4 Sexy Teacher 9

“Keanu, gue nganterin lo balik ya?” ujar Orlando setelah mereka selesai berkumpul di sekolah Beta.
Keanu ingin hanya saja ia menatap ragu kepada Adam.



“Biar gue yang ngaterin Adam,” kata Shane yakin.
Adam mengangguk ke Keanu. “Motor gue ada di sekolah, lo anterin gue ke sekolahan aja, ya?”
Akhirnya Orlando dan Keanu pergi meninggalkan Shane dan Adam sendiri. Keadaan sekolah sudah tak begitu ramai. Shane mengenakan helm dan segera mengajak Adam untuk naik di motornya.
Ketika dalam perjalanan tak ada obrolan sama sekali, Shane nampak ragu untuk mengajak Adam bicara, begitupun Adam, tak berani untuk berbicara kepada Shane.
Sesampainya di sekolah Alfa.
Shane menghentikan motornya di dekat parkiran. Adam bergegas ke kantor, mengambil berkasnya dan segera kembali ke parkiran. Adam kira Shane sudah pulang, rupanya ia masih diam di parkiran menunggu Adam.
“Lo belum...”
“Maafin gue Dam.”
Adam diam menatap Shane yang menangis.
“Gue coba buat ngelupain lo, tapi semakin gue coba semakin gak bisa. Gue terlalu takut buat kehilangan lo.”
Adam kini menundukan wajahnya.
“Gue tau lo masih marah sama gue. Sekarang gue mencoba buat bisa lupain lo. Gue akan coba, tapi ada satu hal yang pengen gue minta.” Shane menelan ludah dan menatap Adam yang kini sudah memerhatikannya. “Kalaupun kita berakhir, gue minta kita tetep komunikasi, gue gak kebayang kalau lo gak mau komunikasi ama gue lagi bisa jadi apa hidup gue.”
Adam menghampiri dan seketika juga ia mencium bibir Shane. Shane nampak terkejut dan akhirnya sadar dan membalas ciumannya. Setelah berciuman Adam dan Shane saling menunduk.
“Jangan pernah bilang kayak gitu, gue juga gak tau gimana hidup gue tanpa lo, Shane. Gue cinta sama lo!”
Mendengar ucapan itu Shane nampak berbunga-bunga.
“Tapi apa lo bisa nerimain hubungan gue sama Keanu?”
Shane terdiam sejenak kemudian dengan mantap ia menganguk. “Gue terima lo apa adanya. Thanks udah mau maafin semua kesalahan gue.”
Senyum Adam mengembang kemudian mengangguk.
&&&
“Wah jadi ini hotelnya? Keren amat?” ujar Lando sambil melepas kaca matanya.
“Jangan kampungan, deh!”
Orlando manyun.
Ketika Adam berjalan tanpa disengaja ia menabrak seseorang.
Buk!
“Aduh, sorry, gak sengaja.”
“Gak, apa-apa.” Jawab seorang pria mengenakan baju polisi.
“Beuh, polisinya ganteng amat?” ujar Olrando.
“Mulai deh genitnya. Bener, kan kita di hotel HYAT ini?” tanya Shane.
“Iya, gue udah cek, kok alamatnya. Yuk ah, kita masuk.”
Mereka pun masuk ke dalam hotel itu.
“Eh gue duduk di sini aja, ya? Lo aja ama Shane yang ke resepsionis.”
Adam dan Shane mengangguk.
Keanu kembali asyik dengan gadgetnya. Sementara Orlando memerhatikan keadaan sekitar. Ia sedikit aneh dengan tingkah seorang polisi dan seorang laki-laki paruh baya yang memapah seorang pria. Tapi ia tak memedulikannya dan beralih melihat Keanu.
“Say, gue horny, nih.”
Keanu memutar matanya sambil senyum sinis, “tahan selama seminggu ini ya, kita gak boleh ML di penataran, bahaya.”
“Bahaya kenapa?”
“Bahaya takut kesiangan.”
“Kan nanti ada si Shane sama Adam yang bangunin kita?”
“Kalau mereka ML juga gimana? Nanti kita berempat kesiangan.”
Orlando garuk-garuk kepala.
