“Belum,
pak, lagi jadwal pelajarannya pak Orlando, tuh, olah raga.”
“Oh,
memangnya murid kelas tiga oleh raga sekarang, ya?”
“Iya,
pak.”
“Oh,
ya, besok kamu ikut pentaran, ya, sama pak Orlando di SD Angel 2, sebenarnya,
sih, itu tugas bapak sama pak Orlando, tapi lusa bapak ada acara ke Jakarta,
gak apa-apa, ya, kamu gantiin?”
“Gak
apa-apa, pak. pak Orlandonya udah di kasih tau?”
“Belum,
sama pak Keanu, aja, ya?”
“Kenapa
saya?”
“Ya,
bapak, kan, satu kosan sama dia.”
“Oh,
ya sudah, nanti saya kasih tau, pak.”
“Makasih,
ya, sebelumnya?”
“Iya,
pak, sama-sama.”
“Tenang,
kalau masalah transport, nanti bapak kasih.”
“Ah,
iya, santai aja, pak.”
Keanu
menatap ke luar kantor, di tatapnya orang yang sudah dua tahun ini selalu
bersamanya, rasa cinta dan sayangnya tak pernah putus, meski kadang ia sendiri
sering cemburu bila melihat pria itu dekat dengan perempuan.
Keanu
adalah pribadi yang pendiam, cemburu dan kadang posesif, tapi walaupun seperti
itu, ia selalu mudah untuk memaafkan kesalahan dari kekasihnya, selain itu,
meski iya bersikap seperti tiu terhadap kekasihnya, tapi kalau kepada orang
lain jauh berbeda, ia sangat baik, meski sifat pendiamnya masih terlihat tapi
ia mencoba untuk ikut berbaur dengan guru-guru lain di kantor. Wajahnya
terkesan kalem, alisnya tebal dengan sedikit kumis tipis melengkapi keelokan
wajah pria keturunan cina itu, matanya yang sipit, hidung yang mancung dengan
lesung pipit yang bagus, membuatnya terkesan imut meski usianya kini sudah menginjak
dua puluh empat tahun. perawakannya yang kurus putih justru menjadi daya tarik
untuk para kaum hawa.
“Nu,
gue udah beres, sok masuk aja ke kelas,” ujar pak Orlando yang usianya tak beda
jauh darinya.
“Basah
amat, mandi lagi, sana!”
“Iya,
tadi abis ikut main bola sama anak-anak, jadi basah gini, em, bau, gak?”
ujarnya sambil mendekati Keanu.
“Ih,
jorok, jangan deket-deket, deh. Udah sana mandi.”
Keanu
berdiri dan langsung masuk ke dalam kelas.
&&&
Orlando
keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, habis mandi, sehingga terlihat
rambutnya basah.
“Pak,
abis mandi, ya?” ujar bu Cucu, guru senior yang selalu menggoda Orlando.
“Iya,
bu, tadi abis olah raga,” ujarnya tersenyum sambil membetulkan rambutnya yang
sedikit acak-acakan.
“Oh,
iya, kata anak-anak minggu depan mau renang?”
“Iya,
bu, aduh, maaf belum sempat bicara sama ibu, saya minta izin, ya, untuk bawa
anak-anak kelas lima renang?”
“Iya,
gak apa-apa, pak. Perlu ditemani, gak pak ngawasin anak-anaknya?”
“Nggak
usah, bu, saya bisa ngurus mereka sendiri, kok.”
“Oh,
ya sudah, kalau bapak butuh apa-apa, tinggal bilang sama saya, ya?”
“Siap,
bu,” ujar Orlando sambil lalu.
Ketika
ia sampai di kantor, ia melihat pak Joko sedang asik mengetik sesuatu. “Pak,
besok jadi, kan, ikut penataran?”
“Oh,
ah, em, jadi, jadi, kok, nanti kamu pergi duluan saja, ya, bapak agak telat.”
“Oh,
ok, deh.”
Ujar
Orlando seraya duduk di mejanya dan mengambil berkas-berkas nilai siswa.
Pria
yang hobi bermain bola ini bernama Orlando, sikapnya yang nyeleneh dan selalu
bercanda, membuatnya mudah dekat dengan siapapun di sekolah, bahkan warga di
sekitar sekolah senang kepadanya karena ia adalah pria yang supel, ramah pula,
namun terkadang ia adalah pria yang manja bila dengan kekasihnya, sifatnya yang
selalu tak banyak bicara merupakan pelengkap bagi kekasihnya yang bertolak
belakang dengannya. Lando, biasa akrab di panggil ini berambut sedikit ikal,
tubuhnya kekar karena sering di olah dengan sepak bola dan olah raga lainnya,
memiliki kulit sawo matang, bermata bulat, dan bibir yang tebal namun pas
dengan wajahnya.
