Ini
adalah kisah cinta, bukan kisah tentang cinta seperti layaknya cinta pada
standar biasa. Kisah cinta yang terkadang sulit untuk dimengerti dan diterima,
berbeda, tetapi inilah cinta. Yang tak mengenal jumlah bilangan cinta, seperti
pasangan yang hanya dimiliki seorang pria dan wanita di dalamnya, ini cinta,
cinta empat pemuda dengan berbeda watak dan pandangan hidup. Menyatu? Tentu!
Atas dasar cinta perbedaan itu saling menghiasi, memberi warna berbeda dengan
kelaziman yang berbeda pula.
Dan
untuk cinta yang tak lazim ini, kisah ini bercerita.
************************************************************
Adam
tahu, minggu-minggu pertamanya sebagai guru honorer pasti akan terkesan
canggung, bukan karena belum terbiasanya ia mengajar, melainkan kecanggungannya
terhadap guru-guru senior yang ada di sekolah itu, memang lumrah hal itu
terjadi kepada siapapun orang yang memasuki dunia kerja yang baru bahkan di
manapun bekerja. Meski banyak yang meremehkan pekerjaan sebagai seorang guru,
terlebih lagi hanya sebagai guru honorer, namun Adam tak pernah menyesali atau
mengeluh, baginya, mengajar merupakan sebuah pekerjaan sekaligus hobi yang di
bayar, meski nilai rupiahnya tak seberapa, asalkan ia merasa enjoy, maka ia
dengan senang hati menjalaninya. Bukan hanya mengajar, Adam juga sangat
menyukai dunia tulis menulis, baginya menulis adalah sebagian dari hidupnya,
apapun jenis tulisannya, mau novel, artikel, esai, cerpen, bahkan puisi, pasti
ia kerjakan, bahkan ketika liburanpun ia habiskan hanya untuk menulis. Selain
mengajar dan menulis, Adam juga sangat hobi berolah raga, apalagi olah raga
dalam ruangan seperti fitness, maka tak heran tubuhnya terbentuk indah dengan
bantuan alat-alat berat tersebut.
Kulit
putih mulus dengan mata bulat dan alis yang lentik, membuat ketampanannya
semakin terpancar, berpadu dengan tubuh idealnya. Banyak gadis-gadis semasa
sekolah dan kuliah yang menyukainya, tapi ia tak pernah menanggapi atau
memedulikan hal itu, hingga saat ini ia masih menyimpan satu nama di hatinya,
dan nama itu kini benar-benar telah menjadi kekasihnya.
“Pak,
ada salam dari bu Yuni, tuh,” kata seorang ibu guru yang duduk di sampingnya
ketika jam istirahat di kantor.
Adam
tersenyum.
“Kok,
senyum aja, sih? Diterima nggak salamnya?” ucap ibu guru itu lagi.
“Diterima,
bu, salam balik, ya?” ucap Adam datar sambil terus sibuk merekap nilai ulangan
harian siswa.
“Yah,
si bapak ini, kok datar-datar aja, bu Yuni itu suka beneran sama bapak, emangnya
bapak gak punya perasaan yang sama gitu, sama bu Yuni? Padahal dia, kan cantik,
pak. Kalian cocok loh.”
Adam
kembali tersenyum. “Belum kepikiran buat pacaran, bu, mau fokus kerja dulu.
Kalau pacaran kapan saya bisa kaya? Uangnya pasti bakalan kepakai buat nge-date
atau apalah itu.”
“Kata
siapa? Pacaran nggak harus modal, kok, pak. Saya saja waktu masih pacaran sama
suami, dia jarang keluarin uang, malah saya yang sering keluarin uang buat dia.
Kalau sudah cinta, sih, uang bukan penghambat.”
Adam
melirik ibu guru yang ternyata bernama bu Hilda itu sambil tersenyum dan kembali
fokus kepada pekerjaannya. Sesaat kemudian ia menatap bu Hilda, “Oh, ya, bu,
besok yang ikut penataran siapa saja?”
Bu
Hilda berpikir sejenak, “kalau gak salah si bapak sama pak Makmur, tapi katanya
beliau tidak bisa, jadi kemungkinannya di ganti dengan guru lain, tunggu, biar
ibu tanyakan dulu ke Kepala Sekolah, ya?”
Adam
mengangguk, kemudian bu Hilda pergi ke ruang Kepsek. Beberapa menit kemudian ia
keluar sambil senyum-senyum sendiri.
“Ada
apa, bu, kok, senyum-senyum sendiri gitu?” tanya Adam heran melihat tingkahnya.
“Memang
kalian jodoh, ya?”
“Maksud
ibu apa?”
“Guru
yang menggantikan pak Makmur untuk penataran di SD Angel 2 itu bu Yuni,” ia
berkata seperti itu sambil mesem-mesem tidak jelas, Adam hanya menggeleng
menanggapinya.
&&&
Di
sebuah kelas, ada seorang guru yang sedang sibuk menerangkan tentang pelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam kepada para murid, ia berdiri di depan sambil memegang
sebuah gambar besar tentang hewan-hewan.
