Aku
berjalan sendiri disebuat tempat yang gelap, gelap dan lembab, aku tak tahu di
mana aku sekarang. Di sini benar-benar gelap tak ada setitik cahayapun
menyinari tempat ini. Kini aku berlari, berlari menuju tempat yang terang,
tapi, di mana? Di sini masih tak ada setitik cahayapun untuk kutuju. Kakiku
sudah mulai lelah, rasanya sudah berkilo-kilo meter aku berlari tapi tak
menemukan jalan lain, hingga ketika aku terduduk kerena lelah, aku melihat ada
setitik sinar dihadapanku, bukan, itu bukan sinar, itu lebih tepatnya seperti
cahaya, cahaya yang akan menujuku ke jalan yang lebih terang.
Namanya Sebastian 8
Kalian
pasti pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan, kan? Itu yang terjadi
kepadaku saat ini, kebodohan terbesarku adalah meninggalkan Sebastian hanya
demi pria yang tak lebih baik darinya. Setiap hari aku selalu memikirkannya,
aku benar-benar merindukannya, merindukan setiap tarikan nafasnya, senyumnya
yang menawan dengan bibir keriting tipis, tawanya, hingga hal-hal kecil biasa
yang sering ia lakukan.
Namanya Sebastian 7
Setelah
Erin datang ke rumahku bulan lalu, aku merasakan ada yang hilang dalam diriku,
duniaku mendadak hampa seketika. Aku kehilangan gairah, Roby merasakan
perubahan dalam diriku, ia menyalahkanku tentang aku yang sepertinya masih
mencintai Bastian, aku sendiri tak tahu perasaanku kepada Bastian saat ini
seperti apa, hanya saja setiap kali Roby membahas Sebastian, aku merasa sesak
seketika.
Namanya Sebastian 6
Satu
hari setelah putus dengan Castro.
Tok
Tok Tok
“Bas,
boleh kakak masuk?” tanya Erin.
Hening,
tak ada jawaban.
“Bas,
kakak tau lo sedih banget putus sama Castro, tapi jangan kaya gini juga, jangan
bikin hidup lo makin menderita, ayolah Bas, buka pintunya.”
Masih
tak ada respon dari Sebastian.
“Ya
udah kalau kamu gak mau keluar, kakak mau masak makanan kesukaan kamu, nih,
nanti turun, ya, kita makan bareng-bareng.”
Namanya Sebastian 5
Aku
akui kini aku terpikat oleh ketampan Roby, di balik kulitnya yang eksotis, ia
juga paling bisa membuatku tertawa, aku nyaman berada bersamanya. Setiap kuliah
kami habiskan mengobrol di dalam kelas berdua saja, rupanya pengalamannya dalam
seks jauh dariku, maksudnya ia lebih berpengalaman dibandingkan aku. Ah, aku
pikir akulah orang yang paling berpengalaman di dunia gay ini, ternyata
dugaanku salah.
Kenapa
aku bisa dengan mudah terpikat oleh Roby? Karena menurutku ia memiliki banyak
kesamaan denganku, dari cara berpikirnya, hingga segala sesuatu yang aku sukai
iapun sama. Di tambah lagi, kelihaiannya bermain cinta, ia benar-benar bisa
membuat orang ketagihan setelah sekali saja mencicipi permainannya. Dan, aku
sudah benar-benar mabuk oleh keindahan permainannya.
Namanya Sebastian 4
Ini
sudah setengah jalan, apa kalian menikmati ceritaku? Kurasa iya, karena sudah
sejauh ini, mana mungkin kalian tidak menikmatinya. Kalau kalian memungkiri tak
menikmati ceritaku, untuk apa bagian ini kalian baca? Tentunya karena kalian
penasaran, kan?
Ok,
di cerita selanjutnya ini aku akan membawa kalian kepada saat-saat tak terduka,
hampir sama dengan film-film biasa, hanya saja yang membedakannya ini cerita
tentang GAY, dan kalian yang gay pasti tertarik, oh, iya, mungkin sedikit
berlebihan, aku tak tahu, karena ini adalah kisahku, kisah si Castro yang
bodoh.
Namanya Sebastian 3
Hubunganku
dengan Sebastian kini sudah semakin dekat, meski belum ada kata cinta darinya,
tapi aku tahu kalau dia mencintaiku juga. Setiap hari aku selalu bersamanya,
jalan-jalan, makan bareng, bahkan tak jarang aku menginap di rumah Erin hanya
ingin bersamanya. Aku sangat menikmati kebersamaan ini dan tentunya tanpa
membuat orang lain curiga, kami masih bermain aman kalau di publik.
Namanya Sebastian 2
Pagi-pagi
sekali aku sudah berada di kampus, hari ini sampai satu minggu kedepan aku akan
mengospek anak baru, sengaja aku ikut Himpunan Mahasiswa ini bertujuan hanya
untuk mendekati anak-anak baru yang masih fress. Ditambah lagi sekarang ada
Sebastian yang sangat aku tunggu kedatangannya. Rupanya anak baru sudah banyak
yang datang, aku sengaja memasang wajah bengis,
agar mereka tunjuk dan takut padaku. Di kumpulan anak-anak baru itu
sudah terlihat batang hidungnya Sebastian, ah, melihat dirinya membuatku merasa
tentram.
Namanya Sebastian 1
Aku
merindukan saat-saat bersamanya, merindukan setiap tarikan nafasnya, senyumnya,
candanya, bahkan dalam diamnya, sifatnya yang ramah dan sedikit pemalu adalah
daya tarik tersendiri bagiku. Ah, entahlah, mengapa aku sampai tega hati untuk meninggalkannya.
