Namanya Sebastian 8



Kalian pasti pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan, kan? Itu yang terjadi kepadaku saat ini, kebodohan terbesarku adalah meninggalkan Sebastian hanya demi pria yang tak lebih baik darinya. Setiap hari aku selalu memikirkannya, aku benar-benar merindukannya, merindukan setiap tarikan nafasnya, senyumnya yang menawan dengan bibir keriting tipis, tawanya, hingga hal-hal kecil biasa yang sering ia lakukan.

Saat ini kalian pasti tertawa puas atas penderitaanku, bersungut-sungut memncaciku, bahkan pasti adalah yang tersenyum sungging sambil bilang “syukurin lo!” aku terima itu semua karena memang aku layak mendapatkannya, layak mendapat caci maki kalian. Oh, apa sekarang kalian sudah puas? Sebab kalau kalian masih belum puas, akan aku lanjutkan kisah ini kisah akhir dari perjalanan cintaku untuknya, pria yang selalu kusebut namanya dalam tidurku, NAMANYA SEBASTIAN. Well aku mulai saja, em, bagaimana, ya, sebelum melanjutkan cerita ini, siapkan pop corn, dan segelas kopi hangat agar kalian lebih rileks.
&&&
Sudah hampir tiga tahun berlalu, tiga tahun yang aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku. Aku kini tak lagi bermain api dengan siapapun. Aku sendiri, jomblo, single, atau apalah namanya itu, aku tak peduli, yang terpenting bagiku saat ini aku menikmati kesendirian ini. Sebetulnya bila ada yang bilang aku tak laku lagi, mereka salah, masih banyak pria-pria yang lebih tampan dan gagah yang ingin menjadi pacarku, tapi aku telah mengunci hatiku, aku hanya tinggal menunggu seseorang yang selalu aku harapkan untuk membukanya, meski aku sendiri tak tahu kapan kami akan bersama, meskipun nantinya aku hanya bisa menelan kepahitan tentang cerita ini, biarlah, biarlah aku menerimanya.
Kini aku bekerja di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang tekstil, kerjaku sebagai penterjemah bila ada visitor dari luar datang, untungnya aku memiliki keahlian bahasa Inggris yang fasih, jadi pekerjaan ini bagiku seperti pekerjaan santai.
Erin, sahabatku, kini sudah menjadi model terkenal, bukan hanya model, kini ia sering aku lihat membintangi sejumlah film layar lebar yang bagus. Meskipun aku tak lagi berada dekat dengannya, tapi aku bersyukur, setidaknya aku tahu kondisi dia dari media-media yang sering meliputnya, dan hubunganku dengannya saat ini sudah kembali normal.
Tepat satu tahun yang lalu, aku mencoba mencari keberadaan Erin dan Sebastian, rupanya mereka tak lagi menempati rumah yang dulu, rumah itu kini diisi oleh keponakannya yang lain. Aku pergi ke Jakarta untuk menemui dia di kediaman orang tuanya, dia rupanya dia tak juga tinggal di sana, kata orang tuanya, sekarang ia tinggal di apartemen di kawasan Jakarta barat, akupun meminta alamat apartemennya, untungnya orang tua Erin baik, karena mereka sudah mengenalku lama sekali.
Aku menuju apartemen yang orang tua Erin maksud, di lantai sepuluh ini Erin tinggal, keketuk pintu apartemennya, tak ada yang menyahut, ketika aku yakin kalau Erin tak ada di sana seseorang dari dalam membuka pintu.
“Maaf siapa, ya?” tanya suara yang aku kenal, segera aku membalikan badanku.
“Erin...”
Ia terpaku sesaat, “Castro.... em... sedang apa di sini?”
“Gue, gue mau ketemu lo, Rin.”
“Oh, ke gue?” ia diam sejenak. “Ya udah, sini masuk,” katanya kikuk.
Aku duduk di ruang tamu yang luas miliknya, sesaat aku mengamati rumahnya, bagus dan terkesan mewah, ada beberapa foto dirinya sendiri, berfose layaknya model, ah, dia memang model sekarang.
“Lo mau minum apa?”
“Gak usah repot-repot, Rin, gue gak akan lama, kok.”
Ia mengangguk kemudian duduk.
“”Lo makin cantik aja, ya?”
Ia tersenyum malu.
“Gimana kabar lo, Rin?”
“Baik, gue baik, lo sendiri gimana? Kerja apa sekarang.”
