Pagi-pagi
sekali aku sudah berada di kampus, hari ini sampai satu minggu kedepan aku akan
mengospek anak baru, sengaja aku ikut Himpunan Mahasiswa ini bertujuan hanya
untuk mendekati anak-anak baru yang masih fress. Ditambah lagi sekarang ada
Sebastian yang sangat aku tunggu kedatangannya. Rupanya anak baru sudah banyak
yang datang, aku sengaja memasang wajah bengis,
agar mereka tunjuk dan takut padaku. Di kumpulan anak-anak baru itu
sudah terlihat batang hidungnya Sebastian, ah, melihat dirinya membuatku merasa
tentram.
Ospek
sudah dimulai, semua anak baru dikerjai habis-habisan oleh para senior, aku
sendiri masih belum beraksi, aku menunggu moment yang tepat hinggal Sebastian
melakukan kesalahan.
Rupanya
keberuntungan menyertaiku, selepas makan siang, dia lupa mengenakan name tag
yang diwajibkan oleh senior. Tanpa berlama-lama aku langsung menghampirinya.
“Heh,
kamu, anak baru, ke sini!” tunjukku kepada Sebastian. Ia celingukan dan
terlihat seperti menarik nafas panjang.
“Apa
kesalahanmu?”
Sebastian
nampak diam, ia mencari-cari sesuatu di saku celana katun panjangnya.
“Saya
bilang, apa kesalahanmu!”
Ia
semakin gelagapan, sambil menunduk akhirnya ia buka mulut. “Tidak menggunakan
name tag, kak.”
“Terus
kenapa name tagnya tidak digunakan?”
“Hi...
hi... hilang, kak,” ujarnya pelan.
“Hilang?
Jorok!” aku nampak berpikir, aku mencari hukuman yang tepat untuknya. “Kamu
sekarang lompat pocong sambil bilang, ‘aku anak jorok, name tagku hilang’,
sampai aku suruh berhenti, sekarang!”
Rupanya
dia langsung menuruti apa yang aku suruh.
“Aku
anak jorok, name tagku hilang,” ujarnya sambil lompat pocong.
Aku
memperhatikan dia yang sedang melompat sambil tersenyum, rupanya dia memang
benar-benar pria idamanku, wajahnya yang tirus, putih, bibir tipis keriting,
serta mata yang menyejukan benar-benar membuatku terpikat, meski terhalang
kacamata, ia tetap saja terlihat tampan. Aku tidak sadar sudah berapa kali ia
meloncat, hingga tiba-tiba di jongkok sambil keringatnya mengucur deras.
“Kenapa
berhenti?”
“Capek,
kak.”
“Capek?
Mau tidur? Sana di rumah kalau mau tidur!”
Kemudian
ia bangkit dan lompat kembali. Sebenarnya aku tidak tega melihat dia seperti
itu, tapi bagaimana lagi cara aku berinteraksi dengannya selain ini.
Namun,
tiba-tiba dia limbung, dan jatuh, aku terkejut, teman-teman yang lainpun ikut
terkejut, kemudian dengan segera aku menggendongnya dan membawanya ke pos
kesehatan. Aku baringkan dia dan aku kipasi tubuhnya, uh, aku benar-benar tak
tega, kemudian aku mengambil air minum kemasan dari gelas dan aku bangunkan dia
untuk segera minum.
“Sorry,
ya?” kataku.
Bastian
masih saja diam.
“Kamu
masih marah?” tanyaku lagi.
Kini
ia berbalik arah dan membelakangiku. Aku pegang lengannya dan kuusap lengannya
yang lembut.
“Bagaimanapun
juga, walaupun lo gak maafin gue, gue bakalan terus minta maaf sampai lo
bener-bener maafin gue,” ucapku kemudian meninggalkannya sendiri.
&&&
Hari-hari
ospek menjadi hari-hari untuk pendekatan kepada Sebastian, pria itu masih
‘keukeuh’ dengan pendiriannya yang acuh dan dingin, aku menjadi semakin penasaran
dengan kedinginannya itu, bagiku tak ada pantang menyerah, selama dia belum
memiliki kekasih akan aku coba untuk mendekatinya.
“Jon,
ospek terakhir ini sampe malem, ya?” tanyaku kepada Joni.
“Iya,
eh, nanti di akhir ospek anak-anak baru yang sering kena hukuman bakalan kita
kerjain abis-abisan, gue udah megang satu anak yang bakalan gue kerjain, lo
udah belum?”
“Oh,
ya? Belum, bebas, kan, mau pilih yang mana?”
