Pergaulan kami menjadi sedikit liar ketika Aji pertama kali mengajakku untuk mencoba sebatang rokok. Aku sebetulnya kurang suka dengan rokok, bagiku rokok hanya sampah yang dibeli oleh seorang sampah juga. Tapi, sekali lagi, karena aku kini sangat senang bergaul dengan Aji, rokok yang menurutku sampah pun aku coba menghisapnya. Agar tidak ketahuan oleh orang-orang, Aji membawaku ke sebuat tempat, rumah kosong yang benar-benar menyeramkan. Di sana rupanya tempat persembunyian Aji. Di rumah kosong yang jauh dari pemukiman warga dan dan ditumbuhi oleh semak belukar ini Aji merubah sedikit tempat itu. ada beberapa samak dan bantal usang yang selalu ia pakai tidur.
“Ini markas yang kata lo itu, Ji?” tanyaku ketika pertama kali kami masuk.
Aji mengangguk. Ia mengeluarkan sebungkus rokok bermerk Djarum Super. “Coba, deh.”
Aji menyalakan api dan memberiku sebatang rokok. Awalnya aku terbatuk karena paru-paruku belum siap menerima asap itu. Aji tertawa senang.
“Gue juga pertama kali ngerokok batuk juga kayak lo, tapi setelah gue coba lagi jadi biasa aja, tuh.”
Aku mengernyit, kemudian kembali mencoba rokok tersebut. Aji sempat mengajarkanku bagaimana cara merokok yang baik dan benar. Tapi mungkin karena aku sedikit takut dengan barang itu akhirnya sulit bagiku untuk bisa benar-benar menghisap rokok tersebut.
Aji tiduran di karpetnya, aku hanya duduk saja.
“Eh gue punya sesuatu juga,” ujarnya.
Aku hanya menengoknya sesaat sambil masih memegang rokok yang menurut Aji itu salah.
Aji membuka sedikit karpetnya dan mengeluarkan sebuah majalah. Aku terbelalak dengan majalah yang ia keluarkan tersebut. Sebuah majalan porno dengan gambar wanita bule tidak mengenakan benang sehelai pun.
“Coba liat sini.”
Aku mendekati majalah itu, kami kini membaca majalah itu dengan serius. Di majalah itu banyak pose wanita telanjang atau pasangan yang sedang berhubungan intim. Ini masih hal baru bagiku, seumur-umur aku belum pernah melihat gambar jorok seperti itu.
Tiba-tiba tanpa aku sadari kemaluanku nampak menegang, untungnya Aji tidak mengamati dengan perbuahan di celanaku itu. Aji senyum-senyum melihat gambar itu. jantungku tiba-tiba bergetar, entah mengapa ini terjadi kepadaku, gambar itu membuatku terpana. Tapi aku lebih senang melihat cara laki-laki itu memasukan penisnya ke dalam vagina si wanita itu. Ekspresi laki-laki itu membuatku semakin berkeringat. Kemudian Aji bertanya kepadaku.
“Gal, lo pernah coli belum?”
Aku menggeleng karena tidak tahu apa maksud dari kata coli. “Emang coli apaan?” tanyaku polos.
“Coli itu ngocok.”
“Ngocok apa?”
“Ngocok titit lo.”
Aku terkejut, “hah? Ngocok titit? Kayak gimana?”
“Masa lo nggak tau, caranya dengan lo pegang penis lo dengan kedua tangan kemudian di kocok deh.”
Aku mengerutkan alis.
“Emang lo pernah coli?”
Aji mengangguk. “Gue udah lima kali coli, rasanya enak banget.”
Aku nampak heran.
“Lo mau coba coli?” tanyanya tiba-tiba.
“Nggak ah, takut titit gue lecet.”
“Gue ada handbody kok.”
“Buat apa?”
“Biar lebih enak aja.”
Aku tak menghiraukan Aji, aku kembali sibuk dengan majalah porno itu. Setiap kali aku membuka majalah itu yang pertama kulihat hanyalah gambar pria. Menurutku ekspresi mereka di gambar tersebut tidak dibuat-buat, berbeda dengan ekspresi wanita yang digagahinya.