“Gue baik, Rin, baik. Em, sekarang gue kerja di perusahaan tekstil.”
“Wah, kok bisa? Gak nyambung sama jurusan, ya? Sama kaya gue.”
Aku tersenyum. “Gue dateng ke sini mau minta maaf Rin, ke lo, tentang kelakuan gue dulu.”
Erin diam sejenak kemudian tersenyum. “Gue udah maafin lo, kok, Cas, udah lama malah, ketika terakhir kali lo ketemu sama Bastian. Ya, emang awalnya gue marah ke Bastian karena masih mau-maunya dia ketemu lo, tapi gue sadar, Bastian aja yang punya masalah sama lo bisa maafin, kenapa gue nggak?”
“Thanks Rin, lo emang sahabat gue yang paling baik.”
Ia tersenyum, sedikit salah tingkah.
“Ah, em, anu, sekarang lo ama siapa?”
“Gue gak ama siapa-siapa, Rin, gue udah gak mau lagi cari-cari cowok, gue nyoba buat berubah, ya, walaupun keliatannya gue gak berubah.”
“Keliatan, kok. Emang secara penampilan gak berubah, masih metroseksual, tapi gue bisa liat lo dari mata dan hati lo, gue salut sekaligus seneng, akhirnya lo bisa berubah.”
“Ya, mungkin ini semua ada hikmahnya, maksud gue, setelah putusnya gue, gue merasa harus ada yang gue perbaiki dalam hidup ini, gak secara langsung, sih, bertahap. Dan, sepertinya gue udah berhasil.”
“Lo pasti nyari Bastian juga, kan?”
Aku terdiam.
“Maaf, tapi gue gak bisa bilang ke lo dimana dia sekarang, dia sendiri yang minta ke gue buat jangan bilang ke lo tentang keberadaannya, soalnya dia tau, suatu saat lo bakalan nyari dia lagi, maafin gue, ya?”
Aku tertunduk, merenung, kemudian menatap Erin dan tersenyum. “Gak apa-apa, Rin, gue ngerti, kok.”
“Sebastian sebenernya masih sayang sama lo, Cast, selalu, dan gak akan pernah berubah. Tapi, dia mencoba buat merelakan lo. Gue sendiri, sih, udah pernah nasehatin dia, kalau dia masih cinta sama lo, kenapa gak balikan lagi aja, tapi dia bilang... kalau kalian jodoh, pasti bakalan ketemu lagi, meskipun dengan hal yang tak terduga. Yang penting buat gue sekarang, lo udah mengakui kesalahan lo, lo bukan Castro yang dulu, bukan Castro yang pengecut ngadepin setiap masalah, lo udah jauh lebih kuat dan matang, tinggal tunggu aja kapan semua penantian lo akan dibayar.”
“Sekali lagi makasih banget, ya, Rin. Lo emang sahabt gue. Eh, lo masih nganggep gue sahabat, kan?”
Ia tersenyum kemudian mendekat dan memelukku. “Tentu, kita masih sahabatan, selamanya.”
&&&
Sore ini aku diundang datang ke acara ppernikahan bos ku, di usianya yang sudah bukan remaja lagi, ia baru menikah, tak tanggung-tanggung, ia menikah dengan gadis yang usianya masih delapan belas tahun. Sebenarnya bos ku ini orangnya baik, tapi kadang-kadang tidak bisa di tebak juga bagaimana sifat aslinya, jadi kami sebagai bawahan harus ekstra mengerti dengan kondisi dia.
“Rick, lo ikut sama gue, ya?”
“Iya deh, walaupun sebenernya gue males.”
Aku tersenyum kepada Erick dan menepuk punggungnya. “Thanks.”
Kalian ingat Erick? Iya, dia adalah mantanku, tapi sekarang ini dia jadi sahabat terbaikku. Berkat dia juga aku bisa terlepas dari jeratan Roby. Erick memberitahuku kalau sebenarnya Roby adalah simpenan om-om, awalnya aku tak percaya, aku pikir dia hanya ingin membuat hubunganku dengan Roby renggang, tapi ia membuktikannya. Malam setelah kami adu mulut, ia tak pulang ke rumahku, Erick memberitahuku kalau dia pergi bersama om-om ke hotel, karena aku penasaran akhirnya aku putuskan untuk membuktikan semua perkataan Erick, dan, rupanya memang benar, aku mendobrak pintu hotel dan kulihat ia sedang asyik bersenggama dengan om-om sialan. Langsung saja aku pukuli kedua orang bejat itu dan setelah puas aku tinggalkan mereka. Sebab itulah kini kami bisa dekat kembali dan menjadi sahabat. Erick sendiri sudah tahu tentang kisahku, tapi ia tetap menyemangatiku dan tidak selalu memberi suport.