“Kaga
lah, dodol, tuh daftar nama anak-anaknya dipegang sama si Mery, liat aja sana!”
dengan seketika aku langsung menghampiri Mery yang sedang memegang kertas
nama-nama anak yang sering kena hukuman, dan kulihat tak ada nama Sebastian di
sana, kecewa, sih, tapi aku tak akan menyerah, bukan Castro kalau menyerah
begitu saja.
“Mer,
kok, si Sebastian gak ada?”
“Sebastian
yang mana?”
“Itu
yang pake kacamata, yang waktu itu hampir pingsan ama gue.”
“Oh,
emang gak ada, dia, kan, cuman di hukum sekali, yang ada di sini itu anak-anak
yang lebih dari tiga kali.”
“Yah,
masukin, dong, gue pengen banget ngerjain anak itu lagi.”
“Eh?
Kenapa lo? Kayaknya ngebet banget sama doi, lo suka?”
“Dih,
kagak, gue cuman seneng aja ngerjain dia, anaknya keliatannya polos, masukin,
ya, ya, ya?” pintaku sedikit manja kepada Mery.
“Hm,
yaudah gue masukin, ah, elo, jadinya kan harus ada satu yang dibuang.”
“Pokoknya
atur-atur sama lo deh, yang penting si Sebastian biar gue yang urus.”
“Eit,
kita ngehukum mereka gak sembarangan, rencananya mereka yang kita hukum bakalan
disuruh pakai baju yang aneh-aneh, kaya gue nanti mau nyurus si anak cerewet
itu buat pake bibir bebek, sama baju donald duck, gitu, ya, kalo lo bebas,
gimana lo aja. Asal bikin anak itu malu setengah mati, hihihiii...”
Mendengar
ucapan itu, aku langsung berinisiatif, kemudian aku minta izin kepada Mery
karena dia adalah ketuplak (Ketua Pelaksana) di Himpunan ini untuk pergi
sebentar. Lalu aku pergi ke UKM Teater di lantai bawah, dan meminjam kostum
yang sudah aku bayangkan sebelumnya, dan rupanya kostum tersebut ada.
Ketika
mendekati acara puncak, ketuplak menyebutkan nama-nama anak yang kena hukuman
untuk dipermalukan di depan kawan-kawannya yang lain. Langsung saja ketika
Sebastian di panggil aku langsung menyeretnya ke ruangan ganti, di sana para
senior sedang asik mendandani anak-anak tersebut, ada yang mengenakan pakaian
perempuan lengkap dengan make up nya, ada pulang yang mengenakan pakaian buah
yang besar, pokoknya para senior tersebut memang berniat mengerjai mereka.
Aku
langsung menyuruhnya mengenakan baju Supermen, ia agak terkejut dengan
perintahku itu, awalnya ia menolak tetapi setelah aku bilang akan mendapat
hukuman yang lebih besar kalau menolak ini, dia langsung nurut.
“Wah,
cocok juga baju supermennya, malah keliatan makin macho, oh, ya, nanti di sana
selain lo muncul dihadapan mereka, gue minta lo buat nari striptis ke gue
dihadapan temen-temen lo yang lain, ok!”
Akhirnya
malam puncak pun tiba, beberapa anggota yang dihukum langsung menunjukan
mereka, semua orang tertawa di buatnya, sampai-sampai ada yang tidak tahan
ingin kencing bahkan ada yang sampai menangis saking lucunya. Kini giliran
Sebastian yang tampil, pertama ia masih mengenakan baju kotak-kotak biasa,
kemudian ketika musik mulai berbunyi ia menari, semua orang tertawa melihat
aksi orang yang super pendiam itu menari. Lalu perlahan-lahan Bastian membuka
bajunya, dan menghampiriku, orang yang tadinya tertawa diam sejenak, karena
melihat Bastian yang terlihat berbeda, ia malah banyak dikagumi oleh
teman-teman yang lain karena di balik kacamatanya yang norak serta rambutnya
yang selalu rapih, kini ia berubah total menjadi supermen yang memang sangat
tampan, bahkan ada teman-teman seangkatannya yang histeris melihat ketampanan
Bastian. Aku sendiri terpukai melihat wajah dan lekuk tubuhnya yang pas dengan
baju supermen itu, seksi, dan sangat-sangat gentle men, ah, tariannya juga
membuatku menjadi horny.
&&&
Acarapun
selesai dengn diakhiri maaf-maafan serta memberikan bunga kepada kakak senior
favoritnya, dan rupanya aku yang paling banyak mendapatkan bunga dari
gadis-gadis itu, bahkan tak banyak dari mereka yang meminta foto kepadaku.
kulihat Sebastian memberikan bunga kepada Mery, uh, agak sedikit membuatku
cemburu karena kenapa tidak aku yang diberikan bunga olehnya, tapi aku maklum,
karena laki-laki hanya boleh memberikan bunga kepada lawan jenisnya saja.
