4 Sexy Teacher 10

Keanu sedang bermain game ketika Shane selesai mandi.
“Kean, lo gak mandi?”
“Bentar, tanggung,” ujar Keanu sekenanya.
“Maen game apaan sih?” Shane nampak penasaran dan mendekati Keanu, “oh, Town Ship?”



Keanu menatap Shane seketika. “Lo tau game ini?” tanpa sadar wajah mereka saling berhadapan. Dekat sekali. Ada perasaan gugup di hati Keanu ketika menatap wajah Shane.
Shane mengangguk. “Ia lah, gue juga suka maen game itu, tapi baru level 39 sih. Lo udah level berapa?”
“Gue level 51. Ini nanggung regatanya tinggal sehari lagi. Kelompok gue harus masuk tiga besar.”
“Wah, gila ya lo. Liga apa?”
“Liga emas.”
“Gila, keren amat? Masukin gue ke kelompok lo dong?”
Keanu kembali fokus kepada gamenya. “Kalau mau masuk ke kelompok gue, lo harus minimal level 40, terus lo harus aktif ikutan regata minimal 10 kali kasih poin. Sanggup gak lo?”
Shane menggaruk kepalanya.
“Udah gue duga.”
“Udah ah, cepet lo mandi, apa mau gue mandiin?”
“Mayat kali gue di mandiin,” ketus Keanu.
“Apa mau mandi bareng?”
Keanu kembali menatap Shane, pandangannya kini tertuju kepada handuk putih shane yang menutupi area intimnya. Terbesit dalam hati Keanu ingin mengatakan ‘Ya’ hanya saja pikiran logisnya langsung membantah. “Ish, dasar mesum.”
Shane tertawa, kemudian ia melemparkan handuknya ke wajah Keanu. “Lo yang otak mesum, dari tadi liatin selangkangan gue terus.”
“Apaan, gue liat handuknya aja, kok.” Ketika Keanu mengangkat handuk dari wajahnya ia terkejut melihat Shane yang hanya mengenakan celana dalam. “Aaaaa, porno!” teriak Keanu.
“Apaan sih, orang gue pake celana dalam, kok.”
“Lo nggak malu apa pake celana dalam doang, ada gue nih, di sini.”
“Kenapa harus malu? Kan kalau renang juga gue biasa pake CD doang.”
“Tapi kan beda, ini di kamar.”
“Beda apanya sih?”
“Udah ah, mending gue mandi.”
Keanu berlari ke kamar mandi. Kemudian ia membuka bajunya dan menyalakan shower. Beberapa saat ia terbayangkan lekuk tubuh Shane yang indah, sempat terpikirkan untuk menjamah tubuh yang indah itu. Shane memiliki segalanya, tubuh yang ideal serta wajah yang tampan. Lebih tampan diantara kedua temannya yang lain. Tanpa sadar ia memegangi penisnya yang sudah tegang. “Duh, apaan sih ini, kenapa gue jadi mikir yang kotor-kotor terus, ya?”
Setelah selesai mandi, Keanu melihat Shane sedang memainkan HPnya dengan terlentang sambil mengangkang menggoda, ia hanya mengenakan celana pendek tanpa mengenakan baju. Keanu geleng-geleng kepala.
“Lo sengaja ya pasang pose kayak gitu?” celetuk Keanu.
“Pose apaan?”
“Gak pake baju sambil ngangkang-ngangkang gak jelas gitu.”
Shane tertawa, “hahaha... lo horny ya liat gue kayak gini?”
“Ish, gila lo.”
Setelah mengenakan baju, Keanu duduk di samping tempat tidur.
“Geseran dikit dong.”
Shane bergeser sedikit. Keanu kembali melirik ke arah Shane yang seksi. Ia membuka HPnya dan mencoba kembali bermain game. Tapi sayang ia tidak bisa fokus dan akhirnya mematikan HPnya dan bergegas untuk tidur.
“Kenapa sih lo gelisah banget?”
Keanu menarik selimut dan membelakangi tubuh Shane. “Ngga, gue udah ngantuk aja, sih.”
“Baru juga jam sembilan.”
