Namanya Sebastian 2



Pagi-pagi sekali aku sudah berada di kampus, hari ini sampai satu minggu kedepan aku akan mengospek anak baru, sengaja aku ikut Himpunan Mahasiswa ini bertujuan hanya untuk mendekati anak-anak baru yang masih fress. Ditambah lagi sekarang ada Sebastian yang sangat aku tunggu kedatangannya. Rupanya anak baru sudah banyak yang datang, aku sengaja memasang wajah bengis,  agar mereka tunjuk dan takut padaku. Di kumpulan anak-anak baru itu sudah terlihat batang hidungnya Sebastian, ah, melihat dirinya membuatku merasa tentram.

Ospek sudah dimulai, semua anak baru dikerjai habis-habisan oleh para senior, aku sendiri masih belum beraksi, aku menunggu moment yang tepat hinggal Sebastian melakukan kesalahan.
Rupanya keberuntungan menyertaiku, selepas makan siang, dia lupa mengenakan name tag yang diwajibkan oleh senior. Tanpa berlama-lama aku langsung menghampirinya.
“Heh, kamu, anak baru, ke sini!” tunjukku kepada Sebastian. Ia celingukan dan terlihat seperti menarik nafas panjang.
“Apa kesalahanmu?”
Sebastian nampak diam, ia mencari-cari sesuatu di saku celana katun panjangnya.
“Saya bilang, apa kesalahanmu!”
Ia semakin gelagapan, sambil menunduk akhirnya ia buka mulut. “Tidak menggunakan name tag, kak.”
“Terus kenapa name tagnya tidak digunakan?”
“Hi... hi... hilang, kak,” ujarnya pelan.
“Hilang? Jorok!” aku nampak berpikir, aku mencari hukuman yang tepat untuknya. “Kamu sekarang lompat pocong sambil bilang, ‘aku anak jorok, name tagku hilang’, sampai aku suruh berhenti, sekarang!”
Rupanya dia langsung menuruti apa yang aku suruh.
“Aku anak jorok, name tagku hilang,” ujarnya sambil lompat pocong.
Aku memperhatikan dia yang sedang melompat sambil tersenyum, rupanya dia memang benar-benar pria idamanku, wajahnya yang tirus, putih, bibir tipis keriting, serta mata yang menyejukan benar-benar membuatku terpikat, meski terhalang kacamata, ia tetap saja terlihat tampan. Aku tidak sadar sudah berapa kali ia meloncat, hingga tiba-tiba di jongkok sambil keringatnya mengucur deras.
“Kenapa berhenti?”
“Capek, kak.”
“Capek? Mau tidur? Sana di rumah kalau mau tidur!”
Kemudian ia bangkit dan lompat kembali. Sebenarnya aku tidak tega melihat dia seperti itu, tapi bagaimana lagi cara aku berinteraksi dengannya selain ini.
Namun, tiba-tiba dia limbung, dan jatuh, aku terkejut, teman-teman yang lainpun ikut terkejut, kemudian dengan segera aku menggendongnya dan membawanya ke pos kesehatan. Aku baringkan dia dan aku kipasi tubuhnya, uh, aku benar-benar tak tega, kemudian aku mengambil air minum kemasan dari gelas dan aku bangunkan dia untuk segera minum.
“Sorry, ya?” kataku.
Bastian masih saja diam.
“Kamu masih marah?” tanyaku lagi.
Kini ia berbalik arah dan membelakangiku. Aku pegang lengannya dan kuusap lengannya yang lembut.
“Bagaimanapun juga, walaupun lo gak maafin gue, gue bakalan terus minta maaf sampai lo bener-bener maafin gue,” ucapku kemudian meninggalkannya sendiri.
&&&
Hari-hari ospek menjadi hari-hari untuk pendekatan kepada Sebastian, pria itu masih ‘keukeuh’ dengan pendiriannya yang acuh dan dingin, aku menjadi semakin penasaran dengan kedinginannya itu, bagiku tak ada pantang menyerah, selama dia belum memiliki kekasih akan aku coba untuk mendekatinya.
“Jon, ospek terakhir ini sampe malem, ya?” tanyaku kepada Joni.
“Iya, eh, nanti di akhir ospek anak-anak baru yang sering kena hukuman bakalan kita kerjain abis-abisan, gue udah megang satu anak yang bakalan gue kerjain, lo udah belum?”
“Oh, ya? Belum, bebas, kan, mau pilih yang mana?”
