Aku dibangunkan oleh ibu pagi-pagi sekali. Ini adalah hari pertama sekolah. Seragam putih biru sudah tergantung di depan lemari baju. Aku bergegas pergi untuk mandi. Sekitar lima belas menit kemudian, aku sudah selesai mandi dan mengenakan seragam baruku. Meski sudah di cuci, seragam baru selalu saja tercium aroma yang sama. Aku suka wangi baju baru.
Bersama beberapa teman SD aku pergi ke sekolah baru. Satu minggu ospek membuatku sedikit tahu tentang sekolahku ini, setiap kelas selalu diberi warna pintu yang berbeda. Unik. Kelasku sendiri berpintu warna hijau, sesuai dengan kesukaanku. Murid sekolah di sini bisa dibilang terbatas karena setiap kelasnya hanya menampung tiga puluh siswa, tidak boleh lebih, mungkin itu memang peraturan sekolah. Kalau ada yang bertanya apakah sekolah ini sekolah unggulan? Ya. Sekolahku ini adalah sekolah unggulan. Untuk masuk ke sekolah ini kami di tes terlebih dahulu. Dan, aku sangat bersyukur bisa masuk ke sekolah unggulan ini.
Untuk kemampuan otak, aku sendiri sebetulnya bukan anak yang pintar, mungkin lebih tepatnya rajin, ya, aku rajin belajar karena aku tahu kapasitas otakku yang kurang mampu menyerap pelajaran seperti teman-teman kelasku yang lain sehingga aku harus belajar lebih giat dari yang lainnya.
Di kelas baru ini aku belum memiliki teman, aku tipikal orang yang sulit untuk bergaul. Sialnya, tak ada teman satu sekolahku yang dulu sekelas denganku. Ironis. Aku duduk di depan meja guru, itu selalu menjadi tempat favoritku.
Jam pertama sudah dimulai, seorang guru berwajah cantik masuk ke kelasku. Ia merupakan walikelasku untuk satu tahu ke depan. Selain parasnya yang cantik guru itu rupanya memiliki suara yang adem untuk di dengar dan baik hati. Beruntung sekali aku mendapatkan walikelas sebaik dan secantik itu.
Setelah perkenalan, pemilihan ketua kelas beserta rengrengannya selesai wali kelasku pun pergi meninggalkan ruangan. Syukurnya aku tidak terpilih menjadi apapun. Aku malas kalau harus menjadi wakil kelas ataupun seksi-seksinya.
Jam istirahat pun berbunyi, anak-anak kelasku semuanya keluar untuk jajan atau bertegur sapa dengan teman kelas yang lain. Aku berdiri dan pergi keluar menuju perpustakaan. Beberapa langkah aku jalan, tiba-tiba seorang anak berperawakan sedang berjalan di sampingku. Karena aku tidak mengenalnya akhirnya aku mempercepat langkahku. Rupanya ia menyamakan langkahnya denganku. Sampai di perpustakaan pun ia masih saja mengikutiku, tapi kali ini tidak berjalan berdampingan, ia hanya melihat-lihat ke arahku. Aku mengambil buku kemudian duduk di kursi kosong yang menyatu dengan meja yang disekat. Aku mulai konsentrasi dengan bacaanku.
Sekitar sepuluh menit aku membaca, aku sudah lupa dengan anak laki-laki yang sedari tadi mengikuti, tapi ketika aku menengok ke arah samping aku terkejut melihat dia duduk di sampingku dengan senyumnya yang aneh. Sontak saja aku berteriak.
“Aaaaaa!!!!!”
Semua orang melihat kearahku. Ibu penjaga perpustakaan menghampiriku.
“Ada apa ini?”
Aku menggeleng kemudian berkata, “Nggak apa-apa, bu. Kakiku kejepit kursi, tadi.”
Ibu penjaga pun kembali ke tempatnya.
Anak itu hanya tersenyum melihat tingkahku.
“Lo ada perlu apa sama gue?” tanyaku bingung.
Anak itu hanya menggelang, sesaat kulihat namtag yang terpasang di bajunya. ‘Sandiaga Aji’ nama yang unik. Oh, aku hampir lupa memperkenalkan diri, namaku Teuku Galih, biasa dipanggil Galih. Kembali ke si anak yang tidak mau bicara ini akhirnya aku pergi dari perpustakaan karena ia masih tak mau bicara. Kembali ke kelasku.
Rupanya ia masih mengikutiku, kini ia sambil menyenggol tubuhku ketika berjalan. Aku hanya diam tak merespon.
Ketika aku masuk ke kelas ia tak lagi mengikutiku, ia hanya menatapku dari jauh.