“Yuk, kamar kita ada di lantai 4,” ucap Adam.
Mereka pun masuk ke dalam elevator.
&&&
Hotel yang mereka tempati merupakan hotel megah dengan fasilitas yang sangat lengkap. Setelah hari pertama berlalu keempat guru itu pun pergi ke kolam renang.
“Guys, gue baru pertama kali ini nginep di hotel yang bagus,” ujar Orlando sambil peregangan.
“Gue pernah tinggal di hotel ini sebelumnya, gak lama sih, cuman sehari doang, itu aja karna acara nikahan sepupu gue.” Adam menimpali sembari peregangan tangan.
“Yang penting kita nikmati kegiatan ini dengan puas!” Shane meloncat kekolam renang.
Byuuurrrr....
Keanu duduk di kursi santai sambil memijat-mijat betisnya. Sementara yang lain sudah mulai asyik berenang. Orlando dan Shane bahkan sampai berlomba untuk bisa sampai garis finis terlebih dahulu. Adam menyandarkan kepalanya ditepian kolam renang. Keanu menatap mereka sambil tersenyum, ia bersyukur telah dipertemukan dengan keempat pria tersebut. Meski belum lama mereka saling bermusuhan tapi karena kejadian inilah sehingga membuat mereka menjadi saling paham satu sama lainnya.
“Oy, ngelamun aja,” ujar Adam sambil menciprati air kepada Keanu.
“Ah, Adam, kan basah!” celoteh Keanu.
“Ye, kalau gak mau basah ya jangan diem di kolam renang.”
Akhirnya Keanu ikut bergabung bersama mereka berenang. Dalam suasana yang menyenangkan ini, semua canda tawa keluar, seolah-olah mereka tidak memiliki masalah apapun sebelumnya.
Di kamar hotel. Shane tertidur pulas setelah kelelahan, Adam masih terjaga sambil memandang wajah pria yang sangat ia cintai, namun di hatinya Keanu pun ikut bersarang, ini cinta, meski Adam menyukai Shane, ia juga mencintai Keanu. Hal itu tak dapat ia pungkiri karena kini di hatinya tersimpan dua nama. Ketika Adam hendak bangun, ia mendengar suara berisik dari kamar sebelah. Seperti suara pukulan, samar-samar ia mendengarkan suara itu. ia sempat berpikir kalau itu suara hantu, lantai ia membangunkan Shane.
“Say, bangun,” ujar Adam sambil menggoyangkan tubuh Shane.
Shane yang sedikit pulas hanya menjawab dengan sekenanya.
“Cepat bangun, gue denger suara aneh, bangun cepet bangun.”
Akhirnya Shane bangun, matanya ia coba buka.
“Gue denger kayak suara pukulan di kamar sebelah. Suara apa, ya, kira-kira?” tanya Adam penasaran.
“Mungkin tamu lain lagi ML, udah, ah, yuk, kita tidur aja, jangan ngurusi urusan orang.” Seketika ketika Shane akan kembali tidur, suara dari kamar sebelah terdengar.
“Eh, itu suara apa?” tanya Shane.
“Tadi kan gue udah ngomong, lo sih, gak percaya.”
Shane berdiri dan mendekatkan telinganya ke dinding ruang kamar. Samar-samar ia mendengar suara teriakan. Shane langsung memeluk Adam.
“Gue takut, Dam. Itu suara apa, ya?”
“Mana gue tau? Coba kita hubungi resepsionisnya.”
Adam seketika itu langsung mengambil telepon dan menghungin resepsionis.
“Halo, mba, saya Adam yang ada di kamar nomor 25, saya mendengar suara aneh dari kamar sebelah...... iya..... sepertinya ruang kamar nomor 26 atau 24..... iya, itu sangat mengganggu kami, tolong di atasi penyebabnya, ya?.... ok.... terima kasih.”
Adam menutup telepon dan menatap Shane.
“Gimana?” tanya Shane penasaran.
“Nanti bakalan ada yang datang, dan nanya suaranya berasal dari kamar mana.”
Shane hanya mengangguk.