Shane kembali asyik memainkan HPnya. Keanu kembali berulah dengan tidak mau diam, ia krasak-krusuk (bahasa sunda) tidak jelas. Shane menyimpan HPnya dan akhirnya memasukan tubuhnya terbungkus selimut.
“Kean,” tanya Shane pelan. Keanu hanya menjawab dengan lengkungan “Hm?” Shane menepuk lengan Keanu. Gue mau ngomong ah, balik badan dulu, kek.”
Akhirnya Keanu menurut. “Apa?”
Mata mereka kembali bertemu, jantung Keanu memacu lebih cepat.
“Gue cuman mau bilang makasih.”
“Untuk?”
“Karena lo udah mau berada di samping Adam saat gue justru bikin dia terluka.” Keanu menutup sebagian wajah bawahnya dengan selimut. “Entah kebodohan apa yang gue lakukan saat itu, gue terlalu bernafsu buat ML sama orang yang baru pertama kali gue kenal.” Shane terdiam sesaat. “Gue juga mau minta maaf yang sebesar-besarnya sama lo, gara-gara gue, hubungan lo sama Lando jadi sempet ancur.” Keanu hanya mengangguk. “Tapi gue seneng, akhirnya gue sama Adam bisa kembali dan kalian jadi bagian hidup gue juga.”
Keanu menarik selimut yang menutup wajah bagian bawahnya. “Sama, gue juga mau bilang terima kasih dan maaf. Ya, walah bisa dibilang ini bukan kesalahan kalian murni seratus persen, tapi karna sebab dan lainnya. Gue juga bersyukur bisa kenal kalian, jadi gue punya banyak temen. Gue juga suka sama Adam, lo tau sendiri kenapa gue bisa suka, kan?” Kali ini Shane yang mengangguk. “Adam itu meski memiliki amarah yang besar, ia adalah tipikal orang yang baik, baik banget malah. Kalau dia udah sayang sama seseorang dia bakalan sayang terus sama orang itu. Meski dia pemarah tapi dia bukan tipikal pendendam, buktinya ia akhirnya mau maafin lo. Tapi maaf, karena hubungan ini gue jadi nggak bisa gitu aja ngelepasin Adam, gue cinta sama dia, Shane.”
Shane terdiam sesaat, kemudian ia berbicara, “Ya, gue tau, karna gue juga sama, suka sama Orlando, gue gak bisa lepasin dia gitu aja. Bagi gue Lando dan Adam punya tempat tersendiri di hati gue.”
“Cuma mereka?” tanya Keanu.
Shane terdiam sambil menatap Keanu. “Mungkin dengan obrolan ini, sedikit-sedikit gue tau tentang lo. Walaupun kita belum pernah ML, tapi entah kenapa lo juga satu bagian dihati gue. Kalau gue gak bisa lepas dari mereka, otomatis gue juga nggak bisa terpisah dari lo. Entah kenapa lo juga spesial bagi gue, Nu.” Shane menarik nafas, “lagian kalo ML, emang lo mau dijadiin bottom apa gue?” tanya Shane iseng sambil menepuk lengan Keanu.
“Mau...” ujar Keanu lirih.
Shane yang bermula hanya berkata iseng, kini nampak terkejut dan canggung dengan apa yang Keanu ucapkan. “Hahaha... lo bisa aja, itu sakit, loh.” Shane kembali menatap Keanu, namun pandangan Keanu terasa berbeda. Shane menelan ludahnya.
“Ini bakalan sakit, loh.” Tanya Shane sekali lagi.
Keanu mendekat dan mencium Shane untuk meyakinkan.
Mereka kini saling berpagutan, Shane nampak menikmati ciuman dari Keanu yang softly namun buas. Shane menyeimbangkan ciuman dari Keanu, tanpa sadar ia sudah menindih tubuh kurus Keanu. Sambil berciuman itu, Shane membuka baju Keanu, kemudian menjilati putingnya yang lembut. Keanu menggeram keenakan. Shane membuka celananya dan tibullah penis besar mengkilap yang sudah sedikit basah.
Keanu langsung melahap penis Shane yang besar itu, terasa sedikit asin karena bercampur dengan cairan bening, tapi Keanu nampak menikmati penis besar yang berurat itu. agar sama-sama enak, Shane ikut melahap penis Keanu, meski berbadan kurus, penisnya sangat berotot.
