Kalian
pasti pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan, kan? Itu yang terjadi
kepadaku saat ini, kebodohan terbesarku adalah meninggalkan Sebastian hanya
demi pria yang tak lebih baik darinya. Setiap hari aku selalu memikirkannya,
aku benar-benar merindukannya, merindukan setiap tarikan nafasnya, senyumnya
yang menawan dengan bibir keriting tipis, tawanya, hingga hal-hal kecil biasa
yang sering ia lakukan.
Saat
ini kalian pasti tertawa puas atas penderitaanku, bersungut-sungut memncaciku,
bahkan pasti adalah yang tersenyum sungging sambil bilang “syukurin lo!” aku
terima itu semua karena memang aku layak mendapatkannya, layak mendapat caci
maki kalian. Oh, apa sekarang kalian sudah puas? Sebab kalau kalian masih belum
puas, akan aku lanjutkan kisah ini kisah akhir dari perjalanan cintaku
untuknya, pria yang selalu kusebut namanya dalam tidurku, NAMANYA SEBASTIAN. Well
aku mulai saja, em, bagaimana, ya, sebelum melanjutkan cerita ini, siapkan pop
corn, dan segelas kopi hangat agar kalian lebih rileks.
&&&
Sudah
hampir tiga tahun berlalu, tiga tahun yang aku lakukan untuk menebus semua
kesalahanku. Aku kini tak lagi bermain api dengan siapapun. Aku sendiri,
jomblo, single, atau apalah namanya itu, aku tak peduli, yang terpenting bagiku
saat ini aku menikmati kesendirian ini. Sebetulnya bila ada yang bilang aku tak
laku lagi, mereka salah, masih banyak pria-pria yang lebih tampan dan gagah
yang ingin menjadi pacarku, tapi aku telah mengunci hatiku, aku hanya tinggal
menunggu seseorang yang selalu aku harapkan untuk membukanya, meski aku sendiri
tak tahu kapan kami akan bersama, meskipun nantinya aku hanya bisa menelan
kepahitan tentang cerita ini, biarlah, biarlah aku menerimanya.
Kini
aku bekerja di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang tekstil, kerjaku
sebagai penterjemah bila ada visitor dari luar datang, untungnya aku memiliki
keahlian bahasa Inggris yang fasih, jadi pekerjaan ini bagiku seperti pekerjaan
santai.
Erin,
sahabatku, kini sudah menjadi model terkenal, bukan hanya model, kini ia sering
aku lihat membintangi sejumlah film layar lebar yang bagus. Meskipun aku tak
lagi berada dekat dengannya, tapi aku bersyukur, setidaknya aku tahu kondisi
dia dari media-media yang sering meliputnya, dan hubunganku dengannya saat ini
sudah kembali normal.
Tepat
satu tahun yang lalu, aku mencoba mencari keberadaan Erin dan Sebastian,
rupanya mereka tak lagi menempati rumah yang dulu, rumah itu kini diisi oleh
keponakannya yang lain. Aku pergi ke Jakarta untuk menemui dia di kediaman
orang tuanya, dia rupanya dia tak juga tinggal di sana, kata orang tuanya,
sekarang ia tinggal di apartemen di kawasan Jakarta barat, akupun meminta
alamat apartemennya, untungnya orang tua Erin baik, karena mereka sudah
mengenalku lama sekali.
Aku
menuju apartemen yang orang tua Erin maksud, di lantai sepuluh ini Erin
tinggal, keketuk pintu apartemennya, tak ada yang menyahut, ketika aku yakin
kalau Erin tak ada di sana seseorang dari dalam membuka pintu.
“Maaf
siapa, ya?” tanya suara yang aku kenal, segera aku membalikan badanku.
“Erin...”
Ia
terpaku sesaat, “Castro.... em... sedang apa di sini?”
“Gue,
gue mau ketemu lo, Rin.”
“Oh,
ke gue?” ia diam sejenak. “Ya udah, sini masuk,” katanya kikuk.
Aku
duduk di ruang tamu yang luas miliknya, sesaat aku mengamati rumahnya, bagus dan
terkesan mewah, ada beberapa foto dirinya sendiri, berfose layaknya model, ah,
dia memang model sekarang.
“Lo
mau minum apa?”
“Gak
usah repot-repot, Rin, gue gak akan lama, kok.”
Ia
mengangguk kemudian duduk.
“”Lo
makin cantik aja, ya?”
Ia
tersenyum malu.
“Gimana
kabar lo, Rin?”
“Baik,
gue baik, lo sendiri gimana? Kerja apa sekarang.”