&&&
Siangnya.
“Ayo,
Nu, gue laper, nih.”
“Iya,
bentar, ah, dikit lagi beres.”
“Ah,
lo, kerajinan banget, kan, guru-guru yang lain udah pada pulang, lo masih aja
asik sama nilai-nilai itu, besok lagi, sih?”
“Biarin,
sih.”
“Mau
serajin apapun lo, gak akan mendadak jadi guru teladan, kok.”
“Yee,
bisa aja, lo.”
“Cepetan,
nanti gue cium lo kalau belum beres juga.”
“Iya
bawel ini dua anak lagi yang belum di nilai, lagian ini, kan, gara-gara lo yang
males ngerjain ini, coba kalau bukan ama gue, lo pasti udah di marahin sama bu
Kepsek. Tugas lo sebagai operator, kok, malah gue yang ngerjain.”
“Iya,
iya, maaf, deh, soalnya kalau yang itu gue gak ngerti, kan emang sebelumnya
dikarjain sama lo terus, eh, mendadak aja gue di jadiin operator, bukannya lo.”
“Gue
kan guru kelas, lah elo, guru olah raga doang.”
Iya
udah, ah, cepet.”
“Iya,
iya ini udah bawel, ayo ah, pulang.”
“Cari
makan dulu.”
“Iya,
ke rumah makan padang aja, ya?” pinta Keanu.
“Sip.”
Mereka
pun pergi meniggalkan sekolah.
Di
rumah makan padang.
“Sialan,
si Joko katanya dateng telat lagi, gue kan gak kenal siapa-siapa di tempat
penataran itu, bisa-bisa gue mati kutu, nih.”
“Ya
elah, gitu aja di ributin.”
“Ya
kesel aja, dia dengan santainya gitu bilang, saya datang telat,” ujarnya seraya
menirukan gaya bicara pak Joko.
“Kenapa
lo gak ngomong aja sendiri ke dia kalau lo gak berani berangkat sendiri?”
“Ya
gengsilah, apa kata dunia kalau sampe semuanya tau gue gak berani?”
Keanu
tersenyum.
Pria
ini selalu membuatnya tersenyum meskipun ia terkesan cerewet, sikapnya yang apa
adanya membuat Keanu selalu jatuh hati dan bangga memiliki kekasih idaman ini.
kalau bisa di publikasikan ia pasti akan bilang ke orang-orang, “ini cowok gue,
dan gue sayang banget sama dia.”
Sesampainya
di kosan.
“Nu,
malem ini lo tidur di kosan gue, ya?”
“Males,
ah, lo di gue aja, kamar lo bau asap rokok, sumpek!”
“Please,
lah? Lagian kan enak di kamar gue ada TVnya, gak kaya di kamar lo.”
“Tapi
di kosan gue bersih, wangi, dan ada ACnya,” ujar Keanu.
“Jadi
gak mau, nih, malem ini tidur sama gue?” rayu Lando.
“Nggak!”
“Yaaahhhh,,,
please, please, please?”
“Gak!”
“Kalau
gitu, jangan minta jatah ke gue, ya, selama seminggu ini.”
“Ih,
kok, gitu?”
“Bodo
amat!”
“Dih,
ngambek.”
“Terserah,
ya, awas kalau nanti malem-malem lo ketuk-ketuk pintu kosan gue dan minta tidur
bareng, gak akan gue bukain.”
“Ancemannya
jelek amat, sih?”
“Biarin.”
“Ya
udah, demi lo gue rela tidur di kamar lo.”
“Iyalah,
kaya yang gak pernah tidur di sini aja, kamar ini kan penuh kenangan, inget,
gak pas pertama kali ML tidur di mana?”
“Iya,
iya, udah ah, bawel amat.”
“Tapi
suka, kan?”
&&&
Malamnya.
“Eh
liat, deh, si Chand Kelvin makin keliatan aja, ya, mahonya?” ujar Lando sambil
menyaksikan acara televisi.
“Hemm...”
jawab Keanu sekenanya, ia sedang asik memainkan gadgetnya.
Tuh,
si Tara juga sama, ya?”
“Ehm...”
Orlando
kemudian menatap ke arah Keanu, ia beranjak kemudian mematikan lampu dan
menyalakan lagu. Sesaat kemudian terdengar lagu dan Orlando berdiri di hadapan
Keanu.
Perlahan-lahan
Orlando membuka bajunya, Keanu masih acuh tak acuh menatapnya sekilas, lalu di
ambilnya gadget Keanu dan di simpan di atas meja. Orlando kembali menari, Keanu
menatapnya sambil tersenyum kecut, Orlando menari stritis, perlahan-lahan
setelah bajunya berhasil lepas, ia membuka celana panjangnya, berhasil terbuka
dan kini ai hanya mengenakan celana dalam.