“Kaga lah, dodol, tuh daftar nama anak-anaknya dipegang sama si Mery, liat aja sana!” dengan seketika aku langsung menghampiri Mery yang sedang memegang kertas nama-nama anak yang sering kena hukuman, dan kulihat tak ada nama Sebastian di sana, kecewa, sih, tapi aku tak akan menyerah, bukan Castro kalau menyerah begitu saja.
“Mer, kok, si Sebastian gak ada?”
“Sebastian yang mana?”
“Itu yang pake kacamata, yang waktu itu hampir pingsan ama gue.”
“Oh, emang gak ada, dia, kan, cuman di hukum sekali, yang ada di sini itu anak-anak yang lebih dari tiga kali.”
“Yah, masukin, dong, gue pengen banget ngerjain anak itu lagi.”
“Eh? Kenapa lo? Kayaknya ngebet banget sama doi, lo suka?”
“Dih, kagak, gue cuman seneng aja ngerjain dia, anaknya keliatannya polos, masukin, ya, ya, ya?” pintaku sedikit manja kepada Mery.
“Hm, yaudah gue masukin, ah, elo, jadinya kan harus ada satu yang dibuang.”
“Pokoknya atur-atur sama lo deh, yang penting si Sebastian biar gue yang urus.”
“Eit, kita ngehukum mereka gak sembarangan, rencananya mereka yang kita hukum bakalan disuruh pakai baju yang aneh-aneh, kaya gue nanti mau nyurus si anak cerewet itu buat pake bibir bebek, sama baju donald duck, gitu, ya, kalo lo bebas, gimana lo aja. Asal bikin anak itu malu setengah mati, hihihiii...”
Mendengar ucapan itu, aku langsung berinisiatif, kemudian aku minta izin kepada Mery karena dia adalah ketuplak (Ketua Pelaksana) di Himpunan ini untuk pergi sebentar. Lalu aku pergi ke UKM Teater di lantai bawah, dan meminjam kostum yang sudah aku bayangkan sebelumnya, dan rupanya kostum tersebut ada.
Ketika mendekati acara puncak, ketuplak menyebutkan nama-nama anak yang kena hukuman untuk dipermalukan di depan kawan-kawannya yang lain. Langsung saja ketika Sebastian di panggil aku langsung menyeretnya ke ruangan ganti, di sana para senior sedang asik mendandani anak-anak tersebut, ada yang mengenakan pakaian perempuan lengkap dengan make up nya, ada pulang yang mengenakan pakaian buah yang besar, pokoknya para senior tersebut memang berniat mengerjai mereka.
Aku langsung menyuruhnya mengenakan baju Supermen, ia agak terkejut dengan perintahku itu, awalnya ia menolak tetapi setelah aku bilang akan mendapat hukuman yang lebih besar kalau menolak ini, dia langsung nurut.
“Wah, cocok juga baju supermennya, malah keliatan makin macho, oh, ya, nanti di sana selain lo muncul dihadapan mereka, gue minta lo buat nari striptis ke gue dihadapan temen-temen lo yang lain, ok!”
Akhirnya malam puncak pun tiba, beberapa anggota yang dihukum langsung menunjukan mereka, semua orang tertawa di buatnya, sampai-sampai ada yang tidak tahan ingin kencing bahkan ada yang sampai menangis saking lucunya. Kini giliran Sebastian yang tampil, pertama ia masih mengenakan baju kotak-kotak biasa, kemudian ketika musik mulai berbunyi ia menari, semua orang tertawa melihat aksi orang yang super pendiam itu menari. Lalu perlahan-lahan Bastian membuka bajunya, dan menghampiriku, orang yang tadinya tertawa diam sejenak, karena melihat Bastian yang terlihat berbeda, ia malah banyak dikagumi oleh teman-teman yang lain karena di balik kacamatanya yang norak serta rambutnya yang selalu rapih, kini ia berubah total menjadi supermen yang memang sangat tampan, bahkan ada teman-teman seangkatannya yang histeris melihat ketampanan Bastian. Aku sendiri terpukai melihat wajah dan lekuk tubuhnya yang pas dengan baju supermen itu, seksi, dan sangat-sangat gentle men, ah, tariannya juga membuatku menjadi horny.
&&&
Acarapun selesai dengn diakhiri maaf-maafan serta memberikan bunga kepada kakak senior favoritnya, dan rupanya aku yang paling banyak mendapatkan bunga dari gadis-gadis itu, bahkan tak banyak dari mereka yang meminta foto kepadaku. kulihat Sebastian memberikan bunga kepada Mery, uh, agak sedikit membuatku cemburu karena kenapa tidak aku yang diberikan bunga olehnya, tapi aku maklum, karena laki-laki hanya boleh memberikan bunga kepada lawan jenisnya saja.
Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, aku mengambil motorku dan berencana untuk pulang. Ketika aku sudah sampai di depan pintu keluar kampus kulihat Sebastian sedang jalan sendiri, langsung saja aku datangi mereka.
“Eh, Bas, pulang bareng, yuk?” ajakku.
Ia tak menggubrisku sama sekali.
“Ayo, ini udah malem banget, gak akan ada angkot, kok.”
“Nggak, terima kasih.”
“Kalau lo jalan gak akan sampe dua jam loh, jauh tau rumah lo ke kampus.”
“Gak apa-apa, gue masih punya kaki!”
“Lo masih marah sama gue?”
Mendadak dia langsung diam sambil menatapku. “Siapa yang gak marah dipermalukan seperti itu, lo udah bikin gue malu banget, lagian apa-apaan, sih mesti harus pake baju supermen segala? Lo emag niat mau ngerjain gue, ya?”
“Ya namanya juga ospek, kan bebas mau ngehukum kaya gimana juga,” sanggahku.
“Ya udah, kalau gitu gue juga bebas mau jalan kaki atau naik angkot, lo cabut aja dari sini, gue udah muak liat muka lo!”
“Kok lo gitu banget sih ama gue? Lo sebenernya masih marah kan sama kejadian pertama kali kita ketemu? Gue kan udah minta maaf, gue khilaf, kenapa, sih, lo susah banget maafin orang?”
“Dan, lo kenapa, sih, seenaknya banget memperlakukan orang?”
Aku langsung terdiam. “Yaudah, ah, terserah! Jangan salahin gue kalau lo kenapa-napa nanti, ya?”
“Bukan urusan lo juga, kok!”
Akhirnya aku terbawa emosi dan pergi meninggalkan dia sendiri, aku tak peduli mau ia jalan kaki atau tidak, kesal ini sudah merajaiku.
Aku sampai dirumah setengah jam kemudian, aku langsung mandi dan berniat untuk tidur, tak lama kudengar ada suara telepon berbunyi, rupanya dari Erin.
“Halo.”
“Halo Cast, lo dimana? Bareng sama Sebastian, gak? Itu anak belum pulang juga.”
Langsung aku beranjak dan mengambil kunci motorku kembali, aku takut terjadi apa-apa dengan Sebastian, meskipun ia menyebalkan tapi aku masih menyukainya.
Kulaju motorku dengan cepat, aku mencari-cari orang yang berjalan sendiri, karena siapa tahu itu adalah dia, rupanya tidak ada, sampai di depan kampus lagi pun aku tak menemukannya. Kemudian aku langsung menelepon Erin.
“Rin, Sebastian udah nyampe belum?”
“Belom, lo lagi nyari dia, gak?”
“Iya, kemana, ya anak itu?”
“Aduh dia pasti nyasar, dia kan gak tau jalan balik, biasanya dia balik sama temennya yang dari jurusan lain, tapi temennya, kan, ospeknya udah beres kemaren, padahal tadi gue nyuruh dia buat ikut sama lo.”
“Dia gak akan mau, lah, orang dia masih marah sama gue, Rin, yaudah gue mau cari dia lagi, ya?”
Setengah jam aku berputar-putar mengitari jalan yang mungkin ia lalui, rupanya tidak ada, aku benar-benar takut sesuatu terjadi kepadanya. Tiba-tiba di sebuah belokan jalan aku melihat ada seseorang yang sedang terduduk lemas, semoga saja itu Sebastian. Dan, rupanya benar, ia terduduk sendiri di trotoar, motor langsung aku berhentikan tepat di hadapannya.
“Bas, Bas, lo gak apa-apa?”
Ia terdiam, aku duduk di sampingnya dan ku rangkul tubuhnya.
“Lo kenapa? Itu bibir lo berdarah gitu, ikut gue, yuk, kita obatin di rumah gue aja,” ajakku. Ia mengangguk masih menunduk.
Aku melajukan motorku dengan perasaan lega meski sedikit khawatir dengan keadaan Sebastian sekarang. Ia duduk di belakang dan tanpa meminta, ia memelukku dari belakang.
Sesampainya di rumahku, langsung kubawa ia ke kamarku, aku mengambil air hangat, betadine, dan beberapa lembar kapan untuk membersihkan wajahnya yang berdarah.