Tak lama Shane mencoba untuk menjilati anus Keanu, anus yang belum pernah dijamah oleh orang lain. Ketika jilatan pertama, Keanu melenguh keenakan. Kemudian ia coba masukan satu jarinya ke dalam anus tersebut.
“Aw...!” teriak Keanu.
“Sakit?” Keanu mengangguk, tapi ia pasrah saja.
“Shane kembali memasukan jarinya perlahan agar membiasakan anus untuk bisa lebih siap menerima sesatu yang lebih besar.
Keanu mengernyitkan alisnya.
Setelah Shane nampak semakin bergairah, ia mencoba untuk memasukan penisnya ke dalam anus perawan milik Keanu.
“Gak apa-apa?” tanya Shane.
Keanu mengangguk. Perlahan-lahan ia coba masukan penis besar itu. keanu teriak pelan. “Aaaaa.... aw....” Shane diamkan sebentar agar lubang anus Keanu bisa membiasakan. Setelah Keanu tidak berteriak, Shane langsung mencoba memasukan seluruh penisnya ke dalam anus Keanu. Sontak keanu teriak, Shane membekam mulut Keanu.
Air mata menetes disela-sela pipnya. Shane tidak tega, namun nafsunya pun tidak bisa ia bendung lagi. Ia coba genjot penisnya perlahan maju-mundur. Keanu masih saja kesakitan, tapi kini ia hanya merintih kecil dan memejamkan matanya. Setengah jam yang penuh kecanggungan akibat permainan pertama mereka telah berakhir, kini Shane dengan lebih cepat memaju-mundurkan penisnya lebih cepat, Keanu nampak tidak begitu kesakitan, bahkan ia bisa menikmati genjotan dari Shane.
Berbagai gaya telah mereka peragakan, Shane pernah menggagahi Adam sebelumnya ketika pertama kali mereka berhubungan intim, jadi ia tahu bahwa rasa sakit itu tidak akan bertahan lama. Penis Keanu meski tidak ia pegang terlihat tegang. Shane menusukan penisnya dengan inten sambil melumat bibir Keanu. Nafsu diantara mereka kini sudah mencapai puncaknya.
“Gue udah mau keluar nih, Kean, di keluarin di mana?”
“Di luar aja, barengan.”
Shane mencopot penis yang tertanam di anus Keanu kemudian mereka berdua mengocok penisnya bersamaan. Air mani Shane nampak berhamburan ketubuh kurus Keanu. Dan tak lama juga air mani Keanu keluar.
Crot... crot... crot...
Shane kembali mencium Keanu setelah itu menggulingkan tubuhnya disamping Keanu.
“Thanks, ya?”
Keanu mengangguk, mereka saling berpelukan.
&&&
Setelah acara penataran di Bandung selesai, mereka kembali pulang. Shane dan Adam kembali tinggal seatap, sedangkan Keanu dan Orlando kembali ke tempat kosannya.
“Mau pesan apa?” tanya seorang pelayan restoran kepada mereka beempat.
“Kami pesan steak tuna satu, spaghetti aglio olio, spaghetti carbonara, sama chicken cordon bleu satu, minumnya oreo frappuccino, orange juice, ice tea, sama avocado juice, oh ya, air mineral botolnya empat, ya?” ujar Adam menjelaskan.
Pelayan itupun mengangguk sambil lalu.
Orlando membuka topik obrolan. “Gila, ya, Adam emang paling pinter diantara kita, bisa hapal pesanan kita walau cuman diucapin sekali. Keren!”
“Apaan sih, lo.” Adam tersenyum. “Eh, btw kalian tinggal aja bareng kita. Sayang kan, banyak kamar kosong di rumah gue.”
“Kita nggak mau ngerepotin lo, Dam. Gak enak juga ya, kita numpang gratisan gitu aja,” ujar Keanu.
“Santai aja, sih. Asli sebenernya kalo gue cuman tinggal berdua sama Shane masih terasa nyeremin, lo bayangin aja rumah gede di isi sama dua orang aja. Makanya gue suka minta Shane tidur bareng.”
