Pagi
hari dikediaman Adam.
Keanu
keluar dari dalam kamar mandi, dilihatnya Adam tak ada di kamar, ia berjalan ke
bawah, masih tak menemukan pria itu, kemudian ia naik ke atap dan dilihatnya
Adam sedang duduk ditembok sambil merokok.
“Dam,
cepet lo mandi, takut telat, nih.” Ujar Keanu.
Adam
diam.
“Lo
ke tempat penataran, kan sekarang?”
Adam
menggeleng.
“Jangan
karena masalah pribadi membuat kewajiban lo sebagai guru terbengkalai,
bersikaplah profesional, Dam.”
Kemudian
Adam melirik Keanu, “emangnya tugas udah dikerjain?”
Keanu
menarik nafas dalam, “lo gak usah mikirin tugas, yang penting sekarang kita
datang ke sana, mau nanti lo di sana diam aja, ya, gak apa-apa, itu hak lo,
tapi yang pasti bagi gue, gue akan datang, dengan atau tanpa lo.”
Adam
melirik Keanu, ia melihat dibalik ketegaran hati Keanu, ia masih saja bersikap
normal, seolah bukan ia yang mengalami kejadian ini. Adam turun dari dinding
dan mengambil handuk Keanu yang ia gantungkan dilehernya.
&&&
Pagi
itu, setelah sampai di sekolah Adam tak banyak bicara, ia terus termenung,
telinganya ia sumbat menggunakan earphone, Keanu sendiri sedang asyik
merapihkan data-data di MW yang sudah ia kerjakan kemarin malam, sendiri tanpa
bantuan siapapun.
Tak
lama Orlando datang, Keanu menarik nafas dalam dan mencoba untuk
mengacuhkannya, dan di belakangnya, Shane nampak terlihat sedikit kusut, sama
seperti Adam.
“Bagaimana
tugasnya ibu bapak? Sudah selesai?” tanya instruktur dengan nada yang sangat
ramah, sebetulnya dari semua kelompok, kelompok Adam lah yang paling cepat
selesai, buktinya ketika instruktur itu bertanya, rupanya guru-guru lain
menjawab: ‘belum’ atau hanya dengan gelengan kepala.
“Udah
lo kerjain?” tanya Adam, tangannya yang kanan membuka earphonenya.
Keanu
mengangguk.
“Thanks,”
ujarnya dan menepuk paha Keanu.
Karena
banyak kelompok yang belum beres mengerjakan tugas, jadi banyak waktu kosong
yang mereka gunakan hanya dengan memperhatikan kelompok lain, Adam sendiri dari
tadi masih larut dalam lagu-lagu yang entah apa ia dengar, Keanu sibuk bermain
game di gadgetnya, Orlando sibuk mengobrol dengan kelompok lain yang sama
berisiknya, seolah tak pernah terjadi sesuatu dari mereka. Dan, Shane, ia sibuk
memperhatikan Adam, Adam tahu kalau ia sedang diperhatikan, tapi ia mencoba
acuh, tak ingin menanggapi Shane sama sekali.
Adam
beranjak berdiri.
“Bu,
saya izin ke toilet,” ujar Adam seraya berjalan keluar kelas.
Keanu
menatapnya nanar, Shane masih memperhatikan Adam dari balik jendela. Kemudian
pandangan Shane ditujukan kepada Keanu, melihat Shane memperhatikannya, ia
langsung kembali sibuk dengan game-nya.
Lima
menit berlalu, Adam rupanya masih belum kembali ke dalam kelas, Keanu
mencari-cari sosok Adam, mungkin ia pindah tempat duduk atau apa, tapi orang
itu masih tidak ada, akhirnya giliran ia yang meminta izin keluar.
Ia
berjalan kearah toilet. Toilet sekolah yang terletak di luar dekat dengan pagar
pembatas dan diseberangnya terdapat sungai kecil. Keanu melihat Adam sedang
duduk-duduk sendiri di pinggir sungai. Merokok. Keanu memanjat pagar dan menghampiri
Adam.
“Kok
lo ngerokok terus, sih? Tanya Keanu.
“Lagi
pengen aja.”
Keanu
mengangguk. “Gue ganggu, ya?”
Kemudian
Adam menatap Keanu dan menggeleng.
“Dam,
gue juga sakit, sakit hati banget malah, tapi sejujurnya gue masih sayang sama
dia, andaikan dia nanti ngajak balikan mungkin...”
“Bego
banget sih, lo?” bentak Adam, “lo masih mau balikan lagi walau lo udah liat
sendiri cowok lo ML sama cowok lain? Otak lo ditaro dimana?”