“Lo kenapa bisa kaya gini?”
Ia masih diam.
“Gue minta maaf, ya, karena gue gak bisa jagain lo?” kataku menyesal.
Akhirnya ia bicara juga, “gak apa-apa, salah gue juga, gue terlalu pendendam, jadinya kena sial sendiri, makasih banget, ya, udah nolongin gue?”
Aku tersenyum melihatnya kemudian kembali membersihkan bekas lukanya. “Gue, kan udah bilang, kalau gue sayang sama lo, jadi gue akan selalu ada buat lo.”
Ia tersenyum tipis, kemudian mengernyit karena perih. Setelah selesai, aku mengambil sepasang baju ganti untuknya.
“Nih, ganti baju bulu, sana.”
“Eh, gue boleh ikut mandi?”
“Bolehlah, apa mau mandi bareng aja sekalian?”
Ia hanya tersenyum tipis kemudian masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarku. Beberapa menit kemudian ia keluar hanya dengan menggunakan handuk, ah, wajahnya sangat tampan ketika baru selesai mandi, rambutnya yang acak-acakan belum di sisir dengan badannya yang terbilang hampir sixpack membuat penisku mendadak tegang.
“Bas, sumpah lo ganteng banget!” Ia tak menatapku dan langsung berbalik arah. “Eh, maaf, gue gak ada maksud apa-apa, tenang aja gue gak akan macem-macem lagi, kok, gue cuman kagum aja sama lo, Bas.”
Setelah selesai memakai baju ia duduk di sampingku.
“Sebenernya lo tadi kenapa, Bas?”
“Tadi gue di todong sama preman, dia minta duit gue, gue bilang gak ada, terus dia maksa gue buat ngasih HP gue, ya, gue gak mau, akhirnya dia ngehajar gue dan HP gue di ambil, ah, sial, gue takut Ka Erin nyariin gue.”
“Tenang, Erin udah gue kasih tau, kok kalau lo sekarang sama gue, eh, lo mau makan? Gue beliin makan, ya?”
“Nggak usah, gue mau tidur aja, oh, yaudah tidur aja di sini.”
“Berdua?”
“Iya?”
“Gue di bawah aja, deh.”
“Eh, jangan, gue aja yang di bawah.”
“Lo, kan, yang punya rumah, gak apa-apa, gue di bawah aja.”
“Lo, kan, tamu gue, karena tamu adalah raja jadi lo yang harus di atas, gue di bawah aja, gak apa-apa.”
“Beneran?”
“Serius.”
“Ah, gue gak enak, lo di atas aja, bareng aja deh, gak apa-apa, tapi jangan macem-macem, ya?”
“Iya, deh, gue gak akan macem-macem, kok, janji.”
Akhirnya untuk pertama kalinya aku tidur dengan Sebastian, meskipun sebenarnya aku sering tidur dengan banyak pria, tapi entah mengapa aku sedikit berdebar ketika tidur dengannya.
&&&
Aku tak bisa tidur, melihat ia tidur nyenyak malah membuatku gundah, aku sangat horny melihat dia ketika sedang tidur, wajahnya yang maskulin dan tampan membuatku benar-benar tidak tahan untuk tidak mengluarkan air maniku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menciumnya, awalnya takut dia bangun, tapi lama kelamaan karena tidak ada reaksi darinya aku lanjutkan ciumanku, aku mencium bibirnya yang lembut, uh, batang penisku sudah benar-benar tegang, ah, aku masih takut, aku urungkan kembali ciumanku yang tadi dan hanya bisa menahan rasa ini, tapi setan sudah benar-benar merajaiku, selanjutnya aku coba pegang tangannya, dan aku membuka celana kolorku sampai penisku tibul keluar, Sebastian tidak sadar aku sudah tak mengenakan celana, tangan kirinya aku bimbing untuk memegang penisku, dan berhasil, tangannya yang tak sadarkan diri kini sedang memegang penisku. Denyutan di penisku semakin cepat, aku gerakan tangannya perlahan dan ternyata dalam hitungan detik air maniku tumpah ruah, bahkan mengenai tangannya. Langsung saja aku bersihkan pakai celanaku, mengelap tangannya yang basah oleh air maniku. Setalah kondisiku sudah kembali normal aku mencoba untuk tidur, dan aku tidur dengan memeluknya.