Dari
dalam lemari ia mengambil oil kemudian di balurkan ke tubuhnya sendiri, Keantu
menggeleng-geleng sambil tertawa, kini tubuhnya penuh dengan oil sehingga ia
nampak mengkilat, Orlando mendekati, Keanu, bibirnya kini semakin dekat, tapi
ketika Keanu hendak terpancing oleh permainan Lando, ia menjauh dan kembali
menari. Inilah yang disukai oleh Keanu, permainan yang tak terduga.
Orlando
menari dengan sangat erotis, hal ini membuat Keanu tanpa sadar memegang
penisnya yang tertutup oleh celana dan meremasnya perlahan. Orlando tahu Keanu
sudah mulai terangsang, di turunkannya lagi celana dalamnya sehingga kini
jembut Orlando terlihat sedikit, ia tersenyum nakal kemudian dan berbalik arah,
di balik tubuhnya yang mengkilap oleh keringat, serta bentuk tubuhnya yang
menggiurkan Orlando memiliki tato bergambar sayap di punggungnya, Kini Keanu
sudah tak dapat menahan nafsunya yang kian tinggi, ia beranjak berdiri dan
membuka celananya pelan, kemudian menghampiri Orlando yang membelakanginya, di
dekapnya erat tutub Orlando, dengan mesra, kemudian Keanu membalikan tubuh
Orlando dan mencium bibirnya dengan buas, lalu, didorongnya tubuh Keanu oleh
Orlando sehingga kini ia terkapar jatuh di kasur, Orlando menaiki tubuh Keanu
dengan sigap, di ciumnya puting Orlando, di ditahannya tangan Orlando pula agar
tak dapat berkutik, ia mengambil alih permainan ini sehingga Keanu nampak
pasrah saja diperlakukan seperti itu, ia mencium seluruh tubuh Keanu,
dijilatnya dengan lembut sehingga Olrando nampak mengerang keenakan.
“Uhm..emp...enak,”
ujarnya sambil merem-melek.
Lando
kini turun ke bawah dan menciumi penis Keanu yang setengah tegang, ia jilati
semuanya, dari batang sampai buahnya dengan liar, Keanu nampak kualahan, ia
mengerang dahsyat, untungnya suara dari lagu yang berdentum menutupi semuanya
sehingga erangannya tak terdengar oleh para penghuni kosan yang lain.
Penis
Keanu ia hisap, ia jilat dan ia sedot dengan lihai, permainan liar ini memang
Orlando yang mampu melakukannya, Keanu tak mau kalah, kini ia beralih dan
menjatuhkan Orlando ke samping, di dekapnya tubuh Orlando dengan mesra,
kemudian, di jilatnya tubuh Lando, selanjutnya ia turun kembawah, menjilat
penis Orlando yang sudah tegak berdiri bak tihang bendera, ia kulum penis itu
dengan sekuat tenaga, dan kini ia bermain dengan buah jakar, cukup lama Keanu
bermain dengan dua benda itu, dan kini ia mengangkat pantat Orlando dan
menjilat anusnya. Geli dan nikmat bercampur jadi satu, rimmingan itu membuat
Orlando seperti melayang.
Setelah
dirasa cukup puas, Keanu mengambil oil yang tadi digunakan oleh Orlando untuk
melumuri tubuhnya dan Keanu kini melumuri penisnya sendiri, setelah semuanya
rata, ia memasukan penisnya perlahan ke anus Orlando yang berkedut-kedut siap
menerima benda tumpul yang keras itu masuk ke dalam anusnya. Perlahan tapi
pasti akhirnya Keanu berhasil memasukan anus itu, Orlando mengerang nikmat,
begitupun dengan Keanu yang menikmati setiap senti gesekan antara penisnya dan
anus Orlando. Di pompanya perlahan penis itu, lima menit, sepuluh menit, ia
sudah melakukan itu cukup lama dengan posisi yang tak berpanh berubah, lalu,
mereka mengganti posisi, Keanu di bawah dan Orlando di atas, mereka menikmati
permainan ini, Orlando naik-turun di tubuh Keanu dengan erangan yang sangat
menggoda, hingga dalam hitungan detik Keanu rupanya tak mampu menahan air
maninya dan keluar seketika tanpa aba-aba. Orlando sebenarnya kurang puas tapi
ia tak ingin terlihat seperti itu, sehingga kini ia mencoba untuk mengocok
penisnya dan tak lama keluarlah air mani Orlando, dan merekapun tertidur sambil
masih berpelukan.
&&&
“Lando,
gue berangkat ke sekolah duluan, ya?”
“Pagi-pagi
amat?” tanya Orlando ketika ia baru selesai mandi dan memakai celana dalamnya.
“Iya,
ada kerjaan yang harus gue kerjain.”