“Kita coli bareng, yuk?”
Aku menatap Aji seketika. “Coli bareng? Gimana caranya?”
“Ya lo ngocok yang lo dan gue ngocokin yang gue. Handbodynya masih banyak, kok.” Aji menatapku, “mau nggak? Gue sih udah horny liat gambar cewek itu.”
Seketika Aji berdiri, di bukanya celana biru itu. Kini ia hanya mengenakan baju seragam dan celana dalam. Jantungku kembali terpacu ketika melihat celana dalam Aji. Kemudian ia mengambil handbody dan membuka celana dalamnya. Lagi-lagi aku terkejut dengan batang penis milik Aji yang nampak lumayan besar berurat. Aku tatap burung itu cukup lama.
“Lo mau coli nggak?” tanya Aji sekali lagi.
Rasa deg-degan di jantungku semakin kencang. Aku berdiri kemudian membuka celana sekolahku. Entah mengapa aku sedikit malu sehingga aku tidak berani membuka celana dalam dan langsung duduk.
“Sempak lo juga buka lah. Gak usah malu sama gue.”
Aji sudah mengoleskan handbody ke penisnya, ia kemudian mengocokan secara perlahan penisnya. Ekspresi di wajah Aji nampak sedikit membuatku bergairah. Kemudian aku membuka celanaku, batang penisku sudah menegang. Aku ambil handbody yang masih Aji pegang kemudian kuoleskan handbody itu ke penisku. Aku kocokkan tanganku perlahan, awalnya aku merasa aneh karena aku belum bisa merasakan apapun.
“Kalau lo mau makin horny sambil liatin atau bayangin gambar ini. Pasti lo bakalan horny abis,” ujar Aji sambil terengah-engah.
Aku tak bisa membayangkan tentang hal itu, melihat gambar wanita yang sedang telanjang kurang membuatku ereksi, aku ambil majalah itu dan mencoba membuka halaman lain.
Aji nampak semakin bergairah, wajahnya penuh dengan keringat, sedangkan aku masih belum bisa merasakan perasaan yang sama dengan Aji.
“Gue gak kuat, kayaknya gue mau keluar, deh.”
Dan tanpa aba-aba Aji mengeluarkan spermanya.
Crot crot crot crot.
Sperma itu tumpah ruah ke samak samping tubuh Aji. Melihat sperma untuk pertama kalia merupakan hal yang aneh bagiku. Bagaimana caranya di lubang kencing bisa keluar cairan putih kental seperti itu.
Aji terengah-engah. Keringatnya bercucuran sampai ke telinganya. Sedangkan aku? Aku masih belum bisa mengeluarkan sperma tersebut.
Aji melihatku, kemudian tersenyum.
“Kok lo lama amat sih?” tanyanya.
Aku menggeleng, “gak tau gue juga, gue belum bisa ngeluarinnya nih. Gatau mesti gimana.”
Aji yang masih berkeringan kemudian tiduran menyamping melihatku, seketika aku hanya melihat penisnya yang kini menciut.
“Sini gue coliin!”
Aku terkejut, “dicoliin sama lo? Emang lo nggak jijik pegang titit gue?”
“Kan sama-sama titit.”
Kemudian Aji mendekatiku, ia menyuruhku untuk berbaring. Aku hanya menurut saja.
Aji menumpahkan handbody ke pangkal penisku. Rasanya terasa dingin, kemudian aku merasakan sentuhan yang berbeda. Tangan Aji mulai meremas penisku perlahan, naik turun, jari-jari ditangannya nampak kuat, terasa sangat gagah, penisku kini sudah tegang sepenuhnya. Dari perlahan, kini Aji semakin mempercepat kocokannya, aku nampak berkeringat, sedikit mengejang, kemudian aku bangun, merem-melek. Aji mengocok penisku dengan cepat dan intens, aku semakin berkeringat. Tanpa aku sadari kini aku merangkul tubuh Aji, memegang punggungnya dengan kuat. Kepala aku senderkan di dada Aji, aku memejamkan mata. Ia masih saja mengocok penisku dengan kencang. seketika kudengar tarikan nafas Aji berburu dan hembusan nafasnya yang mengenai rambutku, aku semakin kalangkabut dibuatnya. Hingga tak lama kemudian ada sesuatu yang mengganjal dalam penisku, sedikit linu kemudian aku menahan tangan Aji dan....