“Ah, emang bukannya lo aja yang mau tidur bareng ama gue. Biar nggak usah repot kalau mau apa-apa, kan?”
Semuanya tertawa mendengar celetukan Shane.
“Eh, emangnya ortu lo nggak akan marah gitu kalau rumahnya diisi sama orang asing kayak kita?” tanya Orlando.
“Ortu gue tinggal di Jakarta, rumah yang gue pake sekarang sebenernya dibeli dari temennya karena butuh, jadi harganya sedikit miring. Nah, karena tau gue ngajar dekat sama rumah yang baru mereka beli, akhirnya gue yang nempatin. Terus gue bilang kalau sendiri gue gak berani dan gue minta Shane nemenin. Orang tua gue sih setuju.”
“Setuju sama hubungan kalian?” tanya Lando sedikit kurang paham.
“Bukan, lah dodol! Setuju Shane tinggal sama gue. Lagian ortu gue udah kenal sama Shane lama juga, ya?”
“Wah kayaknya bakalan direstui juga hubungan kalian.”
“Ya nggak lah, gila aja. Ortu gue justu homofobik banget.”
“Wah bahaya, ya. Kalau sampe ortu lo tau kalau lo gay gimana jadinya?”
“Entahlah. Mungkin gue bakalan dibuang ke laut atau dimutilasi.”
“Udah ah, serem. Kita mau makan, nih.”
Akhirnya hidangan yang mereka pesan datang, mereka pun menghentikan obrolannya dan lahap menyantap makanan yang dipesannya.
Setelah selesai makan. Keempatnya sibuk mengecek HP masing-masing. Adam kembali membuka obrolan, kali ini dengan nada yang sedikit serius.
“Shane, Keanu, gue mau jujur.”
Semuanya nampak mengeluarkan ekspresi terkejut, tak terkecuali Orlando.
“Maafin gue kalau gue lancang atau gimana, cuman ini udah mengganjal banget di hati gue.” Adam menarik nafas dalam, “gue sama Orlando sempet ML.”
Keanu terbelalak, begitu juga Shane, seketika Keanu melirik Lando. Lando hanya bisa menunduk malu. Keanu memejamkan matanya.
“Gue juga, gue juga sama Shane ML.”
Orlando yang menunduk kini menatap Keanu terkejut.
“Gimana caranya, lo kan Top?” tanya Orlando.
Shane yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara, “maafin gue, Do, gue yang ngambil keperjakaan Keanu.”
Adam terbelalak. Ia bingung, tapi pikiran rasionalnya bicara.
“Kalau begitu, udah nggak ada yang mesti dirahasiakan lagi. Tadinya gue pikir cuman gue aja sama Lando yang kayak gitu. Kalau begini jadinya kita nggak berhak marah sama siapapun. Maka dari itu,” Adam menatap ketiga temannya, “gue cinta sama kalian bertiga, kalian mau jadi cowok gue?”
Orlando yang duduk di depan Adam mulutnya terbuka, Shane mematung sambil mendengarkan, Keanu terbengong mendengar ucapan Adam, dan akhirnya secara serentak mereka tertawa.
“Hahaha... Kayaknya kata cinta buat kita nggak melulu tentang satu pasangan, gue juga suka sama Shane, apalagi sama Keanu. Gue mau jadi cowok kalian bertiga.”
Keanu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
“Jadi mulai saat ini, gak ada rahasia lagi diantara kita, ya?” kata Shane.
Mereka pun setuju dan saling berpandangan satu sama lainnya.
&&&
Rumah Adam terbilang rumah yang besar, Ada satu kamar utama yang merupakan kamar milik Adam, sisanya dua kamar kosong yang tak terisi apa-apa. Setelah mereka berempat sepakat, Orlando dan Keanu akhirnya pindah ke rumah tersebut dan bebas memilih kamar manapun. Meski pada akhirnya hanya kamar Adam lah yang selalu dipakai tidur bersama.
Tiga minggu kebersamaan mereka terjalin sangat harmonis, mereka menumpahkan canda, tawa dan nafsunya terkadang bersamaan. Tak ada lagi kecanggungan yang menyelimuti perasaan mereka. Kini mereka menyatu, karena cinta tidak selalu kepada satu orang. Kita bisa memilih orang mana yang akan kita masukan ke dalam hati kita.