“Gue
baik, Rin, baik. Em, sekarang gue kerja di perusahaan tekstil.”
“Wah,
kok bisa? Gak nyambung sama jurusan, ya? Sama kaya gue.”
Aku
tersenyum. “Gue dateng ke sini mau minta maaf Rin, ke lo, tentang kelakuan gue
dulu.”
Erin
diam sejenak kemudian tersenyum. “Gue udah maafin lo, kok, Cas, udah lama
malah, ketika terakhir kali lo ketemu sama Bastian. Ya, emang awalnya gue marah
ke Bastian karena masih mau-maunya dia ketemu lo, tapi gue sadar, Bastian aja
yang punya masalah sama lo bisa maafin, kenapa gue nggak?”
“Thanks
Rin, lo emang sahabat gue yang paling baik.”
Ia
tersenyum, sedikit salah tingkah.
“Ah,
em, anu, sekarang lo ama siapa?”
“Gue
gak ama siapa-siapa, Rin, gue udah gak mau lagi cari-cari cowok, gue nyoba buat
berubah, ya, walaupun keliatannya gue gak berubah.”
“Keliatan,
kok. Emang secara penampilan gak berubah, masih metroseksual, tapi gue bisa
liat lo dari mata dan hati lo, gue salut sekaligus seneng, akhirnya lo bisa
berubah.”
“Ya,
mungkin ini semua ada hikmahnya, maksud gue, setelah putusnya gue, gue merasa
harus ada yang gue perbaiki dalam hidup ini, gak secara langsung, sih,
bertahap. Dan, sepertinya gue udah berhasil.”
“Lo
pasti nyari Bastian juga, kan?”
Aku
terdiam.
“Maaf,
tapi gue gak bisa bilang ke lo dimana dia sekarang, dia sendiri yang minta ke
gue buat jangan bilang ke lo tentang keberadaannya, soalnya dia tau, suatu saat
lo bakalan nyari dia lagi, maafin gue, ya?”
Aku
tertunduk, merenung, kemudian menatap Erin dan tersenyum. “Gak apa-apa, Rin,
gue ngerti, kok.”
“Sebastian
sebenernya masih sayang sama lo, Cast, selalu, dan gak akan pernah berubah.
Tapi, dia mencoba buat merelakan lo. Gue sendiri, sih, udah pernah nasehatin
dia, kalau dia masih cinta sama lo, kenapa gak balikan lagi aja, tapi dia
bilang... kalau kalian jodoh, pasti bakalan ketemu lagi, meskipun dengan hal
yang tak terduga. Yang penting buat gue sekarang, lo udah mengakui kesalahan
lo, lo bukan Castro yang dulu, bukan Castro yang pengecut ngadepin setiap
masalah, lo udah jauh lebih kuat dan matang, tinggal tunggu aja kapan semua
penantian lo akan dibayar.”
“Sekali
lagi makasih banget, ya, Rin. Lo emang sahabt gue. Eh, lo masih nganggep gue
sahabat, kan?”
Ia
tersenyum kemudian mendekat dan memelukku. “Tentu, kita masih sahabatan,
selamanya.”
&&&
Sore
ini aku diundang datang ke acara ppernikahan bos ku, di usianya yang sudah
bukan remaja lagi, ia baru menikah, tak tanggung-tanggung, ia menikah dengan
gadis yang usianya masih delapan belas tahun. Sebenarnya bos ku ini orangnya
baik, tapi kadang-kadang tidak bisa di tebak juga bagaimana sifat aslinya, jadi
kami sebagai bawahan harus ekstra mengerti dengan kondisi dia.
“Rick,
lo ikut sama gue, ya?”
“Iya
deh, walaupun sebenernya gue males.”
Aku
tersenyum kepada Erick dan menepuk punggungnya. “Thanks.”
Kalian
ingat Erick? Iya, dia adalah mantanku, tapi sekarang ini dia jadi sahabat
terbaikku. Berkat dia juga aku bisa terlepas dari jeratan Roby. Erick
memberitahuku kalau sebenarnya Roby adalah simpenan om-om, awalnya aku tak
percaya, aku pikir dia hanya ingin membuat hubunganku dengan Roby renggang,
tapi ia membuktikannya. Malam setelah kami adu mulut, ia tak pulang ke rumahku,
Erick memberitahuku kalau dia pergi bersama om-om ke hotel, karena aku penasaran
akhirnya aku putuskan untuk membuktikan semua perkataan Erick, dan, rupanya
memang benar, aku mendobrak pintu hotel dan kulihat ia sedang asyik bersenggama
dengan om-om sialan. Langsung saja aku pukuli kedua orang bejat itu dan setelah
puas aku tinggalkan mereka. Sebab itulah kini kami bisa dekat kembali dan
menjadi sahabat. Erick sendiri sudah tahu tentang kisahku, tapi ia tetap
menyemangatiku dan tidak selalu memberi suport.