Keanu
menunduk kemudian tersenyum, “mungkin gue emang bego, malah mungkin gue orang
paling tolol sedunia, mau maafin orang yang udah nyakitin hati gue, tapi gue
gak apa-apa kalau dibilang gitu, karena gue udah cinta banget sama Orlando, gue
tau mungkin nanti lo bakal bilang, ‘Orlando bukan cowok terbaik buat gue,’ tapi
gue gak apa-apa, ya, gue gak apa-apa,” Keanu diam dan menatap air sungai yang
terlihat begitu bening di matanya yang kini sedang keruh, “sebab, selama dia
gak bilang minta putus sama gue, gue bakalan mau terus sama dia, gue sayang
banget ama dia, lo tau, kan, cinta itu menyakitkan? Gue rela tersakiti asalkan
dia terus sama gue, gak apa-apa dia selingkuh ama siapapun, asal akhirnya dia
balik lagi ke gue.”
Adam
termenung, dulu ia berpikir kalau dialah orang yang paling sedih, tapi medengar
ucapan Keanu, menatap matanya, ia sadar, Keanu lebih sakit dari dia. “Apa lo
gak kepikiran buat nyari cowok lain?”
Keanu
menggeleng, “nggak, gue gak pernah berpikiran buat nyari cowok lain, gue gak
bisa.”
“Lo
bisa, gue yakin,” Adam memegang jemari Keanu, Keanu menatapnya dengan senyuman.
&&&
Sepulang
penataran.
“Dam,
bisa kita bicara sebentar?” pinta Shane sambil menahan motor Adam.
Adam
masih nampak diam.
“Please.”
“Jauh-jauh
dari gue!” bentaknya.
Shane
masih bersikeras, “gue gak akan pernah menyerah sampe lo mau ngobrol sama gue,
Dam.”
Adam
diam, kemudian ia menatap Orlando yang duduk di motornya, “lo udah bosen sama
si Orlando?”
Shane
menatap Orlando dan kembali menatap Adam, “gak ada hubungannya sama dia, Dam.”
“Terus?”
“Gue
mau ngobrol masalah kita...”
“Kita?
Heh! Udah gak ada lagi kata kita di hidup gue, kalau lo mau nyari yang lebih
baik dari gue, ya udah, lo udah dapetin si Lando, ngapain masih harus
susah-susah ngomong ama gue?”
“Gue
gak bisa kaya gini Dam, gue sayang sama lo,” ujar Shane dengan suara yang
sedikit dipelankan karena ada guru lain yang hendak mengambil motornya.
Keanu
berjalan mendekati Adam.
“Ayo,
Kean, kita cabut, pusing lama-lama gue di sini.”
Keanu
nampak bingung, ia menatap Orlando, Lando diam saja di tempatnya.
Adam
turun dari motor dan menarik tangan Keanu, “Kean, liat, lo masih ngarepin cowok
yang udah bikin lo sakit, liat, ada gak reaksi dari dia buat minta maaf sama
lo? Ada gak? Udah jelas-jelas si Orlando gak suka lagi sama lo, udah Kean,
lupain dia.”
Keanu
menunduk, tas laptop yang ia pegang jatuh, badannya bergemetar.
Orlando
menghampiri Adam dan Keanu.
“Masalah
lo sama Shane, gak usah bawa-bawa Keanu!” bentak Orlando.
“Jelas
dia jadi masalah gue juga, dia sahabat gue sekarang, mau apa, lo?”
Orlando
semakin geram, Shane menghampiri Orlando, “udah Do, tenang, tenang!” pinta
Shane.
“Ayo,
Kean balik sama gue,” pinta Adam.
Guru-guru
yang ada diparkiran nampak memperhatikan termasuk bu Yuni yang kini tak lagi
berangkat dengan Adam.
Shane
nampak canggung melihat semua guru memperhatikan, “emh, anu, bapak-ibu, kita di
sini lagi acting, jadi kalau ada yang mau pulang silahkan aja, ini bukan ribut
beneran, kok.”
Akhirnya
guru-guru yang sedari tadi memperhatikan mereka yang sedang berdebat tertawa,
dan mengangguk kemudian pergi meninggalkan mereka.
Adam
langsung membawa Keanu ke motornya dan mereka pergi dari tempat itu. Shane dan
Orlando hanya bisa menyaksikan mereka dari kejauhan.
&&&
Adam
dan Keanu sampai di rumah sambil membawa koper milik Keanu. Adam meyakinkannya
bahwa ia harus pergi jauh dari kosan itu bila ingin mencoba melupakan Orlando.
“Em,
lo mau tidur sama gue atau pisah kamar?” tanya Adam.
“Gue
sama lo aja, gak apa-apa, kan?”
Adam
mengangguk, “gak apa-apa, gue juga sebenernya gak biasa tidur sendiri, sih.”
