu kamar temaram. Kini ia
hanya mengenakan celana dalam saja.
Yudha
sudah benar-benar tidak memiliki pikiran yang waras lagi, kini ia sedang asyik
mempermainkan putingku, kontan saja aku yang belum siap diperlakukan seperti
itu hanya bisa menggeliat geli campur enak, meski aku mencoba untuk tidak
menikmatinya, tapi rupanya tubuhku berkata lain, perlakuannya terhadap putingku
penisku naik seketika dan mengenai perutnya yang berada tepat di atasnya. Ia
menatap penisku dan kini menatapku sambil tersenyum. “Lo horny juga akhirnya,
hahaha... jadi sekarang gue tau dimana titik rangsang tubuh lo, gimana, mau gue
makan habis sekarang kontol lo?”
“Anjing
lo!”
Ia
tak mempedulikan cacianku, ia benar-benar sibuk menjilati senti demi senti
bagian tubuhku, dari ujung rambut sampai ujung kaki dijilatnya habis. Setelah
dirasa sudah cukup, kini ia mulai kedaerah vital, penisku. “Uh, aku selama ini
hanya menghayal bisa melakukan ini, tapi kini benda yang membuatku beberapa
hari ini tak bisa tidur ada di hadapanku, tegak, mengkilat, besar dab berotot,
sesuai dengan imajinasiku selama ini. beruntung sekali si Luke bisa mencicipi
kontol ini?”
Dan,
tanpa persetujuan dariku, ia mulai melumat penisku dengan ganas, liar dan
berpengalaman, aku hanya bisa terengah-engah dan mendesah. Sebenarnya batiku
benar-benar tersiksa, aku tak ingin menikmati permainan ini tapi apa daya,
tubuhku justru sangat menikmatinya. “Uh...Ah...Yud... Yudha, please...
please... jangan....”
Kurang
dari tiga menit, ia masih sibuk bermain dengan lolipop barunya, aku sudah tak
tahan lagi. “Yud, gue gak kuat Yud...”
Akhirnya
ia menghentikan permainannya, perbuatannya ini membuat penisku menjadi serba
salah, nikmat yang tanggung.
“Lo
suka sama isepan gue Ger? Tapi gue gak mau permainan ini berakhir secepat itu.
Gue juga pengen ngerasain kontol lo ada di anus gue, kayaknya enak tuh.”
“Please
Yud sudahi semua ini, gue minta maaf kalau selama ini gue salah...”
Yudha
kini membuka celana dalamnya, terlihat nyata penisnya yang besar dan mengkilat,
bercampur dengan pecum yang sudah terlebih dahulu menempel di celana dalamnya.
Kemudian ia mengambil sesuatu dari kantung plastik yang ia bawa. Rupanya sebuah
pelumas, dibukanya pelumas itu dan ia balurkan keseluruh batang penisku, tak
lupa anusnyapun ia masukan pelumas.
Kini
ia berada di atasku, ia berjongkok dan memegang penisku agar masuk tepat
kelubang kenikmatannya. Dan, dalam hitungan detik rudalku sudah masuk dengan
sempurna ke anusnya. Kulihat wajahnya terpejam menahan sakit, tapi selanjutnya
terbuka dan sekarang ia sudah menaik turunkan pantatnya perlahan.
“Gila,
enak banget kontol lo Ger...”
Aku
yang sudah mulai terhanyut kini hanya bisa menikmati permainan ini, sejuta kali
aku memaksa penisku untuk tidak terbawa permainan tetap saja tidak bisa. Aku
pasrah sekaligus menikmati permainan ini. Sekarang ia hanya menaik turunkan
pantatnya saja, dan bibirnya kini sedang sibuk menjilati kupingku, aku mencoba
untuk berontak namun tak bisa, setiap hembusan nafasnya aku terhanyut dan
semakin terangsang, permainan ini kuambil temponya. Kini aku yang bergerak
memompa penisku, ia hanya diam sambil melumat habis mulutku, awalnya aku tak
menanggapi ciuman ini, tapi karena menggebu-gebunya sehingga kini aku
menanggapi dengan ganas.
Plok
Plok Plok Plok
Suara
perpaduan kulit Yudha dan kulitku menyatu terasa sangat merdu bagai mendengar
simfoni indah. Semakin lama permainanku semakin cepat, peluh kami menyatu, aku
tak mempedulikan meski sebenarnya aku adalah tawanannya, bagiku saat ini
memuaskan nafsu binatangku ini.
“Yud,
gue udah gak kuat...”
“Keluarin
di dalam aja, sayang...”