Sepuluh menit kemudian terdengar ketukan di kamarnya. Adam segera bergegas membuka pintu, kemudian ia menjelaskan dan memberitahukan asal suara tersebut. Seorang yang berbicara dengan Adam akhirnya menghampiri kamar yang Adam maksud. Ketika pria itu mengetuk pintu, tak ada orang yang menjawab. Padahal resepsionis itu sudah memberitahukan kalau dikamar itu dipesan atas nama Yudha. Karena tidak ada respon dari dalam akhirnya pria itu memanggil teman-temannya dan mencoba membuka pintu kamar nomor 26 tersebut. Setelah berhasil ia buka, kami semua terkejut dengan tubuh telanjang yang berlumuran darah. Ada dua orang pria yang terbujur kaku, dan tiga orang pria yang diam tanpa banyak melawan. Akhirnya salah satu dari karyawan di hotel itu segera memanggil polisi.
&&&
Suasana menjadi suram setelah kejadian itu. Keanu dan Lando akhirnya keluar kamar setelah kami ketuk pintu kamarnya. Semua orang yang berada di hotel itu terkejut dengan apa yang terjadi. Singkat cerita yang di dengar oleh mereka, bahwa tiga pelaku ini adalah korban pencabulan oleh aparat kepolisian. Orlando sekilas melihat mayat salah satunya dan ia nampak terkejut bahwa pria yang tadi siang ia lihat adalah korbannya.
“Mengapa bisa kayak gitu, ya?” tanya Shane.
“Gue juga gak ngerti, tapi masa iya sampe ngebunuh gitu. Ternyata polisi juga banyak yang maho, ya?”
“Eh, kita tidur di kamar kalian aja, ya?” pinta Adam.
“Iya, gue merinding kalau kayak gini. Kan seenggaknya kalau berempat jadi agak adem gitu.”
“Ya udah, yuk.”
Akhirnya setelah kejadian aneh semalam mereka pun tidur di satu kamar.
&&&
Hari penataran kian hari kian membuat mereka sibuk, bahkan tak sempat bagi mereka untuk duduk mengobrol bersama, hanya tegur sapa dan selebihnya istirahat. Di hari ke tiga, rupanya setiap perwakilan komisariat dipisahkan dan hanya dibagi menjadi beberapa kelompok, sehingga Adam harus berbarengan dengan Orlando dan Shane dengan Keanu. Untuk menjalin komunikasi yang lebih gampang, akhirnya mereka sepakat untuk bertukar pasangan kamar, Shane dengan Keanu dan Adam dengan Lando.
“Gila, penataran kali ini bener-bener bikin gue pusing, masa jadi harus pisah kamar karena kebanyakan tugas,” keluh Lando sambil merapihkan bajunya.
“Nikmati aja, sebentar lagi juga beres.” Adam membuka bajunya.
Orlando menatap tubuh Adam yang rupanya mengusik adrenalinnya. Semakin ia perhatikan rupanya tubuh Adam semakin membuatnya berkeringat.
“Kenapa lo liat gue gitu?” tanya Adam yang sadar dirinya diperhatikan oleh Lando.
Orlando yang sadar kini sedikit salah tingkah. “Ah, enggak, ge er amat lo?”
Adam hanya tersenyum, kemudian ia buka celana katun panjangnya sehingga kini ia hanya mengenakan celana dalam berwarna kuning. Lando yang memerhatikan menelan ludahnya. Kemudian Adam mengambil handuk dan mengenakannya.
“Gue mandi dulu,” ujar Adam berjalan ke arah kamar mandi, sesaat ia masih melihat Orlando yang pandangannya masih tertuju ke arah selangkangan Adam. “Lo mau ikut mandi?”
Mendengar ucapan itu dari Adam Orlando nampak kalang kabut, “Hah? Mau mandi bareng?” ujar Lando yang sepertinya mendapat angin segar.
“Gila aja, ya nggak, lah. Dasar otak mesum!” ujar Adam sambil melemparkan baju kotornya ke Orlando. Orlando hanya mengernyitkan dahi. Untuk beberapa menit sebelumnya ia nampak tersihir dengan paras dan tubuh Adam yang menurutnya memiliki daya tarik tersendiri. Dari ketiga temannya, hanya Adam orang yang sebetulnya terlihat lebih cool. Bukan hanya parasnya yang tampan, tapi karena pembawaannya ketika berbicara cukup membuat ia selalu senang tiap kali Adam berbicara.