Mobilku sudah berhenti di tempat parkir sebuah rumah mewah, bos ku ini menikah dengan gaya pesta kebun, sehingga semuanya di lakukan di halaman rumahnya yang memang luas.
Aku disambut hangat oleh bosku ini, dan ia memintaku untuk menyapa semua relasi kerjanya, aku sendiri memang sudah mengenal relasi-relasi bosku ini dan yang paling terdekat adalah Mr. McGregor, ia sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Tuan McGregor ini gay, dan masih jomblo, pernah dulu ia menyatakan cinta padaku tapi aku tolak dengan halus, alasannya aku sudah memiliki kekasih.
“Hi, Castro, how are you? Appa khabbar? Kauw ddatang cendirian?” katanya dengan menggunakan bahasa Indonesia, meskipun terdengar aneh bagiku.
“Hi Mr McGregor, aku baik-baik saja, aku kira anda tidak akan datang ke sini.”
“Akyu pasti ddatang, bosmu yangh memaksaku uncuk ddatang keacara pernikahannya ini.”
“Bagus, ya, memang dia berharap sekali anda datang, tuan. Aku dengan temanku, Erick,” aku memperkenalkan mereka. “Erick ini Mr McGregor, dan Mr, ini Erick, sahabatku.”
“Oh, bagus, hai appa khabbar? Nice to meet you.”
“Nice to meet you too, sir.”
“Oh, iya, aku kesini dengan seseorang,” kemudian ia membisikan sesuatu kepadaku. “Cowok ini calon pacarku,” katanya sambil kemudian memanggil seseorang yang sedang asik mengobrol dengan seorang gadis.
Aku tersenyum mendengar ucapan Mr McGregor, kamudian Erick menepuk pundakku, dan berkata, “itu Sebastian, Cast!”
Mendengar ucapan Erick aku terkejut, Sebastian datang sini bersama Mr. McGregor.
“Nah, ini kawanku, namanya Sebastian, bagaimana menurut khalan? Chakep tidak?”
Mataku tak lepas menatapnya, orang yang selama ini selalu aku sebutkan dalam tidur dan mimpiku kini hadir lagi di hadapanku, lebih dewasa, sedikit berkumis, dengan bibir yang selalu menjadi favoriteku.
“Bas?”
“Cast?”
Aku berbicara serentak, hal ini membuat Mr McGregor bingung.
“Kalian syudah saling kenal rupanya?”
Sesaat kemudian ia langsung mengalihkan pandangannya, “ah, iya, dulu kita teman satu kampus, jadi kenal.”
“Owh, Owh, Owh, rupanya kalian sudah saling khenal yack?”
“Dunia memang sempit, bhagaimana, dia cocok khan dhenganku?” tanya Mr. Mcgregor.”
Aku tak dapat berkata apa-apa, rupanya sekarang Sebastian sudah bersama pria lain, pria yang lebih matang dan mungkin lebih baik pula.
“Owh, iya, minggu dhepan akyu ingin mengajakmu ikut bersama kami, rencananya, aku dan Sebastian akan pergi berlibur ke Bali, kalian bisa ikut?”
“Aku ikut!” jawab Erick kemudian. Aku terkejut dengan ucapan Erick yang cepat menanggapi ajakan dari Mr McGregor ini. “Kebetulan aku ingin liburan, sekalian mencari pria bule juga,” ujarnya terus terang.
“Owh, rupanya kamu suka pria bule juga? Akyu juga bule, jangan-jangan kamu suka kepadaku, ya?”
“Ah, em, anu...”
Aku, Sebastian, dan Mr, McGregor langsung tertawa bersama.
“Aku ke belakang sebentar,” pamitku kepada Mr. McGregor, kemudian mengajak Erick untuk ikut.
Di dalam toliet.
“Heh, lo apa-apaan sih, langsung bilang ikut gitu, dia kan cuman basa-basi ngajaknya juga.”
“Eh kata siapa, bule biasanya kalau ngajak itu beneran, lagian dia ganteng banget Cast, gue suka sama Mr. McGregor itu.”