Mobilku
sudah berhenti di tempat parkir sebuah rumah mewah, bos ku ini menikah dengan
gaya pesta kebun, sehingga semuanya di lakukan di halaman rumahnya yang memang
luas.
Aku
disambut hangat oleh bosku ini, dan ia memintaku untuk menyapa semua relasi
kerjanya, aku sendiri memang sudah mengenal relasi-relasi bosku ini dan yang
paling terdekat adalah Mr. McGregor, ia sudah kuanggap seperti kakakku sendiri.
Tuan McGregor ini gay, dan masih jomblo, pernah dulu ia menyatakan cinta padaku
tapi aku tolak dengan halus, alasannya aku sudah memiliki kekasih.
“Hi,
Castro, how are you? Appa khabbar? Kauw ddatang cendirian?” katanya dengan
menggunakan bahasa Indonesia, meskipun terdengar aneh bagiku.
“Hi
Mr McGregor, aku baik-baik saja, aku kira anda tidak akan datang ke sini.”
“Akyu
pasti ddatang, bosmu yangh memaksaku uncuk ddatang keacara pernikahannya ini.”
“Bagus,
ya, memang dia berharap sekali anda datang, tuan. Aku dengan temanku, Erick,”
aku memperkenalkan mereka. “Erick ini Mr McGregor, dan Mr, ini Erick,
sahabatku.”
“Oh,
bagus, hai appa khabbar? Nice to meet you.”
“Nice
to meet you too, sir.”
“Oh,
iya, aku kesini dengan seseorang,” kemudian ia membisikan sesuatu kepadaku.
“Cowok ini calon pacarku,” katanya sambil kemudian memanggil seseorang yang
sedang asik mengobrol dengan seorang gadis.
Aku
tersenyum mendengar ucapan Mr McGregor, kamudian Erick menepuk pundakku, dan
berkata, “itu Sebastian, Cast!”
Mendengar
ucapan Erick aku terkejut, Sebastian datang sini bersama Mr. McGregor.
“Nah,
ini kawanku, namanya Sebastian, bagaimana menurut khalan? Chakep tidak?”
Mataku
tak lepas menatapnya, orang yang selama ini selalu aku sebutkan dalam tidur dan
mimpiku kini hadir lagi di hadapanku, lebih dewasa, sedikit berkumis, dengan
bibir yang selalu menjadi favoriteku.
“Bas?”
“Cast?”
Aku
berbicara serentak, hal ini membuat Mr McGregor bingung.
“Kalian
syudah saling kenal rupanya?”
Sesaat
kemudian ia langsung mengalihkan pandangannya, “ah, iya, dulu kita teman satu
kampus, jadi kenal.”
“Owh,
Owh, Owh, rupanya kalian sudah saling khenal yack?”
“Dunia
memang sempit, bhagaimana, dia cocok khan dhenganku?” tanya Mr. Mcgregor.”
Aku
tak dapat berkata apa-apa, rupanya sekarang Sebastian sudah bersama pria lain,
pria yang lebih matang dan mungkin lebih baik pula.
“Owh,
iya, minggu dhepan akyu ingin mengajakmu ikut bersama kami, rencananya, aku dan
Sebastian akan pergi berlibur ke Bali, kalian bisa ikut?”
“Aku
ikut!” jawab Erick kemudian. Aku terkejut dengan ucapan Erick yang cepat
menanggapi ajakan dari Mr McGregor ini. “Kebetulan aku ingin liburan, sekalian
mencari pria bule juga,” ujarnya terus terang.
“Owh,
rupanya kamu suka pria bule juga? Akyu juga bule, jangan-jangan kamu suka
kepadaku, ya?”
“Ah,
em, anu...”
Aku,
Sebastian, dan Mr, McGregor langsung tertawa bersama.
“Aku
ke belakang sebentar,” pamitku kepada Mr. McGregor, kemudian mengajak Erick
untuk ikut.
Di
dalam toliet.
“Heh,
lo apa-apaan sih, langsung bilang ikut gitu, dia kan cuman basa-basi ngajaknya
juga.”