Jam sudah menunjukan pukul 21.25. Orlando sudah mandi dan kini telah berganti pakaian dan siap untuk tidur, Adam nampak sedang memisahkan baju kotornya. Orlando masih terbayang tubuh Adam yang membuatnya berkeringat meski kamar itu mengenakan AC. Ketika Adam berbaring di sampingnya, Orlando berpura-pura berbalik arah sehingga memberi punggung kepada Adam. Ia mencoba membersihkan pikiran kotornya dan lekas tidur.
Setengah jam kemudian Orlando terbangun dari tidurnya dan rupanya kepala Adam berada tepat di sampingnya, ketika ia berbalik dan menengok wajah Adam ia nampak terkejut, wajah polos Adam yang tertidur membangunkan gairahnya. Ia tatap beberapa menit, wajahnya yang tampan bener-bener memikatnya. Orlando kini mencoba untuk memberanikan diri menyapu wajah Adam yang tertidur. Ia usap wajahnya dan sesekali Adam menggeliat, Lando yang sudah berada di puncak rasa horny kini memberanikan diri untuk mencium keing Adam, kemudian beralih ke bibirnya. Adam masih juga tertidur tak sadarkan diri, Lando teringat ketika pertama kali ia mencium bibir Adam. Berbeda. Rasanya tak sama seperti saat pertama kali mereka berciuman di acara barbeque. Adam yang ini benar-benar membuat ia penasaran. Orlando bangun dari tidurnya dan mencoba menindih Adam, ketika ia akan kembali mencium Adam, Adam terbangun, ekspresinya nampak terkejut.
“Lando, apa-apaan ini!” Adam mendorongnya sehingga Lando terjatuh. Adam bangun dari tidurnya. “Lo pikir gue cowok apaan, hah?”
Orlando terdiam tak mampu berkata apa-apa.
“Gue pikir lo udah berubah, gak mentingin seks lagi. Tapi nyatanya, gue salah menilai lo.”
Orlando akhirnya angkat bicara. “Ini bukan cuma soal nafsu, Dam. Emang menit tadi gue nafsu banget liat tubuh dan wajah lo. Tapi pas lo teriak ke gue barusan gue sadar. Sadar kalau ternyata lo menarik, bukan hanya dari segi fisik.”
“Maksud lo apa?”
Orlando nampak tidak yakin dengan apa yang akan ia katakan, “kayaknya gue suka sama lo, dan gue semakin sadar sekarang. Rasa ini sempat muncul ketika kita kumpul di acara barbeque, lalu lenyap setelahnya, dan kemudian muncul lagi beberapa hari kemarin. Saat kita penataran di sini. Gue selalu memerhatikan lo tiap kali lo ngomong, cara lo ngomong, ketawa, becanda, entah kenapa bikin gue dek-dekan. Ngedenger lo ngomong aja bikin gue adem.”
Adam terdiam.
“Maaf kalo gue udah bikin lo marah lagi. Mungkin ini kejelekan gue. Gue paling gak bisa tahan liat orang yang gue suka. Kalau lo mau pindah kamar lagi, ya terserah lo. Kayaknya diantara kita berempat gue yang selalu jadi benalu, selalu menjadi perusak. Mungkin kalau penataran dulu gue gak dekat sama kalian, bukan gue yang dipilih datang ke Bandung. Gue cuman pemanis aja di penataran ini, buktinya gue tiga besar aja nggak. Lagian dari dulu gue selalu jadi orang yang ngerepotin Keanu, gue selalu ngebebanin dia dengan pekerjaan gue. Awal keretakan hubungan kalian juga gara-gara gue, gue mancing-mancing Shane biar mau ML ama gue. Emang ya, gue gak ada baik-baiknya.”
Adam nampak sedikit tenang. Ia menjadi merasa bersalah.
“Sebenernya gue pengen kayak lo, pembawaan lo selalu bikin enak dipandang mata. Lo tipikal orang cerdas dan berwibawa, lo...”
Adam memotong. “Udah curhatnya?”
Orlando menengok dan rupanya Adam berada di sebelahnya. Duduk di bawah kasur dengan punggung bersandar di pinggiran kasur.