Akhirnya
mendapat persetujuan darinya air maniku tumpah di dalam perut Yudha, nafasku
memburu kencang, begitupun ia, ia ambruk di tubuhku. Oh, aku benar-benar
menikmati ini disetiap detiknya.
&&&
Aku
terbangun ketika kudengar suara air, rupanya aku masih terikat, aku mencoba
membuka ikatanku namun hasilnya nihil, ikatannya sangat kencang. Tak lama ia
keluar dengan hanya mengenakan handuk putih melilit di perutnya.
“Lo
udah bangun, gimana, apa lo menikmati permainan gue?” tanya Yudha sambil
memegang daguku.
“Kalau
bukan begini caranya gue gak akan pernah sudi bercinta sama lo, anjing!”
“Hem,
sudah dikasih enak masih aja lo marah-marah, ingat ini baru sekali, gue masih
belum puas sebelum lo bertekuk lutut sama gue, sayang.”
“Najis!
Lepasin gue gak! Gue laporin polisi baru tahu rasa lo!”
Dengan
seketika Yudha tertawa dan menepuk-nepuk pipiku pelan. “Lo lupa ya kalau gue
itu polisi? Lo mau lapor ke gue? Yang ada nanti lo gue perkosa lagi, hahahaha!”
Deg!
Ah aku lupa kalau dia adalah seorang polisi.
“”Yaudah,
tadi kan gue udah muasin kontol lo, sekarang gue pengen nyobain pantat lo, hem,
kayaknya masih sempit banget tuh.”
“Heh,
anjing! Awas kalau lo berani nyodomi gue, lepasin gue bangsat!”
Sebisa
mungkin aku menghindari pegangan tangannya ketika ia mulai duduk tepat di depan
selangkanganku. Yudha mengolesi penisnya dengan pelumas. Ini mengerikan,
benar-benar mengerikan! Batinku bergemuruh.
Aku
berontak semampuku, namun ikatan ini benar-benar kuat dan kencang, aku tak bisa
melarikan diri dari sini. Ketika jari Yudha memegang lubang anusku, jantungku
seakan mau berhenti, takut dan panik menyatu jadi satu. Perlahan ia memasukan
jarinya ke lubangku, sedikit perih, tapi aku tahan dan masih mencoba berontak,
hingga akhirnya semua jarinya berhasil masuk.
Pasar
dan tak nyaman terasa di lubang anusku. Ia mengeluarmasukan jarinya perlahan.
Aku benar-benar tak menikmati apa yang ia lakukan padaku. Setelah dirasanya
sudah cukup, ia kembali mengolesi penisnya dengan pelumas, dan tanpa perlawanan
dariku, ia langsung menghantamkan penisnya masuk ke dalam anusku. Perih, sakit,
dan panas menyatu, aku teriak sekencang-kencangnya agar orang lain bisa
mendengarnya, tapi ternyata tak ada satupun orang yang datang menolong. Kini ia
sudah mulai memaju-mundurkan penisnya perlahan, masih terasa sakit, aku
benar-benar tidak bisa menikmati semua ini.
“Kau
suka, hah?” tanya Yudha yang tersenyum senang setelah berhasil merenggut
keperjakaan anusku.
“Najis!
Sakit anjing!”
“Hahaha...
ini baru awal, nikmati saja, nanti juga akan enak.”
Ia
memegang lututku sambil terus memompa penisnya. Keringat sudah mengalir di
tubuhnya. Kali ini aku memejamkan mata, mencoba untuk menahan sakit ini.
Sekitar
lima belas menit, aku sudah tidak merasakan sakit, hanya linu saja, ia kini
menindihku, menciumi putingku, oh, ia benar-benar ingin membuatku terangsang
dan menikmati permainannya. Semakin lama permainannya sudah tak terkontrol, ia
semakin gencar memompa penisnya tanpa memedulikanku yang menahan sakit. Kupikir
ia akan mencapai klimaks.
Rupanya
dugaanku salah, sampai tujuh menit berlalu aku tak merasakan cairan lengket itu
membasahi anusku. Kini ia berganti posisi, di angkatnya tubuhku yang sudah
lunglai dan kini aku terlentang di atasnya. Aku benar-benar diperlakukan
seperti boneka seks yang tak bisa bergerak. Ia sibuk dengan mainannya sambil
menciumi punggungku, air mataku jatuh berlinang, harga diriku benar-benar sudah
hancur lebur olehnya. Kali ini aku hanya bisa menuruti apa maunya.