Aku bukan pria yang baik, terlalu berengsek untuknya, namun aku tak memungkiri,
kalau aku masih mencintainya, kejenuhanku akan dirinya memang tak beralaskan,
hanya didasari hubungan yang statis, membuat diriku rela membuatnya sakit dan terluka.
Love of Enemy 9
Aku
tiba di kantor tepat ketika Lukman datang, ia tersenyum ramah kepadaku.
Kemudian aku menghampirinya dan kubawa ia ke rungan Meeting yang jarang
digunakan. Ia sedikit aneh melihat tingkahku yang seperti ini.
“Kenapa
lo bawa gue ke tempat kaya gini?” tanya Luke heran.
Tanpa
basa-basi aku langsung bicara. “Gue mohon jangan berhubungan lagi sama
Yudha...”
Love of Enemy 8
Malam
ini teman-temanku menginap di sini, katanya mereka khawatir bila meninggalkanku
sendiri di kontrakan. Tadi sore Luke datang, dan aku mencoba untuk bersikap
biasa kepadanya, dia pun bersikap sama, seolah kami tak sedang memiliki
masalah. Mengingat ucapan Alatas, aku menjadi sedikit senang mendengar kalau
Luke ternyata sangat peduli kepadaku.
Love of Enemy 7
Sudah
beberapa hari setelah kejadian di rumah Lukman kami menjadi jarang menyapa,
bukan hanya menyapa, bahkan aku sengaja untuk menghindari kontak mata
dengannya. Ketika aku kumpul bersama teman-teman yang lain, ia tidak ikut
kumpul, begitupun ketika ia ikut kumpul, aku tidak ikut. Akhirnya masalah ini
tercium juga oleh Alatas, karena ia yang sedikit tahu tentang cerita kami.
Love of Enemy 6
Hari
sudah mulai pagi, rupanya Lukman sudah terbangun, ia duduk di sampingku sambil
tersenyum. “Gue bawain mangga, ni, buat sarapan lo, abis sarapan kita harus
langsung bergegas, ya? Gue udah gak betah lama-lama di sini.”
“Thanks,
hm, siapa juga yang betah lama-lama di sini,” ujarku sambil membuka buah yang
diberikan Luke.
Love of Enemy 4
Aku
tak menyesali apa yang kulakukan kepada Lukman malam itu, memang dia pantas
mendapatkan semua itu, bahkan mungkin seharusnya lebih kalau ingat apa yang ia
lakukan kepadaku, tapi, kini dia menjadi bagian hidupku, maksudku kini ia
menjadi temanku mau tidak mau.
“Oy
Ger, kemaren kenapa lo pulang duluan?” tanya Alatas ketika aku sibuk dengan
pikiranku.
“Gue
ada keperluan mendadak, sorry, ya?” kataku sambil masih menatap layar PC
dihadapanku.
Love of Enemy 3
Satu
bulan telah berlalu, kini aku menetapkan untuk meninggalkan kota Cikarang dan
bekerja di kota Bandung. Mengubur semua kenangan buruk tentang Anna dan semua
peristiwa yang terjadi sebulan lalu. Memang sungguh menyakitkan ketika akhirnya
aku harus memergoki Anna sedang berkencan dengan si Joko bodoh itu, dan
hubunganku kini memang benar-benar sudah berakhir.
Love of Enemy 2
Aku
terus berjalan di sepanjang pinggiran jalan kota Karawang. Pengalaman tadi
membuatku gila, orang-orang asing itu memanfaatkanku, memanfaatkan tubuhku.
Argh! Aku seperti orang hina yang lebih hida dari sebuah kotoran.
Walau
aku tahu Karawang dan Cikarang tak begitu jauh, tapi aku sendiri tak tahu ada
di mana, kota lumbung padi ini sangat asing bagiku. Sebenarnya bisa saja aku
bertanya kepada orang lain jalan pulang, tapi aku tak mau untuk berbicara
dengan siapapun saat ini.
Dari
jauh ada sebuah mobil sedan merah berhenti tak jauh dari tempatku berjalan.
Seorang pria berjas hitam rapih dengan kacamati hitam dan celana hitam turun
sambil menelepon dengan ponsel yang berwarna hitam pula. Kemudian ia menunduk
masuk ke dalam mobilnya dan mengambil tas kecil berwarna hitam lagi.
Love of Enemy 1
Aku
memiliki hubungan rumit dengan kekasihku, namaku Gery, 27 tahun dan bekerja
sebagai Konsultan di Bank swasta di kota Cikarang. Seluruh keluargaku tinggal
di kota Purwakarta dan aku ngekos di kota ini.
Nama kekasihku Anna, dia bekerja sebagai SPG rokok, tingginya 170cm dan
hanya berbeda 5cm denganku, tubuhnya indah, matanya indah, ah, dia adalah sosok
yang sempurna bagiku. Namun, karena kesempurnaanya itu, sehingga banyak sekali
pria-pria yang menyukainya, awalnya aku tidak memedulikan masalah ini, tapi
belakangan ini banyak terdengar kabar kalau Anna kini menjalin hubungan dengan
atasannya. Uh, mungkin ini akan menjadi akhir dari hubungan yang sudah
berlangsung lima tahun ini.
Langganan:
Komentar (Atom)





.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)