Jam
sudah menunjukan pukul sepuluh malam, aku mengambil motorku dan berencana untuk
pulang. Ketika aku sudah sampai di depan pintu keluar kampus kulihat Sebastian
sedang jalan sendiri, langsung saja aku datangi mereka.
“Eh,
Bas, pulang bareng, yuk?” ajakku.
Ia
tak menggubrisku sama sekali.
“Ayo,
ini udah malem banget, gak akan ada angkot, kok.”
“Nggak,
terima kasih.”
“Kalau
lo jalan gak akan sampe dua jam loh, jauh tau rumah lo ke kampus.”
“Gak
apa-apa, gue masih punya kaki!”
“Lo
masih marah sama gue?”
Mendadak
dia langsung diam sambil menatapku. “Siapa yang gak marah dipermalukan seperti
itu, lo udah bikin gue malu banget, lagian apa-apaan, sih mesti harus pake baju
supermen segala? Lo emag niat mau ngerjain gue, ya?”
“Ya
namanya juga ospek, kan bebas mau ngehukum kaya gimana juga,” sanggahku.
“Ya
udah, kalau gitu gue juga bebas mau jalan kaki atau naik angkot, lo cabut aja
dari sini, gue udah muak liat muka lo!”
“Kok
lo gitu banget sih ama gue? Lo sebenernya masih marah kan sama kejadian pertama
kali kita ketemu? Gue kan udah minta maaf, gue khilaf, kenapa, sih, lo susah
banget maafin orang?”
“Dan,
lo kenapa, sih, seenaknya banget memperlakukan orang?”
Aku
langsung terdiam. “Yaudah, ah, terserah! Jangan salahin gue kalau lo
kenapa-napa nanti, ya?”
“Bukan
urusan lo juga, kok!”
Akhirnya
aku terbawa emosi dan pergi meninggalkan dia sendiri, aku tak peduli mau ia
jalan kaki atau tidak, kesal ini sudah merajaiku.
Aku
sampai dirumah setengah jam kemudian, aku langsung mandi dan berniat untuk
tidur, tak lama kudengar ada suara telepon berbunyi, rupanya dari Erin.
“Halo.”
“Halo
Cast, lo dimana? Bareng sama Sebastian, gak? Itu anak belum pulang juga.”
Langsung
aku beranjak dan mengambil kunci motorku kembali, aku takut terjadi apa-apa
dengan Sebastian, meskipun ia menyebalkan tapi aku masih menyukainya.
Kulaju
motorku dengan cepat, aku mencari-cari orang yang berjalan sendiri, karena
siapa tahu itu adalah dia, rupanya tidak ada, sampai di depan kampus lagi pun
aku tak menemukannya. Kemudian aku langsung menelepon Erin.
“Rin,
Sebastian udah nyampe belum?”
“Belom,
lo lagi nyari dia, gak?”
“Iya,
kemana, ya anak itu?”
“Aduh
dia pasti nyasar, dia kan gak tau jalan balik, biasanya dia balik sama temennya
yang dari jurusan lain, tapi temennya, kan, ospeknya udah beres kemaren,
padahal tadi gue nyuruh dia buat ikut sama lo.”
“Dia
gak akan mau, lah, orang dia masih marah sama gue, Rin, yaudah gue mau cari dia
lagi, ya?”
Setengah
jam aku berputar-putar mengitari jalan yang mungkin ia lalui, rupanya tidak
ada, aku benar-benar takut sesuatu terjadi kepadanya. Tiba-tiba di sebuah
belokan jalan aku melihat ada seseorang yang sedang terduduk lemas, semoga saja
itu Sebastian. Dan, rupanya benar, ia terduduk sendiri di trotoar, motor
langsung aku berhentikan tepat di hadapannya.
“Bas,
Bas, lo gak apa-apa?”
Ia
terdiam, aku duduk di sampingnya dan ku rangkul tubuhnya.
“Lo
kenapa? Itu bibir lo berdarah gitu, ikut gue, yuk, kita obatin di rumah gue
aja,” ajakku. Ia mengangguk masih menunduk.
Aku
melajukan motorku dengan perasaan lega meski sedikit khawatir dengan keadaan
Sebastian sekarang. Ia duduk di belakang dan tanpa meminta, ia memelukku dari
belakang.