Crot crot crot
Aku mengeluarkan spermaku untuk pertama kalinya. Terasa sangat nikmat, rasa-rasanya seperti aku melayang ke langit ke tujuh. Spermaku jatuh ke jemari Aji, aku yang masih terpejam kemudian membuka mata, ia mendekatkan bekas spermaku dan menyuruhku untuk mencium baunya. Baunya sedikit familiar, tapi kini aku tahu bagaimana coli dan bau dari sperma.
&&&
Semenjak saat itu, aku sedikit ketagihan dengan coli, kadang ketika mandi aku melakukannya, tapi dalam bayanganku selalu saja tentang kejadian itu, suara terengah-engahnya Aji selalu membuatku horny. Hembusan nafasnya di rambutku membuatku bergairah. Kini aku menyadari tentang orientasi seksualku yang sedikit berbeda.
Sandiaga Aji kini menjadi orang yang aku cintai. Cinta. Ah, ya mungkin dialah cinta pertamaku.
“Gal, gue punya sesuatu yang baru, nih,” katanya ketika aku baru keluar dari kelas.
“Apaan?”
“Pulang sekolah kita ke tempat rahasia gue lagi, yuk?”
“Tapi gue ada PR hari ini,” ujarku sedih.
“Bentar aja, gue mau nunjukin sesuatu.
Akhirnya aku hanya mengangguk setuju.
Sepulang sekolah kami kembali ke tempat persembunyian Aji. Buku-buku pelajaran yang aku bawa kusimpan di samping samak. Ia membuka samak dan mengeluarkan sebuah majalah baru, covernya sedikit berbeda. Ada gambar seorang wanita yang sedang melumat penis.
“Majalah ini?”
Ia mengangguk. Gue baru tau rupanya ada cara lain buat coli. Aku mengernyit. Aku tahu maksud Aji.
“Di kulum gitu sama mulut kita? Kayaknya kalau ngulum punya sendiri agak susah deh,” ujarku mencoba untuk mempraktekan.
“Bukan sama sendiri, sama orang lain.”
Alisku kembali mengernyit, “maksud lo, lo pengen gue ngulum titit lo?”
Aji tersenyum. Aku menggeleng.
“Ini gila. Gue nggak mau, itu kan menjijikan.”
Aji nampak hopeless. Entah mengapa untuk urusan ini ia tidak punya rasa jijik sedikitpun.
“Di sana kan di kulumnya sama cewek. Masa ama gue?”
“Kalau sama cewek lebih beresiko, Gal. Gue gak mau bikin hamil cewek,” katanya meyakinkan. “Gini deh, kita gantian aja. Lo kulum dulu titit gue, nanti gue yang kulum titit lo, gimana?”
Aku terkejut, ada rasa ingin mencoba, tapi rasa jijik kembali menghampiri.
“Lo tau sendiri gue orangnya jijik-an. Tititkan kotor, nggak bersih.”
“Abis gue cuci kok tadi titit gue. Mau, ya?”
Aku berpikir. Sebetulnya aku ingin saja melakukan itu, terlebih lagi kepada Aji yang aku sukai, tapi aku ragu akan sesuatu yang tak bisa aku jelaskan.
“Mau, ya?” ulangnya. Akhirnya aku mengangguk.
Kemudian ia membuka celananya, kemudian celana dalamnya. Entah mengapa sebetulnya aku sangat mengidolakan penis milik Aji ini. Rasanya senang tiap kali melihat penis Aji. Aji kini mengambil bantal dan menaruhnya di dinding kropos rumah tua itu. aku duduk di sampingnya, kemudian membungkuk mencoba untuk mengulum penis Aji. Semakin dekat aku meju kearea selangkangan Aji, tercium aroma khas laki-laki. Aku menelan ludah dan mencoba membuka mulutku. Lidahku menempel di kepala penis Aji. Ia nampak merinding, kemudian sedikit demi sedikit penisnya masuk ke dalam mulutku, ia mengerang keenakan.