“Apaan?”
keanu tersenyum kemudian mendekati Orlando dan mereka berciuman.
“Gue
berangkat, dulu, ya? Bye.”
“Bye,
take cake,” ujar Orlando sambil memakai baju dinasnya.
&&&
Orlando
kini sudah rapih, ia siap pergi ke penataran yang menurutnya akan sangat
membosankan itu, ia sudah memanaskan motornya, kemudian melajukan motornya
meninggalkan pekarangan kosan.
Setibanya
di parkiran SD Angel 2, tanpa ia sadari ada yang meninjunya dari samping,
Orlando membuka helmnya dan ketika dilihat orang itu ternyata Keanu, ia
terkejut seketika, “loh, kok, lo ada di sini? Pak Joko mana?”
“Dia
gak bisa ikut jadi gue yang ngegantiinnya.”
“Kenapa
gak bilang? Kan, bisa gue jemput tadi di sekolahan.”
“Gak
apa-apa, sebenernya pak Joko udah bilang ke gue kemaren.”
“Lah
terus kenapa lo gak bilang ke gue? Kan kita bisa berangkat bareng?”
“Sengaja,
biar surprise.”
“Ah,
lebay, deh, kan hemat ongkos juga.”
“Ya,
gak apa-apa, dong, sekali-kali berkorban demi orang yang kita cintai bukan masalah,
kan?”
Orlando
tersenyum kemudian menunjuk pelan tubuh Keanu, “dasar!”
Mereka
berdua kini melayangkan senyum satu sama lain.
“Tapi
ada untungnya, sih, jadi gue gak sendirian amat di sini, ih, seremlah, mana gue
orangnya gak bisa berbaur lagi.”
“Ya
udah, gue mau ke kamar mandi, dulu, ya, lo mau ikut gue atau mau nunggu di sini
aja?”
“Di
sini aja, deh, gue mau ngerokok.”
“Oh,
ok, deh, kalau begitu.”
Keanu
meninggalkan Orlando sendiri di parkiran, kemudian ia mengambil sebatang rokok
dan menyalakannya. Ketika ia sedang asik merokok, ada sebuah motor yang tiba
tepat dan parkir tepat di sampingnya. Sekilas Orlando menatap kagum dengan
sosok itu, di balik helmnya ia tahu pasti pengendaranya adalah pria yang keren.
Dan, benar saja, ketika pria itu membuka helmnya Orlando terkagum-kagum menatap
wajahnya yang ganteng, tapi ia tetap mencoba bertingkah biasa, karena tidak
ingin ada orang lain yang tahu dengan orientasi seksnya yang menyimpang,
apalagi ia adalah seorang guru.
“Eh,
boleh minta apinya,” pinta pria itu sambil mendekati Orlando.
Orlando
langsung mengambil korek gasnya dan memberikannya kepada pria asing itu. Pria
itu mengambil korek dan menyalakan roroknya, sesaat kemudian dikembalikanya
korek api itu dan pria itu tersenyum, “thanks, ya?”
“Ok,”
ujar Orlando bertingkah cuek, seakan ia tak terlalu peduli dengan pria yang
kini duduk di motor sampingnya itu.
Belum
sempat mereka mengobrol, tiba-tiba datang motor lain, seorang pria yang
membonceng seorang wanita, wanita itu turun dari motor dan langsung menghampiri
pria yang dekat dengannya.
“Eh,
pak Shane, ikut penataran juga?”
“Oh,
iya, bu Yuni, ya?”
“Iya,
saya bu Yuni, masa lupa? Kita, kan, dulu pernah se SMP.”
“Oh,
ya? Kok saya nggak ngeh, ya, ada gadis cantik di SMP itu?”
“Ah,
bapak bisa aja,” ujar wanita itu dengan tersipu malu.
“emh,
ya sudah, aku pamit ke dalam duluan, ya?”
“Oh,
iya, siap,” ujar pria yang ternyata bernama Shane itu.
Dari
belakang wanita yang bernama Yuni itu, rupanya pria yang tadi memberikan
boncengannya itu berjalan di belakang, di susul oleh Shane yang terlihat
seperti menjaga jarak. Namun, dalam darak itu, Orlando tahu pasti mereka sedang
mengobrol, entah apa obrolannya itu. dan, hal yang tak di duga dilihatnya, pria
yang bernama Shane itu rupanya memegang pantat pria yang berjalan dengannya
berlalu mendahuliu pria tersebut. Shane menatapnya dengan seksama dan penuh
dengan kecurigaan.
“eh,
ngeliatin apaan, sih?”
“Ah,
em, nggak, yuk, ah, kita masuk,” ajak Orlando.
Merekapun
masuk ke dalam ruangan yang sama seperti kedua pria itu.


0 komentar:
Posting Komentar