&&&
Aku terbangun lebih dulu dari Bastian, rupanya anak ini sangat suka tidur, padahal waktu sudah menunjukan pukul sembilan pagi, aku segera bergegas untuk mandi. Karena sudah menjadi kebiasaanku karena ini kamarku, jadi aku tak malu-malu meski harus telanjang bulat, kebetulan dia masih terlarut dalam mimpinya.
“Astaga!” teriaknya ketika aku hendak pakai celana dalam, aku segera memakainya dan menengok kearahnya.
“Kenapa?”
“Kok lo gak malu, sih telanjang bulat di depan orang lain?”
“Ini, kan, kamar gue, ya, ngapain gue mesti malu?” Jawabku asal. Aku menghampirinya masih dengan celana dalamku saja. “Kok, lo yang gugup, sih?”
“Ah, em, enggak, siapa yang gugup?”
“Lo gugup ngeliar gue pake celana dalem aja, apa lo mau liat isinya?”
“Iyuwh, jijik!” ucapnya sambil melemparkan bantal kepadaku, langsung aku tangkap bantal itu dan lempar balik kepadanya.
“Mau perang bantal?” candaku.
“Nggak,” katanya sambil masih melempar bantal kepadaku.
“Wah, ini udah dua kali lo ngelempar bantal ke gue, ini tandanya lo udah ngibarin bendera perang.” Aku kembali melempar bantal kepadanya, dan akhirnya kami saling pukul memukul menggunakan bantal, terlihat senyum dan tawa dari Sebastian yang selalu membuatku sejuk, ah, aku benar-benar mencintai anak ini.
Aku kini kualahan dengan pukulan yang diberikan oleh Bastian, tapi aku mecoba melawan, dan menubruknya, menggelitiknya hingga ia kegelian tertawa dan meminta ampun.
“Ampun...ampun...” katanya sambil tertawa. Akhirnya aku menghentikannya, karena kasihan. Rupanya ia balas dendam dan kini giliran dia menggelitikku, aku tertawa dan mencoba memeganginya, berguling-guling hingga akhirnya kami berdua jatuh. Aku jatuh tepat di atasnya, nafas kami saling memburu, aku menatap wajahnya yang kelelahan, ia tersenyum, aku mencoba memberanikan diri untuk mendekatkan wajahku, ia nampak ragu, tapi kini permainan sudah usah dan aku menguasai atas dia sepenuhnya, kulihat ia tak bereaksi, ia hanya menutup wajahnya tanda setuju, kini bibir kami saling bertemu, untuk pertama kalinya tanpa ada paksaan dia membalas ciumanku, bibirnya yang keriting tipis kulumat habis, ia masih canggung dalam ciuman kami, tapi aku mencoba meyakinkannya untuk berani bertindak, ciuman kami semakin lama semakin panas dan tak terkendali, aku mencoba untuk membuka bajunya, ia masih tak keberatan, aku angkat dia untuk kembali ke kasur, aku kembali menindihnya, kedua tangannya kini sudah berada di leherku, tak ingin melepaskan ciuman ini, kini aku beralih ke lehernya, ia nampak semakin menikmati permainanku, kemudian ke dadanya dab berakhir di kedua puting susunya yang bidang dan merah muda. Ia benar-benar belum pernah terjamah oleh siapapun.
Putingnya benar-benar menggemaskan, aku senang menjilati putingnya yang merah muda itu, tanganku yang lain kini mencoba untuk membuka celana kolornya, tak susah kini tanganku sudah memegang penisnya, ia nampak menikmatinya. Aku memberikan servise terhebatku dalam bercinta, karena ini pertama kalinya untuk Sebastian, aku tak ingin membuatnya kecewa.
Tapi, ketika aku kini sudah tepat di depan penis Bastian yang masih setengah tegang, ia menahanku.
“Jangan, aku tidak mau...” ucapnya lirih.
Aku mengangguk dan tersenyum, lalu aku kembali mendekati wajahnya dan kucium dia lagi, lama...lama... sampai entah mengapa, tanpa onani, air kenikmatanku keluar sendiri, kulihat ia memejamkan matanya, sesaat kemudian membuka matanya perlahan. Aku hentikan ciuman ini dan kini memeluknya.
“I love you, Bas.”
Dalam pelukanku ia mencium tanganku, tapi tak membalas ucapanku. Dan, akhirnya kami kembali tertidur dalam dekapan hangat tanganku.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Namanya Sebastian 2 ini dipublish oleh Unknown pada hari 28 Desember 2014. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Namanya Sebastian 2
 

0 komentar:

Posting Komentar