&&&
Hari-hari aneh telah kulalui. Akhirnya kini ia tak lagi mengikutiku, di hari ke tiga ia menghampiriku, ia mengeluarkan suaranya, aku tak menyangka dia punya suara yang cukup berat untuk ukuran anak seusia kami. Aji kini sudah punya teman baru yang bisa dia ajak bercanda, mungkin ketika pertama kali masuk ia masih tidak memiliki teman jadi ia menggangguku.
Sandiaga Aji memiliki rambut yang lurus tebal, alisnya tak kalah tebalnya, bibirnya tipis dan bermata bulat, cocok untuk ukuran wajahnya. Ia juga memiliki lesung pipit yang cukup menarik perhatian kaum wanita. Ah, itu sedikit deskripsi tentang dia, itu pun kalau kalian ingin tahu.
Setelah beberapa bulan aku berada di sekolah, aku dengannya bisa di bilang menjadi teman yang hanya tegur sapa biasa. Ia tak lagi anak aneh yang sering mengikutiku. Ia menjadi Aji yang banyak disukai oleh para gadis. Aku sendiri sebetulnya cukup tertarik dengannya. Untuk masa ini aku masih belum mengerti tentang orientasi seksual. Aku hanya tertarik dengannya saja, bukan cinta. Ia sendiri sebetulnya anak yang ramah, senang senyum, tingginya mungkin hampir sama denganku hanya menurutku aku masih jauh lebih tinggi darinya.
Ketika jam istirahat.
Aku masih menjalankan aktifitasku seperti biasa, pergi ke perpustakaan. Bagiku perpustakaan seperti rumah kedua. Kesenanganku membaca ditularkan oleh ayahku yang sangat senang membacakan dongeng ketika aku masih kecil sehingga sampai saat ini aku senang membaca, terlebih novel fiksi yang penuh dengan imajinasi.
Aji menghampiriku.
“Masih aja ya lo baca buku?”
Aku hanya mengangguk.
“Lo nggak jajan ke kantin?”
Aku menggeleng.
“Kok, gue belom pernah liat lo jajan ke kantin, sih?”
Aku tak menjawab perkataan Aji. Sebetulnya aku tidak memiliki uang untuk jajan. Uang sakuku hanya cukup untuk pergi dan pulang ke sekolah. Dulu keluargaku cukup berada, namun ketika ayahku meninggal hidup keluargaku berubah. Ayah yang selalu menjadi idolaku sudah tidak ada. Ia mengalami kecelakaan kerja di proyek pembangunan yang sedang ia kerjakan.
“Males, gue mau baca aja,” kataku singkat.
“Bilang aja kalo nggak punya uang.”
Aku tersentak tapi aku masih diam.
“Yuk ke kantin, gue yang traktir, deh.”
Aku masih tak menjawab. Akhirnya Aji menyerah dan meninggalkanku sendiri.
Keesokan harinya. Masih di perpustakaan.
Aji kembali menghampiriku kini ia duduk di sampingku sambil memegang buku. Lima menit berlalu, Aji nampak tidak bisa diam, ada-ada saja ulahnya yang ia kerjakan. Akhirnya aku membuka percakapan.
“Lo nggak ke kantin?”
“Nggak.”
“Tumben.”
“Kan lo nggak ke kantin, jadi gue juga gak ke kantin.”
Aku nampak aneh dengan ucapannya, kemudian melirik ke arahnya. “Kok karna gue?”
“Gue mau ke kantinnya sama lo.”
“Kenapa ama gue?”
“Nggak apa-apa, ya pengen aja.”
Aku menggeleng.
“Duh, laper nih,” katanya seraya mengusap perutnya.
“Ya udah sana ke kantin, jangan bawa-bawa gue.”
“Gak mau, gue pengennya bareng sama lo. Gue traktir, deh.”
Akhirnya aku menyerah. Bukan karena aku ingin ditraktir, aku hanya takut dia sakit, kalau dia sakit itu bisa jadi ke salahanku, kan tidak lucu.
Aku baru pertama kali ke kantin, di sana banyak sekali jajanan, makanan berat dan aneka minuman. Aji merangkulku kemudian mengajakku ke tempat nasi goreng.
“Nasi goreng spesialnya dua, ya?” ujar Aji ke pada ibu kantin.
“Pedes nggak?”
Aku menatapku, aku menggeleng.
“Yang pedes satu, yang satu lagi nggak.”
“Lo mau minum apa?”
“Nggak usah, air putih aja.”
“Ye, seriusan, gue yang bayar kok.”
Aku hanya menggeleng, “nggak beneran air putih aja cukup.”
Akhirnya Aji berdiri dan pergi, kemudian ia kembali sambil membawa air botol mineral.
“Eh maksud gue air minum biasa aja, nggak usah aqua.”
“Udah tenang aja.”
Tak lama nasi goreng datang dan kami pun makan.