“Jadi,
kalian sudah tahu, kan tentang omnivora, karnivora dan herbivora, baiklah, agar
kalian lebih mengerti lagi, bapak akan tunjuk satu anak. Em, coba Fiqri, apa
itu omnivora?”
Murid
yang di tunjuk itu terkejut, kemudian berpikir sejenak, “Tikus, kemudian....
beruang, dan em... ayam.”
“Ya,
benar sekali, hewan yang termasuk ke dalam golongan omnivora adalah ayam,
tikus, dan beruang, mengapa ketiga hewan itu masuk ke dalam golongan omnivora,
coba Raju jelaskan?”
Anak
itu dengan mantap menjawab, “sebab ayam, tikus, dan beruang adalah hewan
pemakan daging dan tumbuhan.”
“Iya,
benar sekali, jadi ketiga hewan itu masuk ke dalam golongan omnivora, karena
mereka makan daging dan tumbuhan, mereka bisa memakan tumbuh-tumbuhan dan juga
daging-dagingan, tergantung apa yang mereka temukan untuk di makan.”
Lalu,
ada salah satu anak yang mengacungkan tangan.
“Pak,
kalau gitu manusia termasuk hewan omnivora, dong?”
Shane
tertawa, “coba bapak bertanya, apa kamu termasuk hewan?”
“Bukan.”
Maka,
pecahlah kelas yang tadinya hening itu menjadi ramai oleh gelak tawa. Tiba-tiba
bel berbunyi.
Teeeeeeeeeeeeeet
“Sudah
waktunya istirahat, oh, ya, setelah ini jangan lupa PR matematikanya di
kumpulkan, ya? Kalau ada yang tidak mengumpulkan PR tidak boleh ikut pelajaran
bapak lagi, mengerti?”
Semua
anak menjawab dengan serentak. “Iya, pak!”
Shane
pergi keluar kelas dan segera memasuki ruang guru.
Ketika
baru saja Shane duduk, Kepala Sekolah memintanya untuk datang ke ruang guru.
“Iya,
pak ada apa, ya?”
“Begini,
pak Shane, besok kamu dengan pak Anton ikut penataran, ya, di SD Angel 2, kalau
bisa jam 8 sudah datang ke sana, ya?”
“Baik,
pak.”
Shane
keluar dari ruang Kepala Sekolah.
Shane
adalah guru honorer yang sudah bekerja di SD Negeri itu selama tiga tahun, ia
adalah guru muda yang terkenal dengan kemaskulinannya, wajahnya yang tirus dan
alis mata yang tajam, membuatnya terlihat seperti orang yang tegas, padahal ia
adalah pribadi yang kocak, suka bercanda dan terkenal dengan kebaikannya,
banyak orang tua murid yang menyukai guru muda itu, sehingga tak jarang orang
tua murid yang anaknya belajar oleh dia selalu rela menunggu lama di luar
dengan alasan ingin mengawasi anaknya belajar, padahal jelas terlihat bahwa
orang tua murid itu hanya ingin melihat guru muda tampan itu mengajar. Selain
itu, ia hobi main sepak bola dan traveling sehingga banyak tempat yang sudah ia
kunjungi. Dan, untuk masalah hati, ia sudah menemukan tambatan hatinya
seseorang yang selalu membuatnya bergairah.
&&&
Sorenya
setelah pulang sekolah.
Seorang
pria nampak sedang tidur ketika Adam sampai di rumah, Adam membuka sepatunya,
kemudian menyimpan tasnya di meja. Ia duduk di samping kasur kemudian merangkul
pria yang sedang tidur itu.
“Eh,
lo udah datang?”
Adam
mengangguk.
“Tumben
pulangnya lama.”
“Tadi
abis meriksa nilai anak-anak, lo sendiri, kok, udah ada di rumah?”
“Iya,
tadi pulang cepat, katanya gue harus nyiapin barang-barang yang harus di bawa
buat penataran besok.”
“Oh,
lo ikut penataran kurtilas juga?”
“Iya
emangnya lo juga?”
Adam
mengangguk kemudian tersenyum.
“Jadi
selama lima hari ini kita bakalan bertemu terus, dong?”
Adam
kembali mengangguk, “tapi besok kita gak bisa bareng berangkatnya, soalnya guru
yang lain minta ikut sama gue.”
“Siapa?
Cowok?”
“Emangnya
lo pikir di sekolah gue ada guru muda yang ganteng selain gue?”
Shane
menggeleng.
“Itu
tau.”
“Jadi
siapa?”
Adam
membuka kemejanya dan melempar ke tempat cucian kotor.
“Ya,
lo tau sendiri, cewek ini sering banget di jodoh-jodohin ke gue, si Yuni.”
“Oh,
Yuni, dia, kan, cantik, emangnya lo nggak mau ama dia?”
Adam
menggeleng, “gue maunya cuman sama lo,” seketika juga Adam mencium bibir Shane,
mereka berpagutan lama sekali. Kemudian Shane membuka kaus dalam milik Adam dan
melemparnya, ia kembali asik melumat bibir Adam dengan penuh nafsu, menjelajah
ke lehernya, kemudian ke putingnya, Adam mengerang keenakan, meremas rambut
Shane dengan gemas. Dibukanya celana dinas Adam, dijilati celana dalam Adam
dengan nafsu, setelah itu, ia buka celana dalam yang membungkusi tubuh Adam.