Aku maju mundurkan penis mulutku kepenisnya. Hampir saya aku muntah, tapi kini Aji menahan kepalaku, ia dorongkan kepalaku untuk terus masuk ke dalam mulutku. Aku tersentak dan memberontak kemudian menatap Aji.
“Maaf, gue keenakan.”
Aku kembali mengulum, rasanya kini bercampur asin dan lebih licin. Aku coba sedot penis Aji, ia nampak bergetar.
“Terus Gal, enak Gal, ah, gue suka di kulum,” ceracaunya.
Entah mengapa aku menuruti saja apa kemauan Aji. Aku pun kini menikmatinya, kusedot sekali lagi, Aji melenguh, terengah-engah. Tidak sampai beberapa menit kemudian ia menepuk punggungku, aku tidak memedulikannya. Aku kini sudah semakin menikmati penis milik Aji yang sedang kujadikan lolipop itu.
“Gal, gue gak kuat,Gal. Gue kayanya mau keluar,” ujar Aji.
Aku benar-benar tak menghiraukannya. Rupanya karena hal itulah Aji kembali menekan kepalaku. Aku yang asik tersentak karena kini semua penis Aji masuk ke dalam mulutku. Aku mencoba melawan tapi tenaga Aji lebih besar, aku hampir tersedak dan tiba-tiba merasakan cairan keluar dari dalam penis Aji.
Crot crot crot
Spermanya masuk ke tenggorokanku. Akhirnya Aji melepaskan dorongannya ke kepalaku dan membiarkanku bernafas. Aku tersedak dan terbatuk, kemudian menyingkir ke arah lain untuk memuntahkan apa yang telah Aji masukan.
Hoek Hoek Hoek
Pycuh...
Rupanya tak ada yang keluar dari mulutku, spermanya tertelan semua ke dalam tubuhku.
“Aji lo gila!” bentakku.
“Maafin gue, Gal. Tadi kan gue udah bilang kalau gue udah nggak kuat. Lo sih malah nggak berhenti.”
“Duh, gimana nih, gue bakalan hamil nggak, ya?”
Aji tertawa, “Ya nggak lah. Emangnya lo cewek bisa hamil.”
Aku masih meludah-ludahi bekas sperma di mulutku. Rasanya aneh, sedikit asin dan kenyal.
“Sekarang lo mau gue kulum?”
Aku hampir mengiyakan tapi Aji kembali bicara.
“Eh, lo nggak bisa lama-lama kan? Balik, yuk?”
Kulirik jam ditanganku, sudah jam setengah empat. Ibuku pasti cemas kalau aku masih belum pulang. Akhirnya aku mengiyakan untuk pulang.
Aji mengantarkanku pulang menggunakan motornya. Ketika sudah sampai di pelataran rumahku ia berkata; “gimana, enak gak minuman barunya?”
Aku mengernyit. Tapi aku tidak bisa berbohong kalau rasa jijikku kini sudah hilang. Ia pun pamit untuk pulang.
&&&
Waktu berlalu begitu cepat bagiku. Tak terasa kini sudah dipertengahan semester genap. Mau tak mau aku harus lebih rajin belajar. Prestasiku di sekolah tidak begitu memuaskan meski aku mendapat peringkat enam, tetap saja aku masih kalah oleh kelima temanku yang posisinya lebih unggul.
Setiap hari kini aku habiskan kembali di perpustakaan. Membaca dan membaca, mungkin itulah caraku untuk melupakan masa lalu dan mengejar masa depan.