Satu hari menjelang magrib.
Tok tok tok
Mereka yang sedang asyik menonton tv mendengar suara ketukan. Orlando berdiri dan berlari ke arah pintu. Ketika ia membuka pintu, seorang wanita paruh baya berdiri, dengan setelan casual ibu itu nampak bingung.
“Siapa ya?” tanya Orlando.
Ibu itu mengernyitkan alisnya. “Justru saya yang nanya, kamu siapa?”
Orlando terkejut, kemudian tak lama Adam datang.
“Mamah?”
Orlando nampak terkejut.
“Mamah, tumben ke sini, eh iya, ini Orlando temen Adam.”
Ibunya hanya mengangguk sambil memicingkan alisnya kepada Orlando. Ibu Adam masuk ke dalam, Keanu dan Shane nampak sama-sama terkejut.
“Biar Adam perkenalkan, ini Keanu, juga temen Adam, kalau Shane mamah udah kenal, kan sama dia?”
Ibunya mengangguk. Sambil berjalan ke ruang tamu. Diikuti oleh Adam.
“Mamah kangen sama kamu, makanya mamah datang ke sini. Lagian kamu disuruh pulang malah nggak mau, alasan melulu.”
Adam nyengir kuda. Keempat temannya pergi ke kamar Adam bersamaan.
Di dalam kamar.
“Sumpah gue gak tau kalau itu nyokapnya Adam. Duh, kayaknya dia sebel banget ama gue, deh,” keluh Shane.
“Nah, yang pernah gue denger dari Adam, nyokapnya itu agak sedikit jutek, walau gue kenal ama nyokapnya tapi nyokapnya itu ya, lo tau sendiri lah gimana ekspresinya ke kita.”
Di ruang tamu.
“Mamah udah makan?” tanya Adam.
“Belum, nanti aja sekalian mamah masak.”
“Mamah kan baru sampe sini, masa mamah yang masak. mamah istirahat aja, nanti Adam suruh temen Adam beliin makanan buat mamah.”
“Nggak usah, mamah pengen kamu masak masakan mamah.” Ibu Adam beranjak dan menuju dapur.
Setibanya di dapur ia terkejut dengan piring kotor yang menumpuk. “Aduh, ini jorok amat, sih.” Adam tersenyum malu.
“Begini, nih. Kalau laki-laki hidup sendiri, makanya, Dam, ini alasan kenapa mamah kepengen kamu menikah, biar ada yang ngurusin kamu, biar rumah lebih rame.”
“Di sini juga rame kok, mah. Ada Shane sama teman-teman Adam yang lain.”
“Tapi kan beda, mamah kepengen punya mantu, terus gendong cucu.”
Adam hanya menarik nafas dalam.
“Eh, nomong-ngomong yang dua itu temen kamu dari mana? Kerjanya apa?”
“Mereka berdua juga guru kok, mah. Tapi kita beda sekolah.”
“Mereka sudah menikah?”
“Belum.”
“Awas, jangan-jangan diantara mereka ada yang homo. Kamu harus hati-hati pilih teman, nanti kalau kamu sudah terjerumus ke dunia kayak gitu bahaya.”
Adam hanya terdiam. “Oh, ya, mamah nginep disini?”
“Nggak, habis kita makan mamah mau pulang.”
“Loh, kok dadakan? Mamah kan capek abis perjalanan jauh.” Adam ikut membantu ibunya menyuci piring.
“Nggak apa-apa. Lagian di sini mamah mau ngasih tau sesuatu, kasian papahmu sendirian di rumah.”
“Ngasih tau apa?”
“Nanti kalau kita sudah santai, saat makan malam aja dikasih taunya.”
Adam hanya mengangguk saja.
Setelah mencuci piring dan masak. Adam dan ibunya menyiapkan meja untuk makan malam. “Panggil temen-temenmu, biar kita makan bareng.”
Adam kembali mengangguk, ada perasaan tidak enak dalam dirinya.
Ketiga temannya akhirnya muncul dan ikut makan bersama.