Sesampainya
di rumahku, langsung kubawa ia ke kamarku, aku mengambil air hangat, betadine,
dan beberapa lembar kapan untuk membersihkan wajahnya yang berdarah.
“Lo
kenapa bisa kaya gini?”
Ia
masih diam.
“Gue
minta maaf, ya, karena gue gak bisa jagain lo?” kataku menyesal.
Akhirnya
ia bicara juga, “gak apa-apa, salah gue juga, gue terlalu pendendam, jadinya
kena sial sendiri, makasih banget, ya, udah nolongin gue?”
Aku
tersenyum melihatnya kemudian kembali membersihkan bekas lukanya. “Gue, kan
udah bilang, kalau gue sayang sama lo, jadi gue akan selalu ada buat lo.”
Ia
tersenyum tipis, kemudian mengernyit karena perih. Setelah selesai, aku
mengambil sepasang baju ganti untuknya.
“Nih,
ganti baju bulu, sana.”
“Eh,
gue boleh ikut mandi?”
“Bolehlah,
apa mau mandi bareng aja sekalian?”
Ia
hanya tersenyum tipis kemudian masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam
kamarku. Beberapa menit kemudian ia keluar hanya dengan menggunakan handuk, ah,
wajahnya sangat tampan ketika baru selesai mandi, rambutnya yang acak-acakan
belum di sisir dengan badannya yang terbilang hampir sixpack membuat penisku
mendadak tegang.
“Bas,
sumpah lo ganteng banget!” Ia tak menatapku dan langsung berbalik arah. “Eh,
maaf, gue gak ada maksud apa-apa, tenang aja gue gak akan macem-macem lagi,
kok, gue cuman kagum aja sama lo, Bas.”
Setelah
selesai memakai baju ia duduk di sampingku.
“Sebenernya
lo tadi kenapa, Bas?”
“Tadi
gue di todong sama preman, dia minta duit gue, gue bilang gak ada, terus dia
maksa gue buat ngasih HP gue, ya, gue gak mau, akhirnya dia ngehajar gue dan HP
gue di ambil, ah, sial, gue takut Ka Erin nyariin gue.”
“Tenang,
Erin udah gue kasih tau, kok kalau lo sekarang sama gue, eh, lo mau makan? Gue
beliin makan, ya?”
“Nggak
usah, gue mau tidur aja, oh, yaudah tidur aja di sini.”
“Berdua?”
“Iya?”
“Gue
di bawah aja, deh.”
“Eh,
jangan, gue aja yang di bawah.”
“Lo,
kan, yang punya rumah, gak apa-apa, gue di bawah aja.”
“Lo,
kan, tamu gue, karena tamu adalah raja jadi lo yang harus di atas, gue di bawah
aja, gak apa-apa.”
“Beneran?”
“Serius.”
“Ah,
gue gak enak, lo di atas aja, bareng aja deh, gak apa-apa, tapi jangan
macem-macem, ya?”
“Iya,
deh, gue gak akan macem-macem, kok, janji.”
Akhirnya
untuk pertama kalinya aku tidur dengan Sebastian, meskipun sebenarnya aku
sering tidur dengan banyak pria, tapi entah mengapa aku sedikit berdebar ketika
tidur dengannya.
&&&
Aku
tak bisa tidur, melihat ia tidur nyenyak malah membuatku gundah, aku sangat
horny melihat dia ketika sedang tidur, wajahnya yang maskulin dan tampan
membuatku benar-benar tidak tahan untuk tidak mengluarkan air maniku. Akhirnya
aku memberanikan diri untuk menciumnya, awalnya takut dia bangun, tapi lama
kelamaan karena tidak ada reaksi darinya aku lanjutkan ciumanku, aku mencium
bibirnya yang lembut, uh, batang penisku sudah benar-benar tegang, ah, aku
masih takut, aku urungkan kembali ciumanku yang tadi dan hanya bisa menahan
rasa ini, tapi setan sudah benar-benar merajaiku, selanjutnya aku coba pegang
tangannya, dan aku membuka celana kolorku sampai penisku tibul keluar,
Sebastian tidak sadar aku sudah tak mengenakan celana, tangan kirinya aku
bimbing untuk memegang penisku, dan berhasil, tangannya yang tak sadarkan diri
kini sedang memegang penisku. Denyutan di penisku semakin cepat, aku gerakan
tangannya perlahan dan ternyata dalam hitungan detik air maniku tumpah ruah,
bahkan mengenai tangannya. Langsung saja aku bersihkan pakai celanaku, mengelap
tangannya yang basah oleh air maniku. Setalah kondisiku sudah kembali normal
aku mencoba untuk tidur, dan aku tidur dengan memeluknya.