Kalian pasti bertanya, ada apa dengan masa lalu? Bagaimana dengan Aji? Ya, bagaimanapun juga ini kisahku dengan dia, mau tak mau aku akan menceritakannya kepada kalian. Sandiaga Aji kini menjauhiku, aku tidak mau berburuk sangka, tapi dia memang benar menjauhiku. Aku mendengar kabar kalau dia kini menjalin asmara dengan teman beda kelas, namanya Dwi. Aku tak mengenal gadis itu, jadi aku tak akan menceritakan tentang gadis itu. Yang pasti bagiku kini ia selalu menempel erat dengan Dwi, Dwi gadis yang cantik, mereka serasi. Lantas, mengapa aku harus marah? Aku tak berhak marah kepadanya. Lagi pula yang dulu kusebut cinta nyatanya bukan cinta, entah apa namanya aku tak peduli.
Setelah bel istirahat berbunyi, tak lain dan tak bukan aku pasti di sini. Perpustakaan. Aku kini mencari buku novel karya Suzane Collin, karena aku belum selesai membaca kisahnya. Tapi ketika aku hendak mengambil buku, kudengar seorang gadis berbicara mengenai Aji. Mau tak mau aku akhirnya mendengarkan.
“Aji itu romantis banget, tapi sayang dia orangnya agak dingin,” ujar salah seorang wanita. Aku yang sebetulnya ada di hadapannya namun terhalang rak buku nampak bingung, belum mengerti apa maksud dari ucapannya.
“Kayak ada sesuatu yang dia sembunyiin dari gue.”
Aku terkejut dengan ucapan gadis itu, kulihat samar-samar rupanya itu adalah Dwi.
“Maksud lo gimana, Wi?” tanya gadis disebelahnya.
“Iya, gue dulu juga sempet denger kabar kalo dia itu suka sama cowok, tapi pas gue pacaran, pendapat gue kayaknya salah, dia normal-normal aja, tuh,” gadis itu menyimpan buku dan mengambil buku yang lain. “Tapi, gak tau tuh sekarang dia malah deket sama genk barunya di kelas, gue di cuekin gitu aja.”
“Kok cowok yang ganteng gitu bisa dibilang homo, sih? Lagian dia nggak ada keliatan kemayu-kemayunya sama sekali kok.
“Emang nggak ada sisi kemayunya malah, ya namanya juga gosip, kan?”
“Emangnya dia di gosipin homoan ama siapa?”
“Gue denger sih anak beda kelas gitu, kalo nggak salah namanya Galuh atau Galih gitu gue lupa.”
Keringatku bercucuran mendengar penjelasan itu.
“Eh tau nggak? Gue udah fist kiss loh ama dia.”
Entah mengapa mendengar ucapan itu hatiku terasa sakit. Aku tak bisa memungkiri kalau aku pernah menyimpan rasa dengannya.
&&&
Minggu sore aku diminta oleh ibuku untuk berbelanja ke pasar. Jarak pasar dengan rumahku bisa di bilang cukup dekat. Sekitar dua kilo meter. Karena ban sepedaku sedang bocor akhirnya aku berjalan kaki menuju pasar. Setelah semua bahan yang aku perlukan terbeli aku pun pulang dengan jalan kaki. Belum jauh aku berjalan rupanya aku terjebak oleh hujan. Aku singgah dulu di halte bis menunggu hujan berhenti. Di halte nampak beberapa orang sedang menunggu bis. Tak lama bis datang dan beberapa penumpang menaiki bis tersebut. Tersisa aku dan seorang anak sebaya denganku mengenakan jaket sport berwarna biru. Awalnya aku tak memerhatikan anak itu, tapi ketika dia mendekatiku, aku sadar dia adalah Aji. Ia tersenyum ke arahku. Aku tak membalas senyumannya dan hanya berdiri mematung menatap tetesan hujan yang lebat.
“Apa kabar, Gal?”
Aku masih saja diam.
“Udah lama, ya, kita nggak ngobrol lagi,” ucapnya sekali lagi.
“Gue denger lo dapet peringkat enam, ya di kelas? Selamat, ya?”
Aku hanya mengangguk. Aji tak bisa berkata apa-apa lagi karena diamnya aku.
“Hujannya mendadak gini, ya?”
Aku kembali mengangguk.
“Gue sih boro-boro dapet peringkat, nilai MTK gue aja jelek banget.”
Hujan nampak tak mendukungku yang ingin segera pergi dari sini. Aku melihat jam, sudah jam lima sore. Aji masih saja memerhatikanku.