Di
jilatnya penis itu, Adam kembali mengerang kenikmatan, “lo suka?” Adam
mengangguk. Penis itu kini sudah masuk ke dalam mulut Shane, ia mengulum dengan
sangat buas dan lihai. Pantat Adam yang sangat menggairahkan kini ia angkat, ia
jilati anusnya dengan perlahan. Adam kelojotan menerima jilatan itu, ia memegang
sprei kasur menahan nikmat.
Mereka
kembali berciuman, saling berpagut satu sama lain, kini Adam yang mengambil
alih permainan di bukanya celana pendek Shane, dan langsung saja penis Shane ia
kulum, ia sedaot sekut tenaga sehingga Shane mengerang dan mencium rambut Adam
yang masih rapih itu.
Setengah
jam terlewati dengan ciuman, lumatan, jilatan dan sedotan, kini Shane ingin
kepermainan yang lebih intim, ia mengambil pelumas, dan di oleskannya ke
penisnya yang sudah basah oleh air liur Adam. Adam sendiri kini tengkurap dan
dengan perlahan Shane memasukan penisnya ke dalam anus Adam dengan hati-hati,
ia masukan perlahan, Adam nampak mendesah pelan, tubuhnya pasrah akan tindihan
Shane, ia memaju-mundurkan penisnya perlahan, setiap gesekannya sangat
dinikmati oleh mereka berdua, setelah itu Shane melakukannya dengan kecepatan
stabil, tubuhnya mulai basah oleh keringat, keringat mereka menyatu akan tarian
cintai yang mereka kerjakan, makin lama, tarian itu semakin cepat, selanjutnya
mereka berganti posisi, kini Adam berada di atas tubuh Shane, menaik-turunkan
tubuhnya dengan cepat, permainan mereka semakin ganas, Adam dengan telatennya
terus menyempitkan anusnya agar Shane merasa nikmat, tak lama setelah itu
kembali mereka merubah posisinya, doggy style, gerakannya cepat, sehingga
muncul suara aduan antara kulit Shane dengan kulit Adam.
Mereka
nampak liar melakukan tarian cinta ini, karena seringnya mereka melakukan
hubungan yang didasari cinta ini, keduanya menyatu bagai segumpal permen karet
yang tak dapat berpisah peluh dan ciuman manja menebar di setiap ruangan, Shane
mengerang keenakan, Adam tahu, dengan mendengar erangan kencang dari Shane itu
pertanda bahwa Shane tak akan lama lagi keluar, ia mencoba mengganti posisi,
kini Adam tidur dan kedua kakinya naik ke atas, bersandar ke tubuh Shane,
goyangannya semakin tak terkendali, sepersekian menit kemudian, Shane
mengeluarkan penisnya dan ia tumpahkan di tubuh Adam, tak mau kalah, Adam pun
rupanya sudah keluar, akhirnya mereka memuntahkan lahar kental dan nikmat itu
secara bersamaan, Adam tersenyum menatap Shane yang berekspresi seperti itu,
Shane tersenyum menatap Adam, kemudian keduanya tertawa bersama sambil
berelukan.
&&&
Keesokan
harinya, Adam sampai di SD Angel dengan membonceng bu Yuni, guru itu memang terlihat
sangat menyukai Adam, ketika sampai di parkiran motor, ia melihat Shane sedang
merokok sambil memperhatikannya, kemudian Adam memberikan kode bahwa ia sudah
sampai di sini, Shane mengangguk. Rupanya bu Yuni mengenali Shane dan
menghampirinya.
“Eh,
pak Shane, ikut penataran juga?”
“Oh,
iya, bu Yuni, ya?”
“Iya,
saya bu Yuni, masa lupa? Kita, kan, dulu pernah se SMP.”
“Oh,
ya? Kok saya nggak ngeh, ya, ada gadis cantik di SMP itu?”
“Ah,
bapak bisa aja,” ujar nu Yuni tersipu malu.
Adam
yang mendengarkan hanya geleng-geleng kepala. Kemudan bu Yuni pamit duluan
untuk masuk ke dalam ruangan, Adam dan Shane berjalan beriringan meski masih
berjarak.
“Cemburu?”
tanya Shane.
“Ngapain
cemburu?”
“Gimana
kalau akhirnya nanti si Yuni itu berpaling dan jadi suka sama gue?”
“Bodo
amat!”
“Huh,
marah!”
“Nggak,
ssstttt udah, ah, jangan terlalu deket-deket, takut ada yang curiga.”
“Oh,
gitu, ya udah, gue duluan bareng bu Yuni,” ujar Shane sambil tangannya jahil
menarik celana dalam Adam dan melepaskannya.
Plak
“Aw,
sial!” gerutu Adam.
Dari
arah lain nampak seseorang memperhatikan tingkah aneh mereka dengan seksama.


0 komentar:
Posting Komentar