Namanya Sebastian 9



Aku berjalan sendiri disebuat tempat yang gelap, gelap dan lembab, aku tak tahu di mana aku sekarang. Di sini benar-benar gelap tak ada setitik cahayapun menyinari tempat ini. Kini aku berlari, berlari menuju tempat yang terang, tapi, di mana? Di sini masih tak ada setitik cahayapun untuk kutuju. Kakiku sudah mulai lelah, rasanya sudah berkilo-kilo meter aku berlari tapi tak menemukan jalan lain, hingga ketika aku terduduk kerena lelah, aku melihat ada setitik sinar dihadapanku, bukan, itu bukan sinar, itu lebih tepatnya seperti cahaya, cahaya yang akan menujuku ke jalan yang lebih terang.
 

Namanya Sebastian 8



Kalian pasti pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan, kan? Itu yang terjadi kepadaku saat ini, kebodohan terbesarku adalah meninggalkan Sebastian hanya demi pria yang tak lebih baik darinya. Setiap hari aku selalu memikirkannya, aku benar-benar merindukannya, merindukan setiap tarikan nafasnya, senyumnya yang menawan dengan bibir keriting tipis, tawanya, hingga hal-hal kecil biasa yang sering ia lakukan.
 

Namanya Sebastian 7



Setelah Erin datang ke rumahku bulan lalu, aku merasakan ada yang hilang dalam diriku, duniaku mendadak hampa seketika. Aku kehilangan gairah, Roby merasakan perubahan dalam diriku, ia menyalahkanku tentang aku yang sepertinya masih mencintai Bastian, aku sendiri tak tahu perasaanku kepada Bastian saat ini seperti apa, hanya saja setiap kali Roby membahas Sebastian, aku merasa sesak seketika.
 

Namanya Sebastian 6



Satu hari setelah putus dengan Castro.

Tok Tok Tok
“Bas, boleh kakak masuk?” tanya Erin.
Hening, tak ada jawaban.
“Bas, kakak tau lo sedih banget putus sama Castro, tapi jangan kaya gini juga, jangan bikin hidup lo makin menderita, ayolah Bas, buka pintunya.”
Masih tak ada respon dari Sebastian.
“Ya udah kalau kamu gak mau keluar, kakak mau masak makanan kesukaan kamu, nih, nanti turun, ya, kita makan bareng-bareng.”
 

Namanya Sebastian 5



Aku akui kini aku terpikat oleh ketampan Roby, di balik kulitnya yang eksotis, ia juga paling bisa membuatku tertawa, aku nyaman berada bersamanya. Setiap kuliah kami habiskan mengobrol di dalam kelas berdua saja, rupanya pengalamannya dalam seks jauh dariku, maksudnya ia lebih berpengalaman dibandingkan aku. Ah, aku pikir akulah orang yang paling berpengalaman di dunia gay ini, ternyata dugaanku salah.
Kenapa aku bisa dengan mudah terpikat oleh Roby? Karena menurutku ia memiliki banyak kesamaan denganku, dari cara berpikirnya, hingga segala sesuatu yang aku sukai iapun sama. Di tambah lagi, kelihaiannya bermain cinta, ia benar-benar bisa membuat orang ketagihan setelah sekali saja mencicipi permainannya. Dan, aku sudah benar-benar mabuk oleh keindahan permainannya.
 

Namanya Sebastian 4



Ini sudah setengah jalan, apa kalian menikmati ceritaku? Kurasa iya, karena sudah sejauh ini, mana mungkin kalian tidak menikmatinya. Kalau kalian memungkiri tak menikmati ceritaku, untuk apa bagian ini kalian baca? Tentunya karena kalian penasaran, kan?
Ok, di cerita selanjutnya ini aku akan membawa kalian kepada saat-saat tak terduka, hampir sama dengan film-film biasa, hanya saja yang membedakannya ini cerita tentang GAY, dan kalian yang gay pasti tertarik, oh, iya, mungkin sedikit berlebihan, aku tak tahu, karena ini adalah kisahku, kisah si Castro yang bodoh.
 

Namanya Sebastian 3



Hubunganku dengan Sebastian kini sudah semakin dekat, meski belum ada kata cinta darinya, tapi aku tahu kalau dia mencintaiku juga. Setiap hari aku selalu bersamanya, jalan-jalan, makan bareng, bahkan tak jarang aku menginap di rumah Erin hanya ingin bersamanya. Aku sangat menikmati kebersamaan ini dan tentunya tanpa membuat orang lain curiga, kami masih bermain aman kalau di publik.
 

Namanya Sebastian 2



Pagi-pagi sekali aku sudah berada di kampus, hari ini sampai satu minggu kedepan aku akan mengospek anak baru, sengaja aku ikut Himpunan Mahasiswa ini bertujuan hanya untuk mendekati anak-anak baru yang masih fress. Ditambah lagi sekarang ada Sebastian yang sangat aku tunggu kedatangannya. Rupanya anak baru sudah banyak yang datang, aku sengaja memasang wajah bengis,  agar mereka tunjuk dan takut padaku. Di kumpulan anak-anak baru itu sudah terlihat batang hidungnya Sebastian, ah, melihat dirinya membuatku merasa tentram.
 

Namanya Sebastian 1



Aku merindukan saat-saat bersamanya, merindukan setiap tarikan nafasnya, senyumnya, candanya, bahkan dalam diamnya, sifatnya yang ramah dan sedikit pemalu adalah daya tarik tersendiri bagiku. Ah, entahlah, mengapa aku sampai tega hati untuk meninggalkannya. Aku bukan pria yang baik, terlalu berengsek untuknya, namun aku tak memungkiri, kalau aku masih mencintainya, kejenuhanku akan dirinya memang tak beralaskan, hanya didasari hubungan yang statis, membuat diriku rela membuatnya sakit dan terluka.
 