“Lo pasti marah banget karena gue tiba-tiba nggak sama lo lagi.”
Akhirnya aku angkat bicara dengan masih menatap hujan, “kenapa gue harus marah? Lo berkah kok berteman sama siapa aja dan gak berteman ama siapa aja.”
Aji mengulurkan tangannya ke depan, menahan arus air yang jatuh ke aspal.
“Gue sebenernya masih mau banget maen sama lo, tapi...”
Kini aku menatapnya, “tapi lo takut kalau kita dibilang homo?”
Aji memandangku, “kalau gue boleh jujur sih, iya. Gue takut pandangan orang ke gue kayak gitu. Tapi gue seneng temenan sama lo, kalo sama lo gue bebas jadi diri gue sendiri. Lo masih mau kan jadi temen gue?”
Aku diam. Perasaanku padanya memang beda. Aku tak bisa bersikap biasa saja kepadanya. Rasanya selalu senang tiap kali dia ada bersamaku. Kini, meski aku marah padanya, tapi hati ini tak bisa dipungkiri kalau ini senang. Aku masih belum paham dengan perasaanku ini padanya.
&&&
Setelah pertemuan kami di halte. Dia kembali mencoba bermain denganku, kali ini ia sering mengajakku bermain bersama teman kelasnya yang lain. Rupanya aku diterima oleh teman-temannya itu. Mereka semuanya baik. Bahkan meski tak ada Aji, aku masih bermain dengan teman kelasnya itu.
Aku, Aji, Rizki, Rudi, Dias, Bayu dan Agam kini seperti genk. Kemana-mana kami selalu bersama. Kami sangat kompak meski hanya aku yang berbeda kelas. Dari semua genk ini, Rizki lah yang paling tampan, ia berwajah campuran, ayahnya asli sunda dengan ibu berasal dari Australia. Tapi dari seluruh genk ini Aji dan Agam lah yang selalu mendapat banyak surat cinta. Entahlah, mungkin mereka sedikit takut bisa menyatakan cinta kepada Rizki, mungkin karena dia terlalu tampan.
Ini adalah hari terakhir sebelum kenaikan kelas.
“Gal malam minggu ini kita mau masak-masak di rumahnya Rizki, lo ikut, ya?” ujar Dias.
“Ya lo tau sendiri gue kalau malam nggak boleh keluar rumah.”
“Ah, lo masih aja kayak anak kecil, lo kan bukan anak SD lagi, kita udah SMP bro, SMP!”
Rizki yang memang lebih bijaksana bicara, “yaudah, kita nanti datang ke rumah lo minta izin buat belajar bareng gitu, masa nggak boleh kalo kita yang minta izin langsung?”
“Ya coba aja, deh,” kataku tak yakin.
Sore hari menjelang malam minggu.
Rupanya mereka semua memang datang ke rumahku. Ibuku terkejut karena jarang-jarang ada temanku yang berkunjung sebanyak ini.
“Tante, kita boleh belajar bareng di rumahku nggak? Kan sebentar lagi ulangan, kalau belajar bareng kayaknya bakalan lebih mudah buat kita, tan,” ujar Rizki.
Awalnya ibuku ragu tapi akhirnya melihat kami yang sepertinya berkata jujur ia mengijinkan. “Tapi kalau belajarnya sudah selesai kamu pulang, ya?” aku mengangguk.
Masak-masak kami sangat meriah. Diantara kami Bayulah yang paling banyak makan. Hingga tetes terakhir sambalpun ia habiskan. Kami semua tertawa melihat gaya Bayu yang kelaparan itu.
Setelah itu kami bermain gitar, menyanyi, ngobrol ngaler-ngidul, membicarakan hal konyol bahkan membicarakan masalah intim.
Agam memegang gitar sambil memetik senarnya pelan. “Eh, tau gak? Dulu gue nyangkanya lo itu kaya banci, loh,” katanya jujur kepadaku.
“Anjir, sialan lo.”
“Iya kan itu awalnya aja. Soalnya gue liat lo kayaknya lembek gitu. Tapi gue salah hahaha...”