&&&
Beberapa hari setelahnya aku selalu bersama dengan Aji ke kantin, ia selalu menelaktirku meski aku bilang tidak mau. Kami menjadi sangat dekat. Aku senang dengan kedekatan ini, perasaan nyaman yang baru aku rasakan dalam hidupku setelah ayahku tiada.
Sepulang sekolah.
Ketika aku sedang berjalan seorang gadis menyapaku. Ia Seli teman SDku.
“Hai Gal, lo nggak naek angkot?”
Aku hanya menggeleng. Seli adalah gadis cantik, wajahnya seperti orang artis Jepang yang rambutnya panjang terurai, ah, aku tidak tahu nama artis itu.
“Nggak, gue jalan kaki aja.”
“Eh, Gal, lo temen deketnya si Aji, kan?”
Aku baru ingat ternyata Seli satu kelas dengan Aji.
“Iya, kenapa emangnya?”
“Dia sering ceritai cewek nggak?”
“Emangnya kenapa? Lo suka sama dia?”
Seli tersenyum, “dia udah punya pacar belum, sih?”
Aku menggeleng, “nggak tau, dia kalau ama gue belom pernah ceritain cewek.”
Seli mengangguk. “Yah, gue pikir dia suka ceritain gue ke lo.” Seli nampak sedikit sedih. “Dia kalau ngonbrol ama gue pasti nanyain lo terus. Kenapa kalau dia sama lo nggak pernah ceritain gue, ya?”
“Dia nanyain gue gimana maksud lo?”
Seli membetulkan poninya, “iya, awal gue deket ama dia, dia nanya ke gue tentang lo gitu, ya gue ceritaku tentang lo ke dia.”
“Semuanya?”
“Sedikit-sedikit, sih. Soalnya kalau dia nanya banyak banget, gue jawabnya suka pelan biar gue bisa ngobrol ama dia lama.”
“Lo ceritain kehidupan keluarga gue juga?”
Seli mengangguk, “ia lah, orang dia pengen tau banget tentang seluk beluk keluarga lo. Dan maaf ya, termasuk tentang bokap lo yang udah meninggal.”
Seketika aku emosi. Untungnya kemarahanku ini terhenti ketika ia hendak naik angkot.
“Lanjut nanti lagi, ya? Bye,” ujar Seli seraya naik angkot.
&&&
Aji mendatangiku ke perpustakaan, wajahnya senyum seperti biasanya.
“Kantin, yuk?”
Aku tidak menjawab. Aji kini duduk di sampingku.
“Woy, ke kantin, yuk?”
Aku masih mengacuhkannya.
“Gal, ke kantin, yuk?” ucapnya sambil menepuk lenganku.
Aku menangkis tepukkannya.
“Kenapa lo?”
“Lo pergi aja ke kantin sendirian.”
“Eh, lo kenapa sih? Marah ama gue? Marah kenapa?”
Aku merapihkan buku yang kubaca kemudian keluar dari perpus.
“Gal, lo kenapa, sih?”
Aku berjalan ke belakang sekolah. Aji masih mengikuti.
“Gal, lo kenapa?”
“Lo kenapa pengen tau sih tentang kehidupan gue? Kenapa lo deketin gue?”
Aji mendekatiku, “gue cuman mau jadi temen lo aja, kok. Emangnya itu salah?”
Aku menarik nafas dalam, “itu nggak salah, cuman gue gak suka dengan cara lo yang nanya tentang kehidupan gue ke Seli.”
“Kan sebagai teman yang baik gue pengen aja tau tentang lo dulu kayak gimana,” ucapnya dengan suara yang sedikit dipelankan.
“Teman, ya teman. Kehidupan gue, ya kehidupan gue. Gue gak suka kehidupan gue diusik.”
“Siapa yang mengusik, ah. Orang gue cuman nanya aja, toh gue nggak bilang ke siapa-siapa tentang lo ke orang-orang, kan?”
“Iya, tapi tetep aja gue nggak suka. Makanya gue sedikit curiga kenapa lo sering banget nelaktir gue. Lo mungkin cuman kasian ke gue yang nggak punya uang, kan?”
Aji memegang lenganku, “ya udah gue minta maaf, gue nggak akan sekali-kali lagi kayak gitu. Tapi jujur gue nggak ada maksud kayak gitu. Gue mau temenan ama lo bukan karna kasihan. Kalau gue kayak gitu, dari awal gue tau tentang keluarga lo, gue nggak akan mau temenan sama lo.”
Kini aku yang terdiam.
“Gue tulus mau jadi temen lo, bukan dari status sosial lo, gue sayang sama lo.”
Aku sedikit terkejut dengan ucapan Aji. ‘Sayang’ ini sedikit rancu, tapi dalam benakku, aku merasakan hal yang sama.


0 komentar:
Posting Komentar