“Tapi, kan, sekarang dia sama Bastian?”
“Emang mereka udah pacaran?”
“Belum, tadi, sih, bilangnya dia belum pacaran cuman calon pacar aja katanya.”
“Ya udah, apa masalahnya?”
“Tapi...”
“Gak ada tapi-tapian, lo masih cinta, kan sama Sebastian?”
Aku diam.
“Gue liat di matanya kalau dia juga masih cinta sama lo.”
“Ah masa, so tau deh!”
“Seriusan, gue gak bohong!”
Udah ah, gue mau ke depan lagi, mau ngobrol sama Mr Mcgregor itu, siapa tau dengan sering ngobrol sama gue dia kepincut ama gue, eh, gue ganteng kan malam ini?”
“Iya, lo ganteng. Huh! Tadi aja bilangnya meles ikut ke sini, sekarang malah sebaliknya.”
“Tadi kan beda, gue kira gak ada bule ganteng di acara nikahan ini.”
“Dasar nenek-nenek rempong!”
“Biarin!”
Erick segera keluar dari toilet di susul olehku, ia langsung kembali bergabung dengan Mr.Gregor dan Sebastian, aku menghampiri mereka dan kulihat Sebastian diam saja tak banyak bicara.
Lima belas menit kemudian kami tertawa bersama-sama, Erick rupanya memang benar-benar ingin mendapatkan hati bule itu, kulihat Sebastian sudah tidak ada diantara kami, aku beranjak dari tempatku dan mencarinya.
Sebastian rupanya sedang duduk-duduk di kursi panjang, sendiri sambil merokok.
“Sejak kapan lo jadi perokok.”
“Eh, em, udah lama, Cast.”
“Oh, ya?”
“Iya, mau rokok?”
Aku mengambil rokok yang ia suguhkan untukku.
“Lo semakin beda, aja, ya sekarang?”
“Beda apanya?”
“Semakin dewasa dan... semakin ganteng aja.”
“Ah, lo bisa aja.”
“Ini serius loh, gue gak bohong.”
“Lo juga makin dewasa, makin mateng... tapi....”
“Tapi apa?”
Sebastian tersenyum, “semakin item.”
Kami langsung tertawa bersama.
“Gue seneng banget bisa ketemu lagi sama lo.”
Sebastian terdiam. “Gue juga, tapi gak nyangka kita bakalan ketemu di sini.”
“Eh, gue mau nanya sama lo, boleh?”
“Nanya apa?”
“Tapi jangan marah, ya?”
Sebastian menaikan sebelah alisnya.
“Lo suka sama Mr. McGregor?”
“Kenapa lo nanya itu?”
“Nggak, gue cuman penasaran aja, kalau lo ama dia juga gak apa-apa, kok, gue ikhlas, seenggaknya gue tau lo sekarang bersama orang yang tepat, Mr. McGregor itu orang baik aset terpenting perusahaan gue.”
“Dia itu anaknya temen alm bokap gue, gue juga udah kenal di lama banget, pertama gue ketemu sama dia waktu gue masih kecil, sedangkan dia waktu itu umurnya udah lima belas tahun.”
“Kadang yang lebih tua lebih memahami diri kita.”
“Iya, dan dia orangnya terlalu baik, gue di kuliahin sama dia di Ausi, ngambil S2 sastra Inggris.”
“Wah, kereng, dong, jadi setelah lo wisuda kemaren lo langsung cabut ke sana?”
Ia mengangguk.
“Lo emang cocok sama dia, Bas.”
“Mungkin.”
“Kenapa mungkin?”
Ia diam kemudian tersenyum. “Gak apa-apa,” kemudian ia beranjak berdiri. “Kita ke dalem lagi, yuk, gue takut mereka nyariin kita.”
“Bas?”
“Iya?”
“Boleh...” bibirku seperti tercekat tak dapat berbicara, “Please give me a hug fot the last time.”
Ia terdiam, aku menatapnya yang sedang berdiri menatung.
“Bas?”
Kemudian ia menatapku. Aku berdiri kemudian kami berpelukan, mungkin ini akan menjadi pelukan kami yang benar-benar untuk terkhir kalinya.
“Thanks.”
Ia tersenyum kemudian meninggalkanku sendiri terpaku.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Namanya Sebastian 8 ini dipublish oleh Unknown pada hari 28 Desember 2014. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Namanya Sebastian 8
 

0 komentar:

Posting Komentar