Aku hanya tertawa garing.
Kemudian ia melanjutkan, “terus gue denger lo homoan sama si Aji. Gilak disitu gue kaget banget, soalnya kita kan temenan.”
“Ya kita temenan cuman berdua sih dulu jadinya disangka gitu,” kata Aji.
Aku melirik jam tangan, rupanya sudah jam sebelas malam.
“Eh, kayaknya gue harus pulang deh. Udah malem banget, gue takut dicariin.”
“Eh iya, ya. Kayaknya udah malem juga. Gue juga balik ah.”
“Eh, siapa nih yang nganterin gue?” kataku. Karena tak ada yang searah denganku mereka nampak ragu.
“Ya udah gue aja,” kata Aji.
Selama diperjalanan kami tak banyak bicara, sebenarnya Aji kini lebih sedikit pendiam dibanding biasanya. Ketika hampir mendekati rumahku ia masih saja kencang dan melewati rumahku begitu saja.
“Ji, rumah gue kelewat tuh.”
“Ikut gue dulu aja.”
“Mau ke mana?”
“Ke tempat persembunyian kita.”
“Anjir, itu kan serem banget.”
“Nggak apa-apa. Motornya gue masukin ke dalem aja.”
“Emang mau ngapain, sih?”
Dia diam sejenak, “gue mau kubur barang-barang laknat itu.”
“Apaan?” aku tak mengerti. Malah aku berpikiran kalau Aji pemake.
“Majalah porno.”
Aku terkejut. Ah, majalah itu....
Sesampainya di sana Aji memasukan motornya ke rumah kosong, menyoroti samak dan benda-benda yang ada di sana.
Ia menggulung samak itu kemudian membakarnya, lalu motornya ia matikan.
Cahaya api dari pembakaran samak cukup untuk menerangi kami, dan cukup untukku agar bisa melihat wajah Aji. Aku duduk di dekat api unggun buatan itu, kemudian Aji mendekatiku.
“Gak kerasa ya waktu cepet berlalu,” kataku.
“Makasih, ya, lo udah ngenalin gue ke temen-temen lo. Mereka semua asyik, gue nyaman ama mereka.”
Aji mengangguk. Tatapannya kosong. Kemudian ia menatapku, aku balik menatapnya. Tak lama ia mencium bibirku sedang cepat. Aku terkejut mendapat ciuman mendadak itu. Lagi pula aku belum pernah berciuman sebelumnya, jadi sedikit canggung.
Kini Aji memegang pipiku, ciumannya sangat ganas, ia menggigit-gigit kecil bibir bawahku. Aku yang baru merasakan sensasi baru ini nampak menikmatinya. Aku rindu cara Aji memperlakukanku seperti ini. Aku rindu melihat Aji yang seperti ini, Aku rindu melihat tubuhnya. Aku rindu.
Kemudian ia membuka bajuku. Aku terkejut, tapi Aji tak menghiraukanku. Ia membukanya, kemudian melumat putingku yang putih mulus. Aku mengeram keenakan. Aku pun mencoba membuka bajunya, kucoba untuk menjilat putingnya yang merah muda. Kembali kami berciuman. Sensasi ini benar-benar membuatku jantungku berdetak kencang. Aku senang.
Aji membuka celananya kemudian celana dalamnya. Ia tak menggunakan baju sehelaipun.
“Lo masih mau nyepong kontol gue?” kata-katanya kini berbeda, dulu kami menyebut barang kami dengan titit, tapi kini ia sudah berani menyebutkan kontol.
“Nyepong?”
“Nyepong itu ngulum,” katanya menjelaskan.
Aku mengangguk malu. Kemudian penisnya kini di dekatkan ke wajahku. Aku lumat habis penis itu. Satu-satunya penis yang pernah aku hisap hanyalah penisnya. Penis itu selalu membuatku bergairah.
Setelah cukup lama kemudian ia membuka celanaku. Tanpa persetujuanku ia langsung melumat penuh penisku yang sudah tegang. Ia maju mundurkan. Aku merasa geli sekaligus enak, ah, inikah rasanya disepong? Cukup lama ia menyepongku kemudian dia berhenti. Ia menatapku.