“Meski gue sempet benci banget sama lo, gue tetep care sama lo. Lo jangan beranggapan cuman jadi pemanis aja. Kita semua berbeda karakter, Shane yang kocak tapi tetap cool, Keanu sipendiam dan baik hati, gue yang... menurut pandangan lo, dan lo, lo itu baik sebenernya, lo care dan bisa bikin suasana rame. Jadi jangan terlalu bikin diri lo orang paling buruk, kalau bicara keburukan, kita punya keburukan masing-masing. Lo tau keburukan lo, lo juga tau kan keburukan gue, Kean, sama Shane? Jadi, coba jadi diri sendiri, itu lebih baik. Lo sama gue masih gantengan lo juga kali. Lo bisa menutupi kekurangan lo dengan kegantengan lo, kita kaya F4 kan? Hahahaa....” canda Adam. Lando ikutan tersenyum. “ya udah, gue udah gak marah lagi sama lo, sekarang tidur aja, yuk?” Lando mengangguk dan mereka kembali naik ke kasur.
“Dam, gue boleh meluk lo?”
Adam mengangguk sambil tubuhnya ia dekapkan di dalam dekapan Lando. Adam nyaman dengan pelukan Lando begitupun sebaliknya, setelah beberapa menit berpelukan Adam berbalik arah, mereka kini saling berhadapan, saling menatap, kemudian Adam mengelus wajah Lando, Lando menutup wajahnya. Adam memberanikan diri untuk mencium bibir Orlando. Akhirnya mereka berciuman. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Mereka semakin asyik berciuman. Kini Adam memberanikan diri menindih tubuh Lando, diciumnya dengan lebih buas sambil mencoba membuka baju Lando, begitupun sebaliknya. Adam menjilati puting Lando dengan penuh gairah, Orlando hanya melenguh keenakan, kemudian di jilatnya bagian perut Lando semakin kebawah. Adam mencoba membuka celana lando dan tibullah batang besar berurat dan tagang itu.
Ia lahap batang itu penuh, menjilatinya dengan penuh nafsu. Lando tak mau kalah, ia membalikan posisi dan membuka celana Adam dikulumnya penis Adam yang sama tegangnya dengan Lando. Cukup lama mereka saling hisap dan jilat. Kini mereka berdiri.
“Siapa dulu yang jadi Top?” tanya Lando.
“Ya udah, gue dulu.”
Adam menindih tubuh Lando yang gagah, dijilatnya lubang anus Lando. Lando melenguh menahan sensasi geli, nikmat, sekaligus harni.
“Cepet masukin, Dam.”
Adam mencoba memasukan penisnya ke lumbang Lando, dari perlahan, semakin lama semakin kecang, meski status mereka berdua adalah bottom, tapi mereka berdua bisa menikmati sensasi baru yang baru pertama kali mereka rasakan. Adam semakin kencang dengan genjotan, hampir-hampir ia kecolongan dan akan segera keluar, untungnya ia masih bisa menahan puncaknya itu dan meminta Orlando untuk menusuknya. Kini giliran Orlando yang menusuk lubang pembuangan Adam. Di sodoknya anus Adam dengan lembut, inten, dan penuh perasaan. Orlando lebih lama mengocok penisnya di lubang Adam, bahkan mereka sempat mengganti gaya sebanyak tiga kali, hingga akhirnya Orlando bicara.
“Dam, gue udah gak kuat, kita keluarin bareng-bareng, ya?”
Adam setuju, akhirnya dengan posisi tiduran mereka mengocok batang penis yang sudah memerah itu dan hanya selang satu menit dari Orlando Adam pun keluar.
Crot.. crot.. crot...
Pejuh dan peluh mereka bercampur jadi satu.
Mereka berdua tertawa melihat ekspresi masing-masing. Adam berdiri dan mengambil tisu. Di lap tubuhnya dan tubuh Lando. Kemudian mereka kembali berpelukan sambil akhirnya mereka tertidur pulas.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel 4 Sexy Teacher 9 ini dipublish oleh Unknown pada hari 06 Januari 2017. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan 4 Sexy Teacher 9
 

0 komentar:

Posting Komentar