“Eh
kata siapa, bule biasanya kalau ngajak itu beneran, lagian dia ganteng banget
Cast, gue suka sama Mr. McGregor itu.”
“Tapi,
kan, sekarang dia sama Bastian?”
“Emang
mereka udah pacaran?”
“Belum,
tadi, sih, bilangnya dia belum pacaran cuman calon pacar aja katanya.”
“Ya
udah, apa masalahnya?”
“Tapi...”
“Gak
ada tapi-tapian, lo masih cinta, kan sama Sebastian?”
Aku
diam.
“Gue
liat di matanya kalau dia juga masih cinta sama lo.”
“Ah
masa, so tau deh!”
“Seriusan,
gue gak bohong!”
Udah
ah, gue mau ke depan lagi, mau ngobrol sama Mr Mcgregor itu, siapa tau dengan
sering ngobrol sama gue dia kepincut ama gue, eh, gue ganteng kan malam ini?”
“Iya,
lo ganteng. Huh! Tadi aja bilangnya meles ikut ke sini, sekarang malah
sebaliknya.”
“Tadi
kan beda, gue kira gak ada bule ganteng di acara nikahan ini.”
“Dasar
nenek-nenek rempong!”
“Biarin!”
Erick
segera keluar dari toilet di susul olehku, ia langsung kembali bergabung dengan
Mr.Gregor dan Sebastian, aku menghampiri mereka dan kulihat Sebastian diam saja
tak banyak bicara.
Lima
belas menit kemudian kami tertawa bersama-sama, Erick rupanya memang
benar-benar ingin mendapatkan hati bule itu, kulihat Sebastian sudah tidak ada
diantara kami, aku beranjak dari tempatku dan mencarinya.
Sebastian
rupanya sedang duduk-duduk di kursi panjang, sendiri sambil merokok.
“Sejak
kapan lo jadi perokok.”
“Eh,
em, udah lama, Cast.”
“Oh,
ya?”
“Iya,
mau rokok?”
Aku
mengambil rokok yang ia suguhkan untukku.
“Lo
semakin beda, aja, ya sekarang?”
“Beda
apanya?”
“Semakin
dewasa dan... semakin ganteng aja.”
“Ah,
lo bisa aja.”
“Ini
serius loh, gue gak bohong.”
“Lo
juga makin dewasa, makin mateng... tapi....”
“Tapi
apa?”
Sebastian
tersenyum, “semakin item.”
Kami
langsung tertawa bersama.
“Gue
seneng banget bisa ketemu lagi sama lo.”
Sebastian
terdiam. “Gue juga, tapi gak nyangka kita bakalan ketemu di sini.”
“Eh,
gue mau nanya sama lo, boleh?”
“Nanya
apa?”
“Tapi
jangan marah, ya?”
Sebastian
menaikan sebelah alisnya.
“Lo
suka sama Mr. McGregor?”
“Kenapa
lo nanya itu?”
“Nggak,
gue cuman penasaran aja, kalau lo ama dia juga gak apa-apa, kok, gue ikhlas,
seenggaknya gue tau lo sekarang bersama orang yang tepat, Mr. McGregor itu
orang baik aset terpenting perusahaan gue.”
“Dia
itu anaknya temen alm bokap gue, gue juga udah kenal di lama banget, pertama
gue ketemu sama dia waktu gue masih kecil, sedangkan dia waktu itu umurnya udah
lima belas tahun.”
“Kadang
yang lebih tua lebih memahami diri kita.”
“Iya,
dan dia orangnya terlalu baik, gue di kuliahin sama dia di Ausi, ngambil S2
sastra Inggris.”
“Wah,
kereng, dong, jadi setelah lo wisuda kemaren lo langsung cabut ke sana?”
Ia
mengangguk.
“Lo
emang cocok sama dia, Bas.”
“Mungkin.”
“Kenapa
mungkin?”
Ia
diam kemudian tersenyum. “Gak apa-apa,” kemudian ia beranjak berdiri. “Kita ke
dalem lagi, yuk, gue takut mereka nyariin kita.”
“Bas?”
“Iya?”
“Boleh...”
bibirku seperti tercekat tak dapat berbicara, “Please give me a hug fot the
last time.”
Ia
terdiam, aku menatapnya yang sedang berdiri menatung.
“Bas?”
Kemudian
ia menatapku. Aku berdiri kemudian kami berpelukan, mungkin ini akan menjadi
pelukan kami yang benar-benar untuk terkhir kalinya.
“Thanks.”
Ia
tersenyum kemudian meninggalkanku sendiri terpaku.
.jpg)

0 komentar:
Posting Komentar