Kemudian
Keanu mengeluarkan semua baju dan alat-alat kebutuhannya, dipindahkan ke lemari
tempat dulu Shane menyimpan baju. Semua pakaian Shane, Adam masukan ke dalam
kardus.
“Dam,
lo yakin ini di masukan ke dalam kardus?” tanya Keanu.
Adam
menatap Keanu kemudian mengangguk.
&&&
Malam
harinya.
Adam
berjalan sambil membawa dua gelas kopi hangat ke atap rumah, dilihatnya Keanu
sedang termenung sendiri.
“Kean,
nih gue bawain kopi,” Adam duduk di samping Keanu sambil menyeruput kopi hangat
buatannya.
“Besok
hari terakhir penataran, tugas RPP kita udah beres, gue harap gak akan lagi
ketemu sama dia,” ujar Adam, kemudian ia mengambil sebatang rokok dan
menyalakan api. Keanu mengangguk. “Gue yakin, kok, bisa lupain dia.”
Kini
Keanu mentap Adam, angin berhembus lembut, tangan Keanu mengambil rokok yang
sedang dihisap oleh Adam, kemudian ia hisap rokok itu perlahan dan
dikeluarkannya ke dari hidung.
“Lo
bisa ngerokok? Bukannya lo paling anti sama yang namanya rokok?”
“Sebenernya
dulu gue juga ngerokok, cuman gue gak pernah bilang ama siapapun, termasuk
Orlando, karena rokok, bokap gue meninggal, semenjak bokap gue meninggallah gue
memutuskan untuk menjauhi benda ini.”
“Terus
kenapa sekarang lo ngerokok?”
“Ngikutin
lo.”
“Kok?”
“Gue
tau lo stres parah dengan kejadian ini, dan pelampiasan lo, ya, ke rokok. Gue
juga gak mau ngelampiasin ke hal macem-macem, cukup dengan rusaknya paru-paru
gue aja.”
Adam
nampak mengernyitkan alisnya, ia ambil rokok yang akan segera Keanu hisap dan
dibuangnya jauh-jauh.
“Gue
gak mau ngerusak lo, Kean.”
“Lo
gak ngerusak gue, Dam, gue yang pengen diri gue rusak, sama kaya lo.”
“Tuh,
kan, tuh, kan, itu, itu, perkataan terakhir lo yang gue gak seneng.”
Keanu
tertawa, “ini satu-satunya cara agar lo berhenti ngerokok.”
Adam
nyengir kuda, kemudian menyikut lengan Keanu, “lo tuh, ya, bisa aja. Eh, kenapa
hal ini gak lo praktekin ke si Orlando?”
Keanu
menggeleng, “udah, tapi gak mempan, dia malah senyum sambil bilang; ‘akhirnya
gue punya temen juga’ ah, jadi gue yang kalah sama dia.”
“Lo
tau gak, sebenernya si Orlando itu tolol.”
“Maksud
lo?” Keanu nampak heran dengan ucapan Adam.
“Iya,
dia tolol, lo itu cowok paling baik dan setia yang pernah gue kenal, lo itu
lebih berharga dari seribu Orlando sekalipun. Kalau gue belum kenal Shane
sebelumnya, mungkin gue bakalan suka sama lo.”
Kenau
tersenyum, “ya, tapi mereka berdua punya karisma yang luar biasa, Shane itu
pria yang banyak disukai oleh orang, keliatan ketika pertama kali kita masuk
kelas, semua mata cewek pertama kali memandang pasti ke Shane, terus baru ke
Orlando dan akhirnya kita berdua.”
“ya,
kita hanya sebagai pengalih.” Adam menatap Keanu, “kayaknya gue mau ninggalin
dunia ini, deh.”
Keanu
nampak bingung. “Maksud lo? Mati?”
Adam
memukul pelan lengan Keanu, “bukan, dodol, maksud gue, gue mau berhenti pacaran
sama cowok, gue mau hidup normal, punya istri, anak, dan tua, hingga akhirnya
jasad gue gak bernyawa lagi.”
“Lo
yakin?”
Adam
diam, kemudian menggeleng, “Gak tau, setiap gue mikirin ini gue selalu bingung,
kita hidup bukan di negara barat di mana orang bisa menerima kita sebagai
pasangan, kita hidup di negara timur yang kental dengan adat dan agama, kalau
gue mutusin buat nikah sama cowok, otomatis gue harus pergi dari negara ini.”
“Udah,
ah, kata-kata lo terlalu mengerikan bagi gue, buat sekarang, kita nikmatin aja
hidup ini, jangan terlalu berpikir jauh.”
“Basar
penakut!,” ejek Adam.
“Siapa
yang penakut?”
“Lo!”
“Nggak,
sok tau banget lo?”
“Are
you sure?”