&&&
Aku
terbangun lebih dulu dari Bastian, rupanya anak ini sangat suka tidur, padahal
waktu sudah menunjukan pukul sembilan pagi, aku segera bergegas untuk mandi.
Karena sudah menjadi kebiasaanku karena ini kamarku, jadi aku tak malu-malu
meski harus telanjang bulat, kebetulan dia masih terlarut dalam mimpinya.
“Astaga!”
teriaknya ketika aku hendak pakai celana dalam, aku segera memakainya dan
menengok kearahnya.
“Kenapa?”
“Kok
lo gak malu, sih telanjang bulat di depan orang lain?”
“Ini,
kan, kamar gue, ya, ngapain gue mesti malu?” Jawabku asal. Aku menghampirinya
masih dengan celana dalamku saja. “Kok, lo yang gugup, sih?”
“Ah,
em, enggak, siapa yang gugup?”
“Lo
gugup ngeliar gue pake celana dalem aja, apa lo mau liat isinya?”
“Iyuwh,
jijik!” ucapnya sambil melemparkan bantal kepadaku, langsung aku tangkap bantal
itu dan lempar balik kepadanya.
“Mau
perang bantal?” candaku.
“Nggak,”
katanya sambil masih melempar bantal kepadaku.
“Wah,
ini udah dua kali lo ngelempar bantal ke gue, ini tandanya lo udah ngibarin
bendera perang.” Aku kembali melempar bantal kepadanya, dan akhirnya kami
saling pukul memukul menggunakan bantal, terlihat senyum dan tawa dari
Sebastian yang selalu membuatku sejuk, ah, aku benar-benar mencintai anak ini.
Aku
kini kualahan dengan pukulan yang diberikan oleh Bastian, tapi aku mecoba
melawan, dan menubruknya, menggelitiknya hingga ia kegelian tertawa dan meminta
ampun.
“Ampun...ampun...”
katanya sambil tertawa. Akhirnya aku menghentikannya, karena kasihan. Rupanya
ia balas dendam dan kini giliran dia menggelitikku, aku tertawa dan mencoba
memeganginya, berguling-guling hingga akhirnya kami berdua jatuh. Aku jatuh
tepat di atasnya, nafas kami saling memburu, aku menatap wajahnya yang
kelelahan, ia tersenyum, aku mencoba memberanikan diri untuk mendekatkan
wajahku, ia nampak ragu, tapi kini permainan sudah usah dan aku menguasai atas
dia sepenuhnya, kulihat ia tak bereaksi, ia hanya menutup wajahnya tanda
setuju, kini bibir kami saling bertemu, untuk pertama kalinya tanpa ada paksaan
dia membalas ciumanku, bibirnya yang keriting tipis kulumat habis, ia masih
canggung dalam ciuman kami, tapi aku mencoba meyakinkannya untuk berani
bertindak, ciuman kami semakin lama semakin panas dan tak terkendali, aku
mencoba untuk membuka bajunya, ia masih tak keberatan, aku angkat dia untuk
kembali ke kasur, aku kembali menindihnya, kedua tangannya kini sudah berada di
leherku, tak ingin melepaskan ciuman ini, kini aku beralih ke lehernya, ia
nampak semakin menikmati permainanku, kemudian ke dadanya dab berakhir di kedua
puting susunya yang bidang dan merah muda. Ia benar-benar belum pernah terjamah
oleh siapapun.
Putingnya
benar-benar menggemaskan, aku senang menjilati putingnya yang merah muda itu,
tanganku yang lain kini mencoba untuk membuka celana kolornya, tak susah kini
tanganku sudah memegang penisnya, ia nampak menikmatinya. Aku memberikan
servise terhebatku dalam bercinta, karena ini pertama kalinya untuk Sebastian,
aku tak ingin membuatnya kecewa.
Tapi,
ketika aku kini sudah tepat di depan penis Bastian yang masih setengah tegang,
ia menahanku.
“Jangan,
aku tidak mau...” ucapnya lirih.
Aku
mengangguk dan tersenyum, lalu aku kembali mendekati wajahnya dan kucium dia
lagi, lama...lama... sampai entah mengapa, tanpa onani, air kenikmatanku keluar
sendiri, kulihat ia memejamkan matanya, sesaat kemudian membuka matanya
perlahan. Aku hentikan ciuman ini dan kini memeluknya.
“I
love you, Bas.”
Dalam
pelukanku ia mencium tanganku, tapi tak membalas ucapanku. Dan, akhirnya kami
kembali tertidur dalam dekapan hangat tanganku.
.jpg)

0 komentar:
Posting Komentar