“Lo mau gue anal?”
Anal. Aku tahu kata itu, itu kata lain dari kata sodomi.
“Itu kan sakit?”
“Lo mau nggak?” katanya sedikit membentak.
Aku terkejut melihat ekspresi wajahnya yang nampak tidak biasa, ia nampak dingin.
Kemudian aku mengangguk.
Ia langsung menyuruhku untuk nungging. Entah mengapa aku setuju-setuju saja. Penisnya nampak basah, entah apa yang ia gunakan untuk membasahi penisnya itu, kemudian ia menempelkan penisnya disekitaran holeku dan meraba holeku. Aku nampak takut tapi akupun tak bisa menolak. Setelah ia berhasil menemukannya, tanpa basa-basi ia masukan penis itu kedalam lubangku.
“Aaaaaaaakkkkpppp...” ketika aku berteriak ia menutup mulutku. Tangannya yang lain menahanku agar aku tidak lari.
“Sakit Ji,” lirihku padanya.
“Tenang, nggak akan lama, kok.”
Ia memasukan penisnya dengan cepat dan tanpa menghiraukan rasa sakitku. Ia keluar-masukan penisnya dengan instens. Tanpa sadar aku mengeluarkan air mata. Aku menangis. Tapi Aji nampaknya tidak memedulikanku yang menangis. Ia terus saja memaju-mundurkan penisnya dengan tenang.
“Ji, udah, Ji.”
Ia masih tak menjawab. Lima belas menit Aji menganalku. Hingga akhirnya ia mengeram dan...
Crot crot crot
Aji memuntahkan lahar panasnya di dalam lubangku, kemudian dia memelukku dari belakang. Aku mencoba melepaskan pelukan Aji dan segera memakai celana dalamku. Aji pun mengambil celana dalamnya dan memakainya.
Aku masih menangis. Rasanya sangat perih, aku tak bisa menikmati apa yang Aji lakukan kepadaku.
Kemudian Aji mendekatiku dan memelukku.
“Maaf, ya?” ucapnya pelan.
Aku masih menangis tersedu sambil memukul kecil dadanya.
Setelah aku berhenti menangis, ia kembali menciumku kemudian mengajakku untuk pulang.
&&&
Ulangan Akhir Semester ini benar-benar menguras otakku. Aku sampai harus fokus dengan materi yang sudah disampaikan guru kepadaku. Untuk main pun kini aku jadi tidak sempat, untungnya teman-temanku yang lain paham dengan situasi ini dan tidak main pula.
Pembagian rapor tiba. Rupanya nilai dan peringkatku naik. Aku mendapat peringkat tiga mengalahkan tiga temanku yang dulu berada di atasku. Namun rupanya ada yang mengganjal hatiku. Entah itu apa.
&&&
Awal semester baru di kelas delapan.
Aku menghampiri genkku dan bertegur sama dengan mereka, kami bercanda bersama. Tapi aku merasakan ada yang kurang. Hari pertama sekolah justru Aji tidak masuk sekolah, ku beranikan diri untuk bertanya.
“Si Aji kemana? Kok nggak sekolah?”
“Lo nggak tau, ya?” kata Bayu.
“Apaan?”
“Si Aji kan pindah sekolah.” Mendengar berita itu aku seperti disambar petir di siang bolong.
“Serius lo?” tanyaku lagi.
“Iya, beneran Gal,” kata Rizki.
“Belagu amat ya tuh anak, pindah nggak bilang-bilang,” ujar Agam.
Aku ingin menangis, tapi aku tak bisa menangis di depan mereka.
“Eh, gue mau ke toilet dulu, ya?” kataku kemudian pergi tanpa melihat lagi ke arah mereka.
Aku terduduk di kamar mandi. Diam. Kemudian air mataku mengalir. Ya. Aku menangis. Aku menangis karena Aji pergi dari hidupku tanpa mengatakan apapun. Aku menangis karena aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku menangis karena aku tidak sempat bilang kalau aku mencintainya. Ya. Aku menangis.


0 komentar:
Posting Komentar