“Yeah,
perlu bukti?”
Adam
mengelitiki Keanu, ia nampak kegelian, kemudian membalas kelitikan Adam, mereka
saling mengelitiki, kemudian Keanu berlari karena kalah, Adam mengejarnya,
mereka berlari ke kamar, Keanu memegang guling dan memukul Adam. Karena tak mau
kalah Adam yang balas memukul, ia memukul menggunakan bantal, Adam menarik
tangan Keanu dan dijatuhkannya ia ke kasur. Mereka tertawa kemudian. Adam
menatap Keanu yang masih tertawa, melihat Adam memperhatikannya, Keanu nampak
malu, ia pun membalas tatapan Adam, tangan Adam mengelus lembut pipi Keanu,
menyentuhnya dengan lembut.
Jantung
Keanu berdebar kencang, wajah Adam semakin dekat, Keanu memejamkan matanya.
Akhirnya Adam mencium bibir Keanu dengan lembut.
Ciuman
itu kini semakin buas, Keanu dan Adam bermain aktif, keduanya membuka baju,
kembali berciuman. Adam menindih tubuh Keanu, mencium bibir, pipi, leher dan
puting Keanu. Ia mendesah hebat, permainan ini merupakan sensasi baru bagi
Keanu, Adam benar-benar ahli membuat orang terangsang.
Kemudian
Adam membuka celana Keanu, menciumi celana dalamnya, menjilatnya dengan lembut,
Keanu melenguh nikmat hingga ia memejamkan mata. Di bukanya celana itu, bau
khas dari penis tercium, lendir bening sudah keluar di ujung penis Keanu, Adam
menjilati kemudian mengulumnya, permainan ini begitu membuatnya terperanjat,
Adam tau dimana titik rangsang dari Keanu.
Setelah
itu Adam memutar tubuhnya sehingga Keanu dengan leluasa membuka celana dan
menghisap penisnya, mereka melakukan posisi 69 posisi saling mengenakan satu
sama lainnya.
Permainan
itu berlangsung cukup lama, Adam bangkit kemudian mengambil pelumas dan
dibalurinya ke penis Keanu, Keanu menatap Adam, Adam mengangguk, Keanu
mengambil sedikit pelumas ke tangannya dan ia usapkan halus ke anus Adam, ia
nampak merem-melek menikmati setiap senti sentuhan jari di sekitar anusnya.
Keanu
beraksi, penisnya sudah menempel di selangkangan Adam, perlahan tapi pasti, ia
masukan penis itu dengan hati-hati, ia tak ingin melihat Adam meringis
kesakitan, akhirnya usahanya tak sia-sia, penis Keanu kini sudah menempel di
anus Adam dengan penuh, selanjutnya ia memaju-mundurkan penisnya perlahan, Adam
nampak mendesah menerima gesekan itu, melihat itu, Keanu semakin terangsang,
kini ia bermain cukup kencang, sehingga Adam semakin keras mendesah, permainan
itu sangat panas. Terakhir kali Keanu bercinta dengan Lando ia tak seperti ini,
gairahnya memuncah hebat, tariannya benar-benar menggunakan perasaan, ia sangat
menikmati permainan baru ini.
Adam
mengganti posisi, ia duduk di atas Keanu, menaik-turunkan tubuhnya yang leluasa
bergerak di atas, posisinya menguntungkan kedua belah pihak, peluh sudah
membasahi seluruh tubuh mereka, bercampur satu, tumpah ruah tak terbendung.
Hingga akhirnya setelah semua posisi digunakan dan rasa nafsu hampir
terbuncahkan, Keanu melenguh, ia tak dapat menahan air maninya untuk tidak
tumpah di dalam anus Adam.
Crot
crot crot crot
“Agh!
Sial, gue udh kebobolan,” ujar Keanu, “sorry, Lando....”
Seketika
suasana hening, Adam menghentikan aksinya dan pergi ke kamar mandi, Keanu
terduduk merasa bersalah karena telah salah ucap.
Lima
menit kemudian Adam keluar, wajahnya basah oleh air dan matanya sedikit sembab.
Keanu berdiri dan mendekatinya.
“Sorry,
gue gak bermaksud...”
Adam
menggeleng, “gue juga sama, Kean, ketika kita ML tadi, yang ada di pikiran gue
cuman Shane, gue ngerasa kalau dia yang lagi ML sama gue, tapi...”
“Sekeras
apapun kita mencoba ternyata untuk saat ini kita belum bisa,” Keanu mengambil
handuk yang melingkari tubuh Adam. “Tapi, gue yakin suatu saat kita pasti bisa
melupakan mereka, gue yakin.” Keanu masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan
Adam yang masih berdiri mematung.


0 komentar:
Posting Komentar