Setelah
cukup lama, akhirnya lahar panas itupun tumpah memenuhi anusku, aku hanya bisa
bernafas lega. Kemudian aku diturunkannya dan berbaring disampingnya, ia terus
menciumi pipiku, menjilatnya sampai basah dan mencium bibirku yang statis tak
bergerak.
Yudha
kemudian bangkit, ia pergi ke kamar mandi dan kembali lagi dengan pakaian
lengkap sambil senyum masih tersungging di wajahnya.
“Gue
udah puas maen sama lo, lo bisa bebas sekarang.” Katanya sambil menyalakan
sebatang rokok. “Tapi, awas kalau sampai lo bilang ke siapapun atas kejadian
ini, gue gak akan segan-segan bikin keluarga lo ancur, lo sayangkan sama ibu
dan adek lo?”
Aku
terbelalak mendengar kata-katanya. Bagaimana ia tahu tentang keluargaku?
“Lo
gak perlu tau, gue tau semua informasi ini dari siapa, yang terpenting
sekarang, kalau lo gak bisa jaga mulut, ibu sama adek lo bakalan jadi korban,
paham?”
Aku
diam seribu bahasa sambil berlinang air mata. Mengapa semua ini harus terjadi
kepadaku?
&&&
Aku
terbangun, kali ini aku sudah ada di kamarku, di sana ada Alatas duduk di
samping. Aku benar-benar tak ingat mengapa sudah bisa berada di kontrakanku
lagi. Yang terakhir aku ingat, ketika pembicaraan itu, Yudha mendekatiku,
mengusap air mataku, dan segalanya menjadi gelap.
“Lo
udah sadar? Gimana keadaan lo?”
Aku
celingukan. Tak lama Oki and the gank masuk ke kamarku.
“Syukurlah
lo udah sadar juga, gue khawatir banget sama, lo, udah tiga hari lo gak ada
kabar,” ujar Oki sambil menepuk-nepuk kakiku.
“Kok
gue bisa ada di sini?” tanyaku heran.
“Iya,
kemaren si Luke dapet telefon dari Yudha, katanya dia nemuin lo tergeletak di
samping jalan. Dia pikir itu mayat, pas dilihat ternyata itu lo dan masih
hidup. Untung lo gak kenapa-napa.” Gila! Dia benar-benar menipu semua orang
tentang kehilanganku.
“Cerita
dong kenapa lo bisa jadi gini, Ger?”
Aku
terdiam sesaat, ingin rasanya aku menceritakan kejadian ini, namun kalau aku
menceritakannya, nyawa keluargaku terancam. Akhirnya aku hanya menggeleng saja.
Tiba-tiba
ponsel milik Oki berdering. “Gue keluar sebentar, ya?”
Alatas
mengangguk. Kemudian ia menatapku.
“Ger,
lo tau gak, ketika lo ilang, orang yang paling panik itu, ya si Luke. Dia nyari
lo kemana-mana, sampe nanyain ke orang yang katanya temen lo, siapa ya namanya,
eh Edi kalau gak salah.” Alatas diam sejenak. “Dan, pas akhirnya lo ketemu, si
Luke juga orang yang paling seneng, bahkan dari kemaren dia terus yang jagain
lo, sampe tiap istirahat kerja, dia pasti ke sini buat ngecek keadaan lo.”
“Terus
gue mesti gimana? Jadian sama dia? Lo kan tau gue bukan.... dan,.... ah
sudahlah.”
“Lo
gak mesti jadi pacarnya, gue cuman minta sikap lo ke si Luke sedikit di rubah.
Itu aja.”
“hm,
gue coba.”
“Oh,
ya, bentar lagi si Luke sama si Yudha dateng, katanya dia mau nanya-nanya
seputar kejadian yang lo alamin.”
Seketika
mataku terbelalak. “Yudha? Bro, please gue gak mau ketemu dulu sama polisi
itu.”
“Emangnya
kenapa?”
“Ah,
em, eng, enggak, gue cuman... ya, lo tau sendiri kan kalau gue kurang suka sama
polisi itu, please bilangin ke si Luke jangan bawa polisi itu, ya?”
“Lo
cemburu?”
“Whatever
apa kata lo, yang pasti gue gak mau ketemu dulu, ya?”
“Hm,
Ok deh, gue sms si Luke ya?”
Aku
mengangguk. Aku tak mengerti dengan apa yang direncanakan oleh Yudha, dia
membuatku seperti ini dan bertingkah kalau dia tak bersalah. Dan, aku tak bisa berbuat
apa-apa untuk membuat hidupku aman kali ini.


0 komentar:
Posting Komentar