“Tante, maaf ya, tadi saya kurang sopan,” ucap Orlando “Saya kira tante bukan ibunya Adam, saya nggak tau.”
Ibunya hanya mengangguk. Orlando menjadi salah tingkah. Shane dan Keanu tidak berani berbicara sepatah kata pun.
Setelah mereka semua selesai makan.
“Tante di sini mau ngasih tau Adam, kebetulan ada temen-temennya juga.”
Semuanya nampak serius memerhatikan.
“Tante berencana akan menjodohkan Adam kepada anaknya temen tante. Namanya Kinan, dia orang bali tapi tinggal di Jakarta kuliah.”
Seketika Shane terbatuk. Firasat Adam rupanya benar, ada sesuatu yang tidak enak untuk di dengar.
“Kok gitu sih, mah? Kan Adam udah bilang kalau Adam nggak mau kalau di jodoh-jodohkan, Adam bisa cari jodoh sendiri.”
“Terus kapan kamu mau kenalin jodohmu itu sama mamah? Bukan cuman mamah yang ngebet kamu cepet nikah, ayahmu juga, loh. Kebetulan waktu rapat direksi perusahaan papahmu ia ketemu teman lamanya, dan katanya ada anak gadisnya yang masih single. Terus papahmu inisiatif buat ngejodohin kalian.” Ibunya mengambil gelas dan minum, setelah selesai minum ia melanjutkan ucapannya. “Ya, mamah nggak maksain juga, kalau kamu memang sudah punya pacar coba bawa kehadapan kita.”
Adam termenung, ketiga temannya hanya bisa menatap nanar tanpa bisa memberi dukungan.
“Lagi pula sebaiknya kamu berhenti jadi guru, penghasilannya itu nggak bisa buat makan kamu sehari-hari, kan? Apalagi guru honorer, sebaiknya kamu ikuti nasehat ayahmu, bantu ayahmu di kantornya.”
“Adam bukannya nggak mau, mah. Hanya saja Adam nggak ada hati untuk bekerja di kantor papah. Jadi guru sudah menjadi cita-cita Adam dari dulu. Adam nggak nyaman kerja dikantoran kayak gitu.”
“Terus bagaimana dengan perusahaan papah? Siapa yang akan lanjutin perusahaan itu, kami udah membangun perusahaan itu dari nol cuman untuk kamu, Dam.” Ibunya menarik nafas dalam kemudian memegang lengan putranya. “Ya sudah, kalau kamu memang nyaman jadi guru, nggak apa-apa, mamah suport kamu, tapi buat urusan perjodohan ini, kamu jalani saja dulu, ya. Di sini masih ada kamar kosong, kan?” tanya ibu Adam tiba-tiba.
“Kenapa emang, mah?”
“Kinan sedang libur kuliah, papah dan mamah nyuruh dia buat tinggal di sini dulu, agar kalian saling kenal.”
“Apa?” teriak Adam.
“Kenapa kaget gitu?”
Shane, Orlando dan Keanu ikut bingung mendengar penjelasan dari ibunya Adam.
“Pake aja, kamar Shane, tante. Gak apa-apa, kok,” tiba-tiba Shane berucap. “Lagian kan di sini Shane cuman numpang.”
“Duh baiknya nak Shane, jadi nggak apa-apa, nih kalau Kinan nanti tinggal bareng kalian. Dia cantik. Loh. Tapi awas, Kinan cuman buat Adam, jadi kalian bertiga jangan coba-coba godain Kinan, ya?”
Semuanya mengangguk lesu.
Setelah obrolan yang cukup dramatis di meja makan, akhirnya ibu Adam berniat untuk pulang. Shane, Orlando dan Keanu memberi ucapan perpisahan sekaligus terima kasih karena sudah diperbolehkan tinggal di sini.
“Ya, udah mamah pamit dulu, ya? Kamu jaga diri baik-baik.”
“Iya, mah. Hati-hati di jalannya, ya. Salam buat papah.”
Bu Muller pun pergi meninggalkan rumah Adam.

Penulis : Unknown ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel 4 Sexy Teacher 10 ini dipublish oleh Unknown pada hari 07 Januari 2017. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan 4 Sexy Teacher 10
 

0 komentar:

Posting Komentar