Love of Enemy 9



Aku tiba di kantor tepat ketika Lukman datang, ia tersenyum ramah kepadaku. Kemudian aku menghampirinya dan kubawa ia ke rungan Meeting yang jarang digunakan. Ia sedikit aneh melihat tingkahku yang seperti ini.
“Kenapa lo bawa gue ke tempat kaya gini?” tanya Luke heran.
Tanpa basa-basi aku langsung bicara. “Gue mohon jangan berhubungan lagi sama Yudha...”
 

Love of Enemy 8



Malam ini teman-temanku menginap di sini, katanya mereka khawatir bila meninggalkanku sendiri di kontrakan. Tadi sore Luke datang, dan aku mencoba untuk bersikap biasa kepadanya, dia pun bersikap sama, seolah kami tak sedang memiliki masalah. Mengingat ucapan Alatas, aku menjadi sedikit senang mendengar kalau Luke ternyata sangat peduli kepadaku.
 

Love of Enemy 7



Sudah beberapa hari setelah kejadian di rumah Lukman kami menjadi jarang menyapa, bukan hanya menyapa, bahkan aku sengaja untuk menghindari kontak mata dengannya. Ketika aku kumpul bersama teman-teman yang lain, ia tidak ikut kumpul, begitupun ketika ia ikut kumpul, aku tidak ikut. Akhirnya masalah ini tercium juga oleh Alatas, karena ia yang sedikit tahu tentang cerita kami.
 

Love of Enemy 6



Hari sudah mulai pagi, rupanya Lukman sudah terbangun, ia duduk di sampingku sambil tersenyum. “Gue bawain mangga, ni, buat sarapan lo, abis sarapan kita harus langsung bergegas, ya? Gue udah gak betah lama-lama di sini.”
“Thanks, hm, siapa juga yang betah lama-lama di sini,” ujarku sambil membuka buah yang diberikan Luke.
 

Love of Enemy 5



“Bro, si Oki besok ulang tahun, nih, gimana kalau kita bikin acara kejutan buat dia?” ujar Alatas ketika sedang makan siang dan Oki tak ada ditempatnya.
“Boleh aja kalau gue, cuman apaan? Gue gak punya ide apa-apa nih,” kata Hurip sambil asyik makan ayam penyet favorit kami.
 

Love of Enemy 4



Aku tak menyesali apa yang kulakukan kepada Lukman malam itu, memang dia pantas mendapatkan semua itu, bahkan mungkin seharusnya lebih kalau ingat apa yang ia lakukan kepadaku, tapi, kini dia menjadi bagian hidupku, maksudku kini ia menjadi temanku mau tidak mau.
“Oy Ger, kemaren kenapa lo pulang duluan?” tanya Alatas ketika aku sibuk dengan pikiranku.
“Gue ada keperluan mendadak, sorry, ya?” kataku sambil masih menatap layar PC dihadapanku.
 

Love of Enemy 3



Satu bulan telah berlalu, kini aku menetapkan untuk meninggalkan kota Cikarang dan bekerja di kota Bandung. Mengubur semua kenangan buruk tentang Anna dan semua peristiwa yang terjadi sebulan lalu. Memang sungguh menyakitkan ketika akhirnya aku harus memergoki Anna sedang berkencan dengan si Joko bodoh itu, dan hubunganku kini memang benar-benar sudah berakhir.
 

Love of Enemy 2



 
Aku terus berjalan di sepanjang pinggiran jalan kota Karawang. Pengalaman tadi membuatku gila, orang-orang asing itu memanfaatkanku, memanfaatkan tubuhku. Argh! Aku seperti orang hina yang lebih hida dari sebuah kotoran.
Walau aku tahu Karawang dan Cikarang tak begitu jauh, tapi aku sendiri tak tahu ada di mana, kota lumbung padi ini sangat asing bagiku. Sebenarnya bisa saja aku bertanya kepada orang lain jalan pulang, tapi aku tak mau untuk berbicara dengan siapapun saat ini.
Dari jauh ada sebuah mobil sedan merah berhenti tak jauh dari tempatku berjalan. Seorang pria berjas hitam rapih dengan kacamati hitam dan celana hitam turun sambil menelepon dengan ponsel yang berwarna hitam pula. Kemudian ia menunduk masuk ke dalam mobilnya dan mengambil tas kecil berwarna hitam lagi.
 

Love of Enemy 1



Aku memiliki hubungan rumit dengan kekasihku, namaku Gery, 27 tahun dan bekerja sebagai Konsultan di Bank swasta di kota Cikarang. Seluruh keluargaku tinggal di kota Purwakarta dan aku ngekos di kota ini.  Nama kekasihku Anna, dia bekerja sebagai SPG rokok, tingginya 170cm dan hanya berbeda 5cm denganku, tubuhnya indah, matanya indah, ah, dia adalah sosok yang sempurna bagiku. Namun, karena kesempurnaanya itu, sehingga banyak sekali pria-pria yang menyukainya, awalnya aku tidak memedulikan masalah ini, tapi belakangan ini banyak terdengar kabar kalau Anna kini menjalin hubungan dengan atasannya. Uh, mungkin ini akan menjadi akhir dari hubungan yang sudah berlangsung lima tahun ini.